Total Pageviews

Translate

Friday, September 15, 2017

The Man Without Fear

I've known Jimmy for easily three decades. We were friends since primary school or perhaps earlier than that. We were never that close, but when we kept in touch, it always felt like we just saw each other yesterday.

Jimmy was always the odd one out, but in a very positive way. When we were kids, he stood out among the rest of us as this charming, small size kid. He was always true to his words and had a strong moral compass, but never an uptight person. Skinny though he was, bullies feared him and we admired him.

We crossed path in many stages of life. When we were kids, Jimmy walked out after a racial slur and we followed him immediately. In retrospect, it was rather cool. We were still so young then, growing up in a place where discrimination was rampant, and here was one boy who knew he didn't have to take no shit when insulted and underestimated by this non-Chinese boy. He was brave enough to stand up against it. Hell, it was actually a miracle that he didn't beat him there and then.

My first lesson about karma involved Jimmy as well. Though we weren't in the same secondary school, I took the English course in a tuition centre opened by his elder brother. One day, when I stepped out from the building (that was actually his house), there Jimmy and his bicycle were, on a dry patch of a dirty ditch. I proceeded to make fun of him, but I tripped and soon fell into the blackish and smelly water. Instant Karma! So who had the last laugh?

From the left: Rudy, Jimmy, Setia, Endrico and Yours Truly. 

As we grew up, we again went into the same school. During the last year in high school, we were in the same class. We used to go for siew mai at night and we had this unforgettable Temajoh trip together, alright, but what impressed me the most was how well his school results were. Jimmy always struck me as a street-smart kind of student, not the academically inclined, but I seem to recall that he had this conversation with one of the teachers and was challenged to do better. That was when he made a leap that surprised everybody, especially me, because he did it better than me, a top ten student! I was really humbled by the experience.

We parted ways after graduation, but I heard about him from time to time through our mutual friend, Endrico. He beat the hell out of a black belt in Kuching during his college days. He gambled all his money that was meant for his college fund. He ran away only to realize that he couldn't run away from himself, so he went back to face his elder brother and repent. He started over since then, built his business and got married. Then we got reacquainted again in 2013, when we visited Surabaya. He was the same old friend, a very easy going one, and he immediately brought us to Malang and Batu, even though his baby was only few days old then, haha. Oh, it was also during this trip that we learnt about his death-defying act: he won a bet by jumping into a crocodile farm in Kuching!

Jimmy and I grew closer again after Whatsapp came into existence, allowing us to have the alumni chat group. He would say his piece of mind that might sound arrogant to those who didn't know him well. But trust me, he was like one of the nicest weird guy around. The chatting platform was not built to convey the emotion properly, so inarticulate people would sound ruthless sometimes due to the poor choices of words.

Recently he approached me for some IT matter. He was doing some freight transportation business and was keen to have a website. After recruiting Setia for an extra pair of hands and brain, we explored Shopify and decided to go with it because Jimmy might bring his business online one day (although, on the second thought, we may need to move it to wix.com for cost saving reason until he's ready to go online). The two of us then worked on Jimmy's simple requirement. I had no idea why Setia chose that particular theme, but I liked the clean look that reminded me of apple.com. After two years, the owner decided to shut it down, haha.

Anyway, Jimmy once said that if all friends, each with our own special skill, can work together and help each other, imagine what sort of business we can do. I only smiled when I heard that. I thought it was a utopian dream for an ideal world, because in reality, with so much egos in the room, we would have been busy killing each other before we ever achieved anything. But I was wrong and he was right. With the right mindset and integrity, indeed we could make things work. The way I look at it, he got his website and and we had a chance or two to try out something new. I also learnt that in life, if we can set aside our differences as well as be sincere and committed without asking anything in return, life itself will bring you to an uncharted territory through a rewarding experience...

A night at the race in Batu, 2013.


Pria Pemberani Bernama Jimmy

Saya sudah kenal Jimmy tiga puluh tahun lamanya. Kita berteman sejak SD atau mungkin bahkan sejak TK. Sebagai teman, kita tidak pernah terlalu akrab, tapi setiap kali berkumpul lagi, rasanya seperti baru bertemu kemarin.

Jimmy memiliki karakter yang aneh, tapi dalam arti positif. Ketika kita masih kanak-kanak, dia sudah berbeda sendiri. Dia jujur dalam berkata dan memiliki pandangan moral yang tegas, tapi luwes dalam menghadapi orang. Walau kurus dan tergolong kecil, dia disegani anak-anak nakal dan dikagumi oleh kita yang tipe pelajar.

Jimmy dan saya berulang kali berpapasan dalam berbagai jenjang kehidupan. Sewaktu SD, dia pernah meninggalkan suatu acara karena tidak terima dengan perlakuan berbau SARA. Saya dan seorang teman pun mengikutinya. Kalau dipikirkan lagi, itu sungguh pengalaman yang unik. Kita masih sangat muda ketika itu dan tumbuh di lingkungan yang sangat diskriminatif terhadap Tionghoa, namun bocah yang satu ini sejak dini sudah menyadari bahwa dia tidak harus menerima perlakuan yang menghina dan semena-mena dari anak non-Tionghoa. Dia juga berani menentang semua ini. Sungguh keajaiban bahwa dia bisa menahan diri untuk tidak menghajar anak yang membuat masalah itu.

Pelajaran saya yang pertama tentang karma juga melibatkan Jimmy. Walau kita tidak bersekolah di SMP yang sama, saya kursus bahasa Inggris di tempat kursus yang dibuka oleh abangnya. Suatu hari, saat saya melangkah keluar dari rumah Jimmy, saya melihatnya sedang berusaha mengeluarkan sepedanya dari tanah kering di parit. Karena memang watak saya yang iseng, saya tertawa dan mulai mengejeknya. Akan tetapi saya tidak melihat ke mana saya melangkah, akibatnya saya tersandung dan jatuh sendiri ke dalam parit yang berair hitam dan berbau busuk. Jadi siapa yang tertawa paling akhir?

Di Selecta, 2013.
From the left: Yours Truly, Alfan, Setia and Jimmy.

Di masa SMA, sekali lagi kita memasuki sekolah yang sama. Kita bahkan sekelas di kelas tiga. Kadang kita pergi makan malam bersama, masing-masing menyantap semangkok bakso dan sepuluh atau dua puluh biji siomai Acin. Kita juga bertualang bersama ke pulau Temajoh yang tidak terlupakan. Kendati begitu, jika ada satu hal yang betul-betul membuat saya terkesan tentang Jimmy di masa SMA ini adalah hasil ujian akhirnya. Saya selalu mengira bahwa Jimmy adalah tipe murid yang selalu bisa meloloskan diri dari masalah, tetapi biasa-biasa saja dalam segi pendidikan. Kalau saya tidak salah ingat, sepertinya waktu itu dia pernah berbincang dengan seorang guru yang menantangnya untuk berprestasi dan ia akhirnya membuktikan pada banyak orang kalau dia juga bisa. Saya adalah salah satu dari teman yang paling terkejut, sebab hasilnya jauh lebih baik dari saya yang biasanya masuk sepuluh besar. Singkat kata, saat lulus, nilai saya lebih rendah darinya. Sungguh pengalaman yang membuka mata saya. 

Kita berpisah jalan setelah lulus, tapi saya selalu mendengar berbagai kisah tentang Jimmy dari teman saya Endrico, misalnya tentang bagaimana dia menghajar seorang pemegang ban hitam yang menganggap remeh dirinya. Bertahun-tahun kemudian, sewaktu kita bertemu di Jakarta, Jimmy juga bercerita bagaimana dia menghabiskan uang sekolahnya di meja taruhan, lalu melarikan diri karena merasa bersalah. Namun ia sadar ia tidak bisa berlari terus dan akhirnya kembali menemui abangnya untuk mengaku salah. Dari situ dia memulai kembali dari awal sampai berhasil membangun usahanya dan menikah. Kita bertemu lagi di tahun 2013, ketika kita mengunjunginya di Surabaya. Dia masih sama seperti dulu, santai pembawaannya, dan dia membawa kita ke Malang dan Batu walaupun bayinya baru berusia beberapa hari, haha. Oh, pada kesempatan yang sama ini pula kita mendengar tentang aksi berani matinya: dia pernah memenangkan taruhan dengan cara melompat ke kandang buaya di Kuching!

wingboxtransport.com

Saya dan Jimmy mulai berkomunikasi lagi sejak era Whatsapp, dimana kita semua tergabung dalam grup alumni. Di grup ini dia kadang berkata apa adanya sehingga mungkin terkesan angkuh bagi yang tidak begitu mengenalnya. Kalau ada yang berpikir seperti itu, saya bisa bersaksi bahwa dia adalah salah satu orang aneh yang paling baik karakternya. Aplikasi chatting itu tidak dibuat untuk menyampaikan emosi seseorang dengan tepat, jadi kalau kebetulan orang tersebut memang tidak terlalu mahir dalam menulis, bisa ketus dan sombong kesannya.

Suatu ketika Jimmy bertanya kepada saya tentang perihal IT. Dia menekuni bisnis pengiriman barang dan tertarik untuk memiliki situs di internet. Setelah kita merekrut Setia yang lebih jago, kita mencoba Shopify dan akhirnya menggunakan fasilitas ini karena Jimmy memiliki rencana untuk mengerjakan bisnisnya secara online suatu hari nanti. Kita berdua lantas bekerja membuat situs berdasarkan permintaan Jimmy. Setia membuat kerangka dengan tema yang polos dan mengingatkan saya tentang tampilan apple.com yang minimalis dan putih. Setelah dua tahun, situs ini pun ditutup oleh pemiliknya, haha.

Jimmy pernah berkata bahwa jika semua teman, masing-masing dengan kemampuannya tersendiri, mau bekerja sama dan membantu satu sama lain, bayangkan hasil yang bisa dicapai. Saya hanya tersenyum saat mendengarkannya, sebab saya berpikir bahwa itu impian yang muluk. Yang saya bayangkan justru realitanya, dengan ego masing-masing, mungkin kita akan sibuk memaksakan ide satu sama lain tanpa pernah mencapai apa pun. Tapi saya salah dan dia benar. Dengan pola pikir yang tepat dan integritas, ternyata benar bahwa kita bisa mengerjakan sesuatu yang saling menguntungkan. Dalam contoh ini, Jimmy berhasil mendapatkan situsnya dan kita berhasil memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari teknologi yang baru. Yang lebih penting lagi, saya belajar bahwa jika kita bisa mengesampingkan perbedaan kita dan mengerjakan sesuatu dengan tulus, hidup akan membawa kita mencapai sesuatu yang baru...

Jimmy dan Endrico di Hotel Harris Malang, 2013.



1 comment: