Total Pageviews

Translate

Tuesday, March 14, 2017

The Plastics

A cook in my first working place (it was a hotel with a restaurant in Pontianak) once told me, "Young Man, whatever it is that you'd like to do, even if it is as low as cleaning shit, you'd better be the first." It sounded crude, alright, but yet at the same time it made sense and was easy to understand. Furthermore, I always love weird stuff and what he said was indeed unusual, so it totally nailed it as one of the advices that I'll remember for life.

I already told you the story of how I obtained my first credit card. This was back when we just finished high school, when having a credit card was a rarity among our peers. While I was partly motivated by the need to do online purchase, the other half of the reason was me toying with the advice from the cook. While I can't be too sure if I was ever the first, I was encouraged to go for it and got myself both Master and BCA card in 2001 (the client services staff told me it was compulsory to apply for a BCA card, so there was no runaway from it if I'd like to get Master).

The urge of having credit cards should have been quenched then and there. If it wasn't, at least it subsided for a while. Then I moved to Singapore and was exposed to many more options. That was when the card application frenzy that lasted years really started.

Apart from Master and Visa, I began to notice that there was another one called American Express, the best way to earn Krisflyer miles. When I was single, I liked the idea because I was fond of traveling. These days, however, the priority has shifted to earning rebates because cashback makes more sense once you have a family, haha. And, oh, American Express True Cashback card is one of the best around and it doesn't come with all the nonsense that requires you to read the tedious fine print.

There was also Diners Club, which offered the access to airport lounge (something I haven't used after applying) and was intriguing because it seemed like not people having it. I only learnt later on that there weren't many outlets that accepted Diners as compared with the big three (Visa, Master and American Express), but I still keep one because in Singapore, Diners can be used for payments via AXS, especially for those government related stuff.

It was also through the Diners experience that I realized what I applied for was not always called credit card. Apparently there was this other type called charge card. Wikipedia describes that charge cards are typically issued without spending limit (which doesn't seem to be the case in Singapore) and, unlike credit cards, the spending amount needs to be paid in full or else the cardholder will be subjected to late fees. To this day, I'm still not entirely sure what the selling point is as compared with credit cards, hehe.

The next one was UnionPay. When I went to China for the first time in 2009, I didn't have enough Renminbi so I had to visit a local bank in Guilin to exchange my USD. The cumbersome experience got me thinking that perhaps I should have had something that worked locally. At that time, it seemed like Visa or Master wasn't widely accepted, so the obvious choice was UnionPay.  However, China grew so fast that when I visited the country again in 2012, at least Visa and Master were already quite common then.

The last one I ever had was JCB. I applied for the card prior to my visit to Japan simply due to curiosity reason and the fact that I never had one before. Outside Japan, actually the card can't do much except for giving us a discount when we do a transaction at Kinokuniya book store, perhaps.

There you have it, the story of the magnificent seven: Visa, Master, American Express, Diners Club, UnionPay, JCB and BCA card. You'll have to decide which one that works for you best, but it's safe to say that in this time of day, even when we strike off the need to do online purchase (which has been a basic necessity for many), having at least one card will ease up your life a lot. For example, you can actually consolidate all the household expense payments into one card.

Personally, as one who never carries so much cash (there were times when the wallet had only coins, so no point robbing me, please), I always love the idea of cashless transaction. Such concept works almost flawlessly in Singapore, except in one memorable moment when I brought my wife to hospital for our second baby delivery. Only after we arrived that I realized I had no cash in my pocket and my bank account was empty! That was when, of all cards, Diners came to the rescue with its capability of cash withdrawal.

While we are at this subject, for those who are not aware of it, the logos at the back the cards actually mean something. If you go and take a look, you'll see logos such as Cirrus, Maestro and so forth on both the cards and the ATM machines. That means you can withdraw cash on that particular ATM that has the same logos as your card if needed, a feature that can come handy when you are visiting foreign countries. However, do take note that, apart from interest, it also comes with some processing fee per transaction, so you may want to withdraw a sufficient amount at once rather than doing it multiple times.

Having said that, the practical lifestyle that comes with credit card indulgence does have a catch: you could end up with an accumulating debt if you are not careful with it. The key is don't spend more than what you can afford and don't pay only the minimum payment. You do the don'ts and you'll be fine. However, if it's hard for you to maintain a certain level of discipline, probably you shouldn't go for it.

Last but not least, the dawn of Apple Pay, Samsung Pay and Android Pay also signal the changes in the world we're living in. I'm not a big fan of this method of payment, but from the look of it, they are here to stay. From magnetic stripe, EMV chip, 2FA, PayPal (which I find it quite useful) and now the payment apps, credit cards have evolved and gone through a long way since I first knew them, when it was just a card that was placed by a cashier onto a sliding device in order to get it imprinted on a carbon copy...

The magnificent seven


Kartu Plastik

Koki di restoran Hotel Kartika, tempat kerja pertama saya, pernah berkata, "Anak Muda, apa pun yang ingin kamu kerjakan, meski hanya sekedar membersihkan tahi, pastikan kamu jadi yang pertama." Mungkin ini terdengar kasar, tapi masuk akal dan mudah dimengerti. Saya selalu menyukai hal-hal yang aneh seperti ini, jadi nasihatnya senantiasa saya ingat selalu. 

Saya sudah bercerita tentang bagaimana saya mendapatkan kartu kredit pertama saya. Ini adalah ketika saya baru saja lulus SMA, tatkala memiliki kartu kredit adalah sesuatu yang langka di angkatan saya. Motivasi saya saat itu adalah setengahnya karena pembelian secara online yang ingin saya lakukan, sedangkan separuhnya lagi adalah karena nasihat dari sang koki. Walau saya tidak pernah tahu apakah saya yang pertama, saya terdorong untuk mengajukan aplikasi kartu Master dan BCA di tahun 2001 (karyawati di bank memberi tahu bahwa kartu BCA adalah kartu wajib, jadi harus diajukan jika saya ingin memperoleh Master). 

Keinginan untuk memiliki kartu kredit harusnya sudah terpenuhi pada saat itu juga. Namun saya pindah ke Singapura dan menyadari bahwa saya memiliki begitu banyak pilihan. Dari sinilah bermula hobi mengoleksi kartu kredit yang berlangsung hingga saat ini. 

Selain Master dan Visa, ternyata ada kartu lain yang disebut American Express yang juga merupakan alternatif untuk mendapatkan mil Krisflyer. Ketika saya masih bujangan, saya suka bonus yang satu ini karena bisa ditukarkan dengan tiket Singapore Airlines. Setelah menikah dan memiliki anak, prioritas pun berubah dan mendapatkan kembalian dalam persentase kecil lebih menarik sekarang. Sejauh ini American Express True Cashback sangat jelas cara pakai dan persentasenya, jadi sering saya gunakan. 

Ada lagi kartu lain yang bernama Diners Club. Kartu ini bisa digunakan untuk akses ke banyak ruang tunggu eksklusif di bandara (walaupun saya belum pernah coba, haha). Awalnya saya heran kenapa tidak banyak yang memiliki kartu ini. Setelah saya memilikinya, baru saya sadari bahwa tidak banyak tempat yang menerima Diners, apalagi jika dibandingkan dengan tiga besar (Visa, Master dan American Express), tetapi saya masih menyimpan satu kartu karena Diners bisa digunakan untuk pembayaran lewat AXS, terutama untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan. 

Lewat Diners, saya juga menyadari bahwa yang saya ajukan tidaklah selalu merupakan kartu kredit. Ada tipe lain yang disebut kartu charge. Wikipedia menjelaskan bahwa kartu charge adalah jenis kartu yang tidak memiliki batas kredit dan pembayaran harus dilakukan sepenuhnya pada saat tagihan di bulan berikutnya atau akan ada biaya penalti. Sampai hari ini, terus-terang saya masih belum mengerti, di mana daya tariknya.

Selanjutnya adalah UnionPay. Ketika saya ke Cina untuk pertama kalinya di tahun 2009, saya tidak mempunyai cukup CNY sehingga saya harus ke bank lokal di Guilin untuk menukar USD saya. Pengalaman ini cukup bertele-tele sehingga saya merasa perlu memiliki sesuatu yang bisa saya gunakan di sana. Pada saat itu, Visa dan Master tidak digunakan secara meluas di Cina, jadi satu-satunya pilihan yang masuk akal adalah UnionPay. Akan tetapi Cina berkembang begitu pesat. Saat saya ke sana lagi di tahun 2012, pemakaian Visa dan Master sudah tergolong lumrah di sana. 

Jenis lain yang pernah saya miliki adalah JCB. Saya mengajukan aplikasi kartu ini sebelum kunjungan saya ke Jepang. Alasan saya sederhana, hanya karena saya belum pernah memilikinya. Di luar Jepang, kartu ini tidak banyak gunanya selain memberikan diskon saat kita berbelanja di toko asal Jepang. Kinokuniya, misalnya.

Demikianlah cerita tujuh serangkai: Visa, Master, American Express, Diners Club, UnionPay, JCB dan BCA card. Anda harus memilih kartu apa yang paling cocok untuk anda. Di zaman sekarang, memiliki setidaknya satu kartu akan memudahkan hidup anda. 

Secara pribadi, sebagai orang yang jarang membawa banyak uang kontan (bahkan ada saat di mana dompet saya hanya berisi koin, jadi tidak ada gunanya merampok saya), saya selalu menyukai konsep transaksi non-tunai. Konsep seperti ini sangat cocok untuk kehidupan di Singapura, kecuali pada suatu peristiwa dimana saya membawa istri saya ke rumah sakit untuk kelahiran anak kedua saya. Saat kita tiba, saya baru sadar bahwa saya tidak memiliki uang! ATM pun kosong karena saya hanya menyisihkan sedikit uang di bank yang biasa saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Di saat itulah, dari semua kartu yang ada, Diners berhasil menolong saya dari kesulitan karena saya berhasil menarik uang tunai dengan kartu ini. 

Selagi kita berbincang tentang topik ini, bagi yang tidak pernah menyadarinya, logo di belakang kartu sebenarnya memiliki arti tersendiri. Jika anda membalikkan kartu anda dan melihat logo seperti Cirrus, atau Maestro dan anda juga melihat logo serupa di mesin ATM, ini artinya anda bisa menarik uang dari ATM tersebut. Fitur ini cukup berguna, terutama saat anda berada di negara lain. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa selain bunga, menarik uang dengan kartu kredit juga dikenakan biaya transaksi, jadi pastikan bahwa anda menarik jumlah yang cukup dalam sekali transaksi. 

Penting untuk diperhatikan juga bahwa cara hidup yang bergantung pada kredit kredit memiliki resiko: anda bisa menumpuk hutang jika tidak berhati-hati dalam penggunaannya. Kuncinya adalah jangan sampai pengeluaran lebih besar dari pendapatan dan jangan pula hanya melakukan pembayaran minimum. Jika ini sulit anda terapkan, mungkin anda tidak seharusnya menggunakan kartu kredit. 

Baru-baru ini juga muncul Apple Pay, Samsung Pay dan Google Pay. Walau saya tidak menggemarinya, metode pembayaran ini akan mengubah gaya hidup kita. Saya mengenal kartu kredit dari era pita magnetik, chip, 2FA dan PayPal (yang saya sukai karena praktis) hingga berbagai aplikasi pembayaran sekarang. Kartu kredit sudah berubah jauh sejak era kartu yang dimasukkan oleh kasir ke kotak khusus yang digesek untuk mendapatkan cetakan kopi karbonnya...

No comments:

Post a Comment