Total Pageviews

Translate

Friday, July 24, 2020

Thai Food

Thailand is many great things combined into one. It's tourist-friendly, full of smiles and culturally infectious (the Thai greeting of sawasdee krab is irresistible). On top of that, the food is great, too! When I think of Thai food, I automatically recall the fond memory of how delicious it is, even when I don't have anything particular cuisine in mind! Somehow, someway, there is a certain excitement when it comes to meal time in Thailand.

I don't remember much about Thai food in Indonesia, probably because I never had one back then. My first introduction happened in Singapore. As a melting pot of many cultures from around the world, Singapore has a great selection of Thai cuisines, especially at Golden Mile. It certainly has the look and feel of Thailand there!

Thai food for lunch with Nuryani!

My earliest recollection of Thai food was a restaurant at Far East Plaza called Sakura (it has closed down and merged with Nana Thai now). I was with Jimmy Lim, the same friend who introduced sushi to me. Looking back, just because one or two cuisines were served with sweet sour sauce, it didn't mean they were authentic Thai food, but I wouldn't know for sure then! I only knew that the food there was good and I loved it. Then I remember the time my friend Sudarto and I had mango salad as an appetizer around Bencoolen. Now that sounded about right, so whatever that we had after that must be Thai food, haha. 

So what do I like about Thai food? As I wrote about it, I realized that apparently I wasn't as adventurous as I originally thought. In fact, for the past 14 years, I subconsciously stuck with what I already tried and loved best. The list is not long and there are only four, I'm afraid, haha.

Thai basil minced pork rice at centralwOrld, Bangkok.

Thai basil minced pork rice is a personal favourite, but it was like striking a lottery. If I was unlucky, I'd get a plate of burning hot minced pork rice. Otherwise it'd be a tasty meal with the right amount of spiciness. I'm not sure if the basil leaves is edible and I normally pick them away from the meat, but I reckon it is the reason why it tastes so good!

Pad thai at Terminal21, Bangkok.

Then there is pad thai. At a glance, it looks like fried kway teow, but they aren't the same. Pad thai has this tinge of sour taste, probably from lime. I don't know, I'm not an expert here. In Bangkok, it is actually served with a spoonful of sugar at the side of the plate. I don't recall seeing this in Singapore, but it's best eaten with sugar! I like my pad thai sweet!

Tom yum soup in Pratunam, Bangkok.

The signature dish, I believe, is tom yum soup. It's hot, it's sour, it'll spice up your life! I'm not a big fan of food that is both sour and spicy, but I can't resist having tom yum soup with a bowl of rice. It's what I call food temptation! The funny part (or the irony, depends on how you see it) is the fact that our favourite stall in Singapore is manned by Mainland Chinese, not Thai. The restaurant is called Hot Spot, located next to Sim Lim Square. Highly recommended!

Pineapple fried rice at Asiatique, Bangkok.

Then of course, as someone who loves fried rice, I have to talk about the pineapple fried rice. It's brilliant and uniquely Thailand. I noticed that some stalls fry it with raisins and I love the sweet sensation of it. I liked the one at Sultan's Kitchen, but it had closed down for quite some time. Haven't found a worthy replacement yet. Any recommendations are welcome. 

As I mentioned earlier, Golden Mile is a rather interesting place in Singapore. It's very Thai flavoured and the food at Diandin Leluk is nice. But nothing beats the real deal, so go to Bangkok if you can. The culinary is mouth-watering, definitely one of the main tourist attractions there, apart from sightseeing, shopping and partying!

Dinner at Diandin Leluk, Golden Mile. 


Masakan Thai

Thailand adalah sebuah negara dengan banyak pesona. Ramah terhadap turis, penuh senyum dan unik serta memikat pula budayanya (saya sungguh terkesan dengan salam khas yang disertai ucapan sawasdee krab). Selain itu, masakannya pun sedap nian. Bilamana makanan Thai melintas di benak saya, yang terpikir adalah rasanya yang enak. Pokoknya seru kalau sedang berburu makanan di Thailand.  

Saya tidak memiliki kenangan tentang masakan Thai sewaktu tinggal di Indonesia, mungkin karena saya tidak pernah berkesempatan untuk mencicipinya dulu. Saya mulai merasakan nikmatnya masakan Thai di Singapura. Sebagai tempat bertemunya aneka budaya dari berbagai penjuru dunia, Singapura tentu saja memiliki menu masakan Thai, terutama kalau anda pergi ke Golden Mile. Mirip Thailand suasananya!

Makan siang ala Thai bersama istri!

Seingat saya, masakan Thai pertama kali saya coba di restoran Sakura yang berada di Far East Plaza (tempat makan ini sudah tutup dan berubah menjadi Nana Thai sekarang). Saat itu saya bersama Jimmy Lim, teman lama yang juga membawa saya menjajal sushi untuk kali pertama. Kalau saya kenang kembali, hanya karena menunya asam manis, ini tidak lantas berarti bahwa sudah pasti ini adalah masakan Thai yang otentik. Yang saya tahu pada saat itu adalah lezatnya masakan di Sakura. Setelah itu, saya dan Sudarto Bong makan di kawasan Bencoolen. Hidangan pembukanya adalah salad mangga, jadi sepertinya sudah pasti bahwa menu berikutnya adalah masakan Thai, hehe. 

Jadi apa yang saya sukai dari masakan Thai? Saya pikir ada banyak yang saya sukai, namun setelah saya coba tulis ceritanya, ternyata saya bukanlah pemberani dalam hal icip-icip. Selama 14 tahun ini, saya cenderung memesan menu yang itu-itu saja. Daftar masakan Thai favorit saya ternyata cuma ada empat menu, haha.

Nasi babi cincang daun kemangi di centralwOrld, Bangkok.

Yang pertama adalah nasi babi cincang daun kemangi. Saya suka ini, tapi terkadang menu ini terasa seperti membeli lotere. Setiap tempat beda pedasnya. Ada yang luar biasa membara, ada pula yang pas di lidah. Saya tidak tahu apakah kemangi bisa dimakan dan biasanya saya pisahkan dari dagingnya, tapi mungkin daun ini adalah rahasia kenapa menu ini sedap rasanya.

Pad thai di Terminal21, Bangkok.

Kemudian ada lagi yang disebut pad thai. Secara sekilas, pad thai ini mirip kwetiau goreng. Serupa, namun tidak sama. Pad thai memiliki sedikit rasa asam yang mungkin berasal dari jeruk nipis. Saya hanya menerka, karena saya bukan pakar. Di Bangkok, pad thai biasanya disajikan dengan sesendok gula pasir di samping piring. Saya tidak pernah melihat penyajian seperti ini di Singapura, namun saya rasa pad thai enak dimakan bersama gula. Saya suka rasanya yang manis!

Tom yum sup di Pratunam, Bangkok.

Yang khas dan tidak asing lagi adalah sup tom yam. Pedas dan asam, rasanya pasti membangkitkan selera! Saya biasanya tidak suka kombinasi pedas dan asam, tapi saya siap menyantap semangkok tom yam dan sepiring nasi. Terlalu menggoda rasanya! Satu hal yang lucu (atau ironis, tergantung sudut pandang) adalah kedai favorit yang sering saya dan istri kunjungi di Singapura. Kedai ini dikelola oleh orang Cina Daratan, bukan orang Thai, hehe. Restoran yang berada di samping Sim Lim Square ini bernama Hot Spot. Layak dicoba!

Nasi goreng nenas di Asiatique, Bangkok.

Dan... sebagai pencinta nasi goreng, saya harus berbicara tentang nasi goreng nenas. Ini yang unik dari Thailand, biasanya digoreng dengan kismis sehingga ada sensasi manis. Saya suka nasi goreng nenas yang dijual orang Thai di Sultan's Kitchen, namun sayang sudah tutup. Belum ketemu penggantinya. Kalau ada yang tahu, jangan segan untuk merekomendasikan pada saya. 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Golden Mile adalah tempat yang bernuansa Thai di Singapura. Anda boleh coba restoran bernama Diandin Leluk. Akan tetapi seenak apa pun masakan Thai di Singapura, masih lebih sedap lagi kalau kita makan langsung di Thailand, jadi anda harus coba ke Bangkok. Wisata kuliner adalah salah satu atraksi utama di sana, selain daerah wisata, berbelanja dan dunia malam!

Makan malam di Diandin Leluk, Golden Mile. 

Monday, July 13, 2020

Interests

Something lingered in my mind right after the lunch with my wife. Earlier today, we talked about quite fair bit of things, ranging from GE2020 to the recent impact of COVID-19 in Vietnam (the workers were laid off) and Hong Kong (the schools closed down again). Politics, economy and education. All the adult stuff! To think that these weren't exactly my interests, let's say 15 years ago!

Then it occured to me that the changes had much to do with everything that came along as I grew older, be it the exposure, the experience or even the ability to do something about it. Certain things in life did shift in such a manner, apparently. Some came, some stayed and others simply faded away. We might be blissfully unaware of this, but as we progressed in life, we started having new interests.

Eating bread! The time when I was working in Jakarta. 

For example, years ago, when I was still working in Jakarta, I wouldn't understand why people love travelling. In hindsight, it wasn't difficult to see why. At that time, I barely made ends meet. Every night, my immediate concerns were whether I should to go for pecel lele and two plates of nasi uduk that would cost me IDR 8K or settle for a cheaper meal such as fried rice or ketoprak

Having said that, holiday was like the furthest thing from my mind. It must be a miracle that I managed scrimp and save for short trips to Bandung and Bali, but most of the time, I didn't even think of travelling. It was only later on, after I moved to Singapore, that things were gradually improving and eventually travelling as a hobby was made possible. Loving it since then.

When we stayed together in Kembangan. You gotta pardon the low resolution!

Anyway, my friend Jimmy once said that life is like staying at a flat. The higher the level of your unit is, the wider your view will be. It is a good analogy that I can relate with. The bottom line is, I began noticing things that were always there before and became interested in them. It turned out that it just happened this way seamlessly, when we were ready for it. Kind of amusing, I'd say. 

The latest thing that I picked up recently was investment. To be frank, I was horrible with numbers and normally I wouldn't bother. But then I discovered the good feeling about it. No, I wasn't talking about stocks as it was confusing. Property was way too much of a hassle and costly. No money game for me, too. What caught my attention was physical gold. It was a friendly investment and a beginner didn't need to be bloody smart or to start big.

Bye-bye, gold bar. 

Another close friend of mine had been telling me about this since long ago, but I only discovered how right he was recently. Making a few hundred dollars from selling a gold bar did feel good, haha. Now that I think of it, perhaps this is the reason why a generation before me preferred to buy gold. They were wise. The precious metal is nice to look at and the price generally goes up, so it sounds like a good deal, doesn't it?

To summarize, it's funny how our interests evolve as we age, but I guess life, in a way, is also series of discoveries. New ones bring us one step further ahead while the existing ones continue to define who we are. Oh yes, certain things do remain. For me, the oldest lifelong interest is probably Godzilla. Call me childish if you like, but the King of Monsters is here to stay, hahaha...


Topik Dan Minat

Ada sesuatu yang terngiang-ngiang di benak saya setelah makan siang bersama istri. Di saat bersantap, kita berbicara tentang berbagai topik, mulai dari Pemilu 2020 di Singapura sampai dampak dari COVID-19 di Vietnam (para pekerja di-PHK) dan Hong Kong (sekolah kembali ditutup lagi). Kita bercakap-cakap tentang politik, ekonomi dan pendidikan. Semuanya topik dewasa! Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang kita bicarakan ini bukanlah hal yang menarik bagi saya 15 tahun silam. 

Lantas terpikir oleh saya bahwa perubahan bahan pembicaraan ini ada hubungannya dengan bertambahnya usia. Semakin berumur, semakin kita melihat banyak hal, kian berpengalaman dan bahkan mungkin bisa melakukan lebih banyak hal dari sebelumnya. Beberapa hal di dalam hidup kita ternyata berubah tanpa kita sadari. Ada hal yang baru, ada yang tetap sama, ada pula yang pudar dan hilang.

Makan roti tawar sewaktu kerja di Jakarta. 

Sebagai contoh, bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih tinggal di Jakarta, saya heran kenapa orang suka berlibur. setelah melihat kembali, tidak sulit bagi saya untuk mengerti, kenapa dulu saya gagal paham. Pada masa itu, saya baru mulai bekerja. Tiap malam terjadi pergumulan di dalam hati, apakah saya bisa menikmati kemewahan berupa dua piring nasi uduk dan lauk pecel lele dengan total harga delapan ribu rupiah, atau menyantap makan malam yang lebih murah seperti nasi goreng atau ketoprak

Jadi untuk makan saja susah, apalagi liburan. Adalah mukjizat bahwa saya bisa menyisihkan uang untuk liburan singkat ke Bandung dan Bali. Pokoknya saat itu tidak terpikir untuk liburan. Setelah saya pindah ke Singapura dan kondisi finansial menjadi lebih baik dari sebelumnya, barulah liburan itu terasa tidak mustahil. Semenjak itu saya jadi senang bepergian.

Ketika kita tinggal di Kembangan, Singapura. Maaf atas gambar yang buram, hehe.

Berkaitan tentang hal ini, teman saya Jimmy pernah berkata bahwa hidup itu seperti tinggal di rumah susun. Semakin tinggi tempat tinggal anda, semakin jauh pula anda bisa memandang, sebab pandangan anda tidak lagi terhalang oleh gedung yang lebih rendah. Ini adalah perumpamaan yang bisa saya cerna. Istilahnya itu seperti sudah naik tingkat, jadi saya pun mulai memiliki waktu dan kesempatan untuk memahami hal-hal lain yang sebenarnya senantiasa ada di sekeliling saya. Ternyata ini adalah sebuah proses yang terjadi begitu saja, ketika kita sudah siap. 

Nah, satu pengalaman baru yang terjadi belum lama ini adalah investasi. Jujur saja, saya tidak pandai di bidang yang berkaitan dengan banyak angka, sehingga biasanya saya menjauh. Akan tetapi saya menemukan satu hal yang membuat saya senang. Tidak, saya tidak berbicara tentang saham yang rumit dan memusingkan. Properti juga tidak gampang dan mahal pula biayanya. Kalau permainan uang, terus-terang saya tidak tertarik. Yang membuat saya tergelitik adalah emas. Investasi ini terasa bersahabat dan seorang pemula tidak perlu bermodal besar.

Bye-bye, batang emas. 

Seorang teman baik telah sejak lama bercerita tentang hal ini kepada saya, namun saya baru menyadarinya bulan lalu. Seperti yang saya katakan di atas, senang rasanya bisa memperoleh keuntungan beberapa juta rupiah dari hasil penjualan sebatang emas, haha. Sekarang saya mengerti kenapa generasi sebelum saya memilih untuk membeli emas. Mereka memang bijaksana. Emas itu sedap dipandang mata dan harganya cenderung naik terus, jadi memang sepertinya ide yang bagus, bukan?

Sebagai kesimpulan, lucu juga bahwa minat kita berubah seiring dengan bertambahnya usia. Dalam hal ini, saya kira hidup ini seperti penemuan demi penemuan di setiap jenjang kehidupan. Minat yang baru membawa kita selangkah lebih maju, sedangkan minat dari sejak dulu mendefinisikan siapa jati diri kita sesungguhnya. Oh ya, beberapa minat saya tetap bertahan selama 40 tahun terakhir ini. Satu hobi saya yang paling lama, yang saya sukai dari sejak kecil hingga sekarang, adalah Gozilla. Anda boleh saja anggap saya kekanak-kanakan, tapi Godzilla akan tetap menjadi idola, hahaha...

Saturday, July 11, 2020

Book Review: Harry Potter And The Philosopher's Stone

It's been 20 years. Can you believe it? 20 long years, which means a generation that was born right after the book was released is 20 years old now. And they might not know a thing about Harry Potter. Oh, they wouldn't know what they had missed!

I remember buying my first Harry Potter book. It must be around year 2000. I bought it at a book store called Budaya in Pontianak after hearing the good buzz about it. The first book was called Harry Potter dan Batu Bertuah in Bahasa Indonesia. I was immediately hooked!

I read the English version for the first time ever recently. Since I know now how the story ends, I couldn't help wondering what J. K. Rowling was thinking when she wrote the one that started all. She wouldn't know that it would be a phenomenon, but those names, those familiar names such as Sirius Black, were there since the beginning. Did she already planned for him to be Harry's godfather then?

The 20th anniversary - Gryffindor edition.

20 years are such a long time and I had forgotten a lot of details in the book. It was fun to rediscover the magical world of Harry Potter again: Platform 9 3/4, Hogwarts, Quidditch and many more. For one who was there when the series was first released, it was like going back to something familiar that you know and love. 

Every character, from the Dursleys, Draco Malfoy to Albus Dumbledore, was so important and relevant. But now that I had a chance to look back, I believed that the most fascinating character was Severus Snape. He was so despicable! He disliked Harry, but yet he would protect him at all cost. As a character, he was misunderstood and mysterious at the same time. That's what made him interesting. Anyway, if you haven't read Harry Potter before and you feel confused about what I said, I can only tell you that there was a good reason why Dumbledore trusted him so much. 

Overall, it was a a nice beginning that brought us Harry Potter and it'd only get better as the series progressed. What's lovely about the book is the fact that it was so readable. I'd think, "probably one more chapter," but I'd never stop and continue reading! You don't get this feeling very often. Not even when reading the Lords of the Rings! So, yeah, good stuff. Six more books to go...

The actual platform in London!


Harry Potter Dan Batu Bertuah

Sudah 20 tahun berlalu. Tidak terasa, ya? 20 tahun, berarti generasi yang lahir setelah buku pertama ini terbit sekarang berumur 20 tahun. Bisa jadi mereka tidak tahu tentang Harry Potter. Oh, kalau saja mereka tahu fenomena seperti apa yang terlewatkan oleh mereka! 

Saya ingat saat saya membeli buku Harry Potter yang pertama. Saat itu kisaran tahun 2000. Setelah saya mendengar tentang hebohnya buku yang berjudul Harry Potter dan Batu Bertuah ini, saya pun membelinya di Toko Buku Budaya di Pontianak. Seusai saya baca, saya langsung menjadi penggemar!

Bulan lalu saya membaca edisi bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Karena saya sudah tahu bagaimana akhir dari cerita ini, saya jadi terbayang, apa sebenarnya yang ada di benak J. K. Rowling saat dia menulis buku pertama Harry Potter. Waktu itu dia tidak mungkin tahu bahwa novelnya ini akan menjadi sebuah maha karya, tapi nama-nama yang dipakainya, nama seperti Sirius Black, sudah ada di awal cerita. Apakah saat itu dia sudah merencanakan bahwa Sirius akan menjadi ayah angkat Harry di buku ketiga?

20 tahun Harry Potter - edisi Gryffindor.

20 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat saya lupa akan detil cerita di buku pertama. Seru rasanya saat menemukan kembali ajaibnya dunia Harry Potter, mulai dari Platform 9 3/4, Hogwarts, Quidditch dan masih banyak lagi. Bagi saya yang mengikuti kisahnya dari sejak awal diterbitkan, rasanya seperti mengenang kembali saat-saat yang indah dan tidak asing lagi.

Setiap karakter, mulai dari keluarga Dursleys, Draco Malfoy sampai Albus Dumbledore, penting dan relevan di dalam cerita. Kendati begitu, karena saya kini memiliki kesempatan untuk melihat kembali ceritanya, saya merasa bahwa yang paling membuat penasaran adalah Severus Snape. Dia begitu sinis dan menyebalkan. Dia juga tidak menyukai Harry, tapi dia selalu melindunginya secara diam-diam. Dia adalah tokoh cerita yang paling sulit dipahami dan misterius. Jika anda belum pernah membaca Harry Potter sebelumnya dan anda merasa bingung dengan pernyataan saya, maka perlu saya katakan bahwa ada alasan tersendiri kenapa Dumbledore begitu mempercayainya. 

Secara keseluruhan, buku pertama ini memperkenalkan kita kepada Harry Potter dan dunia sihir yang menakjubkan. Hal lain yang juga patut dipuji adalah cara penulisannya yang enak dibaca. Saya senantiasa berpikir bahwa saya akan berhenti setelah membaca satu bab berikutnya, tapi saya jadi terus membaca tanpa henti! Keasyikan membaca seperti ini tidak ditemukan di setiap buku. Bahkan Lords of the Rings yang legendaris pun tidak seseru ini. Pokoknya mantap. Masih ada enam buku lagi. Saya akan terus membaca!

Sunday, July 5, 2020

Laughter

Let's go for something light today: laughter. While I don't think I ever used the acronym lol intentionally, I have been laughing out loud frequently. I dare say that all my life, I have been a cheerful person. However, I didn't always know how quirky my sense of humour could be sometimes.  

For some strange reasons, I could always sense something funny, even when the situation was at its worst. I appreciate jokes, but it turned out that some weren't meant to be funny. They could just be something desperate that sounded hilarious and I'd be laughing at a wrong time. 

It was my friend Bernard that pointed out this to me. We worked together in the previous company and we were in a serious meeting back then with our boss, a colleague from Compliance Department and our Managing Director (MD). Apparently we had a timeline to meet and our boss was cornered into forming an IT committee for this project. He seemed oblivious to this initiative and needed to say something to save his ass, so he named the committee members on the spot. The MD was surprised and he curiously asked, since when the committee was formed. That's when my boss said, "now."

Upon hearing that, the MD was taken aback as I burst into laughter. I couldn't help it. The whole thing was like a comedy scene adapted from Stephen Chow movies. How on earth could respectable people from management level such as my boss bluff his way through like that? What a joker. That was probably the first time I ever saw the ugly side of management.

When the meeting was over, Bernard took me aside and explained to me that funny though it was, I shouldn't laugh like that in a formal meeting. He was right, of course. I could have gotten into trouble for what I perceived as innocent laughter. I mean, all this while, I never wasted a good joke, but it never occurred to me that other people might not appreciate being laughed at, especially those who didn't mean to be funny at all.

Since then, I tried and managed to have a decent self-restraint. I still let out a chuckle or two in the meeting, but hey, that's the best I can do, haha. The moral of the story is, happiness does come from inside (don't let others tell you otherwise) and it's good to laugh out loud, but perhaps not to the extent of offending others...

Laughing out loud! When we were in the previous company!


Tawa

Mari kita berbicara tentang topik yang ringan hari: tawa. Walau saya hampir tidak pernah menggunakan singkatan lol, saya sering tertawa terbahak-bahak. Saya bahkan berani mengatakan bahwa saya tergolong orang yang ceria. Kendati begitu, ada suatu ketika dimana saya tidak menyadari bahwa selera humor saya itu agak aneh.  

Saya tidak pernah memahami hal ini sepenuhnya, namun entah kenapa saya selalu bisa melihat sisi lucu dari banyak hal, bahkan di situasi yang buruk sekalipun. Saya senantiasa tertawa, meski  sesuatu yang jenaka itu sebenarnya merupakan sesuatu yang spontan dan orang yang mengucapkannya tidaklah bermaksud untuk melucu. Alhasil saya pun tertawa di saat yang tidak tepat. 

Adalah teman saya Bernard yang memberitahukan saya tentang hal ini. Di waktu itu kita sedang rapat bersama pimpinan IT, Managing Director (MD) dan juga seorang kolega dari departemen Compliance. MD mengatakan bahwa kita harus menyelesaikan sebuah proyek dalam tenggang waktu yang sudah ditentukan dan pimpinan saya diminta untuk membentuk komite IT khusus untuk proyek ini. Bos saya menjadi gelagapan karena dia sepertinya tidak tahu-menahu akan proyek ini, namun dia harus mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan gengsinya, jadi dia pun asal sebut dan mengumumkan nama para anggota komite pada saat itu juga. MD tampak terkejut dan lantas bertanya, kapan sebenarnya komite ini dibentuk. Dan bos saya pun menjawab, "barusan!" 

Saat mendengar jawab tersebut, MD saya tersentak kaget dan saya sendiri langsung tertawa geli. Pokoknya benar-benar tidak tahan. Apa yang baru saja saya saksikan persis seperti adegan dalam film Stephen Chow. Bagaimana mungkin orang dalam posisi manajemen seperti bos saya mengarang bualan di depan MD? Benar-benar kocak. Ini adalah mungkin pertama kalinya saya melihat sisi gelap dari manajemen. 

Seusai rapat, Bernard memanggil dan menjelaskan pada saya bahwa selucu apa pun adegan tadi, seharusnya saya tidak tertawa di dalam rapat. Perkataannya sungguh benar, sebab saya bisa mendapat masalah karena tertawa tergelak-gelak seperti ini. Ya, memang saya tertawa karena tergelitik oleh sesuatu yang jenaka, tapi tidak terpikirkan oleh saya bahwa orang lain mungkin tidak senang ditertawakan, apalagi kalau mereka memang tidak bermaksud untuk melucu. 

Semenjak itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan diri. Ada kalanya saya masih tertawa kecil atau menahan senyum, tapi itu yang terbaik yang bisa saya lakukan, haha. Moral dari cerita adalah, benar bahwa kegembiraan itu datangnya dari dalam hati dan lega rasanya bisa tertawa lantang, tapi mungkin jangan sampai menyinggung orang lain, hehe...