Total Pageviews

Translate

Sunday, August 27, 2017

The Salted Egg Fish Ball Saga

Nothing lasts forever, even cold November rain. Of all the people I know, nobody could relate to the lyrics more than this friend of mine. Hardy sang the song wholeheartedly when he was in the band and he knew what it meant when his was in such situation. The construction materials business that he had done for a decade went down the drain in a blink of an eye. Whatever work and effort that followed afterwards also failed. Suddenly his future looked bleak and uncertain, especially when he got a family to take care of. Then he thought of something that could be done within his means and fast depleting savings: food business. On October 2014, he opened his salted egg fish ball stall at Pasar Delapan Alam Sutera, making use of a small kiosk with the size of 2.5 x 2.5 meters.

At a glance, his foray into food and beverages world seemed like an odd choice, but apparently Hardy always had a lifelong culinary hobby. It also helped that he had a brother-in-law, Handoko, who ran this little-known salted egg fish ball eatery in Pontianak. At wit's end and with no better options in hand, Hardy went back home to learn the 18-year-old family recipe. Once he mastered it, he crossed the sea again to make good use of the skill. It was his last resort. He wasn't sure, but he knew he just got to try it.

Yours truly, enjoying salted egg fish balls soup and a bowl of noodles.

Back to Tangerang, his stomping ground, he did his survey. With no car as a mean of transport, it only made sense that he started somewhere nearby and familiar. He chose Pasar Delapan due to its close proximity and the fact that there was quite a significant number of West Kalimantan people there. As salted egg fish ball was a rather unusual cuisine for the locals, having some potential customers that might have heard about it was definitely a plus point.

As expected from the beginning of every good story, it was a rough ride. The early routine was punishing, but at least he didn't have to do it alone. Supported by his faithful wife, Henny, the couple would wake up at 3.30am to transport the homemade fish balls to the market and made sure that the broth was already boiling before 7am. Once he had finished selling for the day, they would spend their late afternoon at home to prepare the next batch of fish ball for tomorrow. Upon the task completion at around 10 pm, Hardy then rushed to Muara Angke fish market to buy his ingredients. He'd really call it a day at around 1am to catch few hours sleep before starting the next cycle of his daily routine. This monotonous activities would last for about six months.

He learnt the ropes afterwards. At the same time, his business was also picking up, therefore it was possible for him to improve. He rented a shop house and shifted his stall there, making it more presentable for him and comfortable for the customers. He also hired the staff to help him out at the eatery and at home, where he would prepare the fish paste for them to make the fish balls. He, too, had the permanent vendors for fish and other cooking ingredients now.

The man...

Hardy paid a special attention to the fish because it was the base of what he was selling. He used yellow tailed snapper because the meat was firm and it didn't or smell taste too fishy. In order to give the best for the customers, he used only the export grade quality, which meant the fish was skinned and frozen right away on the fishing boat after it was made into fillet, hence the fresh result. This was then made into fish balls, bitter gourd fish balls, stuffed tofu, fish stick and, of course, the special variant of fish ball that became the brand name.

The brand...

All these were combined to make up various dishes such as Pontianak fish porridge, fish soup, assorted noodles, kway teow, etc. Sitting on top of the menu list was the enigmatic salted egg fish balls. It was such a strange name that many food lovers would find it irresistible. As it started gaining an unprecedented popularity, Trans 7, a TV channel, sent their food detectives, Sasha Sylvia and Lolita, to investigate. Chef Adzan Budiman also tagged along for the mission. After that, Hardy was invited to a TV programme called Pagi Pagi by Net TV to discuss about the salted egg fish ball with the hosts Hesti and Andre Taulany. Since then, the particular menu had been enjoyed not only by regular customers, but also the likes of Vice Governor of West Kalimantan, Mayor of Singkawang and so forth.

The signature...

Nothing lasts forever, even cold November rain. And Hardy can finally take a breath and look back. All the hard work he had done definitely paid off. Nevertheless, what's next for the man? He is toying with an idea of a second stall to cater for the customers that are staying far from Alam Sutera. We will definitely hear from him via Facebook and Instagram (you can search using the keyword: bakso ikan telur asin Ahan), but until then, perhaps we can drop by and have a bowl of salted egg fish balls first. How about that, eh?

At the TV Programme, Pagi Pagi by Net TV

Sebuah Kisah Bakso Ikan Telur Asin

Nothing lasts forever, even cold November rain. Dari semua orang yang saya kenal, rasanya tidak ada yang lebih memahami lirik lagu Guns n' Roses ini selain teman saya yang satu ini. Hardy menyanyikan lagu ini dengan sepenuh hati ketika dia berada di band dan dia tahu apa artinya ketika hidupnya dirundung masalah. Bisnis bahan bangunan yang sudah digelutinya selama 10 tahun kandas begitu saja dalam sekejap mata karena sesuatu dan lain hal. Apa pun usaha yang ia lakukan setelah itu tetap tidak membuahkan hasil. Tiba-tiba saja masa depannya terasa suram, apalagi saat ia teringat dengan keluarga yang harus ia nafkahi. Setelah lama berpikir, ia merasa bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan dan modal yang tersisa: bisnis makanan. Pada bulan Oktober 2014, ia pun berjualan bakso ikan telur asin di Pasar Delapan Alam Sutera di kios mungil KV 12 yang berukuran 2,5 x 2,5 meter.

Menu-menu yang tersedia.

Sekilas pandang, terjunnya Hardy ke dunia makanan terasa janggal, tapi ternyata dia memang memiliki hobi memasak dari sejak dulu. Hardy pulang ke Pontianak untuk belajar dari adik iparnya, Handoko, yang telah mewarisi usaha ayahnya dalam berjualan bakso ikan telur asin. Setelah menguasai resep keluarga yang sudah hampir berusia 20 tahun, Hardy menggunakannya sebagai jurus pamungkas. Di kala itu ia tidak ada pilihan lain, jadi dia hanya bisa mencoba dengan sepenuh hati dan segenap upaya.

Sekembalinya ia ke Tangerang, Hardy lantas melakukan survei. Karena tidak memiliki mobil sebagai sarana transportasi, dia memutuskan untuk memulai dari tempat yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Selain dekat, Pasar Delapan juga merupakan tempat di mana banyak orang Kalimantan beraktivitas. Karena bakso ikan telur asin bukanlah menu yang dikenal baik oleh orang lokal, adanya calon pelanggan yang pernah mendengar tentang masakan ini tentunya layak dipertimbangkan sebagai nilai tambah.

Seperti yang bisa ditebak dari setiap permulaan cerita sukses, yang terjadi pada awalnya adalah kerja keras. Rutinitas Hardy benar-benar melelahkan, tapi syukurlah ia tidak perlu menjalaninya sendiri. Didukung oleh istrinya, pasangan ini bangun jam 3.30 pagi untuk mempersiapkan dan membawa bakso ke pasar. Setelah itu, kuah ikan harus dipastikan mendidih sebelum jam 7 pagi, sebab pelanggan pertama akan segera datang untuk sarapan. Seusai berjualan dari pagi hingga siang menjelang sore, Hardy dan Henny kemudian pulang ke rumah untuk membuat bakso yang akan dijual keesokan harinya. Setelah itu, Hardy akan bergegas ke pasar Muara Angke untuk membeli bahan-bahan masakannya. Biasanya ia baru bisa terlelap sekitar jam 1 pagi. Beberapa jam kemudian, mereka sudah harus bangun lagi untuk memulai aktivitas yang sama di hari berikutnya. Kegiatan yang monoton ini berlangsung kurang-lebih enam bulan lamanya.

Beraneka bakso dan tahu, siap untuk dimasak dan disajikan.

Lambat laun Hardy mulai mengerti seluk-beluk pekerjaan baru yang ditekuninya. Pada saat bersamaan, bisnisnya pun mulai membaik, karena itu ia bisa melaksanakan berbagai terobosan yang sudah dipikirkannya. Ia menyewa ruko yang lebih besar sebagai tempat yang lebih layak dan nyaman untuk berjualan. Selain itu, dia juga mempekerjakan karyawan, baik di toko maupun di rumah. Dengan demikian, Hardy cukup mempersiapkan adonan bakso dan karyawannya bisa lanjut membuat bakso sementara dia berjualan di toko. Dia kini berlangganan di suplier tetap untuk ikan, telur asin dan bahan-bahan lainnya.

Hardy sangat serius dengan mutu ikan yang ia pakai untuk membuat bakso. Dia menggunakan ikan ekor kuning karena dagingnya yang tidak terlalu lembek dan amis. Untuk kepuasan pelanggan, Hardy hanya memakai kualitas ekspor, dimana ikan yang ditangkap langsung diproses menjadi fillet dan dibekukan di kapal ikan untuk menjamin kesegaran ikan tersebut. Bahan dasar ini kemudian diolah menjadi bakso ikan polos, bakso pare, tahu isi ikan dan tentu saja bakso ikan telur asin.

Detektif Rasa, Sasha Sylvia dan Lolita.

Semua bahan-bahan makanan ini kemudian dikombinasikan menjadi berbagai menu, mulai dari bubur ikan Pontianak, sup ikan, yam mie, yam kwetiau dan yam bihun, lengkap dengan minum tradisional bernuansa segar seperti es jeruk nipis dan es cincau. Dari daftar menu, sudah bisa dipastikan bahwa yang paling menarik perhatian adalah bakso ikan telur asin. Nama hidangan yang tidak lazim ini menarik perhatian banyak pencinta makanan dan kian lama kian terkenal. TV swasta Trans 7 bahkan mengirimkan Detektif Rasa, Sasha Sylvia dan Lolita, untuk melakukan investigasi. Misi itu mereka emban bersama koki Adzan Budiman. Setelah itu, Hardy juga diundang untuk mengisi acara Pagi Pagi di Net TV untuk berdiskusi tentang bakso ikan telur asin bersama pembawa acara Hesti dan Andre Taulany. Sejak itu, menu laris ini bukan saja dinikmati oleh khalayak ramai, tetapi juga figur publik seperti Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Walikota Singkawang dan bos besar Ace Hardware/Living World Mall.

Foto bersama rombongan pejabat dan pengusaha. 

Nothing lasts forever, even cold November rain. Dan Hardy akhirnya bisa berhenti sejak untuk menoleh kembali apa yang telah dicapainya. Setelah pengalaman pahit yang menimpanya, ia tetap bisa bangkit dan berdiri tegak. Semua kerja kerasnya tidak sia-sia. Jadi apa rencana ke depannya? Hardy seringkali berpikir tentang untuk membuka cabang di tempat lain yang memudahkan para pelanggan yang sulit menghampiri Alam Sutera. Kita nantikan kabarnya lewat Facebook dan Instagram (bisa dicari dengan kata kunci: bakso ikan telur asin Ahan). Sambil menunggu, mungkin kita bisa mampir dan mencicipi semangkok bakso ikan telur asin dulu. Ya, nggak?

Oh ya, pakar bakso kita ini juga jagonya gitar, makanya sering pakai kaos the Rolling Stones atau John Lennon sewaktu berdagang. 




2 comments:

  1. Contohnya yang di cibubur..jarak jauh ke alam sutra..hihihi.
    Sukses terus utk bakso ahan πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  2. Mari mampir mencicipi semangkok bakso ikan telur asin, saya berburu dr Cipedak (Jagakarsa) dan senang telah 2X menikmati menu yg TOP. Ditunggu kabar baiknya dr Jakarta Selatan😊😊

    ReplyDelete