Total Pageviews

Translate

Sunday, April 25, 2021

How Inspiration Works

The mother of an old acquaintance passed away recently. As I discussed this with a mutual friend, the nostalgic feeling brought me back to Pontianak in 2001. I was a computer lab assistant in college then and this old acquaintance was in his freshman year. A quick-witted one, but not academically inclined. 

He was one of the four. These young men were confident and funny, so charming that I ended up writing 40 episodes of parody about them and their classmates. The comedy series was called Happy Campus and the best 10 episodes were eventually published as Crazy Campus in 2005. 

As I looked back, I was reminded again about how I was inspired by this encounter in my life. More importantly, I was reminded about how inspiration worked. It was actually everywhere and free. It came from what I saw, read or experienced. When it was meant for me, I would just feel it. If it was fascinating enough, it'd become an idea I'd be toying with. It often manifested itself as stories simply because I enjoyed writing, but that wasn't the only end result. In my case, it could be anything: a record, a trip, an event or even a dream came true.
 
You just had to be open-minded and receptive enough to be intrigued and inspired by your surroundings. Inspiration was important because it was what drove you to be creative. That's when you were doing things willingly and wholeheartedly. That's when you made a difference and that's what really mattered. Otherwise you might wonder why people had so many things to post on Facebook while you didn't seem to have any. 

By the way, the last sentence about Facebook was just a figure of speech, haha. Life, of course, wasn't meant to be wasted with something as trivial as comparing Facebook posts. My point was, be alive and be inspired, because it'd be very sad when your life was just another meaningless routine. A life well-lived didn't stand still. It moved forward thanks to the inspiration we had. 

Now, back to the guy I mentioned earlier, you might be curious about how life turned out be for our freshman here. Well, 20 years down the road, he became a parliament member. Who ever saw that coming? Certainly not me. Life was full of surprises indeed! 

Crazy Campus, the first book I ever published. 




Cara Kerja Inspirasi

Ibu seorang kenalan lama baru saja meninggal. Ketika saya berbincang dengan seorang teman yang juga mengenalnya, saya jadi teringat kembali masa-masa saya di Pontianak, tahun 2001. Saat itu saya bekerja sebagai asisten laboratorium komputer di kampus dan kenalan saya ini adalah mahasiswa semester pertama. Orangnya heboh dan pandai menyeletuk, tapi tidak tampak pintar secara akademis di bidang komputer.  

Dia adalah satu dari empat sekawan. Anak-anak muda ini percaya diri dan lucu. Pribadi mereka sangat menarik sehingga saya pun terinspirasi dan menulis 40 cerita pendek tentang mereka dan teman-teman sekelasnya. Serial komedi ini berjudul Happy Campus dan 10 episode terbaik akhirnya terbit sebagai Crazy Campus di tahun 2005. 

Ketika saya mengenang kembali, saya jadi teringat bagaimana pertemuan dengan mereka ini menjadi inspirasi bagi saya. Lebih dari itu, saya jadi berpikir tentang cara kerja inspirasi. Yang namanya inspirasi itu seringkali ada di mana-mana dan gratis pula. Asalnya dari apa yang saya lihat, baca atau alami. Bilamana sesuatu terasa seperti inspirasi, saya bisa mengenalinya. Jikalau inspirasi itu benar-benar menggelitik, sebuah ide akan muncul di benak saya. Tidak jarang ide itu terwujud dalam bentuk tulisan karena saya memang gemar menulis, tapi ini bukanlah satu-satunya hasil akhir. Sejauh ini inspirasi saya bisa terwujud sebagai rekaman, liburan, acara atau bahkan impian yang menjadi kenyataan
 
Kuncinya adalah pikiran yang terbuka dan siap menerima inspirasi dari sekeliling anda. Inspirasi penting peranannya karena inilah yang mendorong anda untuk berkreasi. Sewaktu anda berkreasi, anda melakukan sesuatu dengan senang hati dan juga sepenuh hati. Hal inilah yang membuat perubahan dan perubahan inilah yang berarti dalam hidup ini. Kalau tidak begitu caranya, anda pasti akan heran kenapa orang lain memiliki begitu banyak hal untuk dibagikan di Facebook sementara anda tidak ada. 

Bingung? Haha, kalimat terakhir yang baru saja anda baca hanyalah sebuah metafora. Hidup ini tentu saja lebih dari sekedar membanding-bandingkan unggahan di Facebook. Yang ingin saya sampaikan adalah, bersemangatlah dalam hidup dan jangan pernah berhenti mencari inspirasi. Sedih rasanya kalau hidup hanya sekedar rutinitas. Sebuah hidup yang dijalani dengan baik tidaklah berjalan di tempat, melainkan cenderung maju ke depan karena terdorong oleh inspirasi yang kita dapatkan. 

Kembali lagi ke kenalan yang saya sebutkan di atas, anda mungkin penasaran, jadi apa dia sekarang. Setelah 20 tahun berlalu, kini dia menjadi anggota DPRD. Siapa sangka? Saya jelas tidak mengira. Hidup sungguh penuh dengan kejutan! 

Sunday, April 18, 2021

The Cloud

It was just four years ago when I wrote about Apple's Time Capsule. I always liked how it combined Wi-Fi and storage because it allowed me to back up the data wirelessly. I first used it in 2012 and I refreshed the hardware in 2017. Little did I know that it'd be discontinued a year later. 

Now, four years down the road, as the hardware aged, I was wondering what the replacement would be. Apple's Time Capsule had been great for an era where you actually spent time to back up your document, videos and photos to an external hard disk. But this wasn't good enough now. The fact that the data was only accessible from home network also started to feel like a restriction. There had to be a simpler way for data management. 

The answer turned out to be a cloud storage called Google One. Yes, the solution had been around for a while, so it should be matured enough by now. It also integrated really well with Google Photos and the back up process was seamless. At the promo price of SGD 1.39 per month for six months (usual price was SGD 2.79/month for 100GB), it was reasonably cheap. In fact, as a Google Pixel user, I was entitled for free trial until June. It was convenient to have the data accessible from anywhere. On top of that, I didn't need to worry about hardware failure and hardware refresh anymore. 

After the consideration above, I was convinced that I should move the data to the cloud. The process was quite straightforward, but I still got confused by the different technologies involved here, haha. Photos on the phone were backed up by Google Photos, but older ones from Apple's Time Capsule were treated like files and therefore went to cloud via Google Drive. These files wouldn't flow automatically into Google Photos. 

Now that the photos were on the cloud, it was time to do something about the collection. When I visited Franky's house in July 2020 (yeah, I knew the date because I used Swarm), he showed me this little gadget called Google Nest Hub. It was an over-glorified photo frame powered by Google and I couldn't be bothered with it then. But now, as I switched to Google One, it did feel like something I could use.

The result was something I hadn't seen in a long while. You see, we often took a lot of pictures and backed them up, hoping we'd see them again one day, but how often would we actually make time to browse through the collection? With Google Nest Hub, the photos we selected (I chose those with my wife and kids) were displayed automatically for us. It was good to see the old pictures again. Those happy memories were suddenly no longer hidden. They were there, right in front of me to cherish them...



Google Nest Hub.



Data Di Awan

Empat tahun silam, saya menulis tentang produk Apple yang bernama Time Capsule. Saya menyukai teknologinya yang menggabungkan Wi-Fi dan harddisk, sebab saya jadi bisa menyimpan data secara nirkabel. Saya pertama kali menggunakan Time Capsule di tahun 2012 dan lima tahun kemudian, saya membeli lagi produk serupa sebagai upaya peremajaan perangkat keras. Tidak saya sangka bahwa setahun kemudian Apple mengumumkan bahwa produk ini telah berakhir masa produksinya.

Sekarang, seiring dengan bertambahnya umur Time Capsule yang saya gunakan, saya mulai memikirkan apa gantinya. Time Capsule sangat praktis untuk digunakan di masa dimana kita meluangkan waktu untuk menyimpan dokumen, video dan foto ke harddisk eksternal. Namun ini tidak lagi relevan sekarang. Selain itu, fakta bahwa data hanya bisa diakses di rumah mulai terasa seperti keterbatasan. Harusnya ada cara yang lebih praktis dalam manajemen data. 

Jawabannya adalah penyimpanan data di cloud yang bernama Google One. Ya, solusi ini sudah beredar beberapa waktu lamanya, tapi seharusnya sudah cukup matang sekarang. Produk ini juga terintegrasi dengan Google Photos sehingga proses penyimpanan datanya sangat mulus. Dengan harga promo sekitar 15 ribu rupiah per bulan untuk jangka waktu enam bulan (harga resminya adalah IDR 30 ribu per bulan untuk kuota sebesar 100GB), biaya ini tergolong murah. Sebagai pengguna Google Pixel, saya juga mendapatkan masa uji coba gratis hingga bulan Juni. Praktis rasanya bisa mengakses data dari mana pun. Yang lebih menarik lagi, kini saya tidak perlu khawatir dengan resiko rusaknya perangkat keras bila tidak diganti baru setelah dipakai selama lima tahun.  

Dengan pertimbangan di atas, saya akhirnya yakin untuk memindahkan data ke cloud. Prosesnya cukup gampang, tapi saya sempat bingung dengan teknologi berbeda yang digunakan dalam proses pemindahan data, haha. Foto di telepon genggam kita langsung diunggah oleh Google Photos, tapi foto-foto lama dari Time Capsule itu tidak ubahnya seperti file biasa dan harus dipindahkan lewat Google Drive. Foto-foto ini tidak akan berpindah secara otomatis ke Google Photos. 

Nah, setelah koleksi foto tersimpan di cloud, tiba waktunya untuk melakukan sesuatu. Ketika saya mengunjungi rumah Franky di bulan Juli 2020 (saya tahu persis tanggalnya karena saya menggunakan Swarm), dia menunjukkan sebuah perangkat kecil yang disebut Google Nest Hub pada saya. Ini adalah bingkai foto yang berbasis Google dan di waktu itu, saya merasa tidak butuh. Sekarang, setelah pindah ke Google One, tiba-tiba saja bingkai foto ini terasa masuk akal untuk digunakan. 

Kalau anda pikirkan kembali, seringkali kita mengambil foto dan menyimpannya di harddisk eksternal supaya kita bisa melihatnya kembali suatu hari nanti. Kenyataannya, seberapa sering kita melihat kembali koleksi foto tersebut? Dengan Google Nest Hub, foto yang kita pilih (saya tampilkan semua yang ada istri dan anak-anak saya) akan muncul secara otomatis. Senang rasanya bisa melihat foto-foto lama. Semua kenangan akhirnya tidak lagi tersembunyi, melainkan muncul di meja kerja dan membawa saya bernostalgia... 

Sunday, April 11, 2021

The Food That Made Us

This story began with this picture. So eye-catching, so much goodness beautifully arranged in one plate. Many of you might not recognize this, but a brief look at it immediately brought me back to the time when this was one of the most delicious dishes ever in Pontianak. We called it curry rice. 

 The curry rice. I just had to like the picture!

Back in the days, when life was simpler, the options were either this or chicken rice. I was, and still am, a fan of the latter, but as I grew older, I started to appreciate curry rice, too. But what mattered most from the picture was the fact that it reminded me of the food that made us. The original street food vendors gotta be very old now and I wouldn't be surprised if some were no longer around. But lucky for us, some of their delicious legacies lived on.

Sunarto preparing the noodles. 

First and foremost was Bakmi Hong Tian. Throughout my life in Pontianak, I actually never knew the name, haha. But I ate there almost on daily basis during my secondary school. I ordered everything they had, from kway teow, noodles, wanton, mee pok, bee hoon to silver needle noodles. I tried all the cooking styles, from fried, dry to soup. The food was great and so was the moment when Parno spilled the whole bottle of chilli on his fried kway teow, haha.

A bowl of bakmi Hong Tian.

I never thought I'd have a chance to eat Bakmi Hong Tian again until my friend Iwan told me that Sunarto continued his mother's business in Jakarta. That's when I made a vow that I would find him and order one bowl of noodles. I did exactly that in December 20, 2019. The noodles tasted just like the good old days, perhaps partly due to a secret ingredient called nostalgia.

It's known as mixed rice elsewhere, but we called it chicken rice in Pontianak.

Next, we had Nasi Campur Alu, now inherited by my friend CP and her husband. Alu, Asan and Akwang were big names 30 years ago. They were like the Romance of Three Kingdoms in Pontianak, conquering their territory with their own unique style of chicken rice. Alu's stall was the nearest to my house, so I grew up with the fair share of Nasi Campur Alu.

With CP  (standing) and her husband Ali (in white shirt).

I first rediscovered Nasi Campur Alu in 2016. It was my friend Endrico who brought me there when we had lunch in Jakarta. It was brilliant. The portion was just nice for you to appreciate its greatness. You know how sometimes you had a certain expectation for something? In the steady hand of Ali, the son of Alu, the next generation of Nasi Campur Alu tasted just like how I remembered it. Since then, I always ate there whenever I had a chance.

When we visited Hendry (in white shirt) at Bakmi Alit. 

Then there was Hendry who posted the picture of curry rice. If I remember correctly, Hendry's parents sold kwe kia theng, Pontianak's equivalent of Singapore's kway chap. But the owner of Bakmi Alit (I guess Alit came from his nickname Gullit) is capable of not only cooking his parents' signature dish, but also many other mouth-watering cuisines from Pontianak such as nasi campur and roasted pork. 

A bowl of authenticity.

The man was not only talented, but also forward-thinking. I admired how he actively participated in food events. The pictures of his food on social media looked tempting and professional. In the time of corona, he also embraced things like vacuum packing and online delivery. He even tried out Shopee and international shipping to Singapore! It was commendable, alright, but all this might not be so important if we didn't know how good his food was like. The verdict: it tasted authentically Pontianak. So good that it was worthy of the hashtag #goodthingsmustshare.

Kway teow and salted egg fish balls soup.

The last one was Hardy of Bakso Ikan Telur Asin Ahan. To be frank, I never tried this when I lived in Pontianak, but I remember seeing the stall behind Pasar Mawar. In 2017, I went to his stall and had a bowl. It felt right. There was something Pontianak about it. 

Enjoying salted egg fish balls. 

Hardy's favourite song was November Rain. The singer, Axl Rose belted out the lyrics, "nothing lasts forever, even cold November rain." He was right and that made this all the more important. The food heroes from our childhood might have long gone. In the world where there seemed to be more interesting things to do, these few friends of mine chose to continue the legacies that we all knew and loved. I'm really proud of them, the unsung heroes of our generation. Keep it up, guys! And keep the good food coming!

With Hardy of Bakso Ikan Telur Asin Ahan.




Makanan Favorit Kita

Kisah kali ini dimulai dari gambar di bawah ini. Begitu menarik perhatian, bukti nyata bahwa kelezatan bisa tertata indah di piring. Mungkin banyak dari anda yang tidak mengenali makanan ini, tapi saya langsung terbawa ke masa silam dalam selintas pandang. Suatu kala di masa lalu, ini adalah salah satu makanan paling enak di Pontianak. Sebutannya adalah nasi kari.

Begitu menggoda. Saya langsung kasih like!

Ya, pada zaman dulu, ketika hidup masih sederhana, pilihan yang tersedia untuk kategori ini adalah nasi kari dan nasi ayam. Saya adalah penggemar nasi ayam dari sejak kecil, namun seiring dengan bertambahnya usia, saya mulai menyukai nasi kari juga. Akan tetapi yang penting dari foto ini adalah peranannya dalam mengingatkan saya kembali tentang makanan yang sering saya santap dulu. Para penjaja makanan ini pastilah sudah berumur atau bahkan meninggal, tapi kita beruntung karena hasil karya mereka tidaklah punah. 

Sunarto sedang memasak mie untuk saya.

Yang pertama adalah Bakmi Hong Tian. Sepanjang hidup saya di Pontianak, saya tidak pernah tahu namanya, haha. Kendati begitu, saya menyantap makanan di kedai ini hampir setiap hari sepanjang masa SMP. Saya mencoba semua yang mereka jual, mulai dari kwetiau, mie, pangsit, miepok, bihun dan locupan. Saya jajal pula semua cara masaknya, mulai dari goreng, kuah dan kering. Sungguh berkesan masakannya. Satu kenangan tak terlupakan di sana adalah saat Parno menumpahkan sebotol cabe di atas makanan yang ia pesan, haha. 

Satu mangkok yang menggugah selera. 

Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya akan memiliki kesempatan untuk menikmati Bakmi Hong Tian lagi. Adalah teman saya Iwan yang mengabarkan bahwa Sunarto melanjutkan usaha ibunya di Jakarta. Saya lantas berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan mencari Sunarto demi semangkok bakmi Hong Tian. Ikrar ini saya penuhi pada tanggal 20 Desember 2019. Mienya terasa persis seperti buatan ibunya, mungkin karena pengaruh bumbu khusus bernama nostalgia. 

Di luar namanya nasi campur, tapi di Pontianak disebut  nasi ayam.

Berikutnya adalah Nasi Campur Alu yang kini dikelola oleh teman saya CP dan suaminya. Perlu saya jelaskan bahwa Alu, Asan dan Akwang adalah nama besar sejak 30 tahun lampau. Mereka bagaikan Sam Kok, masing-masing menguasai daerah tersendiri dengan nasi ayamnya yang khas. Tempat jualan Alu dekat dengan rumah saya, jadi saya tumbuh dan berkembang dengan Nasi Campur Alu dalam menu sehari-hari saya.

Bersama CP dan suaminya, Ali.

Saya menemukan kembali Nasi Campur Alu di tahun 2016. Teman saya Endrico membawa saya ke sana sewaktu kita makan siang di Jakarta. Rasanya dashyat. Porsinya pas sehingga anda tidak terlalu kenyang untuk mengapresiasi kelezatannya. Berkat kemahiran Ali, putra Alu, generasi kedua Nasi Campur Alu ini seenak apa yang saya ingat. Semenjak itu, saya selalu mampir bilamana ada kesempatan. 

Bersama Hendry (kaos putih) saat kita mampir ke Bakmi Alit. 

Kemudian ada pula Hendry, seorang teman yang mengunggah foto nasi kari di atas. Jikalau ingatan saya tidak keliru, orang tua Hendry menjual kwe kia theng di Pontianak. Meksipun demikian, pemilik Bakmi Alit (saya rasa Alit berasal dari panggilannya di masa SMP: Gullit) tidak hanya bisa memasak resep warisan orang tuanya, tetapi juga makanan lain yang khas Pontianak seperti nasi campur. Babi panggangnya juga cukup dikenal langganan. 

Bakmi Kepiting.

Pria ini bukan hanya berbakat, tapi juga berpandangan maju. Saya kagum dengan upayanya yang senantiasa mengambil bagian dalam berbagai acara makanan di Jakarta. Foto-foto makanannya di media sosial juga terlihat menggiurkan dan profesional. Di musim pandemik, dia mencoba inisiatif baru seperti paket mie yang telah divakum dan juga jasa antar online. Dia bahkan mempelajari potensi Shopee dan pengiriman internasional ke Singapura! Semua jerih-payahnya patut dipuji, tapi semua ini tidak banyak artinya jika kita tidak seperti apa rasa makanannya. Menurut saya, rasanya seperti masakan otentik dari Pontianak. Begitu enak sehingga wajib dibagikan dengan tagar #goodthingsmustshare.

Kelezatan yang berpadu menjadi satu!

Yang terakhir adalah Hardy yang membuka cabang Bakso Ikan Telur Asin Ahan. Saya tidak pernah mencoba menu yang satu ini sewaktu tinggal di Pontianak, tapi saya pernah melihat kedainya di belakang Pasar Mawar. Di tahun 2017, saya singgah ke tempat Hardy dan mencicipi dagangannya. Sungguh ada cita rasa khas Pontianak di dalam makanan yang ia sajikan. 

Menikmati bakso ikan telur asin.

Lagu favorit Hardy adalah November Rain. Sang penyanyi, Axl Rose, membawakan lirik berikut ini, "nothing lasts forever, even cold November rain." Apa disampaikannya sungguh benar. Mereka yang menjual makanan di masa kecil kita ini mungkin telah mengundurkan diri. Di dunia dimana sepertinya ada banyak hal yang lebih menarik untuk dikerjakan, beberapa teman saya ini melanjutkan adikarya yang kita kenal baik dan cintai. Saya bangga dengan mereka dan suka pula dengan masakan mereka. Tetaplah berkarya, teman-teman. Jangan berhenti menyajikan yang terbaik dari Pontianak.

Bersama Hardy, rocker yang mengelola bakso ikan telur asin Ahan.


Sunday, April 4, 2021

The Motivation

Our high school chat group, founded in 2015, had been around for quite some time. Over the years, I developed a lot of nonsensical catchphrases. One that appeared quite often recently was, "if you are 40 and you still haven't been to Singapore, something must have gone wrong along the way."

While this might sound incredibly annoying to the uninitiated, my friends simply dismissed this as another bombastic remark from the official gas stove of the group. They didn't take it seriously, which was the beauty of knowing each other for so long, but at the same time, they probably had missed the point. 

To be frank, I didn't just say it to irritate them. I actually tried to motivate them in a very subtle way. Throughout my three years of working in Jakarta in my early 20s, I learnt that holiday was the furthest thing I had in mind. I was happy with the way I lived my laid-back life, so ignorant that I didn't know what I had missed. 

It was an honest mistake that might happen we were young and single. Now that we were in our 40s, if we had gone through so much hardship but yet it didn't bring us any further from where we started, then there was a danger that we started taking it as a norm. We might be subconsciously believing that, "well, this is my life. I just have to accept it."

Surianto taking pictures of the kids at the zoo.

While acceptance was good, perhaps a little motivation wouldn't hurt as well. I believed that, as a husband and especially as a father, we owed it to our family to show them the world and expand their horizons. One might argue that seeing the world via the internet was fine, but if that was true, then why would people still travel? The hard truth was, nothing beat the real-life experience. The kids deserved that and it was our responsibility to give them the chance. 

But why Singapore? Because it's the only first world country close enough to Indonesia, so different from what many of us had seen on daily basis. Singapore is a good exposure for the kids to know. Life here isn't perfect, but it is definitely a good option. What they saw couldn't be unseen. It'd be etched forever in their minds. An inspiration. If this was the one thing you could do to change their lives forever, you surely didn't want to miss that. 

This is why I often encouraged friends to come and take a look. With so many budget airlines and a friend who was willing to let you stay few nights for free, Singapore wasn't that expensive. The question was whether you were willing to take the first step by applying for passport. My advice? Come here alone and see what first the world has to offer, then bring the experience back as a motivation that you'df work hard to bring your family to come here one day so they could see Singapore themselves.

If you ever wonder what's in it for me, the answer is nothing. I simply enjoy bringing people to see the city. Back in the days, friends like Jimmy and Endrico brought me around to see Kuching and Singapore. Let's just say because they gave me chance, they inspired me to extend the same chance to other friends, too...

With Jimmy as well as Gunawan and wife.



Motivasi

Grup SMA di WhatsApp yang pertama kali dibentuk di tahun 2015 kini sudah berjalan beberapa waktu lamanya. Dalam beberapa tahun ini, saya juga menciptakan berbagai celetukan yang secara selintas terdengar semena-mena. Satu yang sering muncul belakangan ini adalah, "sudah umur 40 tapi belum pernah ke Singapura, pasti ada yang salah." 

Bagi yang tidak paham dinamika grup, komentar ini pasti terdengar menyebalkan. Sejauh ini teman-teman tidak terlalu ambil pusing, mungkin karena komentar ini datang dari seseorang yang mereka sebut sebagai kompor gas. Tak ada menanggapi secara serius (dan inilah indahnya persahabatan yang sudah berjalan sekian lama), tapi di satu sisi, mereka juga tidak menangkap maksud yang tersirat dalam kalimat ini. 

Saya tidak mengucapkan hal ini untuk membuat mereka jengkel. Sesungguhnya saya justru menyentil mereka dengan halus. Di awal usia 20an, saya bekerja selama tiga tahun di Jakarta. Di kala saya melihat kembali, saya menyadari bahwa liburan nyaris tidak terpikirkan pada saat itu. Saya puas dengan pola hidup yang santai dan tidak pernah tahu bahwa saya melewatkan begitu banyak hal.

Kesalahan ini bisa dimaklumi dan tidak fatal ketika kita masih muda dan hidup sendiri. Sekarang, di usia 40an, jika kita telah melalui begitu banyak kesulitan hidup dan perjuangan kita tidak membuat banyak perbedaan, kita mungkin jadi merasa bahwa beginilah yang namanya hidup. Kita mungkin lambat-laun percaya, seperti inilah hidup kita dan kita harus menerimanya. 

Surianto dan anak-anak. 

Berserah diri itu bagus, tapi sedikit motivasi juga baik adanya. Saya percaya bahwa sebagai suami, terlebih lagi sebagai seorang ayah, membawa anak melihat dunia dan membuka wawasan mereka adalah tanggung jawab kita. Anda mungkin merasa bahwa lewat internet saja sudah cukup, tapi kalau sungguh itu benar, kenapa masih banyak orang yang pergi berlibur? Kenyataannya adalah, melihat dan mengalami secara langsung jelas berbeda rasanya. Anak-anak kita hendaknya memperoleh kesempatan ini dan adalah tanggung jawab kita untuk memberikan kesempatan tersebut pada mereka.

Tapi kenapa Singapura? Karena ini adalah negara dunia pertama yang dekat dengan Indonesia dan begitu berbeda dengan apa yang kita lihat sehari-hari di tempat kita berasal. Singapura adalah sebuah pengalaman yang luar biasa untuk dijajaki oleh anak-anak. Kehidupan di sini tidaklah sempurna, tapi jelas merupakan sebuah pilihan yang bagus. Apa yang mereka lihat dan alami takkan terlupakan. Siapa tahu akan menjadi sebuah inspirasi bagi mereka kelak. Nah, jika ini adalah satu hal yang bisa anda lakukan untuk mengubah hidup mereka, tentu anda tidak ingin melewatkannya. 

Karena inilah saya sering mendorong teman-teman untuk datang, melihat dan mengalami sendiri, apa yang namanya Singapura ini. Dengan adanya penerbangan murah dan juga teman yang berkenan menyediakan tempat tinggal selama beberapa malam, Singapura pun tidak akan terlalu mahal di ongkos. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah anda mau mengambil langkah pertama dan membuat paspor dulu? Menurut saya, datanglah dulu ke sini seorang diri dan lihat sendiri apa yang ditawarkan Singapura. Setelah itu bawa pulang pengalaman anda dan jadikan motivasi bahwa anda akan bekerja keras dan membawa keluarga anda berlibur ke Singapura suatu hari nanti. 

Jika anda membayangkan apa untungnya semua ini buat saya, jawabannya adalah tidak ada. Saya cuma senang bertemu dan membawa teman jalan-jalan. Bertahun-tahun silam, Jimmy dan Endrico juga membawa saya melihat-lihat kota Kuching dan Singapura. Apa yang mereka perbuat lantas menjadi inspirasi bagi saya untuk melakukan hal yang sama. Sesederhana itu...

Bersama Jimmy dan juga Gunawan dan istri.


Sunday, March 28, 2021

The Photos

Long ago, it must be, I have a photograph
Preserve your memories; They're all that's left you...
~Old Friends/Bookends~
Simon & Garfunkel, 1968

There are two interesting things that I love most when I'm doing Roadblog101. The first one is when I got the inspiration. It's a wonderful but rather inexplicable experience. It just felt right when the inspiration came. Instinctively, I knew this was what I wanted to write and the words just came out. The feeling is so addictive and this is probably why I still carry on writing after I first discovered this ability in 1996.

The second thing got to do with the lyrics above (I heard the song some time back and it inspired me to write this). Doing Roadblog101 made me realize that I had photos for almost every story I wrote. Told my wife recently I was actually amazed to discover that I had a rather extensive collection of photos from the time I was a baby to date. I didn't set out to do this, but things came together coincidentally. 

From toddler to four days ago!

The first part of my life were pretty well documented by my parents. We moved houses a lot since I was seven and I must have lost many of old photos a long the way, but lucky for me, a good chunk of them survived this period. Dad kept the remaining photo albums safely and eventually passed them to me when he visited Singapore.

When I was a teenager, I inherited a Ricoh camera from Dad. Not many people had a camera then and it was not cheap to own one. I mean, a roll of film costed a fortune and you still had to pay more to have it developed! God knows how I scrimped and saved, but I'm glad I managed to snap that time of my life, from high school till college days.

During my stay in Jakarta, I decided to get myself a digital camera. It was a Sony Cyber-shot 3.2 megapixel, the coolest entry level camera I could afford in 2004. Most of the time, I was the man behind the lens, a position I was more comfortable with. I was so skinny and riddled with pimples that I had no confidence to be photographed, haha. As a result, I had a lot of pictures of my colleagues and friends. 

Parno in the past twenty years. 

Then photography got much cheaper after the dawn of digital cameras. The issue now was the storage. Burning data to CD was the cheapest option then, but it wasn't the best option in a long run. That's how I lost 700MB worth of photos from the Jakarta days, including the photo of my favourite fried rice guy. Oh yes, I had this regular fried rice vendor named Roni. Too bad that I lost the picture of him in action. 

By the time BlackBerry appeared, taking pictures had become a norm (though the quality was still awful). Things got better since then and preserving memories was as simple as touching the screen on your phone these days. The existence of cloud made it even more seamless and storage was no longer an issue one needed to worry about.

As a comparison, my daughter had her pictures taken using a digital camera since the day she was born. Mine, as you could tell from the story above, had gone through changes from analog to digital and things got lost during the transition. The fact that most of them remained intact was a miracle. Sometimes I do wish I had pictures of us in the haunted island or the time we had the voyage from Pontianak to Jakarta, but I guess I couldn't be greedy. If anything, I should be thankful. Not many from my generation had the photos like what I had...

"Sometimes I wish that I could freeze the picture.
And save it from the funny tricks of time..."
Slipping Through My Fingers
ABBA, 1981



Koleksi Foto

Long ago, it must be, I have a photograph
Preserve your memories; They're all that's left you...
~Old Friends/Bookends~
Simon & Garfunkel, 1968

Ada dua hal yang senantiasa terasa menarik saat saya menulis di Roadblog101. Yang pertama adalah saat mendapatkan inspirasi untuk menulis. Rasanya luar biasa, tapi tidak gampang untuk dijelaskan. Pokoknya apa yang dipikirkan dan dirasakan itu terasa pas. Secara insting, saya tahu bahwa topik inilah yang ingin saya tulis dan kata-kata pun mengalir secara alami. Perasaan ini sangat adiktif. Mungkin inilah alasannya kenapa saya masih tetap menulis dari sejak tahun 1996, saat pertama kalinya saya menyadari bahwa saya bisa menulis.

Hal kedua berkaitan dengan lirik di atas (saya mendengar lagu tersebut beberapa waktu lalu sehingga tergugah untuk menulis kisah ini). Roadblog101 membuat saya menyadari bahwa saya memiliki foto untuk hampir semua cerita yang saya tulis. Baru-baru ini saya ungkapkan pada istri saya bahwa saya sendiri terpana dengan koleksi foto saya, mulai dari foto saat bayi sampai hari ini. Sejujurnya saya tidak pernah berpikir untuk sungguh-sungguh mengumpulkan foto, tapi semuanya terjadi begitu saja. 

Foto dari masa balita sampai empat hari yang lalu.

Bagian awal hidup saya didokumentasikan dengan baik oleh orang tua saya. Kami pindah rumah berulang kali dan pastilah tidak sedikit foto lama yang hilang, tapi saya beruntung karena foto-foto dari berbagai masa hidup saya tidak lenyap begitu saja. Ayah saya menyimpan album foto yang tersisa dengan baik dan memberikannya pada saya sewaktu dia mampir ke Singapura. 

Ketika saya remaja, ayah saya mewariskan kamera Ricoh. Tidak banyak yang memiliki kamera pada saat itu dan mahal pula ongkosnya untuk mempunyai kamera. Maksud saya, satu gulung film tidaklah murah harganya dan selain itu, hasilnya masih perlu dicuci cetak. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana saya berhasil menabung pada saat itu, yang jelas saya bersyukur bahwa saya bisa memotret di saat SMA dan kuliah

Sewaktu tinggal di Jakarta, saya memutuskan untuk membeli kamera digital Sony Cyber-shot 3.2 megapixel. Ini kamera level pemula bagi yang pas-pasan duitnya, hehe. Seringkali saya menjadi orang di belakang kamera karena saya merasa lebih nyaman sebagai orang yang memotret. Di kala itu saya sangat kurus dan juga berjerawat sehingga tidak percaya diri untuk difoto. Alhasil, saya memiliki banyak foto kolega dan teman-teman. 

Foto Parno dari masa ke masa selama 20 tahun terakhir.

Fotografi menjadi hobi yang jauh lebih murah setelah kita memasuki era kamera digital. Yang jadi masalah sekarang adalah tempat penyimpanannya. Menyimpan data di CD adalah pilihan paling murah pada saat itu, tapi tidak berarti merupakan opsi yang bagus untuk jangka panjang. Saya kehilangan data foto sebesar 700MB karena satu CD yang saya miliki tidak bisa dibaca lagi. Setengah dari foto di masa Jakarta pun sirna, termasuk foto Kang Roni, penjaja nasi goreng langganan saya, yang tengah menggoreng nasi pesanan saya saat difoto.

Setelah kemunculan BlackBerry, foto digital mulai menjadi sesuatu yang lumrah (meskipun masih buruk kualitasnya). Semenjak itu, teknologi pun kian maju dan mengabadikan kenangan menjadi semudah menyentuh layar telepon anda. Keberadaan cloud membuat semuanya semakin praktis dan tempat penyimpanan data tidak lagi menjadi masalah. 

Sebagai perbandingan, foto-foto putri saya diambil dengan telepon genggam dari sejak dia lahir. Saya lahir di zaman yang berbeda dan foto-foto saya melewati transisi dari analog ke digital. Fakta bahwa foto dari berbagai masa hidup saya masih ada adalah suatu keajaiban tersendiri. Ada kalanya saya berharap bahwa seandainya saja saya sempat berfoto saat mengunjungi Pulau Temajo yang berhantu atau saat saya, Eday, Parno dan kawan menaiki kapal bersama ke Jakarta. Kendati begitu, saya masih berterima kasih dengan apa yang saya miliki. Tidak semua orang dari generasi saya memiliki koleksi foto seperti saya...

"Sometimes I wish that I could freeze the picture.
And save it from the funny tricks of time..."
Slipping Through My Fingers
ABBA, 1981

Wednesday, March 17, 2021

The Transition: From Jakarta To Singapore

Today's story began with a friend posting a picture of his kids having sushi. I commented that I first had sushi when I was 26. Jimmy and I were at Sakae Sushi Changi Airport then and I could only afford three plates. Sushi was expensive for one who came looking for the job!

At that time, I just landed in Singapore with only USD 1,400 in my pocket, my entire savings after working three years in Jakarta. As a matter of fact, the money was actually my book royalties as a published writer of two novels, not my salary as the IT guy at Kalbe. 

As part of Kalbe's IT team.

Another friend in the chat group then asked me, how I survived with only USD 1,400 in Singapore. Much to my surprise, I found out that there was no story telling this exact episode of my life on Roadblog101. It was only mentioned in a couple of stories and the details were vague. 

Confused? It's okay, because I'm about to start from the top. You see, a long time ago, I fell in love with this girl named Yani, but it was a relationship full of challenges. One of them was the fact that she was a manager while I was only a lowly staff. If I intended to overcome this gap by leaps and bounds, I certainly needed to do something drastic.

Jimmy and Soedjoko at Suntec, during my visit in 2005.
 
Believe it or not, that something drastic I had in mind was not finding a job in Singapore. I did come here with Soedjoko in 2005, but that's because I'd like to meet Taty's boss. The man helped people who wanted to work at a apple farm in New Zealand. I met him somewhere nearby Kembangan MRT, not very far from where Endrico and Jimmy were staying. 

So there you have it. My grand plan, the best I could think of, was earning dollars by doing menial jobs in a foreign country for few years, haha. But I was always a dreamer. It might seem like an awful plan now, but inside the head of a 25-year old, it was quite bohemian. Imagine a lifestyle where one was picking apples by day and writing by night. Cool, eh?

From left: Hartono, Endrico, me, Suhendi, Parno and Soedjoko during CNY 2006 in Pontianak.

But back to reality, the asking price was USD 2,000. As you could see from the amount I mentioned above, I didn't have enough. I was disappointed, so heartbroken that I saw no point to carry on working at Kalbe. In January 2006, I quit my job in Jakarta and went home jobless. Chinese New Year was coming anyway, so I took a break and decided to worry about my life later. 

I couldn't recall what triggered my interest to give a try in Singapore. Perhaps I simply had nothing to lose. Perhaps I was inspired by the freedom I saw when I visited Endrico and Jimmy. One thing for sure, it was made possible by their invitation to come and stay with them if I felt like taking the chances. So off I went with Ardian and Tedy. The two of them came for holiday, I came to start anew. 

A parody of our lives in Kembangan. I really slept on that bed!

What happened next was five months of struggle. I shared the bedroom with six other guys and I slept directly beneath the aircon. It was bloody freezing! Then, when all went to work, I'd either be at the library or alone at home, using Tommy's laptop to send resumes to almost any vacancies available, including Hang Ten and Eng Wah Cinema. In the evening, we'd go to the coffee shop in Block 110 Lengkong Tiga, where I'd normally have mui fan. At SGD 3, it was cheap and the portion was generous!

Cheap was good for me, because money was depleting. I remember changing USD at the money changer in Bugis Junction. I also remember being worried and puzzled as I walked away after converting USD 100 to SGD. It was not much. Somehow, someway, it seemed to me that USD was worth more when converted to IDR, but I couldn't really figure out why it looked that way. 

Lucky for me, sometimes Jimmy would bring me along when there were data entry jobs that paid hourly. The money was good. For work less than a month, it actually paid two times better than my last drawn salary at Kalbe (it was about IDR 2,8 million). For a short period of time, we even owned a company together. It was called Oceanative Technology Pte Ltd. Though it might sound like a seafood company, we were doing IT. With help of Soedjoko and Robin, the husband of Ice, we completed our one and only project in Ayer Rajah. It was a SGD 10K project, back when SGD 1 was about IDR 5K. 

21/02/06, the day I started my life in Singapore.

Then, throughout all this uncertainty, there were visa runs. I was only given two weeks of social visit pass since I first entered Singapore in February 2006. Kind of strange, because social visit pass was normally granted for one month. Anyway, visa runs meant extension of another two weeks. Sometimes I went to Batam. I'd also fly to Jakarta and I remember attending Soedjoko's wedding during this period. The cheapest alternative was, of course, a day trip to Johor Bahru. 

But visa runs also came with a risk. The last time I did that, even tough I stayed one night in Johor Bahru, my track records clearly indicated that I had done several attempts of visa runs continuously. As a result, I was brought into immigration office and given a stern warning. The next time this happened, the immigration officer told me that I'd pack and go in no time. 

It was a downer, really. The latest addition to my strings of misfortune. I had been applying for so many jobs but heard no good news thus far. Things did look bleak that when I thought of the girl I liked, I had doubts that I could see her again. I mean, how could I? I had nothing. No money, no job, no future. I couldn't help wondering if all this got to do with my computer science degree from Pontianak, a small town. What if it didn't mean a thing? Did I have to kiss my dreams goodbye? Where would I go from here?

When all hope seemed lost, that unfortunate visa run turned out to be the last time I needed to do so. The next thing I knew, I got a call from a job agency. Fujitsu provided IT services to Citibank and I was hired to do end-user computing. In case you didn't know what it meant, my job was mainly preparing laptops for users. To certain extent, I did troubleshooting as well. 

I remember being interviewed by Shamrie, the Fujitsu IT team lead, in front of Old Chang Kee in Tampines. Much to my surprise, it actually went well. Only God knows what Shamrie saw in me that he eventually decided to hire me. But whatever his reason was, Shamrie unknowingly gave me the start I desperately needed in Singapore. 

Celebrating Yani's birthday. 

In the past five months, as I was running out of money, I was scared that I wouldn't make it. There were times when I questioned myself, wondering if I was just a loser. Then finally this happened. Not only I managed to get a job, I also got it just in time before Yani's birthday. I invited her to come here and celebrate. By the time we met again, it felt right. 

And the rest is history, perhaps a story for another time. Looking back at the transition period, I wish I could tell you that I was so impressive, but no, I wasn't. I didn't have brilliant plans and I didn't know if I would make it. I'm afraid there was no success formula that I could share with you here. But if there's one thing I learnt from my experience, it must be this: I did what what I could, I got by with a lot of help from my friends and I had been blessed by the One above. When these three aligned, miracle happened.

By the way, back to the three plates of sushi, it felt expensive, alright, but I'd be making a mountain out of a molehill if I said it was a great reminder of how my life had changed. The truth wasn't as dramatic as Hollywood movies. We were simply at Changi Airport, feeling hungry and then we decided to eat Sakae Sushi. It just happened to be something that I hadn't eaten before, so nothing symbolic about it, haha.



Masa Transisi: Dari Jakarta Ke Singapura

Cerita kali ini dimulai dari foto dua anak teman yang hendak makan sushi. Saya lantas berkomentar bahwa saya pertama kali menyantap sushi di usia 26. Saat itu Jimmy dan saya makan di Sakae Sushi Changi Airport dan saya cuma berani mengambil tiga piring kecil. Sushi tidaklah murah bagi seorang pengangguran yang sedang mencari kerja! 

Kala itu saya baru mendarat di Singapura. Saya hanya mengantongi USD 1.400 yang merupakan total tabungan saya selama bekerja tiga tahun di Jakarta. Uang ini bukan berasal dari gaji saya sebagai karyawan IT di Kalbe, melainkan royalti yang saya peroleh dari hasil menjual dua buku novel

Sebagai bagian dari tim IT di Kalbe.

Seorang teman di grup WhatsApp lantas bertanya, bagaimana saya bisa bertahan hanya dengan USD 1.400 di Singapura. Setelah saya telusuri kembali, ternyata tidak ada cerita khusus tentang masa transisi ini di Roadblog101. Kisah ini hanya disinggung secara sepintas di beberapa cerita yang sudah ada.

Bingung? Tidak apa-apa, akan saya ceritakan kembali dari awal. Semua ini dimulai bertahun-tahun silam, ketika saya jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Yani. Akan tetapi hubungan ini penuh tantangan. Salah satunya adalah fakta bahwa dia adalah seorang manajer dan saya hanyalah seorang karyawan biasa. Saya lantas berniat mengatasi kesenjangan ini secara cepat dengan melakukan sesuatu yang drastis. 

Jimmy dan Soedjoko di Suntec saat kunjungan saya ke Singapura di tahun 2005.

Percaya atau tidak, sesuatu yang drastis di benak saya bukanlah mencari kerja di Singapura. Saya memang datang ke sini bersama Soedjoko di tahun 2005, namun itu karena saya ingin bertemu dengan bos Taty. Konon orang India ini bisa memberangkatkan tenaga kerja yang ingin memetik apel di Selandia Baru. Saya bertemu dengannya di stasiun Kembangan, tak jauh dari tempat tinggal Endrico dan Jimmy. 

Jadi inilah rencana saya. Meraup dolar dengan profesi pekerjaan kasar di negara asing selama beberapa tahun, haha. Walau sekarang konyol kedengarannya, tapi impian tersebut terasa penuh kebebasan dan cukup menghasilkan bagi pemuda berumur 25 tahun. Pada dasarnya saya adalah pemimpi, jadi bayangkan gaya hidup dimana saya memetik apel dari pagi sampai sore, lalu menjalani kehidupan sebagai penulis di malam hari. Menarik, bukan? 

Dari kiri: Hartono, Endrico, saya, Suhendi, Parno dan Soedjoko saat Tahun Baru Cina di Pontianak.

Kembali pada kenyataan, harga yang diminta adalah USD 2.000. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, uang saya tidak cukup. Saya kecewa dan putus asa, sampai-sampai saya merasa tidak ada gunanya bagi saya untuk tetap bekerja di Kalbe. Oleh karena itu saya berhenti dan pulang ke Pontianak sebagai pengangguran di bulan Januari 2006. Saya putuskan untuk beristirahat dulu sambil merayakan Tahun Baru Cina, setelah itu baru saya pikirkan apa langkah selanjutnya.

Saya tidak ingat lagi apa sebenarnya yang mendorong saya untuk mencoba mencari kerja di Singapura. Mungkin saya terinspirasi oleh kebebasan yang saya lihat saat saya dan Soedjoko mengunjungi Endrico dan Jimmy. Satu hal yang pasti, dua teman ini mengundang saya untuk tinggal di tempat mereka bilamana saya hendak mengadu nasib. Akhirnya saya ke sana bersama Ardian dan Tedy. Mereka berdua datang dengan tujuan wisata, saya tiba untuk memulai babak baru dalam hidup saya. 

Parodi kehidupan para penghuni rumah di Kembangan. Saya tidur di kasur yang pas di bawah AC ini.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah perjuangan selama lima bulan. Saya tinggal di kamar utama bersama enam orang lainnya dan saya tidur tepat di bawah AC. Dinginnya luar biasa. Kemudian, di kala yang lain pergi bekerja, terkadang saya mengunjungi perpustakaan, namun tak jarang pula berdiam diri di rumah dan menggunakan komputer Tommy untuk mengirim lamaran kerja apa saja, bahkan ke toko baju Hang Ten dan bioskop Eng Wah. Di malam hari, biasanya kita makan di Blok 110 Lengkong Tiga dan saya sering kali memesan mui fan. Saat itu harganya cuma SGD 3, murah dan banyak pula porsinya!

Harga makanan yang murah itu sangat membantu saya dalam berhemat, sebab tabungan saya kian hari kian menipis. Saya ingat saat saya menukar USD di valuta asing di Bugis Junction. Saya merasa khawatir dan bingung sewaktu saya selesai bertransaksi. Entah kenapa USD 100 tidak terlihat banyak setelah ditukarkan ke SGD, padahal kalau dirupiahkan, rasanya seperti berlimpah. 

Beruntung bagi saya, terkadang Jimmy membawa saya untuk turut serta bila ada pekerjaan sampingan input data yang dibayar per jam. Uangnya lumayan. Untuk pekerjaan kurang dari sebulan, bayarannya dua kali lipat dari gaji terakhir yang saya terima di Kalbe (sekitar IDR 2,8 juta). Kita juga sempat membuat perusahaan bersama. Namanya Oceanative Technology Pte Ltd. Meski terdengar seperti toko seafood, kita bergerak di bidang IT. Dengan bantuan Soedjoko dan juga Robin yang merupakan suami Ice, kita menyelesaikan satu-satunya proyek kita di kawasan Ayer Rajah. Proyek ini bernilai SGD 10 ribu dan SGD 1 pada waktu itu berada di kisaran IDR 5 ribu. 

21 Februari 2006, hari pertama saya di Singapura.

Kemudian, di masa yang penuh ketidakpastian ini, saya harus keluar-masuk Singapura untuk memperpanjang visa. Saya hanya diberikan social visit pass selama dua minggu sejak saya pertama kali menjejakkan kaki di Singapura pada bulan Februari 2006. Aneh juga, sebab social visit pass biasanya itu sebulan. Setiap kali saya keluar-masuk, saya kembali mendapatkan dua minggu. Kadang saya ke Batam. Ada kalanya saya ke Jakarta dan saya bahkan menghadiri pernikahan Soedjoko pada masa ini. Alternatif paling murah pada saat itu tentunya adalah perjalanan bolak-balik di hari yang sama ke Johor Bahru.

Akan tetapi apa yang disebut sebagai visa runs ini juga beresiko. Terakhir kali saya melakukan hal ini, saya digiring ke kantor imigrasi Woodlands dan diberikan peringatan keras. Meski saya sempat bermalam di Johor Bahru, rekam jejak saya menunjukkan bahwa saya sudah melakukan visa runs berulangkali. Petugas imigrasi memberikan ultimatum: sekali lagi saya tertangkap, saya akan segera dikirim pulang ke Indonesia. 

Kejadian ini membuat saya terpukul dan semakin cemas. Saya sudah melamar banyak pekerjaan, tapi belum ada yang berhasil. Semua terlihat suram dan ketika saya memikirkan gadis yang saya sukai, saya jadi ragu kalau saya bisa bertemu dengannya lagi. Bagaimana bisa? Saya tidak punya apa-apa. Uang, pekerjaan, masa depan, semuanya tak ada. Saya bahkan jadi kepikiran, apa ini karena gelar sarjana yang saya peroleh dari Pontianak, yang hanya merupakan kota kecil dan tidak banyak diketahui orang? Bagaimana kalau gelar sarjana ini sama sekali tidak berarti? Apa saya lantas harus mengakhiri impian saya di Singapura? Apa lagi yang bisa saya kerjakan setelah ini? 

Ketika harapan bagaikan pupus, tak disangka visa run yang naas itu menjadi kali terakhirnya bagi saya. Mendadak saya mendapat panggilan dari biro pekerjaan. Fujitsu menyediakan jasa IT ke Citibank dan saya dipekerjakan untuk perihal end-user computing. Secara awam ini bisa dijelaskan sebagai bagian yang mengurus kebutuhan komputer karyawan. Tugas saya adalah menyiapkan laptop dan terkadang juga memecahkan masalah komputer yang sedang dihadapi oleh pengguna. 

Saya ingat saat diwawancarai oleh Shamrie, pimpinan tim IT Fujitsu, di depan Old Chang Kee di Tampines. Di luar dugaan, ternyata semua berjalan lancar. Hanya Tuhan yang tahu apa yang dilihat Shamrie dari diri saya sehingga dia mau mempekerjakan saya. Terlepas dari apa alasannya, Shamrie mungkin tidak pernah tahu bahwa dia telah memberikan kesempatan yang sangat saya butuhkan semenjak saya tiba di Singapura. 

Merayakan ultah Yani di tahun 2006. 

Selama lima bulan terakhir, saya nyaris kehabisan uang dan saya takut bahwa saya tidak akan berhasil. Terkadang saya bahkan berpikir, jangan-jangan saya hanyalah seorang pecundang. Lalu tiba-tiba hal baik ini terjadi. Bukan saja saya dapat kerja, tapi saya juga mendapatkannya sebelum hari ulang tahun Yani. Saya undang dia ke sini untuk merayakannya. Ketika kita bertemu lagi, rasanya seperti sebuah impian yang tercapai.

Dan apa yang terjadi selanjutnya adalah cerita untuk lain waktu. Ketika saya melihat kembali masa transisi ini, tidak saya pungkiri bahwa saya ingin menceritakan sebuah kisah yang fantastis, tapi beginilah sebenarnya yang terjadi. Saya tidak memiliki rencana yang jenius dan ada pula saat-saat saya merasa gagal. Saya tidak memiliki formula sukses yang bisa saya bagikan, tapi jikalau ada satu hal yang saya pelajari dari pengalaman saya ini, maka inilah yang bisa saya simpulkan: saya hanya menjalani hidup dan berupaya sebisa saya. Selain itu, saya juga dibantu oleh teman-teman. Pada akhirnya jerih-payah saya diberkati oleh-Nya. Jika tiga hal ini berpadu, mukjizat pun terjadi. 

Oh ya, kembali lagi ke tiga piring sushi, rasanya memang mahal pada saat itu. Akan tetapi terlalu berlebihan rasanya bila saya mengatakan bahwa tiga piring sushi itu mengingatkan kembali bahwa hidup saya sudah jauh berubah. Kenyataannya tidaklah sedramatis itu. Apa yang terjadi adalah, saat itu kita berada di Changi Airport dan merasa lapar, jadi kita putuskan untuk makan di Sakae Sushi. Kebetulan sushi ini sesuatu yang belum pernah saya coba, jadi tidak ada yang simbolik dari semua ini, hehe.