Total Pageviews

Translate

Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Sunday, September 20, 2026

Chasing Cibubur

While I did remember saying I would visit Cibubur, I had no recollection of when I said it. I have only met Marga T three times since high school: at Heriyanto's wedding, at my dad's wake, and in Kuta, Bali, for the postcard to Wiwi. None seemed to be it. 

The "when" was eventually supplied by Marga T: she said it was when Hotel Ciputra's development began. If that is really the case, a quick check using AI brings us back to an origin story that began in 2015. 

After Pulau, I reckoned this beginning needed its long-overdue closure, too, so I started campaigning for the trip. It was not going to be a short holiday like Seremban or even Pontian, so it was framed simply as a trip for togetherness. Closer to the date, Cicilia said she wanted to go to the wet market near Susan's place. I suggested she buy pakis (fiddlehead greens), and we ended up coming up with a menu. That's when the ladies decided to cook lunch.

The night before, I flew to Jakarta and stayed at Alvin's house. He cooked some brilliant fried rice and assorted dishes, including the legendary saucu, but I ate only a little. It seemed as if having it outside Pulau diminished its appeal. Perhaps that's because it was the only temptation available there, while there were so many options at Alvin's, haha.

The big breakfast!

The next morning, we walked to Susan's place. Apparently Vera, whom I had last seen when she joined the 2017 Singapore Walking Tour by Robinson Travel, had decided to visit Susan, too. We went around the market and Susan bought Kwetiau Amoy, Lontong 88, and Bakmi Pematangsiantar Aphing. 

We had them all at a coffee shop called Tetangga Sebelah. While eateries normally forbid outside food, this one actually welcomed patrons to bring their own! The kwetiau was good, the noodles were good, but the lontong, while nice, was too spicy for my taste. I washed it all down with a cup of Americano. That was a good breakfast, after all. 

After the catch-up, we began our trip to Cibubur with Cicilia driving and Susan navigating. I thought we'd be visiting a residential complex, but Marga T's house turned out to be right by the side of the road. It was a nice house with a Balinese feel. We settled down in the living room and the conversation began with a video call to Angelia, warning her that we'd be coming next year; but she went one better and told us that she wouldn't be around, haha.

When all arrived!

Meanwhile, Evi, Mul AW and Junaidi arrived. The gang was finally complete, and since half of the group did business in the same industry, the conversation felt like a mini building materials conference at times. Terms such as aspal cair (liquid bitumen) and baja ringan (light-gauge steel) were flying around. 

Then, when Marga T's daughter, a future dentist, stepped into the living room, Susan began negotiating a deal with her for the extracted teeth. A lot of random topics were covered during what was supposed to be a high school reunion!

The lunch was about to begin!

Then it was finally time for the ladies to cook. We started smelling something good and eventually we were welcomed to the dining table. It was a beautiful spread of Pontianak dishes that I hadn't seen in a while, with pakis, deep-fried salted fish hekeng, and petis (black shrimp paste) standing out like good old friends. I got a big plate of rice and I wasn't complaining, because I hadn't eaten such dishes in the longest time! And no, I had no intention of reducing the portion at all!

We chilled a bit after a heavy lunch, then made our way to see Marga T's newly opened building materials shop. It was so huge that it was actually a compound housing a big shop, a massive workshop and a nice, two-story office with a similar exterior design to her house. We entered the meeting room and hung out there, concluding nothing as the ticket prices for next year's Hari Raya holiday remained high.

In the meeting room.

In the evening, we made our way to the Artotel at Living World Mall. Check-in was smooth, though entering Room 1119 proved to be challenging later on, as the latch was stuck and we needed to call front desk maintenance to help us open the door. At dinner, we had Jimmy making fun of Gunawan for failing to notice Soto Betawi printed on the plate and still calling it Soto Kudus when Susan posted it in our group chat. The night ended with Alvin giving chiropractic adjustments to Cicilia and me.

Sunday began slowly for us, except for Cicilia. She drove back to Karawang to attend her son's confirmation, then returned to Cibubur to bring us lunch in Jakarta. While waiting for her, Marga T became Alvin's latest client. The timing worked out perfectly, and we headed to Lapo Ni Tondongta for Batak cuisine. My craving was finally satisfied!

Having Lapo.

Marga T said goodbye and went back to Cibubur after lunch. She reached her shop at the same time we reached the airport. I checked in, shared a quick tea break with the rest and parted ways with them. The trip to Cibubur officially ends with this last sentence!

Epilogue:
As I write this, I recall Alvin's comment about the comfort zone. My question was related to my new theory, about why our friends know when they can't make it, but never know when they can. Alvin had the opinion that it was their comfort zone—that after being stuck for so long with no progress, it had become the zone they were comfortable with. Now that's an interesting idea that we need to explore further!



Berkunjung Ke Cibubur

Meskipun saya ingat pernah mengatakan akan mengunjungi Cibubur, saya sama sekali tidak ingat kapan mengatakannya. Saya baru bertemu Marga T tiga kali sejak lulus SMA: di pernikahan Heriyanto, di rumah duka saat ayah saya meninggal, dan di Kuta, Bali, untuk urusan kartu pos ke Wiwi. Sepertinya tidak ada satu pun dari momen-momen itu yang tepat.

Jawaban "kapan" akhirnya diberikan oleh Marga T: katanya, itu terjadi saat pembangunan Hotel Ciputra dimulai. Jika memang benar demikian, penelusuran singkat menggunakan AI membawa kita kembali ke cerita awal yang bermula pada tahun 2015.

Setelah dari Pulau, saya rasa awal mula ini membutuhkan penuntasan yang sudah lama tertunda, jadi saya mulai mengampanyekan perjalanan ini. Ini bukan sekadar liburan singkat seperti ke Seremban atau bahkan Pontian, melainkan dirancang murni sebagai perjalanan untuk kebersamaan. Menjelang hari keberangkatan, Cicilia bilang ingin pergi ke pasar basah dekat tempat tinggal Susan. Saya menyarankan agar dia membeli pakis, dan kami pun akhirnya menyusun sebuah menu. Saat itulah para wanita memutuskan untuk memasak makan siang.

Malam sebelumnya, saya terbang ke Jakarta dan menginap di rumah Alvin. Dia memasak nasi goreng yang luar biasa lezat beserta aneka hidangan lainnya, termasuk saucu yang legendaris, tetapi saya hanya makan sedikit. Rasanya menikmati makanan itu di luar Pulau membuat daya tariknya berkurang. Mungkin karena hidangan itu adalah satu-satunya godaan yang ada di sana, sementara di rumah Alvin pilihannya begitu banyak, haha.

Sarapan pagi di Tetangga Sebelah.

Keesokan paginya, kami berjalan kaki ke tempat tinggal Susan. Rupanya Vera, yang terakhir kali saya temui saat dia ikut Singapore Walking Tour 2017 oleh Robinson Travel, memutuskan untuk berkunjung ke rumah Susan juga. Kami berkeliling pasar dan Susan membeli Kwetiau Amoy, Lontong 88, dan Bakmi Pematangsiantar Aphing.

Kami menyantap semuanya di kedai kopi bernama Tetangga Sebelah. Ketika tempat makan biasanya melarang makanan dari luar, kedai ini justru menyambut pengunjung untuk membawa makanan sendiri! Kwetiaunya enak, mienya sedap, tetapi lontongnya—meski enak—terlalu pedas untuk lidah saya. Saya menyegarkan semuanya dengan secangkir Americano. Secara keseluruhan, itu adalah sarapan yang nikmat.

Setelah mengobrol dan melepas rindu, kami memulai perjalanan ke Cibubur dengan Cicilia yang menyetir dan Susan sebagai pemandu jalan. Saya kira kami akan mengunjungi sebuah kompleks perumahan, tetapi rumah Marga T ternyata berada tepat di pinggir jalan raya. Rumahnya nyaman dengan nuansa Bali. Kami bersantai di ruang tamu dan percakapan dimulai dengan panggilan video ke Angelia, memberitahunya bahwa kami akan datang tahun depan; tetapi dia selangkah lebih cerdik dan mengatakan bahwa dia tidak akan ada di tempat, haha.

Saat semua tiba.

Sementara itu, Evi, Mul AW, dan Junaidi tiba. Anggota kelompok akhirnya lengkap, dan karena separuh dari rombongan bergerak di bidang bisnis yang sama, percakapan sesekali terasa seperti konferensi mini bahan bangunan. Istilah-istilah seperti aspal cair dan baja ringan terdengar berulang-ulang.

Lalu, ketika putri Marga T—seorang calon dokter gigi—masuk ke ruang tamu, Susan mulai bernegosiasi dengannya mengenai gigi-gigi yang sudah dicabut. Begitu banyak topik acak yang dibahas dalam acara yang seharusnya menjadi reuni SMA ini!

Makan siang.

Kemudian tibalah saatnya para wanita memasak. Kami mulai mencium aroma sedap dan akhirnya kami dipersilakan menuju meja makan. Tersaji hidangan khas Pontianak yang begitu menggugah selera dan sudah lama tidak saya lihat; pakis, ikan asin goreng garing, hekeng, dan petis tampak begitu memikat layaknya kawan lama. Piring saya terisi penuh dengan nasi dan saya sama sekali tidak mengeluh, karena sudah sekian lama saya tidak menikmati masakan-masakan seperti itu! Dan tidak, saya sama sekali tidak berniat mengurangi porsinya!

Kami bersantai sejenak setelah makan siang yang mengenyangkan, lalu beranjak untuk melihat toko bahan bangunan milik Marga T yang baru dibuka. Tempatnya sangat luas, berupa sebuah kawasan terpadu yang memuat toko besar, bengkel kerja masif, dan kantor dua lantai yang apik dengan desain luar senada dengan rumahnya. Kami masuk ke ruang pertemuan dan nongkrong di sana, tanpa menghasilkan kesimpulan apa pun karena harga tiket liburan Hari Raya tahun depan masih tetap mahal.

Di ruang rapat.

Menjelang malam, kami menuju ke Artotel di Mall Living World. Proses check-in berjalan lancar, meskipun saat masuk ke Kamar 1119 sempat agak merepotkan karena gerendel pintunya macet dan kami harus memanggil bagian pemeliharaan hotel untuk membantu membukakan pintu. Saat makan malam, Jimmy meledek Gunawan karena tidak memperhatikan tulisan Soto Betawi yang tertera di piring dan tetap menyebutnya Soto Kudus ketika Susan mengunggah fotonya di grup obrolan kami. Malam itu ditutup dengan Alvin yang memberikan terapi penyesuaian (chiropractic adjustment) kepada Cicilia dan saya.

Hari Minggu diawali dengan santai bagi kami, kecuali untuk Cicilia. Dia berkendara kembali ke Karawang untuk menghadiri misa krisma putranya, lalu kembali lagi ke Cibubur untuk membawakan makan siang bagi kami di Jakarta. Sembari menunggunya, Marga T menjadi klien terbaru Alvin. Waktunya pas sekali, dan kami pun berangkat ke Lapo Ni Tondongta untuk menikmati masakan Batak. Rasa rindu saya pada makanan itu akhirnya terpuaskan!

Menikmati Lapo.

Marga T berpamitan dan kembali ke Cibubur seusai makan siang. Dia tiba di tokonya tepat pada saat kami sampai di bandara. Saya melakukan check-in, menikmati rehat minum teh sejenak bersama teman-teman yang lain, lalu berpisah dengan mereka. Perjalanan ke Cibubur secara resmi berakhir pada kalimat terakhir ini!

Epilog:
Saat menulis catatan ini, saya teringat ucapan Alvin tentang zona nyaman. Pertanyaan saya kala itu terkait dengan teori baru saya mengenai mengapa teman-teman kita tahu kapan mereka tidak bisa hadir, tetapi tidak pernah tahu kapan mereka bisa. Alvin berpandangan bahwa itulah zona nyaman mereka—bahwa setelah terjebak sekian lama tanpa adanya perubahan, situasi tersebut telah menjadi zona yang membuat mereka merasa nyaman. Sebuah gagasan menarik yang tentu perlu kita telaah lebih jauh!

Sunday, August 16, 2026

Bandar Seri Begawan Revisited

Here's something original: a trip that began simply because someone answered the call. Yes, it all started with a video call last November at the tail end of our Koh Samui trip. 

While waiting for our ride to pick us up and take us to the airport, Surianto, Endrico, and I scrolled through the names of our high school friends on my WhatsApp contact list and rang them randomly. Most didn't answer, as they were either genuinely busy or busy dodging my calls. But Lui Hong answered, and after exchanging a few words, I jokingly told him that we'd go to Brunei and visit him. 

But the joke was on me, apparently, because it turned out to be a promise we were going to honor. It was true that visiting Brunei had never crossed any of our minds. Surianto even told me that Brunei was actually the only Southeast Asian country he had wanted to skip, because there didn't seem to be much to do there. 

But we had an old friend we hadn't seen in decades, and he had answered our call. That alone was reason enough for us to go.

So we planned the trip for August, after our U.S. adventure, and the campaign to visit Brunei commenced. Taty said Susan was keen, but that didn't materialize. After much consideration, BL decided to visit Singapore instead. Muliady The, however, was game. He'd fly from Manila to join us. We booked our flights in March, and Mul got his a month later.

Five months later in August, we finally landed in Bandar Seri Begawan. For me, it was like embracing a past that rushed back to me. The Jawi words accompanying every shop sign—which is so uniquely Brunei—brought back the exact same sense of wonder I felt in 2009. 

But the airport was different from what I remembered. A Bruneian friend named CK had picked us up back then; now we used Dart, a local ride-hailing app. 

It was bittersweet and ironic, really. During the first visit, Lui Hong had gone back to our hometown and CK was the host. Now Lui Hong was there, but CK wasn't in town. I guess that's just the way it goes in Brunei! You just can't get everyone together at the same time!

Mul had already arrived in Brunei earlier that day, right after midnight. He was out there exploring somewhere when we Darted our way to The Rizqun International Hotel in Gadong, after which Surianto and I had a late lunch at Cheezbox.

Endrico immediately went to see his elderly brother while Mul and his wife came to join us. I remember staring at McDonald's out the window and thinking, "Wow, first day in Brunei and I already have no idea where to go." Even Laos seemed to have more to offer by comparison.

But Mul, by excitedly asking me where to go, unknowingly reminded me that the rest of us were first-time visitors. 

Acknowledging that fact, I picked up the slack and ordered a ride to the Omar Ali Saifuddien Mosque. We missed the visiting hours, but we were allowed to walk around the grounds for sightseeing. 

In front of the Omar Ali Saifuddien Mosque.

From there, we crossed the street to the Yayasan Complex. As we browsed the stalls in the night market, Surianto pointed out something that I had begun to realize: even though the BND is pegged 1:1 to the SGD, prices here were noticeably lower.

That realization hit home the next evening, when we saw the prices at Thien Thien Restaurant: you can't get a plate of chicken rice for SGD 3.50 and Teh O for SGD 0.60 anymore in Singapore!

2009 v. 2026.

Back at the Yayasan Complex, everything looked the same as I remembered it from 2009—so similar that I couldn't resist striking the same pose I did in the exact same spot. 

After that, I walked into KFC. I had been tempted since my arrival by the Nasi Katok Colonel—not by the taste, but by the name, because katok means men's briefs or underwear in Pontianak slang. It was hilarious to pronounce, so I just had to try it. Tasted pretty good, I'd say. 

Endrico and Surianto checking out nasi katok at Pasar Malam Gadong.

From there, we went to the Waterfront to regroup with Endrico, then Dart-ed to Pasar Malam Gadong. Mul bought Kuih Malaya Babu Cantik, which was a variation of Indonesian sweet martabak. Endrico got himself a pack of nasi katok for just BND 1—it was practically a steal! 

We walked back to the hotel after supper and waited for the main event: the arrival of Lui Hong. In Endrico's room, the five of us hung out while listening to Lui Hong share his story: he hadn't gone to college. After high school, he went to Bandar Seri Begawan, Manila, and Zhuhai, all for hard labor. Then he returned to Brunei and has stayed there ever since—19 years and counting! 

Old friends. From left: Mul, Anthony, Endrico, Surianto, and Lui Hong.

Eventually, the conversation turned into effortless banter among old friends. We reminisced about the good old days and floated the idea to Lui Hong that perhaps it was time to rethink his life after living apart from his family for 19 years. I borrowed a line from Chandler in Friends, suggesting he send only his smartest son to college if the cost was too much, haha.

The next day began with the hotel breakfast, a quick trip to PosBru to mail a postcard, and morning coffee at Huat Kee Kopitiam across the street. 

Breakfast time.

I ordered a Teh C Special, not expecting that it'd be special indeed: three layers of tea, evaporated milk, and palm sugar served over ice. 

The first tourist destination of the day was Kampong Ayer. I didn't make it last time, but I was part of the entourage this time. Now that I know how to swim, I have to say that I felt less scared of the speedboat ride, haha. 

The boat ride.

It was quite an experience to see the Sultan's palaces (yes, plural!) and proboscis monkeys in the wild. The tour ended with us visiting the Cultural & Tourism Gallery for a deeper look into the history of Kampong Ayer. 

When we returned to the mainland, we made a quick loop to see the BIBD Frame before heading back to the Omar Ali Saifuddien Mosque. 

Inside the mosque.

We were able to go inside this time, and those of us wearing shorts were given green robes that somehow looked like something straight out of Slytherin. The interior was lovely, though not quite as grand as the Istiqlal in Jakarta.

Endrico had this novel idea of trying the national dish called ambuyat, so we went to Liyana Restaurant at the Airport Mall. Instead of rice, we were served sago starch alongside various savory dishes. The sago was bland, gooey, and sticky! 

A set meal of ambuyat.

Despite our protests, Lui Hong insisted on buying us the meal. In hindsight, it was quite amusing that our host was the one buying us the local delicacy. 

Now, Airport Mall is connected to several other malls, so we passed through a lot of shops that looked as if they'd been stuck in time since the '90s, before stopping by the place where Lui Hong works. From there, we crossed over to Setia Point and called a Dart for the last tourist destination of the day: Jame' Asr Hassanil Bolkiah Mosque. 

At Jame' Mosque.

It was already quite late when we reached there, so we could only explore the exterior of the beautiful mosque. Looking back, the first one, built by the Sultan's father, had a more tranquil atmosphere, while this one, with its fountains, felt much more vibrant.

Our day in the city ended with dinner at Thien Thien Restaurant. It serves the most famous chicken rice in town, but I'm afraid the version in Singapore is better, haha. Still, for a meal for six costing only BND 21, I'd say it was great value for money.

After that, we parted ways with Mul and headed to The Empire Hotel. Our driver was Aznur, a bubbly woman who shared her dream of traveling the world with us. She had even already booked a trip to Bali for later this year. With a chatty driver like her, the short ride was thoroughly enjoyable. 

In fact, we unanimously concluded later on—after our last ride to the airport—that 100% of Dart drivers were polite, friendly, and helpful! I don't think I have ever experienced this elsewhere!

Our last night in Brunei ended with Spider-Man: Brand New Day, marking the first time we had ever stayed at a resort that had its own cinema complex! 

A night at The Empire.

Oh yes, after regretting for 17 years that I hadn't stayed there during my first visit, I finally had my redemption!

And we didn't waste the opportunity. The next morning, we grabbed our bikes and cycled around. With the resort facing the South China Sea, the scenery felt quite majestic. I pointed to the north and told the rest of the boys that China was just straight ahead.

The bicycle ride.

That bike ride turned out to be the last thing we did with Lui Hong. He had to get back to work, so we finally said goodbye to our host. Mul and his wife came to meet us after Lui Hong left—because of course, you can't visit Brunei without checking out The Empire. 

From the hotel, we headed to our last stop for brunch: Chop Jing Chew, famous for the roti kawin that Endrico had been craving. But it wasn't meant to be. The eatery closed at noon, so our kind Dart driver recommended and took us to Old Time Kopitiam instead. The food was all right and we ordered quite a lot, but there was a lingering feeling that it just wasn't Chop Jing Chew. 

Still, is the allure of the famous name reason enough to bring us back to Brunei? I told Lui Hong that it had taken us this long to get here, and he is an old friend of ours. I'm pretty convinced no slice of roti kawin will make us return!

Back to Changi!



Kembali Ke Bandar Seri Begawan

Berikut ini adalah permulaan yang orisinal: sebuah perjalanan yang berawal hanya karena seseorang mengangkat panggilan telepon. Ya, semuanya bermula dari sebuah panggilan video November lalu di penghujung perjalanan kami ke Koh Samui.

​Sembari menunggu jemputan untuk mengantar kami ke bandara, Surianto, Endrico, dan saya menggulir daftar kontak WhatsApp untuk mencari nama teman-teman SMA kami, lalu menelepon mereka secara acak. Sebagian besar tidak menjawab, entah karena memang sibuk atau sengaja menghindari panggilan saya. Namun Lui Hong mengangkatnya, dan setelah mengobrol sebentar, saya bercanda mengatakan kepadanya bahwa kami akan pergi ke Brunei untuk mengunjunginya.

​Namun rupanya lelucon itu berbalik kepada saya, karena akhirnya menjadi sebuah janji yang harus kami tepati. Sejujurnya, mengunjungi Brunei tidak pernah terlintas sedikit pun di benak kami. Surianto bahkan memberi tahu saya bahwa Brunei sebenarnya adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang ingin ia lewati, karena tampaknya tidak banyak yang bisa dilakukan di sana.

​Namun kami memiliki seorang teman lama yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak kami jumpai, dan ia telah mengangkat panggilan kami. Alasan itu saja sudah lebih dari cukup bagi kami untuk berangkat.

​Maka kami pun merencanakan perjalanan ini untuk bulan Agustus, setelah petualangan kami di Amerika Serikat, dan "kampanye" mengunjungi Brunei pun dimulai. Taty sempat bilang kalau Susan berminat, tetapi tidak terwujud. Setelah banyak pertimbangan, BL memutuskan untuk mengunjungi Singapura saja. Namun, Muliady The siap ikut. Ia akan terbang dari Manila untuk bergabung bersama kami. Kami memesan tiket pesawat pada bulan Maret, dan Mul memesan tiketnya sebulan kemudian.

​Lima bulan kemudian, pada bulan Agustus, kami akhirnya mendarat di Bandar Seri Begawan. Bagi saya, rasanya seperti masa lalu yang terulang kembali di depan mata. Tulisan Jawi yang terpampang di setiap plang toko—ciri khas yang begitu unik dari Brunei—menghadirkan kembali rasa takjub yang persis sama seperti yang saya rasakan pada tahun 2009.

​Namun bandaranya sudah berbeda dari yang saya ingat. Dulu, seorang teman asal Brunei bernama CK yang menjemput kami; sekarang kami menggunakan Dart, aplikasi transportasi daring lokal.

​Rasanya sungguh campur aduk dan ironis. Saat kunjungan pertama, Lui Hong sedang pulang ke kampung halaman kami dan CK menjadi tuan rumahnya. Sekarang Lui Hong ada di sini, tetapi CK sedang berada di luar kota. Rasanya memang begitulah jalannya di Brunei! Kita memang tidak bisa mengumpulkan semua orang pada waktu yang bersamaan!

​Mul sudah tiba di Brunei lebih awal pada hari itu, tepat setelah tengah malam. Ia sedang menjelajah di suatu tempat ketika kami naik Dart menuju The Rizqun International Hotel di Gadong. Setiba di sana, Surianto dan saya akhirnya bersantap di Cheezbox.

​Endrico langsung pergi menemui abangnya yang sudah sepuh, sementara Mul dan istrinya datang bergabung bersama kami. Saya ingat sempat menatap ke arah McDonald's dari balik jendela dan berpikir, "Wah, hari pertama di Brunei dan saya sudah tidak tahu harus ke mana." Bahkan Laos pun rasanya menawarkan lebih banyak hal jika dibandingkan.

​Namun Mul, yang dengan antusias menanyakan kepada saya hendak pergi ke mana, tanpa sadar mengingatkan saya bahwa anggota rombongan lainnya adalah pengunjung yang baru pertama kali datang.

​Menyadari hal itu, saya pun mengambil inisiatif dan memesan kendaraan menuju Masjid Omar Ali Saifuddien. Hari sudah menjelang senja dan jam kunjungan sudah berakhir, tetapi kami diperbolehkan berjalan-jalan di sekitar area pelataran untuk melihat-lihat.

Di depan mesjid Omar Ali Saifuddien.

​Dari sana, kami menyeberang jalan menuju Kompleks Yayasan. Sembari melihat-lihat kios di pasar malam, Surianto menunjukkan sesuatu yang mulai saya sadari: meskipun nilai tukar BND dipatok 1:1 dengan SGD, harga-harga di sini terasa jauh lebih murah.

​Kesadaran itu makin terasa keesokan malamnya saat kami melihat harga di Restoran Thien Thien: di Singapura, Anda tidak akan bisa lagi mendapatkan sepiring nasi ayam seharga SGD 3,50 dan Teh O seharga SGD 0,60!

2009 v. 2026.

​Kembali ke Kompleks Yayasan, semuanya tampak persis seperti yang saya ingat dari tahun 2009—begitu miripnya hingga saya tergelitik untuk berpose dengan gaya yang sama di tempat yang persis sama.

​Setelah itu, saya melangkah masuk ke KFC. Sejak tiba, saya sudah tergoda oleh Nasi Katok Colonel—bukan karena rasanya, melainkan karena namanya, sebab katok berarti celana dalam pria dalam bahasa gaul Pontianak. Pelafalannya terdengar sangat lucu, jadi saya harus mencobanya. Menurut saya, rasanya lumayan enak.

Endrico dan Surianto menjajaki kedai nasi katok di Pasar Malam Gadong.

​Dari sana, kami pergi ke Waterfront untuk berkumpul kembali dengan Endrico, lalu naik Dart ke Pasar Malam Gadong. Mul membeli Kuih Malaya Babu Cantik, yang merupakan variasi dari martabak manis Indonesia. Endrico membeli sebungkus nasi katok hanya seharga BND 1—murah sekali, rasanya seperti untung besar!

​Kami berjalan kaki kembali ke hotel setelah makan malam larut dan menunggu acara utamanya: kedatangan Lui Hong. Di kamar Endrico, kami berlima nongkrong sambil mendengarkan Lui Hong berbagi ceritanya: ia tidak kuliah. Lulus SMA, ia merantau ke Bandar Seri Begawan, Manila, dan Zhuhai, semuanya untuk bekerja membanting tulang. Kemudian ia kembali ke Brunei dan menetap di sana sejak saat itu—sudah 19 tahun dan masih terus berlanjut!

Teman lama. Dari kiri: Mul, Anthony, Endrico, Surianto, and Lui Hong.

​Lama-kelamaan, obrolan tersebut berubah menjadi canda tawa santai khas kawan lama. Kami bernostalgia tentang masa-masa indah dulu dan melontarkan ide kepada Lui Hong bahwa mungkin sudah waktunya ia menata ulang hidupnya setelah terpisah dari keluarga selama 19 tahun. Saya meminjam lelucon Chandler di serial Friends, menyarankannya untuk menguliahkan anak laki-lakinya yang paling pintar saja jika biayanya terlalu mahal, haha.

​Hari berikutnya dimulai dengan sarapan di hotel, mampir sebentar ke PosBru untuk mengirim kartu pos, dan menikmati kopi pagi di Huat Kee Kopitiam di seberang jalan.

Sarapan pagi di Rizqun International Hotel.

​Saya memesan Teh C Special, dan ternyata minumannya memang benar-benar istimewa: tiga lapis yang terdiri dari teh, susu evaporasi, dan gula aren yang disajikan dengan es.

​Tujuan wisata pertama hari itu adalah Kampong Ayer. Saya tidak sempat ke sana pada kunjungan sebelumnya, tetapi kali ini saya ikut dalam rombongan. Sekarang setelah saya bisa berenang, harus saya akui bahwa saya merasa tidak terlalu takut lagi saat naik perahu cepat, haha.

Menjelajahi Kampong Ayer.

​Melihat istana-istana Sultan (ya, jamak!) dan bekantan di alam liar benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa. Tur tersebut ditutup dengan kunjungan kami ke Cultural & Tourism Gallery untuk melihat sekilas sejarah Kampong Ayer.

​Ketika kembali ke daratan utama, kami memutar sebentar untuk melihat BIBD Frame sebelum kembali ke Masjid Omar Ali Saifuddien.

Di dalam mesjid.

​Kali ini kami bisa masuk ke dalam, dan mereka yang mengenakan celana pendek diberi jubah hijau yang entah mengapa terlihat seperti jubah asrama Slytherin. Bagian dalamnya sangat indah, meski tidak semegah Masjid Istiqlal di Jakarta.

​Endrico lantas mengajukan ide unik untuk mencoba makanan nasional bernama ambuyat, jadi kami pergi ke Restoran Liyana di Airport Mall. Alih-alih nasi, kami disuguhi pati sagu yang disantap bersama aneka lauk gurih. Sagunya tawar, kenyal, dan lengket!

Satu set ambuyat.

​Meskipun kami sempat menolak, Lui Hong bersikeras untuk mentraktir kami. Kalau dipikir-pikir lagi, rasanya pas juga karena tuan rumah kami yang justru membelikan hidangan khas setempat untuk kami.

​Airport Mall ini terhubung dengan beberapa mal lainnya, jadi kami melewati banyak pertokoan yang terlihat seolah-olah terjebak di era 90-an sebelum mampir ke tempat kerja Lui Hong. Dari sana, kami menyeberang ke Setia Point dan memesan Dart menuju destinasi wisata terakhir hari itu: Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah.

Di Mesjid Jame'.

​Saat kami tiba di sana, hari sudah cukup sore, jadi kami hanya bisa menjelajahi bagian luar masjid yang indah tersebut. Mengingat kembali keduanya, masjid pertama yang dibangun oleh ayah Sultan memiliki suasana yang lebih tenang dan damai, sedangkan yang ini, dengan air mancurnya, terasa jauh lebih semarak.

​Hari kami di kota berakhir dengan makan malam di Restoran Thien Thien. Tempat ini menyajikan nasi ayam paling terkenal di kota, tetapi menurut saya versi di Singapura masih lebih enak, haha. Tetap saja, untuk santapan enam orang yang hanya menghabiskan BND 21, saya rasa itu sangat sepadan dengan harganya.

​Setelah itu, kami berpisah dengan Mul dan menuju The Empire Hotel. Pengemudi kami adalah Aznur, seorang wanita periang yang menceritakan impiannya untuk berkeliling dunia kepada kami. Ia bahkan sudah memesan perjalanan ke Bali untuk akhir tahun ini. Dengan pengemudi yang ramah dan suka mengobrol seperti Aznur, perjalanan singkat itu terasa sangat menyenangkan.

​Bahkan, kami sepakat menyimpulkan kemudian—setelah perjalanan terakhir kami menuju bandara—bahwa 100% pengemudi Dart sangat sopan, ramah, dan suka membantu! Rasanya saya belum pernah mengalami hal seperti ini di tempat lain!

​Malam terakhir kami di Brunei ditutup dengan menonton Spider-Man: Brand New Day, menandai pertama kalinya kami menginap di sebuah resor yang memiliki kompleks bioskop sendiri!

Semalam di The Empire.

​Ya, setelah 17 tahun menyesal karena tidak menginap di The Empire Hotel saat kunjungan pertama, akhirnya saya menebusnya!

​Dan kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Keesokan paginya, kami mengambil sepeda dan berkeliling. Karena resor ini menghadap langsung ke Laut Tiongkok Selatan, pemandangannya terasa sangat megah. Saya menunjuk ke arah utara dan memberi tahu teman-teman bahwa Tiongkok berada tepat lurus di depan sana.

Bersepeda di The Empire.

​Acara bersepeda itu menjadi aktivitas terakhir yang kami lakukan bersama Lui Hong. Ia harus kembali bekerja, jadi kami pun akhirnya berpamitan kepada tuan rumah kami. Mul dan istrinya datang menemui kami setelah Lui Hong pergi—karena tentu saja, Anda belum sah ke Brunei jika tidak mampir ke The Empire.

​Dari hotel, kami menuju perhentian terakhir untuk brunch: Chop Jing Chew, yang terkenal dengan roti kawin yang sangat diidam-idamkan oleh Endrico. Namun nasib berkata lain. Kedai tersebut sudah tutup pada siang hari, jadi pengemudi Dart kami yang baik hati merekomendasikan dan mengantar kami ke Old Time Kopitiam sebagai gantinya. Makanannya lumayan enak dan kami memesan cukup banyak, tetapi tetap ada perasaan yang mengganjal bahwa tempat itu bukanlah Chop Jing Chew.

​Namun, apakah daya tarik sebuah nama terkenal cukup menjadi alasan untuk membawa kami kembali ke Brunei? Saya sempat memberi tahu Lui Hong bahwa butuh waktu selama ini bagi kami untuk sampai ke sini, padahal ia adalah sahabat lama kami. Saya cukup yakin bahwa kalau cuma roti kawin saja tidak akan mampu membuat kami kembali lagi!

Kembali ke Changi!


Friday, July 17, 2026

The Road To World Cup 2026

I almost didn't want to write this. If you looked closely at the Longest Saturday, you'd see that I only mentioned the World Cup tickets in passing. I mean, the idea of traveling back to 10 AM on a Saturday was so intriguing that I couldn't let the World Cup origin story compete with it. So, it went unwritten—until I saw this photo posted by a friend from church. It was like, "hmm, a good picture. Let's not waste it, especially since I have a good story to go along with it."

The sharing moment.

And the story started with my friend Isaac—yes, the same guy who inspired me to bring the whole family to Europe. Back in 2014, during the gratitude era, Isaac told us about the World Cup match he watched in Brazil. His story gave me an idea that watching the World Cup live was something anyone of us could do. The idea sat there for the longest time before it resurfaced again after the Argentina vs. France match in 2022. The next World Cup and the US—they all lined up perfectly! I mean, after exploring Asia, Europe and Australia, of course the US had to be next. That was the natural progression. That was the trip!

But nothing could be done until the tickets went on sale, so Japan, Europe, China and India happened instead. It was only in October 2025 that the whole thing commenced. FIFA started with a ballot system, so Endrico and I registered our email addresses. In the meantime, we looked through the dates and the cities. Since it was going to be our first US visit, we decided to start with the West Coast. We also thought that it would be best to watch the match during the first leg of our US Trip; therefore, we selected San Francisco as our safest bet. Literally—especially when compared to what we read about LA, haha.

And that's how we ended up in San Francisco. The thing was, while the schedule was already out, the qualification rounds hadn't finished yet, so we didn't actually know which match we'd be watching. It was only much later on that we learned we got Jordan vs. Austria. I thought, "just our luck." Both were underdogs. Of all the matches we could have watched!

Now, having watched Juventus vs. Tottenham before in Singapore, I thought I'd be experiencing similar vibes. Nothing I knew could have prepared me for what was coming next. When we walked to Levi's Stadium, while the majority of people we saw were either Jordanians or Austrians, it felt like everyone from all corners of the world was coming. From where I stood while waiting for the entrance gate to open, I saw Jordanians waving flags, blasting music, singing and dancing. The joy was genuine and infectious. I couldn't help smiling when I thought about how these people came together from a land faraway to support their team. Now that's the spirit!

The World Cup match—a world class event. That's what dawned on me when I went upstairs and saw how smooth and green the soccer field was. As I sat there, the camera moved around the stadium, catching the audience off guard. It was funny to see how they went wild when they saw themselves on the Jumbotron. The atmosphere was at an all-time high. How surreal it was to be there, to be part of this very moment the whole world was celebrating. And you know what was most unbelievable? The fact that it could still get better!

Since I wasn't familiar with either team, my expectations were low. But soon, I got carried away by the excitement. Jordan put up a good fight and, among the Jordanian fans, I suddenly found myself rooting and cheering for them. The stadium was roaring, and I contributed my own voice to the noise! I booed the Austrians and pulled my hair when the Jordanians missed their chances. Great game—and the seats were brilliant, too. You know how we need to rely on the big screens to see the match or the artist performing clearly? For this one time, it was nothing like that. The ball was visible, except for those moments whenever the Jordanians jumped off their seats during those dire and tense situations, haha. 

When the game ended and we walked out from the stadium, I vaguely remember that Endrico and I asked each other a couple of times, "That was a World Cup match we just watched, wasn't it?" We were in sheer disbelief that we had made it this far! But we were in the whirlwind of our tour and LA was next, so I only came to appreciate the magnitude of it two weeks later, when I found out that I was the only one in our church who went to watch World Cup. Because of this, I was asked to share about it the following week. 

That request eventually became the trigger—and the epilogue—of our story here. Slides were required for my presentation, but before I began creating them the conventional way, my wife lightly commented, "Why don't you just use AI to do it?" I immediately accepted her challenge and that is how the slides below were created using ChatGPT. 

The slides.

The slides were ready, but there was one more unexpected part of the story yet to happen. Early in the morning on the day of my presentation, I accompanied my wife to watch England vs. Norway at One Punggol. Endrico turned out to be there, too, since he lived nearby. It was quite lively, with a lot of cheering going on, but by the time England won the match, both of us realized something: When we watched it on the screen, we were watching the game. But when we watched it live, we were part of the game. 

That was what it meant to watch a World Cup live, and that became the ending of the story I shared. Yes, it was indeed a rare experience like no other. But if I had to describe how great it was to be there, then it had to be those 90 minutes when we became part of the game—the wave that went around the stadium, all the yelling and the rollercoaster of emotions I felt together with four other friends and 68,522 strangers. It was the World Cup, and it didn't get any bigger than this! That's why it was worth it. And I'm glad that, for once in my life, I was part of it...



Jalan Menuju Piala Dunia 

Cerita berikut ini hampir saja tidak ditulis. Jika Anda memperhatikan the Longest Saturday dengan saksama, Anda akan melihat bahwa saya hanya menyinggung soal tiket Piala Dunia sepintas lalu. Bagi saya, ide tentang melakukan perjalanan kembali ke jam 10 pagi di hari Sabtu yang sama terasa sangat menarik, sampai-sampai saya tidak ingin kisah asal-usul Piala Dunia ini mengalihkan perhatian dari cerita tersebut. Jadi, kisah ini saya abaikan—sampai saya melihat foto di bawah ini diunggah oleh seorang teman dari gereja. Rasanya seperti, "Hmm, foto yang bagus. Jangan disia-siakan, apalagi saya punya cerita bagus untuk melengkapinya."

Saat berbagi cerita.

Dan cerita ini dimulai dari teman saya, Isaac—ya, orang yang sama yang menginspirasi saya untuk membawa seluruh keluarga ke Eropa. Kilas balik ke tahun 2014, saat masa-masa gratitude, Isaac menceritakan kepada kami tentang pertandingan Piala Dunia yang ditontonnya langsung di Brasil. Ceritanya memberi saya ide bahwa menonton Piala Dunia secara langsung adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh siapa saja di antara kami. Ide itu mengendap sangat lama sebelum akhirnya muncul kembali setelah pertandingan final Argentina vs. Prancis di tahun 2022. Piala Dunia berikutnya dan Amerika Serikat—semuanya seakan terhubung dengan sempurna! Maksud saya, setelah menjelajahi Asia, Eropa, dan Australia, tentu saja AS harus menjadi tujuan berikutnya. Itu adalah kelanjutan yang alami. Itulah perjalanannya!

Namun tidak ada yang bisa dilakukan sampai tiket resmi dijual, jadi perjalanan ke Jepang, Eropa, Tiongkok, dan India yang terjadi lebih dulu. Baru pada bulan Oktober 2025 seluruh proses ini dimulai. FIFA memulainya dengan sistem undian (ballot), jadi Endrico dan saya mendaftarkan alamat email kami. Sementara itu, kami memeriksa tanggal dan kota-kotanya. Karena ini akan menjadi kunjungan pertama kami ke AS, kami memutuskan untuk memulai dari Pantai Barat. Kami juga berpikir bahwa yang terbaik adalah menonton pertandingan di awal perjalanan kami di AS; oleh karena itu, kami memilih San Francisco sebagai pilihan paling aman. Secara harfiah—terutama jika dibandingkan dengan apa yang kami baca tentang LA, haha.

Dan begitulah akhirnya kami terdampar di San Francisco. Masalahnya, meskipun jadwal pertandingan sudah keluar, babak kualifikasi belum selesai, jadi kami sebenarnya tidak tahu pertandingan mana yang akan kami tonton. Baru lama setelah itu kami mengetahui bahwa kami mendapatkan pertandingan Yordania vs. Austria. Saya membatin, "Sial-sial beruntung." Keduanya adalah tim non-unggulan. Dari semua pertandingan yang bisa saja kami tonton, justru dapatnya yang ini!

Nah, karena sebelumnya pernah menonton Juventus vs. Tottenham di Singapura, saya pikir saya akan merasakan suasana yang serupa. Namun, tidak ada hal yang saya ketahui yang bisa mempersiapkan saya untuk apa yang terjadi selanjutnya. Ketika kami berjalan menuju Levi's Stadium, meskipun mayoritas orang yang kami lihat adalah orang Yordania atau Austria, rasanya seperti semua orang dari segala penjuru dunia berdatangan. Dari tempat saya berdiri sambil menunggu gerbang masuk dibuka, saya melihat orang-orang Yordania mengibarkan bendera, memutar musik dengan keras, bernyanyi, dan menari. Kegembiraan mereka begitu tulus dan menular. Saya tidak bisa menahan senyum ketika memikirkan bagaimana orang-orang ini datang bersama dari tempat yang sangat jauh untuk mendukung tim mereka. Nah, itulah baru semangat!

Pertandingan Piala Dunia—sebuah acara kelas dunia. Itulah yang tersadar dalam benak saya ketika saya naik ke atas dan melihat betapa mulus dan hijaunya lapangan sepak bola tersebut. Saat saya duduk di sana, kamera bergerak mengelilingi stadion, menyorot penonton secara tiba-tiba. Lucu rasanya melihat bagaimana mereka menjadi heboh saat melihat diri mereka sendiri di Jumbotron. Atmosfernya berada di titik tertinggi yang pernah ada. Terasa begitu tidak nyata untuk berada di sana, menjadi bagian dari momen yang sedang dirayakan oleh seluruh dunia ini. Dan Anda tahu apa yang paling tidak bisa dipercaya? Kenyataan bahwa momen itu masih bisa menjadi lebih baik lagi!

Karena saya tidak tahu banyak tentang dua tim ini, ekspektasi saya rendah. Namun tak lama kemudian, saya terbawa oleh keseruan pertandingan. Yordania memberikan perlawanan yang sengit dan, di antara para pendukung Yordania, tiba-tiba saya mendapati diri saya ikut mendukung dan bersorak untuk mereka. Stadion bergemuruh, dan saya menyumbangkan suara saya sendiri ke dalam keriuhan itu! Saya menyoraki tim Austria dan menarik rambut saya ketika orang-orang Yordania melewatkan peluang mereka. Pertandingan yang luar biasa—dan tempat duduknya juga sangat strategis. Anda tahu kan bagaimana kita biasanya harus bergantung pada layar besar untuk melihat pertandingan atau artis yang tampil dengan jelas? Khusus untuk kali ini, rasanya tidak seperti itu sama sekali. Bolanya terlihat jelas, kecuali pada momen-momen ketika orang-orang Yordania melompat dari kursi mereka saat situasi sedang genting dan menegangkan, haha.

Ketika pertandingan berakhir dan kami berjalan keluar dari stadion, samar-samar saya ingat bahwa Endrico dan saya saling bertanya beberapa kali, "Itu tadi pertandingan Piala Dunia yang baru saja kita tonton, kan?" Kami benar-benar tidak percaya bahwa kami bisa melangkah sejauh ini! Namun kami sedang berada dalam pusaran jadwal tur kami dan LA adalah tujuan berikutnya, jadi saya baru bisa benar-benar mengapresiasi besarnya momen tersebut dua minggu kemudian, ketika saya mengetahui bahwa saya adalah satu-satunya orang di gereja kami yang pergi menonton Piala Dunia. Karena hal ini, saya diminta untuk membagikan cerita tersebut pada minggu berikutnya.

Permintaan itu akhirnya menjadi pemicu—sekaligus epilog—dari cerita kita di sini. Saya perlu slides untuk presentasi saya, tetapi sebelum saya mulai membuatnya dengan cara konvensional, istri saya melontarkan komentar ringan, "Mengapa tidak pakai AI saja untuk membuatnya?" Tantangannya langsung saya terima, dan beginilah cara slides di bawah ini dibuat menggunakan ChatGPT.

PPT dari AI.

Slides kini siap, tetapi ada satu lagi bagian tak terduga dari cerita ini yang belum terjadi. Pagi-pagi sekali di hari presentasi saya, saya menemani istri saya untuk menonton pertandingan Inggris vs. Norwegia di One Punggol. Ternyata Endrico juga ada di sana, karena dia tinggal di dekat situ. Suasananya cukup meriah, dengan banyak sorakan yang membahana, tetapi pada saat Inggris memenangkan pertandingan, kami berdua menyadari sesuatu: Ketika kami menontonnya di layar kaca, kami sedang menonton pertandingan. Namun ketika kami menontonnya secara langsung, kami adalah bagian dari pertandingan itu sendiri.

Itulah arti dari menonton Piala Dunia secara langsung, dan itu menjadi akhir dari cerita yang saya bagikan. Ya, itu memang sebuah pengalaman langka yang tiada duanya. Namun jika saya harus menggambarkan betapa luar biasanya berada di sana, maka itu adalah 90 menit ketika kami menjadi bagian dari pertandingan—ombak manusia (the wave) yang berputar mengelilingi stadion, semua teriakan, dan pasang surut emosi yang saya rasakan bersama dengan empat orang teman lainnya dan 68.522 orang asing. Itu adalah Piala Dunia, dan tidak ada lagi yang lebih besar dari ini! Itulah mengapa semuanya terasa sangat sepadan. Dan saya bersyukur bahwa, untuk sekali dalam hidup saya, saya pernah menjadi bagian di dalamnya...