Total Pageviews

Translate

Wednesday, December 12, 2018

Data Travel Plan

A friend of mine was in Japan and she posted the picture of a portable WiFi she was using. After that, she told us how horrible the internet connection was. What she went through was not just a complaint. It was a genuine problem these days and I certainly could relate with it. If I referred to my own experience, as a modern-day traveler, I needed a reliable internet connection for all my travel and social media apps. Oh yes, I relied on Google Maps to reach my destinations and I had the habit of checking in on Swarm to preserve the memories of places I had been. So what should I do in order to ensure all these work? Throughout the years, I happened to try out several solutions. None of them is perfect, but let's have a look and you decide what works for you!

First of all, let's check out the portable WiFi. In certain countries such as Japan or Singapore, a traveler could actually rent a portable WiFi the moment you reached the airport. I remember picking up mine at Haneda and returned it back at Narita when I went to Japan for the first time. It was cool. With only one portable WiFi, I could connect all the devices, which were basically my wife's mobile phone and mine. But there were two glaring problems with the portable WiFi. Firstly, the battery could only last for roughly five hours. Back in 2014, I didn't recall that we could connect the equipment to a power bank, which meant when it was out of juice, we totally had no internet anymore. Secondly, the data bundle seemed to be quite limited. The staff at the rental counter did warn me not to do video streaming. But my daughter was very young then and she'd only eat while watching YouTube. Right after she did that, the internet was disconnected for certain period of time!

Another alternative that I often used was getting a local SIM card. This had worked well in most of the countries and this was the only method that allowed us to make calls at local rates. However, in my case, this might not be necessary since I almost never called anybody and if I did, I could simply call them using WhatsApp. The downside of this choice were lousy providers and the great firewall of China. When we were in Myanmar, my colleague and I decided to try out two different providers. Mine had a perfect 4G connection even we were visiting places as high and remote as the Golden Rock in Mon State, but my colleague was even struggling with the signal reception at Bogyoke Market, a prime area! When in China, using local SIM cards meant losing access to many critical apps that I heavily relied on. I simply had to kiss Facebook, WhatsApp, Google and others goodbye.

All the SIM cards that I keep as souvenirs. 

When I returned to China recently, I tried the data travel plan from my provider, StarHub. The setup, I guess, pretty much depends on the provider. In my case, since I already had the International Roaming service, I just had to choose the DataTravel plan. I opted for the Asia-Pacific region because I was only going to China and Japan. It was activated in no time. When I landed in Shanghai, there was a pop up message asking if I wanted to turn on data while roaming. I just had to click yes and voilĂ ! Those forbidden apps were accessible! While I might be wrong, but the internet connection seemed to be routed back to Singapore before it went out to, let's say, Google. That's why it wasn't blocked by the great firewall of China. The behavior was accidentally confirmed when I accessed Netflix in Japan. When I used my mobile data, the content looked like what I normally saw in Singapore. When I switched to WiFi, I saw different shows that were only available in Japan (I ended up watching the Big Bang Theory and Florence Foster Jenkins in Fukuoka).

As I have used all three options above, I could safely say that I preferred the last one. In the span of 13 days, I used Google Maps, WhatsApp and Facebook heavily, spending more than 3GB worth of data. I paid SGD 25 for the 4GB data that I subscribed. It was quite a practical approach as I eliminated the need of carrying another device and avoided the problem of being blocked in China. It wasn't exactly expensive and it felt to great to stay connected. So what do you think?

A portable WiFi (the black colored device, not the bread).

Internet Di Kala Liburan

Seorang teman sedang berada di Jepang dan dia berbagi foto WiFi portabel yang dia pakai saat berlibur di sana. Setelah itu dia bercerita tentang parahnya jaringan internet dari perangkat tersebut. Apa yang dia alami bukanlah sekedar keluhan. Ini adalah sebuah masalah di zaman sekarang dan saya bisa mengerti apa yang dia rasakan. Bercermin pada pengalaman saya sendiri sebagai pelancong masa kini, saya juga sangat bergantung pada koneksi internet yang bagus untuk semua aplikasi perjalanan dan media sosial yang saya pakai. Oh ya, saya menggunakan Google Maps untuk sampai ke tempat tujuan dan saya juga memiliki kebiasaan untuk merekam jejak saya dengan aplikasi Swarm. Jadi apa yang harus saya lakukan supaya semuanya berjalan lancar? Dalam beberapa tahun ini, kebetulan saya pernah mencoba beberapa solusi. Sejauh ini tidak ada solusi yang sempurna, namun saya akan coba paparkan sehingga anda bisa menilai, apa yang cocok untuk anda. 

Pertama-tama, mari kita lihat WiFi portabel. Di negara-negara tertentu, misalnya Jepang atau Singapura, seorang turis bisa menyewa WiFi portabel begitu dia tiba di bandara. Saya pernah menyewa perangkat tersebut di Haneda dan mengembalikannya di Narita saat saya ke Jepang untuk pertama kalinya. WiFi portabel ini mudah untuk dibawa ke mana-mana dan saya bisa menghubungkan lebih dari satu telepon genggam ke perangkat ini. Akan tetapi saya menyadari ada dua masalah yang saya hadapi selama menggunakan WiFi portabel di Tokyo. Yang pertama, baterainya hanya bertahan kira-kira lima jam. Seingat saya, perangkat yang saya sewa saat berlibur ke Jepang di tahun 2014 ini tidak bisa disambungkan ke bank baterai. Begitu kehabisan baterai, internet kita pun hilang sudah. Masalah kedua, kuota datanya sangat terbatas. Petugas di loket peminjaman memberitahukan bahwa saya sebaiknya tidak menonton YouTube lewat WiFi portabel, namun putri saya yang berumur kurang dari dua tahun pada saat itu hanya mau makan saat menonton YouTube. Setelah itu, internetnya terputus cukup lama!

Pilihan lain yang sering saya gunakan adalah membeli kartu SIM lokal. Cara ini bukan saja memungkinkan saya untuk mendapatkan akses internet di negara yang saya kunjungi, tetapi juga memungkinkan saya untuk menelepon dengan tarif lokal. Kendati begitu, fitur ini sebenarnya kurang berguna bagi saya karena saya hampir tidak pernah menelepon orang lain dan kalau pun saya ada menelepon, saya bisa menggunakan WhatsApp untuk menghubungi mereka. Kendala yang mungkin dihadapi saat menggunakan opsi ini adalah salah pilih penyedia telkom dan sensor internet di Cina. Sewaktu saya berada di Myanmar, saya dan kolega saya membeli kartu SIM dari penyedia telkom yang berbeda. Koneksi 4G saya bahkan tidak bermasalah di tempat yang tinggi dan terpencil seperti Pagoda Kyaiktiyo di negara bagian Mon, namun rekan kerja saya terus-menerus mengalami gangguan sinyal bahkan di Pasar Bogyoke yang berada di pusat kota! Kendala lainnya, saat berada di Cina, menggunakan kartu lokal sama saja artinya dengan kehilangan akses ke situs atau aplikasi internasional yang biasa saya pakai. Apa gunanya internet kalau saya tidak bisa menggunakan Facebook, WhatsApp, Google dan aplikasi lainnya?

Berbagai pilihan paket data perjalanan dan harganya.

Ketika saya kembali ke Cina baru-baru ini, saya mencoba fitur data perjalanan dari penyedia telkom saya, StarHub. Cara aktivasinya mungkin berbeda-beda, tergantung penyedia layanan anda. Untuk saya sendiri, karena saya sudah memiliki fitur International Roaming, saya cukup mengaktifkan layanan DataTravel. Saya memiliki paket Asia-Pasifik karena saya hanya pergi ke Cina dan Jepang. Ketika saya mendarat di Shanghai, telepon genggam saya menampilkan pesan di layar yang menanyakan apakah saya ingin mengaktifkan data saat berada di luar negeri. Saya cukup menekan pilihan "ya" dan aplikasi yang diblok di Cina pun bisa diakses! Kalau saya amati, sepertinya koneksi internet itu dialihkan kembali ke Singapura dan dari situ barulah ke situs-situs seperti Google. Karena inilah aplikasi yang saya pakai tidak diblok sewaktu saya berada di Cina. Ketika saya mengakses Netflix di Jepang, saya menyadari bahwa teori saya ini cukup masuk akal. Sewaktu saya menggunakan internet dari data telepon genggam, film-film di Netflix persis sama dengan yang saya lihat sewaktu berada di Singapura. Begitu saya pindah ke WiFi, saya melihat film-film yang berbeda (dan akhirnya saya menonton the Big Bang Theory serta Florence Foster Jenkins di Fukuoka). 

Berdasarkan pengalaman saya menggunakan tiga pilihan di atas, saya cenderung menyukai pilihan terakhir. Dalam rentang waktu 13 hari, saya senantiasa mengakses Google Maps, WhatsApp dan Facebook sehingga menghabiskan lebih dari 3GB data. Saya membayar SGD 25 untuk 4GB data yang saya aktifkan. Pilihan menggunakan data perjalanan ini tergolong praktis karena saya tidak perlu membawa WiFi portabel dan juga tidak diblok di Cina. Soal harga, saya kira cukup terjangkau, sehingga saya bisa tetap memiliki internet. Bagaimana menurut anda?

No comments:

Post a Comment