Total Pageviews

Translate

Sunday, August 13, 2017

The Greatest Friendship Story Ever Told

I was at the coffee house the other day, talking with Endrico, when his daughter took our picture. Then, as I looked at the photo, I casually wrote this before I posted it on Facebook: "friendship is... 22 years of hanging out together in Pontianak, Kuching, Jakarta, Batam, Bintan, Bekasi, Karawang, Bandung, Surabaya, Malang, Batu, Bali, Kuala Lumpur, Singapore, Bangkok, Ho Chi Minh City, Phnom Penh and Siem Reap. Any time, any occasion, anywhere..."

As I re-read it again, it made me realize how much I've been blessed in this life. By any definition, I'm not the best, the smartest, the richest or whatever, but the way I look at it, I've been part of what can safely be described as one of the greatest friendship stories ever told. Endrico is one friend from so long ago, from when we were kids studying at the same school in a small town called Pontianak. Today, we're still as close as ever. We can talk about anything, from life to nonsense, with the closeness of two old friends that speak and understand the same lingo.

In Pontianak, during Chinese New Year, 2005. 

In its normal course, the friendship could have ended the moment we left the school. I mean, we walked different paths right after the graduation and although we kept in touch (he was the one who taught me how to create a Hotmail email address when he came back from Kuching in the late 90s), we didn't exactly design any road map for us to be living in the same neighborhood (we are just literally one bridge away from one another) many years later, in a foreign country far away from where we all began. It's just life as it happens, miraculously.

In Singapore, 2015. 

Within the time span of almost 20 years since we left the school, we managed to travel to many places together. Usually, long after we graduated, we should consider ourselves lucky if we could afford a small gathering or dinner once in a blue moon, but we did the unthinkable by traveling not only to one, but to 18 destinations in six Southeast Asia countries. Those memories, the laughter and, of course, the pictures, as Endrico is a keen photographer, were brilliant. To think that we could actually do that while going through many phases in life such as getting married and becoming a father, it was a privilege, really.

In Phnom Penh, 2009.

God has been kind to us that all were paced nicely. In the midst of all this, we were still allowed to achieve many other feats. We organized a high school reunion with a little help from our friends, which was quite a success, if we discounted glitches such as our failure in informing the first two participants about the change of event timing, haha. Then we had a road trip that unwittingly united two beautiful people in marriage one year later. There was also a walking tour this year, one where we shared the responsibility of creating the best experience ever for our guests.

With the early birds, before reunion 2014 started. 

Looking back, it's been one helluva ride. The friendship we have is indeed unique, certainly not one experienced by many. When I stopped and gave it a thought, other than the two of us, I really couldn't think of any other people I know that had such privileges in life. We shall see what future brings!

By the way, if you ever wonder what sort of person Endrico is, I can assure you that he's a fine gentleman and, I think, a much better person than I will ever be. He is all smiley, never pushy. While he's a team player with a questionable reliability, he does what he can and excels in what he does. His presence brightens up the room, for he's not intimidating but very much easy-going. In short, he's really a good friend one can ask for.

The picture that inspired it all, 2017.


Sebuah Kisah Persahabatan

Saya sedang berada di pujasera Kopitiam tempo hari, berbincang dengan Endrico ketika putrinya memotret kami. Saat saya melihat hasilnya, saya iseng menulis kalimat berikut ini sebelum saya pos di Facebook: "persahabatan adalah... 22 tahun nongkrong bersama di Pontianak, Kuching, Jakarta, Batam, Bintan, Bekasi, Karawang, Bandung, Surabaya, Malang, Batu, Bali, Kuala Lumpur, Singapore, Bangkok, Ho Chi Minh City, Phnom Penh and Siem Reap. Bila waktu, di setiap kesempatan, di mana saja..."

Di Bali, 2005.

Ketika saya baca kembali, saya menyadari bahwa kalimat ini lebih dalam maknanya dari yang saya kira sebelumnya. Saya jelas bukan yang terbaik, paling pintar, paling kaya atau apa pun, tapi yang saya adalah bagian dari sebuah kisah persahabatan terbaik yang pernah terjalin. Bagaimana tidak? Endrico adalah teman sejak bertahun-tahun silam, sejak kami masih murid sekolah di Pontianak. Hari ini, kami masih akrab seperti dulu. Topik apa pun bisa dibahas, mulai dari yang serius seperti perihal kehidupan sampai lelucon yang mengundang tawa. Semua ini dibicarakan dengan keakraban dan istilah bahasa yang hanya dimengerti oleh dua teman lama.

Di Kuching, saat kita masih kuliah, sekitar tahun 1999-2000.

Persahabatan masa sekolah biasanya mulai merenggang atau bahkan usai setelah lulus. Sebagaimana halnya teman-teman lain, kita juga masing-masing melangkah ke jalan hidup yang berbeda dan walaupun kita tetap saling kontak (Endrico adalah orang yang mengajarkan saya cara membuat email di Hotmail di akhir tahun 90an), kita tidak berpikir atau berencana bahwa suatu hari nanti kita akan tinggal di negara asing yang jauh dari Pontianak, di kawasan yang berdekatan dan hanya dipisahkan oleh jembatan. Kita hanya menjalani hidup apa adanya. Apa yang terjadi berikutnya adalah bukti bahwa mukjizat kadang terjadi.

Yang tidak kalah menakjubkan adalah kenyataan berikut ini. Dalam kurun waktu hampir 20 tahun setelah lulus sekolah, kita sempat bertualang ke beraneka tempat tujuan. Kebanyakan dari kita hanya berkumpul dan makan malam bersama, jadi fakta bahwa kita bisa berkelana ke 18 tempat di enam negara Asia Tenggara adalah sesuatu yang jelas tidak lazim dan menarik untuk dicatat. Sulit untuk dibayangkan bahwa kita bisa melakukan itu sambil menjalani berbagai fase kehidupan, seperti pernikahan dan menjadi seorang ayah. Ini sungguh sebuah kebebasan yang tidak terbilang harganya.

Di Genting, 2009.

Berkah dan karunia-Nya membuat semua indah pada waktunya. Di tengah berbagai kesibukan kita di dunia kerja dan peran kira sebagai kepala keluarga, kita masih bisa menyisihkan waktu untuk mengerjakan hal-hal lain. Bersama-sama teman lain kita berhasil menyelenggarakan reuni yang cukup berhasil, terlepas dari kesalahan-kesalahan kecil seperti gagalnya kita dalam mengabarkan perubahan waktu acara kepada dua peserta yang paling pertama mendaftar, haha. Kemudian kita juga mengadakan perjalanan darat yang secara tidak terduga mempersatukan dua teman dalam jenjang pernikahan. Lantas ada juga tur jalan kaki di tahun ini, dimana kita silih berganti mengantarkan teman-teman melihat Singapura.

Di Bekasi, waktu jalan-jalan ke Karawang, 2016.

Jika dilihat kembali, ini adalah sebuah kisah persahabatan yang unik dan jarang terjadi. Rasanya saya tidak mengenal orang lain yang memiliki kisah serupa. Tentang Endrico sendiri, jika anda penasaran seperti apa orangnya, saya bisa jabarkan dia sebagai pribadi yang sopan dan mungkin lebih baik daripada saya. Dia selalu tersenyum, tidak pernah terkesan memaksa. Terkadang dia bisa menghilang begitu saja karena sesuatu dan lain hal yang lebih mendesak, namun ketika dia berpartisipasi, dia memainkan perannya sebaik mungkin dan hasilnya dijamin memuaskan. Kehadirannya membuat riang suasana, sebab karakternya tidak mengintimidasi, melainkan gampang menyesuaikan diri dengan orang lain. Pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa dalam kelebihan dan kekurangannya, dia adalah seorang teman yang luar biasa...

Di Jakarta, 2004.

No comments:

Post a Comment