Total Pageviews

Translate

Wednesday, June 13, 2018

The Singapore Delight

Back in the 90s, when I first visited Singapore, I stayed in Chinatown area. I saw the fried noodles at one of the stalls when I was exploring the People's Park Centre. Out of curiosity, I asked if it was sweet or salty. Much to my surprise, the stall keeper made a caustic remark that there was no such thing as sweet fried noodles. I was taken aback by the hostile response, especially when I was pretty sure such meal existed in my hometown.

Years later, when I traveled Malaysia, I began to realize that Singapore cuisines are closer to Malaysia's than ours. Having said that, some of the dishes aren't found in Indonesia or at least I never saw them then, when I was staying in Pontianak and Jakarta. It dawned on me that it went both ways, hence the unforgettable answer I got for asking about the fried noodles.

That doesn't mean the food in Singapore is bad. They are just different, but they're alright. After living here for more than a decade, I grow to like some of the food here and I often come back for more. Here are some reference of the cuisines that, I think, were rarely seen in Indonesia, but are available abundantly in Singapore. They've been tested and verified by your fellow Indonesian to ensure that they are suitable for our liking, readers. Haha!

A plate of mui fan.

The first on my list, one that means a lot to me, is mui fan. For your information, mui fan is a plate of rice flooded with sticky soup and it has vegetables, seafood, meat and egg. It looks like nasi chap chay in Indonesia, but I think mui fan is more refined and I like it better. I had this regularly when I came to Singapore back in 2006. Life was hard then and mui fan was a godsend for the following reason: it was very affordable and it came with a generous portion, too! I still have this for dinner from time to time and it goes well with belacan (shrimp paste).

Just in case you don't prefer rice but would like to have something similar, hor fun is the next best thing. It took me some time to appreciate this mui fan lookalike as it came in many forms, for example san lou hor fun, but I eventually settled with beef hor fun. It's one of my menus during lunch time these days! By the way, hor fun means flat rice noodles, so imagine the rice in mui fan being replaced with hor fun and that's roughly how it looks like. 

A bowl of lor mee.

Anyway, before you start questioning why I seem to be very fond of food that has thick gravy, I promise that this will be the last one for this blog post. It's a bowl of noodles called lor mee. Please be warned that it's a very messy affair and it will leave a stain on your clothes if you are not careful with it, but it's definitely worth the effort. The taste is rich and it comes with a lot of fried porky stuff you'll love.

Another favorite suitable for quick lunch is duck rice (normally I go for it after haircut as there's a good stall named Yu Kee in Bugis). Duck meat is surely different than chicken, but once you get past the acquired taste, it is actually quite delicious! The stall that sells duck rice usually sells another delicacy called kway cap, too. It is basically hor fun served with pork intestines. For those who came from Pontianak, you may recognize it as kwe kia theng. While the names may be different, but the taste is almost identical.

Duck rice.

Before we leave the Chinese flavored cuisines, let me introduce you to something that is rather unusual: a fusion called marmite chicken rice. I never knew it, too, until my friend Keenan introduced it to me. I only found it at Lucky Cafe so far. The chicken is crispy, it has a sweet and unique taste thanks to the use of marmite. Never had anything like this before in Indonesia! I also can't explain to you what marmite is, so you may want to google it instead, haha.

Now, as a melting pot, Singapore is not only about Chinese culture. They are cuisines from other cultures as well. If I were to go for Malay food, I'll have either nasi lemak or black pepper chicken rice. During my first year in Singapore, I used to alternate between this and mui fan as both were available in Kembangan. The black pepper chicken rice is chicken cutlet with black pepper sauce poured on top of it. The rice is rather special and I think it's the same as Hainanese rice. As for nasi lemak, it's like a mild version of nasi uduk. It has peanuts, anchovies, chili sauce and then assorted meats that you can choose, from fried fish, fried chicken and, if you buy it from a non-halal stall, you'll get sliced pork, ngo hiang or sausage, too.

The non-halal nasi lemak. 

Then there's some good stuff from Indian culture. The famous one is, of course, nasi briyani. The rice, called basmati, is rather unique, it has an elongated shape, totally different than what we normally consume. Briyani has a lot of varieties, from chicken, mutton to something called dum briyani. Mutton is my favorite because mutton is good, haha. The less known menu but also equally good is the Indian curry rice. I only found this at the Golden Shoe Hawker Centre. The presentation was awful, but it was delicious. Again, it was served with mutton, together cabbage, tofu and egg. I'll have to check if the stall is still open at the interim hawker centre next to Telok Ayer MRT station.

So there you go, some options that you can choose if you visit Singapore. It's just a tip of the iceberg because there are still a lot of cuisines that I haven't mentioned here. Perhaps I'll go for another round of such post in the future. Happy trying and... keep eating.

Mutton briyani. 


Nikmatnya Makanan Di Singapura 

Di tahun 90an, ketika saya pertama kali berkunjung ke Singapura, saya tinggal di kawasan Chinatown. Saat saya menelusuri pusat perbelanjaan People's Park Centre, saya melihat mie goreng yang dijual di salah satu kedai makanan. Karena terlihat enak, maka saya pun mampir dan bertanya, apakah ini manis atau asin rasanya. Di luar dugaan, penjual mie itu dengan ketus berujar bahwa tidak ada yang namanya mie goreng manis. Saya merasa terkejut dengan respon seperti itu, sebab saya tahu pasti bahwa mie goreng manis dijual di kampung halaman saya. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya mulai mengunjungi berbagai tempat di Malaysia, barulah saya ketahui bahwa makanan di Singapura lebih mirip dengan makanan di Malaysia daripada Indonesia. Tidak sedikit makanan di Singapura yang tidak pernah saya jumpai di Indonesia, di kala saya masih tinggal di Pontianak dan Jakarta. Lantas terpikir oleh saya bahwa hal serupa juga terjadi di Singapura. Ini menjelaskan kenapa si penjaga kedai itu ketus jawabannya. 

Akan tetapi ini tidak lantas berarti bahwa makanan di Singapura tidak enak rasanya. Masakan di Singapura memang berbeda, tapi beberapa di antaranya cukup menarik dan lezat rasanya. Setelah tinggal di sini lebih dari sepuluh tahun lamanya, saya menyukai beberapa jenis masakan di sini. Berikut ini adalah referensi berbagai masakan yang mungkin jarang dilihat di Indonesia, tapi tersedia di mana-mana di Singapura. Masakan-masakan ini sudah diuji dan diverifikasi dengan lidah Indonesia sehingga bisa dipastikan bahwa semuanya cocok untuk selera Nusantara, haha. 

Yang berada di tingkat teratas dalam daftar saya adalah makanan yang memiliki makna tersendiri bagi saya: mui fan. Sebagai informasi, mui fan adalah sepiring nasi yang dibanjiri dengan kuah kental yang dimasak dengan sayur, udang, sotong, daging dan telur. Tampilannya mirip seperti nasi chap chay di Indonesia, tapi saya rasa mui fan lebih enak. Hampir setiap hari saya memesan menu ini ketika saya mulai mencoba untuk menetap Singapura di tahun 2006. Ketika itu hidup sangat sulit dan mui fan tak ubahnya seperti berkah dari Tuhan karena sangat terjangkau harganya dan besar pula porsinya. Sampai hari ini saya masih memesan mui fan sebagai makan malam dan biasanya saya nikmati dengan terasi.

Hor fun sapi. 


Bila anda tidak ingin makan nasi tapi mau mencicipi masakan yang kurang-lebih sama, anda bisa memilih hor fun. Saya sendiri membutuhkan waktu beberapa lama untuk menyukai masakan yang mirip mui fan ini karena banyaknya versi masakan berbasis hor fun, misalnya san lou hor fun, namun saya akhirnya menemukan apa yang cocok untuk saya: hor fun sapi. Belakangan ini saya sering menyantap yang satu ini pas jam makan siang. Oh ya, hor fun itu terbuat dari beras, mirip kwetiau namun lebih besar bentuknya. Bayangkan nasi di mui fan diganti dengan hor fun dan kira-kira seperti itulah masakannya.

Dan... sebelum anda mulai bertanya-tanya kenapa sepertinya saya menyukai masakan dengan kuah yang kental, saya berjanji bahwa ini adalah menu terakhir yang serupa. Namanya lor mee. Perlu diperhatikan bahwa makanan ini hendaknya disantap dengan perlahan dan hati-hati, sebab cipratan kuahnya bisa meninggalkan noda di baju anda. Meskipun demikian, upaya anda dijamin tidak akan sia-sia. Rasa masakan ini begitu mantap dan juga disertai beraneka gorengan mengandung babi yang pasti akan anda nikmati.

Kway cap. 

Favorit lainnya yang cocok untuk makan siang yang singkat dan buru-buru adalah nasi bebek (saya biasanya mampir ke kedai Yu Kee di Bugis setelah selesai gunting rambut). Daging bebek berbeda tekstur dan aromanya dengan daging ayam, tapi kalau anda bisa menikmatinya, rasanya cukup enak. Kedai yang menjual nasi bebek biasanya juga juga menjual makanan lain yang bernama kway cap. Makanan ini pada dasarnya adalah hor fun yang disajikan bersama organ babi. Bagi yang berasal dari Pontianak, anda mungkin mengenalnya sebagai kwe kia theng. Walau namanya berbeda, rasanya hampir sama. 

Sebelum kita meninggalkan masakan Cina, saya ingin perkenalkan sesuatu yang tidak lazim ditemukan: nasi ayam marmite. Saya juga tidak pernah mendengarkan tentang menu ini sebelumnya sampai saya makan bersama kolega saya Keenan. Sejauh ini saya hanya menemukan makan ini di Lucky Cafe, tidak jauh dari Raffles Place. Ayamnya digoreng hingga garing. Selain manis, ada suatu rasa yang tidak bisa saya jelaskan di sini, tapi saya yakin itu karena penggunaan marmite. Jika anda mau tahu marmite itu apa, saya rasa anda perlu cari sendiri di internet karena saya juga tidak bisa mendeskripsikannya dengan baik, haha.

Nasi ayam marmite

Karena posisinya sebagai titik pertemuan aneka budaya, Singapura tidak hanya sebatas makan Cina, namun juga disemarakkan oleh masakan dari budaya lain. Jika saya lagi ingin makan masakan Melayu, saya biasanya memilih nasi lemak atau nasi ayam saus lada hitam. Di tahun pertama saya di Singapura, saya sering silih berganti menu antara nasi ayam saus lada hitam dan mui fan karena keduanya tersedia di Kembangan. Sesuai dengan namanya, nasi ayam saus lada hitam adalah nasi dan irisan daging ayam yang disiram dengan saus lada hitam. Nasinya juga terasa mirip dengan nasi Hainan. Kalau nasi lemak lebih cenderung mirip dengan nasi uduk. Nasi lemak biasanya dihidangkan dengan kacang, ikan teri dan sambal serta aneka daging, mulai dari ikan goreng, ayam goreng serta beragam jenis daging babi olahan seperti ngo hiang dan sosis jika anda membelinya dari kedai non-halal.  

Kemudian ada juga berbagai masakan India. Yang terkenal tentu saja nasi briyani. Mereka menggunakan beras basmati yang panjang dan berbeda dengan beras yang biasa kita makan. Briyani juga memiliki berbagai variasi, mulai dari rasa ayam, kambing serta sajian yang disebut dum briyani. Saya suka briyani kambing karena saya suka daging kambing, haha. Menu lainnya yang mungkin jarang diketahui orang adalah nasi kari India. Sejauh ini saya hanya menemukannya di pujasera Golden Shoe. Meski tampaknya berantakan, rasanya sungguh sedap. Nasi ini juga disajikan beserta daging kambing dan juga lauk lainnya seperti kubis, tahu dan telur. Saya harus mencari tahu apakah kedai ini masih buka di pujasera sementara yang terletak di samping stasiun MRT Telok Ayer.

Nasi kari India. 

Jika anda mengunjungi Singapura, kini anda memiliki beberapa pilihan yang bisa anda coba. Seleksi di atas hanyalah sedikit dari banyak makanan enak yang ditawarkan di Singapura. Mungkin saya akan menulis topik yang serupa lagi di kemudian hari. Selamat mencoba! 

No comments:

Post a Comment