Total Pageviews

Translate

Saturday, September 2, 2017

The Divine Intervention

You know the saying that God works in a mysterious way? I think I had such an experience. Mind you, by my own admission, I'm not a very religious person. In life, I quote Lennon-McCartney better than I quote Bible. That, apparently, doesn't mean that I am not part of His greater plan. This is the story where He used me to deliver His plan. Personally, the role was like less as a messenger but more of as a middle man. It was revealed to me much later on as hindsight, that I was part of a beautiful love story written by Him in a way only He could do.

It began as a day in a life for me, where I was struck by ideas. It was quite common for me to be brimming with ideas, where some would then be realized and some would stay forever as ideas. On that occasion, I was thinking of a road trip with old friends to meet some old friends that lived on a road less traveled. Once I made a simple plan for our trip to Bekasi and Karawang, I posted the event on Facebook page and see how it went. At the same time, I nudged them all the time on our alumni chat group. Eventually I formed a gang of seven, consisting of some familiar faces, some that I hadn't seen in years and one that I never met before until the existence of Whatsapp. Three of them were already in Jakarta, alright, but as I flew in from Singapore, the other three also made their way from other towns, namely Bogor, Pontianak and Ketapang.

The day that started all.
Picture credit: Endrico Richard
We had a small gathering of perhaps around 20 people the night before our departure, just friends having dinners and talked about our lives for the past 18 years, since the day we left high school. That was a fun prelude before the trip! Then, on the following morning, we began our ride. I was on the driver seat, driving with a rusty skill and an outdated memory about the roads in Jakarta. The traffic jam was killing my knee, as I had this bad habit of stepping on the clutch pedal to switch gears very often. A painful ride though it was, the trouble was worth it, because after few hours, we eventually arrived at the house of our long lost friend.

The road trip team members, four out of seven.
Now, if I could trust my instinct, this was the very first time our main characters met. Prior to this, I believe there was no interaction whatsoever between the two, because they never crossed path, be it at school or after graduation, and they lived worlds apart from each other. Anyway, let me introduce them first: she was our host, a beautiful woman from who had gone through some of the toughest things in life. The man beneath the scruffy look was formerly a close friend of mine in high school and during the first year of college before we sort of drifted apart as years went by. He was easily one of the nicest, most polite, and gentlemanly guy around (he got the best handwriting ever for a man!), albeit a bit quiet and definitely not the loudmouth, rock n' roll type like me.

I remember her saying that she never thought we would really make it, because after all these years, only her closest friend ever visited her once or twice. After having no visitors for the longest time, it was a very unprecedented lovely surprise that our gang arrived at her doorstep. I remember having few slices of nice pudding as I observed a living room full of cheerful friends, where what was a seemingly casual conversation between the two took place (she asked what he was doing and he said he was in the same construction materials business as her). There was nothing unusual about it, certainly not a love at first sight if you asked me, but hey, what did I know? Haha. We had an early dinner afterwards and off we went for the second leg of our journey to Karawang.

Fast forward to months later, we started hearing that some friends spotted the two of them together, but as curious as I was, I thought of not saying anything until they told us themselves, just to give them some privacy. And that they eventually did. In early June this year, roughly a year after they first met, each of the road trip member received a personal wedding e-invitation. I jokingly told the rest that I almost spit out my spaghetti during my lunch time as I was so surprised by it and they mockingly replied that I simply couldn't accept it because I was jealous.

But I wasn't jealous, of course. On the contrary, I was very much amused, because it got me thinking, so all this wouldn't happen if I didn't plan the trip in the first place? As tempting as it sounds, I don't think I want to claim that credit. I am not that great, anyway. For the fact that I never guessed the two would end up together, it only goes to show that what we did was only the first part of the divine intervention. For some strange reason, I was used by Him to bring them, the two souls made in heaven, together on this earth. The others and I were were chosen to take part and witness the unknown beginning of the story that was unraveled to us a year later.

It was a beautiful love story. It's also a privilege to be a part of the blessing. I'm excited for them and I hope you can feel it, too, through this writing. Let's join me in wishing them a happy life ahead...

Early dinner at Bebek Kaleyo, the spiciest duck ever, before heading to Karawang.

Kuasa Yang Di Atas

Saya sering mendengar bahwa Tuhan bekerja secara misterius. Secara pribadi, saya rasa saya tidaklah terlalu religius. Di dalam hidup ini, terus-terang saya lebih mahir mengutip lirik Lennon-McCartney daripada ayat kitab suci. Akan tetapi, meski saya memiliki kekurangan, ini ternyata tidak berarti bahwa saya tidak dipakai Tuhan untuk rencana-Nya. Cerita berikut ini adalah cerita yang, menurut saya, mengisahkan bagaimana saya dan teman-teman berpartisipasi dalam rencana Yang Maha Kuasa. Ketika itu saya sama sekali tidak tahu, terlebih lagi karena peran saya yang lebih mirip perantara daripada pembawa pesan. Setelah saya lihat kembali, barulah saya tahu bahwa saya adalah bagian dari kisah cinta yang ditulis oleh Tuhan menurut kehendak-Nya.

Semua ini bermula seperti hari biasa, dimana saya selalu memiliki beberapa ide yang saya pikir bisa diwujudkan. Pada kesempatan itu, terbersit di benak saya bahwa mungkin saya bisa melakukan perjalanan darat bersama teman-teman lama dan mengunjungi mereka yang sudah lama tidak ditemui. Sesudah saya membuat sebuah rencana sederhana (kumpul, makan malam, berangkat besok pagi, singgah di Bekasi dan menginap semalam di Karawang), saya membuat event di halaman Facebook alumni angkatan '98. Kemudian, sambil menjelang hari-H, saya berulang kali menyinggung acara dalam berbagai kesempatan di chat grup alumni. Pada akhirnya terbentuklah anggota perjalanan yang cukup untuk satu mobil, dengan komposisi berikut: tiga teman yang masih sering bertegur-sapa, dua teman yang sudah lama tidak berjumpa dan satu teman yang sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan saya sampai kita bertemu di grup Whatsapp. Tiga dari mereka memang sudah tinggal di Jakarta, namun tiga yang lain datang dari Bogor, Pontianak dan Ketapang hampir bersamaan waktu dengan saya yang terbang dari Singapura menuju Jakarta.

Alumni angkatan '98.
Setibanya di Jakarta, kita makan malam di Sun City. Sekitar 20an alumni berkumpul dan berbagi kisah selama 18 tahun terakhir, terhitung sejak kita lulus SMA. Senang rasanya bisa berkumpul lagi! Kemudian, keesokan harinya, kita pun memulai perjalanan. Saya berada di kursi pengemudi, menyetir lagi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dengan ingatan yang memudar tentang jalan-jalan di Jakarta. Macetnya perjalanan sungguh menyiksa lutut saya karena kebiasaan buruk saya dalam menginjak kopling selama mengendarai mobil, tapi upaya yang kita tempuh akhirnya terasa membuahkan hasil saat kita akhirnya tiba di rumah teman lama yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa.

Walau saya tidak tahu pasti, saya selalu berpikir bahwa inilah pertama kalinya pemeran utama kita saling bertemu. Sebelum ini, saya rasa mereka hampir tidak mengenal satu sama lain dan saya berasumsi bahwa mereka tidak pernah berinteraksi di masa sekolah dan setelah lulus. Oh ya, mari saya perkenalkan mereka dulu: tuan rumah yang kita kunjungi adalah seorang wanita tegar yang sudah menjalani berbagai cobaan hidup, sedangkan sang pria adalah seorang lelaki yang sopan, baik dan tipe pria sejati (dengan tulisan tangan pria yang paling bagus yang pernah saya lihat!), namun tergolong pendiam.

Saya ingat ketika tuan rumah kita berujar bawah dia tidak pernah menyangka bahwa kita benar-benar akan berkunjung, soalnya setelah bertahun-tahun lamanya, hanya seorang sahabat karibnya yang pernah mampir. Setelah lama tidak dihampiri tamu, kunjungan kita seakan sulit dipercaya. Saya juga ingat saat saya menyantap beberapa potong puding sambil mengamati wajah-wajah ceria di ruang tamu, tempat yang sama dimana percakapan antara kedua tokoh utama ini terjadi (sang wanita bertanya apa pekerjaannya dan sang pria menjawab bahwa dia juga mengurus toko bangunan). Tidak ada yang istimewa dari perbincangan mereka, jadi saya tidak memiliki kesan bahwa itu adalah cinta pada pandangan pertama. Akan tetapi saya memang sering salah menduga, jadi anggap saja saya memang tidak becus dalam menilai, haha. Sesudah itu, kita pun berangkat untuk makan malam dan melanjutkan petualangan ke Karawang.

Beberapa bulan kemudian, kita mulai mendengar berita dari teman-teman lain yang konon melihat mereka berdua. Walau saya juga penasaran, sekali ini saya diam saja untuk memberikan pasangan ini privasi sampai mereka sendiri siap untuk memberikan kabar gembira pada kita. Akhirnya, awal Juni tahun ini, mereka mengirimkan undangan nikah kepada setiap anggota tim Karawang. Setelah undangan saya terima, sambil bercanda saya katakan bahwa spaghetti yang saya makan pas jam makan siang hampir saja muncrat karena berita heboh ini. Teman-teman tim Karawang pun dengan iseng menggoda bahwa itu karena saya iri dan tidak bisa terima.

Tentu saja saya tidak iri. Bahkan sebaliknya, saya sangat terkesan, sebab saya jadi berpikir betapa menariknya hidup, bahkan yang seperti ini pun bisa terjadi. Saya membayangkan, jika saya tidak merencanakan perjalanan ini, apa mereka lantas tidak akan bersama? Saya tidak tahu, tapi yang jelas saya tidak berani berbangga hati dan beranggapan bahwa ini adalah ide saya. Kenyataannya sederhana saja, kalau saya tidak pernah menyangka bahwa mereka akan jadian dan menikah, itu  berarti apa yang saya lakukan hanya langkah awal dari kuasa Yang Di Atas. Untuk sesuatu alasan yang mungkin tidak akan pernah saya pahami, saya dipakai untuk mempertemukan dua insan yang terpisah di bumi ini. Teman-teman dan saya terpilih untuk mengambil bagian sebagai saksi dari awal dari sebuah kisah yang kemudian diakhiri dengan sedemikian indahnya.

Seperti kata pepatah lainnya, semua indah pada waktunya. Saya dan teman-teman merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari kisah penuh berkat ini. Semua turut bergembira untuk pasangan ini dan saya harap anda pun bisa merasakannya. Mari bergabung dengan saya untuk mengucapkan doa dan harapan yang terbaik untuk mereka...

Event 2016.



No comments:

Post a Comment