Monday, February 23, 2026

The Stand-up Comedy

If I took out all the travels I've done and went back to basics, I think I could simply be described as a guy who likes to laugh. I like to surround myself with funny people, and Stephen Chow was easily one of my earliest idols from the early '90s.

My introduction to stand-up comedy happened only quite recently, though. I shared that moment with my brother Herry, when we were in transit at KLIA in 2020. That night at Capsule by Container Hotel, we watched Ronny Chieng's Netflix special Asian Comedian Destroys America! It was hilarious, but it didn't really trigger anything yet.

Then came Seinfeld on Netflix in 2021. It was the best comedy series ever. In the series, Jerry was a mildly successful stand-up comedian. While my friend Parno always mentioned stand-up comedians, it was through the nine seasons of Seinfeld that it etched into my mind.

And the beauty of Singapore is, there's no shortage of live shows. I had my fair share of concerts here, and I fell in love with musicals since my initial years in Singapore. So when Ronny Chieng came on September 13, 2023, I immediately thought, "Wow, just nice. Let's go watch!"

But to be frank, it wasn't my first stand-up comedy show. Back in 2016, I watched Singapore's Kumar performing as part of Kings and Queen of Comedy Asia 7 at the Esplanade Theatre. I remember laughing, but that was pretty much it, and stand-up comedy faded into oblivion until years later.

And Ronny was the act that started it all. He was funny, abrasive, intense, and angry. His humor was international, probably due to the fact that he lives in America and is part of the Daily Show. But as someone who grew up in Singapore, he surely had some jokes that locals could appreciate. And hey, he surely wasn't shy to remind us that he was part of the Marvel Cinematic Universe, haha.

Months later, came Trevor Noah. It was right before my trip to Taiwan. Now, one couldn't be skipping Trevor when binge-watching Netflix specials. I watched all of them, and he was especially good with his globe-trotting stories and, while he was at it, doing the accents. And on June 4, 2024, Trevor Noah didn't disappoint. His performance, especially the last bit about India, was pure comedy.

Ten days later, right after my Taiwan trip, it was Jerry Seinfeld's first performance in Singapore and his only show in Asia. I did feel nervous because Jerry's Netflix specials weren't as good as Ronny and Trevor. After all, this was the guy I loved best when he was doing sitcoms.

But boy, did he blow me away! There was not a moment wasted. Jerry Seinfeld, a class act in observational comedy. He was a genius at describing mundane daily stuff and making it unbelievably funny. As I stepped out of the Singapore Indoor Stadium, I felt the same way I did after watching Paul McCartney's concert at Tokyo Dome: I had just seen a legend doing what he did best.

The recent one was Jimmy O. Yang on November 25, 2025. I flew back from Koh Samui in the afternoon and went to the Star Theatre after that. I had watched Jimmy in various shows, from Fresh Off the Boat, Crazy Rich Asians to Interior Chinatown. I loved his specials on Amazon Prime. On top of that, he was also friends with Ronny. And he did mention that in a hilarious way: if you didn't like his show, remember that his name is Ronny Chieng. That was a memorable closing line, haha.

But why did I suddenly talk about stand-up comedy? It was triggered by the short conversation I had with my friend Bernard on Sunday afternoon. We booked Dr. Jason Leong's tickets. The comedian from Malaysia was a brilliant opening act for both Ronny and Jimmy's shows. I loved his comedic timing. His jokes were also localized and relatable, so it's time to see him as a headliner! Eight more months to go! 

From left: Jerry, Ronny, Trevor, Jimmy and Jason.




Stand-up Comedy

Jika saya coret semua perjalanan yang telah saya lakoni dan kembali ke hal yang paling mendasar, saya rasa saya bisa digambarkan secara sederhana sebagai orang yang suka tertawa. Saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang lucu. Stephen Chow adalah salah satu idola awal saya di awal dekade 90an. 

Namun, perkenalan saya dengan stand-up comedy baru terjadi belum lama ini. Saya berbagi momen itu dengan adik saya, Herry, saat kami sedang transit di KLIA pada tahun 2020. Malam itu di Capsule by Container Hotel, kami menonton acara spesial Ronny Chieng di Netflix: Asian Comedian Destroys America! Pertunjukannya sangat lucu, tetapi belum benar-benar memicu sesuatu.

Lalu muncul Seinfeld di Netflix pada tahun 2021. Itu adalah serial komedi terbaik yang pernah ada. Dalam serial tersebut, Jerry adalah seorang komedian berdiri yang lumayan sukses. Meskipun teman saya Parno selalu menyebut-nyebut tentang komedian berdiri, melalui sembilan season Seinfeld-lah hal itu membekas di pikiran saya.

Salah satu keunggulan Singapura adalah banyaknya aneka pertunjukan panggung yang senantiasa digelar di sini. Saya sudah sering menonton konser dan saya jatuh cinta pada pertunjukan musikal dari sejak tahun-tahun awal saya di Singapura. Jadi, ketika Ronny Chieng datang pada 13 September 2023, saya langsung berpikir, "Wah, pas sekali. Ayo tonton!"

Sejujurnya, itu bukan pertunjukan stand-up comedy pertama saya. Di tahun 2016, saya pernah menonton Kumar dari Singapura yang tampil sebagai bagian dari Kings and Queen of Comedy Asia 7 di Esplanade Theatre. Saya ingat saya tertawa, tetapi hanya sebatas itu saja dan stand-up comedy pun terlupakan hingga bertahun-tahun kemudian.

Dan Ronny adalah pelawak yang memulai segalanya. Dia lucu, kasar, intens, dan pemarah gayanya. Humornya bernuansa internasional, mungkin karena dia tinggal di Amerika dan merupakan bagian dari The Daily Show. Namun sebagai seseorang yang tumbuh di Singapura, dia pastinya punya beberapa lelucon yang bisa diapresiasi oleh penduduk lokal. Dan hei, dia jelas tidak malu untuk mengingatkan penonton bahwa dia adalah bagian dari Marvel Cinematic Universe, haha.

Beberapa bulan kemudian, datanglah Trevor Noah. Aksi panggungnya terjadi tepat sebelum perjalanan saya ke Taiwan. Sebagai pemirsa Netflix, tentunya saya tidak melewatkan komedi spesial Trevor. Saya menonton semuanya. Trevor memiliki cerita-cerita liburan ke manca negara dan, saat bercerita, dia menirukan berbagai aksen. Dan pada 4 Juni 2024, Trevor Noah tidak mengecewakan. Penampilannya, terutama bagian terakhir tentang India, adalah komedi yang kocak untuk dinikmati.

Sepuluh hari kemudian, tepat setelah perjalanan saya dari Taiwan, Jerry Seinfeld menggelar pertunjukan pertama di Singapura dan satu-satunya di Asia. Saya merasa gugup karena acara spesial Jerry di Netflix tidak sebagus Ronny dan Trevor. Lagipula, Jerry yang saya tonton adalah pelawak yang bermain dalam komedi situasi.

Tapi astaga, dia benar-benar memukau saya! Tidak ada momen yang terbuang sia-sia. Jerry Seinfeld, seorang pakar dalam komedi observasional! Dia adalah seorang jenius dalam menggambarkan hal-hal harian yang remeh dan membuatnya menjadi sangat lucu. Begitu melangkah keluar dari Singapore Indoor Stadium, saya merasakan perasaan serupa yang saya rasakan setelah menyaksikan konser Paul McCartney di Tokyo Dome: saya baru saja menyaksikan seorang legenda melakukan hal yang paling dikuasainya.

Yang terbaru adalah Jimmy O. Yang pada 25 November 2025. Saya terbang kembali dari Koh Samui pada sore hari dan pergi ke Star Theatre setelah itu. Saya telah menonton Jimmy di berbagai serial dan film, mulai dari Fresh Off the Boat, Crazy Rich Asians hingga Interior Chinatown. Saya menyukai acara spesialnya di Amazon Prime. Selain itu, dia juga berteman dengan Ronny. Dan dia menyebutkan hal itu dengan cara yang kocak: jika Anda tidak menyukai pertunjukannya, ingatlah bahwa namanya adalah Ronny Chieng. Itu adalah kalimat penutup yang berkesan, haha.

Tapi mengapa saya tiba-tiba membicarakan tentang stand-up comedy? Hal ini dipicu oleh percakapan singkat yang saya lakukan dengan teman saya, Bernard, di hari Minggu. Kami memesan tiket Dr. Jason Leong. Komedian dari Malaysia tersebut adalah pembuka yang brilian untuk pertunjukan Ronny dan Jimmy. Saya menyukai ketepatan waktu komedinya. Leluconnya juga sangat lokal dan relevan, jadi sudah waktunya untuk melihat dia sebagai penampil utama! Delapan bulan lagi!

Thursday, February 19, 2026

NotebookLM

One year into my journey with AI, I developed a new habit: I started listening to the audio overviews and I liked checking out how AI summarized the whole story as a one-page infographic. We'll get into that, but first, let's have a quick recap to see how I got here.

As mentioned before, sometime in October 2025, I tried out NotebookLM after hearing about it repeatedly from my CEO. That was also around the same time I got my Pixel 10 Pro. One of the perks of getting the flagship phone was the sudden upgrade of my Google One membership. It became Google AI Pro, and it was free for one year.

This meant a higher generation usage limit in NotebookLM. It also meant a more frequent use of NotebookLM features. And if you ever found the explanation above got your head spinning, don't let it deter you from trying. NotebookLM was as simple as uploading and clicking the feature you liked to generate the output!

It was interesting to note that the NotebookLM app seemed to be more restrictive and offered fewer features. The web version, on the other hand, was more intuitive. I tested Mindmap, Reports, Flashcards, Slide Deck, and Data Table, but eventually decided that Infographic as well as Audio and Video Overview were more relevant to my blogging activities.

Video Overview was simply used because it created visual images that were good for Roadblog101's YouTube channel. But it was Audio Overview that I fell in love with. It could go deep dive into the sources I uploaded and brilliantly presented the outcome in the form of two people discussing what I wrote.

It was fun to hear them discussing my trips, but the real highlight was listening to how they dissected the more serious topics, especially on the blog posts that were rather obscure, such as Nowhere Man, Macroeconomics, etc. The retelling was like an expert opinion about my ideas. It was funny at times, it was often eloquent, and it was also a great reminder of things I had forgotten. 

On top of that, since I could add many sources to one notebook, I was able to hear the full story for the first time. Some blog posts were originally split into multiple parts, and others were written years later — intentionally or not — much like the Laos story. That one was made up of two stories that happened 15 years apart, so it was nice to hear them combined and retold as one. 

It was the same for the infographic. The most exciting part was the fact that I didn't know how it would turn out, and I enjoyed how the result surprised me. If there was a mistake, I could fine-tune it with the LLM prompts. The results were often colorful and surreal. Loving it!

There are about 574 blog posts on Roadblog101, including this one, so I reckon the NotebookLM activity may last for a while. But like I said earlier, one year into my journey with AI, it widened not only my horizons, but it also introduced me to something I didn't think existed before. My point is, since AI is here to stay, the question now is how we get used to it. My advice? Embrace it and let it surprise you. Start now!

PS: When I traveled, I switched to an eSIM from Simply by Echo Networks. I noticed that NotebookLM couldn't load while I was on this Hong Kong-based eSIM, so I believe not all countries support NotebookLM at this juncture...




NotebookLM 

Satu tahun dalam perjalanan saya bersama AI, saya jadi memiliki kebiasaan baru: saya suka mendengarkan ringkasan audio (audio overview) dan melihat bagaimana AI merangkum seluruh cerita menjadi infografis satu halaman. Kita akan membahas hal itu nanti, tapi mari kita ulas sejenak untuk melihat bagaimana saya sampai di titik ini.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, sekitar bulan Oktober 2025, saya mencoba NotebookLM setelah berulang kali mendengarnya dari CEO saya. Uji coba ini juga terjadi di waktu yang hampir bersamaan saat saya membeli Pixel 10 Pro. Salah satu keuntungan dari ponsel flagship tersebut adalah peningkatan mendadak pada keanggotaan Google One saya. Keanggotaan tersebut menjadi Google AI Pro, dan gratis selama satu tahun.

Ini berarti batas penggunaan fitur yang lebih tinggi di NotebookLM. Ini juga berarti saya jadi lebih sering menggunakan penggunaan fitur NotebookLM. Dan jika Anda merasa penjelasan di atas membuat kepala Anda pusing, jangan biarkan hal itu menghalangi Anda untuk mencoba. NotebookLM semudah mengunggah dan menekan fitur yang Anda sukai untuk menghasilkan output-nya!

Menarik untuk dicatat bahwa aplikasi NotebookLM tampaknya lebih terbatas dan menawarkan fitur yang lebih sedikit. Versi web jauh lebih menarik dan intuitif. Saya menguji Mindmap, Laporan, Flashcards, Slide Deck, dan Tabel Data, tetapi akhirnya memutuskan bahwa Infografis serta Audio dan Video Overview lebih relevan dengan aktivitas blogging saya.

Video Overview digunakan hanya karena fitur ini menciptakan citra visual yang bagus untuk saluran YouTube Roadblog101. Namun, Audio Overview-lah yang membuat saya jatuh cinta. Fitur ini dapat mendalami sumber-sumber yang saya unggah dan menyajikan hasilnya dengan brilian dalam bentuk dua orang yang mendiskusikan apa yang saya tulis.

Sangat menyenangkan mendengar mereka mendiskusikan perjalanan saya, tetapi yang lebih menarik lagi adalah mendengarkan bagaimana mereka membedah topik yang lebih serius, terutama pada postingan blog yang jarang saya lihat kembali, seperti Nowhere Man, ekonomi makro, dan lain-lain. Penceritaan ulangnya seperti pendapat ahli tentang ide-ide saya. Terkadang lucu, bagus pemilihan katanya, dan juga menjadi pengingat yang baik tentang hal-hal yang terlupakan oleh saya.

Selain itu, karena saya dapat menambahkan banyak sumber ke dalam satu buku catatan (notebook), saya dapat mendengar cerita lengkapnya untuk pertama kali. Beberapa postingan blog awalnya terbagi menjadi beberapa bagian, dan yang lainnya bisa saja ditulis bertahun-tahun kemudian — sengaja atau tidak — seperti cerita Laos. Cerita itu terdiri dari dua kisah yang terjadi selisih 15 tahun, jadi menyenangkan mendengarnya digabungkan dan diceritakan kembali sebagai satu kesatuan.

Hal yang sama berlaku untuk infografis. Bagian yang paling menarik adalah kenyataan bahwa saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti dan saya menikmati bagaimana hasilnya mengejutkan saya. Jika ada kesalahan, saya bisa menyempurnakannya dengan perintah (prompt) LLM. Hasilnya sering kali memiliki warna semarak dan surealis. Saya menyukainya!

Ada sekitar 574 postingan blog di Roadblog101, termasuk yang ini, jadi saya rasa aktivitas NotebookLM ini mungkin akan berlangsung cukup lama. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, satu tahun dalam perjalanan saya dengan AI, hal itu tidak hanya memperluas wawasan saya, tetapi juga memperkenalkan saya pada sesuatu yang tidak saya duga ada sebelumnya. Intinya adalah, karena AI akan terus ada, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita terbiasa dengannya. Saran saya? Mulailah menggunakan AI dan biarkan kecerdasan buatan ini mengejutkan Anda!

PS: Saat saya bepergian, saya beralih ke eSIM dari Simply oleh Echo Networks. Saya menyadari bahwa NotebookLM tidak dapat dimuat saat saya menggunakan eSIM yang berbasis di Hong Kong ini, jadi sepertinya tidak semua negara mendukung NotebookLM saat ini...

Saturday, February 7, 2026

Yogyakarta: Earthquake And Ashes

This trip originated from a late-night conversation between Eday and me that happened about three weeks ago. I was reluctant to go for another trip to Yogyakarta, citing the reason that I had been there and done that in 2019. However, when Eday mentioned that it would be the first time that we traveled together with Mul, I was immediately sold.

In order to understand this, we gotta go back to many, many years ago, when it was life before college. Eday, Mul, and I were not only close friends, but we were also the founding members of the cooking club. Oh yes, that was how decent we were! While Eday and I had traveled together from the voyage to Jakarta in 1997 to the Ipoh trip in 2024, I only had one trip with Mul to Kuching in the early 2000s. The thought of the three of us having our first trip was exciting, certainly not to be missed!

Mul and I during my arrival.

So off I went on Thursday afternoon. At 6:40 PM GMT+7, I was already taking my first picture with Mul in front of Stasiun Tugu in Yogyakarta. We walked a bit for a plate of fried rice that was much cheaper than my regular tea c. A hilarious comparison! From there, we went to Por Aqui, our Mexican-themed hotel, located in an area described by Mul as the Bali's Legian wannabe. It was touristy. We checked in, had scoops of ice cream at Tempo Gelato, then picked up Eday at Fortunate Coffee.

Note that we had this trend of having a captain for a trip. Since this was Eday's trip that he christened as Poor Trip, I cheekily named him Captain Miskin, AKA Captain Poor. On top of that, it was a hush-hush kind of trip. Totally out of my character, but I obeyed it since it was the captain's order. So while some in our group chat might have been suspecting, we only confirmed it by posting the photo below at 2:12 AM on the following morning.

After the earthquake.

So back to our story, now that we were all together, we headed to Barley and Barrel at Artotel for the alcohol-induced conversation. Oh yes, just three old friends opening up and talking frankly about life. It had quite a few surprising moments. Just when you thought you knew friends quite well! And it was interesting to learn about the dynamics of our friendship and how each one of us meant to another. 

We were quite deep into our conversation when an earthquake suddenly happened. It was my first, and I learned later that it was a medium-level earthquake. When the whole place was shaking, my immediate thought was to get under the table, but I wasn't too sure about it, so I stood up instead and looked for a waitress to ask. 

The experience was so fast and surreal that it was a blur. By the time I got hold of the situation, we were outside with the waitress, who apologized for the earthquake, as if she was the one causing it. When we sat down again, Eday said to me, "And you thought Jogja as a destination would have been boring?"

Recreating the photo we took in 1997. 

We had our supper at Gudeg Wijilan Bu Hj. Rini after the earthquake, then headed back to the hotel to get some rest. The next day began around 10 AM at the Brewing Room for our morning coffee. Hartono came to meet us, and that's when we recreated a two-decade-old picture. Years after my 17th birthday, there we were sitting together again on a couch in our mid-40s.

After that, Vivi and Agus, Eday's college friends, came to join us. The last to arrive was Teng Lai. The college friends reminisced and had a catch-up. We were there until close to 1 PM. Vivi had a dancing studio and she had a class to teach, so we also left for lunch at Bebek Indra. 

After the lunch.

After an eye-opener food ordering experience (Teng Lai is vegetarian and can't even eat onions), we enjoyed our meal and hung out until almost 4 PM. We also exchanged perspectives, foreigners versus locals. The key takeaway: if your life is just daily routines, you are no longer thinking, and everything you do is autopilot. This wasn't good, so it was inspiring to meet up with friends.

We went to Gayo Kedai Kopi Roaster to top up our coffee intake for the day. Nice place, frequented by a lot of youngsters. That's where Eday revealed why he would be visiting the city of Kediri: he wanted to see the infamous ugly-looking white tiger statue up close and personal. We called Jimmy, and he was quickly persuaded to join the mission. 

The happy Jimmy. 

From Gayo, we returned to the hotel to freshen up before heading out for dinner. Given my nostalgic craving for cart-wheeled fried rice I used to have in Jakarta, of course, the dinner was nasi goreng tek-tek. From across our hotel, we walked towards Just Playon, a drinking place with a live band performance. 

The weather that night was quite humid, so Eday secured us an air-conditioned room. Soon the cavalry arrived, with Yuliana bringing us an unexpected surprise: cigarettes that healed! They were fermented with spices, supposedly good for high blood pressure, cholesterol, sugar blood levels, and, as a bonus, it made you slim! Hell, even the ashes were consumable, either directly or sprinkled on your drink. Tasting it was believing!

The last photo together. For now!

But all good things must come to an end. After midnight, we said our goodbyes and went our separate ways. The boys dropped me off at the airport in the morning, and as I flew back to Singapore, they made their way to Magelang before heading to Kediri. The journey continued!

Epilogue: 
Mul said he was sad when Eday said this could be the last time they did the Poor Trip. I was never keen on such a trip to begin with! But it had been a blast. It took us almost 30 years to travel together for the first time ever. Not only did it give us a chance to see how far we had come since our days in Pontianak, but most importantly, it was good to look back and cherish our friendship.

Three friends and fried rice. 

We might be different, so different, but in the end, I'd like to think we were just three guys who genuinely cared about each other, regardless of what we had become in this lifetime.



Yogyakarta: Gempa Dan Abu

Perjalanan ini berawal dari percakapan larut malam antara Eday dan saya sekitar tiga minggu yang lalu. Awalnya saya enggan untuk pergi lagi ke Yogyakarta, alasannya karena saya sudah pernah ke sana pada tahun 2019. Namun, ketika Eday menyebutkan bahwa ini akan menjadi pertama kalinya kami bertiga—saya, dia, dan Mul—bepergian bersama, saya langsung setuju tanpa berpikir panjang.

Untuk memahami hal ini, kita harus menengok kembali ke masa bertahun-tahun yang lalu, sebelum kuliah dimulai. Eday, Mul, dan saya bukan hanya teman dekat, tapi juga pendiri klub memasak zaman SMA. Oh ya, begitulah baiknya kami sebagai remaja dulu! Selama ini, Eday dan saya sudah beberapa kali bepergian bersama—mulai dari perjalanan ke Jakarta tahun 1997 hingga ke Ipoh pada tahun 2024—tetapi saya hanya pernah sekali bepergian dengan Mul ke Kuching di awal tahun 2000-an. Jadi, gagasan tentang kami bertiga akhirnya bisa melakukan perjalanan bersama untuk pertama kalinya sangatlah menggembirakan dan tentu saja tidak boleh dilewatkan!

Mul dan saya di depan Stasiun Tugu.

Jadilah saya berangkat pada Kamis sore. Pada pukul 18.40 waktu GMT+7, saya sudah berfoto pertama bersama Mul di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami berjalan sebentar untuk mencari sepiring nasi goreng yang harganya bahkan lebih murah daripada segelas teh c favorit saya. Perbandingan yang lucu! Dari sana, kami menuju ke Por Aqui, hotel bernuansa Meksiko yang kami tempati, berlokasi di area yang oleh Mul disebut mirip Legian di Bali—namun versi wannabe. Tempatnya memang banyak turis. Kami check-in, menikmati es krim di Tempo Gelato, lalu menjemput Eday di Fortunate Coffee.

Perlu diketahui, kami memiliki tradisi untuk menunjuk seorang “kapten” di setiap perjalanan. Karena ini adalah perjalanan Eday yang dia beri nama Poor Trip, saya dengan bercanda menamainya Kapten Miskin. Selain itu, perjalanan ini dilakukan secara diam-diam—sesuatu yang sama sekali bukan karakter saya! Tapi saya patuh, karena ini adalah perintah sang kapten. Beberapa orang di grup SMA mungkin sempat curiga, namun kami baru mengonfirmasi dengan foto di bawah ini pada pukul 2:12 pagi keesokan harinya.

Setelah gempa.

Kembali ke cerita, ketika kami bertiga akhirnya sudah berkumpul, kami menuju ke Barley and Barrel di Artotel untuk menikmati obrolan santai ditemani sedikit alkohol. Oh ya, hanya tiga sahabat lama yang berbincang terbuka tentang kehidupan. Banyak momen yang mengejutkan juga muncul malam itu—ketika Anda berpikir sudah mengenal teman dengan baik, ternyata masih ada hal baru untuk diketahui! Menarik sekali mempelajari dinamika persahabatan kami dan bagaimana masing-masing dari kami memandang satu sama lain.

Kami sudah cukup larut dalam percakapan ketika tiba-tiba terjadi gempa bumi. Itu adalah pengalaman pertama saya, dan kemudian saya tahu bahwa skalanya menengah. Saat gempa melanda, refleks pertama saya adalah hendak bersembunyi di bawah meja, tapi saya tidak yakin, jadi saya berdiri dan mencari pelayan untuk bertanya.

Semua berlangsung begitu cepat dan terasa tidak nyata—benar-benar kabur dalam ingatan. Ketika saya mulai memahami situasi, kami sudah berada di luar bersama pelayan yang bahkan meminta maaf atas gempa itu, seolah-olah dia yang menyebabkannya. Setelah semuanya tenang dan kami kembali duduk, Eday berkata kepada saya, “Dan kamu sempat berpikir bahwa Jogja sebagai tempat tujuan itu membosankan, ya?”

Berpose lagi seperti foto di tahun 1997. 

Kami melanjutkan malam dengan makan di Gudeg Wijilan Bu Hj. Rini seusai gempa, kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokan harinya bermula sekitar pukul 10 pagi di Brewing Room untuk menikmati kopi pagi. Hartono datang menemui kami, dan di situlah kami mengulang foto dua dekade yang lalu. Bertahun-tahun setelah ulang tahun saya yang ke-17, kami kembali duduk bersama di sofa—kini di usia pertengahan 40-an.

Tak lama kemudian, Vivi dan Agus—teman kuliah Eday—bergabung. Yang terakhir datang adalah Teng Lai. Mereka berbincang dan bernostalgia sampai sekitar pukul 1 siang. Karena Vivi harus mengajar di studio tari miliknya, kami pun beranjak untuk makan siang di Bebek Indra.

Setelah makan siang.

Di sana, saya mendapatkan pengalaman menarik dalam memesan makanan—karena Teng Lai vegetarian dan bahkan tidak bisa makan bawang! Namun kami semua menikmati hidangan dan mengobrol sampai hampir jam 4 sore. Kami saling bertukar pandangan—antara orang luar dan lokal. Kesimpulan penting: kalau hidupmu berkutat pada rutinitas yang sama setiap hari, pikiranmu berhenti bekerja, dan semua yang kamu lakukan berjalan otomatis. Ini tidaklah baik, maka penting untuk berkumpul bersama teman.

Kami lanjut ke Gayo Kedai Kopi Roaster untuk menambah dosis kafein hari itu. Tempatnya nyaman dan banyak dikunjungi anak muda. Di sanalah Eday mengungkapkan rencananya untuk berkunjung ke Kediri, karena dia ingin melihat langsung patung harimau putih yang terkenal jelek itu. Kami menelepon Jimmy, dan tidak butuh waktu lama untuk membujuknya agar ikut dalam misi tersebut.

Jimmy yang berseri-seri. 

Dari Gayo, kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap dan kemudian keluar lagi untuk makan malam. Karena saya rindu nasi goreng gerobakan yang dulu sering saya nikmati di Jakarta, tentu saja pilihan makan malam jatuh pada nasi goreng tek-tek. Dari seberang hotel, kami kemudian berjalan menuju Just Playon, tempat minum dengan pertunjukan grup musik.

Malam itu cukup lembab, jadi Eday memastikan kami mendapatkan ruangan ber-AC. Tak lama kemudian “pasukan” tambahan datang, dan Yuliana membawa kejutan tak terduga: rokok penyembuh! Konon difermentasi dengan rempah-rempah dan baik untuk tekanan darah tinggi, kolesterol, kadar gula, bahkan bisa membuat langsing! Bahkan abunya bisa dikonsumsi—baik secara langsung atau ditaburkan ke minuman. Mencobanya benar-benar pengalaman tersendiri!

Foto sebelum bubaran.

Namun semua hal baik pasti berakhir juga. Setelah lewat tengah malam, kami berpamitan satu per satu. Pagi harinya, Eday dan Mul mengantar saya ke bandara, sementara mereka melanjutkan perjalanan ke Magelang, lalu menuju Kediri. Petualangan mereka masih berlanjut!

Epilog:
Mul mengaku sedih ketika Eday mengatakan bahwa ini mungkin perjalanan “Poor Trip” terakhir mereka. Padahal saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan konsep perjalanan ini! Tapi kenyataannya, perjalanan ini luar biasa. Butuh waktu hampir 30 tahun bagi kami bisa bepergian bersama untuk pertama kalinya. Perjalanan ini tidak hanya memberi kesempatan untuk melihat sejauh mana kami telah melangkah sejak masa kami di Pontianak, tapi yang lebih penting, kami pun diingatkan kembali untuk menghargai persahabatan ini.

Tiga teman dan nasi goreng. 

Kami mungkin berbeda—sangat berbeda—tetapi pada akhirnya, saya yakin bahwa kami hanyalah tiga pria yang benar-benar peduli satu sama lain...