Total Pageviews

Translate

Sunday, August 2, 2020

The Covers

It's been more than three and a half years since I started roadblog101. Yes, on a high very level, it's safe say it's doable mainly because I love writing. If the question is what's so loveable about writing, well, I like pouring out the thoughts because it is such a stress relief. I also love reminiscing the fond memories and put them down in writing. 

Then there's the process of writing itself. The times when I tried to get it right was an inexplicable fun (funny that there's no word to describe it, haha). I just knew it when I nailed it (and it could be something as simple as choosing the words for a sentence) and I love how it felt right. One more thing, and this is just probably me, the blog has been written on a BlackBerry so far. I enjoy the typing experience that keeps me going on and, odd though it may sound, I actually like the clicking sound. The rhythm is so addictive!

Capturing the covers!

But that's like stating the obvious. Today, I'd like to share one lesser known thing that I discovered along the way. The thing with blogging is, it looks dry if it doesn't have any pictures on the blog. There should be at least one. If it was an article about travelling or food, normally I'd have a plenty of photos. But some other topics might not have a relevant picture readily available. That's when I had to come up with one. But since photography is not my forte, more often than not, the results that I like were accidentally created. Here are my all-time favourites and the stories behind the pictures.

The Plastics. 

The first one that I really liked was from a blog post called the Plastics. I knew exactly how I wanted it to look like: the big four, Visa, Master, Amex and Diners would be the foundation whereas the other three would be on top of it. The logos must be visible, but details such as card numbers and names had to be obscured. The problem was I had no idea from which angle the picture should be taken. To make it worst, I was sitting right below the lamp, so it'd always be a shadow regardless how I positioned my mobile phone. Much to my delight, the shadow on the bottom right seemed to blend in seamlessly with the curved shape design on Amex. Loved the final result and it became the cover.

Linda and Siri.

Next one is Linda and Siri. The cover was literally the two of them. One the left was the expressionless Linda (she seldom looked like that, especially for a photo taken at Ajisen Ramen, her favourite restaurant) and on the right was a screenshot of Siri's signature question. It was right on the spot, exactly what I needed for the story that told about how Siri was listening to her while I was being neglectful. Yes, it wasn't my proudest moment, but it did serve as a reminder.

Hotel K.

Of all the pictures that I developed from the scratch, the covers for book reviews were the most difficult ones. I find that there's only so much you can do with books, therefore I love the one from Hotel K the most: it showed the whole book cover, including the author's name, but yet it looked very natural. I normally used BlackBerry, but I remember vividly that the picture was taken using iPhone SE. It was a selfie (and in iPhone I trust), with the iPhone leaning on a laptop screen.

Data Travel Plan.

The one for Data Travel Plan was also one of those happy accidents. Back in the days, I had a habit of keeping the SIM cards that I bought when I travelled. For some strange or probably sentimental reasons, they always went into the plastic bag that I kept inside my passport cover. By the time I wrote the story inspired by Wiwi's question, I remember these cards and scattered them on top of my MacBook. I placed the tray ejector pin as well as my passport there. Once done, I touched it up a bit with Google Snapseed and voila, I got what I needed.

Money.

Google Snapseed is a cool mobile app for photo-editing. I used it again for the subsequent photos. The ones from Money and the Money Game made use of the filters. For the former, I happened to have foreign notes that I kept as mementos. The problem was, after being folded for so long, it wasn't easy to straighten them up, so I brightened up the background instead to mask the curvy look of the notes. As for the latter, I was simply playing with the filters on top of the blurry picture that focused only on the big amount (it was in rupiah, haha) and I liked what I saw.

The Money Game.

I also remember the one from Why You Should Travel Now. I snapped the picture from the top with one hand holding the passports on the floor to keep them as flat as possible, then I imagined how it should look like and cropped it. At the glance, the result appeared like a random stack of passports, but they were carefully laid on top of each other based on certain precision and consideration. My friend Keenan spotted this and asked, "you actually want to show off the Liverpool stamp, right?" He was right!

Why You Should Travel Now. 

Another happy accident would be the one I made for Faith, Dreams and Regrets. I was looking for pictures from my adolescence, 20s, 30s and I selected these three. When I combined them using the Layout app from Instagram and open the result on Snapseed, I noticed that the top half of the picture was rather cool. There was something with the colors of the wall and clouds that I liked. I was contemplating if I should put the words 10s, 20s and 30s on top of each picture, but then decided not to and left it that way.

Faith, Dreams and Regrets. 

Then of course there's this picture of Time magazines. The original idea was to have the picture taken from behind my shoulder and focused on the magazine I was holding, but I wasn't satisfied with the outcome. My wife suggested that perhaps we should do it as if the camera was me staring at the magazine. Still something felt missing. The Time magazine should stand out. That's when I thought of the color pop effect that I always wanted to use. I spent time reading how to do it manually using Snapseed and eventually did it. Loving it!

Time.

So what's the moral of story? Not much, except for me to indulge in the good times I had in the past, haha. I'd always wanted to write something like behind-the-scenes story of roadblog101. Blogging is a complete package of fun. Yes, writing is the main bulk of it, but the creative process of producing the right pictures for the articles could be equally enjoyable, too!


Foto-Foto Di Roadblog101

Tidak terasa sudah lebih dari tiga setengah tahun berlalu semenjak saya memulai roadblog101. Semua ini bisa terjadi karena pada dasarnya saya senang menulis. Jika pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya menarik dari hobi menulis ini, secara singkat bisa dijabarkan seperti ini: saya suka menuangkan apa yang ada di benak saya karena lega rasanya. Selain itu saya juga suka mengenang kembali berbagai masa dalam hidup saya dan mengabadikannya dalam bentuk tulisan. 

Perlu ditekankan pula bahwa proses menulis itu menyenangkan. Ya, prosesnya. Ada suatu kepuasan tersendiri dalam menulis (dan adalah sebuah ironi bahwa kesenangan ini tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata, haha). Ketika menulis, secara naluri saya tahu ketika saya mengerjakannya dengan benar, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti memilih kata yang tepat dalam sebuah kalimat. Satu hal lagi yang unik, dan mungkin ini hanya terjadi pada saya, adalah artikel-artikel yang ditulis dengan BlackBerry. Saya sungguh menikmati pengalaman menulis dengan BlackBerry bukan hanya karena keyboard-nya, tapi juga karena suara irama keyboard-nya. Pokoknya ada yang terasa kurang interaksinya kalau menulis dengan Google Pixel 4 atau MacBook.

Memotret foto!

Apa yang disampaikan di atas mungkin menjelaskan kenapa saya suka menulis, tapi ada lagi satu hal menyenangkan yang mungkin jarang diketahui oleh orang banyak, yang baru saya sendiri sadari setelah mulai blogging beberapa lama. Sebuah artikel itu kurang lengkap kalau tidak disertai foto. Minimal harus ada satu. Jika yang saya kerjakan adalah topik liburan atau makanan, biasanya banyak foto yang tersedia. Namun tidak demikian halnya untuk topik-topik tertentu, jadi saya harus berkreasi menciptakan foto yang sama temanya. Karena fotografi bukanlah spesialisasi saya, terkadang hasil akhir yang saya sukai itu biasanya tercipta karena kebetulan. Berikut ini adalah cerita singkat foto-foto yang saya sukai. 

The Plastics. 

Yang pertama adalah foto dari artikel berjudul the Plastics. Saya tahu pasti apa yang saya mau: Visa, Master, Amex dan Diners berada di bawah sebagai fondasi dan tiga kartu kredit lainnya berada di atas. Logonya mesti terlihat, namun detil seperti angka dan nama harus tersamarkan. Masalahnya adalah, saya tidak tahu dari sudut mana saya harus mengambil foto. Lebih parah lagi, meja kerja saya berada tepat di bawah lampu, jadi di mana pun saya memposisikan handphone saya, akan selalu ada bayangan di hasil foto. Akan tetapi bayangannya ternyata menyatu cukup baik dengan lengkungan di desain kartu Amex. Saya suka hasil akhirnya dan kemudian saya pakai di artikel. 

Linda and Siri.

Yang berikutnya adalah Linda dan Siri. Foto yang saya pakai adalah perpaduan keduanya. Di sisi kiri ada Linda yang memandang kamera tanpa ekspresi (dia jarang terlihat seperti ini, apalagi di foto yang dijepret di Ajisen Ramen, restoran favoritnya) dan di sebelah kanan adalah Siri dengan pertanyaannya yang tepat sasaran. Cocok dengan artikel yang saya tulis tentang Siri yang mendengarkan Linda sementara saya sibuk dengan apa yang saya kerjakan. Ya, ini bukan pengalaman yang membanggakan, tapi foto ini senantiasa mengingatkan bahwa ada kalanya saya lalai sebagai orang tua.

Hotel K.

Dari banyak foto yang saya kembangkan dari berbagai ide yang terpikirkan oleh saya, yang paling sulit itu foto untuk ulasan buku. Tidak banyak kreativitas yang bisa saya hasilkan dari buku, oleh karena itu karya yang menghias artikel Hotel K ini menjadi hasil yang paling memuaskan. Foto ini menampilkan judul dan nama pengarang di sampul buku, tapi memiliki kesan alami. Biasanya saya selalu memotret dengan BlackBerry, namun pada kesempatan ini saya menggunakan iPhone SE. Ini adalah sebuah selfie (dan saya percaya dengan kualitas foto iPhone) dimana iPhone yang saya pakai disandarkan ke layar monitor laptop.

Data Travel Plan.

Selanjutnya adalah foto yang saya pakai di Data Travel Plan. Saat masih era membeli kartu SIM di negara asing yang saya kunjungi, saya memiliki kebiasaan menyimpan kartu yang saya beli. Karena alasan sentimental, kartu-kartu ini selalu saya masukkan ke kantong plastik di belakang sampul paspor saya. Tatkala saya menulis cerita yang terinspirasi oleh pertanyaan Wiwi, saya ingat dengan kartu-kartu ini dan menaburkannya di atas MacBook. Setelah dipotret, saya rapikan lagi dengan Google Snapseed dan jadilah hasil yang saya inginkan. 

Money.

Google Snapseed adalah aplikasi handphone yang praktis dan gampang digunakan untuk mengedit foto. Dua karya untuk artikel Money dan Money Game menggunakan filter dari aplikasi ini. Untuk yang foto Money, saya memiliki beberapa mata uang asing yang saya simpan untuk kenang-kenangan. Masalah dengan uang kertas yang sudah lama dilipat adalah lekukannya. Untuk mengakali hal ini, saya mengatur latar belakangnya seterang mungkin sehingga lekukan di uang kertas tidak terlihat jelas. Untuk foto kedua, saya iseng gonta-ganti filter di foto buram yang hanya fokus pada angka dua ratusan juta (ini dalam rupiah, haha) dan ternyata saya menyukai dua warna yang bertemu di tengah ini.

The Money Game.

Saya juga memiliki kenangan tersendiri dengan foto dari artikel Why You Should Travel Now. Foto ini diambil dari atas dengan satu tangan yang memegang satu sisi paspor supaya terlihat rata hasilnya. Setelah itu, saya membayangkan seperti hasilnya harus terlihat, lalu saya potong sedemikian rupa. Secara sekilas, hasilnya seperti paspor yang ditumpuk secara acak, tapi sebenarnya tiga paspor ini ditumpuk dengan pertimbangan tertentu. Teman saya Keenan menyadari hal ini dan bertanya, "engkau memang mau memamerkan cap paspor Liverpool, bukan?" Jeli juga dia, haha.

Why You Should Travel Now. 

Satu lagi yang tercipta secara tidak sengaja adalah foto untuk artikel Faith, Dreams and Regrets. Saya melihat kembali foto-foto dari usia belasan, 20an, 30an dan saya memilih tiga foto berikut ini. Setelah saya gabungkan dengan aplikasi Layout dari Instagram dan membuka hasilnya di Snapseed, saya lantas menyadari bahwa bagian atas foto terlihat menarik perhatian. Saya suka warna dinding dan langit di foto-foto ini. Tadinya terlintas di benak saya untuk menuliskan angka belasan, 20an dan 30an di atas setiap foto, tapi akhirnya saya batalkan.

Faith, Dreams and Regrets. 

Dan tentu saja saya harus berbicara tentang foto dari artikel tentang majalah Time. Awalnya saya ingin agar foto ini diambil dari belakang bahu saya dan berfokus pada majalah, tapi hasilnya tidak memuaskan. Istri saya lantas mengusulkan bahwa sebaiknya sudut pandang kamera itu diubah seakan-akan saya sendiri yang sedang duduk membaca. Setelah sesi pemotretan selesai, saya rasakan masih ada yang kurang. Harusnya majalah Time terlihat lebih menonjol. Akhirnya saya mencoba efek color pop yang selalu ingin saya gunakan. Saya baca bagaimana caranya membuat efek ini secara manual dengan menggunakan Snapseed dan terciptalah foto di bawah ini.

Time.

Jadi apa sebenarnya moral dari cerita kali ini? Rasanya tidak ada dan saya hanya sekedar berbagi kegembiraan yang saya rasakan saat berkarya, haha. Sudah sejak lama saya ingin menulis tentang latar belakang foto-foto ini. Blogging itu benar-benar satu paket. Ya, memang intinya itu menulis, tapi proses kreatif dalam menciptakan foto-foto yang sesuai cerita juga cukup menyenangkan! 

Friday, July 24, 2020

Thai Food

Thailand is many great things combined into one. It's tourist-friendly, full of smiles and culturally infectious (the Thai greeting of sawasdee krab is irresistible). On top of that, the food is great, too! When I think of Thai food, I automatically recall the fond memory of how delicious it is, even when I don't have anything particular cuisine in mind! Somehow, someway, there is a certain excitement when it comes to meal time in Thailand.

I don't remember much about Thai food in Indonesia, probably because I never had one back then. My first introduction happened in Singapore. As a melting pot of many cultures from around the world, Singapore has a great selection of Thai cuisines, especially at Golden Mile. It certainly has the look and feel of Thailand there!

Thai food for lunch with Nuryani!

My earliest recollection of Thai food was a restaurant at Far East Plaza called Sakura (it has closed down and merged with Nana Thai now). I was with Jimmy Lim, the same friend who introduced sushi to me. Looking back, just because one or two cuisines were served with sweet sour sauce, it didn't mean they were authentic Thai food, but I wouldn't know for sure then! I only knew that the food there was good and I loved it. Then I remember the time my friend Sudarto and I had mango salad as an appetizer around Bencoolen. Now that sounded about right, so whatever that we had after that must be Thai food, haha. 

So what do I like about Thai food? As I wrote about it, I realized that apparently I wasn't as adventurous as I originally thought. In fact, for the past 14 years, I subconsciously stuck with what I already tried and loved best. The list is not long and there are only four, I'm afraid, haha.

Thai basil minced pork rice at centralwOrld, Bangkok.

Thai basil minced pork rice is a personal favourite, but it was like striking a lottery. If I was unlucky, I'd get a plate of burning hot minced pork rice. Otherwise it'd be a tasty meal with the right amount of spiciness. I'm not sure if the basil leaves is edible and I normally pick them away from the meat, but I reckon it is the reason why it tastes so good!

Pad thai at Terminal21, Bangkok.

Then there is pad thai. At a glance, it looks like fried kway teow, but they aren't the same. Pad thai has this tinge of sour taste, probably from lime. I don't know, I'm not an expert here. In Bangkok, it is actually served with a spoonful of sugar at the side of the plate. I don't recall seeing this in Singapore, but it's best eaten with sugar! I like my pad thai sweet!

Tom yum soup in Pratunam, Bangkok.

The signature dish, I believe, is tom yum soup. It's hot, it's sour, it'll spice up your life! I'm not a big fan of food that is both sour and spicy, but I can't resist having tom yum soup with a bowl of rice. It's what I call food temptation! The funny part (or the irony, depends on how you see it) is the fact that our favourite stall in Singapore is manned by Mainland Chinese, not Thai. The restaurant is called Hot Spot, located next to Sim Lim Square. Highly recommended!

Pineapple fried rice at Asiatique, Bangkok.

Then of course, as someone who loves fried rice, I have to talk about the pineapple fried rice. It's brilliant and uniquely Thailand. I noticed that some stalls fry it with raisins and I love the sweet sensation of it. I liked the one at Sultan's Kitchen, but it had closed down for quite some time. Haven't found a worthy replacement yet. Any recommendations are welcome. 

As I mentioned earlier, Golden Mile is a rather interesting place in Singapore. It's very Thai flavoured and the food at Diandin Leluk is nice. But nothing beats the real deal, so go to Bangkok if you can. The culinary is mouth-watering, definitely one of the main tourist attractions there, apart from sightseeing, shopping and partying!

Dinner at Diandin Leluk, Golden Mile. 


Masakan Thai

Thailand adalah sebuah negara dengan banyak pesona. Ramah terhadap turis, penuh senyum dan unik serta memikat pula budayanya (saya sungguh terkesan dengan salam khas yang disertai ucapan sawasdee krab). Selain itu, masakannya pun sedap nian. Bilamana makanan Thai melintas di benak saya, yang terpikir adalah rasanya yang enak. Pokoknya seru kalau sedang berburu makanan di Thailand.  

Saya tidak memiliki kenangan tentang masakan Thai sewaktu tinggal di Indonesia, mungkin karena saya tidak pernah berkesempatan untuk mencicipinya dulu. Saya mulai merasakan nikmatnya masakan Thai di Singapura. Sebagai tempat bertemunya aneka budaya dari berbagai penjuru dunia, Singapura tentu saja memiliki menu masakan Thai, terutama kalau anda pergi ke Golden Mile. Mirip Thailand suasananya!

Makan siang ala Thai bersama istri!

Seingat saya, masakan Thai pertama kali saya coba di restoran Sakura yang berada di Far East Plaza (tempat makan ini sudah tutup dan berubah menjadi Nana Thai sekarang). Saat itu saya bersama Jimmy Lim, teman lama yang juga membawa saya menjajal sushi untuk kali pertama. Kalau saya kenang kembali, hanya karena menunya asam manis, ini tidak lantas berarti bahwa sudah pasti ini adalah masakan Thai yang otentik. Yang saya tahu pada saat itu adalah lezatnya masakan di Sakura. Setelah itu, saya dan Sudarto Bong makan di kawasan Bencoolen. Hidangan pembukanya adalah salad mangga, jadi sepertinya sudah pasti bahwa menu berikutnya adalah masakan Thai, hehe. 

Jadi apa yang saya sukai dari masakan Thai? Saya pikir ada banyak yang saya sukai, namun setelah saya coba tulis ceritanya, ternyata saya bukanlah pemberani dalam hal icip-icip. Selama 14 tahun ini, saya cenderung memesan menu yang itu-itu saja. Daftar masakan Thai favorit saya ternyata cuma ada empat menu, haha.

Nasi babi cincang daun kemangi di centralwOrld, Bangkok.

Yang pertama adalah nasi babi cincang daun kemangi. Saya suka ini, tapi terkadang menu ini terasa seperti membeli lotere. Setiap tempat beda pedasnya. Ada yang luar biasa membara, ada pula yang pas di lidah. Saya tidak tahu apakah kemangi bisa dimakan dan biasanya saya pisahkan dari dagingnya, tapi mungkin daun ini adalah rahasia kenapa menu ini sedap rasanya.

Pad thai di Terminal21, Bangkok.

Kemudian ada lagi yang disebut pad thai. Secara sekilas, pad thai ini mirip kwetiau goreng. Serupa, namun tidak sama. Pad thai memiliki sedikit rasa asam yang mungkin berasal dari jeruk nipis. Saya hanya menerka, karena saya bukan pakar. Di Bangkok, pad thai biasanya disajikan dengan sesendok gula pasir di samping piring. Saya tidak pernah melihat penyajian seperti ini di Singapura, namun saya rasa pad thai enak dimakan bersama gula. Saya suka rasanya yang manis!

Tom yum sup di Pratunam, Bangkok.

Yang khas dan tidak asing lagi adalah sup tom yam. Pedas dan asam, rasanya pasti membangkitkan selera! Saya biasanya tidak suka kombinasi pedas dan asam, tapi saya siap menyantap semangkok tom yam dan sepiring nasi. Terlalu menggoda rasanya! Satu hal yang lucu (atau ironis, tergantung sudut pandang) adalah kedai favorit yang sering saya dan istri kunjungi di Singapura. Kedai ini dikelola oleh orang Cina Daratan, bukan orang Thai, hehe. Restoran yang berada di samping Sim Lim Square ini bernama Hot Spot. Layak dicoba!

Nasi goreng nenas di Asiatique, Bangkok.

Dan... sebagai pencinta nasi goreng, saya harus berbicara tentang nasi goreng nenas. Ini yang unik dari Thailand, biasanya digoreng dengan kismis sehingga ada sensasi manis. Saya suka nasi goreng nenas yang dijual orang Thai di Sultan's Kitchen, namun sayang sudah tutup. Belum ketemu penggantinya. Kalau ada yang tahu, jangan segan untuk merekomendasikan pada saya. 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Golden Mile adalah tempat yang bernuansa Thai di Singapura. Anda boleh coba restoran bernama Diandin Leluk. Akan tetapi seenak apa pun masakan Thai di Singapura, masih lebih sedap lagi kalau kita makan langsung di Thailand, jadi anda harus coba ke Bangkok. Wisata kuliner adalah salah satu atraksi utama di sana, selain daerah wisata, berbelanja dan dunia malam!

Makan malam di Diandin Leluk, Golden Mile. 

Monday, July 13, 2020

Interests

Something lingered in my mind right after the lunch with my wife. Earlier today, we talked about quite fair bit of things, ranging from GE2020 to the recent impact of COVID-19 in Vietnam (the workers were laid off) and Hong Kong (the schools closed down again). Politics, economy and education. All the adult stuff! To think that these weren't exactly my interests, let's say 15 years ago!

Then it occured to me that the changes had much to do with everything that came along as I grew older, be it the exposure, the experience or even the ability to do something about it. Certain things in life did shift in such a manner, apparently. Some came, some stayed and others simply faded away. We might be blissfully unaware of this, but as we progressed in life, we started having new interests.

Eating bread! The time when I was working in Jakarta. 

For example, years ago, when I was still working in Jakarta, I wouldn't understand why people love travelling. In hindsight, it wasn't difficult to see why. At that time, I barely made ends meet. Every night, my immediate concerns were whether I should to go for pecel lele and two plates of nasi uduk that would cost me IDR 8K or settle for a cheaper meal such as fried rice or ketoprak

Having said that, holiday was like the furthest thing from my mind. It must be a miracle that I managed scrimp and save for short trips to Bandung and Bali, but most of the time, I didn't even think of travelling. It was only later on, after I moved to Singapore, that things were gradually improving and eventually travelling as a hobby was made possible. Loving it since then.

When we stayed together in Kembangan. You gotta pardon the low resolution!

Anyway, my friend Jimmy once said that life is like staying at a flat. The higher the level of your unit is, the wider your view will be. It is a good analogy that I can relate with. The bottom line is, I began noticing things that were always there before and became interested in them. It turned out that it just happened this way seamlessly, when we were ready for it. Kind of amusing, I'd say. 

The latest thing that I picked up recently was investment. To be frank, I was horrible with numbers and normally I wouldn't bother. But then I discovered the good feeling about it. No, I wasn't talking about stocks as it was confusing. Property was way too much of a hassle and costly. No money game for me, too. What caught my attention was physical gold. It was a friendly investment and a beginner didn't need to be bloody smart or to start big.

Bye-bye, gold bar. 

Another close friend of mine had been telling me about this since long ago, but I only discovered how right he was recently. Making a few hundred dollars from selling a gold bar did feel good, haha. Now that I think of it, perhaps this is the reason why a generation before me preferred to buy gold. They were wise. The precious metal is nice to look at and the price generally goes up, so it sounds like a good deal, doesn't it?

To summarize, it's funny how our interests evolve as we age, but I guess life, in a way, is also series of discoveries. New ones bring us one step further ahead while the existing ones continue to define who we are. Oh yes, certain things do remain. For me, the oldest lifelong interest is probably Godzilla. Call me childish if you like, but the King of Monsters is here to stay, hahaha...


Topik Dan Minat

Ada sesuatu yang terngiang-ngiang di benak saya setelah makan siang bersama istri. Di saat bersantap, kita berbicara tentang berbagai topik, mulai dari Pemilu 2020 di Singapura sampai dampak dari COVID-19 di Vietnam (para pekerja di-PHK) dan Hong Kong (sekolah kembali ditutup lagi). Kita bercakap-cakap tentang politik, ekonomi dan pendidikan. Semuanya topik dewasa! Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang kita bicarakan ini bukanlah hal yang menarik bagi saya 15 tahun silam. 

Lantas terpikir oleh saya bahwa perubahan bahan pembicaraan ini ada hubungannya dengan bertambahnya usia. Semakin berumur, semakin kita melihat banyak hal, kian berpengalaman dan bahkan mungkin bisa melakukan lebih banyak hal dari sebelumnya. Beberapa hal di dalam hidup kita ternyata berubah tanpa kita sadari. Ada hal yang baru, ada yang tetap sama, ada pula yang pudar dan hilang.

Makan roti tawar sewaktu kerja di Jakarta. 

Sebagai contoh, bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih tinggal di Jakarta, saya heran kenapa orang suka berlibur. setelah melihat kembali, tidak sulit bagi saya untuk mengerti, kenapa dulu saya gagal paham. Pada masa itu, saya baru mulai bekerja. Tiap malam terjadi pergumulan di dalam hati, apakah saya bisa menikmati kemewahan berupa dua piring nasi uduk dan lauk pecel lele dengan total harga delapan ribu rupiah, atau menyantap makan malam yang lebih murah seperti nasi goreng atau ketoprak

Jadi untuk makan saja susah, apalagi liburan. Adalah mukjizat bahwa saya bisa menyisihkan uang untuk liburan singkat ke Bandung dan Bali. Pokoknya saat itu tidak terpikir untuk liburan. Setelah saya pindah ke Singapura dan kondisi finansial menjadi lebih baik dari sebelumnya, barulah liburan itu terasa tidak mustahil. Semenjak itu saya jadi senang bepergian.

Ketika kita tinggal di Kembangan, Singapura. Maaf atas gambar yang buram, hehe.

Berkaitan tentang hal ini, teman saya Jimmy pernah berkata bahwa hidup itu seperti tinggal di rumah susun. Semakin tinggi tempat tinggal anda, semakin jauh pula anda bisa memandang, sebab pandangan anda tidak lagi terhalang oleh gedung yang lebih rendah. Ini adalah perumpamaan yang bisa saya cerna. Istilahnya itu seperti sudah naik tingkat, jadi saya pun mulai memiliki waktu dan kesempatan untuk memahami hal-hal lain yang sebenarnya senantiasa ada di sekeliling saya. Ternyata ini adalah sebuah proses yang terjadi begitu saja, ketika kita sudah siap. 

Nah, satu pengalaman baru yang terjadi belum lama ini adalah investasi. Jujur saja, saya tidak pandai di bidang yang berkaitan dengan banyak angka, sehingga biasanya saya menjauh. Akan tetapi saya menemukan satu hal yang membuat saya senang. Tidak, saya tidak berbicara tentang saham yang rumit dan memusingkan. Properti juga tidak gampang dan mahal pula biayanya. Kalau permainan uang, terus-terang saya tidak tertarik. Yang membuat saya tergelitik adalah emas. Investasi ini terasa bersahabat dan seorang pemula tidak perlu bermodal besar.

Bye-bye, batang emas. 

Seorang teman baik telah sejak lama bercerita tentang hal ini kepada saya, namun saya baru menyadarinya bulan lalu. Seperti yang saya katakan di atas, senang rasanya bisa memperoleh keuntungan beberapa juta rupiah dari hasil penjualan sebatang emas, haha. Sekarang saya mengerti kenapa generasi sebelum saya memilih untuk membeli emas. Mereka memang bijaksana. Emas itu sedap dipandang mata dan harganya cenderung naik terus, jadi memang sepertinya ide yang bagus, bukan?

Sebagai kesimpulan, lucu juga bahwa minat kita berubah seiring dengan bertambahnya usia. Dalam hal ini, saya kira hidup ini seperti penemuan demi penemuan di setiap jenjang kehidupan. Minat yang baru membawa kita selangkah lebih maju, sedangkan minat dari sejak dulu mendefinisikan siapa jati diri kita sesungguhnya. Oh ya, beberapa minat saya tetap bertahan selama 40 tahun terakhir ini. Satu hobi saya yang paling lama, yang saya sukai dari sejak kecil hingga sekarang, adalah Gozilla. Anda boleh saja anggap saya kekanak-kanakan, tapi Godzilla akan tetap menjadi idola, hahaha...

Saturday, July 11, 2020

Book Review: Harry Potter And The Philosopher's Stone

It's been 20 years. Can you believe it? 20 long years, which means a generation that was born right after the book was released is 20 years old now. And they might not know a thing about Harry Potter. Oh, they wouldn't know what they had missed!

I remember buying my first Harry Potter book. It must be around year 2000. I bought it at a book store called Budaya in Pontianak after hearing the good buzz about it. The first book was called Harry Potter dan Batu Bertuah in Bahasa Indonesia. I was immediately hooked!

I read the English version for the first time ever recently. Since I know now how the story ends, I couldn't help wondering what J. K. Rowling was thinking when she wrote the one that started all. She wouldn't know that it would be a phenomenon, but those names, those familiar names such as Sirius Black, were there since the beginning. Did she already planned for him to be Harry's godfather then?

The 20th anniversary - Gryffindor edition.

20 years are such a long time and I had forgotten a lot of details in the book. It was fun to rediscover the magical world of Harry Potter again: Platform 9 3/4, Hogwarts, Quidditch and many more. For one who was there when the series was first released, it was like going back to something familiar that you know and love. 

Every character, from the Dursleys, Draco Malfoy to Albus Dumbledore, was so important and relevant. But now that I had a chance to look back, I believed that the most fascinating character was Severus Snape. He was so despicable! He disliked Harry, but yet he would protect him at all cost. As a character, he was misunderstood and mysterious at the same time. That's what made him interesting. Anyway, if you haven't read Harry Potter before and you feel confused about what I said, I can only tell you that there was a good reason why Dumbledore trusted him so much. 

Overall, it was a a nice beginning that brought us Harry Potter and it'd only get better as the series progressed. What's lovely about the book is the fact that it was so readable. I'd think, "probably one more chapter," but I'd never stop and continue reading! You don't get this feeling very often. Not even when reading the Lords of the Rings! So, yeah, good stuff. Six more books to go...

The actual platform in London!


Harry Potter Dan Batu Bertuah

Sudah 20 tahun berlalu. Tidak terasa, ya? 20 tahun, berarti generasi yang lahir setelah buku pertama ini terbit sekarang berumur 20 tahun. Bisa jadi mereka tidak tahu tentang Harry Potter. Oh, kalau saja mereka tahu fenomena seperti apa yang terlewatkan oleh mereka! 

Saya ingat saat saya membeli buku Harry Potter yang pertama. Saat itu kisaran tahun 2000. Setelah saya mendengar tentang hebohnya buku yang berjudul Harry Potter dan Batu Bertuah ini, saya pun membelinya di Toko Buku Budaya di Pontianak. Seusai saya baca, saya langsung menjadi penggemar!

Bulan lalu saya membaca edisi bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Karena saya sudah tahu bagaimana akhir dari cerita ini, saya jadi terbayang, apa sebenarnya yang ada di benak J. K. Rowling saat dia menulis buku pertama Harry Potter. Waktu itu dia tidak mungkin tahu bahwa novelnya ini akan menjadi sebuah maha karya, tapi nama-nama yang dipakainya, nama seperti Sirius Black, sudah ada di awal cerita. Apakah saat itu dia sudah merencanakan bahwa Sirius akan menjadi ayah angkat Harry di buku ketiga?

20 tahun Harry Potter - edisi Gryffindor.

20 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat saya lupa akan detil cerita di buku pertama. Seru rasanya saat menemukan kembali ajaibnya dunia Harry Potter, mulai dari Platform 9 3/4, Hogwarts, Quidditch dan masih banyak lagi. Bagi saya yang mengikuti kisahnya dari sejak awal diterbitkan, rasanya seperti mengenang kembali saat-saat yang indah dan tidak asing lagi.

Setiap karakter, mulai dari keluarga Dursleys, Draco Malfoy sampai Albus Dumbledore, penting dan relevan di dalam cerita. Kendati begitu, karena saya kini memiliki kesempatan untuk melihat kembali ceritanya, saya merasa bahwa yang paling membuat penasaran adalah Severus Snape. Dia begitu sinis dan menyebalkan. Dia juga tidak menyukai Harry, tapi dia selalu melindunginya secara diam-diam. Dia adalah tokoh cerita yang paling sulit dipahami dan misterius. Jika anda belum pernah membaca Harry Potter sebelumnya dan anda merasa bingung dengan pernyataan saya, maka perlu saya katakan bahwa ada alasan tersendiri kenapa Dumbledore begitu mempercayainya. 

Secara keseluruhan, buku pertama ini memperkenalkan kita kepada Harry Potter dan dunia sihir yang menakjubkan. Hal lain yang juga patut dipuji adalah cara penulisannya yang enak dibaca. Saya senantiasa berpikir bahwa saya akan berhenti setelah membaca satu bab berikutnya, tapi saya jadi terus membaca tanpa henti! Keasyikan membaca seperti ini tidak ditemukan di setiap buku. Bahkan Lords of the Rings yang legendaris pun tidak seseru ini. Pokoknya mantap. Masih ada enam buku lagi. Saya akan terus membaca!

Sunday, July 5, 2020

Laughter

Let's go for something light today: laughter. While I don't think I ever used the acronym lol intentionally, I have been laughing out loud frequently. I dare say that all my life, I have been a cheerful person. However, I didn't always know how quirky my sense of humour could be sometimes.  

For some strange reasons, I could always sense something funny, even when the situation couldn't get worse. I appreciate jokes, but it turned out that some weren't meant to be funny. They could just be something desperate that sounded hilarious and I'd be laughing at a wrong time. 

It was my friend Bernard that pointed out this to me. We worked together in the previous company and we were in a serious meeting back then with our boss, a colleague from Compliance Department and our Managing Director (MD). Apparently we had a timeline to meet and our boss was cornered into forming an IT committee for this project. He seemed oblivious to this initiative and needed to say something to save his ass, so he named the committee members on the spot. The MD was surprised and he curiously asked, since when the committee was formed. That's when my boss said, "now."

Upon hearing that, the MD was taken aback as I burst into laughter. I couldn't help it. The whole thing was like a comedy scene adapted from Stephen Chow movies. How on earth could respectable people from management level such as my boss bluff his way through like that? What a joker. That was probably the first time I ever saw the ugly side of management.

When the meeting was over, Bernard took me aside and explained to me that funny though it was, I shouldn't laugh like that in a formal meeting. He was right, of course. I could have gotten into trouble for what I perceived as innocent laughter. I mean, all this while, I never wasted a good joke, but it never occurred to me that other people might not appreciate being laughed at, especially those who didn't mean to be funny at all.

Since then, I tried and managed to have a decent self-restraint. I still let out a chuckle or two in the meeting, but hey, that's the best I can do, haha. The moral of the story is, happiness does come from inside (don't let others tell you otherwise) and it's good to laugh out loud, but perhaps not to the extent of offending others...

Laughing out loud! When we were in the previous company!


Tawa

Mari kita berbicara tentang topik yang ringan hari: tawa. Walau saya hampir tidak pernah menggunakan singkatan lol, saya sering tertawa terbahak-bahak. Saya bahkan berani mengatakan bahwa saya tergolong orang yang ceria. Kendati begitu, ada suatu ketika dimana saya tidak menyadari bahwa selera humor saya itu agak aneh.  

Saya tidak pernah memahami hal ini sepenuhnya, namun entah kenapa saya selalu bisa melihat sisi lucu dari banyak hal, bahkan di situasi yang buruk sekalipun. Saya senantiasa tertawa, meski  sesuatu yang jenaka itu sebenarnya merupakan sesuatu yang spontan dan orang yang mengucapkannya tidaklah bermaksud untuk melucu. Alhasil saya pun tertawa di saat yang tidak tepat. 

Adalah teman saya Bernard yang memberitahukan saya tentang hal ini. Di waktu itu kita sedang rapat bersama pimpinan IT, Managing Director (MD) dan juga seorang kolega dari departemen Compliance. MD mengatakan bahwa kita harus menyelesaikan sebuah proyek dalam tenggang waktu yang sudah ditentukan dan pimpinan saya diminta untuk membentuk komite IT khusus untuk proyek ini. Bos saya menjadi gelagapan karena dia sepertinya tidak tahu-menahu akan proyek ini, namun dia harus mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan gengsinya, jadi dia pun asal sebut dan mengumumkan nama para anggota komite pada saat itu juga. MD tampak terkejut dan lantas bertanya, kapan sebenarnya komite ini dibentuk. Dan bos saya pun menjawab, "barusan!" 

Saat mendengar jawab tersebut, MD saya tersentak kaget dan saya sendiri langsung tertawa geli. Pokoknya benar-benar tidak tahan. Apa yang baru saja saya saksikan persis seperti adegan dalam film Stephen Chow. Bagaimana mungkin orang dalam posisi manajemen seperti bos saya mengarang bualan di depan MD? Benar-benar kocak. Ini adalah mungkin pertama kalinya saya melihat sisi gelap dari manajemen. 

Seusai rapat, Bernard memanggil dan menjelaskan pada saya bahwa selucu apa pun adegan tadi, seharusnya saya tidak tertawa di dalam rapat. Perkataannya sungguh benar, sebab saya bisa mendapat masalah karena tertawa tergelak-gelak seperti ini. Ya, memang saya tertawa karena tergelitik oleh sesuatu yang jenaka, tapi tidak terpikirkan oleh saya bahwa orang lain mungkin tidak senang ditertawakan, apalagi kalau mereka memang tidak bermaksud untuk melucu. 

Semenjak itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan diri. Ada kalanya saya masih tertawa kecil atau menahan senyum, tapi itu yang terbaik yang bisa saya lakukan, haha. Moral dari cerita adalah, benar bahwa kegembiraan itu datangnya dari dalam hati dan lega rasanya bisa tertawa lantang, tapi mungkin jangan sampai menyinggung orang lain, hehe...

Saturday, June 27, 2020

The Grand Plan

When I thought of writing this, the topic felt strangely familiar. True enough, after checking, I realized that I had talked about this before in the Chronicler, the Impresario. It basically about the events I'd organized before. 

This 1-week-old inspiration came from my friend Ardian. He posted a picture of all the game consoles since Atari in the chat group and I did a similar thing right after that by posting a picture of high school events that happened since the reunion in 2014. He missed out all, haha, but that's not the point. What intriguing was, after I did that, I recalled the stories behind the picture.

Once again, this one is not about the past events. It's more about how they became the events. Oh yes, they all started the same way. Before an event happened, it was once an idea that often sounded too bizarre or simply just a joke. If I heard of it, I might go, "haha, what?" But that's when I knew I was onto something.

Once upon a time in Japan.
Photo by Evelyn Nuryani.

The key is to let the idea, regardless how ridiculous it ever was, sink in. Case in point was Parno's idea of going to Japan with only IDR 10 million. It was hilarious when he said it. I remember making fun of it when I boarded bus 371, but half way home, when I had enough time to digest it, I was touched by the fact Parno was brave enough to dream about it. I planned for a Da Nang trip with high school friends earlier this year, but it was canned thanks to COVID-19, so I thought, let's make this one happen instead. It must be fun to travel with Parno again at the age of 40.

And so I began campaigning relentlessly for the trip to Japan in March 2021. I've done this activity many times and I know the drill quite well. You said it once and people would laugh at you, mostly because they never thought it was going to happen. But you meant it like you believed in it and you said incessantly, then people would start to think that it might be possible. They just had to hear it often enough to subconsciously think it was probably a doable idea. 

In this particular case, we were from a small town and Japan was beyond our reach mainly because it was so far away and expensive. The mindset had been like that for the longest time and it wasn't going to change overnight. It took some persuasion, or rather a daily dose of me mentioning anything about Japan, to make them receptive to the idea (or feel sick about it, haha). Once they started accepting that going to Japan wasn't just a dream but something closer to a day in the life, then it could happen. And I didn't just made this up. The same mantra worked for me and since I'm one of the people from Pontianak, I reckon it would work for them, too.

In all honesty, will we really make it with just IDR 10 million? May be. Never say never. But part of the fun is planning and having a laugh about it. We can always adjust somewhere a long the way, right? But without a plan, we wouldn't even have anything to look forward to! So there you go, one budget trip to Japan, coming up. Itinerary with cheap and probably free tourist spots will be available in October.

The events from 2014 to 2018.



Sebuah Rencana

Ketika saya berpikir untuk menulis tentang topik ini, entah kenapa rasanya tidak asing lagi. Ternyata benar. Setelah saya cek, ternyata saya sudah pernah bercerita tentang hal ini di the Chronicler, the Impresario. Setahun yang lalu, saya membahas tentang acara-acara yang pernah saya pelopori di grup SMA. 

Inspirasi berumur seminggu ini dipicu oleh teman saya Ardian. Saat itu dia mengunggah foto semua perangkat game sejak Atari ke grup WhatsApp dan saya lekas meniru hal serupa dengan kumpulan foto-foto acara teman-teman SMA yang dimulai sejak reuni di tahun 2014. Dia tidak pernah hadir dalam satu acara pun, haha, tapi bukan itu intinya. Yang membuat saya tergerak untuk menulis adalah cerita yang melatarbelakangi semua acara tersebut.  

Sekali lagi, ini bukan tentang acaranya, melainkan tentang asal mula sebuah acara. Boleh dikatakan pola kejadiannya senantiasa sama. Semuanya berawal dari sebuah ide yang konyol dan lebih menyerupai lelucon. Bagi saya pribadi, jika ada yang membuat saya tergelitik sampai saya ulang-ulang, biasanya itu nanti menjadi landasan dari sebuah rencana.

Suatu ketika di Jepang.
Foto oleh Evelyn Nuryani.

Kuncinya adalah membiarkan ide konyol itu diresapi secara perlahan-lahan. Baru-baru ini yang kita bahas adalah impian Parno untuk ke Jepang dengan modal 10 juta. Saya tertawa geli saat menaiki bis 371 sambil membaca apa yang dia tulis, namun ketika saya sudah setengah jalan pulang ke rumah, ide itu terasa mungkin untuk dikerjakan. Saya merasa terinspirasi oleh fakta bahwa Parno berani untuk bermimpi. Saya sendiri tadinya merencanakan liburan ke Da Nang bersama teman-teman SMA, tapi rencana ini bubar sudah karena COVID-19. Jadi saya lantas berpikir, bagaimana kalau kita wujudkan impian ini saja? Pasti lucu kalau bertualang bersama Parno lagi di umur 40.

Lalu saya mulai berkampanye tentang liburan ke Jepang di bulan Maret 2021. Saya sudah sering melakukan aktivitas ini dan paham respon seperti apa yang saya terima. Orang lain akan tertawa saat pertama kali mendengarnya. Ini karena mereka tidak yakin bahwa ini akan terjadi. Tapi katakanlah dengan sungguh-sungguh setiap hari. Yang mendengar pasti lambat-laun berpikir bahwa ide ini bukanlah mustahil. Kadang kita hanya perlu mendengarnya berulang-ulang sampai kita tanpa sadar mulai percaya bahwa sepertinya ide ini bisa dilaksanakan. 

Dalam konteks ini, kita adalah orang dari kota kecil dan Jepang itu sepertinya tidak terjangkau karena terasa begitu jauh dan mahal. Pola pikir ini sudah tertanam dari sejak lama dan tidak akan berubah dalam waktu semalam, jadi memang perlu seseorang persuasif untuk membuat orang lain menerima ide ini (atau muak dengan celotehan yang diulang-ulang, haha). Begitu pendengar mulai merasa bahwa pergi ke Jepang bukanlah sekedar mimpi, melainkan sesuatu yang biasa seperti aktivitas sehari-hari, maka acara ini mulai mungkin untuk diwujudkan. Dan saya tidak sekedar mengada-ada. Teori yang sama membuat saya mewujudkan banyak hal dan karena saya juga berasal dari Pontianak, saya rasa teori ini juga bisa membantu yang lain.  

Sesungguhnya, apakah mungkin bahwa kita bisa ke Jepang hanya dengan uang 10 juta? Saya tidak tahu pasti, tapi yang lebih penting dan seru adalah membuat rencana dan tertawa bersama-sama sambil mewujudkan rencana tersebut. Bila ada rintangan, kita selalu bisa melakukan penyesuaian rencana, bukan? Tapi tanpa rencana, maka sudah pasti tidak ada acara yang menunggu kita di masa depan. Jadi, mari buat satu rencana ke Jepang dengan anggaran rendah! Rute perjalanan dengan tempat wisata yang murah atau bahkan gratis akan dirilis di bulan Oktober!

Acara-acara dari tahun 2014 sampai 2018.

Sunday, June 21, 2020

A Taste Boutique

This story began with Wiwi, a fellow high school friend that I got to know since WhatsApp era. Out of the blue, she suddenly asked, if she interviewed a baker, could I write the story? I was stunned when I saw the request. Roadblog101 had been around since 2017, why would she ask now? Was she inspired by the slogan Malaysia Boleh? But, hey, since Roadblog101 had a motto, "because we, the commoners, have stories to tell," I was more than happy to oblige.

Wiwi then sent me the result. It turned out that our interviewee, a friend of Wiwi, happened to be an Indonesian originally from Jakarta and she's now living in Malaysia. Her name is Imelda, better known as Imel, a a wife and a mother of two.


Every story gotta start somewhere and hers began from a kitchen fulls of ingredients and baking tools. Excitement was in the air, so inspiring that she gotta do something about it! Then, after measuring the flour, mixing it with eggs, checking the oven temperature, baking the cake batter and decorating the outcome, she found the whole process oddly satisfying. Yes, even her baking took a wrong turn and produced a disastrous result, it was fun! Gradually, what started as a hobby she did during her leisure time evolved into a profession she was known for. 

Her first cake was sold some time in 2001. A Taste Boutique, her bakery shop, came afterwards. It was aptly named for it's a place where she displays the finely crafted cakes. They are limited editions. None ever looked the same for each was made with love and background story that was uniquely its own. A taste of elegance in a form of cakes.


In reality, the business is exactly that. Customers come in with all sorts of requests. Imel has been this field long enough to be able to tell what she can or can't deliver. She would be upfront, which meant she'd try her best but wouldn't overpromise. She'd also go the extra mile by literally going to fix the cake if it was somehow damaged. By the end of the day, the happy smile of the customers was a reward by itself for all the efforts she gave them.

Now, just for illustration here, how complicated a cake business could be? Or rather, how ridiculous a customer's request could be? As far as I could remember, the most conventional cakes these days could look like a box of Rolex watch or came with tiny horses from My Little Ponies. I'm sure you'd also seen cakes where you could pull money out of them. Gone were the days when a cake just had few words carved on top of it. It's a more challenging time now.


Wiwi asked an interesting question in this regard. Even when someone could bake, it didn't mean they could decorate. A rather solid point of view, I'd say, but our baker begged to differ. She wisely believed that even an expert was once a beginner. In her opinion, it was like learning how to ride a bike. You just had to try and try again. Then the discussion went on to the next level: buttercream or fondant icing? According to Imel, both were equally fun for each was characteristically different. I'm not going to pretend that I understand all this, but I agree that both are delicious.

Since we are living in the instragammable era, Imel did share that social media does make things easier for her to promote her cakes. Customers could also reach her easily via social media (try searching for a taste boutique on Instagram). However, she didn't discount the need of having a boutique, because, "what if somebody needs a cake urgently? Or if someone simply craves for it?" A valid opinion!


And eventually the conversation would go back to the fact that she's a wife and a mother. How does Imel manage her time? For our baker, the keyword is must. What must be done first? If it's not a must, then it can be done later. She'd go through the whole day with that in mind, so she'd take care of her family first, then the cake business. Yes, it's not easy to practice this approach in a real life situation, but it does help to have right mindset. 

Imel is proud of being a Mum. To quote her words, "dedicating one's life just for family is super noble and it is a blessing that not many can treasure." But that idealistic thought aside, she totally agrees that it's beneficial for everyone to be financially independent. Now that's one smart, realistic woman, isn't she? 

Yet one can't be a business woman without being asked about the definition of success. When it comes to this, Imel is quite clear that successful women are those who manage to balance things in life while working towards their goals. What she didn't know was, perhaps, how inspiring she was to her friends. Yes, on top of what she's been doing, she is also a great friend that will support others all the way, be it morally, financially or simply by spending time with friends who are in need. Wiwi told me that Imel reminded her a modern-day personification of those strong women in the Bible, but I'd rather go with something less biblical and more down-to-earth: she does sound like a lovely person indeed!



A Taste Boutique 

Cerita kali ini dimulai oleh Wiwi, teman SMA yang saya kenal sejak era WhatsApp. Mendadak dia bertanya, jika dia mewawancarai seorang pemanggang kue, apakah saya bersedia menulis ceritanya? Saya tertegun saat membaca permintaannya. Roadblog101 sudah muncul sejak tahun 2017, kenapa baru sekarang dia bertanya? Apakah dia terinspirasi oleh slogan Malaysia Boleh? Akan tetapi, karena moto Roadblog101 adalah, "setiap orang biasa memiliki cerita," saya dengan senang hati menurutinya. 

Wiwi lantas mengirimkan hasilnya. Ternyata yang diwawancarai itu adalah temannya, sesama orang Indonesia yang berasal dari Jakarta dan sekarang berdomisili di Malaysia. Namanya Imelda, biasa dipanggil Imel, seorang istri dan ibu dengan dua anak.


Setiap cerita ada permulaannya dan kisah Imel berawal dari dapur yang penuh bahan dan peralatan memanggang kue. Ada kegembiraan tersendiri saat berada di dapur dan perasaan ini mendorongnya untuk berkreasi. Imel pun mencoba menakar tepung, kemudian dicampur dengan telur dan dikocok. Setelah oven siap, adonan pun dipanggang dan hasilnya dekorasi. Ternyata ada rasa puas setelah semua itu dikerjakan. Ya, meskipun terkadang adonannya gagal dan kuenya bantat, hati tetap terasa senang. Perlahan-lahan, apa yang dimulai sebagai hobi pun berubah menjadi sebuah profesi. 

Kue pertamanya terjual di tahun 2001. A Taste Boutique, toko kuenya, dibuka tidak lama setelah itu. Bila anda penasaran dengan nama tokonya, ini karena butik adalah etalase bagi kue-kue yang dibikin olehnya. Semua karyanya ini adalah edisi terbatas. Tidak ada yang persis sama karena setiap kue memiliki cerita tersendiri. Semuanya adalah selera elegan yang menjadi nyata dalam bentuk aneka kue.


Dan bisnis kue adalah persis seperti yang dijabarkan di atas. Para pelanggan datang dengan berbagai permintaan. Imel sudah berkecimpung di bidang ini cukup lama sehingga ia tahu apa yang bisa dan tidak bisa ia ciptakan. Dia akan sampaikan apa adanya kepada pelanggan, bahwa dia akan mencoba, tapi tidak menjanjikan sesuatu yang mustahil untuk dikerjakan. Komitmennya juga luar biasa. Dia bahkan rela pergi memperbaiki kue yang rusak dalam perjalanan, asalkan terjangkau tempatnya. Pada akhirnya, senyum puas pelanggan adalah harga yang sepadan untuk jerih-payahnya.

Seberapa rumit bisnis kue ini sebenarnya? Sesulit apakah permintaan dari pelanggan? Sejauh yang bisa saya ingat, kue-kue sekarang dirias sedemikian rupa sehingga ada menyerupai sekotak jam tangan Rolex atau ada pula yang disertai dengan aneka kuda mungil dari serial My Little Ponies. Saya juga yakin bahwa anda pun pernah melihat kue yang bisa mengeluarkan gulungan uang. Ya, di masa kini, kue ulang tahun tidak lagi sekedar ditulis nama. Bentuknya lebih menantang sekarang.


Wiwi lalu menanyakan tentang hal ini. Katakanlah misalnya seseorang bisa memanggang kue, tapi ini tidak lantas menjamin bahwa orang yang sama bisa merias kue. Ini sudut pandang yang masuk akal, tapi pakar kue kita ini memiliki pendapat lain. Dia percaya bahwa yang namanya seorang ahli itu pada awalnya juga merupakan seorang pemula. Prinsipnya seperti naik sepeda. Anda hanya perlu mencoba dan mencoba terus. 

Kemudian diskusi Wiwi dan Imel pun berlanjut: lebih enak merias krim mentega atau fondan? Menurut Imel, dua-duanya menarik karena masing-masing memiliki karakteristik tersendiri dan hasil akhir yang berbeda. Saya tidak akan berpura-pura mengerti tentang apa yang mereka bicarakan, namun saya setuju bahwa krim mentega dan fondan memang lezat, haha.


Kita sekarang hidup di era Instagram dan Imel juga bercerita bahwa media sosial sangat membantu dalam hal promosi. Pelanggan pun jadi mudah menghubunginya (anda bisa cari a taste boutique di Instagram). Walaupun demikian, dia memiliki pandangan bahwa toko kue masih tetap dibutuhkan. "Bagaimana jika pelanggan membutuhkan kue secara mendadak? Atau ingin menikmati kue pada saat itu juga?" Masuk akal juga! 

Dan akhirnya percakapan pun kembali lagi ke fakta bahwa dia adalah seorang istri dan ibu. Bagaimana caranya membagi waktu? Bagi Imel, kata kuncinya adalah harus. Apa yang harus dikerjakan dulu? Jika tidak harus, maka bisa dikerjakan nanti, bukan? Imel melewati hari-harinya dengan prinsip ini, jadi keluarga adalah prioritas, baru bisnis kue. Ya, memang tidak mudah pelaksanaannya, tapi sudut pandang ini sangatlah membantu.


Lebih lanjut lagi, Imel bangga menjadi seorang ibu. Mengutip kata-katanya, "mengabdikan hidup untuk keluarga adalah hal yang mulia dan merupakan berkat yang sering tidak dihargai oleh mereka yang berkesempatan untuk melakukannya." Kendati begitu, dia juga setuju bahwa memiliki kebebasan finansial adalah hal yang sangat baik. Pintar dan realistis, ya? 

Dan sebagai orang bisnis, satu hal yang wajib untuk ditanyakan padanya adalah bagaimana ia mendefinisikan kesuksesan. Imel berpendapat bahwa wanita sukses itu adalah mereka yang bisa menjalani hidupnya secara seimbang dalam peranannya sebagai ibu rumah tangga dan pemilik usaha tanpa kehilangan fokus dan tujuannya. 

Imel tahu pasti apa yang dia kerjakan, namun terlepas dari apa yang telah ia capai, ada satu hal yang mungkin tidak ia ketahui: kesuksesannya sebagai seorang teman. Wiwi merasa bahwa Imel adalah teman yang baik, yang selalu hadir untuk memberikan dukungan moral, finansial atau waktu. Wiwi bercerita bahwa Imel sungguh membuatnya terinspirasi, mirip seperti tokoh-tokoh wanita di kitab suci. Saya tidak tahu itu, tapi saya percaya bahwa berdasarkan apa yang saya tulis, Imel memang luar biasa. Sukses selalu!