Total Pageviews

Translate

Showing posts with label General. Show all posts
Showing posts with label General. Show all posts

Monday, February 23, 2026

The Stand-up Comedy

If I took out all the travels I've done and went back to basics, I think I could simply be described as a guy who likes to laugh. I like to surround myself with funny people, and Stephen Chow was easily one of my earliest idols from the early '90s.

My introduction to stand-up comedy happened only quite recently, though. I shared that moment with my brother Herry, when we were in transit at KLIA in 2020. That night at Capsule by Container Hotel, we watched Ronny Chieng's Netflix special Asian Comedian Destroys America! It was hilarious, but it didn't really trigger anything yet.

Then came Seinfeld on Netflix in 2021. It was the best comedy series ever. In the series, Jerry was a mildly successful stand-up comedian. While my friend Parno always mentioned stand-up comedians, it was through the nine seasons of Seinfeld that it etched into my mind.

And the beauty of Singapore is, there's no shortage of live shows. I had my fair share of concerts here, and I fell in love with musicals since my initial years in Singapore. So when Ronny Chieng came on September 13, 2023, I immediately thought, "Wow, just nice. Let's go watch!"

But to be frank, it wasn't my first stand-up comedy show. Back in 2016, I watched Singapore's Kumar performing as part of Kings and Queen of Comedy Asia 7 at the Esplanade Theatre. I remember laughing, but that was pretty much it, and stand-up comedy faded into oblivion until years later.

And Ronny was the act that started it all. He was funny, abrasive, intense, and angry. His humor was international, probably due to the fact that he lives in America and is part of the Daily Show. But as someone who grew up in Singapore, he surely had some jokes that locals could appreciate. And hey, he surely wasn't shy to remind us that he was part of the Marvel Cinematic Universe, haha.

Months later, came Trevor Noah. It was right before my trip to Taiwan. Now, one couldn't be skipping Trevor when binge-watching Netflix specials. I watched all of them, and he was especially good with his globe-trotting stories and, while he was at it, doing the accents. And on June 4, 2024, Trevor Noah didn't disappoint. His performance, especially the last bit about India, was pure comedy.

Ten days later, right after my Taiwan trip, it was Jerry Seinfeld's first performance in Singapore and his only show in Asia. I did feel nervous because Jerry's Netflix specials weren't as good as Ronny and Trevor. After all, this was the guy I loved best when he was doing sitcoms.

But boy, did he blow me away! There was not a moment wasted. Jerry Seinfeld, a class act in observational comedy. He was a genius at describing mundane daily stuff and making it unbelievably funny. As I stepped out of the Singapore Indoor Stadium, I felt the same way I did after watching Paul McCartney's concert at Tokyo Dome: I had just seen a legend doing what he did best.

The recent one was Jimmy O. Yang on November 25, 2025. I flew back from Koh Samui in the afternoon and went to the Star Theatre after that. I had watched Jimmy in various shows, from Fresh Off the Boat, Crazy Rich Asians to Interior Chinatown. I loved his specials on Amazon Prime. On top of that, he was also friends with Ronny. And he did mention that in a hilarious way: if you didn't like his show, remember that his name is Ronny Chieng. That was a memorable closing line, haha.

But why did I suddenly talk about stand-up comedy? It was triggered by the short conversation I had with my friend Bernard on Sunday afternoon. We booked Dr. Jason Leong's tickets. The comedian from Malaysia was a brilliant opening act for both Ronny and Jimmy's shows. I loved his comedic timing. His jokes were also localized and relatable, so it's time to see him as a headliner! Eight more months to go! 

From left: Jerry, Ronny, Trevor, Jimmy and Jason.




Stand-up Comedy

Jika saya coret semua perjalanan yang telah saya lakoni dan kembali ke hal yang paling mendasar, saya rasa saya bisa digambarkan secara sederhana sebagai orang yang suka tertawa. Saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang lucu. Stephen Chow adalah salah satu idola awal saya di awal dekade 90an. 

Namun, perkenalan saya dengan stand-up comedy baru terjadi belum lama ini. Saya berbagi momen itu dengan adik saya, Herry, saat kami sedang transit di KLIA pada tahun 2020. Malam itu di Capsule by Container Hotel, kami menonton acara spesial Ronny Chieng di Netflix: Asian Comedian Destroys America! Pertunjukannya sangat lucu, tetapi belum benar-benar memicu sesuatu.

Lalu muncul Seinfeld di Netflix pada tahun 2021. Itu adalah serial komedi terbaik yang pernah ada. Dalam serial tersebut, Jerry adalah seorang komedian berdiri yang lumayan sukses. Meskipun teman saya Parno selalu menyebut-nyebut tentang komedian berdiri, melalui sembilan season Seinfeld-lah hal itu membekas di pikiran saya.

Salah satu keunggulan Singapura adalah banyaknya aneka pertunjukan panggung yang senantiasa digelar di sini. Saya sudah sering menonton konser dan saya jatuh cinta pada pertunjukan musikal dari sejak tahun-tahun awal saya di Singapura. Jadi, ketika Ronny Chieng datang pada 13 September 2023, saya langsung berpikir, "Wah, pas sekali. Ayo tonton!"

Sejujurnya, itu bukan pertunjukan stand-up comedy pertama saya. Di tahun 2016, saya pernah menonton Kumar dari Singapura yang tampil sebagai bagian dari Kings and Queen of Comedy Asia 7 di Esplanade Theatre. Saya ingat saya tertawa, tetapi hanya sebatas itu saja dan stand-up comedy pun terlupakan hingga bertahun-tahun kemudian.

Dan Ronny adalah pelawak yang memulai segalanya. Dia lucu, kasar, intens, dan pemarah gayanya. Humornya bernuansa internasional, mungkin karena dia tinggal di Amerika dan merupakan bagian dari The Daily Show. Namun sebagai seseorang yang tumbuh di Singapura, dia pastinya punya beberapa lelucon yang bisa diapresiasi oleh penduduk lokal. Dan hei, dia jelas tidak malu untuk mengingatkan penonton bahwa dia adalah bagian dari Marvel Cinematic Universe, haha.

Beberapa bulan kemudian, datanglah Trevor Noah. Aksi panggungnya terjadi tepat sebelum perjalanan saya ke Taiwan. Sebagai pemirsa Netflix, tentunya saya tidak melewatkan komedi spesial Trevor. Saya menonton semuanya. Trevor memiliki cerita-cerita liburan ke manca negara dan, saat bercerita, dia menirukan berbagai aksen. Dan pada 4 Juni 2024, Trevor Noah tidak mengecewakan. Penampilannya, terutama bagian terakhir tentang India, adalah komedi yang kocak untuk dinikmati.

Sepuluh hari kemudian, tepat setelah perjalanan saya dari Taiwan, Jerry Seinfeld menggelar pertunjukan pertama di Singapura dan satu-satunya di Asia. Saya merasa gugup karena acara spesial Jerry di Netflix tidak sebagus Ronny dan Trevor. Lagipula, Jerry yang saya tonton adalah pelawak yang bermain dalam komedi situasi.

Tapi astaga, dia benar-benar memukau saya! Tidak ada momen yang terbuang sia-sia. Jerry Seinfeld, seorang pakar dalam komedi observasional! Dia adalah seorang jenius dalam menggambarkan hal-hal harian yang remeh dan membuatnya menjadi sangat lucu. Begitu melangkah keluar dari Singapore Indoor Stadium, saya merasakan perasaan serupa yang saya rasakan setelah menyaksikan konser Paul McCartney di Tokyo Dome: saya baru saja menyaksikan seorang legenda melakukan hal yang paling dikuasainya.

Yang terbaru adalah Jimmy O. Yang pada 25 November 2025. Saya terbang kembali dari Koh Samui pada sore hari dan pergi ke Star Theatre setelah itu. Saya telah menonton Jimmy di berbagai serial dan film, mulai dari Fresh Off the Boat, Crazy Rich Asians hingga Interior Chinatown. Saya menyukai acara spesialnya di Amazon Prime. Selain itu, dia juga berteman dengan Ronny. Dan dia menyebutkan hal itu dengan cara yang kocak: jika Anda tidak menyukai pertunjukannya, ingatlah bahwa namanya adalah Ronny Chieng. Itu adalah kalimat penutup yang berkesan, haha.

Tapi mengapa saya tiba-tiba membicarakan tentang stand-up comedy? Hal ini dipicu oleh percakapan singkat yang saya lakukan dengan teman saya, Bernard, di hari Minggu. Kami memesan tiket Dr. Jason Leong. Komedian dari Malaysia tersebut adalah pembuka yang brilian untuk pertunjukan Ronny dan Jimmy. Saya menyukai ketepatan waktu komedinya. Leluconnya juga sangat lokal dan relevan, jadi sudah waktunya untuk melihat dia sebagai penampil utama! Delapan bulan lagi!

Thursday, February 19, 2026

NotebookLM

One year into my journey with AI, I developed a new habit: I started listening to the audio overviews and I liked checking out how AI summarized the whole story as a one-page infographic. We'll get into that, but first, let's have a quick recap to see how I got here.

As mentioned before, sometime in October 2025, I tried out NotebookLM after hearing about it repeatedly from my CEO. That was also around the same time I got my Pixel 10 Pro. One of the perks of getting the flagship phone was the sudden upgrade of my Google One membership. It became Google AI Pro, and it was free for one year.

This meant a higher generation usage limit in NotebookLM. It also meant a more frequent use of NotebookLM features. And if you ever found the explanation above got your head spinning, don't let it deter you from trying. NotebookLM was as simple as uploading and clicking the feature you liked to generate the output!

It was interesting to note that the NotebookLM app seemed to be more restrictive and offered fewer features. The web version, on the other hand, was more intuitive. I tested Mindmap, Reports, Flashcards, Slide Deck, and Data Table, but eventually decided that Infographic as well as Audio and Video Overview were more relevant to my blogging activities.

Video Overview was simply used because it created visual images that were good for Roadblog101's YouTube channel. But it was Audio Overview that I fell in love with. It could go deep dive into the sources I uploaded and brilliantly presented the outcome in the form of two people discussing what I wrote.

It was fun to hear them discussing my trips, but the real highlight was listening to how they dissected the more serious topics, especially on the blog posts that were rather obscure, such as Nowhere Man, Macroeconomics, etc. The retelling was like an expert opinion about my ideas. It was funny at times, it was often eloquent, and it was also a great reminder of things I had forgotten. 

On top of that, since I could add many sources to one notebook, I was able to hear the full story for the first time. Some blog posts were originally split into multiple parts, and others were written years later — intentionally or not — much like the Laos story. That one was made up of two stories that happened 15 years apart, so it was nice to hear them combined and retold as one. 

It was the same for the infographic. The most exciting part was the fact that I didn't know how it would turn out, and I enjoyed how the result surprised me. If there was a mistake, I could fine-tune it with the LLM prompts. The results were often colorful and surreal. Loving it!

There are about 574 blog posts on Roadblog101, including this one, so I reckon the NotebookLM activity may last for a while. But like I said earlier, one year into my journey with AI, it widened not only my horizons, but it also introduced me to something I didn't think existed before. My point is, since AI is here to stay, the question now is how we get used to it. My advice? Embrace it and let it surprise you. Start now!

PS: When I traveled, I switched to an eSIM from Simply by Echo Networks. I noticed that NotebookLM couldn't load while I was on this Hong Kong-based eSIM, so I believe not all countries support NotebookLM at this juncture...




NotebookLM 

Satu tahun dalam perjalanan saya bersama AI, saya jadi memiliki kebiasaan baru: saya suka mendengarkan ringkasan audio (audio overview) dan melihat bagaimana AI merangkum seluruh cerita menjadi infografis satu halaman. Kita akan membahas hal itu nanti, tapi mari kita ulas sejenak untuk melihat bagaimana saya sampai di titik ini.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, sekitar bulan Oktober 2025, saya mencoba NotebookLM setelah berulang kali mendengarnya dari CEO saya. Uji coba ini juga terjadi di waktu yang hampir bersamaan saat saya membeli Pixel 10 Pro. Salah satu keuntungan dari ponsel flagship tersebut adalah peningkatan mendadak pada keanggotaan Google One saya. Keanggotaan tersebut menjadi Google AI Pro, dan gratis selama satu tahun.

Ini berarti batas penggunaan fitur yang lebih tinggi di NotebookLM. Ini juga berarti saya jadi lebih sering menggunakan penggunaan fitur NotebookLM. Dan jika Anda merasa penjelasan di atas membuat kepala Anda pusing, jangan biarkan hal itu menghalangi Anda untuk mencoba. NotebookLM semudah mengunggah dan menekan fitur yang Anda sukai untuk menghasilkan output-nya!

Menarik untuk dicatat bahwa aplikasi NotebookLM tampaknya lebih terbatas dan menawarkan fitur yang lebih sedikit. Versi web jauh lebih menarik dan intuitif. Saya menguji Mindmap, Laporan, Flashcards, Slide Deck, dan Tabel Data, tetapi akhirnya memutuskan bahwa Infografis serta Audio dan Video Overview lebih relevan dengan aktivitas blogging saya.

Video Overview digunakan hanya karena fitur ini menciptakan citra visual yang bagus untuk saluran YouTube Roadblog101. Namun, Audio Overview-lah yang membuat saya jatuh cinta. Fitur ini dapat mendalami sumber-sumber yang saya unggah dan menyajikan hasilnya dengan brilian dalam bentuk dua orang yang mendiskusikan apa yang saya tulis.

Sangat menyenangkan mendengar mereka mendiskusikan perjalanan saya, tetapi yang lebih menarik lagi adalah mendengarkan bagaimana mereka membedah topik yang lebih serius, terutama pada postingan blog yang jarang saya lihat kembali, seperti Nowhere Man, ekonomi makro, dan lain-lain. Penceritaan ulangnya seperti pendapat ahli tentang ide-ide saya. Terkadang lucu, bagus pemilihan katanya, dan juga menjadi pengingat yang baik tentang hal-hal yang terlupakan oleh saya.

Selain itu, karena saya dapat menambahkan banyak sumber ke dalam satu buku catatan (notebook), saya dapat mendengar cerita lengkapnya untuk pertama kali. Beberapa postingan blog awalnya terbagi menjadi beberapa bagian, dan yang lainnya bisa saja ditulis bertahun-tahun kemudian — sengaja atau tidak — seperti cerita Laos. Cerita itu terdiri dari dua kisah yang terjadi selisih 15 tahun, jadi menyenangkan mendengarnya digabungkan dan diceritakan kembali sebagai satu kesatuan.

Hal yang sama berlaku untuk infografis. Bagian yang paling menarik adalah kenyataan bahwa saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti dan saya menikmati bagaimana hasilnya mengejutkan saya. Jika ada kesalahan, saya bisa menyempurnakannya dengan perintah (prompt) LLM. Hasilnya sering kali memiliki warna semarak dan surealis. Saya menyukainya!

Ada sekitar 574 postingan blog di Roadblog101, termasuk yang ini, jadi saya rasa aktivitas NotebookLM ini mungkin akan berlangsung cukup lama. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, satu tahun dalam perjalanan saya dengan AI, hal itu tidak hanya memperluas wawasan saya, tetapi juga memperkenalkan saya pada sesuatu yang tidak saya duga ada sebelumnya. Intinya adalah, karena AI akan terus ada, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita terbiasa dengannya. Saran saya? Mulailah menggunakan AI dan biarkan kecerdasan buatan ini mengejutkan Anda!

PS: Saat saya bepergian, saya beralih ke eSIM dari Simply oleh Echo Networks. Saya menyadari bahwa NotebookLM tidak dapat dimuat saat saya menggunakan eSIM yang berbasis di Hong Kong ini, jadi sepertinya tidak semua negara mendukung NotebookLM saat ini...

Saturday, November 8, 2025

Roadblog101 On AI

My CEO had mentioned NotebookLM to me a while ago. "Good stuff," he said. "Just put your source in, then you can start asking questions or get the AI to summarize it for you." And I suddenly remembered this again when I was cleaning up the apps on my Pixel 10. It was like, "oh, NotebookLM. Let's give it a spin."

At first glance, I wasn't really impressed by the chat feature. It was nothing ChatGPT or Gemini couldn't do. But then I saw the audio overview. When I clicked the play button, I was blown away by what I heard. Not only did it sound so professional, but I was also impressed by what I heard. It was interesting to listen to people discussing what I wrote. If it was a song, it was like hearing a different take or a cover version. 

Excited, I shared it with my high school group. The quick-witted Eday immediately pointed out Spotify as the appropriate channel for this, but I wasn't quite done with my exploration. I soon figured out that the web version had a lot more features than the app version did.

The video overview was really a hidden gem. The ability to generate some visuals in both English and Bahasa Indonesia suited me really well. Before long, a more organized thought was formed. These videos would be distributed through the existing Roadblog101's YouTube channel.

But what about the Spotify idea, though? It was not forgotten, of course. When I had lunch at Mak Nom Nom, International Plaza in Tanjong Pagar, I checked with my trusted AI, Perplexity, how to do the setup. So there I was, one hand holding a spoon and the other on the phone. 30 minutes later, the first podcast was published and shared.

Just like that, Roadblog101 is suddenly available on Spotify. It was no sweat, and the output was outstanding. I mean, it was almost like the good stuff was handed over to me on a silver platter. That's how powerful AI is. Give it some time, and it'll surprise us even more. The question now is, do we want to fear and shun it? Or will we learn and make use of it? The way I see it, you'll have more to watch and listen to, so subscribe to my YouTube and Spotify channels, okay?

Roadblog101 on Spotify.



Roadblog101 Dan AI

CEO saya pernah menyebut tentang NotebookLM. “Bagus,” katanya. “Cukup masukkan sumbermu, lalu kamu bisa mulai bertanya atau minta AI merangkum untukmu.” Saya tiba-tiba teringat lagi soal ini ketika sedang menghapus-hapus aplikasi di Pixel 10 saya. Rasanya seperti, “Oh, NotebookLM. Mari coba.”

Sekilas, saya tidak terlalu terkesan dengan fitur chat-nya. Tidak ada yang belum bisa dilakukan ChatGPT atau Gemini. Tapi kemudian saya melihat fitur audio overview. Begitu saya menekan tombol play, saya benar-benar terkesima dengan apa yang saya dengar. Suaranya terdengar sangat profesional, dan saya kagum dengan hasilnya. Menarik rasanya mendengar orang lain membahas tulisan saya. Kalau diibaratkan lagu, rasanya seperti mendengar versi lain atau interpretasi orang lain.

Dengan antusias, saya bagikan hasilnya ke grup teman SMA. Eday yang selalu cepat tanggap langsung menyebut Spotify sebagai kanal yang tepat, tapi saya belum selesai uji-coba. Tak lama kemudian, saya menyadari kalau versi web ternyata punya lebih banyak fitur dibanding versi aplikasinya.

Fitur video overview ternyata benar-benar permata tersembunyi. Kemampuannya menampilkan visual dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sangat cocok untuk saya. Dalam waktu singkat, pikiran saya mulai tersusun lebih sistematis. Video-video ini akan didistribusikan lewat kanal YouTube Roadblog101 yang sudah ada.

Lalu bagaimana dengan ide Spotify tadi? Tentu tidak terlupakan. Saat sedang makan siang di Mak Nom Nom, International Plaza Tanjong Pagar, saya meminta bantuan AI andalan saya, Perplexity, untuk mencari tahu cara membuat kanal podcast. Dengan satu tangan memegang sendok dan ponsel di tangan lain, saya bereksperimen. Tiga puluh menit kemudian, podcast pertama berhasil dirilis dan dibagikan.

Dengan segampang dan secepat itu, Roadblog101 tiba-tiba sudah hadir di Spotify. Semuanya terasa mudah, dan hasilnya luar biasa. Rasanya seperti semua hal bagus itu disajikan di atas piring perak. Begitulah hebatnya AI. Beri waktu sedikit, dan AI akan kian mengejutkan kita. Pertanyaannya sekarang, apakah kita ingin takut dan menolaknya, atau kita mau belajar dan memanfaatkannya? Menurut saya, kamu akan punya lebih banyak hal untuk ditonton dan didengarkan, jadi jangan lupa subscribe kanal YouTube dan Spotify saya, ok?

Wednesday, October 15, 2025

The Game Changer

Sometimes all it took was the most trivial thing to remind you that life had come a long way. It was one fine morning, I was on my way to the bus stop. Just like most of us these days, I was busy doomscrolling. Then I saw something that made me wonder why Akira Toriyama created Vegeta, the Prince of Saiyans from Dragon Ball Z, as a physically short character. Just like that, I fired the question on Perplexity, my go-to AI.

It was the aftermath that got me thinking. It was that easy to get my answer. AI was really a game-changer, eh? Looking back, since the dawn of the internet, dating all the way back to 1998 for me, I've been incredibly fortunate to witness firsthand and experience these game-changing moments.

I remember the time I discovered Amazon. When I first saw it in 1999, I was convinced that this was the future of shopping. I was so impressed by the books and CD collections that I applied for my first credit card. Didn't work out well for me at that time, though. But fast forward to years later, online shopping is a norm. So are contactless and QR code payments.

Another thing that kept evolving was the chat app. From just a tool to have some fun and get a date on Saturday night, it was revolutionized by BBM a decade later. Today, WhatsApp is an integral part of my life when it comes to chatting and calling. Gone are the days when you had to buy international calling cards. I can just call my mum in Pontianak anytime now. 

Then there are various ride-hailing apps. I always think of it as something you didn't know you needed, but there's no turning back once you knew it. The idea was so genius and sneaky at the same time that it changed the way of life quietly. For the better. Grab, Uber, and many more are parts of my life now. No more waiting in uncertainty. You either get your ride or you don't.

The next one I'm going to tell you may not be too significant for some, but I really love having my data on the go. Prior to this, I had been a fan of Apple's Time Capsule. I didn't understand why Apple stopped refreshing the product. Only when I shifted my data to the cloud did I realize why. If information is power, it was like having power at the palm of your hands. The cloud was practical, no more hardware to maintain, and proven to be useful time and again.

And the last was of course AI. I said this before and I'll say it again. For the longest time, the word google was a verb. But it immediately became a thing of the past the moment I tried AI. It was like having someone to read and summarize the answer you need. And it could even do more than that. The possibilities are endless. From here onwards, life as we know it won't be the same anymore.

For the first 18 years of my life in Pontianak, I went through an era before the internet. Yes, to a certain extent, life in a small town could do without some of the things I mentioned above. One could even say, in a rather ignorant manner, that life was less complicated without all this. 

But the technology I described above is not only a game-changer, but also inevitable. You are either left behind, living in a borrowed time, or you actually embrace it. The game changer is here to stay and, for the fact that it can be integrated seamlessly, I don't think it should be feared. If anything, it should be learnt, so that our life quality can be improved. 

The five that I mentioned above.



Terobosan

Hidup ini lucu. Terkadang justru hal remeh yang terbersit di benak yang mengingatkan anda kembali, betapa hidup ini sudah jauh berubah. Cerita kali ini bermula di suatu pagi, saat saya berjalan ke halte bis dan sibuk menggulirkan bacaan di Facebook. Lantas saya melihat sesuatu yang membuat saya penasaran, kenapa Akira Toriyama menciptakan Vegeta, sang Pangeran Saiyan dari Dragon Ball Z, sebagai karakter yang pendek secara fisik. Berbekal pertanyaan tersebut, saya lantas cari tahu di Perplexity, AI andalan saya. 

Saya dapat jawabannya, tapi apa yang saya lakukan itu lalu membuat saya berpikir. Betaap mudahnya mencari jawaban di masa kini. AI memang sebuah terobosan handal. Bila saya lihat kembali, sejak saya mengenal internet di tahun 1998, saya sudah menyaksikan dan mengalami langsung beberapa terobosan yang mengubah hidup kita. 

Saya ingat saat pertama kali saya menemukan Amazon. Di tahun 1999, saya percaya bahwa inilah masa depan cara berbelanja. Saya sangat terperangah dengan lengkapnya koleksi buku dan CD musik di Amazon, sampai-sampai saya tergerak untuk memohon kartu kredit. Akan tetapi semuanya tidak selancar yang saya bayangkan. Bertahun-tahun kemudian, berbelanja di internet sudah lumrah. Demikian pula halnya dengan pembayaran nirsentuh dan kode QR. Memang terbukti.

Hal lain yang senantiasa berubah adalah aplikasi chat. Dari sekedar alat untuk berkencan di malam Minggu, fungsinya berubah drastis dengan kemunculan BBM yang revolusioner. Hari ini WhatsApp adalah aplikasi utama saya dalam menghubungi dan menelepon. Kini saya tak lagi perlu membeli kartu telepon internasional. Saya bisa menelepon ibu saya setiap saat.  

Kemudian ada pula aplikasi untuk jasa antar mobil. Saya selalu merasa bahwa ini adalah sesuatu yang tanpa sadar selalu dibutuhkan. Ide ini begitu jenius dan mengubah pola hidup secara senyap. Dan hidup pun menjadi lebih baik dan praktis. Sekarang Grab, Uber dan beberapa aplikasi lainnya senantiasa tersedia di Google Pixel saya. Kini tak ada lagi penantian tanpa kepastian. Yang ada cuma mendapatkan tumpangan atau tidak. 

Selanjutnya, yang akan saya sampaikan berikut ini mungkin tidak begitu signifikan bagi sebagian pembaca, tapi saya suka dengan data pribadi yang selalu terjangkau oleh saya. Sebelumnya, saya adalah penggemar Time Capsule dari Apple. Saya heran ketika Apple menghentikan produk ini. Ketika saya pindahkan data ke cloud, barulah saya mengerti kenapa. Jika informasi adalah kekuatan, analoginya adalah seperti menggenggam kekuatan dalam telapak tangan. Cloud begitu praktis, tak lagi perlu bagi saya untuk memperbaharui perangkat, dan sudah terbukti berguna pula di aneka kesempatan. 

Dan yang terakhir tentu saja adalah AI. Saya sudah pernah mengatakan ini, dan saya akan ulang lagi. Selama bertahun-tahun, kata “google” sudah menjadi sebuah kata kerja. Namun, semua itu langsung terasa usang setelah saya mencoba AI. Rasanya seperti memiliki seseorang yang membaca dan merangkumkan jawaban yang kita butuhkan. Bahkan, AI bisa melakukan lebih dari itu. Kemungkinannya tak terbatas. Mulai sekarang, hidup kita tidak akan pernah sama lagi.

Selama 18 tahun pertama hidup saya di Pontianak, saya melewati masa sebelum adanya internet. Ya, sampai batas tertentu, kehidupan di kota kecil bisa berjalan tanpa beberapa hal yang saya sebutkan di atas. Bahkan, seseorang bisa saja berkata dengan naif bahwa hidup terasa lebih sederhana tanpa semua ini.

Namun teknologi yang saya jelaskan di atas bukan hanya mengubah hidup kita, tetapi juga tidak dapat dihindari. Kita hanya punya pilihan-pilihan berikut ini: ketinggalan zaman, tetap pasif menanti semua itu terjadi, atau menerima perubahan ini sepenuhnya. Perubahan besar ini akan terus ada, dan karena dapat diintegrasikan dengan begitu mulus, saya rasa tidak ada alasan untuk takut. Justru sebaliknya, teknologi ini sebaiknya diterima dan dipelajari agar kualitas hidup kita menjadi lebih baik lagi.

Sunday, September 14, 2025

Day Trip To JB With Bernard

Bernard is easily one of my closest friends, but as I sat down with him in JB and looked back, I realized that I rarely traveled with him. Granted, we did Jakarta and Batam, but Laos was our farthest trip so far. When it comes to Malaysia, we visited Kuching in 2012. 13 years later, there we were in JB for the first time ever. 

One week before the trip, he checked with me to see if I could accompany him to JB for furniture shopping. I checked with my wife if she had anything planned for family and, since she had none, I said okay. It was also a good opportunity to test out the MVNO data plan I just subscribed to. Lastly, since Loca Pay in Laos and Dana in Indonesia, I also downloaded TnG eWallet for this trip.

Off we went on a rainy Saturday. Once we passed through the autogate in Malaysia, it was time to test the MVNO SIM cards. Eight worked like a charm, but Circles.Life failed. Upon checking with the support team, turned out that my data plan of Circles.Life didn't cover the roaming services, haha. 

First stop, lunch. Bernard wanted to eat Soon Huat Bak Kut Teh in Taman Sentosa. Apparently he was a regular here and I'd learn that we basically followed his usual itinerary. The queue for Soon Huat seemed long, but it was quite fast. The food wasn't that fantastic, I am afraid. Even Bernard said that the quality had dropped, though I'm not sure if he was influenced by the clear pork soup remark that I showed him when I checked in using Swarm

At the first shop.

Next stop was the furniture shops. The first one was in Taman Johor Jaya, close to Tebrau. The second shop where we got the recliner sofa, was in Skudai. The testing, at least for me, was quite amusing. The more you got the potato couch feeling, the more you could be sure that it was the one you'd want to buy. Bernard was more systematic. He checked the neck and back support in both sitting and reclining positions. To put it simply, he was more meticulous. 

At the second shop, Art Home Furniture.

Now that we got the sofa, we headed to Hard Rock Cafe Puteri Harbour to see if there was anything new. From there we headed back to Taman Sentosa again, this time we ate at Taman Sri Tebrau Hawkers Centre. It was an old fashioned eatery. Bernard joked that even the signboards were probably older than us. We had crayfish there, which reminded me of the seafood restaurant in Tanjung Balai.

Visiting Hard Rock.

The last thing we did right after dinner was foot massage at Fizzio that is located across the street. Painful at times, but that, perhaps, what the feet and legs needed. After an hour, I finally got a chance to test TnG eWallet. I love cashless payment! Then we made our way back to the border and returned to Singapore...



Sehari Di JB Bersama Bernard

Bernard adalah salah satu teman terdekat saya, tapi sewaktu saya lihat kembali, ternyata kita jarang berlibur bersama. Ya, tentu saja kita bepergian ke Jakarta dan Batam, tapi Laos adalah tempat terjauh yang pernah kita kunjungi bersama. Akan halnya Malaysia, kita ke Kuching tahun 2012. 13 tahun kemudian, kita mengunjungi Johor Bahru untuk pertama kalinya. 

Satu minggu sebelum tanggal keberangkatan, Bernard bertanya apakah saya bisa menemaninya ke JB untuk berbelanja furnitur. Saya konfirmasi dengan istri, siapa tahu dia sudah merencanakan sesuatu untuk keluarga. Berhubung tidak ada acara, saya pun mengiyakan Bernard. Ini juga kesempatan yang bagus untuk menguji data MVNO yang saya beli baru-baru ini. Dan sejak Loca Pay di Laos serta Dana di Indonesia, saya juga mengunduh TnG eWallet untuk liburan singkat ini. 

Lantas berangkatlah kita di Sabtu pagi yang rintik-rintik. Saatnya mengetes MVNO begitu kita melewati pintu imigrasi otomatis di Johor Bahru. Eight berfungsi dengan baik, namun Circles.Life tidak bisa dipakai di Malaysia. Setelah saya tanyakan ke bagian pelayanan pelanggan, ternyata paket data Circles.Life tidak mencakup koneksi internet di luar Singapura, haha. 

Bak Kut Teh.

Pemberhentian pertama, makan siang. Bernard ingin menyantap Soon Huat Bak Kut Teh di Taman Sentosa. Ternyata dia sering makan di sana dan saya lekas menyadari bahwa hari ini kita akan mengikuti rute regulernya. Antrian di Soon Huat cukup panjang, tapi cepat pula pergerakannya. Rasa masakannya biasa saja. Bahkan Bernard mengakui bahwa kualitasnya sudah turun, walau saya tidak tahu apakah pendapatnya itu dipengaruhi oleh komentar tentang sup babi jernih yang saya tunjukkan padanya saat saya menggunakan Swarm

At the first shop.

Sesudah makan, tujuan berikutnya adalah dua toko furnitur. Yang pertama terletak di Taman Johor Jaya, tak jauh dari Tebrau. Yang kedua, tempat kita membeli sofa malas, berada di Skudai. Cara kita menguji kenyamanannya cukup menarik. Bagi saya, semakin malas rasanya saya beranjak dari sofa, berarti makin nyaman. Bernard lebih sistematis. Dia memeriksa penyangga leher dan punggung dengan lebih seksama, baik dari saat duduk tegak sampai posisi berbaring santai. 

At the second shop, Art Home Furniture.

Setelah mendapatkan sofa, kita singgah sejenak di Hard Rock Cafe Puteri Harbour untuk melihat koleksi terbaru. Dari situ kita kembali ke Taman Sentosa lagi, kali ini untuk makan malam di  Taman Sri Tebrau Hawkers Centre. Ini tempat makan tradisional dan Bernard bercanda bahwa papan nama penjualnya mungkin lebih tua dari kita. Kita memesan udang karang di sini, menu yang mengingatkan saya saat makan di restoran di Tanjung Balai

Visiting Hard Rock.

Hal terakhir yang kita lakukan adalah pijat kaki di Fizzio di seberang jalan. Sakit juga pijatannya, tapi mungkin itu yang dibutuhkan tapak dan tungkai kaki setelah berjalan seharian. Satu jam pun berlalu dan akhirnya saya bisa mencoba TnG eWallet. Saya suka pembayaran non-tunai! Setelah itu, kita melaju ke perbatasan dan kembali ke Singapura... 

Sunday, July 6, 2025

The Doomscrolling

And we thought binge-watching on Netflix was bad! Like many others, I've also got my own addictions to battle. For example, I am still hooked by crackberry, even long after BBM ended (it was simply replaced by WhatsApp). It was a struggle to sit down and really make a conversation with a person in front of you, just like what I did with my wife when we had a dinner. Oh yes, dinner and drink were probably the few times I could totally put my phone down on the table. 

The Crackberry addiction...

Now, on top of the ongoing crackberry addiction, I began realizing a new pattern that I developed lately. Yes, scrolling down the newsfeed on Facebook was already part of my lifestyle for as long as I could remember. However, I couldn't help noticing that recently, I spent a lot of times watching those short videos on Facebook.

I just had to click one, let's say a snippet of Two and a Half Men, then from that point onwards, anything else that caught my attention would continue to appear. It could be a few minutes of stand-up comedy, then scenes of crocodiles in action (yeah, I am somehow fascinated by how unpredictable crocodiles are), a quick laugh with Everybody Loves Raymond, etc. And I'd keep scrolling down until I reached office. 

The reels on Facebook.

The biggest difference between the two behaviours described above is this: I could still stop scrolling down the newsfeed on Facebook. But those videos, it was as if there was this voice whispering to me, may be one more? By the time I reached Downtown Station, what felt like a harmless suggestion had turned out to be more than one video for sure. 

I remember reading a specific term about this before. When I cross-checked this on Perplexity AI, there were many names for the syndrome: infinite scroll, zombie scrolling and doomscrolling. They all basically meant the same thing: the unconscious act of scrolling through social media or other content, typically without a clear goal or endpoint.

Kinda spooky, though. I'm not a TikTok user, but I reckon it could be worse for them. Time for digital detox, perhaps? Maybe it's time to try out the Minimal Phone? Or probably I should wait a bit for the BlackBerry Classic revival in the form of Zinwa Q25? We shall see!

The Minimal Phone.



Kecanduan Digital

Dan kita dulu menyangka bahwa yang namanya binge-watching di Netflix itu tidak baik! Tak berbeda dengan orang lain, saya pun memiliki masalah kecanduan yang perlu saya atasi. Sebagai contoh, sampai hari ini saya masih terbelenggu crackberry, lama setelah BBM tamat (dan kini tergantikan dengan WhatsApp). Perlu perjuangan untuk bisa duduk dan benar-benar berbincang dengan lawan bicara, seperti halnya yang saya lakukan dengan istri saat kita makan malam di luar. Oh ya, acara makan dan minum adalah sekali-kalinya saya bisa mengabaikan telepon saya di meja. 

Kecanduan Crackberry...

Selain masalah ketergantungan crackberry, saya menyadari bahwa ada pola baru yang mulai saya jalani tanpa sadar. Membaca berita di Facebook adalah bagian dari hidup sejak penghujung dekade pertama di abad 21. Akan tetapi menghabiskan waktu menonton video singkat di Facebook adalah perihal baru yang tidak biasa. 

Saya cukup menekan satu, misalnya cuplikan Two and a Half Men, lalu apa saja yang menarik perhatian saya akan terus bermunculan, mulai dari beberapa menit komedi, lalu video tentang buaya (ya, entah kenapa saya selalu tertarik dengan tindak-tanduk buaya yang tidak bisa diprediksi), tawa singkat bersama Everybody Loves Raymond dan lain-lain. Saya akan terus membuka video berikutnya sampai saya tiba di kantor. 

Reels di Facebook.

Perbedaan paling mendasar dari dua prilaku ini adalah kontrol diri. Untuk berita Facebook, saya masih bisa berhenti. Tapi untuk video-video singkat ini, sepertinya ada suara yang berbisik, tak apa-apa, satu video lagi saja. Dan di saat saya tiba di Stasiun Downtown, saran bawah sadar itu membuat saya menghabiskan waktu melihat entah berapa banyak video selama perjalanan ke kantor. 

Saya ingat bahwa saya pernah membaca tentang hal ini sebelumnya. Ketika saya cari lagi menggunakan Perplexity AI, sindrom ini muncul dalam berbagai nama: gulir tanpa akhir, gulir zombi dan gulir hingga kiamat. Semua ini memiliki definisi yang kurang-lebih sama: perbuatan menggulir ke bawah tanpa sadar untuk melihat konten media sosial yang tidak jelas tujuannya dan tidak memiliki akhir. 

Agak seram juga nama dan penjabarannya. Saya bukan pengguna Tiktok, tapi saya jadi membayangkan, mungkin lebih parah lagi bagi mereka. Apa sudah waktunya untuk detoksifikasi digital? Ganti ke Minimal Phone? Atau mungkin tunggu sampai bulan depan untuk menantikan kembalinya BlackBerry Classic dalam bentuk Zinwa Q25? Hmm, mari kita lihat bersama-sama...

Minimal Phone.

Saturday, July 5, 2025

All The Money In The World

It was another Tuesday morning. Just like most of the people from my generation these days, I scrolled the newsfeed on my Facebook immediately I woke up. Soon I found myself staring at all the flags shown under the caption saying countries with lowest inflation rate. Bahrain captured my attention and I did some research on my Perplexity AI. For the Middle East standard, apparently Bahrain wasn't an expensive country. 

What I did just now reminded me of Australia and other countries I visited before. For a country with a currency weaker than SGD, Australia certainly was more expensive. On average, the meal was two times of what I would have paid in Singapore! So, no, Australia, didn't feel affordable. Perth was a nice place, though. And very generous with french fries.

Similar experience was felt in Hong Kong. I definitely felt the pinch the moment I traveled out from Shenzhen. Hong Kong was cramped and expensive. A tiny, costly hotel room as opposed to a much cheaper and spacious unit with living room that I had while I was in Shenzhen. China was generally okay, but Hong Kong was an exception!

India, on the other hand, was very cost friendly for SGD holders. The price of the Uber ride was so cheap that I couldn't help pressing the confirm button. It was the same feeling in Malaysia, especially Ipoh. The price was so unbelievably attractive that I wished I could have ordered ten Grab ride at one go.

Taiwan was also budget friendly. The most memorable moment I had was when I went through the Din Tai Fung bill. It was just about SGD 50. You certainly can't get this price for a family of four if you eat at any Din Tai Fung in Singapore!

Europe was a different ball game, though. The currencies, be it GBP, EUR or CHF, are stronger than SGD. Everything in UK and Western Europe also felt more expensive than Singapore. The time in Europe was one of the few times I felt inferior earning SGD. One consolation I had was the gelato. It was somehow much cheaper in Salzburg!

Brunei is unique because the currency is pegged to SGD at a fixed 1:1 exchange rate. I had this thought that it must be as developed as Singapore, too. Imagine my surprise when I visited the country. It was nowhere close to Singapore and somewhat comparable to Malaysia. I might be biased, but I couldn't shake of the feeling that things should have been cheaper in Brunei. 

Having said that, the rest of Southeast Asia, from Myanmar to Indonesia, was a good place for me to travel. It was so affordable. Good and cheap! Cambodia was probably the only other exception, as KHR had a fixed exchange rate and the country also used USD as a legal tender. When we entered Cambodia from Vietnam, some of us actually paid USD 1 just to use the toilet.

Overall, it's still pretty cool to earn SGD and spend it on another currencies. It was fun to feel like a king. Even when things were much more expensive for us, at least SGD was strong enough to cushion it, haha. That probably explained why traveling was an option, not a luxury...






Uang dan Nilai Tukar 

Di hari Selasa pagi, seperti kebanyakan orang di generasi saya, saya melihat-lihat Facebook begitu saya bangun. Ada satu gambar dengan banyak bendera yang memiliki tajuk negara-negara dengan tingkat inflasi terendah. Bendera Bahrain menarik perhatian saya. Riset pun segera dilakukan dengan Perplexity AI. Untuk ukuran Timur Tengah, ternyata Bahrain tidak tergolong mahal untuk dikunjungi. 

Apa yang baru saja saya lakukan ini mengingatkan saya pada Australia dan beberapa negara lain yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Untuk negara dengan mata uang lebih lemah dari SGD, Australia tidaklah murah. Secara rata-rata, harga sekali makan bisa dikatakan dua kali lipat dari harga di Singapura. Tapi Perth enak suasananya. Dan tempat makan di sana sangat murah hati dengan kuantitas kentang gorengnya. 

Pengalaman serupa terasa di Hong Kong. Perbedaan drastis ini dialami saat saya keluar dari Shenzhen. Hong Kong terasa padat dan mahal. Kamar hotelnya kecil, berbeda dengan kamar yang luas plus ruang tamu yang saya tempati di Shenzen. Rata-rata kota di Cina masih wajar harganya, tapi Hong Kong adalah pengecualian! 

Di sisi lain, India sangat terjangkau bagi pemegang SGD. Harga Uber di sana sungguh terasa murah, sampai-sampai saya menekan konfirmasi tanpa keraguan. Sama halnya pula dengan Malaysia, terutama di Ipoh. Harganya selalu membuat saya tertawa dan berharap seandainya saja saya bisa langsung pesan 10 mobil sekaligus. 

Taiwan juga ramah bagi yang ingin berhemat. Yang paling mengesankan adalah restoran Din Tai Fung. Hanya kisaran SGD 50 untuk makan siang. Harga segini sungguh mustahil bagi satu keluarga dengan dua anak yang bersantap di Din Tai Fung Singapura!

Kalau Eropa beda lagi ceritanya. Mata uangnya, mulai dari GBP, EUR atau CHF, lebih perkasa dari SGD. Segala sesuatu di Inggris dan Eropa Barat terasa lebih mahal dari Singapura. Satu hal yang sering terasa di Eropa adalah lemahnya SGD. Satu-satunya penghiburan yang saya temukan adalah gelato. Di Salzburg, harganya dua kali lebih dari Singapura. 

Brunei tergolong unik karena mata uangnya yang dipatok 1:1 dengan SGD. Saya jadi membayangkan bahwa negaranya pastilah semaju Singapura juga. Bayangkan betapa kagetnya saya pas tiba di sana. Negara ini lebih mirip Malaysia daripada Singapura. Saya mungkin bias, tapi berdasarkan apa yang saya lihat, saya jadi merasa seharusnya harga barang-barang di Brunei lebih murah.

Negara-negara lain di Asia Tenggara, mulai dari  Myanmar sampai Indonesia, sangat ramah bagi kantong saya. Murah dan terjangkau! Kamboja mungkin satu-satunya pengecualian karena KHR memiliki kurs tetap dan juga menggunakan USD dalam jual-beli. Ketika kita memasuki Kamboja dari Vietnam, beberapa di antara kita membayar mahal USD 1 hanya untuk kencing. 

Secara umum, pendapatan SGD dan pengeluaran menggunakan mata uang lain memang masih ok. Sedap rasanya saat menjadi seperti raja. Bahkan ketika segala sesuatu terasa lebih mahal, ketangguhan SGD sangat membantu dalam membendung kemahalan yang terasa. Mungkin ini alasannya kenapa berjalan-jalan adalah pilihan, bukan kemewahan... 

Sunday, May 25, 2025

The Point Of View

Before we get into the story, allow me to open with this unrelated topic: I had been writing for so long that, throughout the years, I wondered if I had repeated something I did before. This one was such a case. Turned out that I did a piece called the Perspective in 2018! But after checking it, I can assure you the one you'll be reading isn't the same thing.

Now, the story here started like many others. It was just another unassuming morning that began with good-natured banter in our group chat. It was pretty normal, until it wasn't and the interaction hit me with an idea. This time it had to do with Taty's comment about not recognizing the Tuas Link MRT Station that she had been before.

And just like that, it sparked an idea. A few years ago, I wrote about why people are different. This one here, it felt like the sequel. A story to be told. That's when the brain started drafting all this. I couldn't help it, really!

Anyway, in Taty's case, she was at the said MRT station once, but she couldn't remember it anymore. She saw it, but subconsciously decided that it wasn't important and therefore it was forgotten. In my case, I immediately thought of the platform at the train station in China as I alighted at Tuas Link. The resemblance was uncanny. It was memorable, hence I remembered it. 

My friend Taty and I couldn't be more different. Eday and I, however, were artistic in our own rights. To put it simply, we were somewhat similar in the way we were wired. Due to this, we could see the same thing and appreciate it at the same time and pace. Case in point, the time when Hendra chose vanilla ice cream in Sentosa. We couldn't help laughing in unison while Surianto failed to notice the joke. 

While the statistics might be lacking here, it was interesting to note that the habits you had and the things you did regularly, they seemed to shape how you saw something and prioritized it differently. In my case, I had long decided that I wanted to live my life to the fullest. That probably explained why my brain stored memories in the most accessible part of it...

From left: Eday, Surianto, Hendra and Taty.



Tentang Sudut Pandang

Sebelum kita masuk ke cerita kali ini, saya ingin membuka tulisan ini dengan topik yang tidak berhubungan: saya sudah menulis blog ini delapan tahun lamanya, sampai-sampai kadang saya membayangkan apakah saya sudah mengulang apa yang saya tulis sebelumnya. Tulisan kali ini terasa seperti itu. Setelah saya cek, ternyata ada tulisan dengan judul serupa di tahun 2018! Tapi isinya berbeda, jadi saya bisa meyakinkan anda bahwa yang berikut ini bukanlah sesuatu yang pernah anda baca. 

Cerita kali ini bermula sama seperti kebanyakan cerita lainnya. Pagi yang normal, yang dibuka dengan obrolan ringan di grup SMA, sampai interaksi yang terjadi tiba-tiba membuahkan ide. Kali ini inspirasi dicetuskan oleh komentar Taty tentang Stasiun MRT yang pernah ia kunjungi, namun tak lagi dikenalinya. 

Dan hanya sesederhana itu, ide pun terpantik. Beberapa tahun silam, saya menulis tentang kenapa setiap orang itu berbeda. Yang satu ini terasa seperti lanjutannya. Cerita yang perlu dituangkan. Lalu kerangka cerita pun terbentuk. Semua itu spontan terjadi begitu saja di benak saya. 

Kembali ke komentar Taty, dia pernah turun di Stasiun MRT tersebut, tapi dia tidak mengenali foto yang saya tunjukkan. Mungkin karena kesannya hanya sepintas lalu. Dia mampir, tapi alam bawah sadarnya memutuskan bahwa itu tidak penting dan akhirnya terlupakan. Bagi saya yang juga pernah turun sekali di Tuas Link, saya langsung teringat dengan stasiun kereta di Cina begitu melihat disain stasiun tersebut. Begitu mengesankan, sehingga saya ingat selalu. 

Teman saya Taty berbeda karakternya dengan saya. Akan halnya saya dan Eday, kita sama-sama memiliki naluri seni, meski berbeda penerapannya. Dengan kata lain, ada kemiripan dalam karakter kita. Karena itu, kita bisa melihat dan mengapresiasi sesuatu secara spontan pada saat bersamaan. Contoh yang saya ingat adalah ketika Hendra memilih es krim vanila di Sentosa. Kita langsung tertawa geli sementara Surianto tidak menyadari apa yang lucu. 

Walau statistiknya mungkin tidak memadai, menarik untuk dicatat bahwa kebiasaan dan hobi yang sering kita lakukan sepertinya membentuk pola kita dalam melihat dan memprioritaskan sesuatu. Bagi saya sendiri, saya sudah sejak lama mempraktekkan hidup sepenuhnya selagi bisa. Mungkin ini alasannya kenapa otak saya menyimpan kenangan di bagian yang paling mudah diakses... 

Sunday, February 23, 2025

Ocipala

When I had a chat with my friend Eday last Saturday morning, he said something interesting: I am quick in response when it comes to ocipala stuff. I was tickled by that term he used. Not only because that was a right description from someone who knows his friend well, but the term he used was also hilariously funny. 

Out of curiosity, I checked it out using AI. Neither Perplexity, Deepseek, ChatGPT, Gemini nor Meta AI could really pinpoint the answer when I asked the following question: in Chinese dialects, either Hakka or Teochew, there is a word that sounds like ocipala and it can roughly be translated as nonsense. what is the actual word in Mandarin?

One thing that they got it right was the fact that it wasn't a word, but an idiom. We used it so often in Pontianak that all this while, I thought it was only one word. Then I investigated further by adding a parameter: the idiom that sounded like ocipala was only used by Hakka and Teochew people from Pontianak.

That's when the AI unanimously agreed that it could be the corrupted version of 胡说八道 that is spoken in Teochew by the Chinese in Pontianak:

胡说 (hú shuō) → could shift to something like "ocip".

八道 (bā dào) → could transform into "ala" or "bala".

Our Teochew is indeed so diluted and heavily influenced by local cultures like Malay that the way we pronounce certain words could have been localized after so many generations!

But back to the ocipala comment, what's that all about? Well, let me emphasize again, I'm not a very bright guy to begin with. On top of that, if I didn't love it, I would almost have zero interest in it. As a result, I'm not exactly known as a think tank or one you would come for financial advices.

Jimmy and friends, posing in front of the flower board or what's left of it.

However, I like small things that matter. I love creating memories because that's the only thing we left behind. And I revel in things that are both creative and nonsensical. Whenever it's possible, I enjoy making them happen. Case in point, the Japan trip. Or maybe something that is more down to earth, such as the flower boards for Jimmy, haha.

So you see, I don't know much about making money apart from the work I do. But then again, while a lot of things need money, not everything in life is about money. That's the part of life I enjoy the most, one that I apparently am quite good at it, hence the sentence made by Eday: quick in ocipala stuff!



Ocipala

Ketika saya berbincang lewat WhatsApp Sabtu lalu dengan teman saya Eday, dia mengatakan sesuatu yang menarik: respon saya sangat sigap kalau berkaitan dengan sesuatu yang ocipala. Saya tergelitik dengan pernyataannya. Bukan saja karena ini adalah deskripsi yang tepat dari seseorang yang mengenal baik temannya, tapi juga karena istilah konyol yang ia pakai. 

Karena penasaran dengan asal-usul ocipala, saya lantas cari tahu lebih lanjut menggunakan AI. Namun Perplexity, Deepseek, ChatGPT, Gemini dan Meta AI pun tak tahu pasti ketika saya melontarkan pertanyaan ini: dalam dialek Tionghoa, entah itu Khek or Tiociu, ada kata yang bunyinya terdengar seperti ocipala dan bisa diterjemahkan sebagai konyol atau omong kosong. Apa kata aslinya dalam Mandarin?

Satu hal yang AI bisa jawab adalah, sepertinya ini bukan satu kata, tapi idiom. Begitu seringnya istilah ini dipakai di Pontianak dari sejak saya masih kecil, sampai-sampai saya memiliki kesan bahwa ocipala itu adalah satu kata. Berdasarkan ide dari AI, saya tambahkan kriteria berikut ini: jadi idiom apa yang dipakai oleh orang Khek dan Tiociu Pontianak dan terdengar seperti ocipala

Semua AI sepakat bahwa ocipala ini adalah versi korup dari 胡说八道 yang dilafalkan dalam Tiociu oleh orang Tionghoa Pontianak:

胡说 (hú shuō) → berubah menjadi sesuatu yang terdengar seperti "ocip".

八道 (bā dào) → diucapkan seperti "ala" atau "bala".

Kalau dipikirkan lagi, Bahasa Tiociu kita ini memang sudah berevolusi menjauhi versi aslinya dan juga dipengaruhi oleh budaya lokal seperti Bahasa Melayu, sehingga pengucapannya pun berubah setelah melewati banyak generasi. 

Kembali ke komentar ocipala, apa sebenarnya yang signifikan? Hmm, saya ini bukan orang pintar. Selain itu, jikalau saya tidak menyukai sesuatu, saya biasanya tidak berminat untuk tahu. Alhasil, saya bukanlah tipe pemikir atau orang yang anda cari untuk nasehat finansial. 

Jimmy dan teman-teman berpose di papan bekas papan bunga.

Akan tetapi saya suka hal-hal kecil yang penting. Saya suka kenangan dan kebersamaan karena itulah satu-satunya hal yang kita tinggalkan. Dan saya menikmati hal-hal yang kreatif dan konyol. Bilamana memungkinkan, saya suka mewujudkannya. Contohnya trip ke Jepang. Atau mungkin sesuatu yang lebih sederhana, misalnya papan bunga untuk Jimmy yang ngambek, haha. 

Jadi saya tidak tahu banyak tentang cara menghasilkan uang, kecuali dari pekerjaan yang saya kerjakan di kantor. Namun meski banyak hal yang membutuhkan uang, tidak semua hal dalam hidup ini adalah tentang uang. Ini adalah bagian hidup yang saya sukai dan saya ternyata cukup berprestasi dalam bidang ini, seperti yang terlihat dari kalimat dari Eday: gesit dalam aneka hal ocipala