Total Pageviews

Translate

Wednesday, September 15, 2021

Book Review: Forrest Gump

Certain characters can be so iconic that you'll immediately think of the actors that played them. This is one of the cases. The moment I started reading this book, I immediately thought of Tom Hanks. In my mind, the way he talked in the movie became the voice that narrated the novel I read.

The story began with a feeling that probably I should watch Forrest Gump again. After spending 2 hours 23 minutes on Netflix, I did some reading about the movie I just watched and was reminded that it was based a novel with the same name. It was written by Winston Groom and originally published in 1986. 

I learnt that the novel was quite different than the movie, so I got curious and browsed the library collection. Got my copy and, the moment I started reading, I just had to smile. Told in a first-person narrative, the wording was full of spelling and grammatical errors. The way it was written hinted that the person who told the story was retarded. If you had watched the movie before, you'd immediately think of Tom Hanks as Forrest Gump.

Some familiar characters such as Jenny Curran and Bubba were featured in the story. Their portrayals in the book and movie were quite similar. Lieutenant Dan, on the other hand, was slightly different than his movie counterpart. Forrest himself was very much aware that he was an idiot, but yet he could do the impossible such as solving mathematical problems, playing harmonica or defeating many chess grandmasters.

One of the highlights in the movie, moments he met people like Elvis and John Lennon, was not in the book. Both the book and the movie did tell about Forrest in Vietnam and his meetings with US presidents, but the time he joined NASA space program, the few years he was stranded in Papua New Guinea or his adventure as a wrestler could only be found in the novel. 

I'm not sure if i'd like the book if I never watched the movie, but I had to say that I chuckled a lot in the train when I read it on my way to and from office. Because he was an idiot, the way he viewed things were quite funny and innocent at the same time. Overall, a good reading and a great reminder that even a fool had a chance to succeed in this world, as long as he did it wholeheartedly!

Forrest Gump: the movie and the book.



Ulasan Buku: Forrest Gump 

Karakter-karakter tertentu bisa sangat identik dengan pemerannya sehingga anda langsung teringat dengan aktornya. Contohnya Forrest Gump. Begitu saya mulai membaca, Tom Hanks pun muncul di benak saya. Novel yang saya baca mengingatkan saya dengan gaya bicaranya. 

Cerita kali ini dimulai dengan suatu perasaan yang mengingatkan saya kembali untuk menonton Forrest Gump. Setelah menghabiskan 2 jam 23 menit di Netflix, saya iseng membaca tentang film yang baru saja saya tonton. Saya pun teringat kembali bahwa film ini diangkat dari novel. Ditulis oleh Winston Groom, cerita fiksi ini diterbitkan di tahun 1986. 

Berdasarkan apa yang saya baca, novel ini konon agak berbeda dengan filmnya. Saya pun jadi ingin tahu dan mulai mencari bukunya di perpustakaan. Saya dapatkan bukunya dan jadi tersenyum sendiri saat mulai membaca. Kisah yang diceritakan dalam sudut pandang orang pertama ini banyak kesalahan penulisan yang disengaja. Gaya penulisannya pun memberikan kesan bahwa yang sedang bercerita ini adalah orang idiot. Bila anda sudah pernah menonton filmnya, pasti langsung teringat dengan Tom Hanks yang berakting sebagai Forrest Gump. 

Beberapa karakter di film seperti Jenny Curran dan Bubba juga muncul di novel dan hampir sama pula kisahnya. Yang agak berbeda itu Lieutenant Dan. Forrest di novel sangat menyadari bahwa dia adalah orang bodoh, tapi seringkali tanpa sadar bisa mengerjakan hal yang mustahil, misalnya matematika, bermain harmonika dan mengalahkan para pecatur tangguh. 

Salah satu bagian yang menarik di film, saat Forrest bertemu dengan Elvis dan John Lennon, tidak ada di buku. Kisahnya di Vietnam dan pertemuannya dengan presiden Amerika ada di buku dan film, tapi pengalamannya sebagai astronot dan pegulat serta petualangannya di Papua Nugini hanya ada di novel. 

Saya tidak tahu apakah saya akan menyukai buku ini kalau saya tidak pernah menonton filmnya, tapi saya akui bahwa saya berulang kali tertawa sendiri di kereta dalam perjalanan ke dan pulang kantor. Secara keseluruhan, buku ini menarik untuk dibaca dan juga mengingatkan kita kembali bahwa orang bodoh pun bisa sukses di dunia ini kalau dia berupaya sepenuh hati! 

Wednesday, September 8, 2021

Robinson Travel

If you read what I wrote about a week ago, you'd notice a little something called Robinson Travel. It was an in-joke in our high school chat group, came about after I needed a name for trips I organized. Oh yes, I often made the plans. It's what I do! Some did happen, some failed to materialise. But how and when did this start?

I wish I could tell you that it began long ago, when Ardian, Jimmy, Endrico and I visited Bali in our mid 20s, but Robinson Travel came only much later, after our trip to Karawang in 2016. It was the first event we did after we had the WhatsApp group chat and that's when Robinson Travel was born.

When we were in Karawang.

And it didn't stop there. The portfolio kept growing after that. A year later, we had a walking tour in Singapore. The Lion City is best seen on foot, hence we walked. A lot! Probably quite torturous for tourists from Indonesia, haha. Still it was fun. I enjoyed showing them the beauty of Singapore.

In 2018, we had the parents and children trip to Hong Kong. In hindsight, the different timing of school holiday between Indonesia and Singapore certainly wasn't very accommodating. Only Endrico participated this time, so off we went to Hong Kong with our daughters. Quite an experience, I'd say. It'd probably become the one and only father and daughter trip for us. At the same time, it was good to know we were pretty capable fathers, too!

Ocean Park! Hong Kong!

Then came 2019 and I thought it was time to play host again. Hence we had another Singapore tour! The theme this round was destinations by request and we went to places the participants wanted to see. Walking was cut down a lot this time, but since this is Singapore, they still needed to walk, haha. We went to peculiar places that I wouldn't normally go, such as Grab office, Haw Par Villa and Apple Store.

Before the year ended, I organized another one, this time to Semarang in Indonesia. I always wanted to visit this city so I invited some to tag along. It turned out to be well-received, so there were five of us heading from Jakarta to Semarang by train while the other two drove from Surabaya and Sragen respectively. The tour eventually brought us to main cities such as Yogyakarta, Solo and Surabaya.

Exploring Semarang.

Next one would have been a trip to Da Nang, Vietnam, to celebrate the big 40 in 2020. It was a milestone! Life began at 40! But it was cancelled due to the rise of COVID-19. It had been roughly a year and a half since then and there was no certainty when we could travel again, but a grand plan inspired by Parno's dream had been made. We'll go to Japan, covering Tokyo, Kawasaki, Yokohama and Kamakura (because John Lennon once had a pancake there). 

So why Robinson Travel? That's because I like reading, daydreaming and planning. No doubt that I screwed up sometimes (and I always had a memorable Guangzhou trip in mind when I thought of this), but it was fun. More than that, it was about making a dream come true. People like me were driven by that. To me, it was like, "okay, we had done a trip together in Indonesia. How about going somewhere far for once in our lives?"

I guess the key is the phrase for once in our lives. We don't know when our time is up, but if I could, I would want to go with not much regrets in life. I dream and I make it happen, knowing that we'll have that memory we'll treasure for the rest of our lives.

The future is unknown. Little did we know that COVID-19 would happen after this.



Robinson Travel

Jika anda membaca apa yang saya tulis kira-kira seminggu yang lalu, anda pasti menemukan sesuatu yang saya sebut sebagai Robinson Travel. Ini adalah satu lelucon kecil di grup SMA yang muncul karena saya butuh nama untuk liburan-liburan yang saya adakan. Oh ya, saya suka membuat rencana jalan-jalan. Ini memang hobi yang dengan senang hati saya kerjakan. Beberapa terwujud, tapi ada juga yang batal. Namun bagaimana atau kapan semua ini bermula? 

Saya ingin sekali menyatakan kepada anda bahwa kisah ini dimulai bertahun-tahun silam, ketika Ardian, Jimmy, Endrico dan saya mengunjungi Bali di pertengahan usia 20an. Dengan demikian cerita kali ini pasti akan terdengar lebih dramatis, haha. Namun fakta berbicara bahwa Robinson Travel baru muncul lama setelah liburan ke Bali dan istilah ini pertama kali dipakai setelah kunjungan ke Karawang di tahun 2016. Itu adalah liburan pertama setelah kita memiliki grup WhatsApp dan dari situlah Robinson Travel bermula.

Ketika kita berada di Karawang.

Dan biro perjalanan fiktif ini tidak berakhir begitu saja. Rekam jejaknya kian bertambah semenjak liburan pertama. Setahun kemudian, saya mengadakan tur jalan kaki di Singapura. Negara kota ini paling menarik dilihat lewat sudut pandang pejalan kaki, jadi kita pun berjalan. Berkilo-kilo meter jauhnya. Sampai ampun turisnya, haha. Tapi tetap seru. Saya senang membawa mereka melihat indahnya Singapura.

Di tahun 2018, saya adakan kunjungan ke Hong Kong khusus ayah dan anak. Kalau saya lihat kembali, mungkin perbedaan liburan sekolah di Indonesia dan Singapura menyulitkan yang lain untuk berpartisipasi, jadinya hanya Endrico yang bisa ikut. Pengalaman yang satu ini sangat unik dan bisa saja ini menjadi satu-satunya liburan ayah dan anak bagi saya. Lega rasanya saat mengetahui bahwa saya cukup kompeten untuk menjaga anak siang-malam!

Ocean Park! Hong Kong!

Ketika tahun 2019 tiba, saya pun merasa bahwa sudah saatnya untuk menjadi tuan rumah lagi. Oleh karena itu, tur Singapura kembali diadakan! Kali ini tujuan wisatanya disesuaikan dengan keinginan peserta. Jalan kaki pun dikurangi, namun karena ini adalah Singapura, mustahil bisa dijelajahi tanpa berjalan kaki, haha. Kita mampir ke tempat yang biasanya tidak saya kunjungi, misalnya kantor Grab, Haw Par Villa dan Apple Store. 

Sebelum tahun 2019 usai, saya adakan satu liburan lagi, kali ini kunjungan ke Semarang. Saya tidak pernah ke Semarang dan selalu berniat untuk melihat kota ini, jadi saya pun ajak yang lain untuk ke sana. Ternyata cukup banyak peminat. Akhirnya lima, termasuk saya, berangkat dari Jakarta dengan kereta sementara dua teman lain masing-masing berangkat dari Surabaya dan Sragen. Tur kali ini membawa kita melewati berbagai kota seperti Yogya, Solo dan Surabaya. 

Menjelajahi Semarang.

Da Nang di Vietnam nyaris menjadi tujuan berikutnya. Saat itu saya hendak merayakan usia 40 dengan wisata ke luar negeri bersama teman-teman, namun rencana ini akhirnya batal karena COVID-19. Sudah lebih dari setahun berlalu semenjak wabah melanda dan hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kapan kita akan bisa berlibur lagi. Kendati demikian, sebuah rencana yang terinspirasi dari keinginan Parno sudah dirancang. Kita akan ke Jepang dan mengunjungi Tokyo, Kawasaki, Yokohama dan Kamakura (karena John Lennon pernah makan pancake di sana). 

Jadi kenapa Robinson Travel? Ini karena saya suka membaca, berangan-angan dan membuat rencana untuk mewujudkannya. Tak diragukan lagi bahwa kadang saya pun salah langkah dalam membuat rencana liburan (dan kesalahan ini selalu mengingatkan saya tentang liburan ke Guangzhou), tapi tetap saja seru. Lebih dari itu, pada akhirnya yang penting adalah membuat impian menjadi kenyataan. Orang-orang seperti saya senantiasa termotivasi oleh hal ini. Bagi saya, rasanya seperti, "nah, kita telah berlibur bersama di Indonesia. Bagaimana kalau sekali dalam seumur hidup, kita pergi ke luar negeri, melihat negara yang agak jauh?"

Saya kira kuncinya di sini adalah frase sekali dalam seumur hidup. Kita tidak tahu kapan waktu kita akan berakhir di dunia fana ini, tapi sebisa mungkin saya ingin hidup tanpa banyak penyesalan. Saya bermimpi dan mewujudkannya karena saya tahu hanya kenangan yang bertahan sampai akhir hayat kita nanti... 

Masa depan tidak bisa diprediksi. Tak pernah terduga bahwa COVID-19 merajalela tidak lama setelah liburan ini.

Saturday, August 28, 2021

The Collaborations

There was this somewhat familiar feeling when I wrote about the ghostwriting experience, but I couldn't really put my finger on it. Ten days later, as I had a daily habit of going through what had been done and republished it, I saw another blog post called Online Business. Then it dawned on me why it felt like déjà vu: both told the stories of collaboration.

From time to time, I collaborated with high school friends for various reasons. There were things that I couldn't do alone, therefore I needed them. It could also due to the fact that it took more than one person to achieve a greater good. But regardless what the circumstances were, I enjoyed the togetherness. I believe it didn't always have to be about me. There were times when I'd prefer to be just one of us or playing a supporting role.

With Ardian (and Jimmy behind him) in Bali. 
Photo by Endrico.

My earliest recollection of such partnership was the songwriting collaboration. Ardian came up with the music and I wrote the lyrics. He was a talented but reluctant musician, so it was up to me to coax him into doing it, haha. Putting words into the songs wasn't that difficult, but to see him crafting the melody as he strummed the guitar was like witnessing a miraculous act!

The song we wrote, performed by Parno.

If Ardian was the first, he was certainly not the last. Endrico, together with Susan, were definitely the people I'd work with for event organizing and Robinson Travel (I'd tell you more about Robinson Travel next time, haha). I remember the time when we did Reunion 2014 and that trip to Karawang. Wouldn't happen without them. They were great in helping to execute the ideas!

Then there were efforts where everybody chipped in. The first crowdfunding we had, it was memorable. If you ever wanted to know whether it was worth it to scramble like mad for good cause, I'd tell you that it felt extremely good. The feeling of finding out that many people actually cared and knowing that the joint effort would really mean something for the recipient was... priceless. 

Of course not all were as gloomy as the example above. The time we did We Are the World was a much happier occasion. I remember rallying friends to sing a line or two while trying my best to finish this before my trip to London. Just like what Ardian and I did years ago, we created something that may outlast any of us. A legacy, if you like. Every time I listen to the song, it made me smile. I was glad, proud and amused that we actually made it.

We Are the World - our version.

Like I said earlier, sometimes it didn't even have to my idea or me taking charge. I was happy just to be part of the team. I did exactly that in the last reunion. I came up with a quiz in the form of high school exam and performed a cheap IT trick to impress my fellow alumni, haha. It was the same with the ghostwriting. I played second fiddle doing what I did best: writing, mostly done on my trusted BlackBerry.

Sometimes I could hear the song from the Beatles playing in my head, " he's a real nowhere man, sitting in his nowhere land, making all his nowhere plans for nobody." So why did I do this? As far as I was concerned, I didn't get any richer. But I guess the monetary gain wasn't even the point. I did it because I liked it and it made me happy. In this context, I believe that time I enjoyed wasting wasn't wasted. When I looked back, I was one memory richer than before. That's what got me going...

As part of the committee of Reunion 2018. 




Kolaborasi

Ada semacam perasaan yang sepertinya saya kenal ketika saya menulis tentang ghostwriting experience, tapi saat itu tidak bisa saya jelaskan, apa sebenarnya yang saya rasakan. 10 hari kemudian, karena saya memiliki kebiasaan untuk melihat roadblog101 dan menerbitkan ulang apa yang sudah saya tulis, saya menemukan artikel bertajuk Online Business. Lantas saya sadar kenapa perasaan ini sepertinya tidak asing lagi: itu karena dua cerita ini bertema kolaborasi. 

Dari waktu ke waktu, saya bekerja sama dengan teman-teman SMA karena berbagai alasan. Ada saja hal yang tidak bisa saya kerjakan sendiri, jadi saya butuh bantuan mereka. Ada kalanya pula sesuatu yang hendak dicapai itu perlu dikerjakan bersama, jadi banyak teman yang dilibatkan. Apa pun latar belakang kolaborasi ini, saya selalu menyukai kebersamaan yang saya lalui. Saya percaya bahwa tidak semua hal harus berfokus pada diri saya, jadi terkadang saya senang menjadi bagian dari sebuah kebersamaan dan memainkan peran pendukung.  

Bersama Ardian (dan Jimmy di belakangnya) di Bali. 
Foto oleh Endrico.

Kisah paling awal yang bisa saya ingat tentang berbagai kolaborasi yang pernah saya lakukan adalah pengalaman menulis lagu. Ardian menciptakan musiknya dan saya mengarang liriknya. Dia seorang musisi yang berbakat tapi enggan berkarya, jadi saya senantiasa harus membujuk-rayu supaya dia mau menulis lagu dan rekaman, haha. Mengisi nada dengan kata-kata tidaklah begitu sulit, tapi melihat Ardian bersenandung sambil menggeser jemarinya ke kunci gitar yang cocok ini sungguh sebuah pengalaman yang menakjubkan! 

Lagu yang Ardian dan saya tulis, dinyanyikan oleh Parno di sini.

Jika Ardian adalah yang pertama, dia jelas bukan yang terakhir. Endrico, bersama dengan Susan, merupakan rekan kerja yang baik dalam hal menyelenggarakan acara dan liburan Robinson Travel (lain kali akan saya jelaskan, apa yang dimaksud dengan Robinson Travel, haha). Saya ingat saat kita mengadakan Reuni 2014 dan perjalanan ke Karawang. Tidak akan terwujud tanpa bantuan mereka!

Kemudian ada lagi kolaborasi dengan banyak peserta, misalnya saat kita menggalang dana untuk pertama kalinya. Sungguh suatu pengalaman yang berkesan. Jika anda mau tahu apakah sepadan rasanya bila kita jadi sibuk sendiri karena ingin berbuat baik, saya bisa jawab bahwa rasanya sangat sepadan. Sewaktu saya menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak teman yang peduli, sewaktu saya mengetahui bahwa yang menerima sedikit-banyak merasa terbantu, saya tahu apa yang saya kerjakan itu tidak sia-sia. 

Namun tentu saja tidak semuanya bernuansa sedih seperti contoh di atas. Rekaman We Are the World adalah suatu peristiwa yang menggembirakan. Saya ingat saat saya menghubungi teman satu per satu untuk menyumbangkan suara sementara saya mencoba menyelesaikan rekaman ini sebelum liburan saya ke London. Sama halnya seperti apa yang saya kerjakan bersama Ardian bertahun-tahun silam, kita menciptakan sesuatu yang mungkin akan tetap beredar setelah kita tiada. Sebuah warisan dari generasi kita. Setiap kali saya dengarkan kembali lagunya, saya pun tersenyum. Saya senang, bangga dan juga merasa sedikit tidak percaya bahwa kita berhasil mengerjakannya. 

We Are the World - versi alumni '98.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, terkadang sebuah kolaborasi tidak harus berdasarkan ide saya atau dikoordinasi oleh saya. Saya juga tidak keberatan menjadi bagian dari sebuah tim dan itu yang saya lakukan ketika kita menyelenggarakan reuni di tahun 2018. Saya menciptakan kuis dalam bentuk ujian sekolah dan menampilkan tipuan IT murahan untuk mengisi acara, haha. Sama halnya juga saat menulis untuk teman baru-baru ini. Saya memainkan peran pendukung dengan melakukan apa yang saya bisa: menulis, yang hampir seluruhnya dikerjakan dengan BlackBerry

Kadang-kadang saya mendengar lagu the Beatles berikut ini di benak saya, "he's a real nowhere man, sitting in his nowhere land, making all his nowhere plans for nobody." Hal ini membuat saya bertanya sendiri, kenapa saya melakukan semua ini. Setahu saya, hal ini tidak membuat saya tambah kaya secara finansial. Akan tetapi keuntungan dari segi keuangan tidaklah menjadi bagian dari pertimbangan. Saya mengerjakan apa yang saya bisa karena saya suka dan ini membuat saya gembira. Dalam konteks ini, saya percaya bahwa waktu yang saya habiskan dengan riang tidaklah sia-sia. Saat saya lihat kembali, saya tahu saya satu kenangan lebih kaya dari sebelumnya. Mungkin inilah yang mendorong saya untuk terus berkarya dan berkolaborasi...

Sebagai bagian dari panitia Reuni 2018. 

Sunday, August 15, 2021

The Quiz

What can be done in the time of corona, when lockdown and all sorts of restrictions happen? Well, you can be creative about spicing up your life! And what we did wasn't something new. We had done it before long ago, from time to time, but we brought it up to a new level recently. 

We had an active high school chat group. I remember one day, as I walked home, I started sending pictures of flags and prominent figures just for friends to guess. Sometimes, when I listened to oldies, I'd also record few seconds of the songs for them to guess.

And this is how it got started.

That fateful night began with Eday talking about ancient history and I casually responded with pictures of places I was browsing. It turned out to be lively and interactive. We all had some fun, so how about making it a real game to score points for some rewards? The following night, we did exactly that. With 1 kg of Aming Coffee and an Indonesian snack called emping, Gunawan and Susan were the first sponsors of the game. 

The competition was fierce and hilarious at the same time. We quickly learnt that Indonesia's internet was much slower than other countries such as Hong Kong and Singapore. Many saw others answering before the pictures appeared on their WhatsApp, so picture guessing was soon omitted. Other than that, typo and autocorrect also made it even more entertaining. For example, Buaton, a teacher's name, was inadvertently corrected as Buatan, an actual word in Bahasa Indonesia. This was a wrong answer!

Autocorrrect in action!

The first night was like a tried-and-true attempt. We got even more creative with the questions afterwards. With topics ranging from high school times to general knowledge, we came up with various types of questions, such as:

Simple and direct questions:
What's the name of roti prata in Indonesia?

Multiple choices:
Who's the member of Spice Girls:
Mel B
Mel C
Mel D
Mel E

Guess the hints:
What's the name of this friend?
Hints: salted fish, j'adore

Fill in the blanks:
D_ _G_N  _AL_
The name of story about the search for seven magic crystal balls that grant one wish.

The simple and direct question. 

And the points increased as we progressed from one category to another! We even threw in 10 points for the final question. The chat group went crazy with answers coming in rapidly. Some were really good and quick, others were trying their best (Tuty was the dark horse!) and then of course there were a few that were not only hopeless and naggy, but also deliberately sabotaging the game with fake questions and lousy answers, haha.

The quiz had run its course now. But looking back, it was amazing how we put on effort to be a little creative. I mean, we could have just done nothing and complained about COVID-19, but no, we chose to act and make the best out of our days instead. Probably that got to do with that we were the graduates from a school with the motto: stay motivated!


Kuis

Apa yang bisa dilakukan di musim korona, ketika PPKM dan berbagai larangan diterapkan? Kita bisa sedikit lebih kreatif untuk tetap bergembira dalam menyikapi perkembangan ini. Apa yang baru-baru ini saya dan teman-teman lakukan bukanlah sesuatu yang baru, tapi beberapa minggu terakhir ini diadakan dengan lebih profesional. 

Sebagaimana yang telah diketahui, saya memiliki grup WhatsApp SMA yang cukup aktif. Suatu ketika, sewaktu berjalan pulang dari kantor, saya iseng mengirim gambar bendera dan tokoh-tokoh ternama sebagai pertanyaan. Terkadang, selagi saya mendengarkan lagu-lagu lama, saya juga tergerak untuk merekam cuplikan lagu dan meminta teman-teman untuk menerka judul lagu atau penyanyinya. 

Dan pertanyaan seperti ini menjadi pemicu kuis di grup.

Pada suatu malam, Eday bercerita tentang tempat-tempat bersejarah dan saya pun turut menanggapi dengan foto-foto tempat yang terlintas di benak saya. Ternyata banyak yang ikutan menjawab. Karena banyak yang antusias dan menikmati, akhirnya kita coba jadwalkan acara kuis berhadiah di malam berikutnya. Gunawan dan Susan menjadi sponsor satu kilo Kopi Aming dan emping

Kompetisi pun berlangsung seru dan kocak. Kita lantas menyadari bahwa internet di Indonesia kalah cepat dengan negara lain, misalnya Hong Kong dan Singapura. Banyak yang melihat jawabannya sebelum gambarnya muncul di WhatsApp, jadi acara menebak gambar pun dihilangkan di kuis berikutnya. Selain itu, kesalahan pengetikan dan fitur autocorrect juga menjadi kendala yang cukup menghibur. Contohnya adalah nama Buaton yang merupakan nama guru, namun dikoreksi menjadi Buatan sehingga salah jawabannya.

Fitur autocorrrect yang menimbulkan masalah!

Kuis di malam pertama tak ubahnya seperti percobaan. Setelah itu kita kian kreatif dalam membuat pertanyaan. Beraneka topik, mulai dari kisah di SMA sampai hal-hal umum, pun dibuat menjadi berbagai pertanyaan: 

Cepat-tepat: 
Apa sebutan roti prata di Indonesia?

Plihan ganda:
Siapa saja yang merupakan anggota Spice Girls:
Mel B
Mel C
Mel D
Mel E

Menerka petunjuk:
Siapa nama teman yang satu ini?
Petunjuk: ikan asin, j'adore

Melengkapi jawaban:
D_ _G_N  _AL_
Kisah mencari tujuh bola berbintang yang mengabulkan satu permintaan.

Salah satu pertanyaan cepat-tepat!

Dan poin yang diraih peserta akan kian tinggi setiap kali kategori pertanyaan berganti. Tidak jarang pula satu pertanyaan terakhir memiliki nilai 10 poin. Grup WhatsApp pun menjadi luar biasa sibuk karena jawaban yang masuk secara beruntun. Ada teman yang memang cepat dan betul pula jawabannya, ada yang sudah berupaya sebisa mungkin (Tuty seringkali tampil mengejutkan) dan ada satu atau dua orang yang kerjanya cuma mengeluh dan mengacaukan permainan, haha. 

Setelah beberapa waktu, kuis tidak lagi seheboh sebelumnya. Namun kalau dilihat kembali, yang menakjubkan adalah niat untuk melakukan sesuatu yang sedikit kreatif. Kita bisa saja tidak berbuat apa-apa dan bersungut tentang COVID-19, tapi kita justru memilih untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti dalam mengisi waktu luang kita. Mungkin semua ini ada hubungannya dengan fakta bahwa kita adalah lulusan sekolah yang memiliki semboyan Tetap Bersemangat! 

Monday, August 9, 2021

The Ghostwriter

I remember those early days when I started writing. It was year 1997 and the newfound ability clearly came handy to impress girls in high school. I volunteered to write on their behalf in composition writing, but I immediately learnt that I was overconfident. Just because I had a few good short stories under my belt, that didn't automatically make me a hit maker. 

The ghostwriting process was such a struggle that it wasn't enjoyable at all. I soon learnt that the thought of not wanting to disappoint people's expectation and the deadline of the project added the unnecessary pressures I certainly could do without. I write because it's fun. And it wasn't fun when it became a chore. 

Since then, I never really helped others to write anymore. I was happier that way, haha. Then, a year after I started roadblog101, I realized that I might alienate Indonesian readers if I wrote only in English. That's when I began writing in bilingual. 

The books and the ghostwriter.

Shortly after that, my friend Eday approached me. For those of you who didn't know, Eday represents the best of my generation. Even though we came from a small town, some of us really hit the big time. Some are household names in Indonesia these days, but Eday is probably the only one that is well-known internationally. And Eday is the expert in what he does best: art. 

It was an honor when a friend like him said he liked my writing style. It was a privilege when he wanted me to help him with his books. I'd certainly lend a hand! About two decades after I first gave it a try, I was finally ghostwriting again. 

This time was slightly different, though. At the very least, I didn't have to start from scratch, so it didn't feel like a burden. Eday wrote in a mixture of Bahasa Indonesia and English, so I what I had to do was to position myself, how I would write this if I were Eday. It wasn't easy, because what he wrote was quite specific and the content was nothing like what I had done before.

The books by Eday.

His first book was called Wood Soul. It was fascinating and also a great reminder of how different we were, even though we were friends since secondary school. I wouldn't for the life of me have any interests in wood crafts, old boxes, bronze pots, etc. But here I was, writing about these from his perspective. What would have been junks for me became art in his hands. It gave me the first hand experience to appreciate his mastery.

The second book, just released recently, was about another hobby he had: Gundam. Remember what I said earlier, about him being international? He was the 2012 world champion of Gundam tournament and now I had the chance to look at things that made him great. I used to wonder what ver.ed was about until I wrote about it few months ago. He surely was a legend among his fellow Gundam enthusiasts.

ver.ed's Gundams.

The ghostwriting was quite a unique experience, I'd say. It was like having a glimpse of how Eday looked at things. I mean, when two old friends met up, we'd joke around instead. Through the books, I had a rare opportunity to see how he was actually like when he was serious and passionate about something. He understood branding and he had the skills, consistency and passion to build it up. A brilliant man, and I guess that's what set him apart from us...

PS: I once explained to my daughter that Uncle Eday was famous for what he did. Then she innocently asked, "since you are a friend of a famous person, does this make you famous, too?" I laughed and told her that it didn't work that way. But it was great to be part of his books. All the best, buddy!



Pengarang Untuk Orang Lain

Saya ingat masa-masa ketika saya baru mulai menulis. Di tahun 1997, kemampuan yang baru saya temukan ini sangat berguna untuk membuat teman wanita di masa SMA terkesan. Saya secara sukarela menawarkan untuk mengerjakan tugas pelajaran mengarang, namun setelah itu saya sadari bahwa saya terjebak oleh rasa terlalu percaya diri. Hanya karena saya bisa menulis beberapa cerpen yang disukai teman, itu tidak berarti setiap tulisan saya sudah pasti bagus. 

Pengalaman menulis untuk orang lain terasa seperti perjuangan dan sama sekali tidak bisa saya nikmati. Beragam pikiran, misalnya perasaan tidak ingin mengecewakan orang lain dan juga batas waktu tugas, menambah beban saya sebagai penulis. Saya menulis karena saya suka. Beda rasanya ketika menulis itu menjadi sebuah tugas dan bukan lagi hobi. 

Semenjak itu, saya jarang membantu orang lain dalam perihal menulis lagi. Rasanya lebih lega, haha. Kemudian, setahun sesudah saya memulai roadblog101, saya menyadari bahwa saya bisa kehilangan pembaca Indonesia bila saya hanya menulis dalam bahasa Inggris. Oleh karena itulah saya kini menulis dalam dua bahasa. 

Buku Eday dan the ghostwriter.

Tidak berapa lama setelah itu, teman saya Eday bertanya apakah saya bisa membantunya. Bagi anda yang belum tahun, Eday ini adalah yang terbaik dari generasi saya. Meski kita semua berasal dari kota kecil, beberapa dari kita kini teramat sangat sukses. Tidak sedikit yang sudah termashyur namanya di Indonesia, tapi saya kira hanya Eday yang dikenal di kalangan internasional. Dan Eday adalah ahli di bidang yang ditekuninya: seni. 

Adalah suatu kehormatan tersendiri saat seorang teman seperti Eday berkata bahwa dia menyukai gaya tulisan saya. Ketika dia ingin saya membantunya menulis buku, saya pun menyanggupi permintaannya. Setelah hampir dua puluh tahun lamanya tidak menulis untuk orang lain, akhirnya saya pun mencoba lagi. 

Proses kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Saya tidak perlu lagi memulai dari awal, sehingga tidak terasa seperti sebuah beban. Eday sudah menulis apa yang hendak disampaikannya, namun dalam perpaduan Bahasa Indonesia dan Inggris. Berdasarkan karangannya, saya lantas mengambil pendekatan berikut ini: bilamana saya adalah Eday, seperti apa kira-kira tulisannya. Tidak mudah juga, sebab topik yang dibahas olehnya cukup spesifik dan berbeda dengan apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya. 

Buku-buku karya Eday.

Buku pertamanya berjudul Wood Soul. Pengalaman menulis buku ini terasa menggelitik dan juga mengingatkan saya kembali, betapa berbedanya pola pikir kita berdua, meskipun kita berteman dari sejak SMP. Saya tidak pernah tertarik dengan kerajinan kayu, kotak tua, pot perunggu dan lain-lain, namun sebagai Eday, saya menulis tentang semua ini berdasarkan perspektifnya. Apa yang pasti sudah menjadi sampah di tangan saya berubah menjadi seni berkat sentuhannya. 

Buku kedua yang baru saja dirilis bercerita tentang hobi lain yang dimilikinya: Gundam. Masih ingat yang saya katakan tentang prestasinya yang internasional? Dia adalah juara dunia turnamen Gundam di tahun 2012 dan saya kini berkesempatan untuk melihat langsung hal-hal yang menunjukkan kehebatannya. Dulu saya sempat heran, apa sebenarnya ver.ed, dan buku ini memberikan jawabannya. Dia memang legenda di kalangan penggemar Gundam. 

Gundam ver.ed.

Pengalaman mengarang untuk Eday tergolong unik. Biasanya, di kala bertemu, kita cenderung bersenda-gurau. Lewat buku-buku ini, saya jadi bisa melihat, seperti apa teman saya ini di kala serius menekuni hobinya. Eday mengerti pentingnya sesuatu khas dari karyanya dan dia memiliki kemampuan, konsistensi dan semangat untuk mengerjakannya. Memang orang yang luar biasa dan kualitas inilah yang membedakannya dengan saya dan teman-teman lainnya... 

NB: baru-baru ini saya jelaskan pada putri saya bahwa Paman Eday terkenal karena hasil karyanya. Mendengar hal itu, anak saya lantas dengan polos bertanya, "karena Papa berteman dengan orang terkenal, apakah ini berarti Papa terkenal juga?" Saya tertawa dan menjelaskan pula bahwa prosesnya tidaklah seperti itu. Namun saya senang bisa turut berpartisipasi dalam buku-bukunya. Sukses selalu, sobat lama! 

Saturday, July 31, 2021

Book Review: A Promised Land

This book is thick! If you read the blog post called Reading: Not Just a Hobby that was published in March, you'd have noticed this book lying next to a bowl of KFC porridge, haha. I couldn't finish reading it then. Had to return the book to the library and waited for my turn to borrow it again. Was on queue for about three months and finally got it when June was ending. 

Now, was it any good? Prior to this, I happened to read another book Obama wrote called Dreams from My Father. The previous book told about his childhood and younger days,  so A Promised Land was like the next chapter of his life, when he started campaigning and became president. It was like picking up where I left off.

I liked how Obama began the book with life before presidency. You could see how his life totally changed the moment he became POTUS. I mean, White House is not just an office. He really lived there with his family and everywhere he went, he was followed by Secret Service agents and reporters. It was a strange life with not much freedom that I don't think was envied by many. 

Then there were events that became movies, namely The Big Short, Captain Phillips and Deepwater Horizon. The subprime mortgages was explained based on what his saw and experienced right before the financial crisis happened. As a president, he never thought he had to deal with the pirates of Somalia. Certainly didn't see that one coming! Finally, there was the BP oil spill.

It was fun to read about Obama's overseas trips and how he described the countries and his counterparts. His description about China was interesting. He had a good impression about Singapore and I liked it when he mentioned about Indonesia from time to time. But it came to the Middle East, the US foreign policies were such a mess. As a non-American, I couldn't help feeling that the US had this habit of interfering other country's affair. More often than not, it didn't end well. Libya was a good example of how disastrous it could be.

Talk about being a non-American, it was interesting to learn the relationship between Democrats and Republicans. You'd think that a country as advanced as the US would know how to put aside their differences and worked together, but that wasn't always the case. In fact, it was kind of rare. Apart from certain exceptional figures such as John McCain, Republicans had this tendency to block whatever Obama was doing, haha. The relationship among Senate, House and President was also rather convoluted from the perspective of an outsider.

Overall, it was a good book that offered a glimpse of how busy a US President was. Talk about the responsibilities he had and the challenges he faced, Fox News, Republican, Putin and even Donald Trump certainly didn't make it easy for Obama, haha. But still, the book was a great reminder of how cool Obama was. His conscience was clear. If that didn't make him a great president in the eyes of some Americans, at the very least he was a very decent human being that ever became the president of the most powerful nation on earth. 

Books by Obama.




Ulasan Buku: A Promised Land

Buku ini tebalnya lebih dari 700 halaman! Kalau anda sempat membaca artikel berjudul Membaca: Bukan Sekedar Hobi, anda pasti melihat buku ini tergeletak di samping bubur KFC, haha. Saat itu saya tidak sempat membaca sampai habis, jadi terpaksa saya kembalikan ke perpustakaan karena tidak bisa diperpanjang. Buku baru ini banyak peminatnya dan saya harus menunggu kira-kira tiga bulan lamanya dan baru mendapatkan giliran lagi di akhir bulan Juni. 

Apakah ini buku yang bagus? Setahun sebelumnya, saya membeli buku berjudul Dreams from My Father yang juga ditulis oleh Obama. Buku ini bercerita tentang masa mudanya di Amerika, Indonesia dan Kenya. Nah, buku A Promised Land ini bagaikan kelanjutan dari buku yang saya sebutkan barusan. Kisahnya tentang masa kampanye dan periode pertamanya sebagai presiden. 

Saya suka dengan cara Obama mengawali ceritanya dengan kehidupan sebelum menjadi presiden. Pembaca jadi bisa membayangkan bagaimana hidupnya berubah drastis setelah dia menjadi POTUS. Gedung Putih itu ternyata bukan sekedar tempat kerja, tapi juga rumah dan tempat tinggal presiden dan keluarganya. Semenjak menjabat, setiap langkahnya selalu diikuti oleh agen rahasia dan wartawan. Hilang sudah kebebasannya. Rasanya tidak seperti kehidupan yang membuat orang lain iri. 

Setidaknya ada tiga peristiwa dalam periode pertama ini yang kemudian diangkat menjadi film-film berjudul The Big Short, Captain Phillips dan Deepwater Horizon. Obama bercerita tentang asal-mula krisis ekonomi dari apa yang dilihat dan dialaminya sebelum dan selagi menjabat. Sebagai presiden, tidak terbayangkan olehnya bahwa dia harus berurusan dengan bajak laut Somalia. Dan kemudian ada pula bencana tumpahnya minyak bumi di Teluk Meksiko.

Seru rasanya membaca tentang kunjungan kerja Obama ke luar negeri. Pendapatnya tentang Cina sangat menarik. Dia juga terkesan dengan Singapura dan ada rasa senang saat membaca cerita singkatnya tentang Indonesia. Akan tetapi terasa pula bahwa politik luar negeri Amerika itu menimbulkan kekacauan di negara-negara Timur Tengah. Ada kesan bahwa Amerika itu suka ikut campur urusan negara lain. Hasilnya seringkali malah tambah ricuh. Libia adalah contoh hilangnya kestabilan dalam negeri setelah Amerika mendepak Gaddafi. 

Sebagai orang luar, hubungan antara Demokrat dan Republican itu cukup rumit dan membingungkan. Saya sempat menyangka bahwa negara liberal semaju Amerika pastilah bisa mengesampingkan perbedaan pendapat dan bekerja sama, namun kenyataan seperti itu jarang terjadi. Hanya beberapa tokoh yang berjiwa besar seperti John McCain yang bisa membedakan kepentingan partai dan rakyat. Alhasil, Republican sering menghambat dan menolak kebijakan Obama, haha. 

Secara keseluruhan, buku ini menawarkan gambaran yang gamblang tentang betapa sibuknya kehidupan seorang Presiden Amerika. Berat tanggung jawabnya, banyak pula tantangannya. Fox News, Republican, Putin dan bahkan Donald Trump silih berganti mendatangkan kesulitan baginya. Tapi di sisi lain, kita diingatkan kembali dengan sosok Obama yang kharismatik. Sebagai seorang politisi, nuraninya masih jalan. Jika itu tidak membuatnya menjadi presiden yang hebat di mata rakyatnya sendiri, setidaknya dia tetap dikenang sebagai pemimpin yang apa adanya dari sebuah negara adidaya. 

Sunday, July 25, 2021

The Fusion

We had been living in a strange time. It was very fragile and uncertain. After a month of lockdown, we finally had a dine-in option again. But little did we know it'd only last for few days. Just when we thought the situation had gotten better, we went straight back to take-out again. 

Dinner time!

The last day before that happened, my wife asked me out for dinner, just the two of us. I thought it was a date night, but she quickly briefed me that it was an undercover mission for her online school project, haha. She said we were going to an Italian, Japanese meat-free fusion restaurant called Sufood. Bizarre, eh? But I reckon a restaurant related to Putien should have some standard, so I was game. 

So off we went. The restaurant was at Raffles City Mall. The ambience was alright and, at about SGD 30, the price was reasonable for a six-course meal. I think it was counted as six because of the inclusion of handmade rosemary breadsticks, but the first one on the platter was the Wholesome Trio. The appetizer consisted of matcha soba, plum tomato and sesame tofu. Nice presentation, but rather forgettable. 

The appetizers.

Next one was a big bowl of Caesar Salad. This was quite common and could be found elsewhere as well, but it was good and I kind of liked it. Same couldn't be said for the Cream of Pumpkin Soup, though. There was a bitter aftertaste for each spoonful that I gulped down, so after few tries, I simply put it aside.

The main course was Pan-Fried Tofu with Toona Rice. The name somehow reminded me of tuna fish, but it was vegetarian! After googling it, apparently toona was some leaves used for cooking, hehe. This was nice, but the portion was suitable only as part of six-course meal. Otherwise it's be too small. 

Main course.

The dinner was eventually concluded with Snow "Bird Nest" (Xue Yan) Beancurd. The sweetener, probably made of palm sugar, was not enough and I ended up eating a rather bland dessert. Needless to say, it didn't end on a high note! Still it was quite an experience. I mean, Japanese Italian vegetarian! That's a lot to be fused! But seriously, between Putien and this, I reckon the former is a better choice.

The dessert.


Restoran Fusion

Sekarang ini kita hidup di masa yang aneh. Rasanya begitu rentan dan penuh ketidakpastian. Setelah lockdown kurang-lebih sebulan lamanya, akhirnya kita memiliki kesempatan untuk makan di luar lagi. Tapi siapa sangka kebebasan ini hanya bertahan beberapa hari? Ketika kita berpikir bahwa situasi telah membaik, tiba-tiba kasus COVID-19 melonjak naik dan tempat-tempat makan pun dilarang menerima tamu lagi.

Di hari terakhir sebelum peraturan ini berlaku, istri saya mengajak saya makan malam berdua. Saya pikir boleh juga idenya, tapi kemudian dijelaskan oleh istri saya bahwa ini adalah dalam rangka tugas sekolah, haha. Dia berkata bahwa kita akan mencicipi menu fusion Itali-Jepang-vegetarian di restoran bernama Sufood. Kombinasi yang mencengangkan, bukan? Namun saya lantas berpikir bahwa restoran yang sama bosnya dengan Putien pastilah memiliki standar. 

Dinner time!

Jadi kita pun bertemu di Raffles City Mall dan pergi bersama. Suasana restorannya cukup enak dan harga SGD 30an untuk satu set dengan enam macam menu cukup rasional. Yang pertama dihidangkan adalah roti panjang tipis yang disebut handmade rosemary breadsticks dalam Bahasa Inggris, lalu disusul dengan hidangan pembuka bernama Wholesome Trio yang terdiri dari mie soba teh hijau, tomat mungil dan tahu wijen. Menarik penyajiannya, tapi biasa rasanya. 

Yang datang berikutnya adalah Caesar Salad. Menu ini sebenarnya biasa dan bisa ditemukan di tempat lain juga, tapi rasanya sedap dan saya suka. Beda ceritanya dengan Cream of Pumpkin Soup. Ada rasa pahit setelah sup ditelan, jadi setelah beberapa sendok, saya pun pinggirkan sup labu ini.

The appetizers.

Menu utamanya adalah Pan-Fried Tofu with Toona Rice. Namanya terdengar seperti ikan tuna, tapi harusnya ini menu vegetarian. Saya lantas cari di Google. Ternyata toona itu nama daun yang digunakan untuk masakan, hehe. Saya cukup menikmatinya, tapi porsinya hanya cocok sebagai bagian dari set dengan enam macam menu. Kalau hanya dipesan terpisah, kekecilan porsinya. 

Main course.

Santap malam pun berakhir dengan disajikannya Snow "Bird Nest" (Xue Yan) Beancurd. Pemanisnya yang mungkin terbuat dari gula kelapa tidaklah cukup sehingga hidangan pencuci mulut ini terasa tawar. Secara keseluruhan, rasanya tidak terlalu memuaskan. Akan tetapi ini tetap merupakan satu pengalaman unik. Maksud saya, tidak setiap hari kita bisa mencoba masakan Itali-Jepang-vegetarian. Namun kalau harus memilih antara Putien dan Sufood, saya rasa Putien adalah pilihan yang lebih logis.

The dessert.