Total Pageviews

Translate

Monday, October 8, 2018

The Perspective

Two months ago, right before my birthday, I received the news about the death of a friend. I heard such news now and then these days, but just like what happened on Valentine's day 2017, this one hit me hard. The person that passed away was not only my schoolmate, he also sat right next to me when we were in Primary 2. He was this tall guy with a water bottle hanging on his neck (and, if I remember correctly, he also had a dark blue President briefcase, a popular school bag then), staying not never far from my great grandmother's house. I remember laughing, so we must have had good times. We lost touch for the longest time since then. When I looked at his pictures that were forwarded to me after his death, it was safe to conclude that he was in his prime: he had a lovely family, a very successful job and traveled a lot. But for a person who looked so fine, he just died, allegedly due to pneumonia.

That's when it hit me. People my age die. We're not even 40 years old yet. His death was a reminder of my own mortality. I couldn't help thinking about the childhood days and the upbringing I went through. It wasn't bad, but one full of advices such as study well, get a good job, save the money for the rainy day, travel the world when you are old and grey.

Now, Mum and Dad came from a big family. In Dad's case, he was raised by a stern father who didn't talk much and worked extremely hard to provide for his family. Both of them had seen the difficult times of being Chinese, especially after the last day of September 1965. They were shaped by the hardship in the world where internet didn't exist, the same world where taking aeroplane was a luxury not many could afford then. I guess that's where all the advices came from.

Those were good advices and I used to believe them wholeheartedly, but the death of my friend made me rethink the last one. When I looked at my Mum and her sisters, only one of them is physically and financially healthy enough in her 60s to travel the world. The rest, they either have money but not fit enough or the other way around. Worst case scenario is, one doesn't even have both. To think that they are last ones from what I called the strong men generation. People these days, my generation, we are so fragile we can just die, apparently. Reaching a ripe old age has become something that can't be taken for granted. 

To be frank, death is not even the scariest part. Yes, it's sad that we have to part ways with everyone we love one day, but the worst part in life is when you work so hard for the future you fail to concentrate on the present. If you don't live your life today, what if tomorrow never comes? It's a question that everyone should ponder from time to time.

My answer is no, I'm not going to wait. I believe in Bon Jovi when he sang the lyrics, "it's my life, it's now or never. I ain't gonna live forever." As long as I can provide for my family, I'm entitled to pursue what I love, too. And I love traveling. I'm not going to wait until I'm old and grey to do that. The bottom line is, do what you want while you can. It doesn't even have to be about traveling. No, most importantly, it's about passion.

Coming from Pontianak, I know people often say pang tia lai. It can roughly be translated as, "relax, we can do it later." It's no secret that I dislike hearing this stupid phrase. After reading this, I hope you can see the reason why. Life, my friends, simply doesn't wait. It moves on. Always. 

Travel to the end of the line.
Photo by Endrico Richard. 



Kisah Sebuah Perspektif

Dua bulan yang lalu, sebelum hari ulang tahun saya, terdengar kabar bahwa seorang teman telah meninggal. Berita seperti ini mulai sering terdengar, namun sama halnya dengan apa yang terjadi di hari Valentine tahun lalu, berita kali ini berdampak besar buat saya. Orang yang meninggal ini bukan hanya teman sekolah saya, tetapi juga teman sekelas yang duduk tepat di sebelah saya pada saat kita duduk di kelas dua SD. Saya ingat bahwa untuk ukuran bocah, dia tergolong tinggi dan dia selalu masuk ke kelas dengan botol minum yang tergantung di lehernya (dan kalau saya tidak keliru, tas sekolahnya adalah koper biru President berwarna biru tua, sebuah merek yang terkenal pada saat itu). Tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah nenek buyut saya. Kita banyak bercanda dan tertawa sewaktu duduk sebangku. Setelah lulus SD, saya kehilangan kontak dengannya, namun dari foto-foto yang saya terima dari teman-teman lain setelah dia meninggal, saya bisa melihat bahwa dia telah berkeluarga dan karirnya sangat bagus sehingga memungkinkan dia untuk berlibur ke mana-mana. Namun siapa sangka orang yang terlihat prima kondisinya ini malah meninggal begitu saja, disinyalir karena pneumonia

Hal inilah yang membuat saya tersentak. Orang-orang seumuran saya meninggal, padahal kita belum lagi mencapai 40 tahun. Apa yang terjadi dengan teman saya ini membuat saya berpikir lagi bahwa saya pun tidak akan hidup abadi. Saya lantas teringat tentang masa kecil saya, masa kecil yang penuh dengan nasihat seperti belajar yang rajin, cari kerja yang baik, menabung untuk hari esok, berlibur setelah pensiun di usia senja. 

Untuk memahami hal ini, saya mundur lagi ke belakang dan melihat kembali keluarga Papa dan Mama. Mereka berasal dari keluarga besar dan khususnya Papa, dia dibesarkan oleh seorang ayah yang tidak banyak berbicara dan bekerja keras setiap hari untuk membiayai keluarganya. Orang tua saya tumbuh di hari-hari dimana mereka melihat susahnya menjadi seorang Tionghoa, terutama setelah hari terakhir September 1965. Mereka dibentuk oleh kerasnya hidup di dunia yang belum ada internet, dunia yang sama dimana menaiki pesawat adalah suatu kemewahan yang tidak bisa dicapai banyak orang. Saya rasa dari pengalaman mereka inilah nasihat-nasihat ini lahir. 

Saya dulu selalu mempercayai wejangan ini dengan sepenuh hati, tapi meninggalnya teman saya ini membuat saya berpikir ulang. Ketika saya melihat Mama dan adik-adiknya, hanya satu yang cukup sehat secara fisik dan finansial untuk berlibur di usia 60an. Yang lainnya, ada yang cukup berada tapi tidak sehat dan ada pula yang sebaliknya. Skenario terburuk adalah mereka yang tidak sehat dan juga tidak memiliki cukup uang, padahal mereka adalah angkatan terakhir dari generasi yang saya sebut sebagai generasi orang yang kuat fisiknya. Orang-orang setelah generasi tersebut, mereka yang seangkatan dengan saya, ternyata kita begitu rapuh dan bisa meninggal kapan saja.  

Saya katakan dengan jujur bahwa kematian sebetulnya bukanlah hal yang paling mengerikan. Ya, tentu sedih rasanya karena kita harus berpisah dengan mereka yang kita cintai, namun hal terburuk yang bisa terjadi dalam hidup ini adalah ketika anda bekerja terlalu keras untuk hari esok dan gagal menikmati hari ini. Jika anda selalu menunda untuk menikmatinya, bagaimana jika hari esok tidak lagi tiba bagi anda? Ini adalah pertanyaan yang perlu ditinjau dari waktu ke waktu. 

Jawaban saya pribadi adalah, tidak, saya tidak akan menunggu. Saya percaya Bon Jovi ketika dia menyanyikan lirik, "ini adalah hidup saya, sekarang atau tidak sama sekali. Saya tidak akan hidup selamanya." Jadi selama saya bisa menafkahi keluarga saya, maka saya berhak melakukan hobi yang saya sukai. Dan saya suka jalan-jalan, oleh karena itu saya tidak akan menunggu sampai saya menjelang usia senja untuk melakukannya. Intinya adalah anda harus melakukan apa yang anda mau selagi anda bisa. Ini tidak hanya berarti liburan dan jalan-jalan. Yang penting adalah bagaimana anda mengejar apa yang menjadi impian anda. 

Sebagai penutup, sebagai orang yang berasal dari Pontianak, saya tahu orang-orang sering berkata pang tia lai. Frase ini kira-kira bisa diterjemahkan seperti ini, "santai saja, nanti juga bisa dikerjakan." Bukan rahasia lagi bahwa saya tidak menyukai frase bodoh ini. Saya harap tulisan kali ini memaparkan alasan kenapa saya sangat anti dengan ucapan tersebut. Hidup tidak menunggu. Hidup selalu beranjak maju ke depan, meninggalkan mereka yang tidak mau turut serta. Karena itu jangan sia-siakan waktu anda...

No comments:

Post a Comment