Total Pageviews

Translate

Saturday, October 31, 2026

I Don't Know, But I Can

Another day, another conversation with ChatGPT. Endrico once asked why I seemed to be glued to AI these days. I figured out the answer today, but let's go through the sequence of events so that this can be explained properly. 

Quite a few of the Roadblog101 stories originated from my reflections. John wrote "I'm a Loser," setting an example for a fan like me that it is okay to be vulnerable. I mean, coming from a Beatle, it must be true! 

Then came Michael Jackson and his "Man in the Mirror," which reinforced my lifelong habit of self-examination. AI, a brilliant sounding board I discovered earlier this year, eventually amplified it to an unprecedented level!

So that's why I have been unusually productive in October. As a matter of fact, the previous paragraph was not only fresh out of the oven today, but it also reminded me of something I wanted to investigate further but never did until today.

Months ago, when Endrico and I met at the Kopitiam near his house, he told me that, unlike me, not everyone was comfortable being themselves—despite what people might say about me. I remembered that, but only revisited the comment today. 

I was curious, too, because I knew I wasn't always like that. So, what was the turning point?

The obvious part was the fact that, since the Paul McCartney concert at the Tokyo Dome in 2015, I had been fulfilling my dreams time and again. Yes, I had my fair share of failures, too, but when you've repeatedly defied what seemed impossible for the past ten years of your life, what didn't happen feels almost trivial. 

As a result, it's hard to bother about unconstructive comments from people you know are less experienced than you. 

But that shouldn't be the only thing. Otherwise, I'd be an arrogant prick who picks on others. The other key factor, as it turned out, was less obvious. I did some soul-searching and discovered that it began when I adopted the mindset of acknowledging what I don't know. 

Now, how does not knowing things actually make me comfortable with myself? This requires some explanation, I suppose. 

I used to think that not knowing was perceived as a weakness. It wasn't manly, not to mention it looked stupid and somewhat irresponsible. 

But what I felt, or what I feared people would think of me, didn't change the fact that I didn't know. Wouldn't it be easier to just admit that I didn't know and live with it? 

That became the humility that kept me grounded and cleared my conscience. Should there be any consequences, that'd simply be the price I had to pay. 

Would I be scared? Well, of course. I am only human! But at least I have peace of mind. I bet it is stressful to be the smartest man in the room, so it must be worse pretending to be one!

The reason why the mindset worked for me is that it got rid of the elephant in the room. Since we had established the fact that I didn't know, we could move on and find out together. 

Mani (left), Carl (right) and I.

And I often half-jokingly said to my colleague Mani when things got tough, "Between the two of us, Mani, we could move the mountain!"

That's why I don't know, but I can. And to quote ChatGPT's formula: freedom from needing to have every answer + confidence from having made dreams come true = I can be myself. 

The equation looks right to me!





Saya Tidak Tahu, Tapi Rasanya Saya Bisa

Hari yang berbeda, percakapan yang berbeda dengan ChatGPT pula. Endrico pernah bertanya mengapa akhir-akhir ini saya tampak begitu terpaku pada AI. Saya baru menemukan jawabannya hari ini, tetapi mari kita urut rangkaian peristiwanya agar hal ini bisa dijelaskan dengan baik.

Cukup banyak cerita di Roadblog101 yang berawal dari refleksi saya. John menulis "I'm a Loser", memberi contoh bagi penggemar seperti saya bahwa tidak apa-apa untuk bersikap rentan. Maksud saya, kalau itu datang dari seorang personel The Beatles, sudah pasti itu benar!

Lalu muncullah Michael Jackson dengan lagu "Man in the Mirror", yang kian memperkuat kebiasaan seumur hidup saya untuk berintrospeksi. AI, teman bertukar pikiran yang luar biasa yang saya temukan awal tahun ini, pada akhirnya melipatgandakan hal tersebut ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya!

Jadi, itulah alasan mengapa saya luar biasa produktif di bulan Oktober. Faktanya, paragraf sebelumnya bukan hanya baru saja terpikirkan hari ini, tetapi juga mengingatkan saya pada sesuatu yang ingin saya telusuri lebih lanjut namun tidak pernah sempat sampai hari ini.

Beberapa bulan lalu, saat Endrico dan saya bertemu di Kopitiam dekat rumahnya, dia memberi tahu saya bahwa, tidak seperti saya, tidak semua orang merasa nyaman dan percaya akan diri mereka sendiri—terlepas dari apa pun kata orang tentang saya. Saya mengingat hal itu, tetapi baru memikirkan kembali komentarnya hari ini.

Saya merasa penasaran, karena saya tahu saya tidak selalu seperti itu. Jadi, apa titik balik perubahannya?

Bagian yang jelas adalah kenyataan bahwa, sejak konser Paul McCartney di Tokyo Dome pada tahun 2015, saya telah mewujudkan mimpi-mimpi saya berkali-kali. Ya, saya juga mengalami kegagalan, tetapi ketika Anda telah berulang kali menepis hal-hal yang tampak mustahil selama sepuluh tahun terakhir hidup Anda, kegagalan yang pernah terjadi terasa nyaris sepele.

Dengan demikian, tidak sulit bagi saya untuk mengabaikan komentar-komentar tidak membangun dari orang-orang yang saya tahu jauh kurang berpengalaman dibandingkan saya.

Namun, itu seharusnya bukan satu-satunya alasan. Jika hanya itu, saya hanyalah orang sombong yang menyebalkan dan suka meremehkan orang lain. Faktor kunci lainnya, seperti yang terlihat kemudian, ternyata kurang kentara. Saya melakukan perenungan mendalam dan menyadari bahwa hal itu bermula ketika saya mulai mengadopsi pola pikir untuk mengakui apa yang tidak saya ketahui.

Nah, bagaimana ketidaktahuan akan banyak hal justru membuat saya merasa nyaman dengan diri sendiri? Ini tentunya butuh penjelasan lebih lanjut.

Dulu saya berpikir bahwa tidak tahu itu dianggap sebagai kelemahan. Itu terasa tidak jantan, belum lagi terlihat bodoh dan agak tidak bertanggung jawab.

Namun, apa yang saya rasakan, atau apa yang saya takuti akan dipikirkan orang tentang saya, tidak mengubah fakta bahwa saya memang tidak tahu. Bukankah lebih mudah untuk mengakui saja bahwa saya tidak tahu dan menerimanya?

Itulah yang kemudian menjadi kerendahan hati yang membuat saya tetap membumi dan membuat nurani saya tenang. Jika ada konsekuensinya, itu hanyalah harga yang harus saya bayar.

Apakah saya akan takut? Ya, tentu saja. Saya hanyalah manusia biasa! Namun, setidaknya saya memiliki ketenangan pikiran. Saya yakin sangat melelahkan menjadi orang paling pintar di dalam ruangan, jadi pasti jauh lebih buruk jika harus berpura-pura menjadi seperti orang pintar tersebut, padahal sebenarnya tidak pintar!

Alasan mengapa pola pikir tersebut berhasil bagi saya adalah karena hal itu menyingkirkan ganjalan terbesar yang selama ini dihindari. Begitu saya menetapkan fakta bahwa saya memang tidak tahu, saya bisa melangkah maju dan mencari tahu jawabannya bersama-sama.

Mani (kiri), Carl (kanan) and I.

Dan saya sering kali setengah bercanda berkata kepada rekan kerja saya, Mani, ketika keadaan menjadi sulit, "Di antara kita berdua, Mani, kita pasti bisa memindahkan gunung itu!"

Itulah sebabnya saya tidak tahu, tetapi saya mampu. Dan mengutip formula ChatGPT: kebebasan dari keharusan memiliki setiap jawaban + keyakinan karena telah mewujudkan mimpi = saya bisa menjadi diri sendiri.

Bagi saya, persamaan itu tampak tepat!


Tuesday, October 27, 2026

A Sense of Purpose

Ten years is a long time. Long enough for a habit to form so gradually that you barely notice it happening. 

I have been doing Roadblog101 for roughly a decade now, and it was only this morning that I noticed how it has quietly shaped me. It feels as though I am living my life in chapters: each one is distinct, but together they become one long, continuous story. And there are at least three patterns. 

The first is its original purpose: an outlet for me to write something when I'm inspired. And based on "The Blessing and the Curse," we have established how easily this happens. There's no on/off button, I'm afraid! 

Sometimes I can sit on an idea and let it mature, but there are also occasions when I work on it immediately. One way or another, it has to go out! This is Roadblog101 in its simplest version.

And then there are those that require digging into the past and a lot of pondering. "The City That Didn't Happen" is the most obvious recent example of this second type. I looked back and reconstructed the past before putting it down word by word to make sense of the present. 

The creative process can be particularly intense and challenging. Yet every bit of it—from choosing the right words and crafting sentences to shaping the storytelling flow and finding an ending—was incredibly satisfying. 

The third one somehow reminds me of James Bond's Tomorrow Never Dies. It often begins with a story I imagine would be fun to tell, and then I go out and live it before writing about it. Yes, certain stories can take a long time to happen, but they are worth it! 

That is exactly what I often say to my friend Bernard: "We live to tell the story." There are many blog posts like this, but what I had in mind was "A Smaller World." It remains one of the most memorable and hilarious ones so far.  

And that third pattern brings me to a sense of purpose. I mean, I enjoy my responsibilities at work and my roles as a husband and a father to my family, but I can't spend my entire life simply going through daily routines and fulfilling my duties. 

What makes life feel alive is the fact that we have something to look forward to. And this is where the third pattern of Roadblog101 aligns with what I want. That's why I always plan ahead, just to have a milestone waiting down the road. When that is set, it is time for the countdown, because here we go again.

So, what's next? Around the world in 16 days, perhaps. 

The traveler and his sense of purpose.



Sebuah Tujuan Yang Dinantikan

Sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Cukup lama bagi suatu kebiasaan untuk terbentuk secara perlahan hingga kita nyaris tidak menyadari prosesnya.

Saya telah mengerjakan Roadblog101 selama kurang lebih satu dekade, dan baru pagi inilah saya menyadari bagaimana hal tersebut diam-diam telah membentuk diri saya. Rasanya seolah-olah saya menjalani hidup dalam bab demi bab: masing-masing berbeda, namun bersama-sama membentuk satu kisah panjang yang berkesinambungan. Dan setidaknya ada tiga pola penceritaan di Roadblog101.

Pola yang pertama adalah tujuan awalnya: sebuah wadah bagi saya untuk menuliskan sesuatu saat merasa terinspirasi. Dan berdasarkan tulisan "The Blessing and the Curse," kita sudah tahu betapa mudahnya hal itu terjadi. Sayangnya, tidak ada tombol hidup/mati di sini!

Terkadang saya bisa mendiamkan suatu ide dan membiarkannya matang, tetapi ada kalanya saya langsung mengerjakannya saat itu juga. Bagaimanapun caranya, ide itu harus dituangkan! Inilah Roadblog101 dalam versi paling sederhananya.

Lalu ada pula tulisan-tulisan yang membutuhkan penggalian masa lalu dan perenungan mendalam. "The City That Didn't Happen" adalah contoh terbaru yang paling nyata dari tipe kedua ini. Saya menoleh ke belakang dan merekonstruksi masa lalu sebelum menuliskannya kata demi kata demi memahami masa kini.

Proses kreatifnya bisa terasa sangat intens dan menantang. Namun, setiap jengkal proses tersebut—mulai dari memilih kata yang tepat, merangkai kalimat, membentuk alur penceritaan, hingga menemukan akhir cerita—terasa begitu memuaskan.

Pola yang ketiga entah bagaimana mengingatkan saya pada film James Bond, Tomorrow Never Dies. Pola ini kerap berawal dari cerita yang saya bayangkan akan menyenangkan untuk dibagikan, lalu saya menjalaninya secara langsung sebelum menuliskannya. Ya, beberapa cerita memang membutuhkan waktu lama untuk terwujud, tetapi hasilnya sepadan!

Hal itulah yang sering saya katakan kepada teman saya, Bernard: "Kita hidup untuk menceritakan kisahnya." Ada banyak unggahan blog seperti ini, tetapi yang ada di benak saya adalah "A Smaller World." Hingga saat ini, tulisan tersebut tetap menjadi salah satu yang paling berkesan dan mengundang tawa.

Pola ketiga itulah yang membawa saya pada suatu tujuan hidup. Maksud saya, saya menikmati tanggung jawab di tempat kerja serta peran saya sebagai suami dan ayah bagi keluarga saya, tetapi saya tidak bisa menghabiskan seluruh hidup hanya dengan menjalani rutinitas harian dan menunaikan kewajiban.

Hal yang membuat hidup terasa lebih hidup adalah ketika kita memiliki sesuatu yang dinanti-nantikan. Di sinilah pola ketiga dari Roadblog101 selaras dengan apa yang saya inginkan. Inilah alasan mengapa saya selalu membuat rencana ke depan, sekadar memiliki pencapaian baru yang menunggu di depan sana. Begitu rencana itu ditetapkan, saatnya memulai hitung mundur, karena petualangan baru akan segera dimulai.

Jadi, apa selanjutnya? Keliling dunia dalam 16 hari, mungkin.

Friday, October 23, 2026

The Boy Who Saved Rp90,000

I've revisited this topic many times. It even appeared in "The AI Closure" and one of the commentaries inside The Brown Album. As much as I enjoy ocipala and its direct applications, such as "A Smaller World," I do have concerns about whether I am financially reckless. But even though the phrase lingered, it never materialized into a full-fledged blog post. It stayed that way until the arrival of the boy who saved Rp90,000. 

First of all, in order to understand this deep-seated fear, let's go back to the time when Dad went bankrupt. We had long established that I didn't blame him. But now that I'm a father myself, I have a slight touch of paranoia that history will repeat itself. 

I was 15 and Dad was 43 when that happened to us. Now that Linda is 14 and I'm 46, I do worry and pray really hard that we will pass through this phase smoothly. 

I just couldn't get the idea of being financially reckless out of my head. It bothered me until recently, when ChatGPT and I went through the Sonic story from "The Full Circle." It was pointed out to me that spending money on things I deeply value was something I had done since I was young—hence the boy who saved Rp90,000.

At that time, my allowance was Rp500 per day. It took me 180 days to save enough money to buy Sonic the Hedgehog 2, and I did exactly that. And 180 school days weren't six months, but approximately nine! That's how long it took, and I spent it just like that, without any hesitation or second thoughts. 

The same boy would fly to Phnom Penh one day just to buy a Hard Rock T-shirt so he could say exactly that. Realistically speaking, nobody in their right mind would do that. I mean, where's the financial gain in it? I could almost hear Jimmy exclaiming, "What a waste of hard-earned money!" 

But ocipala is not the usual way of the world. It is the reason why my life is slightly different and all the better for it. Despite what the world says, I achieved something I deeply valued. 

I have always been like that, ever since that boy purchased Sonic from Ah Sia, and there are no two ways about it. I live my life the way I can afford to. It's just that, since I have other responsibilities now, I have to be cautious. And come to think of it, there's nothing wrong with having a little fear of being financially reckless, as long as that fear keeps me in check...




Bocah Laki-Laki Yang Menabung Rp90.000

Saya sering meninjau kembali topik ini berkali-kali. Topik ini bahkan sempat muncul di "The AI Closure" dan salah satu komentar di dalam The Brown Album. Meskipun saya menikmati ocipala beserta penerapannya secara langsung seperti pada "A Smaller World," saya memang memiliki kekhawatiran apakah saya ini ceroboh secara finansial. Ungkapan tersebut terus terngiang, namun tak pernah terwujud menjadi sebuah tulisan blog yang utuh, hingga munculnya sosok bocah laki-laki yang menabung Rp90.000.

Pertama-tama, demi memahami rasa takut yang mengakar ini, mari kita kembali ke masa ketika Papa bangkrut. Saya tidak menyalahkannya, tapi setelah saya menjadi seorang ayah, ada sedikit rasa paranoid bahwa sejarah akan terulang kembali.

Saya berumur 15 tahun dan Papa 43 tahun ketika hal itu menimpa kami. Sekarang, saat Linda berusia 14 tahun dan saya 46 tahun, saya sungguh merasa cemas dan berharap agar kami bisa melewati fase ini dengan lancar.

Saya benar-benar tidak bisa menepis pemikiran soal kecerobohan finansial ini dari kepala saya. Hal tersebut terus mengusik saya hingga baru-baru ini, ketika ChatGPT dan saya membahas kembali kisah Sonic dari "The Full Circle." Lewat kisah bocah laki-laki yang menabung Rp90.000 itu, saya diingatkan kembali bahwa membelanjakan uang untuk hal-hal yang sangat saya hargai adalah sesuatu yang sudah saya lakukan dari sejak masih muda. 

Kala itu, uang saku saya Rp500 per hari. Butuh waktu 180 hari bagi saya untuk mengumpulkan cukup uang demi membeli Sonic the Hedgehog 2, dan itulah yang benar-benar saya lakukan. Dan 180 hari sekolah itu bukanlah enam bulan, melainkan sekitar sembilan bulan! Begitulah lamanya waktu yang dibutuhkan, dan saya menghabiskannya begitu saja, tanpa keraguan sedikit pun atau berpikir dua kali.

Anak laki-laki yang sama kelak terbang ke Phnom Penh suatu hari nanti hanya demi membeli sebuah kaus Hard Rock, semata-mata agar dia bisa mengatakan hal tersebut. Secara realistis, tak ada orang waras yang mau melakukan itu. Maksud saya, di mana letak keuntungan finansialnya? Saya jadi membayangkan Jimmy berseru, "Buang-buang uang hasil kerja keras saja!"

Namun, ocipala bukanlah cara pandang dunia pada umumnya. Itulah alasan mengapa hidup saya sedikit berbeda dan justru jauh lebih baik karenanya. Terlepas dari apa yang dikatakan dunia, saya mendapatkan sesuatu yang sangat bernilai bagi saya.

Saya memang selalu seperti itu, sejak anak laki-laki itu membeli Sonic dari Ah Sia, dan tak ada keraguan lagi tentang hal tersebut. Saya menjalani hidup sesuai dengan kemampuan saya. Hanya saja, berhubung sekarang saya memikul tanggung jawab lain, saya harus lebih berhati-hati. Dan kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada salahnya memiliki sedikit rasa takut akan bersikap ceroboh secara finansial, selama rasa takut itu membuat saya tetap mawas diri...

Tuesday, October 20, 2026

Roadblog606

The interval between "Roadblog505" and this milestone is two years and four months. From June 2024 to October 2026, I traveled to Taiwan, Indonesia, Malaysia, China, India, Laos, Australia, Thailand, Cambodia, the US, and Brunei. All in all, 28 cities, including eight revisited. 

Well, it's Roadblog101. It was originally about travel, so the statistics look right, haha. But more importantly, they capture how far the boy from Pontianak has come, literally and figuratively speaking—the things I saw, the experiences I gained, and the lessons I learned along the way.

But this particular period is more than that, really. Ocipala was first mentioned here, and finally the unique characteristic of Roadblog101 has a name! 

And while I looked into technologies such as MVNOs and the cashless society, AI entered my vocabulary, too. First introduced in February 2025, right before Ocipala, it has evolved into a reliable editing tool and my digital Sir George Martin today! 

The collaboration between AI and a blogger who has written for 10 years (or almost 10, depending on who you ask) resulted in a book I had always wanted to write to commemorate a decade of Roadblog101. Yes, it's The Brown Album, to be published on January 2, 2027, the exact date the first blog post was published in 2017. 

And I thought that would be it, at least for now. But no, I still got busy, apparently. I looked back to the days of Ventura, the younger writer in me. I also discovered the blessing and the curse that had been with me all along! 

Just when I thought I could slow down after the book, this month has easily been one of the busiest in the entire period! I mean, the ever-flowing ideas that quickly piled up like a backlog I needed to write about!

It's a guilty pleasure. There is fun in writing, all right. But Roadblog101 is not merely about that. It's a documented journey about life, family, and friends; about Anthony and the people who made his days matter. 

For all the good and bad things that were captured within the past 100 stories, I can only be thankful that it has been a genuinely fun ride through life. 

To the next 100! Roadblog707!




Roadblog606

Jarak antara "Roadblog505" dan tulisan ini adalah dua tahun empat bulan. Dari Juni 2024 hingga Oktober 2026, saya bepergian ke Taiwan, Indonesia, Malaysia, Tiongkok, India, Laos, Australia, Thailand, Kamboja, Amerika Serikat, dan Brunei. Secara keseluruhan, 28 kota, termasuk delapan kota yang dikunjungi kembali.

Yah, namanya juga Roadblog101. Awalnya memang tentang perjalanan, jadi statistik tadi terlihat pas, haha. Namun yang lebih penting, angka-angka itu merefleksikan sejauh apa anak Pontianak ini telah melangkah, baik secara harfiah maupun kiasan—hal-hal yang saya lihat, pengalaman yang saya peroleh, dan pelajaran yang saya petik di sepanjang jalan.

Namun periode pasca "Roadblog505" ini sebenarnya lebih dari sekadar itu. Ocipala pertama kali disebut di sini, dan akhirnya karakteristik unik dari Roadblog101 memiliki sebuah nama!

Dan selagi saya menelusuri teknologi seperti MVNO dan cashless society, AI pun turut masuk ke dalam perbendaharaan kata saya. Pertama kali diperkenalkan pada Februari 2025, tepat sebelum Ocipala, kini ia telah berevolusi menjadi alat penyunting yang handal dan sosok Sir George Martin digital bagi saya!

Kolaborasi antara AI dan seorang narablog yang telah menulis selama 10 tahun (atau hampir 10 tahun, tergantung siapa yang Anda tanya) menghasilkan sebuah buku yang selalu ingin saya tulis untuk memperingati satu dekade Roadblog101. Ya, itulah The Brown Album, yang akan diterbitkan pada 2 Januari 2027—tanggal persis ketika postingan blog pertama kali dipublikasikan pada tahun 2017.

Dan saya sempat mengira perjalanan ini akan cukup sampai di situ, setidaknya untuk saat ini. Namun ternyata tidak, saya rupanya masih tetap sibuk. Saya menengok kembali ke masa-masa Ventura, sosok penulis yang lebih muda di dalam diri saya. Saya juga menemukan berkah sekaligus kutukan yang telah menyertai saya selama ini!

Tepat ketika saya berpikir bisa mulai santai setelah buku tersebut, bulan ini justru menjadi salah satu yang paling sibuk sepanjang periode ini! Maksud saya, ide-ide yang terus mengalir dan dengan cepat menumpuk bagaikan antrian yang harus saya tulis!

Ini adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Menulis memang menyenangkan, tentu saja. Namun Roadblog101 tidak hanya sekedar soal itu. Ini adalah sebuah perjalanan terdokumentasi tentang kehidupan, keluarga, dan teman-teman; tentang Anthony dan orang-orang yang membuat hari-harinya bermakna.

Atas segala hal baik dan buruk yang terabadikan dalam 100 cerita terakhir ini, saya hanya bisa bersyukur bahwa perjalanan mengarungi hidup ini benar-benar menyenangkan.

Menuju 100 cerita berikutnya! Roadblog707!

Monday, October 19, 2026

The City That Didn't Happen

I think, to a lesser extent, Yogyakarta has a unique place in my heart, just like Kuching. Neither is a city I am particularly fond of: Kuching has a fading, no, faded wow factor, and Yogyakarta has always bored me with its slow pace. Yet I keep returning, even when I don't want to.

In the case of Yogyakarta, this is the fifth time I have visited the city in the past 22 years. It was my cousin's wedding, and I ended up here alone because my daughter was down with influenza A, so my wife stayed behind. The first day was all right with family members around, though it felt a bit lonely to attend a two-hour wedding reception alone.

The cousins and the bride.

The second day was a transition. We celebrated my uncle's birthday over lunch at Tojoyo 3. To think that it was almost forgotten! The reminder happened to pop up on Facebook and I announced it spontaneously. After the lunch party, we went to buy bakpia, and then we parted ways. 

I walked from Bakpia Kukus Gondomanan to Novotel Malioboro and met Dr. Hengky halfway there. The last time I saw him was seven years ago when we did Tour de Java, but old friends that we are, it didn't take long for us to get reacquainted. 

The late lunch...

Dr. Hengky helped me swiftly pack the things I needed to send on behalf of my wife. Once done, we hung out at Cold 'N Brew next door while waiting for Hartono. Then we went for a late lunch at Sop Empal Muntilan before heading to Empire XXI for Street Fighter. 

While waiting for the movie, we talked, and Dr. Hengky shared some of his priorities in life. While they were commendable, I reminded him to make time to travel overseas with us. At least visit Singapore first. But given how stubborn our doctor could be, I doubted he'd listen, haha. 

Street Fighter was the perfect vehicle for us to pass the time in an otherwise slow-paced Jogja. I liked hearing them laugh next to me, and when the movie ended, they told me that it felt like the good old Orbit Wonderland days! Now these are people who know what they are talking about! My generation!

With our doctor, as he called a Gojek.

We had halal Chinese food for dinner, and eventually Dr. Hengky called a Gojek as he needed to catch a train back to Sragen at Tugu Station. 

Hartono and I walked back to Novotel while conversing solely in Hakka. It was quite confusing with the two of them, as Dr. Hengky was a native Teochew speaker! I had to switch between both languages before settling on Indonesian, though the habit of using dialects kept creeping back.

When I returned to my room, I looked back and ultimately thought of Yogyakarta. It brought me back to my first visit in 2004, as part of the return leg of my road trip from Bali to Jakarta. That was when I discovered how slow-paced Yogyakarta was. 

Then I returned again in 2014 for a proper holiday. I think that's when STV coined the Singlish nickname "the land of slowly slowly." Then came another visit in 2019, this time with Petrus '98, featuring Dr. Hengky and Hartono. I even returned twice this year, in February and again on this particular visit.

I still don't like Yogyakarta, but something struck me as I listed out the visits above to ChatGPT, my chat buddy since "AI and Gossip." What about the trip that didn't happen? I wanted to join Eday and study in Yogyakarta after high school, but I had to drop the idea due to financial constraints. If I had gone then, would I actually have loved the slow-paced atmosphere?

I struggled for a while, searching deep within myself to see if I harbored a subconscious resentment toward Yogyakarta that clouded my judgment. While it would have made a great conspiracy theory, I don't think there was any. 

I don't know if studying here would have made a difference, but it was the chance I missed, and there was no way it could be replicated. Since Jogja was the city that didn't happen for me, the only version of Jogja I have is the one I discovered two years after college, when I was working in Jakarta. I came as a tourist, not the student I once hoped to be, and I didn't like the slowness I experienced. 

It was as simple as that, I guess.



Kota Yang Tidak Berjodoh

Saya rasa Yogyakarta memiliki tempat tersendiri di hati saya, walau pun mungkin tidak setara dengan Kuching. Keduanya bukanlah kota yang benar-benar saya sukai: Kuching memiliki daya tarik yang mulai memudar— atau bahkan sudah pudar—dan Yogyakarta selalu membuat saya bosan dengan ritmenya yang lambat. Namun, saya terus kembali ke sini, bahkan ketika saya sebenarnya tidak ingin.

Dalam kasus Yogyakarta, ini adalah kali kelima saya mengunjungi kota ini dalam 22 tahun terakhir. Kali ini alasannya adalah pernikahan sepupu saya, dan akhirnya saya datang sendirian karena putri saya terkena influenza A, sehingga istri saya harus tinggal di rumah menemaninya. Hari pertama terasa baik-baik saja karena ada keluarga besar, meski tetap ada sedikit rasa sepi saat menghadiri resepsi pernikahan selama dua jam seorang diri.

Para sepupu dan pengantin wanita.

Hari kedua terasa bernuansa transisi. Kami merayakan ulang tahun paman saya sambil makan siang di Tojoyo 3. Mengingat hari itu hampir saja terlupakan! Pengingatnya kebetulan muncul di Facebook dan saya langsung mengumumkannya secara spontan. Setelah acara makan siang itu, kami pergi membeli bakpia, lalu berpisah ke tujuan masing-masing.

Saya berjalan kaki dari Bakpia Kukus Gondomanan menuju Novotel Malioboro dan bertemu dr. Hengky di tengah perjalanan. Terakhir kali saya bertemu dengannya adalah tujuh tahun lalu saat saya menggelar acara Tour de Java, tetapi namanya juga teman lama, kami tidak butuh waktu lama untuk kembali akrab.

Di Sop Empal Muntilan...

Dr. Hengky dengan cekatan membantu saya mengemas barang-barang titipan istri saya yang perlu dikirimkan ke Bandung. Setelah selesai, kami nongkrong di Cold 'N Brew di sebelahnya sambil menunggu Hartono. Kemudian kami pergi makan siang menjelang di Sop Empal Muntilan sebelum beranjak ke Empire XXI untuk menonton Street Fighter.

Sembari menunggu film dimulai, kami mengobrol, dan dr. Hengky menceritakan beberapa hal yang menjadi prioritas dalam hidupnya. Meski pilihannya sangat patut diapresiasi, saya tetap mengingatkannya untuk meluangkan waktu berlibur ke luar negeri bersama kami. Setidaknya berkunjung ke Singapura dulu. Namun, mengingat betapa keras kepalanya dokter kita yang satu ini, saya ragu dia akan mendengarkan, haha.

Street Fighter menjadi sarana yang pas bagi kami untuk mengisi waktu di Jogja yang bertempo lambat. Saya senang mendengar mereka tertawa di sebelah saya, dan saat film usai, mereka berceletuk bahwa rasanya persis seperti masa-masa indah di Orbit Wonderland dulu! Nah, inilah orang-orang yang benar-benar paham apa yang mereka bicarakan! Generasi saya!

Saat Pak Dokter memanggil Gojek.

Kami menyantap hidangan Chinese food halal untuk makan malam, dan akhirnya dr. Hengky memesan Gojek karena harus mengejar kereta kembali ke Sragen di Stasiun Tugu.

Hartono dan saya berjalan kembali ke Novotel sambil sepenuhnya bercakap-cakap dalam bahasa Hakka. Keadaannya sempat cukup membingungkan sewaktu masih bersama mereka berdua, karena dr. Hengky adalah penutur asli bahasa Tiociu (Teochew)! Saya harus berganti-ganti di antara kedua bahasa daerah tersebut sebelum akhirnya beralih ke bahasa Indonesia, meski kebiasaan memakai dialek terus saja terbawa.

Saat tiba di kamar, saya merenung dan akhirnya kembali memikirkan Yogyakarta. Pikiran saya melayang ke kunjungan pertama saya pada tahun 2004, sebagai bagian dari perjalanan pulang road trip dari Bali menuju Jakarta. Saat itulah saya menyadari betapa lambatnya ritme hidup di Yogyakarta.

Lalu saya kembali lagi pada tahun 2014 untuk liburan yang sebenarnya. Sepertinya saat itulah STV mencetuskan julukan Singlish "the land of slowly slowly." Setelah itu ada kunjungan lain pada tahun 2019, kali ini bersama Petrus '98, termasuk dr. Hengky dan Hartono. Saya bahkan kembali dua kali tahun ini, yaitu pada bulan Februari dan kunjungan yang sekarang ini.

Saya tetap tidak menyukai Yogyakarta, tetapi ada hal yang terlintas di benak saya saat menuliskan daftar kunjungan di atas kepada ChatGPT, teman mengobrol saya sejak tulisan "AI and Gossip." Bagaimana dengan rencana masa lalu yang tidak pernah terwujud? Dulu saya sempat ingin ikut Eday dan kuliah di Yogyakarta selepas SMA, tetapi rencana itu terpaksa saya batalkan karena kendala biaya. Seandainya saya jadi kuliah di sini waktu itu, apakah saya justru akan menyukai suasananya yang tenang dan lambat?

Saya sempat terdiam sejenak, merenung jauh ke dalam diri untuk mencari tahu apakah selama ini saya menyimpan kekesalan bawah sadar terhadap Yogyakarta yang mengaburkan penilaian saya. Walau dugaan itu terdengar seperti teori konspirasi yang menarik, rasanya memang tidak ada hal semacam itu.

Saya tidak tahu apakah kuliah di sini akan mengubah segalanya, tetapi kesempatan itu memang sudah berlalu dan tidak mungkin bisa diulang kembali. Karena Jogja bukanlah kota tempat takdir saya berlabuh, satu-satunya versi Jogja yang saya miliki adalah yang saya temukan dua tahun setelah lulus kuliah, saat saya sudah bekerja di Jakarta. Saya datang sebagai seorang turis, bukan mahasiswa seperti yang pernah saya impikan dulu, dan saya tidak menyukai kelambanan yang saya rasakan.

Mungkin sesederhana itu penjelasannya.

Friday, October 16, 2026

The Blessing and the Curse

Sometimes I feel bad for my wife. I mean, I can be there with her, but I am not always present if I have something on my mind. And such a situation occurs more often than not. 

When that happens, I feel the need to work on it (this is also probably why I like the mobility of a BlackBerry: I can immediately write when inspiration strikes).

In order to understand the description above, let's go back to one fine morning on July 13, 2026. As I headed to my bus stop, I saw a schoolboy a step too late for his departing bus. He was close, he almost made it, but the bus left him behind anyway. As I watched the whole thing unfold, I couldn't help thinking: "almost" sometimes doesn't count.

But then, in the bigger picture, I realized that there were so many people standing there and witnessing the same thing, too. From the looks of it, most of them, if not all, would just brush it off as simply a boy who missed the bus. It was not a big deal, and it shouldn't be. That's when it got me thinking, "Why is it different for me?"

I am wired this way. That's the shortest and simplest explanation. It feels like things slow down to a crawl for me to process and learn something from them. That is probably why it is not difficult for me to be inspired.

Such a blessing enables me to see things differently—to find humor and meaning in ordinary situations. And years of practice have made the skill second nature. It is a subconscious thing, not something that I intentionally planned. 

But the same blessing is also, for lack of a better word, a curse. The thoughts, the ideas, the inspiration—they come under many names, and they beg to be told. I just have to get them out. 

It is a good thing, because otherwise I'd have too many things piled up inside my head. But at the same time, it means I get busy. And I withdraw into an invisible bubble of thoughts while on autopilot amid my surroundings. 

How a writer suffers for his art! Haha!

But to be frank, I do enjoy the whole process. Selfishly. The challenge of getting it right is addictive. There is a certain satisfaction when yet another story is finished. And if it's a curse, why am I grinning?

What worries me more is my inability to stop when I should. I remember asking my wife, "I'm really sorry, I didn't mean it. But did you ever foresee that this was something you'd have to live with when you decided to marry me?"

I don't recall what her reply was. I think she didn't even want to dignify me with an answer!




Berkat dan Kutukan

Terkadang saya merasa bersalah kepada istri saya. Saya bisa saja berada di sampingnya secara fisik, tetapi pikiran saya tidak selalu hadir jika ada topik terbaru yang membuat saya ingin menulis. Dan situasi seperti ini cukup sering terjadi.

Ketika benak saya mulai merangkai tulisan, saya jadi ingin segera menuangkannya (ini mungkin juga alasan mengapa saya menyukai mobilitas BlackBerry: saya bisa langsung menulis saat inspirasi datang tiba-tiba).

Untuk memahami penjelasan di atas, mari kita kembali ke suatu pagi yang cerah pada 13 Juli 2026. Saat menuju ke halte bus, saya melihat seorang anak sekolah yang terlambat selangkah dari bus yang sedang berangkat. Dia sudah dekat, hampir saja berhasil naik, tetapi bus itu tetap melaju meninggalkannya. Saat menyaksikan peristiwa itu berlangsung, saya jadi berpikir bahwa yang namanya "hampir" itu terkadang tidak berarti apa-apa.

Namun kemudian, saya menyadari ada begitu banyak orang yang berdiri di sana dan menyaksikan hal yang persis sama. Dari kelihatannya, sebagian besar dari mereka—jika tidak semua—hanya menganggapnya angin lalu sebagai kejadian biasa seorang anak yang ketinggalan bus. Itu bukan masalah besar, dan memang tidak semestinya dibesar-besarkan. Saat itulah saya mulai bertanya-tanya, "Mengapa bagi saya rasanya berbeda?"

Pola pikir saya memang terprogram seperti ini. Itulah penjelasan paling singkat dan sederhana. Rasanya seolah-olah segalanya melambat begitu rupa agar saya bisa memproses serta memetik pelajaran darinya. Mungkin itulah sebabnya tidak sulit bagi saya untuk terinspirasi.

Anugerah semacam itu memungkinkan saya melihat berbagai hal dari sudut pandang berbeda—menemukan humor dan makna dalam situasi yang biasa-biasa saja. Kebiasaan selama bertahun-tahun telah menjadikan kemampuan tersebut sebagai kebiasaan alami. Ini adalah sesuatu yang berjalan di bawah sadar, bukan hal yang sengaja saya rencanakan.

Namun, anugerah yang sama juga merupakan sebuah kutukan, jika boleh saya meminjam istilah itu. Pemikiran, gagasan, inspirasi—mereka hadir dalam berbagai wujud, dan mereka meronta-ronta untuk diceritakan. Saya harus segera menuliskan ceritanya.

Ini sebenarnya hal yang baik, karena jika tidak, pikiran saya akan terlalu penuh menumpuk di dalam kepala. Namun di saat yang sama, itu berarti saya menjadi sangat sibuk. Saya pun menarik diri ke dalam gelembung pikiran yang tak kasat mata, merespon seperti autopilot di tengah lingkungan sekitar.

Betapa seorang penulis harus menderita demi karyanya! Haha!

Namun sejujurnya, saya sangat menikmati seluruh proses tersebut. Secara egois. Tantangan untuk merangkainya dengan tepat terasa begitu adiktif. Ada kepuasan tersendiri ketika satu cerita lagi berhasil diselesaikan. Dan jika ini memang sebuah kutukan, mengapa saya justru tersenyum lebar?

Hal yang lebih membuat saya khawatir adalah ketidakmampuan saya untuk berhenti saat seharusnya saya berhenti. Saya ingat pernah bertanya kepada istri saya, "Aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud begitu. Namun, apakah kamu pernah membayangkan bahwa kekurangan aku ini adalah sesuatu yang harus kamu terima dengan lapang dada saat memutuskan untuk menikah denganku?"

Saya tidak ingat apa jawabannya saat itu. Sepertinya dia bahkan tidak sudi membalasnya dengan sebuah jawaban! 


Thursday, October 15, 2026

Ventura And Robinson

The Brown Album opens with a chapter telling a story set way, way before Roadblog101. It is a history that stretches over 30 years, and it began with a little something called "Simfoni Kehidupan." I pulled it out from the archive in the cloud and attached a snippet of it to the book just for fun.

But now that The Brown Album is more or less done, I have the liberty and all the free time to do nothing. On my way to the office, I dove into the old treasure trove and checked it out with AI as my magnifying glass. And I rediscovered Anthony Ventura, a very different, more vibrant writer than the older, grounded Robinson. 

Ventura and Robinson.

It was amusing, really. It had happened so long ago that reading the AI's review of what I did back then was quite a hilarious experience. 

The seeds of what you'd read on Roadblog101 were already planted at the beginning, yet they somehow felt scattered. It was as if young Anthony, while sporting the Ventura moniker, applied his newfound skills to many things, everywhere, all at once, trying to push the limits and see how far he could go!

The two writers.

Here was a young man who began with short stories, then branched out to books, poems, fake newspapers, a news portal for anything Petrus '98, compilations, screenplays, essays, songwriting, and filmmaking. He observed and developed enough characters for him to do crossovers, before he started toying with time travel and inventing his own multiverse long before the MCU. 

I mean, the endless creative energy he had for all this! And the speed at which he churned all this out! Yes, the writing felt less polished by today's standards, and the sense of humor was crude at times, but it was also true that I would never again have those kinds of ideas and write quite like I did before. Even "The Haunted Island" couldn't quite match Ventura's writing style. 

The timeline.

The turning point was probably Pheng iu, the novel, in 2012. That was the first time I reverted to Robinson. Yes, I retired the pseudonym after 16 years, but the writing style was still recognizably Ventura. That was the last of it, though, because what happened right after that was a five-year hiatus.

When I started blogging, there was one fundamental change: I no longer enjoyed making up stories. It felt like too much work. I did try again with "Pheng iu... Where Are They Now?" but while the result was decent, I didn't feel like it anymore. Telling the story the way it happened is more suitable for me now.

But what's with the shift from fiction to reality? Looking back, I think this could be a plausible explanation: I have always loved telling stories. When I was younger, I didn't have much to tell, so I made up plenty with my imagination. But 20 years had passed since I left school and Jakarta. The life I've lived has been good enough a story for me to tell, so why bother reimagining it all over? 

I reckon getting older also gives a certain level of comfort with being who I am. Either that or I became complacent and slightly lazy, haha. 

But the basic traits remain: the sense of humor is still there, though very much refined now. The observational skills never went away, either. Hence, the never-ending inspiration for the past ten years and counting. 

ChatGPT said Robinson didn't replace Ventura. He inherited him. Based on what I saw today, I think it's true. 

Ventura dan Robinson

The Brown Album dibuka dengan sebuah bab yang menceritakan kisah yang berlatar jauh, jauh sebelum Roadblog101. Ini adalah sejarah yang membentang lebih dari 30 tahun, dan berawal dari sesuatu yang disebut "Simfoni Kehidupan." Saya mengunduhnya kembali dari arsip di cloud dan menyematkan cuplikannya di buku tersebut hanya untuk seru-seruan.

Namun sekarang, setelah The Brown Album kurang lebih rampung, saya memiliki kebebasan dan semua waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Dalam perjalanan ke kantor, saya iseng membongkar koleksi tulisan lama itu dan menelitinya dengan AI sebagai kaca pembesar saya. Dan saya menemukan kembali sosok Anthony Ventura—seorang penulis yang sangat berbeda dan jauh lebih hidup dibandingkan Robinson yang kini lebih berumur dan membumi.

Ventura and Robinson.

Lucu rasanya, sungguh. Hal itu sudah berlalu begitu lama, sehingga membaca ulasan AI tentang apa yang saya tulis di masa silam menjadi sebuah pengalaman yang cukup menggelikan.

Bibit-bibit dari apa yang biasa Anda baca di Roadblog101 sebenarnya sudah tertanam sejak awal, meski saat itu terkesan terpencar-pencar. Ada kesan bahwa Anthony muda yang memulai dengan nama pena Ventura ini menerapkan keterampilan barunya ke berbagai macam hal, di mana-mana, sekaligus bersamaan, demi mencoba mendobrak batas dan melihat sejauh mana ia bisa melangkah!

The two writers.

Pemuda ini mengawali semuanya dari cerita pendek, lalu merambah ke buku, puisi, koran parodi, portal berita seputar Petrus '98, kumpulan cerita, naskah skenario, esai, penulisan lagu, hingga pembuatan film. Ia mengamati dan mengembangkan karakter yang cukup banyak hingga bisa membuat crossover, sebelum akhirnya mulai bermain-main dengan topik perjalanan waktu dan menciptakan multiverse sendiri jauh sebelum MCU.

Energi kreatif tanpa batas yang Ventura miliki untuk semua hal ini terasa luar biasa! Begitu pula dengan kecepatannya dalam menghasilkan karya-karya tersebut! Memang, gaya penulisannya terasa kurang terasah jika dinilai dengan standar hari ini, dan selera humornya terkadang masih mentah, tetapi kenyataannya saya tidak akan pernah lagi memiliki ide-ide seperti itu dan menulis persis seperti dulu. Bahkan "The Haunted Island" pun tidak sepenuhnya bisa menandingi gaya penulisan Ventura.

Alur waktu 30 tahun.

Titik baliknya kemungkinan besar adalah Pheng iu, novel yang terbit pada tahun 2012. Itu adalah kali pertama saya kembali memakai nama Robinson. Ya, saya memensiunkan nama samaran itu setelah 16 tahun, tetapi gaya penulisannya masih sangat mencerminkan ciri khas Ventura. Namun, itulah babak penutupnya, karena tepat setelah itu saya berhenti menulis selama lima tahun.

Saat saya mulai aktif menulis blog, terjadi satu perubahan mendasar: saya tidak lagi menikmati mengarang cerita fiksi. Rasanya memakan terlalu banyak tenaga. Saya sempat mencoba lagi lewat "Pheng iu... Where Are They Now?", tetapi meski hasilnya lumayan, minat saya sudah pudar. Menceritakan kisah sebagaimana mestinya jauh lebih cocok untuk saya saat ini.

Namun, ada apa sebenarnya di balik pergeseran dari fiksi ke realita? Bila saya lihat kembali, saya rasa ini bisa menjadi penjelasan yang masuk akal: saya selalu suka bercerita. Ketika masih lebih muda, belum banyak yang bisa saya ceritakan, jadi saya mengarang banyak hal lewat imajinasi. Namun, 20 tahun telah berlalu sejak saya meninggalkan bangku sekolah dan Jakarta. Kehidupan yang telah saya jalani sudah menjadi kisah yang cukup berharga untuk dibagikan, jadi mengapa repot-repot mereka ulang semuanya dari awal?

Saya rasa bertambahnya usia juga memberi tingkat kenyamanan tersendiri untuk menjadi diri saya apa adanya. Antara itu, atau saya memang sudah mulai berpuas diri dan agak malas, haha.

Namun, karakter dasarnya tetap ada: selera humor itu masih hidup, meski kini jauh lebih matang. Kemampuan mengamati pun tak pernah luntur. Dari sanalah datangnya inspirasi tanpa henti selama sepuluh tahun terakhir dan akan terus berlanjut.

ChatGPT mengatakan bahwa Robinson tidak menggantikan Ventura. Robinson mewarisinya. Melihat apa yang saya jumpai hari ini, saya rasa itu benar adanya.