Wednesday, September 23, 2026

Book Review: The Mystery Of The Missing Skulls

Back in the day, I remember there was this series called Lima Sekawan in Indonesia, better known as The Famous Five written by Enid Blyton. It was a popular read then, but I don't recall reading any of them. My favorite is Sherlock Holmes, and I have read all his adventures written by Sir Arthur Conan Doyle. 

The introduction above is pretty much the extent of my exposure to detective novels, so imagine my surprise when a colleague of mine introduced this book to me, saying that it was written by his brother-in-law. I was like, "Okay, that's new." 

It was my first novel written by a Singaporean. Yes, I had never read one before, not even the hugely famous Crazy Rich Asians.

And reading it immediately reminded me of The Famous Five, as this novel also featured a bunch of young kids. It started slowly, as if the writer took his own sweet time to flesh out the main characters, but not so slow that you didn't feel like continuing anymore. 

The pace was all right, and to me personally, being a fellow Singaporean, I liked how the writer made an effort to describe all the Singapore cuisines. It was pretty brilliant!

Now, there are books like Harry Potter where you as a reader would think, "Perhaps one more chapter," and continue reading because they are so engaging. No, this book didn't have the same feel, but as far as a novel goes, it was not as boring as The Lord of the Rings—and that's a compliment!

Story-wise, this wasn't Sherlock Holmes, and it didn't try to be. About three-quarters of the way through the book, you could roughly guess where the last missing skull was. 

And the final plot twist, probably the writer's final attempt to thicken the mystery, didn't feel necessary as the ending was pretty much resolved.

The one thing that bothered me the most was actually the illustrations. They got in the way at times, making it harder to read as black letters didn't sit well on dark-colored pictures. The book could have done better in this aspect.

Other than that, this was a fine first release. I liked how the real-life settings and situations actually inspired the story, because that's how I normally write, too. I can relate to how he drew inspiration from his surroundings. 

The difference is, I think Ace Poon is a better fiction writer than I am! 






Ulasan Buku: Misteri Tiga Tengkorak Yang Hilang

Dulu, saya ingat ada serial berjudul Lima Sekawan di Indonesia, yang lebih dikenal sebagai The Famous Five karya Enid Blyton. Buku itu merupakan bacaan populer saat itu, tetapi saya tidak ingat pernah membaca satu pun di antaranya. Favorit saya adalah Sherlock Holmes, dan saya telah membaca semua kisah petualangannya yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle.

​Pengantar di atas kira-kira merupakan gambaran sejauh mana pengenalan saya terhadap novel detektif. Jadi, bayangkan keterkejutan saya ketika seorang rekan kerja memperkenalkan buku ini kepada saya, dan mengatakan bahwa buku tersebut ditulis oleh saudara iparnya. Respons saya saat itu, "Wah, menarik juga."

​Ini adalah novel pertama karya penulis Singapura yang pernah saya baca. Ya, saya belum pernah membaca satu pun sebelumnya, bahkan Crazy Rich Asians yang sangat terkenal itu pun belum.

​Membacanya langsung mengingatkan saya pada Lima Sekawan, karena novel ini juga menampilkan sekelompok anak muda. Ceritanya berawal perlahan, seolah-olah sang penulis sengaja meluangkan waktu untuk mendalami karakter-karakter utamanya, tetapi tidak terlalu lambat sampai-sampai membuat kita enggan melanjutkannya. Temponya pas, dan bagi saya pribadi sebagai sesama orang Singapura, saya suka bagaimana penulis berusaha menggambarkan aneka kuliner Singapura. Bagian itu sungguh brilian!

​Ada buku-buku seperti Harry Potter yang membuat pembaca berpikir, "Mungkin satu bab lagi," lalu terus membaca karena ceritanya begitu memikat. Buku ini memang tidak memberikan sensasi yang sama, tetapi untuk ukuran sebuah novel, ceritanya tidak membosankan seperti The Lord of the Rings—dan itu adalah sebuah pujian!

​Dari segi cerita, buku ini bukanlah Sherlock Holmes, dan memang tidak mencoba menjadi seperti itu. Sekitar tiga perempat perjalanan buku, Anda sudah bisa menebak kira-kira di mana letak tengkorak terakhir yang hilang. Lalu kejutan di akhir cerita (plot twist), yang kemungkinan merupakan upaya terakhir penulis untuk memperdalam misteri, terasa kurang perlu karena konfliknya sebenarnya sudah terselesaikan dengan baik.

​Satu hal yang paling mengganggu saya sebenarnya adalah ilustrasinya. Gambar-gambarnya terkadang menghalangi, membuat teks lebih sulit dibaca karena tulisan berwarna hitam tidak terlihat jelas di atas gambar yang berlatar gelap. Buku ini seharusnya bisa digarap lebih baik dalam aspek tersebut.

​Di luar hal itu, ini adalah karya perdana yang bagus. Saya suka bagaimana latar dan situasi kehidupan nyata menjadi inspirasi bagi ceritanya, karena biasanya saya juga menulis dengan cara seperti itu. Saya bisa memahami bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari lingkungan sekitarnya.

​Perbedaannya adalah, menurut saya Ace Poon merupakan penulis fiksi yang lebih handal daripada saya!

No comments:

Post a Comment