Total Pageviews

Translate

Saturday, December 29, 2018

The Life Lesson

If you are humble and attentive enough to look around, you'll notice that life always has a way to teach you about the good values in life itself. Many years ago, I got to know this colleague of mine. Although he was 22 years older than me, the man and I happened to appreciate good jokes and share a keen interest in oldies from the 70s and 80s, so there were a handful of occasions when we hung out for good beer and live music.

What started as the irregular outings eventually evolved into the annual Christmas gathering. Between the two of us, we had this memorable story that always got us grinning. It was the first Christmas party that I was going to attend and he told me that his house was seven bus stops away from the train station, but silly me, I only counted when the bus stopped and didn't include the ones that the bus passed by. As a result, I had to walk quite far from the "seventh" bus stop to his house. Until today, he still asked, "so did you count the bus stops?" And we would laugh.

Another Christmas party at Hilary's house.

The Christmas party tradition continued even when we were no longer working together. He invited us to come over and I noticed that we were always the last batch, then we would hang out until late at night. In hindsight, he really brought us together in a very joyous occasion. We would be there, catching up, chit-chatting and he would jump in for a quick banter and good laugh. If life was about creating beautiful memories, this definitely lived up to the very definition of it.

The time when we worked together was the last job he had before he retired. Out of curiosity, last Christmas, I asked what he was doing, now that he got a lot of time to spare. Apparently he spent his time doing charity work. He would drive and distribute food around Singapore. Oh yes, as glamorous as it could be, Singapore also had such less fortunate people and he made it his job to help out. That was very inspiring. Beneath the happy-go-lucky exterior, there was a big heart.

The night he brought us down on one knee.

Then came the celebration of his 25th wedding anniversary. As far as I could remember, this was the first and only time I ever attended such an event. There he was in front of us, with a smile on his face, lovingly stared at his wife. That was a beautiful moment. After 25 years of togetherness, they were still very much in love. Then he kneeled down, not easy for him for he wasn't young anymore, haha, but that he did and he renewed his wedding vow with us as witnesses. When he got up, he made us men to do the same, too! Very cheeky!

Last night was his 60th birthday celebration. One colleague of us said her friend was puzzled upon hearing that she got a 60 years old friend. But it couldn't be further from the truth. He was a man loved by many, both young and old. The ballroom was filled with his families and friends. If I didn't know any better, I would think that racial harmony was invented by him, because it seemed like people from all nations were there to celebrate his birthday. Even the band that we used to watch together was performing, too.

His 60th birthday. 

My favorite part of the celebration was the testimonies from his close members of family and a childhood friend. It was like learning who the man really was, the wonderful man that I never knew until that night. I could only imagine how he would feel when he sat there, listening to the appreciation from others about how he had touched their lives. He didn't set out to do it, but he just did what he had to and throughout the years, he had been a good man. All the truthful and personal stories that night reaffirmed that.

Like I said earlier, life has its way to teach us the good values in life itself. That night, the life lesson was called Hilary Cordeiro. Thank you very much and happy birthday, my friend!

The alleged first Christmas party.

Sebuah Pelajaran Hidup

Jika anda cukup rendah hati dan cukup teliti dalam melihat sekeliling anda, anda akan menemukan bahwa hidup memiliki cara untuk mengajarkan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan ini pada kita. Bertahun-tahun silam, saya berkenalan dengan seorang kolega. Meskipun umurnya 22 tahun lebih tua dari saya, kita sama-sama senang bercanda dan juga menyukai tembang lawas dari era 70an dan 80an. Oleh karena itu kita pun menikmati bir dan pertunjukan musik di pub favoritnya dalam beberapa kesempatan.

Apa yang bermula dari kebiasaan tersebut lantas berkembang menjadi acara Natal bersama. Ada cerita menarik yang selalu kita kenang bersama. Saat saya diundang ke pesta Natal yang pertama, dia memberitahukan pada saya bahwa rumahnya berada kira-kira tujuh pemberhentian bis jauhnya dari stasiun kereta. Kendati begitu, saya salah tanggap dan mengira bahwa saya hanya mulai berhitung setiap kali bisnya berhenti. Alhasil, saya harus berjalan dari pemberhentian bis "ke-7" yang lumayan jauh dari rumahnya. Sampai hari ini dia masih iseng bertanya, "jadi kamu hitung pemberhentian bisnya?" Dan kita pun tertawa.

Pesta Natal bersama Hilary.

Tradisi pesta Natal berlanjut walaupun kita tidak lagi sekantor. Dia mengundang kita ke rumah dan kita selalu menjadi rombongan yang terakhir dan kumpul hingga larut malam. Kalau saya lihat kembali, dia sungguh berupaya mempersatukan para mantan koleganya dalam suasana Natal yang gembira. Kita akan berbincang panjang lebar dan dia pun akan turut berkomentar dan tertawa. Jika hidup adalah tentang menciptakan kenangan, maka pesta Natal ini sungguh merupakan bukti nyata dari teori tersebut. 

Saat kita bekerja di perusahaan yang sama adalah saat terakhir dia bekerja sebelum akhirnya pensiun. Karena ingin tahu, saya lantas bertanya di saat Natal tahun lalu, apa sebenarnya yang dia kerjakan sekarang, setelah dia pensiun dan memiliki banyak waktu luang. Ternyata dia berbuat amal. Setiap hari, dia akan mengantarkan makanan ke berbagai penjuru di Singapura. Oh ya, meski Singapura terlihat mewah dan maju, negara kota ini tetap memiliki orang-orang yang kurang mampu dan dia berbuat sebisanya untuk membantu. Perbuatannya ini sungguh menginspirasi. Di dalam karakter yang riang dan jenaka, tersembunyi hati yang besar dan peduli sesama.

Pesta peringatan 25 tahun pernikahan.

Kemudian kita mendadak diundang ke acara pesta peringatan 25 tahun pernikahannya. Sejauh saya bisa mengingat, itu adalah pertama dan sekali-kalinya saya diundang ke perayaan seperti itu. Berdiri di tengah keramaian, dia tersenyum dan menatap istrinya dengan penuh cinta. Setelah 25 tahun bersama, luar biasa rasanya bahwa mereka masih begitu saling mencintai. Sesudah itu dia berlutut satu kaki. Tidak mudah baginya karena dia tidak lagi muda, haha. Namun dia melakukannya dan di depan para hadirin, dia memperbaharui janji nikahnya. Ketika dia berdiri, dia membuat kita, para pria, untuk berbuat hal yang sama pada pasangan masing-masing. Dasar iseng!

Dan kemarin malam adalah hari ulang tahunnya yang ke-60. Seorang mantan kolega berujar bahwa temannya merasa bingung saat mendengar bahwa ia memiliki teman berusia 60 tahun. Tapi itulah faktanya. Pria ini memiliki banyak teman, baik tua maupun muda. Ruangan pesta dipenuhi oleh keluarga dan teman-temannya yang berasal dari berbagai kalangan dan suku bangsa. Bahkan grup musik yang dulu sering kita tonton bersama pun tampil di malam itu.

Berfoto bersama penggemar Liverpool yang merayakan ulang tahunnya yang ke-60.

Bagian favorit saya di pesta tersebut adalah kesaksian dari keluarga dan teman masa kecilnya. Rasanya seperti melihat mantan kolega saya ini dari sisi lain, sisi luar biasa yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat duduk di situ dan mendengarkan kesaksian serta ucapan terima kasih dari mereka yang mengenalnya. Saya rasa dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan menyentuh hidup begitu banyak orang. Dia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan dan setelah bertahun-tahun kemudian, semua cerita tersebut membuktikan bahwa dia adalah orang yang baik. 

Seperti yang saya kataka sebelumnya, hidup memiliki cara untuk mengajarkan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan pada kita. Di malam tersebut, sebuah pelajaran hidup itu bernama Hilary Cordeiro. Terima kasih dan selamat ulang tahun, Pak Hilary!

Pesta Natal di rumah Hilary. 


Wednesday, December 26, 2018

Kardus, Kardus, Kardus

Saat selesai menonton salah satu program TV favorit, saya merasa ingin juga menuangkan pikiran saya ke dalam tulisan ini. Ini adalah perihal perdebatan tentang kotak suara yang akan digunakan pada Pemilu 2019. Langsung saja ke intinya, dalam perdebatan, ada yang mengatakan ini bukan persoalan kardusnya, tapi ini adalah masalah ketidakkepercayaan publik saat ini. 

Saya setuju sekali akan hal ini, tapi... nah, ada tapi-nya, nih. Masalahnya, kenapa ada sebagian masyarakat yang menjadi tidak percaya? Sebenarnya saya ingin bertanya, namun bertanya kepada siapa? Pertanyaan saya adalah, dari mana rakyat tahu bahwa setelah ada ketentuan UU, KPU membuat kotak penampung suara dari bahan kardus? Rakyat mana yang bisa tahu dan yang mau mengurusi ini? Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan saya. Menurut saya, oknum anggota dewan yang menamakan dirinya sebagai wakil rakyat ini disinyalir ikut dalam memutuskan dan menyetujui usulan KPU dan sudah melihat contohnya saat rapat. Mereka inilah yang pura-pura terkejut dengan kotak suara yang sudah disetujui tersebut. Mereka lantas membuat heboh sehingga sebagian masyarakat ikut dalam perdebatan. 

Harus kita pahami bahwa sebagian kecil dari masyarakat kita mudah diarahkan ataupun diprovokasi. Ada sebagian juga yang lagi 'mabuk cinta', yaitu mereka yang fanatik akan pilihannya sehingga saat pihaknya mengatakan apa pun, bagi mereka itu adalah kebenaran yang tidak perlu diragukan lagi. Nah, inilah yang sebenarnya terjadi. Masyarakat terpicu oleh sandiwara yang ada dan perdebatan pun tak pelak lagi muncul di mana-mana. Setelah polemik terjadi, muncullah para ahli yang mengarahkan pikiran rakyat untuk menyakini bahwa ini adalah kebenaran walaupun sebetulnya sesat. Jika ada yang bertanya, "jadi kenapa bisa begitu?" Jawaban saya yang dungu adalah, "karena ini adalah strategi kampanye." 

Ya, ini adalah strategi kampanye supaya rakyat terbawa emosi di dalam memilih, sehingga tidak lagi memilih berdasarkan program-program yang ditawarkan. Saya akan memberikan ilustrasi bagaimana beberapa ahli mencoba mengarahkan kesesatan pemikiran mereka, seolah-olah apa yang mereka sampaikan itu adalah kebenaran. Logikanya seperti teka-teki ini: A meminjam dari B, C dan D masing-masing sebesar 100.000 rupiah untuk membeli sebuah kardus yang seharga 250.000 rupiah. Nah, karena masih ada sisa 50.000 rupiah, A kemudian mengembalikan kepada B, C dan D masing-masing sejumlah 10.000 rupiah. Sekarang artinya A meminjam 90.000 ke B, C dan D sehingga jumlahnya 270.000. Kalau begitu, kenapa uang yang tersisa di tangan A cuma 20.000? Ke mana hilangnya 10.000 karena awal total pinjaman A adalah 300.000? 

Inilah cara menyesatkan yang bisa membuat orang berpikir kalau ada 10.000 yang hilang. Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang berbahaya jika tidak dimengerti secara logis. By the way, jika mau tahu jawaban dari teka-teki itu, inbox saja 😀😀

Kardus, another quality product...

Tuesday, December 25, 2018

The Bathroom Singer

Happiness is from within and singing is one way to express it. While I'm never a great singer, I just love singing (and it's a good thing that I'm not tone-deaf, or else I'd be a nuisance for being out of tune). I often find myself singing everywhere I go, be it the time when I left home with the last song lingering in my mind, when I was at the back seat of a motorbike (this, admittedly, was the most bizarre place to sing) and, of course, when I was showering in the bathroom. The acoustic was good, haha!

This habit began more than two decades ago, when I first discovered the Beatles. Back in the 90s, when I was in high school, I stayed in an older compound of my aunt's big house and I had a cassette player that was stationed right next to the bathroom. I would crank it up to the loudest volume just to make sure that I could hear it from behind the locked bathroom door. As it was rock and roll, it somehow moved the listener. I just had to sing and my voice sounded good (or so I thought) in the bathroom. The experience was very encouraging.

Hanging out and singing after attending Wawa's wedding.
From left: Markus, Andy William, Tommy, Anthony and Setia.
Photo by Endrico Richard. 

When I listened to the Beatles, my role model in singing was John. His voice was raw and honest-to-god, but most importantly, compared with Paul's, John's vocals were lower, so it was easier for me to sing along with. In those days, I could do that raucous voice suitable for rock and roll! When I started collecting the Bee Gees, I picked up Barry's falsetto (the high pitched, girlie voice) and, to certain extent, Robin's vibrato (the vibrating voice) too. The three of them were the major influences that shaped the way I sang. Actually I was also a big fan of Freddie Mercury, but his vocal range was so unbelievable that I simply gave up trying to sing like him.

Now, did I tell you that I loved Michael Jackson, too? Oh yes, he was a great singer, but what I loved the most was the way he danced. He was so ahead of his time and nobody danced like him before. Sure, Adam Levine from Maroon 5 said he got the moves like Jagger, but to me, it was definitely Michael that I'd like to imitate. His moves were what I practiced tirelessly in front of the mirror at that time. By the way, since Oasis was a cool band in the late 90s, I also did the Liam Gallagher impersonation. The less obvious influence was, perhaps, Robin Gibb's style on stage. I just liked the way he handled the microphone and the time he cupped his ear while singing I Started a Joke. I found it elegant and majestic.

Performing We Are the Champions. 

I must have sung and danced so much in my spare time that the only thing left for me to do was performing live. Yes, I'd be so nervous as I waited for my turn. I'd take off my glasses so I'd see no audience when I came on stage. When I started drinking, I even got myself slightly drunk to overcome the anxiety. But when I get on stage and the music started playing, it felt electrifying that I knew I'd be alright. Standing on the stage and absorbing the good vibration from the audience was so thrilling! Most of the time, I didn't rehearse because I wouldn't be able to remember it anyway. The whole act just happened naturally.

Let me reiterate again that I am not a good singer, but I seem to recall the good times both the audience and I enjoyed. I remember the time when I performed Money (That's What I Want) with Hardy back in 1997 and again in 2014. I remember the time I performed I Saw Her Standing There in 2005. I remember the time I performed We Are the Champions and the medley of Blue Suede Shoes, Can't Buy Me Love, Stayin' Alive and Flashdance... What a Feeling during our company's Dinner and Dance. And the list went on. Looking back, they weren't bad performances for a bathroom singer, haha...

Performing Way Back Into Love.
It took some balancing skill to hold the cake!


Penyanyi Kamar Mandi

Kegembiraan itu datang dari dalam hati dan bernyanyi adalah salah satu cara untuk mengekpresikannya. Saya bukanlah seorang penyanyi yang hebat, tapi saya suka bernyanyi (dan untunglah saya tidak bernyanyi dengan sumbang). Saya seringkali bersenandung sendiri di berbagai kesempatan, misalnya saat saya terngiang-ngiang dengan lagu terakhir yang saya dengar sebelum meninggalkan rumah, saat saya duduk di belakang motor yang melaju di jalan (ya, saya akui bahwa ini tempat yang aneh untuk bernyanyi) atau saat saya berada di kamar mandi. Gemanya terdengar bagus di dalam kamar mandi, hehe.

Kebiasaan ini dimulai lebih dari dua dekade yang lalu, ketika saya menemukan the Beatles. Di tahun 90an, saat saya masih SMU, saya tinggal sendiri di bagian lama rumah tante saya yang luas dan saya memiliki sebuah tip kaset yang diletakkan tepat di samping kamar mandi. Saya suka memaksimalkan volumenya sehingga saya bisa mendengarkan lagu saat mandi. Karena yang saya dengar adalah rock and roll, saya senantiasa tergerak untuk menyanyi.

Saat membawakan I Saw Her Standing There

Ketika saya mendengarkan the Beatles, idola saya dalam menyanyi adalah John. Suaranya yang serak terdengar jujur, tapi yang lebih penting lagi adalah, dibandingkan Paul, suara John lebih rendah sehingga mudah bagi saya untuk turut mengikutinya bernyanyi. Di masa itu, saya bahkan bisa bernyanyi dengan suara serak yang cocok untuk rock and roll! Saat saya mulai mengoleksi album Bee Gees, saya pun mencoba suara falsetto Barry (yang tinggi dan mirip suara wanita) dan suara vibrato Robin (yang bergetar). John, Barry dan Robin adalah tiga tokoh yang sangat berpengaruh dalam membentuk cara saya bernyanyi. Saya juga mengagumi Freddie Mercury sebenarnya, tapi cakupan vokalnya sangat luar biasa sehingga saya menyerah untuk mencoba bernyanyi seperti dia. 

Oh ya, saya pernah bercerita bahwa saya juga menyukai Michael Jackson, bukan? Dia adalah penyanyi yang serba bisa, tapi yang lebih mengesankan lagi bagi saya adalah caranya menari. Sebelum Michael, tidak ada artis yang menari sehebat itu. Adam Levine dari Maroon 5 mungkin saja berkata, "I've got the moves like Jagger," tapi Michael adalah sosok yang mendorong saya untuk menari. Gerakannya saya tiru dan latih di depan cermin. Sewaktu Oasis menjadi grup populer di masa SMU, saya juga mencoba gaya Liam Gallagher dalam bernyanyi. Pengaruh yang mungkin tidak banyak diketahui orang adalah aksi panggung Robin Gibb. Saya selalu menyukai gayanya dalam memegang mikropon dan saat dia menutup telinganya ketika menyanyikan I Started a Joke. Sangat elegan dan anggun gayanya.

Saat membawakan Money (That's What I Want)

Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk bernyanyi dan menari di waktu senggang saya sehingga satu-satunya hal yang tersisa untuk saya lakukan adalah tampil di panggung. Ya, saya akan sangat gugup saat menunggu giliran saya. Kacamata saya pun biasanya saya lepaskan sebelum naik ke panggung supaya saya tidak bisa melihat penonton dengan jelas. Ketika saya berada di tempat yang menyuguhkan bir, saya terkadang minum sampai sedikit mabuk untuk mengurangi rasa demam panggung. Kendati begitu, saat saya naik ke pentas dan musik mulai melantun, saya menikmati suasana yang energik dan riuh sehingga saya tahu bahwa saya akan baik-baik saja. Berdiri di atas pentas dan menyaksikan respon dari penonton adalah sesuatu yang mencengangkan. Dan aksi panggung pun terjadi secara spontan. Saya biasanya tidak berlatih karena saya seringkali tidak bisa mengingat apa pun saat tampil. Adalah musik yang menggerakkan saya secara alami. 

Mari saya ulang lagi bahwa saya bukanlah penyanyi yang luar biasa, akan tetapi saya ingat saat-saat menyenangkan bagi saya dan penonton. Saya ingat saat membawakan lagu Money (That's What I Want) dengan Hardy di tahun 1997 dan sekali lagi saat Reuni 2014. Saya ingat saat membawakan I Saw Her Standing There di tahun 2005. Saya ingat saat membawakan We Are the Champions dan rangkaian lagu Blue Suede Shoes, Can't Buy Me Love, Stayin' Alive dan Flashdance... What a Feeling saat acara pesta kantor. Dan daftar pertunjukan itu masih berlanjut. Kalau saya lihat kembali, saya rasa aksi-aksi panggung itu tidaklah terlalu buruk untuk seorang penyanyi kamar mandi, haha...

Wednesday, December 19, 2018

Away From Home

I'm not entirely sure if this can be considered as something ordinary, but in my family, we don't always travel together. There were times when I was away and there were other times when the whole family but me was away. When this happened, it always got me thinking of how life had been a blessing. Confused? Here is a short story of how being away from home, be it myself or my family, reminded me the right perspective of what home was really about.

Let's talk about scenario #1 first. It's no secret that I love traveling and meeting friends. It's always great to see what's going on out there. As seen from past experience such as the trip to Karawang or Kuala Lumpur, I could go the distance to hang out with friends, even though it was just for a while. I guess it's just me, seizing the moment and making it happen. It's quite obvious that I was having the time of my life when I got out of the routine in life. What is rather oblivious to many was, when the fun died down, in the quietest moment, I often looked back at what I already had and things that I could have done better.

When I was away, I hung out with old friends!

The exact opposite of what happened above would be the time when the whole family was away and I was the one who stayed behind. It might be okay for a day or two, but after a while, it was kind of sad to go home and be greeted by complete silence. It reminded me of a better time, when I could hear the kids screaming before I reached the front door. It was of course much better to come home to a smiley wife that already prepared home-cooked dinner. Oh yes, I'm a fan of dining at home, probably because I'd been eating outside, mostly by myself, since 2002. The house simply felt empty and cold when my wife and daughters were away.

I remember that John Lennon once wrote, "you don't know what you got until you lose it." Taking things for granted is very much a human nature and having a family, I'm afraid, is no exception. If you're with your family everyday, you'll think that they're always be there for you, no matter what. While that is true to certain extent, the damning part is the last three words: no matter what. We could be misled by such an idea, as if there's nothing else that we needed to do to maintain the harmony, but luckily life had its funny way for us to do a reality check.

In my case, only when I was alone that I actually had time to reflect. As fun as it was to be with friends, it was only when I was with my family that I felt right at home. The laughter and togetherness, the love in the air, those feelings were what made family life so different and irreplaceable. I remember my wife, the one I certainly couldn't live without. Something was definitely missing when she wasn't around. I remember my elder daughter, the cheeky one, and how it was like looking at the mirror only to see that mini-me staring back at me. I remember my younger daughter, the quiet one with the smile that brightened up my day. Then I realised how rich I already was to have them as my home and family that I went back to. Life had been a blessing indeed...

The little family of mine. 


Saat Bepergian

Saya tidak tahu persis apakah ini adalah sesuatu yang biasa dan lumrah, tapi di dalam keluarga saya, kita tidak selalu bepergian bersama. Ada kalanya saya pergi sendiri dan ada pula saatnya seluruh anggota kecuali saya yang pergi berlibur. Saat-saat seperti ini seringkali membuat saya berpikir, betapa hidup ini merupakan sebuah anugerah. Berikut ini adalah sebuah kisah tentang bagaimana saat bepergian, baik saya sendiri maupun keluarga saya, mengingatkan saya kembali, apa sebenarnya arti dari sebuah rumah tangga.

Mari kita lihat dulu skenario pertama. Bukan rahasia lagi bahwa saya suka berlibur dan bertemu dengan teman-teman. Seperti yang bisa dilihat dari liburan-liburan terdahulu, misalnya saat saya ke Karawang atau ke Kuala Lumpur, saya tidak keberatan untuk menempuh jarak jauh hanya demi berkumpul sesaat bersama teman-teman. Mungkin ini adalah bagian dari karakter saya yang percaya bahwa kita harus mewujudkan apa yang kita inginkan dan menciptakan kenangan. Ketika saya keluar dari rutinitas hidup, yang jelas terlihat adalah bagaimana saya begitu menikmatinya. Yang jarang diketahui adalah, ketika semua keceriaan itu berlalu, saat saya sendiri dan berkesempatan untuk merenung, saya sering melihat kembali apa yang baru saja saya lalui. Pada saat itu saya bersyukur dengan apa yang saya miliki dan membayangkan kembali hal-hal yang seharusnya bisa saya lakukan dengan lebih baik untuk keluarga.

Kebalikan dari skenario di atas adalah sewaktu keluarga saya pergi berlibur dan saya tinggal sendiri di rumah. Sehari dua hari mungkin tidak terasa, tapi lama kelamaan sedihnya rasanya pulang ke rumah yang sepi dan sunyi. Saya jadi teringat saat saya bisa mendengar teriakan anak saya sebelum saya sampai di depan pintu. Pulang ke rumah yang disambut dengan senyuman istri dan makan malam yang sudah terhidang di meja tentu lebih menyenangkan. Oh ya, saya suka bersantap malam di rumah, mungkin karena saya sudah makan malam sendiri di luar sejak tahun 2002. Singkat kata, tanpa keberadaan istri dan anak-anak saya, rumah yang sama menjadi terasa begitu berbeda.

Si Sulung dan Si Bungsu.

Saya ingat bahwa John Lennon pernah menulis, "kau tidak tahu apa yang engkau miliki sampai kau kehilangan." Manusia terkadang mengabaikan sesuatu yang senantiasa ada yang ada di depan mata dan kehidupan berkeluarga pun tidak luput dari hal ini. Jika anda berada dalam lingkaran keluarga setiap hari, anda bisa tanpa sadar beranggapan mereka akan selalu hadir untuk anda, tidak peduli apapun situasi dan kondisinya. Pemikiran tersebut cukup berdasar, cuma yang sering kali bikin celaka adalah bagian terakhir dari kalimat tersebut: tidak peduli apapun situasi dan kondisinya. Saya rasa ini cenderung menjerumuskan, sebab kita tetap harus berusaha untuk mempertahankan keharmonisan yang sudah ada. Syukurlah hidup ini memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan kita kembali.

Berdasarkan pengalaman saya, hanya di kala saya menyendiri itulah saya berkesempatan untuk melihat kembali hidup saya. Kebersamaan dengan teman-teman tentu saja seru dan heboh, tapi hanya di saat saya berada di tengah keluarga itulah tenteramnya suasana sebuah rumah tangga itu terasa. Tawa dan kebersamaan serta kasih sayang tanpa syarat membuat kehidupan berkeluarga berbeda hubungan sosial lainnya. Saya ingat dengan istri saya, rasanya ada yang hilang dalam hidup saya tanpa kehadiran dirinya. Saya ingat dengan putri sulung saya yang iseng sifatnya, yang membuat saya bagaikan bercermin dan melihat pantulan saya dalam dirinya. Saya ingat dengan putri bungsu saya, yang pendiam namun merekah senyumnya, begitu menyejukkan hati saya. Saya lantas menyadari, bahwa saya sudah lebih kaya daripada apa yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Mereka adalah keluarga dan rumah saya, tempat saya senantiasa pulang dan berlabuh. Hidup sungguh merupakan sebuah anugerah...

Monday, December 17, 2018

Seven Best Attractions At Shanghai Disneyland

Shanghai Disneyland is the newest and the second biggest Disney Park in the world after Walt Disney World Resort in Florida. Since its opening in 2016, this park has been visited by many visitors around the world. My husband and me went there in November 2018. It was autumn in Shanghai and the weather was cold. The entrance queue was not too long. It only took us 15 minutes to enter the gate and buy the entrance ticket directly at the counter. There are two kinds of ticket, 1-Day and 2-Day ticket and the prices are different for regular and peak season. November is considered as a regular season and our 1-Day ticket price was RMB 399 per person.


The never ending Disney music that we loved and knew so well was heard as we entered Shanghai Disneyland. The first part we saw was Mickey Avenue, a whimsical hometown filled with shops and restaurants. The buildings were inspired by the colourful personalities of Mickey Mouse and friends. A nice start to begin the adventure in the land of dream and happiness. As we continued walking, we saw the Enchanted Storybook castle, the largest Disney castle in the world, in the middle of the Garden of Imagination. The garden was very spacious and it served as the hub of the park.


Shanghai Disneyland consists of Fantasyland, Treasure Cove, Adventure Isle, Tomorrow Land and Toy Story Land. It might take us two full days to explore all the attractions and shows in this park. Since we only had one day, we had to use our time wisely.

Here are some tips to optimise our time in Shanghai Disneyland:

1. Download the Shanghai Disney Resort Apps
The benefit of this app:
1.1 Online ticket purchase from the app in advance so there's no need to queue to buy onsite ticket. It will save a lot of time especially if we are visiting during peak season.
1.2 Disney Fastpass is available in Shanghai Disney Resort Apps for no extra charge (subject to the availability). We just need to sign in, select "Get Fastpass" and scan the QR code of our ticket. Do take note that only some attractions with selected time has Fastpass. During our visit, Pirates of the Caribbean didn't have Fastpass, but another popular attraction, Soaring Over the Horizon had Fastpass. We also can get Fastpass from the Guest Services booth inside the park.
1.3 Apart from the map, the app also shows the waiting time of Shanghai Disneyland's favourite attractions. It's very useful for us to set our priority, which attraction we will visit first.

2. Make priority
We may need two days to try all attractions and shows at Disneyland, especially during the peak season. If we only have one day, we need to choose the rides that are most attractive and suitable for us.

Based on our experience, these are the seven best attractions of Shanghai Disneyland:
1. Pirates of the Caribbean: Battle for the Sunken Treasure
This is the best attraction in Shanghai Disneyland and we were very lucky that we only needed to queue for 15 minutes to try the ride. Usually the queue is very long! The first two minutes seemed like an ordinary ride where we were greeted by Jack Sparrow's mannequin, but as we continued cruising, suddenly we were in the midst of the ocean, moving up and down as waves went crazy. We saw the giant octopus, pirates and entered a sinking ship. The 4D visual effect was stunning. Even though we didn't understand Mandarin, we could still enjoy this ride so much.


2. Soaring Over the Horizon
We queued more than 30 minutes for this ride, mostly because there were a big group of primary school students right in front of us, but it was worth it! The giant screen, combined with the swinging gliders, gave us the sense of soaring in the sky and we flew through the panoramic view of top worldwide destinations such as the Great Wall in China, the Pyramid in Egypt, Taj Mahal in India, Eiffel Tower in Paris, Niagara Falls and Antartica's snowy mountains. It felt fantastic!

3. Camp Discovery Challenge Trails
This activity gave us the real sense of 'adventure'. We became the 'main actor' as we crossed dangerous terrains with the aid of the harness. It was fun but a bit scary as well. Luckily the attraction came with multiple trails with different difficulty levels so if we weren't feeling brave enough, we could choose the easy level.

4. Peter Pan's Flight
We boarded the pirate ship and flew above London! Entering Wendy's bedroom and seeing other scenes from Peter Pan movie was quite interesting. The language barrier was not an issue because we could understand from the visual and we were familiar with the movie.

5. Seven Dwarfs Mine Train
It was a themed rollercoaster that brought us to the tunnel and saw the colourful blinking diamonds and Dwarfs. The rollercoaster wasn't as challenging as Tron. It didn't turned us upside down, but it was enough to make my husband felt dizzy afterwards.


6. Voyage to the Crystal Grotto
A slow moving boat that brought us to see some popular Disney characters such as Ariel, Mulan, Rapunzel, Aladin, while listening to their songs. It’s a good entertainment especially for young kids.

7. Alice in Wonderland Maze
As we were finding our way out from the maze, we saw many decorations, statues and ornaments that reminded us of the classic Disney movie, Alice in Wonderland. At the center of the garden was a huge head of the Red Queen and in the surrounding area were heart card soldier and the tea party table. The details of the ornaments were excellent, a perfect area for your instagrammable moments!


Why didn't I put Tron in the list?  The only reason why Tron Lightcycle Power Run was off this list was simply because we didn't try it. It was too scary for us. Riders sit on a 'motorcycle', get strapped and race on the track in a high speed. However, if you like a challenging rollercoaster, you should try this. It's the main attraction in Tomorrowland.

The other attractions that we missed was Eye of the Storm: Captain Jack's Stunt Spectacular, a stage show in Mandarin, in which Captain Jack Sparrow seeks revenge after learning that an actor is portraying him on stage. We didn't' watch it because we couldn't understand Mandarin. We also did not experience another popular ride, Roaring Rapid, because it was under maintenance.

And the last one that we missed is Ignite the Dream Fireworks. It was still raining a bit at 6pm and my husband already wanted to go home. We still had to wait for another 2 hours for the fireworks, but we weren't sure if the fireworks would still be showing so finally we went home.

Overall experience in Shanghai Disneyland was good. It isn’t as magical as Tokyo Disneyland but it’s a decent and worldwide class themed park with attractive rides and shows. Language barrier might be an issue for the shows but not for the rides. During our visit, people queued properly, nobody cut queue. In term of the cleanliness it was also not bad, especially the toilets. My husband said the Shanghai Disneyland’s toilet is the cleanliest toilet in China and I agree with him.


Tujuh Atraksi Terbaik di Shanghai Disneyland

Shanghai Disneyland adalah taman bermain terbaru dan kedua terbesar di dunia sesudah Walt Disney World Resort di Florida. Sejak diresmikan pada tahun 2016, Shanghai Disneyland telah dikunjungi oleh banyak pengunjung di seluruh dunia. Saya mengunjungi taman ini bersama suami di bulan November 2018, di saat musim gugur dan udara mulai dingin. Sewaktu kami ke sana, antrian menuju pintu masuk tidak terlalu panjang. Kami hanya memerlukan waktu 15 menit untuk melalui pintu masuk dan kemudian membeli tiket di loket. Ada dua jenis tiket yang dijual, Tiket 1 Hari dan Tiket 2 Hari. Harganya berbeda-beda tergantung musimnya, apakah musim biasa atau liburan. Bulan November termasuk dalam kategori musim biasa, jadi harga tiket kita 399 yuan per orang.


Sambil menikmati lagu Disney yang kami suka dan kenal baik, kamu memasuki Shanghai Disneyland. Bagian pertama yang kami lihat adalah Mickey Avenue, pemukiman unik yang dipenuhi oleh toko-toko dan restoran dengan desain Mickey Mouse dan teman-temannya. Awal yang baik untuk mengawali petualangan kita di tanah impian dan kebahagiaan. Setelah melanjutkan perjalanan, kami melihat the Enchanted Story Book Castle, Istana Disney terbesar di dunia, di tengah-tengah Garden of Imagination (Taman Imajinasi). Taman ini sangat luas dan berfungsi sebagai penghubung antar bagian.


Shanghai Disneyland terdiri dari Fantasyland, Treasure Cove, Adventure Isle, Tomorrow Land dan Toy Story Land. Mungkin perlu waktu dua hari untuk mencoba semua atraksi dan pertunjukan di sini, namun karena kita hanya memiliki satu hari, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. 

Berikut ini adalah beberapa saran untuk berhemat waktu di Shanghai Disneyland:

1. Unduh aplikasi Shanghai Disney Resort
Manfaat dari aplikasi ini adalah:
1.1 Anda bisa membeli tiket lewat aplikasi ini sebelum hari kunjungan sehingga anda tidak membuang waktu untuk antri membeli karcis di loket yang pasti panjang antriannya di musim liburan. 
1.2 Disney Fastpass juga tersedia di aplikasi Shanghai Disney Resort secara gratis, walaupun ini hanya berlaku selama persediaan masih ada. Kita cukup mendaftar dan masuk ke aplikasi, lalu memilih "Get Fastpass" dan pindai kode QR yang ada tiket. Perlu diketahui bahwa hanya beberapa atraksi tertentu yang memiliki fasilitas Fastpass pada waktu-waktu tertentu. Saat kita di sana, Pirates of the Caribbean tidak memiliki Fastpass, namun wahana populer lainnya, Soaring Over the Horizon, memiliki Fastpass. Oh ya, kita juga bisa mendapatkan Fastpass dari kantor Guest Services di dalam taman. 
1.3 Lewat aplikasi ini, kita juga bisa melihat peta dan waktu tunggu atraksi-atraksi yang ada. Ini sangat berguna bagi kita untuk menentukan wahana mana yang ingin kita coba terlebih dahulu. 

2. Membuat prioritas
Seperti yang saya singgung sebelumnya, kita mungkin membutuhkan waktu dua hari untuk mencoba semua atraksi dan pertunjukan yang ada, terutama pada saat musim liburan. Jika kita hanya memiliki satu hari, ada baiknya kita menentukan wahana yang cocok untuk kita.


Berdasarkan pengalaman kami, berikut ini adalah tujuh atraksi terbaik di Shanghai Disneyland:
1. Pirates of the Caribbean: Battle for the Sunken Treasure
Menurut saya, ini adalah wahana paling menarik di Shanghai Disneyland. Kami beruntung karena hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mengantri. Konon atraksi populer ini sangat panjang antriannya di musim liburan. Ketika pelayaran dimulai, kami disambut oleh patung Jack Sparrow. Setelah itu perahu yang kami tumpangi pun bagaikan terombang-ambing di tengah lautan. Gurita raksasa dan bajak laut lantas bermunculan. Setelah itu kami masuk ke dalam laut dan melihat kapal karam. Efek visual empat dimensinya sangat menakjubkan. Meski kami tidak mengerti bahasa Mandarin, kami tetap menikmati wahana ini. 

2. Soaring Over the Horizon
Kami mengantri 30 menit lamanya karena ada rombongan murid-murid sekolah di depan kami, tapi wahana ini memang layak antri! Layar raksasa dan tempat duduk yang menggelantung membuat kami merasa terbang seperti burung yang melewati pemandangan-pemandangan terkenal di dunia seperti Tembok Raksasa Cina, Piramida Mesir, Taj Mahal di India, Menara Eiffel di Perancis, Air Terjun Niagara dan gunung es di Antartika. Luar biasa!

3. Camp Discovery Challenge Trails
Atraksi yang satu ini adalah tempat eksplorasi dimana kita harus melewati tebing air terjun dan tempat-tempat berbahaya lainnya sambil bergelantungan di tali. Cukup seru dan menyeramkan, tapi untunglah setiap tantangan yang kita lewati memiliki tiga tingkat kesukaran yang berbeda. Kalau kita merasa tidak sanggup, kita bisa memilih level yang paling mudah. 

4. Peter Pan's Flight
Ini adalah wahana dimana kita menaiki kapal dan terbang di atas kota London. Kita memasuki kamar Wendy dan melihat berbagai adegan dari film Peter Pan. Bagi yang tahu cerita Peter Pan, bahasa seharusnya tidak menjadi kendala. 

5. Seven Dwarfs Mine Train
Rollercoaster bertema Tujuh Kurcaci ini membawa kita melewati terowongan tambang yang penuh dengan intan yang berkilau. Walau tidak berjungkir-balik seperti Tron, wahana ini membuat suami saya memejamkan mata dan pusing. Dia meminta waktu untuk duduk sejenak setelah usai, haha.


6. Voyage to the Crystal Grotto
Kapal yang bergerak pelan ini membawa kita melihat karakter-karakter Disney yang terkenal seperti Ariel, Mulan, Rapunzel dan Aladin. Setiap persinggahan juga menampilkan lagu khas mereka. Ini adalah wahana yang cukup menghiburkan dan cocok bagi anak-anak. 

7. Alice in Wonderland Maze
Taman yang berkelok-kelok ini membawa kita melihat berbagai karakter dari film klasik Disney, Alice in Wonderland. Di tengah taman ada patung Red Queen yang besar kepalanya. Di sekitarnya ada patung-patung prajurit kartu dan meja tempat pesta teh. Detil dari hiasan taman dan patung ini sangat bagus. Keren banget untuk dijadikan latar belakang foto. Dengan kata lain, "very Instagrammable."


Nah, kenapa saya tidak memasukkan Tron ke dalam daftar kunjungan? Satu-satunya alasan kenapa Tron Lightcycle Power Run tidak masuk daftar di atas adalah karena kita tidak mencobanya. Terlalu... seram. Para pengendara duduk di atas motor dan balapan di jalur dengan kecepatan tinggi! Akan tetapi jika anda adalah penggemar rollercoaster, anda harus mencobanya. Ini adalah atraksi utama di Tomorrowland.

Kami juga tidak menonton pertunjukan Eye of the Storm: Captain Jack's Stunt Spectacular yang bercerita tentang Captain Jack Sparrow yang ingin membalas dendam setelah mengetahui bahwa ada aktor yang berperan sebagai dirinya di atas pentas. Kami tidak menonton karena pertunjukan tersebut menggunakan bahasa Mandarin. Kami juga tidak sempat mencoba Roaring Rapid yang populer karena wahana tersebut sedang diservis pada saat itu.

Atraksi terakhir yang kami lewatkan adalah Ignite the Dream Fireworks. Hujan turun hampir sepanjang hari hingga menjelang jam enam malam. Pertunjukan tersebut harusnya digelar jam delapan malam, namun karena tidak yakin bahwa atraksi kembang api masih akan tetap berlangsung dalam cuaca seperti itu, suami saya akhirnya memutuskan untuk pulang. 

Secara keseluruhan, pengalaman di Shanghai Disneyland sangat berkesan. Walau tidak terlalu menakjubkan seperti Tokyo Disneyland, taman yang berada di Shanghai ini tetap berkelas dunia dan sangat layak dikunjungi. Bahasa mungkin menjadi masalah bagi mereka yang tidak mengerti Mandarin, namun atraksinya tetap bisa dinikmati. Dari segi kebersihan, kualitasnya patut diacungi jempol. Suami saya berkata bahwa toilet di Shanghai Disneyland adalah toilet paling bersih di Cina dan saya setuju dengan pendapatnya. 

Wednesday, December 12, 2018

Data Travel Plan

A friend of mine was in Japan and she posted the picture of a portable WiFi she was using. After that, she told us how horrible the internet connection was. What she went through was not just a complaint. It was a genuine problem these days and I certainly could relate with it. If I referred to my own experience, as a modern-day traveler, I needed a reliable internet connection for all my travel and social media apps. Oh yes, I relied on Google Maps to reach my destinations and I had the habit of checking in on Swarm to preserve the memories of places I had been. So what should I do in order to ensure all these work? Throughout the years, I happened to try out several solutions. None of them is perfect, but let's have a look and you decide what works for you!

First of all, let's check out the portable WiFi. In certain countries such as Japan or Singapore, a traveler could actually rent a portable WiFi the moment you reached the airport. I remember picking up mine at Haneda and returned it back at Narita when I went to Japan for the first time. It was cool. With only one portable WiFi, I could connect all the devices, which were basically my wife's mobile phone and mine. But there were two glaring problems with the portable WiFi. Firstly, the battery could only last for roughly five hours. Back in 2014, I didn't recall that we could connect the equipment to a power bank, which meant when it was out of juice, we totally had no internet anymore. Secondly, the data bundle seemed to be quite limited. The staff at the rental counter did warn me not to do video streaming. But my daughter was very young then and she'd only eat while watching YouTube. Right after she did that, the internet was disconnected for certain period of time!

Another alternative that I often used was getting a local SIM card. This had worked well in most of the countries and this was the only method that allowed us to make calls at local rates. However, in my case, this might not be necessary since I almost never called anybody and if I did, I could simply call them using WhatsApp. The downside of this choice were lousy providers and the great firewall of China. When we were in Myanmar, my colleague and I decided to try out two different providers. Mine had a perfect 4G connection even we were visiting places as high and remote as the Golden Rock in Mon State, but my colleague was even struggling with the signal reception at Bogyoke Market, a prime area! When in China, using local SIM cards meant losing access to many critical apps that I heavily relied on. I simply had to kiss Facebook, WhatsApp, Google and others goodbye.

All the SIM cards that I keep as souvenirs. 

When I returned to China recently, I tried the data travel plan from my provider, StarHub. The setup, I guess, pretty much depends on the provider. In my case, since I already had the International Roaming service, I just had to choose the DataTravel plan. I opted for the Asia-Pacific region because I was only going to China and Japan. It was activated in no time. When I landed in Shanghai, there was a pop up message asking if I wanted to turn on data while roaming. I just had to click yes and voilà! Those forbidden apps were accessible! While I might be wrong, but the internet connection seemed to be routed back to Singapore before it went out to, let's say, Google. That's why it wasn't blocked by the great firewall of China. The behavior was accidentally confirmed when I accessed Netflix in Japan. When I used my mobile data, the content looked like what I normally saw in Singapore. When I switched to WiFi, I saw different shows that were only available in Japan (I ended up watching the Big Bang Theory and Florence Foster Jenkins in Fukuoka).

As I have used all three options above, I could safely say that I preferred the last one. In the span of 13 days, I used Google Maps, WhatsApp and Facebook heavily, spending more than 3GB worth of data. I paid SGD 25 for the 4GB data that I subscribed. It was quite a practical approach as I eliminated the need of carrying another device and avoided the problem of being blocked in China. It wasn't exactly expensive and it felt to great to stay connected. So what do you think?

A portable WiFi (the black colored device, not the bread).

Internet Di Kala Liburan

Seorang teman sedang berada di Jepang dan dia berbagi foto WiFi portabel yang dia pakai saat berlibur di sana. Setelah itu dia bercerita tentang parahnya jaringan internet dari perangkat tersebut. Apa yang dia alami bukanlah sekedar keluhan. Ini adalah sebuah masalah di zaman sekarang dan saya bisa mengerti apa yang dia rasakan. Bercermin pada pengalaman saya sendiri sebagai pelancong masa kini, saya juga sangat bergantung pada koneksi internet yang bagus untuk semua aplikasi perjalanan dan media sosial yang saya pakai. Oh ya, saya menggunakan Google Maps untuk sampai ke tempat tujuan dan saya juga memiliki kebiasaan untuk merekam jejak saya dengan aplikasi Swarm. Jadi apa yang harus saya lakukan supaya semuanya berjalan lancar? Dalam beberapa tahun ini, kebetulan saya pernah mencoba beberapa solusi. Sejauh ini tidak ada solusi yang sempurna, namun saya akan coba paparkan sehingga anda bisa menilai, apa yang cocok untuk anda. 

Pertama-tama, mari kita lihat WiFi portabel. Di negara-negara tertentu, misalnya Jepang atau Singapura, seorang turis bisa menyewa WiFi portabel begitu dia tiba di bandara. Saya pernah menyewa perangkat tersebut di Haneda dan mengembalikannya di Narita saat saya ke Jepang untuk pertama kalinya. WiFi portabel ini mudah untuk dibawa ke mana-mana dan saya bisa menghubungkan lebih dari satu telepon genggam ke perangkat ini. Akan tetapi saya menyadari ada dua masalah yang saya hadapi selama menggunakan WiFi portabel di Tokyo. Yang pertama, baterainya hanya bertahan kira-kira lima jam. Seingat saya, perangkat yang saya sewa saat berlibur ke Jepang di tahun 2014 ini tidak bisa disambungkan ke bank baterai. Begitu kehabisan baterai, internet kita pun hilang sudah. Masalah kedua, kuota datanya sangat terbatas. Petugas di loket peminjaman memberitahukan bahwa saya sebaiknya tidak menonton YouTube lewat WiFi portabel, namun putri saya yang berumur kurang dari dua tahun pada saat itu hanya mau makan saat menonton YouTube. Setelah itu, internetnya terputus cukup lama!

Pilihan lain yang sering saya gunakan adalah membeli kartu SIM lokal. Cara ini bukan saja memungkinkan saya untuk mendapatkan akses internet di negara yang saya kunjungi, tetapi juga memungkinkan saya untuk menelepon dengan tarif lokal. Kendati begitu, fitur ini sebenarnya kurang berguna bagi saya karena saya hampir tidak pernah menelepon orang lain dan kalau pun saya ada menelepon, saya bisa menggunakan WhatsApp untuk menghubungi mereka. Kendala yang mungkin dihadapi saat menggunakan opsi ini adalah salah pilih penyedia telkom dan sensor internet di Cina. Sewaktu saya berada di Myanmar, saya dan kolega saya membeli kartu SIM dari penyedia telkom yang berbeda. Koneksi 4G saya bahkan tidak bermasalah di tempat yang tinggi dan terpencil seperti Pagoda Kyaiktiyo di negara bagian Mon, namun rekan kerja saya terus-menerus mengalami gangguan sinyal bahkan di Pasar Bogyoke yang berada di pusat kota! Kendala lainnya, saat berada di Cina, menggunakan kartu lokal sama saja artinya dengan kehilangan akses ke situs atau aplikasi internasional yang biasa saya pakai. Apa gunanya internet kalau saya tidak bisa menggunakan Facebook, WhatsApp, Google dan aplikasi lainnya?

Berbagai pilihan paket data perjalanan dan harganya.

Ketika saya kembali ke Cina baru-baru ini, saya mencoba fitur data perjalanan dari penyedia telkom saya, StarHub. Cara aktivasinya mungkin berbeda-beda, tergantung penyedia layanan anda. Untuk saya sendiri, karena saya sudah memiliki fitur International Roaming, saya cukup mengaktifkan layanan DataTravel. Saya memiliki paket Asia-Pasifik karena saya hanya pergi ke Cina dan Jepang. Ketika saya mendarat di Shanghai, telepon genggam saya menampilkan pesan di layar yang menanyakan apakah saya ingin mengaktifkan data saat berada di luar negeri. Saya cukup menekan pilihan "ya" dan aplikasi yang diblok di Cina pun bisa diakses! Kalau saya amati, sepertinya koneksi internet itu dialihkan kembali ke Singapura dan dari situ barulah ke situs-situs seperti Google. Karena inilah aplikasi yang saya pakai tidak diblok sewaktu saya berada di Cina. Ketika saya mengakses Netflix di Jepang, saya menyadari bahwa teori saya ini cukup masuk akal. Sewaktu saya menggunakan internet dari data telepon genggam, film-film di Netflix persis sama dengan yang saya lihat sewaktu berada di Singapura. Begitu saya pindah ke WiFi, saya melihat film-film yang berbeda (dan akhirnya saya menonton the Big Bang Theory serta Florence Foster Jenkins di Fukuoka). 

Berdasarkan pengalaman saya menggunakan tiga pilihan di atas, saya cenderung menyukai pilihan terakhir. Dalam rentang waktu 13 hari, saya senantiasa mengakses Google Maps, WhatsApp dan Facebook sehingga menghabiskan lebih dari 3GB data. Saya membayar SGD 25 untuk 4GB data yang saya aktifkan. Pilihan menggunakan data perjalanan ini tergolong praktis karena saya tidak perlu membawa WiFi portabel dan juga tidak diblok di Cina. Soal harga, saya kira cukup terjangkau, sehingga saya bisa tetap memiliki internet. Bagaimana menurut anda?

Sunday, December 9, 2018

Climb Every Mountain

I'm always impressed by civilization. My kind of holiday is to go to some cities for sightseeing and embracing their culture. Yes, I'd been to Bromo or Boracay, but I'm not really fond of such back-to-nature trips. Having said that, when I heard about colleagues of mine paying quite a hefty sum of money for 11 days of journey in the Himalayas, I found it rather intriguing. Why would they go in freezing autumn or winter time to such a high altitude place? It was going be physically challenging and mentally draining, so what sort of thrill were they seeking?

Out of curiosity, I asked Emerson about it. He just came back from the aforementioned trekking trip with Keith, the same guy that I went to Myanmar with. Em told me he always had a special affinity with nature and he did Mount Kinabalu together with Keith few years ago. While he never exactly planned for it, Em was no stranger to the Himalayas. For the past few years, even in the office environment, we would hear people visiting Nepal for Everest Base Camp (the South Base Camp at the elevation of 5,364m, to be precise, because there's another one in Tibet) or Annapurna Sanctuary at the elevation of 4,130m. It was Keith that planned and asked him if he was keen to tag along.

Em and Keith, heading to Kathmandu.
Photo by Keith. 

Prior to the trip, Em did whatever he could to prepare himself. He read online articles, watched relevant YouTube channels, bought the suitable trekking gears and jogged regularly to train his stamina. The only thing he couldn't do was getting himself adjusted to the high altitude. As Bukit Timah was only at the elevation of 164m, after getting used to it, his next best bet was Gunung Lambak (510m) in Kluang, Johor, West Malaysia. But even conquering Gunung Lambak wasn't enough to get him prepared, so two weeks before the trekking started, he took a traditional Chinese medicine called Hong Jing Tian (红景天) on daily basis. It was believed that the herb would help the body to be acclimatised, hence minimising the risk of suffering from Acute Mountain Sickness (AMS).

Now, of all the choices out there, it turned out that Malaysia Airlines offered the cheapest flights. Em paid roughly around SGD 400 for his round-trip ticket. After a transit in Kuala Lumpur, another flight with the duration of 4 hours 40 minutes eventually brought Em to Kathmandu. By the way, delayed or even missing luggage was apparently quite common for this route, so travel insurance would definitely come handy.

Em posing with the propeller plane.
Photo by Keith.

The plane touched down in Kathmandu at 11pm. Em and his entourage had to quickly check in and sleep as they were expected to reach the domestic airport at 4am for their flight to Lukla. After making their way through a very chaotic airport (busses crisscrossing on the same runway used by aeroplanes was just one of the examples given), they learnt that their flight was delayed due to hazy weather. Em and friends would only fly at 1pm. Their original schedule was 6am. This, apparently, was normal, because the weather on both Kathmandu and Lukla had to be clear. A year ago, another colleague of us experienced a worse situation and his flight was delayed for three days.

The journey to Lukla was on a propeller plane. Em told me that he even had a phobia flying on a commercial jet plane, so we could only imagine that it must be worse for him to be off the ground in a tiny, 20-seater aircraft (and the stewardess gave them candies). They landed 40 minutes later in Lukla. At the elevation of 2,860m, the small town in Province No.1 (yes, that's the name of the province at the moment!) was their starting point. Their adventure was about to begin!

Em, taking a break in Pangboche.
Photo by Keith.

From Lukla, the group of five went up with two tour guides and three porters (one person could carry up to two people's luggage) to Everest Base Camp. They would walk as far as 6 to 10km, going up as high as 400 to 500m per day, before spending the night at the teahouses. As this was a mountainous area, the way up wasn't always going up. Sometimes they needed to follow the road and go down before heading up again. They crossed bridges, climbed the stairs and watched their steps carefully when they shared the steep and narrow path on the cliff with another groups that were on their way down. Quite dangerous, as one might fall into the gorge. Throughout the journey, they also walked on the same pathway as the beasts of burden such as yaks or donkeys. The problem with these domesticated cattle were, they defecated all the way. It was bad, especially when one was panting and struggling for fresh air, but all he got was shit smell. As there wasn't any other way to avoid this, eventually Em got used it.

Sleeping was an ordeal worth discussing about. They were never in a full sleeping state and would wake up every once in a while. It was totally uncomfortable due to several reasons. First of all, Em had this idea that because of cold weather, he wouldn't be sweating profusely, but this turned out to be untrue. The trip was generally bright and shiny. As they walked through the harsh terrain, they exerted a lot of energy and the humidity didn't help. As a result, they became greasy while showering was not recommended (he did it once, though, paying 500 rupees to bath under the dripping water for less than 10 minutes). Once they reached the teahouse, they'd gather in the dining room to get warm and dry from the fire burning on cow dung cakes. Secondly, when the night came, it was so cold that even the water in the pail turned into ice, so try sleeping in such condition when the fire was no longer burning. Oh yes, the cow dung was such an expensive fuel that the teahouse owner had to ration and stop burning it after certain hours.

Em and Keith, stopping for a pose.
Photo by Keith. 

It took them eight days to go up and three days to come down. Within the eight days, they were actually spending two days in Namche Bazaar (3,440m above sea level) to get acclimatised with the high altitude. The last leg before reaching the Everest Base Camp was a place called Gorak Shep (5,164m above sea level). It was also at this height that Em started experiencing AMS, so he took Diamox to ease the nauseous feeling.

From Gorak Shep, Em could already see the crowd at the Base Camp. An hour later, at 1pm, he finally made it there himself! There he was, standing on a rocky platform covered with colorful flags, filled with sense of achievement. As he looked up, he was wondering how the next Base Camps before the summit would look like. As he looked down, he had this dreadful thought of another long way down to Lukla that had to be completed within three days. Looking back, Em concluded that the journey was meant to be once in a lifetime. Worth remembering, but probably not worth repeating. He wouldn't mind a shorter trip, though. Mount Fuji, for instance.

Epilogue:

Em stayed in Kathmandu after he finished trekking. He was expecting a city like Bangkok, but the capital city of Nepal was quite different from any other cities he had seen before. It was still underdeveloped and hygiene was a problem. Em drank only bottled water that costed him 100 rupee (SGD 1.21) per litre in Kathmandu and, as he went up to the mountain, the price also went up to as high as USD 6 per litre. But the city wasn't without its charm. Kathmandu had plenty of temples and was famous for Durbar Square. Em also tried dal bhat, the popular traditional meal in Nepal where one could ask for refill. After few days, he eventually flew back to Singapore via Kuala Lumpur. By the way, if you are wondering what's with the subject, Em's journey reminded of a song in the Sound of Music, which was called Climb Ev'ry Mountain, haha...

Emerson at the Everest Base Camp.
Photo by Keith.


Mendaki Pegunungan Himalaya

Saya selalu mengagumi peradaban sehingga saya cenderung berlibur ke perkotaan untuk melihat budaya asing. Ya, saya pernah ke Bromo atau Boracay sebelumnya, tapi saya tidak begitu menikmati perjalanan kembali ke alam. Oleh karena itu, ketika saya mendengar bahwa rekan kerja saya membayar mahal untuk pendakian di Himalaya, saya jadi agak penasaran. Kenapa mereka mau-maunya pergi pada saat musim dingin ke tempat yang luar biasa tingginya? Perjalanan mereka pasti akan sangat melelahkan secara fisik dan batin, jadi apa sebenarnya ingin mereka capai? 

Karena ingin tahu, saya lantas berbincang-bincang dengan Emerson. Baru-baru ini dia berangkat ke Nepal bersama Keith, rekan kerja yang juga pernah pergi ke Myanmar bersama saya tahun lalu. Em bercerita bahwa dia senantiasa menyukai alam dan pernah mendaki Gunung Kinabalu bersama Keith beberapa tahun silam. Walau tidak pernah memiliki rencana untuk ke sana, Em sering mendengar tentang Himalaya. Beberapa tahun terakhir ini, di lingkungan kantor kita sering terdengar kisah tentang pendakian ke Everest Base Camp (tepatnya South Base Camp yang berada di ketinggian 5.364m, karena masih ada lagi North Base Camp yang berada di Tibet) atau Annapurna Sanctuary yang berada di ketinggian 4.130m. Kebetulan Keith berencana untuk menjajal Himalaya pada tahun ini dan ia pun mengajak Emerson untuk turut serta.

Emerson dan rekan-rekan di Gunung Lambak.
Foto: Emerson.

Berbulan-bulan sebelum hari pendakian, Em mempersiapkan diri. Dia membaca berbagai artikel di internet, menonton video tentang Himalaya di YouTube, membeli peralatan dan baju yang cocok untuk mendaki gunung serta berlari secara rutin untuk meningkatkan staminanya. Satu-satunya yang tidak bisa ia latih adalah penyesuaian diri terhadap tempat tinggi yang tipis kadar oksigennya. Bukit Timah di Singapura hanya setinggi 164m. Setelah terbiasa naik-turun Bukit Timah, Em mencoba mendaki Gunung Lambak (510m) di Kluang, Johor, Malaysia Barat. Akan tetapi Gunung Lambak pun hanya 1/10 dari ketinggian Everest Base Camp, jadi dua minggu sebelum berangkat, Em meminum Hong Jing Tian (红景天) secara rutin. Obat tradisional Cina ini konon bisa membantu tubuh menyesuaikan diri terhadap ketinggian sehingga Em bisa mengurangi resiko terserang oleh Acute Mountain Sickness (AMS), sebuah gejala pusing dan muntah yang mungkin terjadi pada mereka yang tidak terbiasa dengan ketinggian yang ekstrim.

Dari semua pilihan yang ada, Malaysia Airlines menawarkan penerbangan pergi-pulang yang paling murah untuk rute Singapura-Kathmandu. Em membayar kira-kira SGD 400. Setelah transit di Kuala Lumpur dan melanjutkan perjalanan dari sana, Em pun tiba di Kathmandu setelah menempuh penerbangan berdurasi 4 jam 40 menit. Oh ya, bagasi yang tertunda atau hilang ternyata tergolong lumrah untuk rute yang satu ini, jadi asuransi perjalanan akan sangat membantu.

Bandara Lukla dengan landasan pacu yang pendek dan tikungan tajam ke kanan.
Foto: Emerson. 

Pesawat mendarat di Kathmandu pada pukul 11 malam. Em dan rombongannya pun bergegas ke hotel dan tidur sebisanya, sebab mereka harus berada di bandara lagi di pagi-pagi buta untuk terbang ke Lukla. Setelah tiba di bandara domestik yang kacau-balau (bis dan kendaraan lainnya berlalu-lalang begitu saja di landasan pacu yang dipakai oleh pesawat) dan melewati pemeriksaan yang sangat minim (Em berpendapat bahwa bom sebenarnya bisa diselundupkan dengan mudah), Em mendapat kabar bahwa penerbangannya ditunda karena cuaca buruk. Jadwal semula adalah jam enam pagi, tapi mereka akhirnya berangkat jam satu siang. Penundaan pesawat ini ternyata hal yang biasa terjadi karena terbang atau tidaknya pesawat sepenuhnya bergantung pada cuaca di Kathmandu dan Lukla. Setahun yang lalu, seorang kolega kita mengalami situasi yang lebih buruk: penerbangannya ditunda selama tiga hari! 

Perjalanan ke Lukla ditempuh dengan pesawat baling-baling. Em bercerita bahwa dia sebenarnya memiliki fobia bahkan ketika terbang dengan pesawat jet komersil, jadi bisa dibayangkan betapa cemasnya dia ketika harus menaiki pesawat kecil hanya memiliki 20 kursi penumpang (dan satu-satunya santapan selama penerbangan adalah permen yang dibagikan pramugrari sebelum pesawat lepas landas). Mereka mendarat 40 menit kemudian di Lukla. Kota kecil di Provinsi No 1 (ya, itu nama provinsinya!) yang berada di ketinggian 2.860m menjadi titik awal perjalanan mereka. Sebuah petualangan pun segera dimulai!

Emerson di awal pendakian.
Foto: Keith.

Dari Lukla, grup beranggota lima orang ini mulai berjalan mengikuti dua pemandu. Mereka juga disertai oleh tiga orang dari jasa angkutan (setiap portir yang kuat dan terlatih fisiknya ini sanggup membawa koper dan tas dari dua orang peserta). Mereka berjalan kira-kira enam sampai 10 kilo, mendaki ketinggian sekitar 400 sampai 500 meter per hari, sebelum bermalam di penginapan kecil. Karena ini adalah daerah pegunungan, jalan menuju ke puncak tidak selalu menanjak ke atas. Jalan yang berkelok-kelok kadang membawa mereka ke turun ke lembah, lalu kembali ke atas dataran tinggi secara perlahan. Mereka melewati jembatan, menaiki begitu banyak anak tangga dan bersandar pada dinding bukit saat melewati lereng yang sempit dan curam. Ini cukup berbahaya, terutama saat mereka berpapasan dengan rombongan lain yang turun dari arah puncak. Jika tidak hati-hati, mereka bisa saja terpeleset dan jatuh ke jurang. Sepanjang perjalanan, mereka juga berjalan bersama-sama dengan ternak seperti yak atau keledai yang dijejali dengan barang-barang bawaan. Hewan-hewan ini buang air seenaknya. Saat para pendaki kita ini terengah-engah membutuhkan udara segar, yang mereka cium justru bau tahi. Kendati begitu, karena senantiasa tercium sepanjang waktu, mereka akhirnya terbiasa dengan aroma yang tidak sedap ini.

Tidur adalah pengalaman lain yang juga penuh dengan derita. Mereka tidak pernah terlelap dengan pulas dan seringkali terbangun sendiri setelah memejamkan mata selama beberapa jam. Pokoknya benar-benar tidak menyenangkan karena beberapa alasan. Pertama-tama Em sempat mengira bahwa dia tidak akan keringatan karena cuaca yang dingin. Namun matahari bersinar terang sepanjang waktu dan di tengah teriknya cahaya matahari, mereka berjuang sekuat tenaga melewati medan perjalanan yang sulit. Alhasil, mereka pun berkeringat dan berminyak, namun tidak memiliki kesempatan untuk mandi (sepanjang perjalanan, Em hanya sempat mandi sekali setelah membayar 500 rupee untuk mandi di bawah tetesan air untuk jangka waktu kurang dari 10 menit). Setelah tiba di penginapan, mereka akan berkumpul di ruang makan untuk menghangatkan dan mengeringkan badan dari panas api yang membara di tungku. Di ruang makan itu, mereka juga memesan masakan vegetarian hambar dan sama menunya dari satu penginapan ke penginapan lain. Ketika malam tiba, temperatur pun turun drastis sehingga air di ember pun membeku menjadi es. Bayangkan seperti apa rasanya tidur dalam kondisi seperti itu tatkala api tidak lagi menyala. Oh ya, api yang dinyalakan pas jam makan itu sebenarnya berasal dari kotoran sapi yang dipadatkan dan dibakar. Bahan bakar ini cukup mahal dan pemilik penginapan akan berhenti membakarnya setelah jam makan malam usai.

Yak, sapi gunung di Himalaya yang digunakan untuk mengangkut barang.
Foto: Emerson.

Perjalanan Em dan kawan-kawan membutuhkan waktu delapan hari untuk sampai ke puncak, kemudian mereka akan menempuh perjalanan selama tiga hari untuk kembali ke Lukla. Dalam kurun waktu delapan hari pertama, mereka menghabiskan waktu dua hari di Namche Bazaar yang berada di 3.440m di atas permukaan laut untuk membiasakan diri di ketinggian. Setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanan sampai ke Gorak Shep yang berada di ketinggian 5.164m di atas permukaan laut. Emerson mengalami gejala AMS pada ketinggian ini sehingga ia pun meminum obat bernama Diamox untuk mengatasi rasa mual dan pening. 

Dari Gorak Shep, Em sudah bisa melihat keramaian di Everest Base Camp. Satu jam kemudian, pukul satu siang, dia akhirnya tiba di tempat tujuan. Berdirilah dia di atas panggung batu yang dipenuhi bendera berwarna-warni. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan! Ketika dia menoleh ke atas, dia membayangkan seperti apa Base Camp berikutnya, sebab masih ada beberapa lagi yang harus dilewati sebelum para pendaki mencapai puncak Everest yang berada di ketinggian 8.848m. Ketika dia menoleh ke bawah, dia hanya bisa menghela napas panjang saat membayangkan perjalanan pulang yang harus ia tempuh dalam waktu tiga hari. Sekarang, ketika ia melihat kembali, Em menyimpulkan bahwa petualangan mencapai Everest Base Camp cukup hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Ini adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan untuk diingat, namun terlalu menyiksa untuk diulang. Meskipun demikian, sebagai seorang pencinta alam, dia tidak keberatan untuk melakukan pendakian yang lebih singkat, misalnya ke Gunung Fuji...

Momo, makanan khas di Nepal yang mirip pangsit.
Foto: Emerson.

Penutup:

Em berlibur di Kathmandu setelah menyelesaikan pendakiannya. Dia sempat menyangka bahwa Kathmandu itu mirip Bangkok, namun ibukota Nepal itu jauh berbeda dengan kota-kota lain yang pernah ia lihat sebelumnya. Kathmandu masih sangat terbelakang dan kebersihan adalah masalah utama di sana. Em hanya meminum air botol selama berada di Nepal. Sebotol air putih berharga 100 rupee (sekitar 12 ribu rupiah) di Kathmandu dan bisa mencapai USD 6 di Himalaya. Walau tidak maju kotanya, ini tidak lantas berarti bahwa Kathmandu sama sekali tidak menarik. Kota ini memiliki banyak kuil dan juga Durbar Square yang terkenal. Em juga mencoba  dal bhat, menu lokal yang bisa disantap sepuasnya karena nasi dan sayurnya bisa ditambah secara secara gratis. Setelah beberapa hari, Em akhirnya kembali ke Singapura melewati Kuala Lumpur...