Total Pageviews

Translate

Wednesday, February 8, 2017

The Ancient Art Of Sending Postcards

The thing with the internet era is, almost everything is instantaneous and in electronic form. While it's good to be fast, it's also almost unreal, losing both the personal touch and its element of surprises. I mean, do you remember the good old days when you opened your mailbox and received something unexpected that made you smile? It felt good, didn't it?

A friend of mine once lamented that her mailbox had only credit card and other bills these days, then casually asked if we'd like to send her any postcards. It was a rather silly request that I believe she didn't expect anything in return. However, I love silly stuff because that's what makes us human, so I entertained the idea.

The postcards recipient and one of her senders.

And that's how the whole postcards saga started in 2015. I always imagined that it should be easy. The whole activities can be described as finding a postcard, write your message and stick a stamp on it and voilĂ , we're good to send it. Little did I know that it could be such a daunting task in reality. In countries like Indonesia, postcards are almost extinct that you can't even find it at the post office!

Nevertheless, getting it done is part of the fun and it can be done in many ways. Once postcard is obtained, I scribble a short nonsense and, whenever it is possible, share it with other friends. The trip we had last June was a classic example of collecting messages from as many friends as possible, a journey that brought us crisscrossing Jakarta, Bekasi, Karawang and back to Jakarta again before we sent it out.

One postcard adventure was a rather unlikely one. I was in Yangon, Myanmar, and I thought I was running out of luck in finding postcard until my friend spotted one at Bogyoke Market. It didn't look good, but was still a postcard, so I bought it. Next, I had to find my way to get a stamp and after asking around, I found one on third floor, in a very rundown looking post office. Much to my surprise, it actually had a decent collection of postcards there. Anyway, so there I was, performing the ancient art of sending postcards again. Once done, I dropped it on red mailbox outside the post office. Only God knows if it ever gets delivered.

All this, was it worth the trouble? Well, if I imagine how a friend opens a mailbox on one fine day just to find a nice little surprise among the bills, I think it's worth it. Sometimes in life, it's not always about ourselves, but about sharing a little happiness to others. In today's world where things are fast paced, it is a small gesture like this that gives us time to stop and smell the roses...

The postcard adventure in Myanmar
From top, clockwise: the post office ~ The sign to post office. It's on third floor! ~ The post office entrance, where I dropped the postcard.


Seni Kuno Mengirim Kartu Pos

Masalah dengan era internet adalah, segalanya menjadi instan dan dalam bentuk elektronik. Walau ada bagusnya karena semua menjadi cepat, tetapi efek sampingnya adalah hilangnya sentuhan pribadi dan unsur kejutan. Maksud saya, apakah anda masih ingat rasanya ketika membuka kotak pos dan menemukan sesuatu yang membuat anda tersenyum? Rasanya menyenangkan, bukan?

Seorang teman saya pernah mengeluh bahwa kotak posnya hanya berisi tagihan kartu kredit dan lain-lain sekarang. Dia lalu berujar sekenanya, apakah kami sebagai teman-temannya bersedia mengirimkan kartu pos untuknya. Saya rasa dia hanya sekedar berucap dan tidak berharap bahwa permintaannya akan benar-benar ditanggapi. Akan tetapi saya menyukai hal kecil dan remeh seperti ini karena inilah yang membuat kita manusiawi, jadi saya ladeni idenya.

Dan dari situlah kisah kartu pos bermula. Saya senantiasa membayangkan bahwa semuanya akan lancar dan mudah. Pada dasarnya upaya yang dibutuhkan hanya mencari kartu kartu pos, menuliskan pesan singkat, menempelkan perangko dan akhirnya kartu pos siap untuk dikirimkan. Siapa yang menyangka bahwa prakteknya tidak segampang itu? Di negara seperti Indonesia, kartu pos itu hampir punah dan kita bahkan sulit menemukannya di kantor pos!

Parno mendapatkan kehormatan untuk berpose dan mengirimkan kartu pos pertama di tahun 2015.

Akan tetapi prosesnya cukup seru untuk dikerjakan. Biasanya, setelah mendapatkan kartu pos, saya akan menuliskan kalimat pendek dan membagikannya kepada teman-teman supaya mereka pun bisa turut serta. Liburan yang saya jalani bersama teman-teman Juni lalu adalah contoh klasik di mana kita menggalang partisipasi teman sebanyak mungkin, sebuah petualangan yang membawa kami berkelana dari Jakarta, Bekasi, Karawang dan kembali lagi ke Jakarta sebelum kartu pos dikirim.

Satu petualangan unik yang menarik untuk diceritakan terjadi di awal tahun ini. Saat itu saya berada di Yangon, Myanmar, dan saya mengira saya tidak berhasil menemukan kartu pos, sampai seorang teman seperjalanan melihatnya di Bogyoke Market. Kartu posnya tidak bagus, tapi tetap saja kartu pos, jadi saya beli. Selanjutnya, saya harus mendapatkan perangko dan setelah bertanya sana-sini, saya menemukan satu kantor pos yang tua dan sepi di lantai tiga. Tidak disangka, ternyata adalah koleksi kartu pos yang lumayan bagus di sana. Setelah selesai dengan pesan dan perangko, saya memasukkannya dalam kotak pos merah yang berada di depan pintu kantor pos. Hanya Tuhan yang tahu apakah kartu pos itu terkirim atau tidak.

Mungkin anda berpikir, apakah upaya seperti ini tidak menghabiskan waktu dan sia-sia? Begini, kalau saya bayangkan bagaimana seorang teman membuka kotak posnya dan menemukan suatu kejutan kecil di antara tumpukan tagihan, saya rasa upaya saya tidaklah sia-sia. Kadang, di dalam hidup ini, tidak semuanya adalah tentang diri kita, tetapi bagaimana kita membagikan sedikit kegembiraan kepada orang lain. Di masa kini, dimana semuanya berjalan dengan cepat, ada kalanya kita perlu berhenti sejenak untuk hal kecil seperti ini...

Kartu pos dari London, Inggris, sebelum dikirim.

No comments:

Post a Comment