Total Pageviews

Translate

Showing posts with label General. Show all posts
Showing posts with label General. Show all posts

Sunday, April 5, 2026

Refining What We Love Doing

I had been listening back to my own ideas through NotebookLM lately, and the way they were paraphrased sometimes gave me a new perspective. The recent one was actually an audio overview based on a blog post called At the Zoo. Supposed to be an easy listening, but turned out to be enlightening. I suddenly realized how I had always been refining what I did. 

The story was about visits to see the animals. From childhood zoo trips with Mum, it gradually evolved into specific missions, like visiting Tama Zoo to see African elephants because I couldn't see them elsewhere. Then came this dream of seeing whales, and one day, going on a safari to the Masai Mara.

The same thought led then me to another blog post called Into the Unknown. Looking at it now with a fresh pair of eyes, I could come to such a conclusion in my writing because I kept revisiting and fine-tuning the idea. I see now why the rest were quick to dismiss the best part of traveling together: that's because they barely scratched the surface. They lacked such experience, while I had been doing it many times since 1997. I went through many iterations and saw the differences. 

I reckon the key here is the gradual process. To me, it started small but grew consistently. For many years, it was always about going to Jakarta only, by all means possible. Then the horizon broadened to other parts of Indonesia, Singapore, Southeast Asia, Asia, Europe, and Australia. Tomorrow, the world! And throughout all this, I did it all with all sorts of travel buddies.

The point is, every time I travel, I gain more perspective. One that got me thinking about what was good, what could perhaps be refined. In a bigger picture, or in life for that matter, it's really about that. Not the things you do perfectly in your daily routine, but that little something that brings you a little bit further than before.

The latest of many iterations.



Menyempurnakan Apa yang Kita Sukai

Akhir-akhir ini saya mendengarkan kembali ide-ide saya sendiri melalui NotebookLM, dan cara tulisan saya itu diparafrasekan kadang memberi saya sudut pandang baru. Yang terbaru adalah sebuah ringkasan audio berdasarkan tulisan blog berjudul At the Zoo. Awalnya saya menyangka bahwa topik ini adalah sesuatu yang ringan untuk didengarkan, tetapi ternyata cukup membuka wawasan. Saya tiba-tiba menyadari bagaimana saya selama ini selalu menyempurnakan apa yang saya lakukan.

Ceritanya tentang kunjungan untuk melihat margasatwa. Dari perjalanan ke kebun binatang bersama ibu di masa kecil, hal itu perlahan berkembang menjadi misi-misi tertentu, seperti mengunjungi Tama Zoo untuk melihat gajah Afrika karena saya tidak bisa melihatnya di tempat lain. Lalu muncul impian untuk melihat paus, dan pergi safari ke Masai Mara suatu hari nanti.

Pemikiran yang sama kemudian membawa saya ke tulisan blog lain berjudul Into the Unknown. Ketika saya melihatnya sekarang dengan sudut pandang yang baru, saya bisa sampai pada kesimpulan seperti itu dalam tulisan saya karena saya terus meninjau ulang dan menyempurnakan ide tersebut. Sekarang saya mengerti mengapa yang lain begitu cepat mengabaikan bagian terbaik dari bepergian bersama: itu karena mereka hanya menyentuh permukaannya saja. Mereka tidak memiliki pengalaman seperti itu, sementara saya telah melakukannya berkali-kali sejak 1997. Saya telah melalui banyak iterasi dan melihat perbedaannya.

Menurut saya, kuncinya adalah proses yang bertahap. Semuanya dimulai dari hal kecil tetapi berkembang secara konsisten. Selama bertahun-tahun, destinasi saya selalu hanya pergi ke Jakarta, dengan cara apa pun. Lalu cakupannya meluas ke bagian lain Indonesia, Singapura, Asia Tenggara, Asia, Eropa, hingga Australia. Besok, mungkin seluruh dunia! Dan sepanjang perjalanan itu, saya melakukannya dengan berbagai macam teman perjalanan.

Intinya, setiap kali saya bepergian, saya mendapatkan perspektif baru. Perspektif yang membuat saya berpikir tentang apa yang sudah baik dan apa yang masih bisa disempurnakan. Dalam gambaran yang lebih besar—atau dalam hidup secara umum—sebenarnya itulah intinya. Yang terpenting itu bukanlah hal-hal yang Anda lakukan dengan sempurna dalam rutinitas sehari-hari, melainkan hal kecil yang membuat anda berkembang dan membawa Anda sedikit lebih jauh dari sebelumnya.

Sunday, March 29, 2026

The Hard Rock Reason

Some stories really could have a mundane, ordinary beginning. Take this one for example. As I was heading to the nearby mall to buy toothpaste, I couldn't help thinking that this year had slowed down a lot for me. I mean, for the past three years since COVID-19, I traveled almost every month and visited about 20 destinations per year. Not this year, though. I still have 75 days before my next trip to the US.

Then I looked back at the past memories of places I had been. I had visited certain places for the second time recently, despite the epiphany I had in Nagasaki. Manila was a transit destination when we made our way to Japan, so I had to be there anyway. But I had returned to the unlikeliest destinations such as Vientiane and Phnom Penh. As I reached the mall, I thought of Vietnam. I never went back to the country, though. Why?

in Manila, Vientiane and Phnom Penh. 

My mind searched for an answer. It didn't take long, as the reason turned out to be quite simple: there was no Hard Rock Cafe in Vietnam, at least since the one in Ho Chi Minh City closed down in 2021. And it was the same reason that got me back to the cities I never thought I'd be visiting again. I got this self-made rule that I'd only wear the t-shirts from cities I had been. This eventually paved the way for return visits.

And it had been great thus far. The visit to Bali was especially memorable. It brought me back to the time I was there with Endrico, Jimmy, and Ardian in 2005, long before I was a Hard Rock fan. That verse from the Beatles' song called The End was no longer there, but it lived on, from here to eternity. 

Bali, 2005.

The return to Manila was also quite an experience. It felt like a lifetime ago, when I was a young man visiting Manila for the first time to meet the girl I was in love with. 15 years later, I walked the same path in Intramuros, but this time with a different group and a different perspective. Funny how the distant memories collided with present days, as if they tried really hard not to be forgotten or replaced.

The same goes for Yokohama. In 2015, a year before I bought the first Hard Rock t-shirt for myself in Paris, I was there with my dad and bought one for my friend Parno. Never saw him wearing it, though, haha. The next time I was there again, my dad had passed away, and I was there with friends, spending the long-awaited holiday that was delayed by COVID-19. It was originally meant for celebrating our lives as we began our 40s in 2020.

Yokohama, 2023.

Then there was Vientiane, a city seemingly stuck in time. 15 years since my first and only visit, the city was still quieter than my hometown Pontianak, a tiny little town in West Kalimantan. Can you believe that? But Laos always had a special place in my heart and it was good to be back again after a long while. It's not everyday one could stay right across the street from Hard Rock Cafe and spend the night with drinks and food for only SGD 50, haha. 

The last one, as mentioned earlier, was Phnom Penh. It was a far cry from how I remembered it. I literally took a stroll down memory lane, walking the same path I was there 16 years earlier. It was nice to reminisce while embracing the vibe of the new and modern Phnom Penh. It gave me a chance to think about how life had changed. For the better, I guess.

The one and only time I was in Shenzhen, 2012.

It's amusing how the existence of Hard Rock became the reason that changed the course of my travels. But at the same time, I was grateful to return to those cities again, years after the original visit. Like my friend Jimmy said it pretty often, at least twice. It did give a different perspective. A fair comparison, if you like. So next stop for the Hard Rock reason? Shenzhen!





Demi Hard Rock 

Terkadang beberapa cerita memiliki awal yang biasa saja, sederhana, misalnya yang satu ini sebagai contoh. Pagi tadi, saat saya berjalan menuju mal terdekat untuk membeli pasta gigi, terpikir oleh saya bahwa tahun ini terasa berjalan jauh lebih lambat. Maksud saya, selama tiga tahun terakhir sejak COVID-19, saya hampir bepergian setiap bulan dan mengunjungi sekitar 20 destinasi setiap tahun. Tapi tidak tahun ini. Saya masih punya 75 hari sebelum perjalanan saya berikutnya ke Amerika.

Lantas saya melihat kembali kenangan masa lalu dari tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Belakangan ini saya mengunjungi beberapa tempat untuk kedua kalinya, sesuatu yang bertentangan dengan pencerahan yang saya alami di Nagasaki. Manila adalah destinasi transit saat kami menuju Jepang, jadi saya memang harus berada di sana. Namun saya juga kembali ke destinasi yang paling tidak terduga seperti Vientiane dan Phnom Penh. Saat saya sampai di mal, saya teringat Vietnam. Saya belum pernah kembali ke negara itu. Kenapa?

Di Manila, Vientiane and Phnom Penh. 

Pikiran saya mencari jawabannya. Tidak butuh waktu lama karena alasannya ternyata cukup sederhana: tidak ada Hard Rock Cafe di Vietnam, setidaknya sejak yang di Ho Chi Minh City tutup pada tahun 2021. Dan alasan yang sama pula yang membawa saya kembali ke kota-kota yang tidak pernah saya bayangkan akan saya kunjungi lagi. Saya punya aturan buatan sendiri bahwa saya hanya akan memakai kaus dari kota-kota yang pernah saya kunjungi. Hal ini akhirnya membuka jalan untuk kunjungan ulang.

Dan sejauh ini semuanya terasa menyenangkan. Kunjungan ke Bali sangat berkesan, terutama karena membawa saya kembali ke masa ketika saya berada di sana bersama Endrico, Jimmy, dan Ardian pada tahun 2005, jauh sebelum saya menjadi penggemar Hard Rock. Lirik dari lagu the Beatles berjudul The End itu tidak lagi terlihat di dinding kafe, tetapi lirik tersebut akan terus hidup selama-lamanya.

Bali, 2005.

Kunjungan kembali ke Manila juga merupakan pengalaman tersendiri. Rasanya seperti sudah berlalu seumur hidup, ketika saya masih seorang pemuda yang mengunjungi Manila untuk pertama kalinya demi bertemu dengan gadis yang saya cintai. Lima belas tahun kemudian, saya menyusuri jalan yang sama di Intramuros, tetapi kali ini dengan kelompok yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda. Lucu bagaimana kenangan lama bertabrakan dengan masa kini, seolah-olah berusaha keras untuk tidak dilupakan dan tergantikan.

Hal yang sama juga terjadi untuk Yokohama. Pada tahun 2015, setahun sebelum saya membeli kaus Hard Rock pertama saya di Paris, saya berada di sana bersama ayah saya dan membelikan satu untuk teman saya, Parno. Namun saya tidak pernah melihat dia memakainya, haha. Saat saya kembali lagi ke sana, ayah saya sudah meninggal, dan saya berada di sana bersama teman-teman, menikmati liburan yang sudah lama tertunda karena COVID-19. Awalnya, perjalanan itu direncanakan untuk merayakan hidup saya yang memasuki usia 40 pada tahun 2020.

Yokohama, 2023.

Lalu ada Vientiane, kota yang seolah-olah terjebak dalam waktu. Lima belas tahun setelah kunjungan pertama dan satu-satunya saya, kota itu masih lebih sepi dibandingkan kampung halaman saya Pontianak, sebuah kota kecil di Kalimantan Barat. Sulit untuk dipercaya. Namun Laos selalu punya tempat istimewa di hati saya, dan rasanya menyenangkan bisa kembali lagi setelah sekian lama. Tidak setiap hari seseorang bisa menginap tepat di seberang Hard Rock Cafe dan menghabiskan malam dengan makanan dan minuman hanya dengan SGD 50, haha.

Yang terakhir, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, adalah Phnom Penh. Kota itu sangat berbeda dari yang saya ingat. Saya berkesempatan untuk napak tilas di jalur yang sama seperti 16 tahun yang lalu. Rasanya menyenangkan untuk bernostalgia sambil menikmati suasana Phnom Penh yang baru dan modern. Sambil berjalan, saya mengingat dan merenungkan bagaimana hidup telah berubah. Ke arah yang lebih baik, saya rasa.

Pertama dan sekali-kalinya saya di Shenzhen, 2012.

Menarik bagaimana keberadaan Hard Rock justru menjadi alasan yang mengubah arah perjalanan saya. Pada saat bersamaan, saya bersyukur bisa kembali ke kota-kota tersebut, bertahun-tahun setelah kunjungan pertama. Seperti yang sering dikatakan teman saya Jimmy, setidaknya dua kali supaya kita mendapatkan perspektif yang berbeda dan  perbandingan yang lebih adil. Jadi tujuan berikutnya karena alasan Hard Rock? Shenzhen!

Monday, February 23, 2026

The Stand-up Comedy

If I took out all the travels I've done and went back to basics, I think I could simply be described as a guy who likes to laugh. I like to surround myself with funny people, and Stephen Chow was easily one of my earliest idols from the early '90s.

My introduction to stand-up comedy happened only quite recently, though. I shared that moment with my brother Herry, when we were in transit at KLIA in 2020. That night at Capsule by Container Hotel, we watched Ronny Chieng's Netflix special Asian Comedian Destroys America! It was hilarious, but it didn't really trigger anything yet.

Then came Seinfeld on Netflix in 2021. It was the best comedy series ever. In the series, Jerry was a mildly successful stand-up comedian. While my friend Parno always mentioned stand-up comedians, it was through the nine seasons of Seinfeld that it etched into my mind.

And the beauty of Singapore is, there's no shortage of live shows. I had my fair share of concerts here, and I fell in love with musicals since my initial years in Singapore. So when Ronny Chieng came on September 13, 2023, I immediately thought, "Wow, just nice. Let's go watch!"

But to be frank, it wasn't my first stand-up comedy show. Back in 2016, I watched Singapore's Kumar performing as part of Kings and Queen of Comedy Asia 7 at the Esplanade Theatre. I remember laughing, but that was pretty much it, and stand-up comedy faded into oblivion until years later.

And Ronny was the act that started it all. He was funny, abrasive, intense, and angry. His humor was international, probably due to the fact that he lives in America and is part of the Daily Show. But as someone who grew up in Singapore, he surely had some jokes that locals could appreciate. And hey, he surely wasn't shy to remind us that he was part of the Marvel Cinematic Universe, haha.

Months later, came Trevor Noah. It was right before my trip to Taiwan. Now, one couldn't be skipping Trevor when binge-watching Netflix specials. I watched all of them, and he was especially good with his globe-trotting stories and, while he was at it, doing the accents. And on June 4, 2024, Trevor Noah didn't disappoint. His performance, especially the last bit about India, was pure comedy.

Ten days later, right after my Taiwan trip, it was Jerry Seinfeld's first performance in Singapore and his only show in Asia. I did feel nervous because Jerry's Netflix specials weren't as good as Ronny and Trevor. After all, this was the guy I loved best when he was doing sitcoms.

But boy, did he blow me away! There was not a moment wasted. Jerry Seinfeld, a class act in observational comedy. He was a genius at describing mundane daily stuff and making it unbelievably funny. As I stepped out of the Singapore Indoor Stadium, I felt the same way I did after watching Paul McCartney's concert at Tokyo Dome: I had just seen a legend doing what he did best.

The recent one was Jimmy O. Yang on November 25, 2025. I flew back from Koh Samui in the afternoon and went to the Star Theatre after that. I had watched Jimmy in various shows, from Fresh Off the Boat, Crazy Rich Asians to Interior Chinatown. I loved his specials on Amazon Prime. On top of that, he was also friends with Ronny. And he did mention that in a hilarious way: if you didn't like his show, remember that his name is Ronny Chieng. That was a memorable closing line, haha.

But why did I suddenly talk about stand-up comedy? It was triggered by the short conversation I had with my friend Bernard on Sunday afternoon. We booked Dr. Jason Leong's tickets. The comedian from Malaysia was a brilliant opening act for both Ronny and Jimmy's shows. I loved his comedic timing. His jokes were also localized and relatable, so it's time to see him as a headliner! Eight more months to go! 

From left: Jerry, Ronny, Trevor, Jimmy and Jason.




Stand-up Comedy

Jika saya coret semua perjalanan yang telah saya lakoni dan kembali ke hal yang paling mendasar, saya rasa saya bisa digambarkan secara sederhana sebagai orang yang suka tertawa. Saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang lucu. Stephen Chow adalah salah satu idola awal saya di awal dekade 90an. 

Namun, perkenalan saya dengan stand-up comedy baru terjadi belum lama ini. Saya berbagi momen itu dengan adik saya, Herry, saat kami sedang transit di KLIA pada tahun 2020. Malam itu di Capsule by Container Hotel, kami menonton acara spesial Ronny Chieng di Netflix: Asian Comedian Destroys America! Pertunjukannya sangat lucu, tetapi belum benar-benar memicu sesuatu.

Lalu muncul Seinfeld di Netflix pada tahun 2021. Itu adalah serial komedi terbaik yang pernah ada. Dalam serial tersebut, Jerry adalah seorang komedian berdiri yang lumayan sukses. Meskipun teman saya Parno selalu menyebut-nyebut tentang komedian berdiri, melalui sembilan season Seinfeld-lah hal itu membekas di pikiran saya.

Salah satu keunggulan Singapura adalah banyaknya aneka pertunjukan panggung yang senantiasa digelar di sini. Saya sudah sering menonton konser dan saya jatuh cinta pada pertunjukan musikal dari sejak tahun-tahun awal saya di Singapura. Jadi, ketika Ronny Chieng datang pada 13 September 2023, saya langsung berpikir, "Wah, pas sekali. Ayo tonton!"

Sejujurnya, itu bukan pertunjukan stand-up comedy pertama saya. Di tahun 2016, saya pernah menonton Kumar dari Singapura yang tampil sebagai bagian dari Kings and Queen of Comedy Asia 7 di Esplanade Theatre. Saya ingat saya tertawa, tetapi hanya sebatas itu saja dan stand-up comedy pun terlupakan hingga bertahun-tahun kemudian.

Dan Ronny adalah pelawak yang memulai segalanya. Dia lucu, kasar, intens, dan pemarah gayanya. Humornya bernuansa internasional, mungkin karena dia tinggal di Amerika dan merupakan bagian dari The Daily Show. Namun sebagai seseorang yang tumbuh di Singapura, dia pastinya punya beberapa lelucon yang bisa diapresiasi oleh penduduk lokal. Dan hei, dia jelas tidak malu untuk mengingatkan penonton bahwa dia adalah bagian dari Marvel Cinematic Universe, haha.

Beberapa bulan kemudian, datanglah Trevor Noah. Aksi panggungnya terjadi tepat sebelum perjalanan saya ke Taiwan. Sebagai pemirsa Netflix, tentunya saya tidak melewatkan komedi spesial Trevor. Saya menonton semuanya. Trevor memiliki cerita-cerita liburan ke manca negara dan, saat bercerita, dia menirukan berbagai aksen. Dan pada 4 Juni 2024, Trevor Noah tidak mengecewakan. Penampilannya, terutama bagian terakhir tentang India, adalah komedi yang kocak untuk dinikmati.

Sepuluh hari kemudian, tepat setelah perjalanan saya dari Taiwan, Jerry Seinfeld menggelar pertunjukan pertama di Singapura dan satu-satunya di Asia. Saya merasa gugup karena acara spesial Jerry di Netflix tidak sebagus Ronny dan Trevor. Lagipula, Jerry yang saya tonton adalah pelawak yang bermain dalam komedi situasi.

Tapi astaga, dia benar-benar memukau saya! Tidak ada momen yang terbuang sia-sia. Jerry Seinfeld, seorang pakar dalam komedi observasional! Dia adalah seorang jenius dalam menggambarkan hal-hal harian yang remeh dan membuatnya menjadi sangat lucu. Begitu melangkah keluar dari Singapore Indoor Stadium, saya merasakan perasaan serupa yang saya rasakan setelah menyaksikan konser Paul McCartney di Tokyo Dome: saya baru saja menyaksikan seorang legenda melakukan hal yang paling dikuasainya.

Yang terbaru adalah Jimmy O. Yang pada 25 November 2025. Saya terbang kembali dari Koh Samui pada sore hari dan pergi ke Star Theatre setelah itu. Saya telah menonton Jimmy di berbagai serial dan film, mulai dari Fresh Off the Boat, Crazy Rich Asians hingga Interior Chinatown. Saya menyukai acara spesialnya di Amazon Prime. Selain itu, dia juga berteman dengan Ronny. Dan dia menyebutkan hal itu dengan cara yang kocak: jika Anda tidak menyukai pertunjukannya, ingatlah bahwa namanya adalah Ronny Chieng. Itu adalah kalimat penutup yang berkesan, haha.

Tapi mengapa saya tiba-tiba membicarakan tentang stand-up comedy? Hal ini dipicu oleh percakapan singkat yang saya lakukan dengan teman saya, Bernard, di hari Minggu. Kami memesan tiket Dr. Jason Leong. Komedian dari Malaysia tersebut adalah pembuka yang brilian untuk pertunjukan Ronny dan Jimmy. Saya menyukai ketepatan waktu komedinya. Leluconnya juga sangat lokal dan relevan, jadi sudah waktunya untuk melihat dia sebagai penampil utama! Delapan bulan lagi!

Thursday, February 19, 2026

NotebookLM

One year into my journey with AI, I developed a new habit: I started listening to the audio overviews and I liked checking out how AI summarized the whole story as a one-page infographic. We'll get into that, but first, let's have a quick recap to see how I got here.

As mentioned before, sometime in October 2025, I tried out NotebookLM after hearing about it repeatedly from my CEO. That was also around the same time I got my Pixel 10 Pro. One of the perks of getting the flagship phone was the sudden upgrade of my Google One membership. It became Google AI Pro, and it was free for one year.

This meant a higher generation usage limit in NotebookLM. It also meant a more frequent use of NotebookLM features. And if you ever found the explanation above got your head spinning, don't let it deter you from trying. NotebookLM was as simple as uploading and clicking the feature you liked to generate the output!

It was interesting to note that the NotebookLM app seemed to be more restrictive and offered fewer features. The web version, on the other hand, was more intuitive. I tested Mindmap, Reports, Flashcards, Slide Deck, and Data Table, but eventually decided that Infographic as well as Audio and Video Overview were more relevant to my blogging activities.

Video Overview was simply used because it created visual images that were good for Roadblog101's YouTube channel. But it was Audio Overview that I fell in love with. It could go deep dive into the sources I uploaded and brilliantly presented the outcome in the form of two people discussing what I wrote.

It was fun to hear them discussing my trips, but the real highlight was listening to how they dissected the more serious topics, especially on the blog posts that were rather obscure, such as Nowhere Man, Macroeconomics, etc. The retelling was like an expert opinion about my ideas. It was funny at times, it was often eloquent, and it was also a great reminder of things I had forgotten. 

On top of that, since I could add many sources to one notebook, I was able to hear the full story for the first time. Some blog posts were originally split into multiple parts, and others were written years later — intentionally or not — much like the Laos story. That one was made up of two stories that happened 15 years apart, so it was nice to hear them combined and retold as one. 

It was the same for the infographic. The most exciting part was the fact that I didn't know how it would turn out, and I enjoyed how the result surprised me. If there was a mistake, I could fine-tune it with the LLM prompts. The results were often colorful and surreal. Loving it!

There are about 574 blog posts on Roadblog101, including this one, so I reckon the NotebookLM activity may last for a while. But like I said earlier, one year into my journey with AI, it widened not only my horizons, but it also introduced me to something I didn't think existed before. My point is, since AI is here to stay, the question now is how we get used to it. My advice? Embrace it and let it surprise you. Start now!

PS: When I traveled, I switched to an eSIM from Simply by Echo Networks. I noticed that NotebookLM couldn't load while I was on this Hong Kong-based eSIM, so I believe not all countries support NotebookLM at this juncture...




NotebookLM 

Satu tahun dalam perjalanan saya bersama AI, saya jadi memiliki kebiasaan baru: saya suka mendengarkan ringkasan audio (audio overview) dan melihat bagaimana AI merangkum seluruh cerita menjadi infografis satu halaman. Kita akan membahas hal itu nanti, tapi mari kita ulas sejenak untuk melihat bagaimana saya sampai di titik ini.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, sekitar bulan Oktober 2025, saya mencoba NotebookLM setelah berulang kali mendengarnya dari CEO saya. Uji coba ini juga terjadi di waktu yang hampir bersamaan saat saya membeli Pixel 10 Pro. Salah satu keuntungan dari ponsel flagship tersebut adalah peningkatan mendadak pada keanggotaan Google One saya. Keanggotaan tersebut menjadi Google AI Pro, dan gratis selama satu tahun.

Ini berarti batas penggunaan fitur yang lebih tinggi di NotebookLM. Ini juga berarti saya jadi lebih sering menggunakan penggunaan fitur NotebookLM. Dan jika Anda merasa penjelasan di atas membuat kepala Anda pusing, jangan biarkan hal itu menghalangi Anda untuk mencoba. NotebookLM semudah mengunggah dan menekan fitur yang Anda sukai untuk menghasilkan output-nya!

Menarik untuk dicatat bahwa aplikasi NotebookLM tampaknya lebih terbatas dan menawarkan fitur yang lebih sedikit. Versi web jauh lebih menarik dan intuitif. Saya menguji Mindmap, Laporan, Flashcards, Slide Deck, dan Tabel Data, tetapi akhirnya memutuskan bahwa Infografis serta Audio dan Video Overview lebih relevan dengan aktivitas blogging saya.

Video Overview digunakan hanya karena fitur ini menciptakan citra visual yang bagus untuk saluran YouTube Roadblog101. Namun, Audio Overview-lah yang membuat saya jatuh cinta. Fitur ini dapat mendalami sumber-sumber yang saya unggah dan menyajikan hasilnya dengan brilian dalam bentuk dua orang yang mendiskusikan apa yang saya tulis.

Sangat menyenangkan mendengar mereka mendiskusikan perjalanan saya, tetapi yang lebih menarik lagi adalah mendengarkan bagaimana mereka membedah topik yang lebih serius, terutama pada postingan blog yang jarang saya lihat kembali, seperti Nowhere Man, ekonomi makro, dan lain-lain. Penceritaan ulangnya seperti pendapat ahli tentang ide-ide saya. Terkadang lucu, bagus pemilihan katanya, dan juga menjadi pengingat yang baik tentang hal-hal yang terlupakan oleh saya.

Selain itu, karena saya dapat menambahkan banyak sumber ke dalam satu buku catatan (notebook), saya dapat mendengar cerita lengkapnya untuk pertama kali. Beberapa postingan blog awalnya terbagi menjadi beberapa bagian, dan yang lainnya bisa saja ditulis bertahun-tahun kemudian — sengaja atau tidak — seperti cerita Laos. Cerita itu terdiri dari dua kisah yang terjadi selisih 15 tahun, jadi menyenangkan mendengarnya digabungkan dan diceritakan kembali sebagai satu kesatuan.

Hal yang sama berlaku untuk infografis. Bagian yang paling menarik adalah kenyataan bahwa saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti dan saya menikmati bagaimana hasilnya mengejutkan saya. Jika ada kesalahan, saya bisa menyempurnakannya dengan perintah (prompt) LLM. Hasilnya sering kali memiliki warna semarak dan surealis. Saya menyukainya!

Ada sekitar 574 postingan blog di Roadblog101, termasuk yang ini, jadi saya rasa aktivitas NotebookLM ini mungkin akan berlangsung cukup lama. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, satu tahun dalam perjalanan saya dengan AI, hal itu tidak hanya memperluas wawasan saya, tetapi juga memperkenalkan saya pada sesuatu yang tidak saya duga ada sebelumnya. Intinya adalah, karena AI akan terus ada, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita terbiasa dengannya. Saran saya? Mulailah menggunakan AI dan biarkan kecerdasan buatan ini mengejutkan Anda!

PS: Saat saya bepergian, saya beralih ke eSIM dari Simply oleh Echo Networks. Saya menyadari bahwa NotebookLM tidak dapat dimuat saat saya menggunakan eSIM yang berbasis di Hong Kong ini, jadi sepertinya tidak semua negara mendukung NotebookLM saat ini...

Saturday, November 8, 2025

Roadblog101 On AI

My CEO had mentioned NotebookLM to me a while ago. "Good stuff," he said. "Just put your source in, then you can start asking questions or get the AI to summarize it for you." And I suddenly remembered this again when I was cleaning up the apps on my Pixel 10. It was like, "oh, NotebookLM. Let's give it a spin."

At first glance, I wasn't really impressed by the chat feature. It was nothing ChatGPT or Gemini couldn't do. But then I saw the audio overview. When I clicked the play button, I was blown away by what I heard. Not only did it sound so professional, but I was also impressed by what I heard. It was interesting to listen to people discussing what I wrote. If it was a song, it was like hearing a different take or a cover version. 

Excited, I shared it with my high school group. The quick-witted Eday immediately pointed out Spotify as the appropriate channel for this, but I wasn't quite done with my exploration. I soon figured out that the web version had a lot more features than the app version did.

The video overview was really a hidden gem. The ability to generate some visuals in both English and Bahasa Indonesia suited me really well. Before long, a more organized thought was formed. These videos would be distributed through the existing Roadblog101's YouTube channel.

But what about the Spotify idea, though? It was not forgotten, of course. When I had lunch at Mak Nom Nom, International Plaza in Tanjong Pagar, I checked with my trusted AI, Perplexity, how to do the setup. So there I was, one hand holding a spoon and the other on the phone. 30 minutes later, the first podcast was published and shared.

Just like that, Roadblog101 is suddenly available on Spotify. It was no sweat, and the output was outstanding. I mean, it was almost like the good stuff was handed over to me on a silver platter. That's how powerful AI is. Give it some time, and it'll surprise us even more. The question now is, do we want to fear and shun it? Or will we learn and make use of it? The way I see it, you'll have more to watch and listen to, so subscribe to my YouTube and Spotify channels, okay?

Roadblog101 on Spotify.



Roadblog101 Dan AI

CEO saya pernah menyebut tentang NotebookLM. “Bagus,” katanya. “Cukup masukkan sumbermu, lalu kamu bisa mulai bertanya atau minta AI merangkum untukmu.” Saya tiba-tiba teringat lagi soal ini ketika sedang menghapus-hapus aplikasi di Pixel 10 saya. Rasanya seperti, “Oh, NotebookLM. Mari coba.”

Sekilas, saya tidak terlalu terkesan dengan fitur chat-nya. Tidak ada yang belum bisa dilakukan ChatGPT atau Gemini. Tapi kemudian saya melihat fitur audio overview. Begitu saya menekan tombol play, saya benar-benar terkesima dengan apa yang saya dengar. Suaranya terdengar sangat profesional, dan saya kagum dengan hasilnya. Menarik rasanya mendengar orang lain membahas tulisan saya. Kalau diibaratkan lagu, rasanya seperti mendengar versi lain atau interpretasi orang lain.

Dengan antusias, saya bagikan hasilnya ke grup teman SMA. Eday yang selalu cepat tanggap langsung menyebut Spotify sebagai kanal yang tepat, tapi saya belum selesai uji-coba. Tak lama kemudian, saya menyadari kalau versi web ternyata punya lebih banyak fitur dibanding versi aplikasinya.

Fitur video overview ternyata benar-benar permata tersembunyi. Kemampuannya menampilkan visual dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sangat cocok untuk saya. Dalam waktu singkat, pikiran saya mulai tersusun lebih sistematis. Video-video ini akan didistribusikan lewat kanal YouTube Roadblog101 yang sudah ada.

Lalu bagaimana dengan ide Spotify tadi? Tentu tidak terlupakan. Saat sedang makan siang di Mak Nom Nom, International Plaza Tanjong Pagar, saya meminta bantuan AI andalan saya, Perplexity, untuk mencari tahu cara membuat kanal podcast. Dengan satu tangan memegang sendok dan ponsel di tangan lain, saya bereksperimen. Tiga puluh menit kemudian, podcast pertama berhasil dirilis dan dibagikan.

Dengan segampang dan secepat itu, Roadblog101 tiba-tiba sudah hadir di Spotify. Semuanya terasa mudah, dan hasilnya luar biasa. Rasanya seperti semua hal bagus itu disajikan di atas piring perak. Begitulah hebatnya AI. Beri waktu sedikit, dan AI akan kian mengejutkan kita. Pertanyaannya sekarang, apakah kita ingin takut dan menolaknya, atau kita mau belajar dan memanfaatkannya? Menurut saya, kamu akan punya lebih banyak hal untuk ditonton dan didengarkan, jadi jangan lupa subscribe kanal YouTube dan Spotify saya, ok?

Wednesday, October 15, 2025

The Game Changer

Sometimes all it took was the most trivial thing to remind you that life had come a long way. It was one fine morning, I was on my way to the bus stop. Just like most of us these days, I was busy doomscrolling. Then I saw something that made me wonder why Akira Toriyama created Vegeta, the Prince of Saiyans from Dragon Ball Z, as a physically short character. Just like that, I fired the question on Perplexity, my go-to AI.

It was the aftermath that got me thinking. It was that easy to get my answer. AI was really a game-changer, eh? Looking back, since the dawn of the internet, dating all the way back to 1998 for me, I've been incredibly fortunate to witness firsthand and experience these game-changing moments.

I remember the time I discovered Amazon. When I first saw it in 1999, I was convinced that this was the future of shopping. I was so impressed by the books and CD collections that I applied for my first credit card. Didn't work out well for me at that time, though. But fast forward to years later, online shopping is a norm. So are contactless and QR code payments.

Another thing that kept evolving was the chat app. From just a tool to have some fun and get a date on Saturday night, it was revolutionized by BBM a decade later. Today, WhatsApp is an integral part of my life when it comes to chatting and calling. Gone are the days when you had to buy international calling cards. I can just call my mum in Pontianak anytime now. 

Then there are various ride-hailing apps. I always think of it as something you didn't know you needed, but there's no turning back once you knew it. The idea was so genius and sneaky at the same time that it changed the way of life quietly. For the better. Grab, Uber, and many more are parts of my life now. No more waiting in uncertainty. You either get your ride or you don't.

The next one I'm going to tell you may not be too significant for some, but I really love having my data on the go. Prior to this, I had been a fan of Apple's Time Capsule. I didn't understand why Apple stopped refreshing the product. Only when I shifted my data to the cloud did I realize why. If information is power, it was like having power at the palm of your hands. The cloud was practical, no more hardware to maintain, and proven to be useful time and again.

And the last was of course AI. I said this before and I'll say it again. For the longest time, the word google was a verb. But it immediately became a thing of the past the moment I tried AI. It was like having someone to read and summarize the answer you need. And it could even do more than that. The possibilities are endless. From here onwards, life as we know it won't be the same anymore.

For the first 18 years of my life in Pontianak, I went through an era before the internet. Yes, to a certain extent, life in a small town could do without some of the things I mentioned above. One could even say, in a rather ignorant manner, that life was less complicated without all this. 

But the technology I described above is not only a game-changer, but also inevitable. You are either left behind, living in a borrowed time, or you actually embrace it. The game changer is here to stay and, for the fact that it can be integrated seamlessly, I don't think it should be feared. If anything, it should be learnt, so that our life quality can be improved. 

The five that I mentioned above.



Terobosan

Hidup ini lucu. Terkadang justru hal remeh yang terbersit di benak yang mengingatkan anda kembali, betapa hidup ini sudah jauh berubah. Cerita kali ini bermula di suatu pagi, saat saya berjalan ke halte bis dan sibuk menggulirkan bacaan di Facebook. Lantas saya melihat sesuatu yang membuat saya penasaran, kenapa Akira Toriyama menciptakan Vegeta, sang Pangeran Saiyan dari Dragon Ball Z, sebagai karakter yang pendek secara fisik. Berbekal pertanyaan tersebut, saya lantas cari tahu di Perplexity, AI andalan saya. 

Saya dapat jawabannya, tapi apa yang saya lakukan itu lalu membuat saya berpikir. Betaap mudahnya mencari jawaban di masa kini. AI memang sebuah terobosan handal. Bila saya lihat kembali, sejak saya mengenal internet di tahun 1998, saya sudah menyaksikan dan mengalami langsung beberapa terobosan yang mengubah hidup kita. 

Saya ingat saat pertama kali saya menemukan Amazon. Di tahun 1999, saya percaya bahwa inilah masa depan cara berbelanja. Saya sangat terperangah dengan lengkapnya koleksi buku dan CD musik di Amazon, sampai-sampai saya tergerak untuk memohon kartu kredit. Akan tetapi semuanya tidak selancar yang saya bayangkan. Bertahun-tahun kemudian, berbelanja di internet sudah lumrah. Demikian pula halnya dengan pembayaran nirsentuh dan kode QR. Memang terbukti.

Hal lain yang senantiasa berubah adalah aplikasi chat. Dari sekedar alat untuk berkencan di malam Minggu, fungsinya berubah drastis dengan kemunculan BBM yang revolusioner. Hari ini WhatsApp adalah aplikasi utama saya dalam menghubungi dan menelepon. Kini saya tak lagi perlu membeli kartu telepon internasional. Saya bisa menelepon ibu saya setiap saat.  

Kemudian ada pula aplikasi untuk jasa antar mobil. Saya selalu merasa bahwa ini adalah sesuatu yang tanpa sadar selalu dibutuhkan. Ide ini begitu jenius dan mengubah pola hidup secara senyap. Dan hidup pun menjadi lebih baik dan praktis. Sekarang Grab, Uber dan beberapa aplikasi lainnya senantiasa tersedia di Google Pixel saya. Kini tak ada lagi penantian tanpa kepastian. Yang ada cuma mendapatkan tumpangan atau tidak. 

Selanjutnya, yang akan saya sampaikan berikut ini mungkin tidak begitu signifikan bagi sebagian pembaca, tapi saya suka dengan data pribadi yang selalu terjangkau oleh saya. Sebelumnya, saya adalah penggemar Time Capsule dari Apple. Saya heran ketika Apple menghentikan produk ini. Ketika saya pindahkan data ke cloud, barulah saya mengerti kenapa. Jika informasi adalah kekuatan, analoginya adalah seperti menggenggam kekuatan dalam telapak tangan. Cloud begitu praktis, tak lagi perlu bagi saya untuk memperbaharui perangkat, dan sudah terbukti berguna pula di aneka kesempatan. 

Dan yang terakhir tentu saja adalah AI. Saya sudah pernah mengatakan ini, dan saya akan ulang lagi. Selama bertahun-tahun, kata “google” sudah menjadi sebuah kata kerja. Namun, semua itu langsung terasa usang setelah saya mencoba AI. Rasanya seperti memiliki seseorang yang membaca dan merangkumkan jawaban yang kita butuhkan. Bahkan, AI bisa melakukan lebih dari itu. Kemungkinannya tak terbatas. Mulai sekarang, hidup kita tidak akan pernah sama lagi.

Selama 18 tahun pertama hidup saya di Pontianak, saya melewati masa sebelum adanya internet. Ya, sampai batas tertentu, kehidupan di kota kecil bisa berjalan tanpa beberapa hal yang saya sebutkan di atas. Bahkan, seseorang bisa saja berkata dengan naif bahwa hidup terasa lebih sederhana tanpa semua ini.

Namun teknologi yang saya jelaskan di atas bukan hanya mengubah hidup kita, tetapi juga tidak dapat dihindari. Kita hanya punya pilihan-pilihan berikut ini: ketinggalan zaman, tetap pasif menanti semua itu terjadi, atau menerima perubahan ini sepenuhnya. Perubahan besar ini akan terus ada, dan karena dapat diintegrasikan dengan begitu mulus, saya rasa tidak ada alasan untuk takut. Justru sebaliknya, teknologi ini sebaiknya diterima dan dipelajari agar kualitas hidup kita menjadi lebih baik lagi.

Sunday, September 14, 2025

Day Trip To JB With Bernard

Bernard is easily one of my closest friends, but as I sat down with him in JB and looked back, I realized that I rarely traveled with him. Granted, we did Jakarta and Batam, but Laos was our farthest trip so far. When it comes to Malaysia, we visited Kuching in 2012. 13 years later, there we were in JB for the first time ever. 

One week before the trip, he checked with me to see if I could accompany him to JB for furniture shopping. I checked with my wife if she had anything planned for family and, since she had none, I said okay. It was also a good opportunity to test out the MVNO data plan I just subscribed to. Lastly, since Loca Pay in Laos and Dana in Indonesia, I also downloaded TnG eWallet for this trip.

Off we went on a rainy Saturday. Once we passed through the autogate in Malaysia, it was time to test the MVNO SIM cards. Eight worked like a charm, but Circles.Life failed. Upon checking with the support team, turned out that my data plan of Circles.Life didn't cover the roaming services, haha. 

First stop, lunch. Bernard wanted to eat Soon Huat Bak Kut Teh in Taman Sentosa. Apparently he was a regular here and I'd learn that we basically followed his usual itinerary. The queue for Soon Huat seemed long, but it was quite fast. The food wasn't that fantastic, I am afraid. Even Bernard said that the quality had dropped, though I'm not sure if he was influenced by the clear pork soup remark that I showed him when I checked in using Swarm

At the first shop.

Next stop was the furniture shops. The first one was in Taman Johor Jaya, close to Tebrau. The second shop where we got the recliner sofa, was in Skudai. The testing, at least for me, was quite amusing. The more you got the potato couch feeling, the more you could be sure that it was the one you'd want to buy. Bernard was more systematic. He checked the neck and back support in both sitting and reclining positions. To put it simply, he was more meticulous. 

At the second shop, Art Home Furniture.

Now that we got the sofa, we headed to Hard Rock Cafe Puteri Harbour to see if there was anything new. From there we headed back to Taman Sentosa again, this time we ate at Taman Sri Tebrau Hawkers Centre. It was an old fashioned eatery. Bernard joked that even the signboards were probably older than us. We had crayfish there, which reminded me of the seafood restaurant in Tanjung Balai.

Visiting Hard Rock.

The last thing we did right after dinner was foot massage at Fizzio that is located across the street. Painful at times, but that, perhaps, what the feet and legs needed. After an hour, I finally got a chance to test TnG eWallet. I love cashless payment! Then we made our way back to the border and returned to Singapore...



Sehari Di JB Bersama Bernard

Bernard adalah salah satu teman terdekat saya, tapi sewaktu saya lihat kembali, ternyata kita jarang berlibur bersama. Ya, tentu saja kita bepergian ke Jakarta dan Batam, tapi Laos adalah tempat terjauh yang pernah kita kunjungi bersama. Akan halnya Malaysia, kita ke Kuching tahun 2012. 13 tahun kemudian, kita mengunjungi Johor Bahru untuk pertama kalinya. 

Satu minggu sebelum tanggal keberangkatan, Bernard bertanya apakah saya bisa menemaninya ke JB untuk berbelanja furnitur. Saya konfirmasi dengan istri, siapa tahu dia sudah merencanakan sesuatu untuk keluarga. Berhubung tidak ada acara, saya pun mengiyakan Bernard. Ini juga kesempatan yang bagus untuk menguji data MVNO yang saya beli baru-baru ini. Dan sejak Loca Pay di Laos serta Dana di Indonesia, saya juga mengunduh TnG eWallet untuk liburan singkat ini. 

Lantas berangkatlah kita di Sabtu pagi yang rintik-rintik. Saatnya mengetes MVNO begitu kita melewati pintu imigrasi otomatis di Johor Bahru. Eight berfungsi dengan baik, namun Circles.Life tidak bisa dipakai di Malaysia. Setelah saya tanyakan ke bagian pelayanan pelanggan, ternyata paket data Circles.Life tidak mencakup koneksi internet di luar Singapura, haha. 

Bak Kut Teh.

Pemberhentian pertama, makan siang. Bernard ingin menyantap Soon Huat Bak Kut Teh di Taman Sentosa. Ternyata dia sering makan di sana dan saya lekas menyadari bahwa hari ini kita akan mengikuti rute regulernya. Antrian di Soon Huat cukup panjang, tapi cepat pula pergerakannya. Rasa masakannya biasa saja. Bahkan Bernard mengakui bahwa kualitasnya sudah turun, walau saya tidak tahu apakah pendapatnya itu dipengaruhi oleh komentar tentang sup babi jernih yang saya tunjukkan padanya saat saya menggunakan Swarm

At the first shop.

Sesudah makan, tujuan berikutnya adalah dua toko furnitur. Yang pertama terletak di Taman Johor Jaya, tak jauh dari Tebrau. Yang kedua, tempat kita membeli sofa malas, berada di Skudai. Cara kita menguji kenyamanannya cukup menarik. Bagi saya, semakin malas rasanya saya beranjak dari sofa, berarti makin nyaman. Bernard lebih sistematis. Dia memeriksa penyangga leher dan punggung dengan lebih seksama, baik dari saat duduk tegak sampai posisi berbaring santai. 

At the second shop, Art Home Furniture.

Setelah mendapatkan sofa, kita singgah sejenak di Hard Rock Cafe Puteri Harbour untuk melihat koleksi terbaru. Dari situ kita kembali ke Taman Sentosa lagi, kali ini untuk makan malam di  Taman Sri Tebrau Hawkers Centre. Ini tempat makan tradisional dan Bernard bercanda bahwa papan nama penjualnya mungkin lebih tua dari kita. Kita memesan udang karang di sini, menu yang mengingatkan saya saat makan di restoran di Tanjung Balai

Visiting Hard Rock.

Hal terakhir yang kita lakukan adalah pijat kaki di Fizzio di seberang jalan. Sakit juga pijatannya, tapi mungkin itu yang dibutuhkan tapak dan tungkai kaki setelah berjalan seharian. Satu jam pun berlalu dan akhirnya saya bisa mencoba TnG eWallet. Saya suka pembayaran non-tunai! Setelah itu, kita melaju ke perbatasan dan kembali ke Singapura... 

Sunday, July 6, 2025

The Doomscrolling

And we thought binge-watching on Netflix was bad! Like many others, I've also got my own addictions to battle. For example, I am still hooked by crackberry, even long after BBM ended (it was simply replaced by WhatsApp). It was a struggle to sit down and really make a conversation with a person in front of you, just like what I did with my wife when we had a dinner. Oh yes, dinner and drink were probably the few times I could totally put my phone down on the table. 

The Crackberry addiction...

Now, on top of the ongoing crackberry addiction, I began realizing a new pattern that I developed lately. Yes, scrolling down the newsfeed on Facebook was already part of my lifestyle for as long as I could remember. However, I couldn't help noticing that recently, I spent a lot of times watching those short videos on Facebook.

I just had to click one, let's say a snippet of Two and a Half Men, then from that point onwards, anything else that caught my attention would continue to appear. It could be a few minutes of stand-up comedy, then scenes of crocodiles in action (yeah, I am somehow fascinated by how unpredictable crocodiles are), a quick laugh with Everybody Loves Raymond, etc. And I'd keep scrolling down until I reached office. 

The reels on Facebook.

The biggest difference between the two behaviours described above is this: I could still stop scrolling down the newsfeed on Facebook. But those videos, it was as if there was this voice whispering to me, may be one more? By the time I reached Downtown Station, what felt like a harmless suggestion had turned out to be more than one video for sure. 

I remember reading a specific term about this before. When I cross-checked this on Perplexity AI, there were many names for the syndrome: infinite scroll, zombie scrolling and doomscrolling. They all basically meant the same thing: the unconscious act of scrolling through social media or other content, typically without a clear goal or endpoint.

Kinda spooky, though. I'm not a TikTok user, but I reckon it could be worse for them. Time for digital detox, perhaps? Maybe it's time to try out the Minimal Phone? Or probably I should wait a bit for the BlackBerry Classic revival in the form of Zinwa Q25? We shall see!

The Minimal Phone.



Kecanduan Digital

Dan kita dulu menyangka bahwa yang namanya binge-watching di Netflix itu tidak baik! Tak berbeda dengan orang lain, saya pun memiliki masalah kecanduan yang perlu saya atasi. Sebagai contoh, sampai hari ini saya masih terbelenggu crackberry, lama setelah BBM tamat (dan kini tergantikan dengan WhatsApp). Perlu perjuangan untuk bisa duduk dan benar-benar berbincang dengan lawan bicara, seperti halnya yang saya lakukan dengan istri saat kita makan malam di luar. Oh ya, acara makan dan minum adalah sekali-kalinya saya bisa mengabaikan telepon saya di meja. 

Kecanduan Crackberry...

Selain masalah ketergantungan crackberry, saya menyadari bahwa ada pola baru yang mulai saya jalani tanpa sadar. Membaca berita di Facebook adalah bagian dari hidup sejak penghujung dekade pertama di abad 21. Akan tetapi menghabiskan waktu menonton video singkat di Facebook adalah perihal baru yang tidak biasa. 

Saya cukup menekan satu, misalnya cuplikan Two and a Half Men, lalu apa saja yang menarik perhatian saya akan terus bermunculan, mulai dari beberapa menit komedi, lalu video tentang buaya (ya, entah kenapa saya selalu tertarik dengan tindak-tanduk buaya yang tidak bisa diprediksi), tawa singkat bersama Everybody Loves Raymond dan lain-lain. Saya akan terus membuka video berikutnya sampai saya tiba di kantor. 

Reels di Facebook.

Perbedaan paling mendasar dari dua prilaku ini adalah kontrol diri. Untuk berita Facebook, saya masih bisa berhenti. Tapi untuk video-video singkat ini, sepertinya ada suara yang berbisik, tak apa-apa, satu video lagi saja. Dan di saat saya tiba di Stasiun Downtown, saran bawah sadar itu membuat saya menghabiskan waktu melihat entah berapa banyak video selama perjalanan ke kantor. 

Saya ingat bahwa saya pernah membaca tentang hal ini sebelumnya. Ketika saya cari lagi menggunakan Perplexity AI, sindrom ini muncul dalam berbagai nama: gulir tanpa akhir, gulir zombi dan gulir hingga kiamat. Semua ini memiliki definisi yang kurang-lebih sama: perbuatan menggulir ke bawah tanpa sadar untuk melihat konten media sosial yang tidak jelas tujuannya dan tidak memiliki akhir. 

Agak seram juga nama dan penjabarannya. Saya bukan pengguna Tiktok, tapi saya jadi membayangkan, mungkin lebih parah lagi bagi mereka. Apa sudah waktunya untuk detoksifikasi digital? Ganti ke Minimal Phone? Atau mungkin tunggu sampai bulan depan untuk menantikan kembalinya BlackBerry Classic dalam bentuk Zinwa Q25? Hmm, mari kita lihat bersama-sama...

Minimal Phone.