Total Pageviews

Translate

Monday, August 10, 2020

Life Begins At 40

When I thought about turning 40, funny that the first thing that came to mind was my hero, John Lennon. He wrote the song called Life Begins at 40, which was quite an irony, because he died less than two months after his 40th birthday. On that fateful night, he was supposed to have a dinner somewhere, but he wanted to go home and wish his son goodnight. He never made it. 

No, I'm not saying that I had some premonition or something. I just couldn't help thinking about how the perspective had changed. When I was 10, I thought I was a big boy. When I had my 20th birthday, I was excited about the future. When I turned 30, I enjoyed the freedom I had as a man. But being 40 was like things drawing to a close. If life is a journey, then I am half way there. Or may be 3/4. I don't know. But I was neither pessimistic or sad. Knowing that some of my friends never made it this far, I treasured the blessings.

But the truth is I was a little bit scared. No, not for myself, but more for my family. When I saw how soundly my daughters slept, I felt relieved that I had done a decent job in providing them home. The question now is, what if I let them down? Being a sole breadwinner could be scary that way. However, I guess a man could only do and worry so much.The Lord giveth and the Lord taketh away. I just had to have faith that it'd be alright.

Other than that, it's good to be older. If I had to count my blessings, I had achieved quite a lot in the past 40 years. You might have heard some of those and I didn't wish to reminisce about them this round, but I'd like to mention a single greatest thing that ever happened to me: my wife. She is my inspiration and the reason why I am a better man than before. While I never said this before, I'm actually amazed that she could tolerate all my nonsense. Perhaps she saw something in me that I myself never realized. I tell you what, I'll write the story about her so that you know how great a woman she is.

So there you go, my greatest fear and blessing. Now that I had these two written down and really looked at them, I felt so much better knowing that the good outweighed the bad. What would my 40s bring? My wish today? There are two. Looking back, I felt like I was an immature selfish bastard in my 30s. I want to spend more quality time with my family. Secondly, on a more personal level, I want to travel again!

First photo at the age of 40.


Hidup Bermula Di Usia Ke-40

Ketika saya menjelang umur 40, sosok yang pertama muncul di benak saya adalah pahlawan saya John Lennon. Dia menulis lagu berjudul Life Begins at 40 yang artinya hidup bermula di usia ke-40, suatu hal yang ironis mengingat dia meninggal kurang dari dua bulan setelah ulang tahunnya yang ke-40. Di malam itu, dia seharusnya makan malam di tempat lain, tapi dia ingin pulang dan mengucapkan selamat malam kepada anaknya sebelum sang anak tidur. Keinginan John tidak pernah tercapai karena dia ditembak di depan gerbang rumahnya.

Tidak, saya tidak berkata bahwa saya memiliki firasat buruk atau apa. Saya hanya merasa bahwa pandangan hidup itu berubah. Ketika saya berumur 10 tahun, saya merasa seolah-olah sudah bagaikan orang dewasa. Di usia 20, saya sangat bersemangat menyongsong masa depan. Ketika saya mencapai umur 30, saya menikmati kebebasan hidup sebagai bujangan yang tidak kekurangan apa pun. Akan tetapi umur 40 itu seperti awal dari akhir. Jika hidup adalah petualangan, maka saya sudah setengah jalan. Atau mungkin 3/4. Saya tidak tahu pasti. Namun saya tidak pesimis atau sedih. Saya sadar bahwa beberapa teman saya sudah berpulang dan tidak pernah sampai sejauh ini, jadi saya teramat sangat menghargai berkah hidup ini. 

Tapi saya tidak menyangkal kalau saya merasa takut. Ketakutan ini lebih cenderung ke nasib keluarga. Ketika saya melihat betapa lelapnya dua putri saya dalam tidur, saya merasa lega bahwa saya sudah cukup berhasil dalam menyediakan mereka rumah dan kehidupan yang layak. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika saya mengecewakan mereka? Menjadi satu-satunya orang yang menafkahi keluarga adalah suatu hal yang cukup menggetarkan nyali. Kendati begitu, seorang pria hanya bisa berusaha dan merasa khawatir sampai batas tertentu. Apa yang diberikan oleh Tuhan mungkin akan diambil juga oleh-Nya. Pada akhirnya saya hanya bisa beriman dan berserah bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

Selain satu hal yang saya cemaskan di atas, bertambahnya usia adalah perkara yang bagus. Jika saya melihat kembali berkat yang saya terima, saya sudah mencapai banyak hal dalam 40 tahun terakhir ini. Anda mungkin sudah pernah membaca beberapa cerita saya tentang hal ini dan saya tidak ingin mengulangnya. Di kesempatan ini, saya hanya ingin menyebutkan satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam diri saya: istri saya. Dia adalah inspirasi dan alasan kenapa saya menjadi pria yang lebih baik. Saya mungkin tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya, tapi terkadang saya kagum dengan toleransinya terhadap kekonyolan saya. Mungkin dia melihat sesuatu dalam diri saya yang saya sendiri tidak pernah sadari. Ya, dia wanita yang luar biasa. Mungkin saya harus menulis tentang dirinya supaya anda tahu. 

Dua hal ini adalah ketakutan dan berkat terbesar saya. Sekarang, setelah ditulis dan ditelaah, saya merasa lebih tenang karena hal yang baik lebih dominan daripada yang buruk. Apa yang akan terjadi di usia 40an? Harapan saya di hari ulang tahun ini ada dua. Kalau saya lihat kembali, saya mungkin lebih sibuk sendiri di usia 30an. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga sekarang. Kedua, dan yang ini lebih bersifat pribadi, saya ingin segera bisa berlibur lagi! 

Saturday, August 8, 2020

Book Review: Rogue Trader

I joined the world of Futures and Options in February 2007. By then, the age of open outcry was basically over. I never went to the trading floor at SGX. It was a different time and traders started using GL Trade. But I often heard about the romance of bygone era and I got fascinated by the crazy time when people made tons of money by busy shouting and frantically doing hand signals. 

With all sorts of characters moving the market up and down, legends were born. One of them was Nick Leeson and the story of a rogue trader. You know the saying, bring down the house? He literally did that by bringing down the house of Barings. That's how big a deal Nick was. 

What's more interesting was the fact that it happened in Singapore. The rules and regulations are so tight now it's hard to believe that such an incident could happen here. I've been reading regularly again since the time of Corona, devouring random books such as the story about an Indian who cycled to Europe and the Harry Potter series, so I eventually picked up this one, too. 

The book wasted no time and jumped right into Nick's last day at SIMEX (this was where Futures were traded back then). From there, the story went back to his early days in UK and told us about how he got into Futures and Options (the word LIFFE did bring back memory, haha). Nick was smart and he immediately learnt that money was made in Far East, so we followed him to Jakarta. His success in Indonesia eventually got him the dream job in Singapore. He was originally a back office guy, but he always wanted to be on the trading floor where the actions happened.

As soon as his career began, the infamous 88888 error account was created. Its origin was explained here. In fact, the book did a good job in explaining many Futures related things in layman's terms. But it'd become too complicated for me, especially when Options were involved, haha. Then we'd see how Nick made profit but lost even more due to a series of errors and bad decisions. His solution? Account 88888.

Nick's story was rather unusual in the sense that main character actually went downhill, from hero to zero. He had his chances to stop what he did, but he chose to go on. The world soon lauded him as a successful trader, but yet he couldn't sleep at night. He had lived a life full of greed, lies and deceits and there was no turning back. By the time it ended, he was convicted of fraud and forgery. His losses of £830 million brought down Barings, the second oldest bank in the world. 

All in all, it was quite an exciting and yet torturing book to read. It was unpleasant to see how he lived in constant fear of knowing that he would get caught one day. It's actually quite spectacular that he managed to keep this secret for easily more than two years! The fact that his London office was willing to send millions of pounds on daily basis to fund his trading is also equally stunning. He insisted that it was only possible because the management was stupid, haha.

PS: I couldn't help thinking that Nick was probably the reason why front and back office were segregated. He was the head of both front and back office, a unique managerial position that allowed him to do as he wished.

PPS: I watched both the movie (Rogue Trader, starring Ewan McGregor) and the documentary (Inside Story Special: £830,000,000 and the Fall of the House of Barings) right after I read the book. I was just too excited! The movie was quite faithful to the book and the documentary was pretty funny and insightful.

Rogue trading!
Trading floor photo by EDD.


Ulasan Buku: Rogue Trader

Saya mulai bekerja di dunia Futures and Options pada bulan Februari 2007. Saat itu masa open outcry sudah berakhir. Alhasil saya tidak pernah menyaksikan langsung zaman yang gegap-gempita ini. Kendati begitu, saya sering mendengar cerita-cerita masa lalu dari para pelaku pasar dan saya sungguh terpukau. Ini adalah era yang heboh dimana orang berjual-beli dan menghasilkan banyak uang dengan cara berteriak dan mengirim sinyal tangan di bursa.

Dengan begitu banyak karakter yang menggerakkan pasar naik-turun, berbagai legenda pun bermunculan. Salah satu dari mereka adalah Nick Leeson dan ceritanya sebagai seorang pelaku pasar yang spekulatif dan secara diam-diam melakukan penipuan selama di Singapura. Dalam bahasa Inggris, ada frase bring down the house. Nah, itu yang benar-benar dia lakukan. Ketika dia kabur dari bursa, bank tempat dia bekerja pun bangkrut karena besarnya kerugian yang ditimbulkannya. Inilah alasannya kenapa Nick Leeson menjadi legenda. 

Yang juga tak kalah menarik adalah fakta bahwa semua ini terjadi di Singapura. Peraturan dan regulasi di Singapura itu luar biasa ketat sekarang, jadi sulit dipercaya bahwa peristiwa ini bisa terjadi di sini dulu. Saya mulai rutin membaca lagi sejak COVID-19 dan menjajal aneka topik seperti orang India yang naik sepeda ke Eropa dan juga serial Harry Potter, jadi saya pun membeli yang satu ini. 

Buku ini tidak membuang waktu dan langsung membahas tentang hari terakhir Nick di SIMEX (ini adalah tempat transaksi Futures pada saat itu). Setelah itu adalah kilas balik tentang Nick di Inggris dan bagaimana dia berkecimpung di bidang Futures dan Options (Bursa LIFFE mengingatkan saya pada masa silam, hehe). Nick pada dasarnya memang pintar dan dia segera menyadari bahwa uang itu berlimpah di Asia, jadi dia pun meminta pindah ke Jakarta. Sukses di Indonesia lantas menjadi batu loncatan dalam meraih pekerjaan impian di Singapura. Nick awalnya adalah karyawan bagian back office, tapi dia selalu ingin berada di bursa dimana transaksi terjadi. 

Begitu karirnya dimulai, akun 88888 yang tersohor pun diciptakan. Asal mulanya diceritakan di sini. Buku ini juga menjelaskan berbagai istilah Futures kepada khalayak awam dengan baik. Akan tetapi seiring dengan berjalannya cerita, transaksi yang dia lakukan menjadi sulit dipahami, apalagi saat dia mulai menjual Options, hehe. Kita lantas melihat bagaimana Nick untung banyak namun rugi lebih besar lagi karena kesalahan transaksi dan keputusan yang keliru. Solusinya? Akun 88888.

Cerita Nick agak berbeda dengan buku yang biasa saya baca karena karakter utamanya jatuh terpuruk, dari pahlawan menjadi kriminal. Dia sebenarnya memiliki kesempatan untuk berhenti menggunakan akun 88888 untuk memalsukan pembukuannya, tapi dia memutuskan untuk tetap lanjut. Dunia segera mengakui Nick sebagai sosok yang sukses di bursa, tapi dia tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Hidupnya penuh dengan masalah integritas, keserakahan dan kebohongan, sampai akhirnya tidak ada jalan kembali lagi. Ketika semuanya terbongkar, dia ditangkap karena penipuan dan pemalsuan tanda tangan yang dilakukannya. Kerugiannya mencapai £830 juta (sekitar 15,9 triliun rupiah dengan kurs sekarang) dan membuat Barings, bank kedua tertua di dunia, bangkrut.  

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik, tapi juga agak menyiksa untuk dibaca. Saya pribadi tidak menikmati bagian dimana Nick selalu dirundung ketakutan karena dia tahu bahwa suatu hari nanti dia akan ditangkap. Di satu sisi, harus diakui bahwa kemampuannya dalam menyembunyikan kerugian yang dia timbulkan selama lebih dari dua tahun itu cukup spektakuler. Fakta bahwa kantornya di Inggris bersedia mengirimkan jutaan demi jutaan pound juga sulit dipercaya. Nick bersikukuh bahwa semua ini bisa terjadi karena manajemennya bodoh, haha! 

Catatan kaki #1: saya jadi terpikir bahwa pemisahan tanggung jawab antara bagian trading dan back office ini gara-gara Nick. Saat itu dia merangkap sebagai manajer dari dua departemen ini sehingga leluasa baginya untuk bertindak sesuka hati.

Catatan kaki #2: saya menonton filmnya yang berjudul Rogue Trader dan juga dokumenternya yang berjudul Inside Story Special: £830,000,000 and the Fall of the House of Barings (dua-duanya ada di YouTube) setelah saya membaca bukunya. Filmnya cukup setia mengikuti isi buku dan dokumenternya menjelaskan apa yang terjadi dari sudut pandang Nick dan pimpinannya.

Sunday, August 2, 2020

The Covers

It's been more than three and a half years since I started roadblog101. Yes, on a high very level, it's safe say it's doable mainly because I love writing. If the question is what's so loveable about writing, well, I like pouring out the thoughts because it is such a stress relief. I also love reminiscing the fond memories and put them down in writing. 

Then there's the process of writing itself. The times when I tried to get it right was an inexplicable fun (funny that there's no word to describe it, haha). I just knew it when I nailed it (and it could be something as simple as choosing the words for a sentence) and I love how it felt right. One more thing, and this is just probably me, the blog has been written on a BlackBerry so far. I enjoy the typing experience that keeps me going on and, odd though it may sound, I actually like the clicking sound. The rhythm is so addictive!

Capturing the covers!

But that's like stating the obvious. Today, I'd like to share one lesser known thing that I discovered along the way. The thing with blogging is, it looks dry if it doesn't have any pictures on the blog. There should be at least one. If it was an article about travelling or food, normally I'd have a plenty of photos. But some other topics might not have a relevant picture readily available. That's when I had to come up with one. But since photography is not my forte, more often than not, the results that I like were accidentally created. Here are my all-time favourites and the stories behind the pictures.

The Plastics. 

The first one that I really liked was from a blog post called the Plastics. I knew exactly how I wanted it to look like: the big four, Visa, Master, Amex and Diners would be the foundation whereas the other three would be on top of it. The logos must be visible, but details such as card numbers and names had to be obscured. The problem was I had no idea from which angle the picture should be taken. To make it worst, I was sitting right below the lamp, so it'd always be a shadow regardless how I positioned my mobile phone. Much to my delight, the shadow on the bottom right seemed to blend in seamlessly with the curved shape design on Amex. Loved the final result and it became the cover.

Linda and Siri.

Next one is Linda and Siri. The cover was literally the two of them. One the left was the expressionless Linda (she seldom looked like that, especially for a photo taken at Ajisen Ramen, her favourite restaurant) and on the right was a screenshot of Siri's signature question. It was right on the spot, exactly what I needed for the story that told about how Siri was listening to her while I was being neglectful. Yes, it wasn't my proudest moment, but it did serve as a reminder.

Hotel K.

Of all the pictures that I developed from the scratch, the covers for book reviews were the most difficult ones. I find that there's only so much you can do with books, therefore I love the one from Hotel K the most: it showed the whole book cover, including the author's name, but yet it looked very natural. I normally used BlackBerry, but I remember vividly that the picture was taken using iPhone SE. It was a selfie (and in iPhone I trust), with the iPhone leaning on a laptop screen.

Data Travel Plan.

The one for Data Travel Plan was also one of those happy accidents. Back in the days, I had a habit of keeping the SIM cards that I bought when I travelled. For some strange or probably sentimental reasons, they always went into the plastic bag that I kept inside my passport cover. By the time I wrote the story inspired by Wiwi's question, I remember these cards and scattered them on top of my MacBook. I placed the tray ejector pin as well as my passport there. Once done, I touched it up a bit with Google Snapseed and voila, I got what I needed.

Money.

Google Snapseed is a cool mobile app for photo-editing. I used it again for the subsequent photos. The ones from Money and the Money Game made use of the filters. For the former, I happened to have foreign notes that I kept as mementos. The problem was, after being folded for so long, it wasn't easy to straighten them up, so I brightened up the background instead to mask the curvy look of the notes. As for the latter, I was simply playing with the filters on top of the blurry picture that focused only on the big amount (it was in rupiah, haha) and I liked what I saw.

The Money Game.

I also remember the one from Why You Should Travel Now. I snapped the picture from the top with one hand holding the passports on the floor to keep them as flat as possible, then I imagined how it should look like and cropped it. At the glance, the result appeared like a random stack of passports, but they were carefully laid on top of each other based on certain precision and consideration. My friend Keenan spotted this and asked, "you actually want to show off the Liverpool stamp, right?" He was right!

Why You Should Travel Now. 

Another happy accident would be the one I made for Faith, Dreams and Regrets. I was looking for pictures from my adolescence, 20s, 30s and I selected these three. When I combined them using the Layout app from Instagram and open the result on Snapseed, I noticed that the top half of the picture was rather cool. There was something with the colors of the wall and clouds that I liked. I was contemplating if I should put the words 10s, 20s and 30s on top of each picture, but then decided not to and left it that way.

Faith, Dreams and Regrets. 

Then of course there's this picture of Time magazines. The original idea was to have the picture taken from behind my shoulder and focused on the magazine I was holding, but I wasn't satisfied with the outcome. My wife suggested that perhaps we should do it as if the camera was me staring at the magazine. Still something felt missing. The Time magazine should stand out. That's when I thought of the color pop effect that I always wanted to use. I spent time reading how to do it manually using Snapseed and eventually did it. Loving it!

Time.

So what's the moral of story? Not much, except for me to indulge in the good times I had in the past, haha. I'd always wanted to write something like behind-the-scenes story of roadblog101. Blogging is a complete package of fun. Yes, writing is the main bulk of it, but the creative process of producing the right pictures for the articles could be equally enjoyable, too!


Foto-Foto Di Roadblog101

Tidak terasa sudah lebih dari tiga setengah tahun berlalu semenjak saya memulai roadblog101. Semua ini bisa terjadi karena pada dasarnya saya senang menulis. Jika pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya menarik dari hobi menulis ini, secara singkat bisa dijabarkan seperti ini: saya suka menuangkan apa yang ada di benak saya karena lega rasanya. Selain itu saya juga suka mengenang kembali berbagai masa dalam hidup saya dan mengabadikannya dalam bentuk tulisan. 

Perlu ditekankan pula bahwa proses menulis itu menyenangkan. Ya, prosesnya. Ada suatu kepuasan tersendiri dalam menulis (dan adalah sebuah ironi bahwa kesenangan ini tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata, haha). Ketika menulis, secara naluri saya tahu ketika saya mengerjakannya dengan benar, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti memilih kata yang tepat dalam sebuah kalimat. Satu hal lagi yang unik, dan mungkin ini hanya terjadi pada saya, adalah artikel-artikel yang ditulis dengan BlackBerry. Saya sungguh menikmati pengalaman menulis dengan BlackBerry bukan hanya karena keyboard-nya, tapi juga karena suara irama keyboard-nya. Pokoknya ada yang terasa kurang interaksinya kalau menulis dengan Google Pixel 4 atau MacBook.

Memotret foto!

Apa yang disampaikan di atas mungkin menjelaskan kenapa saya suka menulis, tapi ada lagi satu hal menyenangkan yang mungkin jarang diketahui oleh orang banyak, yang baru saya sendiri sadari setelah mulai blogging beberapa lama. Sebuah artikel itu kurang lengkap kalau tidak disertai foto. Minimal harus ada satu. Jika yang saya kerjakan adalah topik liburan atau makanan, biasanya banyak foto yang tersedia. Namun tidak demikian halnya untuk topik-topik tertentu, jadi saya harus berkreasi menciptakan foto yang sama temanya. Karena fotografi bukanlah spesialisasi saya, terkadang hasil akhir yang saya sukai itu biasanya tercipta karena kebetulan. Berikut ini adalah cerita singkat foto-foto yang saya sukai. 

The Plastics. 

Yang pertama adalah foto dari artikel berjudul the Plastics. Saya tahu pasti apa yang saya mau: Visa, Master, Amex dan Diners berada di bawah sebagai fondasi dan tiga kartu kredit lainnya berada di atas. Logonya mesti terlihat, namun detil seperti angka dan nama harus tersamarkan. Masalahnya adalah, saya tidak tahu dari sudut mana saya harus mengambil foto. Lebih parah lagi, meja kerja saya berada tepat di bawah lampu, jadi di mana pun saya memposisikan handphone saya, akan selalu ada bayangan di hasil foto. Akan tetapi bayangannya ternyata menyatu cukup baik dengan lengkungan di desain kartu Amex. Saya suka hasil akhirnya dan kemudian saya pakai di artikel. 

Linda and Siri.

Yang berikutnya adalah Linda dan Siri. Foto yang saya pakai adalah perpaduan keduanya. Di sisi kiri ada Linda yang memandang kamera tanpa ekspresi (dia jarang terlihat seperti ini, apalagi di foto yang dijepret di Ajisen Ramen, restoran favoritnya) dan di sebelah kanan adalah Siri dengan pertanyaannya yang tepat sasaran. Cocok dengan artikel yang saya tulis tentang Siri yang mendengarkan Linda sementara saya sibuk dengan apa yang saya kerjakan. Ya, ini bukan pengalaman yang membanggakan, tapi foto ini senantiasa mengingatkan bahwa ada kalanya saya lalai sebagai orang tua.

Hotel K.

Dari banyak foto yang saya kembangkan dari berbagai ide yang terpikirkan oleh saya, yang paling sulit itu foto untuk ulasan buku. Tidak banyak kreativitas yang bisa saya hasilkan dari buku, oleh karena itu karya yang menghias artikel Hotel K ini menjadi hasil yang paling memuaskan. Foto ini menampilkan judul dan nama pengarang di sampul buku, tapi memiliki kesan alami. Biasanya saya selalu memotret dengan BlackBerry, namun pada kesempatan ini saya menggunakan iPhone SE. Ini adalah sebuah selfie (dan saya percaya dengan kualitas foto iPhone) dimana iPhone yang saya pakai disandarkan ke layar monitor laptop.

Data Travel Plan.

Selanjutnya adalah foto yang saya pakai di Data Travel Plan. Saat masih era membeli kartu SIM di negara asing yang saya kunjungi, saya memiliki kebiasaan menyimpan kartu yang saya beli. Karena alasan sentimental, kartu-kartu ini selalu saya masukkan ke kantong plastik di belakang sampul paspor saya. Tatkala saya menulis cerita yang terinspirasi oleh pertanyaan Wiwi, saya ingat dengan kartu-kartu ini dan menaburkannya di atas MacBook. Setelah dipotret, saya rapikan lagi dengan Google Snapseed dan jadilah hasil yang saya inginkan. 

Money.

Google Snapseed adalah aplikasi handphone yang praktis dan gampang digunakan untuk mengedit foto. Dua karya untuk artikel Money dan Money Game menggunakan filter dari aplikasi ini. Untuk yang foto Money, saya memiliki beberapa mata uang asing yang saya simpan untuk kenang-kenangan. Masalah dengan uang kertas yang sudah lama dilipat adalah lekukannya. Untuk mengakali hal ini, saya mengatur latar belakangnya seterang mungkin sehingga lekukan di uang kertas tidak terlihat jelas. Untuk foto kedua, saya iseng gonta-ganti filter di foto buram yang hanya fokus pada angka dua ratusan juta (ini dalam rupiah, haha) dan ternyata saya menyukai dua warna yang bertemu di tengah ini.

The Money Game.

Saya juga memiliki kenangan tersendiri dengan foto dari artikel Why You Should Travel Now. Foto ini diambil dari atas dengan satu tangan yang memegang satu sisi paspor supaya terlihat rata hasilnya. Setelah itu, saya membayangkan seperti hasilnya harus terlihat, lalu saya potong sedemikian rupa. Secara sekilas, hasilnya seperti paspor yang ditumpuk secara acak, tapi sebenarnya tiga paspor ini ditumpuk dengan pertimbangan tertentu. Teman saya Keenan menyadari hal ini dan bertanya, "engkau memang mau memamerkan cap paspor Liverpool, bukan?" Jeli juga dia, haha.

Why You Should Travel Now. 

Satu lagi yang tercipta secara tidak sengaja adalah foto untuk artikel Faith, Dreams and Regrets. Saya melihat kembali foto-foto dari usia belasan, 20an, 30an dan saya memilih tiga foto berikut ini. Setelah saya gabungkan dengan aplikasi Layout dari Instagram dan membuka hasilnya di Snapseed, saya lantas menyadari bahwa bagian atas foto terlihat menarik perhatian. Saya suka warna dinding dan langit di foto-foto ini. Tadinya terlintas di benak saya untuk menuliskan angka belasan, 20an dan 30an di atas setiap foto, tapi akhirnya saya batalkan.

Faith, Dreams and Regrets. 

Dan tentu saja saya harus berbicara tentang foto dari artikel tentang majalah Time. Awalnya saya ingin agar foto ini diambil dari belakang bahu saya dan berfokus pada majalah, tapi hasilnya tidak memuaskan. Istri saya lantas mengusulkan bahwa sebaiknya sudut pandang kamera itu diubah seakan-akan saya sendiri yang sedang duduk membaca. Setelah sesi pemotretan selesai, saya rasakan masih ada yang kurang. Harusnya majalah Time terlihat lebih menonjol. Akhirnya saya mencoba efek color pop yang selalu ingin saya gunakan. Saya baca bagaimana caranya membuat efek ini secara manual dengan menggunakan Snapseed dan terciptalah foto di bawah ini.

Time.

Jadi apa sebenarnya moral dari cerita kali ini? Rasanya tidak ada dan saya hanya sekedar berbagi kegembiraan yang saya rasakan saat berkarya, haha. Sudah sejak lama saya ingin menulis tentang latar belakang foto-foto ini. Blogging itu benar-benar satu paket. Ya, memang intinya itu menulis, tapi proses kreatif dalam menciptakan foto-foto yang sesuai cerita juga cukup menyenangkan! 

Friday, July 24, 2020

Thai Food

Thailand is many great things combined into one. It's tourist-friendly, full of smiles and culturally infectious (the Thai greeting of sawasdee krab is irresistible). On top of that, the food is great, too! When I think of Thai food, I automatically recall the fond memory of how delicious it is, even when I don't have anything particular cuisine in mind! Somehow, someway, there is a certain excitement when it comes to meal time in Thailand.

I don't remember much about Thai food in Indonesia, probably because I never had one back then. My first introduction happened in Singapore. As a melting pot of many cultures from around the world, Singapore has a great selection of Thai cuisines, especially at Golden Mile. It certainly has the look and feel of Thailand there!

Thai food for lunch with Nuryani!

My earliest recollection of Thai food was a restaurant at Far East Plaza called Sakura (it has closed down and merged with Nana Thai now). I was with Jimmy Lim, the same friend who introduced sushi to me. Looking back, just because one or two cuisines were served with sweet sour sauce, it didn't mean they were authentic Thai food, but I wouldn't know for sure then! I only knew that the food there was good and I loved it. Then I remember the time my friend Sudarto and I had mango salad as an appetizer around Bencoolen. Now that sounded about right, so whatever that we had after that must be Thai food, haha. 

So what do I like about Thai food? As I wrote about it, I realized that apparently I wasn't as adventurous as I originally thought. In fact, for the past 14 years, I subconsciously stuck with what I already tried and loved best. The list is not long and there are only four, I'm afraid, haha.

Thai basil minced pork rice at centralwOrld, Bangkok.

Thai basil minced pork rice is a personal favourite, but it was like striking a lottery. If I was unlucky, I'd get a plate of burning hot minced pork rice. Otherwise it'd be a tasty meal with the right amount of spiciness. I'm not sure if the basil leaves is edible and I normally pick them away from the meat, but I reckon it is the reason why it tastes so good!

Pad thai at Terminal21, Bangkok.

Then there is pad thai. At a glance, it looks like fried kway teow, but they aren't the same. Pad thai has this tinge of sour taste, probably from lime. I don't know, I'm not an expert here. In Bangkok, it is actually served with a spoonful of sugar at the side of the plate. I don't recall seeing this in Singapore, but it's best eaten with sugar! I like my pad thai sweet!

Tom yum soup in Pratunam, Bangkok.

The signature dish, I believe, is tom yum soup. It's hot, it's sour, it'll spice up your life! I'm not a big fan of food that is both sour and spicy, but I can't resist having tom yum soup with a bowl of rice. It's what I call food temptation! The funny part (or the irony, depends on how you see it) is the fact that our favourite stall in Singapore is manned by Mainland Chinese, not Thai. The restaurant is called Hot Spot, located next to Sim Lim Square. Highly recommended!

Pineapple fried rice at Asiatique, Bangkok.

Then of course, as someone who loves fried rice, I have to talk about the pineapple fried rice. It's brilliant and uniquely Thailand. I noticed that some stalls fry it with raisins and I love the sweet sensation of it. I liked the one at Sultan's Kitchen, but it had closed down for quite some time. Haven't found a worthy replacement yet. Any recommendations are welcome. 

As I mentioned earlier, Golden Mile is a rather interesting place in Singapore. It's very Thai flavoured and the food at Diandin Leluk is nice. But nothing beats the real deal, so go to Bangkok if you can. The culinary is mouth-watering, definitely one of the main tourist attractions there, apart from sightseeing, shopping and partying!

Dinner at Diandin Leluk, Golden Mile. 


Masakan Thai

Thailand adalah sebuah negara dengan banyak pesona. Ramah terhadap turis, penuh senyum dan unik serta memikat pula budayanya (saya sungguh terkesan dengan salam khas yang disertai ucapan sawasdee krab). Selain itu, masakannya pun sedap nian. Bilamana makanan Thai melintas di benak saya, yang terpikir adalah rasanya yang enak. Pokoknya seru kalau sedang berburu makanan di Thailand.  

Saya tidak memiliki kenangan tentang masakan Thai sewaktu tinggal di Indonesia, mungkin karena saya tidak pernah berkesempatan untuk mencicipinya dulu. Saya mulai merasakan nikmatnya masakan Thai di Singapura. Sebagai tempat bertemunya aneka budaya dari berbagai penjuru dunia, Singapura tentu saja memiliki menu masakan Thai, terutama kalau anda pergi ke Golden Mile. Mirip Thailand suasananya!

Makan siang ala Thai bersama istri!

Seingat saya, masakan Thai pertama kali saya coba di restoran Sakura yang berada di Far East Plaza (tempat makan ini sudah tutup dan berubah menjadi Nana Thai sekarang). Saat itu saya bersama Jimmy Lim, teman lama yang juga membawa saya menjajal sushi untuk kali pertama. Kalau saya kenang kembali, hanya karena menunya asam manis, ini tidak lantas berarti bahwa sudah pasti ini adalah masakan Thai yang otentik. Yang saya tahu pada saat itu adalah lezatnya masakan di Sakura. Setelah itu, saya dan Sudarto Bong makan di kawasan Bencoolen. Hidangan pembukanya adalah salad mangga, jadi sepertinya sudah pasti bahwa menu berikutnya adalah masakan Thai, hehe. 

Jadi apa yang saya sukai dari masakan Thai? Saya pikir ada banyak yang saya sukai, namun setelah saya coba tulis ceritanya, ternyata saya bukanlah pemberani dalam hal icip-icip. Selama 14 tahun ini, saya cenderung memesan menu yang itu-itu saja. Daftar masakan Thai favorit saya ternyata cuma ada empat menu, haha.

Nasi babi cincang daun kemangi di centralwOrld, Bangkok.

Yang pertama adalah nasi babi cincang daun kemangi. Saya suka ini, tapi terkadang menu ini terasa seperti membeli lotere. Setiap tempat beda pedasnya. Ada yang luar biasa membara, ada pula yang pas di lidah. Saya tidak tahu apakah kemangi bisa dimakan dan biasanya saya pisahkan dari dagingnya, tapi mungkin daun ini adalah rahasia kenapa menu ini sedap rasanya.

Pad thai di Terminal21, Bangkok.

Kemudian ada lagi yang disebut pad thai. Secara sekilas, pad thai ini mirip kwetiau goreng. Serupa, namun tidak sama. Pad thai memiliki sedikit rasa asam yang mungkin berasal dari jeruk nipis. Saya hanya menerka, karena saya bukan pakar. Di Bangkok, pad thai biasanya disajikan dengan sesendok gula pasir di samping piring. Saya tidak pernah melihat penyajian seperti ini di Singapura, namun saya rasa pad thai enak dimakan bersama gula. Saya suka rasanya yang manis!

Tom yum sup di Pratunam, Bangkok.

Yang khas dan tidak asing lagi adalah sup tom yam. Pedas dan asam, rasanya pasti membangkitkan selera! Saya biasanya tidak suka kombinasi pedas dan asam, tapi saya siap menyantap semangkok tom yam dan sepiring nasi. Terlalu menggoda rasanya! Satu hal yang lucu (atau ironis, tergantung sudut pandang) adalah kedai favorit yang sering saya dan istri kunjungi di Singapura. Kedai ini dikelola oleh orang Cina Daratan, bukan orang Thai, hehe. Restoran yang berada di samping Sim Lim Square ini bernama Hot Spot. Layak dicoba!

Nasi goreng nenas di Asiatique, Bangkok.

Dan... sebagai pencinta nasi goreng, saya harus berbicara tentang nasi goreng nenas. Ini yang unik dari Thailand, biasanya digoreng dengan kismis sehingga ada sensasi manis. Saya suka nasi goreng nenas yang dijual orang Thai di Sultan's Kitchen, namun sayang sudah tutup. Belum ketemu penggantinya. Kalau ada yang tahu, jangan segan untuk merekomendasikan pada saya. 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Golden Mile adalah tempat yang bernuansa Thai di Singapura. Anda boleh coba restoran bernama Diandin Leluk. Akan tetapi seenak apa pun masakan Thai di Singapura, masih lebih sedap lagi kalau kita makan langsung di Thailand, jadi anda harus coba ke Bangkok. Wisata kuliner adalah salah satu atraksi utama di sana, selain daerah wisata, berbelanja dan dunia malam!

Makan malam di Diandin Leluk, Golden Mile. 

Monday, July 13, 2020

Interests

Something lingered in my mind right after the lunch with my wife. Earlier today, we talked about quite fair bit of things, ranging from GE2020 to the recent impact of COVID-19 in Vietnam (the workers were laid off) and Hong Kong (the schools closed down again). Politics, economy and education. All the adult stuff! To think that these weren't exactly my interests, let's say 15 years ago!

Then it occured to me that the changes had much to do with everything that came along as I grew older, be it the exposure, the experience or even the ability to do something about it. Certain things in life did shift in such a manner, apparently. Some came, some stayed and others simply faded away. We might be blissfully unaware of this, but as we progressed in life, we started having new interests.

Eating bread! The time when I was working in Jakarta. 

For example, years ago, when I was still working in Jakarta, I wouldn't understand why people love travelling. In hindsight, it wasn't difficult to see why. At that time, I barely made ends meet. Every night, my immediate concerns were whether I should to go for pecel lele and two plates of nasi uduk that would cost me IDR 8K or settle for a cheaper meal such as fried rice or ketoprak

Having said that, holiday was like the furthest thing from my mind. It must be a miracle that I managed scrimp and save for short trips to Bandung and Bali, but most of the time, I didn't even think of travelling. It was only later on, after I moved to Singapore, that things were gradually improving and eventually travelling as a hobby was made possible. Loving it since then.

When we stayed together in Kembangan. You gotta pardon the low resolution!

Anyway, my friend Jimmy once said that life is like staying at a flat. The higher the level of your unit is, the wider your view will be. It is a good analogy that I can relate with. The bottom line is, I began noticing things that were always there before and became interested in them. It turned out that it just happened this way seamlessly, when we were ready for it. Kind of amusing, I'd say. 

The latest thing that I picked up recently was investment. To be frank, I was horrible with numbers and normally I wouldn't bother. But then I discovered the good feeling about it. No, I wasn't talking about stocks as it was confusing. Property was way too much of a hassle and costly. No money game for me, too. What caught my attention was physical gold. It was a friendly investment and a beginner didn't need to be bloody smart or to start big.

Bye-bye, gold bar. 

Another close friend of mine had been telling me about this since long ago, but I only discovered how right he was recently. Making a few hundred dollars from selling a gold bar did feel good, haha. Now that I think of it, perhaps this is the reason why a generation before me preferred to buy gold. They were wise. The precious metal is nice to look at and the price generally goes up, so it sounds like a good deal, doesn't it?

To summarize, it's funny how our interests evolve as we age, but I guess life, in a way, is also series of discoveries. New ones bring us one step further ahead while the existing ones continue to define who we are. Oh yes, certain things do remain. For me, the oldest lifelong interest is probably Godzilla. Call me childish if you like, but the King of Monsters is here to stay, hahaha...


Topik Dan Minat

Ada sesuatu yang terngiang-ngiang di benak saya setelah makan siang bersama istri. Di saat bersantap, kita berbicara tentang berbagai topik, mulai dari Pemilu 2020 di Singapura sampai dampak dari COVID-19 di Vietnam (para pekerja di-PHK) dan Hong Kong (sekolah kembali ditutup lagi). Kita bercakap-cakap tentang politik, ekonomi dan pendidikan. Semuanya topik dewasa! Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang kita bicarakan ini bukanlah hal yang menarik bagi saya 15 tahun silam. 

Lantas terpikir oleh saya bahwa perubahan bahan pembicaraan ini ada hubungannya dengan bertambahnya usia. Semakin berumur, semakin kita melihat banyak hal, kian berpengalaman dan bahkan mungkin bisa melakukan lebih banyak hal dari sebelumnya. Beberapa hal di dalam hidup kita ternyata berubah tanpa kita sadari. Ada hal yang baru, ada yang tetap sama, ada pula yang pudar dan hilang.

Makan roti tawar sewaktu kerja di Jakarta. 

Sebagai contoh, bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih tinggal di Jakarta, saya heran kenapa orang suka berlibur. setelah melihat kembali, tidak sulit bagi saya untuk mengerti, kenapa dulu saya gagal paham. Pada masa itu, saya baru mulai bekerja. Tiap malam terjadi pergumulan di dalam hati, apakah saya bisa menikmati kemewahan berupa dua piring nasi uduk dan lauk pecel lele dengan total harga delapan ribu rupiah, atau menyantap makan malam yang lebih murah seperti nasi goreng atau ketoprak

Jadi untuk makan saja susah, apalagi liburan. Adalah mukjizat bahwa saya bisa menyisihkan uang untuk liburan singkat ke Bandung dan Bali. Pokoknya saat itu tidak terpikir untuk liburan. Setelah saya pindah ke Singapura dan kondisi finansial menjadi lebih baik dari sebelumnya, barulah liburan itu terasa tidak mustahil. Semenjak itu saya jadi senang bepergian.

Ketika kita tinggal di Kembangan, Singapura. Maaf atas gambar yang buram, hehe.

Berkaitan tentang hal ini, teman saya Jimmy pernah berkata bahwa hidup itu seperti tinggal di rumah susun. Semakin tinggi tempat tinggal anda, semakin jauh pula anda bisa memandang, sebab pandangan anda tidak lagi terhalang oleh gedung yang lebih rendah. Ini adalah perumpamaan yang bisa saya cerna. Istilahnya itu seperti sudah naik tingkat, jadi saya pun mulai memiliki waktu dan kesempatan untuk memahami hal-hal lain yang sebenarnya senantiasa ada di sekeliling saya. Ternyata ini adalah sebuah proses yang terjadi begitu saja, ketika kita sudah siap. 

Nah, satu pengalaman baru yang terjadi belum lama ini adalah investasi. Jujur saja, saya tidak pandai di bidang yang berkaitan dengan banyak angka, sehingga biasanya saya menjauh. Akan tetapi saya menemukan satu hal yang membuat saya senang. Tidak, saya tidak berbicara tentang saham yang rumit dan memusingkan. Properti juga tidak gampang dan mahal pula biayanya. Kalau permainan uang, terus-terang saya tidak tertarik. Yang membuat saya tergelitik adalah emas. Investasi ini terasa bersahabat dan seorang pemula tidak perlu bermodal besar.

Bye-bye, batang emas. 

Seorang teman baik telah sejak lama bercerita tentang hal ini kepada saya, namun saya baru menyadarinya bulan lalu. Seperti yang saya katakan di atas, senang rasanya bisa memperoleh keuntungan beberapa juta rupiah dari hasil penjualan sebatang emas, haha. Sekarang saya mengerti kenapa generasi sebelum saya memilih untuk membeli emas. Mereka memang bijaksana. Emas itu sedap dipandang mata dan harganya cenderung naik terus, jadi memang sepertinya ide yang bagus, bukan?

Sebagai kesimpulan, lucu juga bahwa minat kita berubah seiring dengan bertambahnya usia. Dalam hal ini, saya kira hidup ini seperti penemuan demi penemuan di setiap jenjang kehidupan. Minat yang baru membawa kita selangkah lebih maju, sedangkan minat dari sejak dulu mendefinisikan siapa jati diri kita sesungguhnya. Oh ya, beberapa minat saya tetap bertahan selama 40 tahun terakhir ini. Satu hobi saya yang paling lama, yang saya sukai dari sejak kecil hingga sekarang, adalah Gozilla. Anda boleh saja anggap saya kekanak-kanakan, tapi Godzilla akan tetap menjadi idola, hahaha...

Saturday, July 11, 2020

Book Review: Harry Potter And The Philosopher's Stone

It's been 20 years. Can you believe it? 20 long years, which means a generation that was born right after the book was released is 20 years old now. And they might not know a thing about Harry Potter. Oh, they wouldn't know what they had missed!

I remember buying my first Harry Potter book. It must be around year 2000. I bought it at a book store called Budaya in Pontianak after hearing the good buzz about it. The first book was called Harry Potter dan Batu Bertuah in Bahasa Indonesia. I was immediately hooked!

I read the English version for the first time ever recently. Since I know now how the story ends, I couldn't help wondering what J. K. Rowling was thinking when she wrote the one that started all. She wouldn't know that it would be a phenomenon, but those names, those familiar names such as Sirius Black, were there since the beginning. Did she already planned for him to be Harry's godfather then?

The 20th anniversary - Gryffindor edition.

20 years are such a long time and I had forgotten a lot of details in the book. It was fun to rediscover the magical world of Harry Potter again: Platform 9 3/4, Hogwarts, Quidditch and many more. For one who was there when the series was first released, it was like going back to something familiar that you know and love. 

Every character, from the Dursleys, Draco Malfoy to Albus Dumbledore, was so important and relevant. But now that I had a chance to look back, I believed that the most fascinating character was Severus Snape. He was so despicable! He disliked Harry, but yet he would protect him at all cost. As a character, he was misunderstood and mysterious at the same time. That's what made him interesting. Anyway, if you haven't read Harry Potter before and you feel confused about what I said, I can only tell you that there was a good reason why Dumbledore trusted him so much. 

Overall, it was a a nice beginning that brought us Harry Potter and it'd only get better as the series progressed. What's lovely about the book is the fact that it was so readable. I'd think, "probably one more chapter," but I'd never stop and continue reading! You don't get this feeling very often. Not even when reading the Lords of the Rings! So, yeah, good stuff. Six more books to go...

The actual platform in London!


Harry Potter Dan Batu Bertuah

Sudah 20 tahun berlalu. Tidak terasa, ya? 20 tahun, berarti generasi yang lahir setelah buku pertama ini terbit sekarang berumur 20 tahun. Bisa jadi mereka tidak tahu tentang Harry Potter. Oh, kalau saja mereka tahu fenomena seperti apa yang terlewatkan oleh mereka! 

Saya ingat saat saya membeli buku Harry Potter yang pertama. Saat itu kisaran tahun 2000. Setelah saya mendengar tentang hebohnya buku yang berjudul Harry Potter dan Batu Bertuah ini, saya pun membelinya di Toko Buku Budaya di Pontianak. Seusai saya baca, saya langsung menjadi penggemar!

Bulan lalu saya membaca edisi bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Karena saya sudah tahu bagaimana akhir dari cerita ini, saya jadi terbayang, apa sebenarnya yang ada di benak J. K. Rowling saat dia menulis buku pertama Harry Potter. Waktu itu dia tidak mungkin tahu bahwa novelnya ini akan menjadi sebuah maha karya, tapi nama-nama yang dipakainya, nama seperti Sirius Black, sudah ada di awal cerita. Apakah saat itu dia sudah merencanakan bahwa Sirius akan menjadi ayah angkat Harry di buku ketiga?

20 tahun Harry Potter - edisi Gryffindor.

20 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat saya lupa akan detil cerita di buku pertama. Seru rasanya saat menemukan kembali ajaibnya dunia Harry Potter, mulai dari Platform 9 3/4, Hogwarts, Quidditch dan masih banyak lagi. Bagi saya yang mengikuti kisahnya dari sejak awal diterbitkan, rasanya seperti mengenang kembali saat-saat yang indah dan tidak asing lagi.

Setiap karakter, mulai dari keluarga Dursleys, Draco Malfoy sampai Albus Dumbledore, penting dan relevan di dalam cerita. Kendati begitu, karena saya kini memiliki kesempatan untuk melihat kembali ceritanya, saya merasa bahwa yang paling membuat penasaran adalah Severus Snape. Dia begitu sinis dan menyebalkan. Dia juga tidak menyukai Harry, tapi dia selalu melindunginya secara diam-diam. Dia adalah tokoh cerita yang paling sulit dipahami dan misterius. Jika anda belum pernah membaca Harry Potter sebelumnya dan anda merasa bingung dengan pernyataan saya, maka perlu saya katakan bahwa ada alasan tersendiri kenapa Dumbledore begitu mempercayainya. 

Secara keseluruhan, buku pertama ini memperkenalkan kita kepada Harry Potter dan dunia sihir yang menakjubkan. Hal lain yang juga patut dipuji adalah cara penulisannya yang enak dibaca. Saya senantiasa berpikir bahwa saya akan berhenti setelah membaca satu bab berikutnya, tapi saya jadi terus membaca tanpa henti! Keasyikan membaca seperti ini tidak ditemukan di setiap buku. Bahkan Lords of the Rings yang legendaris pun tidak seseru ini. Pokoknya mantap. Masih ada enam buku lagi. Saya akan terus membaca!

Sunday, July 5, 2020

Laughter

Let's go for something light today: laughter. While I don't think I ever used the acronym lol intentionally, I have been laughing out loud frequently. I dare say that all my life, I have been a cheerful person. However, I didn't always know how quirky my sense of humour could be sometimes.  

For some strange reasons, I could always sense something funny, even when the situation couldn't get worse. I appreciate jokes, but it turned out that some weren't meant to be funny. They could just be something desperate that sounded hilarious and I'd be laughing at a wrong time. 

It was my friend Bernard that pointed out this to me. We worked together in the previous company and we were in a serious meeting back then with our boss, a colleague from Compliance Department and our Managing Director (MD). Apparently we had a timeline to meet and our boss was cornered into forming an IT committee for this project. He seemed oblivious to this initiative and needed to say something to save his ass, so he named the committee members on the spot. The MD was surprised and he curiously asked, since when the committee was formed. That's when my boss said, "now."

Upon hearing that, the MD was taken aback as I burst into laughter. I couldn't help it. The whole thing was like a comedy scene adapted from Stephen Chow movies. How on earth could respectable people from management level such as my boss bluff his way through like that? What a joker. That was probably the first time I ever saw the ugly side of management.

When the meeting was over, Bernard took me aside and explained to me that funny though it was, I shouldn't laugh like that in a formal meeting. He was right, of course. I could have gotten into trouble for what I perceived as innocent laughter. I mean, all this while, I never wasted a good joke, but it never occurred to me that other people might not appreciate being laughed at, especially those who didn't mean to be funny at all.

Since then, I tried and managed to have a decent self-restraint. I still let out a chuckle or two in the meeting, but hey, that's the best I can do, haha. The moral of the story is, happiness does come from inside (don't let others tell you otherwise) and it's good to laugh out loud, but perhaps not to the extent of offending others...

Laughing out loud! When we were in the previous company!


Tawa

Mari kita berbicara tentang topik yang ringan hari: tawa. Walau saya hampir tidak pernah menggunakan singkatan lol, saya sering tertawa terbahak-bahak. Saya bahkan berani mengatakan bahwa saya tergolong orang yang ceria. Kendati begitu, ada suatu ketika dimana saya tidak menyadari bahwa selera humor saya itu agak aneh.  

Saya tidak pernah memahami hal ini sepenuhnya, namun entah kenapa saya selalu bisa melihat sisi lucu dari banyak hal, bahkan di situasi yang buruk sekalipun. Saya senantiasa tertawa, meski  sesuatu yang jenaka itu sebenarnya merupakan sesuatu yang spontan dan orang yang mengucapkannya tidaklah bermaksud untuk melucu. Alhasil saya pun tertawa di saat yang tidak tepat. 

Adalah teman saya Bernard yang memberitahukan saya tentang hal ini. Di waktu itu kita sedang rapat bersama pimpinan IT, Managing Director (MD) dan juga seorang kolega dari departemen Compliance. MD mengatakan bahwa kita harus menyelesaikan sebuah proyek dalam tenggang waktu yang sudah ditentukan dan pimpinan saya diminta untuk membentuk komite IT khusus untuk proyek ini. Bos saya menjadi gelagapan karena dia sepertinya tidak tahu-menahu akan proyek ini, namun dia harus mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan gengsinya, jadi dia pun asal sebut dan mengumumkan nama para anggota komite pada saat itu juga. MD tampak terkejut dan lantas bertanya, kapan sebenarnya komite ini dibentuk. Dan bos saya pun menjawab, "barusan!" 

Saat mendengar jawab tersebut, MD saya tersentak kaget dan saya sendiri langsung tertawa geli. Pokoknya benar-benar tidak tahan. Apa yang baru saja saya saksikan persis seperti adegan dalam film Stephen Chow. Bagaimana mungkin orang dalam posisi manajemen seperti bos saya mengarang bualan di depan MD? Benar-benar kocak. Ini adalah mungkin pertama kalinya saya melihat sisi gelap dari manajemen. 

Seusai rapat, Bernard memanggil dan menjelaskan pada saya bahwa selucu apa pun adegan tadi, seharusnya saya tidak tertawa di dalam rapat. Perkataannya sungguh benar, sebab saya bisa mendapat masalah karena tertawa tergelak-gelak seperti ini. Ya, memang saya tertawa karena tergelitik oleh sesuatu yang jenaka, tapi tidak terpikirkan oleh saya bahwa orang lain mungkin tidak senang ditertawakan, apalagi kalau mereka memang tidak bermaksud untuk melucu. 

Semenjak itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan diri. Ada kalanya saya masih tertawa kecil atau menahan senyum, tapi itu yang terbaik yang bisa saya lakukan, haha. Moral dari cerita adalah, benar bahwa kegembiraan itu datangnya dari dalam hati dan lega rasanya bisa tertawa lantang, tapi mungkin jangan sampai menyinggung orang lain, hehe...