Total Pageviews

Translate

Showing posts with label Reviews. Show all posts
Showing posts with label Reviews. Show all posts

Sunday, April 12, 2026

Bruce Lee: The Man Only I Knew

This book review was surely unexpected. It started with a regular news feed browsing on Facebook. Happened to see a post about the persecution of American women who married Chinese men in the early 20th century. I was curious about what was so attractive about Chinese men in the eyes of those American women, so I switched to Gemini and asked. 

Three questions later, still following the same theme, I found myself asking about the most famous couple I know: Bruce and Linda Lee. It was interesting to note down what the AI had to say when I asked about the fact that Bruce wasn't financially rich at the beginning of their relationship: Linda saw that he wasn't lazy; he was just being blocked by a biased system. It is much easier to stand by a man who is working 18 hours a day to succeed than one who has given up.

Eventually, the questions led to the book she wrote about Bruce. I had searched for a long time but couldn't find it since it was already out of print. But in the age of AI, I just needed to ask. It came back with results, and I clicked the first one: https://www.scribd.com/document/650091377/Bruce-Lee-The-Man-Only-I-Knew?hl=en-SG. It was a thin book, only about 203 pages including the cover. I read it on the spot. 

Just to give context here, Bruce died on July 20, 1973, and the book was published in 1975. That means Linda was likely to be in her grieving period when she wrote the book. Content-wise, I had known much of it, given that I had read quite a fair bit of books about Bruce and those by Bruce himself. But it was interesting to see it from Linda's perspective. Not only was she an American, but she was also his bridge between two worlds.

If anything, Linda humanized Bruce. He was not the unbeatable superhuman we knew from his movies, but a charming person, a loving husband, and a dotting father who had his flaws, worries, and failures. But one thing was consistent: his dedication to life's pursuits. Bruce was so confident that he might come across as arrogant, but he delivered what he dared to say. 

As a reader, you could sense that she was happiest during their time in America. Their short stint in Hong Kong, on the other hand, was like a fairy tale she didn't ask for. I liked the short description about the premiere of Big Boss, and I did further research about the subsequent movies. Bruce wasn't just the first Chinese actor to make it this big, but he also changed the fighting scenes forever singlehandedly. The reaction of the audience, especially during Fist of Fury, was priceless. They actually cheered, clapped, and gave a standing ovation.

The most profound insight was his death, though. It was quite vivid, and given how fit Bruce was, Linda's reaction mirrored what many of us felt. He couldn't possibly die at such a young age, right? But die he did. After breaking so many records in such a short time, including his own records, Bruce was gone too soon, like a shooting star.

The book is like a piece of history frozen in time, always there to tell us about the life and death of a man who is still remembered fondly more than five decades later. Yes, granted that the book felt guarded. After all, it was written by his wife. But that perhaps is what we need to know about Bruce: the human side of him, his thoughts and ideas, and the achievement that changed our lives forever.




Ulasan Buku: Bruce Lee

Ulasan buku ini sungguh tak terduga. Semuanya bermula dari kegiatan biasa menelusuri beranda berita di Facebook. Saya kebetulan melihat sebuah postingan tentang penganiayaan terhadap perempuan Amerika yang menikah dengan pria Tionghoa pada awal abad ke-20. Saya penasaran, apa sebenarnya yang membuat para wanita Amerika itu tertarik pada pria Tionghoa, jadi saya beralih ke Gemini dan bertanya.

Tiga pertanyaan kemudian, masih dengan tema yang sama, saya akhirnya mencari tahu tentang pasangan paling terkenal yang saya tahu: Bruce dan Linda Lee. Menarik sekali ketika AI memberikan jawaban tentang fakta bahwa Bruce tidak kaya secara finansial di awal hubungan mereka: Linda melihat bahwa dia bukan pemalas; dia hanya terhambat oleh sistem yang bias. Jauh lebih mudah untuk mendukung seorang pria yang bekerja 18 jam sehari demi meraih kesuksesan daripada pria yang sudah menyerah.

Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu mengarah pada buku yang ditulis Linda tentang Bruce. Saya sudah lama mencari buku ini tetapi tidak pernah menemukannya karena sudah tidak dicetak lagi. Namun, di era AI ini, saya hanya perlu bertanya. Hasilnya muncul, dan saya langsung mengklik tautan pertama: https://www.scribd.com/document/650091377/Bruce-Lee-The-Man-Only-I-Knew?hl=en-SG. Buku itu tipis, hanya sekitar 203 halaman termasuk sampulnya, jadi saya langsung baca di tempat.

Sebagai konteks, Bruce meninggal pada 20 Juli 1973, dan buku ini diterbitkan tahun 1975. Itu berarti Linda kemungkinan masih berada dalam masa berduka ketika menulisnya. Dari segi isi, sebagian besar sudah saya ketahui karena saya juga pernah membaca banyak buku tentang Bruce, termasuk tulisan Bruce sendiri. Namun, membaca dari sudut pandang Linda terasa berbeda. Selain karena ia seorang wanita Amerika, ia juga merupakan jembatan yang menghubungkan dua dunia bagi Bruce.

Kalau ada satu hal yang menonjol dari buku ini, maka itu adalah bagaimana Bruce terlihat manusiawi dalam tulisan Linda. Ia bukan sosok manusia super tak terkalahkan seperti yang kita lihat di film, melainkan pribadi yang menawan, suami yang penuh kasih, dan ayah penyayang dengan segala kelemahan, kekhawatiran, dan kegagalannya. Namun, satu hal yang konsisten pada dirinya adalah dedikasi terhadap tujuan hidupnya. Bruce sangat percaya diri hingga kadang terlihat arogan, tetapi ia mampu membuktikan kata-katanya.

Sebagai pembaca, bisa dirasakan bahwa Linda paling bahagia saat mereka tinggal di Amerika. Masa singkat mereka di Hong Kong justru seperti dongeng yang tak pernah ia minta. Saya menyukai bagian pendek tentang pemutaran perdana The Big Boss dan kemudian melakukan riset tambahan tentang film-film berikutnya. Bruce bukan hanya aktor Tionghoa pertama yang meraih kesuksesan sebesar itu, tapi juga sosok yang sendirian mengubah cara adegan pertarungan difilmkan. Reaksi penonton, terutama saat Fist of Fury, sungguh luar biasa. Mereka bersorak, bertepuk tangan, dan berdiri memberikan penghormatan.

Namun, yang paling menyentuh adalah bagian tentang kematiannya. Penggambaran Linda begitu jelas, dan mengingat betapa bugar Bruce saat itu, reaksinya mencerminkan apa yang banyak dari kita rasakan. Rasanya mustahil Bruce bisa meninggal di usia semuda itu, bukan? Namun faktanya, ia memang pergi. Setelah memecahkan begitu banyak rekor dalam waktu singkat — termasuk rekor yang ia buat sendiri — Bruce pergi terlalu cepat, bagaikan meteor yang melesat.

Buku ini terasa seperti sebuah potongan sejarah yang diabadikan di dalam pergerakan waktu, selalu siap menceritakan kisah hidup dan kematian seorang pria yang masih dikenang dengan hangat lebih dari lima dekade setelah kepergiannya. Ya, memang terasa sedikit berhati-hati dalam penyampaiannya — bagaimanapun, buku ini ditulis oleh istrinya. Tetapi mungkin justru itulah yang perlu kita ketahui tentang Bruce: sisi manusianya, pemikirannya, dan pencapaian-pencapaian yang mengubah hidup kita selamanya.

Friday, August 1, 2025

Book Review: Waxing On

I like Cobra Kai long before I watched the Karate Kid. But as someone from the 80s, even a boy from a place as remote as Pontianak had heard of the infamous crane kick. Yes, it was that popular, though allegedly illegal, if one could trust Johnny Lawrence, haha. Now that there was a book written by the Karate Kid himself, of course I had to read it!

And what a great and easy reading the book is. It reminded me of what Ringo said. To paraphrase his words, he has lived well into his 80s, but most people are only interested in that 8 years of his life as a Beatle. In the case of Ralph Macchio, the career span is even shorter: he is forever known as the Karate Kid. Not even My Cousin Vinny can change this.

Ralph knew and he acknowledged this through his book, Waxing On. Even the title was a homage to Mr. Miyagi's teaching. And it focused on all things Karate Kid, with a taste of Cobra Kai. I like how he dedicated each chapter to Pat Morita,  Elisabeth Shue and William Zabka. The one with Pat was especially endearing. He was truly Mr. Miyagi. 

Now, back to the fact that even people from Pontianak had heard of the Karate Kid, it was even more impressive to read how Ralph's further elaboration on this. The movie was up there, together with Rocky, Ghostbusters, Back to the Future, becoming part of the pop culture that we know and love. Okay, even if you hadn't watched them, you'd at least know about them!

Then of course there was the birth of Cobra Kai series. Its origin story was hilarious. It was the unlikeliest story, but yet that's how it happened, with a little help from How I Met Your Mother

If you like the Karate Kid and its expanded Miyagiverse, this is clearly a book for you. It's both humble and funny. It's also a story of acceptance. People love having options, but sometimes we're defined by the one thing we did right in life. And that's how it is for Ralph Macchio. He might not like it at first, but he has made peace with the fact that we'll always remember him as Daniel LaRusso...




Ulasan Buku: Waxing On

Saya suka Cobra Kai jauh sebelum saya menonton Karate Kid. Namun sebagai seseorang yang berasal dari dekade 80an, bahkan bocah dari tempat terpencil seperti Pontianak pun pernah mendengar tentang tendangan bangau yang termasyhur. Ya, jurus tersebut sedemikian populernya pada saat itu, meskipun disinyalir ilegal kalau Johnny Lawrence bisa dipercaya, haha. Sekarang, setelah saya tahu ada buku yang ditulis oleh pemeran Karate Kid, tentu saja saya harus membacanya.

Dan ini adalah buku yang gampang dibaca dan mengingatkan saya pada perkataan Ringo. Kira-kira begini kalimatnya: meski dia sudah hidup 80 tahun lebih, orang-orang hanya tertarik dengan delapan tahun hidupnya sebagai anggota the Beatles. Dalam konteks Ralph Macchio, karirnya lebih singkat lagi: dia selamanya dikenal sebagai Karate Kid. Bahkan sukses My Cousin Vinny pun tidak bisa mengubah hal ini. 

Ralph tahu dan mengakui hal ini lewat bukunya, Waxing On. Bahkan judulnya pun mengacu pada ajaran Mr. Miyagi. Buku ini menjabarkan segala sesuatu tentang Karate Kid, termasuk Cobra Kai. Saya suka caranya yang mempersembahkan masing-masing satu bab untuk Pat Morita, Elisabeth Shue dan William Zabka. Cerita tentang Pat sangat menyentuh. Pat sungguh merupakan Mr. Miyagi yang otentik. 

Nah, kembali ke fakta tentang orang asal Pontianak yang pernah mendengar tentang Karate Kid, sangat berkesan rasanya saat membaca tentang dampak Karate Kid pada dunia lewat sudut pandang Ralph. Film ini setara dengan Rocky, Ghostbusters serta Back to the Future dan menjadi bagian dari budaya pop yang kita kenal baik. Ok, walau anda belum pernah menonton film-film ini, setidaknya anda pasti pernah dengar!

Dan tentu saja Ralph kemudian juga bercerita tentang serial Cobra Kai. Asal mulanya kocak juga. Seperti suatu cerita yang mustahil, tapi memang demikian kisahnya, dengan sedikit bantuan dari How I Met Your Mother

Jika anda suka Karate Kid dan cerita yang akhirnya berkembang menjadi Miyagiverse, maka ini adalah buku untuk anda. Kisahnya bersahaja dan lucu. Selain itu, temanya juga tentang penerimaan. Sebagai manusia, kita pasti ingin memiliki pilihan, tapi terkadang kita ditentukan oleh satu hal yang kita lakukan dengan baik dalam hidup ini. Dan inilah yang terjadi pada Ralph Macchio. Pada awalnya dia mungkin tidak suka, tapi sekarang dia sudah berdamai dengan fakta bahwa kita akan selalu mengingatnya sebagai Daniel LaRusso...


Wednesday, January 29, 2025

Book Review: Just Go

This story started in early January, when I saw a video about what 100 USD could do in Kuwait. That's when I found out about a guy named Drew Binsky. Oh, another globe-trotter who made videos, I thought. And he reminded me of Nas Daily who was quite popular with his one-minute videos a few years ago. 

Nas wrote a book, so that was also probably a reason why I searched for Drew's name on the library app. I couldn't remember for sure, to be frank. Turned out that indeed he wrote one, so I reserved and borrowed the book. Oh yes, in a country where books collection at the library is extensive, borrowing for free is definitely a good option, haha. 

Drew's book is the adventures and experiences documented with a single intention: telling us to travel and make friends. He had literally visited all the countries in the world and his story was beautiful, one that almost didn't happen due to COVID-19. But he quickly resumed his journey when the world was opening up and the rest is history.

I was expecting a book that told me the story about each country Drew had visited, but this wasn't the case. Such stories only served as a narrative for the points he'd like to convey. The part where he mentioned about Syria was actually almost the same as my friend Eday had gone through. They even met the same people, Fadi and Ghaidaa! His story about Afghanistan that happened before Taliban was like being lifted up from the pages of the Kite Runner

Other than that, the book talked a lot about tips and tricks of traveling. It covered many things, from safety, local friends, visa application, understanding the country you are visiting, monetizing the experience as a YouTuber, etc. But if we're to sum it up, I think the motto of Drew Binsky says it all: just go!

One more thing, since both are avid travelers, I couldn't help comparing between Nas Daily's book and this one. The former felt like reading the recaps of the videos he did whereas this one was more of a proper book peppered with stories of his trips. Along with a classic called Around the World in Eighty Days, this one surely encouraged me to travel the world, too!



Just Go. An easy reading!



Ulasan Buku: Just Go

Cerita kali ini dimulai di awal bulan Januari, ketika saya melihat video tentang apa yang bisa dibeli dengan USD 100 di Kuwait. Tokoh di video tersebut adalah Drew Binsky, seorang pengelana yang sudah keliling dunia. Dia mengingatkan saya pada Nas Daily yang sempat populer beberapa tahun silam dengan video satu menitnya. 

Nas ada menulis buku, jadi mungkin karena itulah saya iseng mencari nama Drew di aplikasi perpustakaan. Saya tidak ingat pasti, tapi mungkin itulah alasannya. Ternyata dugaan saya benar. Ada bukunya, jadi saya pinjam. Oh ya, di negara di mana koleksi buku di perpustakaan tergolong lengkap, meminjam buku secara gratis adalah sebuah pilihan bagus, hehe. 

Buku Drew Binsky adalah petualangan dan pengalaman yang didokumentasikan dengan satu tujuan: mengingatkan kita untuk berkelana dan berteman. Dia sudah mengunjungi semua negara di dunia dan pengalaman yang mengesankan ini hampir tidak terwujud karena COVID-19. Drew gerak cepat dan lekas menyelesaikan beberapa negara yang tersisa ketika dunia mulai membuka diri lagi di penghujung pandemik. 

Saya mengharapkan buku yang bercerita tentang setiap negara yang telah Drew Binsky kunjungi, tapi ternyata tidak demikian isinya. Beberapa negara dijabarkan hanya sebagai narasi dari apa yang hendak dia sampaikan. Kisah tentang Suriah memiliki kemiripan dengan cerita teman saya Eday. Mereka bahkan bertemu dengan orang-orang yang sama, Fadi dan Ghaidaa! Ceritanya tentang Afghanistan, yang terjadi sebelum era Taliban, bagaikan cuplikan buku the Kite Runner

Selain itu, buku ini banyak mengupas tentang petunjuk dan cara bertualang. Banyak aspek yang dirangkum di sini, mulai dari segi keamanan, teman lokal di negara tujuan, aplikasi visa, pentingnya memahami situasi negara yang hendak dikunjungi, cara menghasilkan uang sebagai YouTuber dan lain-lain. Bila mau disimpulkan dua kata, maka moto Drew Binsky terasa tepat sasaran: just go!

Satu hal lagi, karena dua-duanya adalah petualang, saya jadi tanpa sadar membandingkan buku Nas Daily dan yang satu ini. Tulisan Nas terasa seperti membaca rangkuman video yang dibuatnya dalam bentuk tulisan. Buku karangan Drew terasa lebih menyerupai bacaan ringan yang isinya dibumbui dengan kisah petualangannya. Seperti halnya dengan novel klasik Mengelilingi Dunia Dalam 80 Hari, buku yang satu ini membuat saya terinspirasi untuk berjalan-jalan juga! 

Sunday, July 21, 2024

Book Review: The Kite Runner

A friend of mine, the same one who went to Syria last year, is going to Afghanistan. When he told me that he had bought the tickets, I found myself browsing Wikivoyage, my favourite website for traveling. As I read about Afghanistan, I saw the section about recommended books. I checked those books on the library app and the fourth title was available. It was a novel called the Kite Runner.

I didn't have much expectation, but the book turned out to be almost as engaging as Harry Potter. The first part was about the friendship of Amir and Hassan, two boys from different ethnicities and social status who lived in the same house. The former was the master, the latter was the servant. The story was told from Amir's point of view.

I like the way the author took his time to educate the readers about Afghanistan. There was a time when Afghanistan was fine, though the tensions and differences were always brewing there: the Sunni and the Shi'a, the Pashtuns and the Hazaras. This information was added bit by bit to bring the story forward. It was humorous at times, coupled with a childlike innocence, until it took a sharp turn right before Afghanistan changed. 

The second part was about Amir and his father escaping from Kabul to Peshawar in Pakistan. The next thing we knew was his time as a young man in the US. Not exactly exciting, but a bridge needed by the story before the final adventure back in Pakistan and Afghanistan. Yes, he could run away to America, but his past would eventually catch up with him. 

Then came the last part, the story about his long lost friend Hassan and Amir's encounter with the Taliban. Amir was on a mission that brought him back to Kabul. Lots of twists and turns here, some weren't expected at all. Last but not least, it closed all the loops and reminded us again, why the book was called the Kite Runner. 

PS: my friend Hendra Wijaya told me that there was a movie based on this book, so I immediately watched it after I finished reading. While the movie followed the storyline quite faithfully, it felt rushed and some parts were omitted. I'd say that the movie painted a better picture, but the book told a better story. Overall, highly recommended. 

The Kite Runner.



Ulasan Buku: Pengejar Layang-layang

Teman saya, yang tahun lalu ke Syria, akan pergi ke Afghanistan. Saat saya dikabari bahwa dia telah membeli tiket, saya jadi tergelitik untuk membaca tentang Afghanistan di Wikivoyage, situs favorit saya tentang bepergian ke manca negara. Di situ tertera daftar buku bacaan yang direkomendasikan, jadi saya pun mencari tahu apakah ada yang tersedia di perpustakaan. Buku ke-empat, sebuah novel berjudul Pengejar Layang-layang, berhasil ditemukan.

Saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa saat mulai membaca, tapi siapa sangka buku ini menarik sepertinya halnya Harry Potter? Bagian pertama adalah tentang persahabatan Amir dan Hassan, dua bocah yang berbeda etnis dan status sosial, namun tinggal di rumah yang sama. Amir adalah majikan, Hassan adalah pembantu. Ceritanya ditulis dari sudut pandang Amir. 

Saya suka gaya penulisan yang memperkenalkan budaya dan situasi Afghanistan pada pembaca lewat cerita. Afghanistan juga pernah menjadi negara yang damai, meski perbedaan itu selalu ada dan siap bergejolak: ada Islam Sunni dan Shi'a, ada etnis Pashtun dan Hazara. Semua informasi ini disisipkan sedikit demi sedikit. Ceritanya terkadang lucu dan polos, sampai semua itu sirna bersamaan dengan berubahnya Afghanistan. 

Bagian kedua berkisah tentang perjalanan hidup Amir dan ayahnya yang melarikan diri dari Kabul ke Peshawar di Pakistan. Kemudian dia pindah dan tumbuh dewasa di Amerika. Bagian ini agak datar, namun diperlukan untuk menjembatani cerita sebelum tokoh utama kembali ke Pakistan dan Afghanistan. Ya, dia bisa saja meninggalkan kehidupan sebelumnya dan hijrah ke Amerika, tapi masa lalu kembali mendatanginya.

Kemudian tibalah bagian terakhir yang kembali mengisahkan tentang Hassan. Selain itu Amir juga kembali ke Kabul yang kini dikuasai oleh Taliban. Banyak kejutan di sini dan beberapa di antaranya di luar dugaan. Di akhir cerita, semua alur dituntaskan dan pembaca pun diingatkan kembali, kenapa buku ini berjudul Pengejar Layang-layang. 

Catatan kaki: Teman saya Hendra Wijaya memberitahu bahwa ada film yang dibuat berdasarkan novel ini, jadi saya lekas menonton setelah menamatkan bukunya. Film keluaran tahun 2007 ini mengikuti alur di buku dengan cukup setia, tapi terasa tergesa-gesa dan beberapa bagian dihilangkan pula. Bila dibandingkan, film memang memberikan visual tentang cerita, tapi novel bisa bercerita dengan lebih baik. Direkomendasikan untuk membaca. 

Monday, July 15, 2024

Book Review: The McCartney Legacy: Volume 1

I read a similar book about the Beatles back in 2013. I remember it well because the book called Tune In by Mark Lewisohn was unusually thick (944 pages) and it covered only the first few years of the Beatles. It was all the more memorable because I was in Bangkok, reading the book in my room while taking care of my daughter who had high fever. Her mum was taking a day off, exploring the city with her siblings.

11 years later, I discovered the McCartney Legacy: Volume 1: 1969 - 73. The book had 720 pages, not as thick, but equally comprehensive. It began in 1969, starting from Get Back that eventually became Let It Be. It was quite in-depth, peppered with tiny details I never knew before. It was exciting, but the excitement lasted only until the Beatles disbanded. 

In 1970, John, Paul, George and Ringo went their separate ways. The book did well in revealing Paul's darkest days after the Beatles. It hit him the hardest, for he loved being a Beatle and yet he had to be the one to publicly quit the Beatles, much to John's chagrin. And it was quite an ordeal before he managed to pull himself up again, with a lot help from Linda. 

But then it got less interesting from here onwards. As I continued reading, I realized that I didn't really care much about Wings and its members. Yes, people like Denny Seiwell and Henry McCullough were talented, but they were pretty much Paul's sidekicks. To make it more obvious, the band was sometimes billed as Paul McCartney and Wings. As a comparison, back when he was a Beatle, Paul was simply one of the guys and the four of them were equally interesting.

So apart from learning the history of songs from post-Beatles era such as Maybe I'm Amazed, My Love and, of course, Live and Let Die, the best part of the book got to do with Paul's interaction with John, George and Ringo. The last bit that talked about Band on the Run and its recording sessions in Lagos was great, though.

Overall, I think the writers did a good job compiling the story. It's not their fault that most of it aren't that interesting, because as good as Wings were, the Beatles were a tough act to follow. It is just impossible to tell a good story right after the greatest story ever told. 





Ulasan Buku: The McCartney Legacy: Volume 1

Di tahun 2013, saya membaca buku serupa tentang the Beatles. Saya ingat betul karena buku berjudul Tune In karya Mark Lewisohn ini tergolong sangat tebal (944 halaman) dan hanya bercerita tentang beberapa tahun pertama karir the Beatles. Kenangan itu kian membekas karena saat itu saya membaca di kamar hotel sambil menjaga putri saya yang demam. Kala itu istri saya dan saudara-saudarinya berjalan-jalan menjelajah kota Bangkok. 

11 tahun kemudian, saya menemukan The McCartney Legacy: Volume 1: 1969 - 73. Buku ini setebal 720 halaman dan sangat detil pula. Kisahnya dimulai di tahun 1969, mulai dari Get Back yang akhirnya berubah menjadi Let It Be. Banyak cuplikan cerita yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, jadi buku ini seru di bagian awal sampai bubarnya the Beatles. 

Di tahun 1970, John, Paul, George dan Ringo berpisah. Buku ini lantas mengisahkan hari-hari Paul yang depresi setelah the Beatles usai. Dia sangat terpukul terutama karena dia senang menjadi seorang Beatle, tapi dia pula yang harus mengumumkan bahwa dia telah berhenti dari grup, satu hal yang membuat John jengkel. Dan hari-harinya terasa tidak berarti sampai akhirnya dia bangkit lagi dengan bantuan istrinya, Linda. 

Namun justru cerita menjadi kurang menarik setelah Paul memulai lagi dari awal. Semakin dibaca, semakin saya menyadari bahwa saya tidak peduli dengan Wings dan anggotanya. Ya, musisi seperti Denny Seiwell and Henry McCullough memang berbakat, tapi mereka lebih condong seperti pemeran pembantu. Dan kesan itu diperkuat dengan nama grup yang kadang disebut Paul McCartney dan Wings. Sebagai perbandingan, saat dia masih seorang Beatle, Paul cuma satu dari empat karakter yang sama-sama memiliki pesona dan daya tarik. 

Selain informasi tentang sejarah lagu-lagu setelah era the Beatles, misalnya Maybe I'm Amazed, My Love dan Live and Let Die, bagian yang juga cukup menarik adalah interaksi Paul dan John, George serta Ringo. Beberapa bab terakhir yang bercerita tentang Band on the Run dan sesi rekaman di Lagos juga seru untuk dibaca.

Secara keseluruhan, saya kira dua penulisnya sukses dalam merangkum cerita sedetil ini. Bukan salah mereka kalau sebagian ceritanya kurang menarik. Meski Wings populer di zamannya, tidak gampang bagi mereka untuk menandingi the Beatles yang fenomenal. Siapa pun pasti akan kesulitan melanjutkan cerita setelah kisah paling inspiratif yang pernah terjadi di tahun 60an.  

Monday, April 8, 2024

Book Review: Around The World In Eighty Days

I have heard of Jules Verne since I was a kid, probably from the Donald Duck comics that I read. Around the World in Eighty Days was not unheard of, too, but I never read it before. I watched the Jackie Chan's version recently and, for some reason, I couldn't get the name Passepartout out of my head, so I borrowed the book from the library

Now, first thing first, it's quite interesting to read a book written a couple of centuries ago. It's like traveling back in time to the world they knew, which could be quite different than ours now. As this is about traveling, some cities are immediately recognized while others, such as hamlet of Kholby, had to be googled. For someone who never travelled the world, Jules Verne's description of the cities was fascinating. I personally like the paragraph describing Singapore in those days. 

Character-wise, you won't find much depth, apart from the fact that Fogg and Passepartout were the typical British and French. But who needs much characterization when the story is about traveling the world? This is where it shines. For a book written in 19th century, it's still pretty much engaging for a modern-day reader. It certainly has nice, unexpected twists and turns. The ending was brilliant as well. 

I can only say that you can't use the whimsical, diluted Jackie Chan's version as a reference for the book. The stories are quite different and the book is much better. Go read Around the World in Eighty Days. It's a classic, but not in a boring way like Marco Polo's the Travels

PS: and it's inspiring, too. I am now toying with the idea of getting Hard Rock Cafe's t-shirts around the world in two weeks! The route is Singapore, Dubai, Tunis, Madrid, Santiago, Panama City, Los Angeles, Sydney, Singapore. It's possible, though crossing all timezones in such a short span may have unforseen repercussions, haha. We shall see!




Keliling Dunia Dalam 80 Hari

Saya sudah mengenal nama Jules Verne dari sejak kanak-kanak, mungkin dari majalah Donal Bebek yang saya baca. Keliling Dunia Dalam 80 Hari pun sering terdengar pula, tapi belum pernah saya baca. Baru-baru ini saya menonton versi Jackie Chan dan semenjak itu nama Passepartout sering terngiang dan saya ucapkan, jadi saya pun pinjam bukunya dari perpustakaan

Hal menarik pertama dari buku yang ditulis beberapa abad silam ini adalah pengalaman menembus waktu ke dunia Jules Verne yang berbeda dengan apa yang kita kenal sekarang. Karena buku ini intinya adalah tentang berkelana, beberapa nama kota masih sama dan yang lain, misalnya dusun Kholby, harus dicari di Google. Untuk orang yang tidak pernah keliling dunia, deskripsi Jules Verne memang mengagumkan. Saya sendiri suka dengan paragraf tentang Singapura di masa lampau. 

Tentang penokohan, Jules Verne tidak mengembangkan karakter tokoh-tokohnya secara mendalam. Kita cuma sebatas tahu bahwa Fogg dan Passepartout adalah tipikal orang Inggris dan Perancis. Namun karena ini adalah buku tentang petualangan, siapa juga yang peduli dengan karakter? Untuk buku yang ditulis di abad 19, ceritanya masih memiliki daya tarik. Alurnya penuh dengan kejutan. Akhir ceritanya pun bagus. 

Saya hanya bisa berkomentar bahwa anda tidak bisa menggunakan versi Jackie Chan yang konyol sebagai referensi. Buku dan film ini berbeda ceritanya dan karangan Jules Verne jelas lebih bagus. Baca saja Keliling Dunia Dalam 80 Hari. Sungguh sebuah karya klasik, tapi tidak membosankan seperti kisah petualangan Marco Polo

Catatan kaki: dan buku ini juga sangat menginspirasi. Saya jadi bermimpi untuk mengelilingi dunia membeli kaos Hard Rock dalam dua minggu. Rutenya adalah Singapura, Dubai, Tunis, Madrid, Santiago, Panama City, Los Angeles, Sydney, Singapura. Rute ini mungkin untuk ditempuh, tapi melewati semua garis waktu dalam tempo dua minggu mungkin memiliki dampak tak terduga. Kita lihat saja nanti, haha...

Thursday, November 30, 2023

Book Review: The Art Of War

I don't read much this year. Apart from my regular Time magazine, I only read one book so far: the Rape of Nanking. Now that I looked back, I was actually surprised that another book I picked up right after that also had its Chinese connection, haha.

It got to do with the chat I had recently. I mean, people used the phrase the art of war lightly, so often that it finally piqued my curiosity to find out what the book was all about. And no, I didn't go for the interpreted versions as I didn't wish to know about how people thought the book would be applicable in real life. I went for the second best instead: the book as it was written in Chinese by Sun Tzu, plus an English translation, as I can't read Chinese.

Upon reading it, the word prose came to mind. It was written eloquently, or at least that's what I gathered from the English translation. It explained actions and consequences, ie. B happened due to A, and left no room for arguments. 

The funny feeling I had was, what Sun Tzu wrote felt like something I already knew, but never thought of it that way before I read it. I'm not sure if I could convey it positively, but he was the master of stating the obvious! 

Sun Tzu's Art of War is a thin book, but not an easy reading. The book was as dry as a classic literature could be (my only other reference and comparison was the Travels by Marco Polo). And art of war was literally about war. But the way it was worded, it was so insightful that it could be about anything else in life. 

It's also a type of book that you should read again and again, because you'll get different inspirations under different circumstances. It's challenging to do so, though. I clearly can't do that. It's just not the type of book I'll revisit willingly. My key takeaways after the initial reading? It's okay to flee if it's a fight you can't win!





Ulasan Buku: Seni Perang Sun Tzu

Saya tidak membaca banyak buku tahun ini. Selain berlangganan dan membaca majalah Time, satu-satunya buku yang saya baca sejauh ini adalah the Rape of Nanking. Tak pernah saya sangka kalau buku berikutnya juga berkaitan dengan Cina, haha. 

Buku kali ini ada hubungannya dengan apa yang sering saya jumpai. Teman-teman begitu gampangnya mengutip nama Sun Tzu dan istilah art of war dalam percakapan di grup, sampai-sampai saya akhirnya tergerak untuk mencari tahu, apa sebenarnya isi buku ini. Dan saya tidak mencari versi tafsiran pengarang tentang buku ini. Saya tidak mau tahu tentang apa yang mereka pikirkan setelah membaca buku ini, jadi saya pun mencari pilihan terbaik yang kedua: buku yang isinya asli tulisan Sun Tzu dan dilengkapi dengan terjemahan bahasa Inggris karena saya tidak bisa membaca tulisan Cina. 

Saat membaca, kata prosa pun muncul di benak saya. Tulisannya terasa cerdas dan penuh arti, atau setidaknya itu yang saya rasakan dari terjemahan bahasa Inggrisnya. Sun Tzu menjelaskan tentang aksi dan konsekuensi dari hukum sebab akibat. Penjelasannya tepat sasaran dan tidak memberikan ruang untuk bantahan. 

Ada satu perasaan lucu yang agak sukar untuk dijabarkan saat membaca buku ini. Entah kenapa rasanya apa yang disampaikan Sun Tzu bukanlah sesuatu yang tidak saya ketahui, namun terus-terang saya tidak berpikir sampai ke situ sebelum saya membacanya. Sun Tzu sungguh seorang pakar pernyataan yang tidak terbantahkan. 

Karangan Sun Tzu ini tipis bukunya, tapi tidak gampang untuk dibaca. Buku ini adalah sebuah literatur dan agak membosankan (mirip seperti the Travels yang ditulis oleh Marco Polo, satu-satunya referensi saya tentang buku yang ditulis ratusan tahun silam). Dan Seni Berperang ini memang tentang perang, tapi cara penulisannya membuat ide Sun Tzu bisa ditafsirkan ke dalam berbagai aspek kehidupan. 

Selain itu, buku ini juga merupakan tipe yang seharusnya dibaca berulang kali, sebab anda akan mendapatkan inspirasi yang berbeda ketika menghadapi masalah yang berbeda. Namun sulit untuk melakukan hal tersebut karena saya tidak berminat. Buku ini tidak termasuk kategori yang ingin saya baca ulang. Jadi apa yang saya petik dari buku ini? Kita harus kabur kalau ini bukanlah perang yang bisa kita menangkan! 


Saturday, April 15, 2023

Book Review: The Rape Of Nanking

I can't remember when I first heard of the Nanjing Massacre, but it felt like I had known about it for the longest time. Must have read it on Wikipedia years ago. The Memorial Hall in Nanjing was one of the best museums I ever visited. Right at the end of the gallery, I saw the words from survivor Li Xiuying hanging on the wall: remember history, but not with hatred. Not only it summed up what the museum was all about, but it was also a powerful reminder, one that I still vividly remember today. 

Fast forward to five years later, I happened to read about the Nanjing Massacre again on Time magazine recently. It somehow brought me back the time when I passed by the statue of Iris Chang as I exited the museum. She died young, tragically killed herself as he was suffering from depression. For those who never heard of her, Iris was the author of a book called the Rape of Nanking. And this is how I ended up borrowing the book from the library.

The Rape of Nanking.

Now, throughout the years, I had heard about how influential the book was. But none of this prepared me for what I was about to read. It was fast-paced and structured. Informative and disturbing at times due to the graphic description of the events. 

It opened with historical moments in Japan that preceded the war. Once the prelude ended, it was like sitting on the front seat to watch how the Japanese troops made their way to Nanjing. A killing spree that happened next left not much to imagination. The choice of words used to describe the atrocities were beyond what I had ever read before! 

It was one hell of a massacre, all right. But amidst the chaos and brutality, hope lingered and kindness did shine. Then came the aftermath and the story finally drew to a close as it examined the attempts to cover up and erase the event from history. 

The whirlwind of information ended as fast as it came. Iris' storytelling style was as smooth as it could be. If not for its content, I would have called it an easy reading. But it isn't and it's never meant to be one. It is supposed to be a reminder, that no matter how bleak or shameful it was, the massacre did happen. Just like the slogan in the museum said, "bear history in mind, cherish peace."

When we visited the museum in Nanjing.

But history aside, what's the key takeaway for me? All this while, I couldn't reconcile the two contradicting facts about the wartime Japanese troops' cruelty and the politeness of Japanese people when I visited the country. This book finally gave me the answer.

Almost a hundred years ago, the Japanese soldiers believed the emperor was divine and they lived solely to serve the emperor. If they themselves were worthless, then the Chinese were just a bunch of pigs that they could slaughter without blinking. That's the danger of a doctrine gone wrong. As I lived through the '98 riots and ethnic violence of Dayak-Madura, it's a plausible explanation that I can accept. 



 Ulasan Buku: Pemerkosaan Nanking

Saya tidak ingat lagi kapan pertama kalinya saya mendengar tentang Pembantaian Nanjing, tapi rasanya saya sudah lama tahu akan hal ini. Mungkin saya baca di Wikipedia bertahun-tahun silam. Memorial Hall di Nanjing boleh dikatakan sebagai salah satu museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Di akhir galeri, saya melihat kata-kata dari Li Xiuying, korban yang selamat dari pembantaian: ingat sejarah, tapi tidak dengan dendam. Ucapannya itu menyimpulkan museum tersebut dengan baik dan juga menjadi nasehat yang selalu saya ingat hingga hari ini. 

Lima tahun setelah kunjungan ke Nanjing, saya kebetulan membaca lagi kisahnya di majalah Time. Saya jadi terkenang dengan saat saya melewati patung Iris Chang saat saya keluar dari museum. Dia meninggal muda, bunuh diri karena depresi. Bagi yang tidak tahu siapa dia, Iris adalah pengarang buku the Rape of Nanking. Saya lantas meminjam buku karangannya dari perpustakaan

Permerkosaan Nanking, karya Iris Chang.

Nah, sebelum ini, saya sudah sering dengar tentang pentingnya buku ini. Namun apa yang saya ketahui tidak membuat saya siap dengan apa yang saya baca. Cepat dan terstruktur, deskripsi di buku ini juga sangat detil dan mengerikan. 

Tulisan Iris dibuka dengan sejarah di Jepang sebelum perang dimulai. Setelah itu, pembaca bagaikan duduk di kursi depan dan menyaksikan langsung bagaimana tentara Jepang menyerbu ke Nanjing. Pembantaian yang terjadi dijabarkan dengan detil, sampai-sampai tidak sulit untuk membayangkannya lagi. Kata-kata yang dipakai untuk melukiskan kekejaman Jepang benar-benar berbeda dengan kalimat dari buku-buku yang biasa saya baca.

Di tengah kebrutalan Jepang yang menimbulkan kekacauan, masih tersisa harapan dan kebaikan dari orang-orang asing yang bertahan di Nanjing dan mendirikan suaka untuk membantu dan melindungi orang Cina. Kemudian perang usai dan cerita pun diakhiri dengan pengamatan terhadap upaya menghilangkan jejak kekejaman ini dari catatan sejarah. 

Gaya Iris dalam bercerita tergolong enak untuk dibaca, meski berat dan bertubi-tubi informasinya. Kalau bukan karena topiknya, saya bisa menyebutnya sebagai bacaan santai. Akan tetapi buku ini lebih merupakan rangkuman catatan dan peringatan bahwa tidak peduli seberapa kelamnya sejarah, pembantaian ini pernah terjadi. Ini sejalan dengan slogan di museum, "ingatlah sejarah, hargai perdamaian." 

Ketika kita berkunjung ke museum di Nanjing.

Di samping sejarah, apalagi yang saya dapatkan dari buku ini? Selama ini, saya selalu sulit membayangkan kenapa laskar Jepang di zaman perang sungguh kejam sementara keramahan orang Jepang saat saya datang sebagai turis sama sekali tidak tertandingi? Buku ini akhirnya menjawab pertanyaan saya. 

Hampir 100 tahun silam, tentara Jepang percaya bahwa kaisar adalah titisan dewa dan mereka hidup untuk melayani kaisar. Jika nyawa mereka sendiri tidak berharga, maka orang-orang Cina lebih rendah lagi martabatnya, hanya sekumpulan babi yang patut dijagal. Inilah bahaya dari doktrin yang keliru. Karena saya pernah melewati Kerusuhan '98 dan perang etnis Dayak-Madura, saya bisa menerima penjelasan ini. 

Sunday, August 14, 2022

Book Review: Zhuan Falun

I would categorise myself as an avid reader. There were times when I happened to read something unusual such as Hotel K and I still ended up finishing it at my regular reading speed, which was about a month per book. But for the first time ever in God knows how long, I actually struggled reading a book that it took me seven months to finish it. I put three new books from my favorite author aside because of this one!

I didn't really follow how this topic came about, but when I joined the conversation in our chat group, they were already talking about the controversial book. My friend Jimmy insisted that it was a good book and he challenged everyone to read it instead of just making comments based on what they might have heard. When I said I would read it, he imposed on me the condition that the book had to be read at least twice. I shot back that he must watch the eight-hour Beatles Anthology series twice as well.

Thus began the deal. The book was easily obtained from amazon.com. Once I got it, I immediately understood why he said many people he knew had had given up after few pages. The book was indeed controversial that it challenged the belief system one might have known his or her entire life. As an example, I had a Catholic background and I believed in Christianity. When we had the introduction of Buddhism during one of my talkshow sessions, I found myself subconsciously resisting what I heard.

This book was much more provoking than that, so the immediate response I had in mind was, "what an utter nonsense!" But we had a deal, so I took the empty glass approach. I knew nothing about this book, but I didn't need to judge it. I'd just read it and see what it was about. Once I adopted this mindset, the experience was not as revolting as before. But still it wasn't a pleasant reading experience. It was not engaging and it tended to be boring at times.

The author was Master Li. Throughout the book, he explained his version of qigong. I often associated this to a slow-moving exercise done by a bunch of old people in the park. Alternatively, I'd think of Jet Li doing some fancy moves in his movies. At the vaguest level, I seem to recall that it was practiced for healing purpose. But according to Master Li, this was a low level understanding of qigong.

His ultimate version of qigong was a very complex stuff involving karma, third eye and many Chinese jargons. Oh yes, he said stuff like de (the good substance), gong (the energy) fashen (the protective aura) and many more. These words were not translated in English that after a while, I just couldn't recall what they actually meant. It just reminded me of the word smurf, which could mean anything.

He then brought it up a notch by referencing heavily on Buddhism, Taoism and Chinese history. He talked about the enlightenment of Shakyamuni, which was all right. But then there were stuff like each Buddha owning one heaven, which meant there were multitudes of heavens. He also told the story about how he defeated the snake demon from Ming Dynasty. On one of the chapters, he talked about the same soul that lived in multiple dimensions and affected one another. Reading all this, I couldn't help thinking of Marvel's multiverse, starring Dr. Strange.

I mentioned earlier that I struggled reading the book. It was this mind-boggling part that deterred me from reading it. Certain parts of his preaching that reminded us not to show off and be righteous, they were fine. But most of the parts, such as the explaining he was the only who could install the wheel of Falun into somebody, were beyond my comprehension. I'm an IT guy and my idea of installation involved the next and install buttons.

It was a relief when I finished reading the book. I wanted to say that it was seven month of my life that I wouldn't get back, but I couldn't. If anything, it had been an unusual journey. Not life-changing like the Beatles, but it was definitely a glimpse of how astonishing that people would actually subscribe to this. But then again, perhaps the same would be said by the non-believers. 

As for our deal, I am quite certain that I'm not going to read it twice. It was, to put mildly, an exhausting experience. I'd like to resume those new books by Sinead Moriarty that I was supposed to read. And talk about the Beatles Anthology, Jimmy didn't watch it. He simply said that I didn't send him the DVD box set. Oh, but I will. Just wait for it! 

Zhuan Falun and the Beatles Anthology.



Ulasan Buku: Zhuan Falun

Saya cenderung berpendapat bahwa saya ini bisa dikatakan tergolong kutu buku. Bahkan di saat membaca buku dengan topik yang bukan pilihan saya pun, misalnya Hotel K, masih juga saya lahap dengan kecepatan membaca yang sama, kira-kira sebulan per buku. Tapi untuk pertama kalinya entah sejak kapan, saya berjuang keras dalam tujuh bulan terakhir untuk menyelesaikan satu buku. Bahkan tiga buku terbaru karangan penulis favorit saya jadi tertunda untuk dibaca karena buku yang satu ini. 

Saya tidak ingat bagaimana asal mula topik ini, namun ketika saya bergabung dalam percakapan yang sedang berlangsung di grup SMA, teman-teman sudah berbicara tentang buku yang kontroversial ini. Teman saya Jimmy bersikeras bahwa ini adalah buku yang bagus dan dia menantang yang lain untuk membaca dulu sebelum berkomentar panjang-lebar hanya karena apa yang mereka dengar. Ketika saya berkata bahwa saya akan membacanya, dia menekankan bahwa saya harus membacanya dua kali. Saya lantas berujar, kalau begitu dia juga harus menonton serial the Beatles Anthology yang berdurasi delapan jam sebanyak dua kali. 

Terjadilah perjanjian baca-nonton ini. Buku ini kemudian saya dapatkan dari amazon.com. Begitu saya terima dan baca, saya langsung menyadari kenapa Jimmy berkata bahwa banyak kenalannya yang menyerah setelah membaca beberapa halaman pertama. Buku ini sungguh kontroversial dalam arti bertolak-belakang dengan apa yang mungkin telah dipercaya pembaca sepanjang hidupnya. Sebagai contoh, saya dibesarkan di lingkungan dan pendidikan Katolik dan saya juga percaya Kristen. Ketika seorang teman berbagi cerita tentang pengenalan agama Budha di acara obrolan santai yang saya selenggarakan, terus-terang saya juga tanpa sadar merasa sulit untuk percaya dengan pemaparannya. 

Dan buku ini jauh lebih provokatif. Apa yang langsung terpikir di benak saya adalah, "omong kosong macam apa ini." Tapi karena kita sudah berjanji, saya lantas menggunakan pendekatan cangkir kosong. Saya beranggapan bahwa saya tidak tahu apa-apa dan saya tidak perlu menghakimi apa yang ditulis di buku. Saya hanya perlu membaca dan mencari tahu, tentang apa buku ini sebenarnya. Begitu saya mengadopsi pemikiran ini, pengalaman membaca buku Zhuan Falun tidak lagi seburuk sebelumnya. Ya, memang masih tidak menyenangkan seperti buku lain yang biasa saya baca, tapi ini cenderung karena terasa membosankan.  

Penulis buku ini adalah Master Li. Lewat buku ini, dia memaparkan tentang qigong menurut versinya. Selama ini saya sering berpikir bahwa qigong ini olahraga pelan yang sering diperagakan sekumpulan orang tua di taman. Selain itu, hal yang sama juga mengingatkan saya tentang film Jet Li. Dan kalau saya tidak salah ingat, sepertinya pernah saya baca bahwa qigong ini semacam pengobatan tradisional yang menyembuhkan. Akan tetapi menurut Master Li, semua itu adalah pemahaman tingkat rendah tentang qigong

Versi qigong menurut Master Li sangatlah kompleks dan melibatkan karma, mata ketiga serta banyak istilah Mandarin. Oh ya, dia menggunakan kata-kata seperti de (substansi baik), gong (energi) fashen (aura pelindung) dan masih banyak lagi. Kata-kata ini, terutama yang jarang muncul, cenderung tak diingat artinya ketika muncul lagi bab berikutnya. Saya justru jadi teringat tentang kata smurf yang bisa berarti apa saja, tergantung kalimatnya.

Master Li kemudian membahas lebih dalam lagi dengan menggunakan banyak referensi Budhisme, Taoisme dan sejarah Cina. Dia berbicara tentang pencerahan yang dialami oleh Sakyamuni dan sampai sejauh ini masih bisa saya terima. Tapi dia kemudian membahas tentang satu Budha memiliki satu surga dan potensi keberadaan begitu banyak surga. Dia juga bercerita tentang bagaimana dia akhirnya memusnahkan siluman ular yang telah hidup dari sejak zaman Dinasti Ming. Di bab lainnya, dia berkisah tentang jiwa manusia yang hidup di berbagai dimensi dan mempengaruhi satu sama lain. Yang terbayang setelah membaca semua itu adalah kisah multiverse yang baru-baru ini muncul di film Marvel dan menampilkan Dr. Strange. 

Saya sampaikan di awal cerita bahwa saya berjuang untuk membaca buku ini. Adalah hal-hal yang mencengangkan di atas yang membuat saya enggan membaca lebih lanjut. Bagian di mana dia menasehati pembaca untuk tidak pamer dan bijak dalam menyikapi hidup adalah sesuatu yang bisa dicerna. Namun lebih banyak hal-hal yang sulit saya pahami, misalnya hanya dia yang bisa melakukan instalasi roda Falun ke tubuh seseorang. Bagi saya yang berprofesi di bidang IT, instalasi bisa dilakukan siapa saja dan hanya melibatkan tombol next dan install

Ada rasa lega setelah usai membaca. Ada pula niat untuk berkata bahwa tujuh bulan ini terbuang sia-sia, tapi sejujurnya tidak begitu. Ini adalah sebuah pengalaman yang unik. Tidak mengubah hidup saya seperti halnya the Beatles, tapi cukup memberikan gambaran tentang kenapa ada saja orang yang bisa percaya hal seperti ini. Di satu sisi, saya jadi berpikir bahwa hal yang sama pun bisa dikatakan oleh mereka yang tidak percaya dengan Yesus. 

Mengenai perjanjian kita di atas, saya tidak melihat kemungkinan bahwa saya akan membaca buku ini lagi untuk kedua kalinya. Bila saya simpulkan, membaca buku ini adalah sebuah pengalaman yang melelahkan. Lebih baik saya lanjut membaca tiga buku karangan Sinead Moriarty yang sudah saya beli. Dan, hei, bicara tentang the Beatles, Jimmy tidak menonton dokumenternya. Alasannya karena saya tidak mengirimkan DVD the Beatles kepadanya. Oh, kalau begitu akan saya kirimkan. Tunggu saja!

Thursday, January 13, 2022

Book Review: Renegades - Born In The USA

I'm always a fan of Obama. Like the way he speaks. Smart, funny and eloquent. His life story was interesting, too. Read one from the time before he became a president and another that told about his presidency. Both were great books, so naturally, when I saw one about him and Bruce Springsteen, I was interested.

I'm also a big fan of music, but for some strange reason, I never listened to Springsteen apart from few snippets such as two verses he sang in We Are the World and a song called Streets of Philadelphia. I knew he was the Boss, but that was pretty much it. Hence I was wondering how he and Obama could come up with this book. What brought them together?

Out of curiosity, I checked out the library and got the book. It turned out to be a coffee-table book, large and lavishly illustrated. The content was originally a podcast series that was turned into a book. After reading the first few pages, it was obvious that they came together because of one vision: America.

Yes, this book was very... American. It gave you an idea of how it was like to be an American. It gave you an idea of what it meant for the two of them to be Americans. Bruce supported Obama during his campaign and they gradually became friends simply because they believed in the same America.

Born in the USA, as Bruce put it. But reading this as a non-American, I couldn't help feeling that the topic wasn't very engaging. There were things that I couldn't comprehend and after a while, I grew tired of it. As a result, this was one the few books that I glanced through instead of properly reading it. I paid attention only to certain topics, like the parts where Bruce talked about performing with a Beatle (George Harrison) and a Rolling Stone (Mick Jagger) by his sides. It was an achievement for a boy from New Jersey!

Can't say I learnt much about Obama from this book, but I certainly picked up a thing or two about Bruce. No, I'm still not a fan of his songs, but I'm quite impressed with his lifelong friendship with Clarence Clemons. That was probably the most inspiring story about America from the book. Other than that and those nice photos, it was not a great Obama book...

The book and the podcast on Spotify.



Ulasan Buku: Renegades - Born In The USA

Saya selalu menggemari Obama. Saya suka caranya berbicara. Begitu pintar, lucu dan fasih sehingga enak didengar. Kisah hidupnya pun tak kalah menarik. Saya baca buku-bukunya, mulai dari sebelum dia menjabat sampai kisah kepresidenannya. Dua buku yang bagus, maka dari itu saya jadi ingin baca saat melihat buku baru yang menampilkan Obama dan Bruce Springsteen. 

Saya juga suka musik, tapi selama ini tidak pernah benar-benar mendengarkan karya Bruce. Yang pernah saya dengar cuma suara Bruce di We Are the World dan lagu berjudul Streets of Philadelphia. Saya tahu julukannya adalah the Boss, tapi cuma sebatas itu yang bisa saya ceritakan. Oleh karena itu saya jadi penasaran, kenapa dia dan Obama bisa muncul di buku yang sama.

Saya lantas mencari bukunya di perpustakaan. Ternyata bukunya jenis coffee-table book yang berukuran besar dan memiliki banyak gambar. Isi buku ini adalah percakapan yang ditayangkan sebagai podcast, kemudian dibukukan. Setelah beberapa halaman, saya menyadari bahwa mereka bisa berbincang karena visi yang sama tentang Amerika. 

Ya, buku ini sangat bernuansa Amerika. Buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana rasanya menjadi orang Amerika. Buku ini juga bercerita tentang apa yang Bruce dan Obama rasakan sebagai orang Amerika. Akan halnya kenapa mereka bisa muncul bersama, ini karena Bruce mendukung Obama di masa kampanye dan mereka akhirnya menjadi teman karena persamaan visi tentang Amerika.

Born in the USA, demikian judul lagu Bruce. Tapi sebagai pembaca yang bukan warga Amerika, saya merasa topik ini kurang mengena. Ada hal-hal yang tidak saya pahami dari cerita mereka, sebab saya bukan orang Amerika, dan akibatnya buku ini terasa agak membosankan. Alhasil buku ini menjadi satu dari sedikit buku yang hanya saya baca selintas dengan cepat. Saya hanya serius membaca di bagian tertentu, misalnya saat Bruce bercerita tentang pengalamannya tampil bersama seorang Beatle (George Harrison) dan seorang Rolling Stone (Mick Jagger) di sampingnya. Ini adalah sebuah prestasi bagi pemuda dari New Jersey!

Tidak banyak yang saya dapatkan tentang Obama dari buku ini, tapi ada satu-dua hal yang saya pelajari tentang Springsteen. Saya masih tidak menyukai lagu-lagunya, tapi saya terkesan dengan persahabatannya dengan Clarence Clemons. Bisa jadi persahabatan mereka ini adalah cerita yang paling memberikan inspirasi tentang Amerika. Di luar kisah ini dan foto-foto yang bagus, saya merasa bahwa ini bukanlah buku Obama yang menarik...

Monday, December 20, 2021

Book Review: Journey To The West

While it's true that Pontianak is a small town that only had its first KFC outlet in year 2000 (and it still doesn't have McDonald's today), I'd say it was lively enough for us to grow up there in the 80s. When I compared notes, it turned out that our childhood was comparable with friends that grew up in Singapore. In my case, even though I was from Pontianak, I probably watched, read and played more than my fellow Singaporeans.

One of the things we had back then was something called parabolic antenna. Installed on a roof, it enabled us to receive overseas TV channels from Malaysia to China. Every night, I'd be sitting in front of TV with my mother to watch Journey to the West. It was in Chinese and I didn't understand the language, but it was still a fascinating show for a boy who was born in the year of the Monkey.

Around the same time, I also read the comics books in Bahasa Indonesia. The format was unusual, therefore memorable. It had two pictures per page and one paragraph of narration under each picture. Back in the days before Tiger Wong and the available comics were only DC, Marvel or European stuff such as Asterix and Tintin, this one became my earliest exposure of Chinese cultures. 

In a way, I guess you can't be Chinese without knowing about Journey to the West at all. It was featured so prominently throughout the years in every phase of my life, be it on TV, comics (most notable was the first arc of Dragon Ball) or films. Even Stephen Chow had two spoofs or more about the Monkey King. When I saw the English version of the novel at the book shop, I was so curious I simply couldn't help searching for it at the library.

Now that I'm in my forties, I had a better understanding about Chinese cultures, including the historical journey of Xuanzang to India. Re-reading the book again, albeit the abridged version, gave me a rather interesting insight about this classic. This was indeed a brilliant novel!

It was basically a three-part story which began with the birth of Monkey. It quickly established how powerful he was, culminating with the Monkey wrecking havoc in heaven and it ended with his downfall. The second part was the journey to the west that started 500 years later. While each chapter wasn't the same, I couldn't help feeling that was rather formulaic. You could see the pattern in each story, i.e. Xuanzang was captured and Wukong would save him either by defeating the demons or seeking assistance from the deities. The last part was about the time they reached India.

It was an easy reading and the first part was the most interesting one. The translation was as good as it could be, though it would help if it used the pinyin for names of the deities instead. For example, it took me quite some time to figure out that the Divine Kinsman was actually Erlang Shen, haha. The storytelling was smart, emphasized by the excellent choice of words used here, especially the poetry. The interaction among disciples, particularly Wukong and Bajie, were the source of amusement. 

It was also interesting to learn how Taoism, Buddhism and, to a certain extent, Confucianism coexisted and were incorporated into the story. It was through the reading of this book that I first realized all the gods from Jade Emperor to Nezha were actually from Taoism, which was native to China. This is why journey to the west happened: because they wanted to obtain the real teachings of Buddha in India.

Overall, it was a fun reading. As I read on, suddenly the scenes that I watched in the past kept flashing back. I remember when Wukong tried to jump out of Buddha's palm, the time he was defeated by Hong Hai-er, the turtle that shook them off while they crossed the river and many more. Good times! 

Journey to the West.



Ulasan Buku: Perjalanan Ke Barat

Pontianak mungkin hanyalah sebuah kota kecil, yang sedemikian kecilnya sehingga baru memiliki KFC di tahun 2000 (dan sampai hari ini pun belum ada McDonald's), tapi saya rasa tetap saja memiliki cukup banyak hiburan bagi generasi yang tumbuh di tahun 80an. Ketika saya mencari tahu tentang masa kecil teman-teman di Singapura, ternyata apa yang saya lewati cukup sebanding dengan pengalaman mereka. Bahkan boleh dikatakan kalau sebenarnya saya lebih banyak menonton, membaca dan bermain game bila dibandingkan dengan mereka yang berada di Singapura. 

Salah satu keunggulan kita yang tinggal di Pontianak pada saat itu adalah antena parabola. Antena yang dipasang di atap rumah ini memungkinkan kita untuk menangkap siaran dari Malaysia sampai Cina. Setiap malam, saya akan duduk di depan TV bersama ibu saya untuk menonton Perjalanan ke Barat. Film seri ini ditayangkan dalam Bahasa Mandarin. Walaupun saya tidak mengerti, tontonan ini tetap saja menarik bagi anak yang lahir di tahun monyet. 

Di saat yang sama, saya juga membaca komiknya yang berbahasa Indonesia. Formatnya tidak begitu lazim, karena itu saya ingat betul. Komik ini memiliki dua gambar per halaman dan setiap gambar memiliki narasi satu paragraf. Jauh sebelum Tiger Wong, di zaman yang hanya memiliki komik DC, Marvel dan bacaan dari Eropa seperti Asterix dan Tintin, komik Perjalanan ke Barat ini mengenalkan saya pada budaya Cina. 

Saya rasa boleh dikatakan bahwa tidak mungkin bagi orang keturunan Cina untuk sama sekali tidak mengetahui tentang kisah Perjalanan ke Barat. Dalam setiap jenjang kehidupan saya, cerita ini senantiasa terdengar, baik dalam bentuk film seri di TV, komik (dan yang paling terasa kemiripannya waktu itu adalah kisah pertama Dragon Ball) serta film-film bioskop yang dibintangi oleh Stephen Chow. Sewaktu saya melihat buku dalam versi bahasa Inggris baru-baru ini, saya jadi tergelitik untuk mencari bukunya di perpustakaan.

Sekarang, di usia 40an, saya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang budaya Cina, termasuk sejarah petualangan Xuanzang ke India. Setelah membaca kembali buku ini, meskipun hanya versi ringkasnya, saya bisa merasakan betapa buku ini sebuah karya klasik. 

Berdasarkan alur cerita, sebenarnya kisah ini bisa dibagi tiga. Bagian pertama adalah tentang lahirnya Kera Sakti dan petualangannya yang mengguncang langit dan surga. Sepak-terjang Wukong akhirnya dihentikan oleh Budha dan dia dihukum 500 tahun lamanya. Setelah Wukong dibebaskan oleh Xuanzang, bagian kedua yang mengisahkan perjalanan ke India yang pun dimulai. Setiap bab memang berbeda isinya, tapi ada kesan bahwa ceritanya ditulis berdasarkan pola yang sama. Pokoknya Xuanzang selalu ditangkap dan Wukong akan menolongnya, baik dengan cara membasmi siluman ataupun meminta bantuan dewa-dewi. Bagian terakhir adalah tentang perjumpaan dengan Budha di India. 

Kisah Perjalanan ke Barat ini gampang dibaca dan saya rasa bagian pertama adalah yang paling lucu dan heboh. Terjemahan bahasa Inggrisnya pun bagus dan akan lebih baik lagi kalau penerjemah menggunakan nama asli dewa-dewi yang diceritakan. Sebagai contoh, saya harus mencari cukup lama di internet untuk menemukan bahwa Divine Kinsman itu sebenarnya Erlang Shen, haha. Gaya bahasanya bagus, terutama karena penggunaan kata-kata yang cocok di bagian puisi.

Yang tidak kalah menariknya adalah cerita tentang Taoisme, Budhisme dan Konfusianisme. Lewat buku ini, saya baru diingatkan kembali bahwa banyak dewa-dewi, misalnya Raja Langit dan Nezha, adalah bagian dari ajaran Taoisme yang berasal dari Cina. Inilah alasannya kenapa Perjalanan ke Barat terjadi: karena Xuanzang ditugaskan untuk mengambil kitab suci Budha di India.

Secara keseluruhan, ini adalah bacaan yang santai dan lucu. Saat membaca, saya pun teringat lagi dengan berbagai adegan yang pernah saya tonton sebelumnya. Saya jadi ingat dengan adegan saat Wukong melompat dari tapak Budha, saat dia dikalahkan oleh Hong Hai-er, tentang kura-kura yang marah dan membuat kitab basah di sungai dan masih banyak lagi. Pokoknya berkesan!