Total Pageviews

Translate

Sunday, February 24, 2019

Wonderful Indonesia: Jakarta

If you ever wonder why it took me so long to write about Jakarta, that's simply because it was very difficult to write! It was the city that I visited as a tourist during school days and those visits happened a long, long time ago. Not only the old memories had faded away, but those that I still remember might not be relevant anymore. When I moved there to work, I rarely went to places of interest because when you lived in Jakarta, you'd rather go to the malls on weekend. Now that I live in Singapore and occasionally visited the city as a tourist again, I'd normally go for the food. Having said that, I had to think really hard about what to write.

At the Sacred Pancasila Monument. 

Nevertheless, it doesn't mean that Jakarta has no tourist spots. I went to quite a few destinations, all of them when I was a little boy. It's too bad that I had almost no recollection about the visit to Ragunan, but from what I read recently, the zoo seems to be well-maintained. Then there is Sacred Pancasila Monument that was built to commemorate the bloody event in 1965. I remember that as a kid, I was fascinated by the name Lubang Buaya, literally translated as Crocodile's Hole, as it sounded serious and frightening. My expectation was all-time high, but I was disappointed to see just a tiny hole with no crocodile. Anyways, childish imagination aside, the place was grand. It has a giant garuda towering over the lifelike statues of the seven revolution heroes. If you knew what happened at that time, you'd paused for a while to appreciate the monument. Then apart from this, there is another one called Monas, a grand national monument that I once visited. I have to say that it isn't quite the place it used to be thanks to the bad reputation it earns these days as the venue of the anti-government protest events, so proceed with caution if you feel like visiting it.

At Taman Mini with overseas friends.
Photo by Evelyn Nuryani.

The following ones are the more popular and safer destinations. I visited these places again when I was a working adult in Jakarta. There is Ancol Dreamland, a resort destination similar to Sentosa Island in Singapore. I remember watching Irrawaddy dolphins when I was a kid (and beluga whales many years later) for the first time here. The animals were part of the attractions. While you are there, you may want to visit Sea World Ancol. For those who need some excitement, Dunia Fantasi theme park is located here, too. From Ancol, if you are heading eastwards, you can go to Taman Mini Indonesia Indah which, despite the name, is not mini at all. It has everything Indonesia and of all the gardens, parks and museums, the one I loved the most was the Fresh Water Aquarium. It is definitely worth visiting!

The Singapore tourists, arrving at the newly built T3 of Soekarno-Hatta Airport.

Now, do take note that the traffic jam in Jakarta is notorious. When you are travelling from one destination to another, always include some buffer time (and remember to pee before the journey starts). While several attempts including the TransJakarta bus rapid transit system had been made to solve the issue, they all looked futile thus far. But bad though it may seem, the progress actually gets better. The train from airport to the city is modern and comfortable, a vast improvement that we never thought we would see. Soon there'll be MRT, too, so hopefully that will help.

At Bon Jovi's concert in Jakarta.
Photo by Franky. 

The traffic jam, coupled with the fact that the tourists spots are just nice for domestic crowd but not exactly of world class quality, are probably the reasons why Jakarta is avoided by many. Luckily the capital city of Indonesia has a lot more to offer. When it comes to shopping, Jakarta has aplenty to the extent that I'm actually wondering why Indonesians come and shop in Singapore, because the branded stuff sold in Jakarta is practically the same stuff. Shopping malls such as Central Park, Grand Indonesia and many more are excellent and one can easily spend one whole day there! The entertainment sector such as concerts, exhibitions and events are also not far behind. Notable artists and performing acts such as Yayoi Kusama or Guns N' Roses had come to Jakarta in the recent years. I myself attended the Bon Jovi concert four years ago and, while the crowd control at the entrance was poor, overall it was still quite a pleasant experience.

If none of the above is good enough a reason for you to go to Jakarta, then the mouth-watering cuisines should be the one you are looking for. Everything from the archipelago can be found here, from the pork-based dish of Lapo Ni Tondongta, the legendary oxtail soup of Hotel Borobudur, the pride of Pontianak namely Alu's mixed rice, Cianjur grilled fish, nasi Padang, Aloi's noodles from Palembang and many more! Too many to mention! Just go and have some fun in Jakarta already!

From top left, clockwise: oxtail soup, grilled fish, Padang rice, mixed rice, Aloi's noodles and Batak cuisines. 


Indonesia Yang Menakjubkan: Jakarta

Jika anda pernah bertanya dalam hati, kenapa saya membutuhkan waktu begitu lama untuk menulis tentang Jakarta dalam seri Indonesia Yang Menakjubkan, ini karena Jakarta sangat sulit untuk ditulis! Saya mengunjungi kota ini sebagai turis ketika saya masih kanak-kanak dan masa itu sudah lama berlalu. Kenangan lama ini sudah memudar dan yang tersisa di benak saya mungkin tidak lagi relevan karena Jakarta sudah jauh berubah. Ketika saya bekerja di Jakarta, saya jarang mengunjungi kawasan turis karena saat seseorang menetap di Jakarta, yang justru cenderung terjadi adalah bersantai di mal. Tatkala saya pindah ke Singapura dan kembali mengunjungi Jakarta sebagai turis, yang saya cari biasanya makanan. Karena alasan-alasan inilah saya merasa sulit untuk menulis tentang Jakarta.

Bagi yang tertarik untuk ke tempat wisata di Jakarta, kebetulan saya sempat mengunjungi beberapa dan semua kunjungan terjadi ketika saya masih kecil. Cukup disayangkan bahwa saya tidak lagi seperti apa Kebun Binatang Ragunan itu, tapi berdasarkan apa yang saya baca, kebun binatang ini sepertinya cukup terawat. Selain itu masih ada lagi Monumen Pancasila Sakti yang dibangun untuk mengenang para pahlawan yang menjadi korban peristiwa berdarah di tahun 1965. Sebagai seorang bocah, saat itu saya sangat terkesan dengan nama Lubang Buaya yang angker dan misterius, namun saya akhirnya kecewa karena lubang itu kecil dan tidak ada buayanya. Yang ada justru patung Garuda yang megah dan menaungi patung tujuh pahlawan revolusi. Monumen lainnya yang juga tergolong kolosal adalah Monas, namun reputasinya tidak lagi sebagus dulu karena sering menjadi ajang demonstrasi dan kegiatan anti pemerintahan. Berhati-hatilah kalau anda ingin berkunjung ke sana.

Suatu ketika di pantai Ancol. 

Tempat-tempat wisata berikut ini, yang sempat saya kunjungi lagi setelah pindah ke Jakarta, lebih populer dan aman. Pertama-tama ada Taman Impian Jaya Ancol, kawasan turis yang mirip konsepnya dengan Pulau Sentosa di Singapura. Saya pertama kali melihat pesut di sini. Bertahun-tahun kemudian, pada ulang tahun Kalbe, saya juga melihat paus beluga untuk pertama kalinya di sini. Bagi anda yang berminat, selagi anda berada di Ancol, anda juga bisa mengunjungi Sea World. Kalau anda mencari sesuatu yang lebih menantang, anda bisa mengunjungi Dunia Fantasi. Bila anda berkunjung ke arah timur Jakarta, anda bisa juga mampir ke Taman Mini Indonesia Indah. Perlu diingat bahwa namanya saja yang mini, tapi luar biasa luas kawasannya sehingga anda mungkin bisa menghabiskan sehari penuh di sini. Dari semua taman dan museum di TMII, yang paling saya gemari adalah Aquarium Air Tawar. Paling layak untuk dikunjungi, saya rasa! 

Perlu anda ketahui juga bahwa macetnya jalanan di Jakarta sangat parah. Kalau anda menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, selalu ingat untuk berangkat lebih awal jika anda harus hadir tepat waktu (dan jangan lupa kencing sebelum berangkat). Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menguraikan kemacetan di Jakarta, termasuk juga pengadaaan jasa angkutan bis TransJakarta, tapi belum ada yang berhasil. Meski kelihatannya suram, beberapa terobosan baru mulai kelihatan. Kereta dari bandara ke kota misalnya, sarana ini terasa modern dan nyaman, sebuah peningkatan yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Tak lama lagi Jakarta juga akan mempunyai MRT yang diharapkan bisa menjadi solusi.

Nongkrong di kafe bersama teman-teman, budaya khas di Jakarta. 

Kemacetan di Jakarta dan juga kawasan turis yang mungkin lebih cocok untuk turis domestik dan belum bertaraf internasional ini mungkin menjadi alasan kenapa Jakarta tidak menarik untuk dikunjungi para pelancong. Untung saja Jakarta masih memiliki berbagai kelebihan. Untuk mereka yang senang berbelanja, Jakarta memiliki banyak mal. Saya terkadang heran, kenapa masih banyak yang datang dan berbelanja di Singapura, padahal mal di Jakarta juga memiliki toko-toko yang menjual barang-barang mewah. Pusat perbelanjaan seperti Central Park, Grand Indonesia tidak kalah bila dibandingkan dengan mal yang ada di luar negeri. Di sektor hiburan yang mencakup konser dan pameran, Jakarta pun tidak kalah bersaing. Seniman terkemuka dan grup musik kawakan seperti Yayoi Kusama atau Guns N' Roses sudah pernah tampil di Jakarta. Saya sendiri pernah menghadiri konser Bon Jovi beberapa tahun silam dan, meskipun antrian masuknya parah, secara keseluruhan pengalaman konser tersebut tidaklah terlalu buruk.

Jika alasan-alasan di atas masih belum cukup untuk meyakinkan anda, saya rasa beraneka makanan yang sedap dan lezat bisa menjadi daya tarik tersendiri. Berbagai jenis masakan dari seluruh nusantara bisa ditemukan di sini, mulai dari Lapo Ni Tondongta dari Batak, sup buntut legendaris dari Hotel Borobudur, nasi campur Alu yang menjadi kebanggaan Pontianak, ikan bakar Cianjur, bakmi Aloi dari Palembang, nasi Padang dan masih banyak lagi, terlalu banyak untuk disebutkan. Jadi tunggu apa lagi? Berangkatlah ke Jakarta dan alami sendiri sensasinya!



Tuesday, February 19, 2019

The Mentors

I remember the day when I was so much younger than today. When I was growing up, I didn't really have a father figure to look up to. Since nobody told me how the life of young adult was like, I had the faintest idea of how my future would be and this worried me. Those heroes that I idolised, from Bruce Lee to John Lennon, they were the people that I watched, listened to or read about, not exactly the real life people that I interacted with. Then came one day when I visited my first house and had a chat with my uncle. I couldn't remember what the topic was, but I remember him saying not to worry too much about life. Along the way, there'd be guìrén (贵人) helping me out. I didn't understand him then, but looking back, I guess he was right.

Guìrén can be translated as people of great help in one's life. There are indeed such people if you look hard enough. Some are much more approachable than the others, but they all are the same: they are there to make some good differences in one's life. And throughout my life thus far, I've encountered at least five of them. I don't think I ever thanked them enough for being there in my life, so let this be testament of the great people that I met.

The first one was my boss at Kartika Hotel, Mr. Effendi Widjaja. It was more than 20 years ago and he must be in his 50s then, the venerable man with unmistakable presence and strong charisma. There was no easy way to describe it in words, but if you were ever in the same room with him, you'd feel it, too. Even when you didn't know him, you could sense that he was a force to be reckoned with. My desk was in the corner of the office and I remember sitting there, watching him talking to all sorts of people. Some were decent, some blabbered, but they were all the same: not only they wanted to be heard, they demanded to be heard! However, when Mr. Widjaja started speaking, those people would just shut up and nod along voluntarily. They immediately recognised the authority in his voice. When the conversation was done, it was final. That was my first job and I never saw anything like this before. I was totally in awe!

My favorite moments? Those times when I drove him to the airport. There was just the two of us in the car. At first, since we didn't talk, the silence was eerie. I mean, I had heard about his legendary temper from other colleagues! But then he made a small talk and things got better after the warming up. I asked questions about life and he told me how he built his empire. His story was relatable for I was, too, a poor young man, perhaps not much different than him when he first started. But what's more touching was his willingness to share. It was a privilege. Come to think of it, I was a nobody and he could have just ignored me, but no, he chose to entertain me instead. By doing so, he instilled hope into a young man whom was chauffeuring him that fortune favoured the brave and hard-working ones. It was a life-changing gesture that I won't forget and I am always very thankful for that. 

The second person that I also held in high regard was my lecturer, Mr. Sandy Kosasi. He was like the smartest man in campus, always brimming with confidence and had the all answers! Back in those days, lecturers tended to be boring and only God knows what they were talking about (I remember one whom kept talking about Macintosh, an Apple computer nobody had ever seen before in Pontianak), but Mr. Kosasi was hip and thanks to his perfect timing in making jokes during lecturing, I always sat in front of the class and listened. I just loved attending his class and that's how it all started. 

Much to my delight, Mr. Kosasi happened to be my academic adviser that was in charge of my dissertation review. When I came to see him, he always got this wide, welcoming smile, then his eyes would focus as he turned on his serious mode when we began the discussion. In all truthfulness, I actually thought that our working relationship (I was a campus staff for a reason during my last year in college, haha) would smooth things out, but no, that didn't happen. He didn't make it easy, but in hindsight, he made sure that I was ready. When I stepped out from the meeting room after defending my essay from being bombarded with questions by other lecturers, I was not only the first student of my generation to pass the examination, I also passed with an A. But I didn't do it alone. A big chunk of the credits should go to Mr. Kosasi for bringing the best out of me.

Rusli during the anniversary party of Kalbe Farma. 

I met the third person when I was in Jakarta. His name was Rusli, an IT colleague who was only few years older than me. He was an enigma. He was confident and good in problem solving, but he did things his way and he had this devil-may-care character that not even the boss knew what to do with him. I thought he was cool, some non-IT colleagues thought he was the most helpful, others thought he had an attitude problem. It might be true to certain extent, considering the rocky start we had, haha. At first, he always kept me at arm's length and it didn't help that I wasn't any good. He clearly didn't need a rookie following him around, but I was persistent and very hard to get rid of. Eventually, as I got to know him better, I learnt that beneath the tough exterior, he was a friendly person. 

The time with Rusli was like being an understudy. I could have had these innate troubleshooting skill and mindset all this while, but by observing what he did, the talents were awoken for the first time ever. He showed me not only the IT stuff, but also how to handle people. With a water bottle in one hand (his signature style that was widely recognised at Kalbe), he would visit users, listened to their complaints while making some deadpan remarks, then by the time he was done, people were smiling and thankful. Only Rusli could make the job look fun! While I was never his equal, the time when he started trusting as his partner in solving problems was one of the proudest day in my life. It felt good and it certainly boosted up my morale, too. The boy who always tagged along was now his own man!

The fourth person appeared in the form of Bernard Lau. Imagine this: Jakarta was a foreign city, alright, but at least I still spoke the same language. In Singapore, I was a foreigner speaking a foreign language in a land that was culturally different. It was harder to adapt and in the early days, I had this inferior feeling because I came from a third-world country. Bernard was the first person that welcomed and helped me to adjust to the Singapore lifestyle. With him as my supervisor, I also learnt how to navigate my way through the working environment here.

Lunch in Batam with Bernard.
Photo by Franky.

Bernard had a vast knowledge about everything, but most importantly, he was also willing to share and capable of explaining things meticulously. If I was ever good, that's because he taught me well. I remember one particular incident where we just had to look at each other and, without uttering a single word, we knew how to split the tasks and solved the issue. That's how memorable our brilliant teamwork was. Later on in life, long after we weren't colleagues anymore, the relationship evolved. Throughout the past 12 years, he'd been a good friend, a best man, a travel buddy and an elder brother I never had. I might not say this often enough, but I always looked up to him. 

The last person I met so far was Kelvin Wong. He was feared by many, but not me. I think he was charming and smart. I remember the time when I attended the meeting chaired by him. There was this ongoing problem and nobody could agree on how to solve it, because each insisted that their way was the best. Mr. Wong just had to listen for a while and voilà, the decision was made. I was very much impressed. He was that good! Unlike the previous management, his direction was clear. We all just needed to worked hard towards that and we eventually reached the good result together. Those were very good years, really.

But Mr. Wong's true strength was not his leadership. What's more remarkable about the man was the quality not often seen by many: the assurance and advice that he gave me privately. One of the occasions that I'd remember for life was the time when he pulled me aside right after a meeting, telling me to speak slowly while assuring me that he didn't think anybody in the room knew the subject better than me, hence I shouldn't be worrying too much. To give you the background, I never felt comfortable in giving presentation and I would either stutter or have the words jumbled up. What he said to me, that was very nice of him to do so. When your boss gave such an encouragement, you'd remember it forever. It felt so genuine and sincere that the only way to repay his kindness was to do better next time. 

So this is the story of guìrén. It's too bad that not all of them were captured in photos (even the two that were photographed didn't have more flattering pictures), but the good memories live on and they are immortalised here for the first time ever. In retrospect, none of them probably ever thought that what they had done were big deals, but now that you've read the other side of the story from my point of view, you knew what they did mattered so much to me. The way I see it, we touched other people's life, making differences and some were actually big enough to be life-changing. Hence don't stop doing good deeds. There could be another Anthony out there and his life is changing for the better because of you...



Mereka Yang Berjasa

Saya ingat suatu hari dimana saya jauh lebih muda dari hari ini. Ketika saya beranjak dewasa, saya tidak memiliki sosok seorang ayah sebagai panutan karena tidak tinggal bersama orang tua. Para idola saya, mulai dari Bruce Lee sampai John Lennon, mereka adalah orang-orang yang saya tonton, baca atau dengar, bukan orang-orang yang berinteraksi langsung dengan saya. Karena tidak ada yang memberi tahu saya seperti apa kehidupan seorang pria yang mulai memasuki dunia kerja, saya tidak memiliki gambaran dan terkadang saya merasa khawatir. Kemudian tiba hari dimana saya mengunjungi paman saya di rumah pertama yang saya tempati. Saya tidak ingat lagi apa topik yang kita bicarakan, namun saat itu dia berkata bahwa saya tidak perlu terlalu cemas. Akan ada guìrén (贵人) yang membantu saya nantinya. Saya tidak paham apa maksudnya pada saat itu, namun setelah saya lihat kembali, saya rasa dia benar. 

Guìrén bisa diterjemahkan sebagai orang-orang yang membantu kita dalam hidup ini. Orang-orang seperti ini pasti pernah anda temui jika anda amati hidup anda secara sungguh-sungguh. Beberapa dari mereka mungkin lebih bersahabat dibanding yang lain, tapi peran mereka semua sebenarnya sama: mereka hadir untuk membuat perubahan yang baik dalam hidup kita. Sepanjang hidup ini, saya telah bertemu setidaknya lima orang yang layak disebut guìrén. Saya rasa tidak akan pernah ada ungkapan terima kasih yang cukup untuk membalas budi baik mereka, namun saya harap tulisan berikut ini bisa mengabadikan jasa mereka dan memberikan inspirasi untuk anda.  

Orang pertama adalah bos saya saat bekerja di Kartika Hotel, Bapak Effendi Widjaja. Penggalan kisah ini terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu dan saat itu dia berumur kira-kira 50an. Saya rasa tidak mudah untuk melukiskan sosoknya yang bijak dan berkharisma dengan kata-kata, tapi kalau anda berada di ruangan yang sama, anda pasti bisa merasakan wibawanya. Bahkan jikalau anda tidak mengenalnya pun anda bisa merasakan bahwa dia bukanlah orang tua biasa. Meja saya berada di sudut ruangan kantor dan dari situ saya sering mengamatinya menghadapi beraneka macam karakter. Ada yang sopan dalam bertutur kata, namun ada pula yang ngotot dalam penyampaian. Mereka semua pada dasarnya sama, menuntut untuk didengarkan. Akan tetapi begitu Pak Effendi berbicara, mereka pun terdiam dan akhirnya mengangguk-angguk setuju. Mereka bisa tahu dari nada bicaranya, siapa yang berkuasa di sini. Ketika percakapan usai, maka keputusannya adalah final. Perlu saya sampaikan bahwa itu adalah pekerjaan pertama saya dan saya tidak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya, jadi saya benar-benar terpukau. 

Masa-masa yang paling berkesan untuk saya adalah ketika saat mengantarnya ke bandara. Saat itu hanya ada saya di kursi pengemudi dan beliau di kursi penumpang. Awalnya suasana terasa diam mencekam, terlebih lagi karena saya sering mendengar tentang sifatnya yang temperamental. Namun siapa sangka dia memulai percakapan singkat nan ringan? Perbincangan kita pun berkembang dari situ. Sebagai orang yang lebih muda, saya bertanya tentang hidup dan dia pun menjelaskan bagaimana dia membangun bisnisnya. Saya bisa memahami ceritanya karena saya pun pemuda yang miskin, mungkin tidak jauh berbeda dengannya ketika dia mulai merintis usahanya. Akan tetapi yang lebih menyentuh adalah kesediaannya untuk berbagi cerita. Itu adalah suatu kehormatan. Kalau dipikirkan lagi, saya bukan siapa-siapa dan dia bisa saja tidak menghiraukan saya sepanjang perjalanan, tapi dia memilih untuk berbincang dan menjawab rasa ingin tahu saya. Dengan melakukan hal itu, dia memberikan harapan pada seorang supir yang mengantarkannya ke bandara bahwa sukses itu bisa dicapai oleh mereka yang berani dan mau berusaha. Saya tidak pernah lupa dengan kebaikannya ini. 

Orang kedua yang jasanya selalu saya kenang adalah Bapak Sandy Kosasi. Beliau ini adalah orang paling pintar di kampus, selalu penuh percaya diri dan memiliki jawaban untuk mahasiswanya! Bertahun-tahun silam, yang namanya dosen itu biasanya membosankan dan hanya Tuhan yang tahu apa yang mereka bicarakan (saya ingat seorang dosen yang selalu berbicara tentang Macintosh, komputer Apple yang langka dan tidak pernah dilihat siapa pun di Pontianak). Nah, Pak Sandy ini berbeda gayanya. Dia pintar dalam menjelaskan dan seringkali menyisipkan lelucon pula sehingga saya suka duduk di depan dan mendengarkan. Dari sinilah kekaguman saya bermula. 

Di tahun terakhir kuliah, Pak Sandy ternyata menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Setiap kali saya datang menemuinya, dia selalu tersenyum lebar. Secara jujur saya katakan bahwa saya berharap diberi kemudahan (dan ini adalah salah satu alasan saya menjadi staff kampus, haha). Akan tetapi itu tidak terjadi. Meski saya adalah kolega dan bawahannya, saya tidak diberi pengecualian. Kalau saya lihat kembali, dia hanya ingin memastikan bahwa saya bisa lulus karena kemampuan saya. Dan benar saja, ketika saya melangkah keluar dari ruang sidang setelah dicecar berbagai pertanyaan oleh para dosen penguji, saya bukan saja mahasiswa pertama dari angkatan saya yang lulus, tapi saya juga lulus dengan nilai A untuk skripsi. Kendati begitu, kesuksesan saya bukan semata-mata karena kerja keras saya, namun juga karena upaya beliau dalam mempersiapkan saya.

Rusli di pesta ulang tahun Kalbe Farma.

Saya bertemu dengan guìrén ketiga di Jakarta. Namanya adalah Rusli, seorang rekan IT yang hanya berusia hanya beberapa tahun lebih tua dari saya. Rusli ini adalah seorang yang sulit ditebak karakternya. Dia senantiasa penuh percaya diri dan sangat lihai dalam menyelesaikan masalah komputer, namun dia suka berbuat sesuka hati dan dengan sifatnya yang tidak peduli dengan apa pun, bahkan pimpinan IT pada saat itu tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan karyawan yang satu ini. Saya sungguh tertarik dengan pembawaannya yang unik. Banyak kolega lain yang non-IT merasa bahwa dia sangat membantu, namun ada juga yang merasa dia sulit untuk dimintai tolong. Pendapat itu rasanya tidak keliru, apalagi jika saya mengingat awal persahabatan kita yang tidak mulus, haha. Pada mulanya dia selalu menjauhi saya dan kekurangan saya dalam bidang IT tentunya tidak membantu. Rusli jelas tidak membutuhkan seorang pemula yang mengekorinya ke sana kemari, tapi saya pun tidak gampang dienyahkan, haha. Akhirnya, setelah kita lebih saling mengenal, saya melihat bahwa di balik karakternya yang sulit untuk didekati, dia sebenarnya orang yang baik dan bersahabat. 

Masa-masa bersama Rusli itu bagaikan seorang murid. Saya mungkin saja dari dulu memiliki pola pikir dan kemampuan yang cocok dalam memecahkan masalah IT, tapi setelah saya mengamati bagaimana dia mengerjakannya, barulah saya mengerti bagaimana caranya. Dan Rusli tidak hanya menunjukkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah komputer, tapi juga memberikan contoh dalam menghadapi orang-orang yang bermasalah komputernya. Dengan botol minum di tangan (ini gaya khasnya yang terkenal di Kalbe), dia mengunjungi para pengguna komputer. Selagi mendengarkan keluhan mereka, terkadang dia memberikan komentar ringan yang membuat mereka tertawa. Kemudian, setelah ia selesai, orang yang ditolongnya pun tersenyum dan sangat berterima kasih. Hanya Rusli yang bisa membuat pekerjaan ini terlihat begitu menyenangkan! Walau saya tidak pernah sehebat Rusli, saat dia mulai mempercayai saya sebagai rekan kerjanya adalah salah satu saat yang paling membanggakan dalam hidup saya. Rasanya luar biasa dan saya menjadi semakin percaya diri. Pemula yang selalu mengikutinya dari belakang itu akhirnya lulus dan berdikari! 

Orang yang keempat adalah Bernard Lau, seorang warga Singapura. Bayangkan ini: Jakarta mungkin saja kota yang asing bagi saya, tapi setidaknya orang-orang di sana masih berbicara dalam Bahasa Indonesia. Di Singapura saya adalah orang asing yang harus berbicara dalam bahasa asing setiap hari di negeri yang sama sekali berbeda budayanya. Dengan demikian lebih susah bagi saya untuk menyesuaikan diri dan di tahun pertama saya di Singapura, saya merasa rendah diri karena saya berasal dari negara dunia ketiga. Bernard adalah seorang berkebangsaan Singapura yang pertama yang menerima saya apa adanya dengan ramah dan bagaikan tuan rumah yang baik, dia menunjukkan pada saya seperti apa gaya hidup di Singapura. Di kantor, sebagai atasan saya, dia juga mengajari saya cara dalam menelusuri seluk-beluk lingkungan kerja di sini.

Makan siang di Batam bersama Bernard.
Foto oleh Franky.

Bernard memiliki pengetahuan yang luas dan yang lebih penting lagi, dia tidak pernah keberatan untuk berbagi dan pintar menjelaskan secara detil. Jika saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa ini akhirnya bisa bekerja dengan mantap di industri dunia saham, ini karena dia membimbing saya dengan benar. Saya ingat dengan satu insiden IT dimana kita bisa berbagi tugas tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menyelesaikan masalah. Itu adalah pengalaman yang luar biasa, yang hanya bisa dilakukan oleh dua rekan kerja yang sudah memahami kemampuan masing-masing. Setelah kita tidak lagi berada di kantor yang sama, hubungan kita pun berubah secara perlahan-lahan. Selama 12 tahun terakhir, Bernard adalah seorang teman baik, pendamping pengantin pria dan teman seperjalanan yang akrab seperti layaknya seorang saudara. 

Orang terakhir yang saya temui sejauh ini adalah Kelvin Wong. Dia disegani dan bahkan ditakuti oleh banyak orang, tapi saya senantiasa merasa bahwa dia berwibawa dan pintar. Saya ingat dengan satu rapat yang ia pimpin. Saat itu adalah masalah yang tidak kunjung selesai karena dua orang manajer yang bersengketa ini sama-sama merasa paling benar. Kelvin cukup mendengarkan sedikit pemaparan mereka dan langsung bisa memutuskan dengan bijak, apa yang seharusnya dilakukan. Saya sungguh terpana! Berbeda dengan direktur sebelumnya, pengarahan yang diberikan oleh Kelvin selalu singkat dan jelas. Sebagai karyawannya, mudah bagi kita untuk fokus dan benar saja, berkat kontribusi kita semua, perusahaan pun mendapatkan keuntungan berlimpah. Tahun-tahun itu bagus bonus dan kenaikan gajinya.

Meskipun demikian, yang paling luar biasa dari seorang Kelvin Wong itu bukan kepemimpinannya, melainkan suatu kualitas yang jarang dilihat khalayak ramai. Secara pribadi, dia sering memberikan nasihat dan meyakinkan bahwa saya bisa dan mampu. Satu dari sekian banyak kesempatan itu adalah ketika dia memanggil saya untuk berbicara setelah rapat. Saat itu dia mengatakan bahwa saya hendaknya berbicara lebih pelan dan dia juga percaya bahwa tidak ada seorang pun di dalam ruangan rapat tadi yang lebih menguasai bidang yang kita diskusikan, jadi saya sebagai ahlinya tidak perlu khawatir. Bagi anda yang belum tahu, saya tidak suka berdiri menjelaskan di depan dan saya seringkali menjadi gagap atau berbicara terlalu cepat sehingga tidak jelas kata-katanya. Jadi apa yang dia katakan itu beralasan dan baik maksudnya. Ketika seorang pimpinan memberikan dukungan moral seperti itu, anda pasti akan mengingat hal tersebut selamanya. Ketulusan yang begitu kentara itu hanya bisa dibalas dengan upaya keras untuk menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.  

Saya sangat menyayangkan bahwa saya tidak memiliki foto tiga orang di atas. Bahkan dua orang yang ada fotonya pun tidak terlalu bagus posenya. Akan tetapi kenangan tentang mereka akan hidup selamanya dan untuk pertama kalinya diabadikan dalam bentuk tulisan. Saya yakin tidak seorang pun dari mereka yang pernah berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perkara besar, tapi sekarang anda sudah baca ceritanya dari sudut pandang saya dan anda tahu bahwa kebaikan mereka besar artinya untuk saya. Kalau saya lihat, setiap perbuatan kita yang menyentuh hidup orang lain pastilah akan membuat perubahan dan beberapa di antara perubahan tersebut bisa sedemikian besar artinya sehingga mengubah hidup orang tersebut. Karena itu jangan pernah berhenti berbuat baik. Masih banyak Anthony lain di luar sana dan hidup mereka berubah menjadi lebih baik karena anda...

Sunday, February 10, 2019

Collectible Cars

There are things that I always see but never noticed before and as of now, there's no greater example than the die-cast collectible cars. I'm never a car person. I don't recall having any memorable car toys except the Batmobile. I don't play racing games other than Mario Kart 8 Deluxe recently and I don't watch any racing movies, be it Initial D, Cars, the Fast and the Furious series or anything else. But now that we had our high school alumni chat group, the topic about the miniature cars would crop up from time to time, thanks to AW and BL. Slowly but sure, it piqued my curiosity. What on earth that was actually so exciting about this? I just had to ask.

Every hobby had its origin. For AW, only God knows why he passed by the toy section when he was doing his monthly grocery shopping, but it was there that he saw a funny looking car with big rear tyres and he felt like buying that. For BL, he was just getting one, Kinsmart's Shelby Cobra 427, to complement his bride-and-groom wedding cake topper. The end result was the same for both of them. What was supposed to be a one-time purchase became an interest that they pursue until now.

Diorama photography, featuring Hot Wheels.
Photo by: AW.

The die-cast collectible cars has a wide range of brands. The one mentioned earlier was Kinsmart. There are other names such as Jada Toys, Matchbox, Majorette, Johnny Lightning and many more, but ones that seem to be their favorites are Hot Wheels and Tomica. They explained to me that if I'd like to go for Japanese cars, Tomica would be my choice. Hot Wheels, on the other hand, has a great selection of American cars.

I thought that would be simple enough to understand, but things went crazily complicated right after this. They told me that there are many series for Tomica, from regular, premium, AEON, TLVN  for vintage collection, Dream series (this series has all the cute-shaped cars such as Hello Kitty, Tsum Tsum, etc.) and who knows what else. Hot Wheels also has its own categories such as Redline or Real Riders. 

Now, with each category comes each price tag. Some, especially the regular series, will set the proud owner back roughly around IDR 30K for Hot Wheels and IDR 80K for Tomica. The price will get higher when it is a collector's item (those that comes with labels such as limited edition or vintage edition are usually bad for wallets). In a way, it's a rather affordable hobby if one doesn't go over the top.

BL's collection.

Having said that, it's also worth noting that most of the collectors, at least in Indonesia, are working adults rather than kids. They have their own communities, they attend events, such as Indonesia Diecast Expo and buy their cars either at toy stores or via online markets like Tokopedia. BL did a purchase from eBay before, but he explained to me that since the craze has been booming in Indonesia and the collectors are spoiled with extensive choices domestically, there is no point buying from overseas.

Since I wasn't a fan, I was wondering how the hobbyist actually enjoyed the collection. I mean, they surely wouldn't go pushing the cars on the floor like kids, right? It turned out that the most practical way was to keep them on the display case that was hanging on the wall. Apart from that, AW had attempted diorama photography. He also tried customising a die-cast car recently. As for BL, he had some fun hosting his own YouTube channel. Check out his channel below and subscribe!

The unboxing of Tomica by BL. 
YouTube Channel: Panki LSL.


Koleksi Mobil-Mobilan

Ada banyak hal yang sering saya lihat tetapi tidak pernah saya amati. Contoh yang paling akurat untuk kesempatan ini adalah mobil-mobilan. Saya bukanlah pencinta mobil sehingga tidak memiliki mobil-mobilan di masa kecil kecuali Batmobile. Saya juga tidak bermain game balap mobil selain Mario Kart 8 Deluxe baru-baru ini. Film yang bertema mobil, mulai dari Initial D, Cars serta serial the Fast and the Furious pun tidak menarik perhatian saya. Akan tetapi topik mobil miniatur ini terkadang muncul di grup WhatsApp khusus alumni sekolah. AW dan BL yang memiliki hobi serupa ini kadang membahasnya. Lambat laun saya jadi penasaran, apa sebenarnya yang menarik dari koleksi ini? Maka saya pun bertanya. 

Setiap hobi memiliki asal mula. Untuk AW, hanya Tuhan yang tahu kenapa dia tiba-tiba melewati bagian mainan padahal saat itu dia sedang belanja bulanan, namun di situlah dia pertama kalinya melihat mobil mungil dengan roda belakang yang besar dan menarik perhatiannya. Akan halnya BL, dia iseng membeli satu, mobil Shelby Cobra 427 produksi Kinsmart, untuk melengkapi patung pengantin yang menghiasi kue pernikahannya. Hasilnya akhirnya ternyata sama bagi mereka berdua. Apa yang mereka beli pada saat itu menjadi koleksi pertama dari hobi yang mereka tekuni hingga hari ini.

Asal mula koleksi BL.

Mobil-mobilan ini memiliki banyak merek. Yang pertama disebutkan tadi adalah Kinsmart. Masih ada lagi merek lainnya seperti Jada Toys, Matchbox, Majorette, Johnny Lightning dan lain-lain, namun yang sering mereka bicarakan adalah Hot Wheels and Tomica. Mereka menjelaskan pada saya bahwa jika saya ingin mengumpulkan mobil dan motor Jepang, Tomica adalah pilihan yang tepat. Hot Wheels memiliki lebih banyak koleksi mobil Amerika.

Sampai di sini, penjelasan mereka mudah dimengerti. Namun mereka berbicara lebih jauh lagi tentang dua merek ini. Mereka bercerita bahwa Tomica memiliki banyak seri, mulai dari yang biasa, yang premium, AEON, TLVN untuk versi kendaraan klasik jaman dulu, edisi Dream yang menampilkan mobil-mobil lucu seperti Hello Kitty, Tsum Tsum dan berbagai variasi lainnya. Hot Wheels juga memiliki kategori tersendiri, misalnya Redline atau Real Riders. Bukan main!

Setiap kategori memiliki harga tersendiri. Kategori biasa berada dalam kisaran harga Rp. 30.000 untuk Hot Wheels dan Rp. 80.000 untuk Tomica. Harga akan melambung tinggi jika mobil yang dicari adalah edisi koleksi (biasanya yang ada tulisan limited edition atau vintage edition adalah kabar buruk dan tidak baik untuk kesehatan dompet). Kendati begitu, hobi ini bisa dikatakan cukup terjangkau apabila kita tidak berlebihan dalam berburu koleksi.

Koleksi AW.

Menarik untuk dicatat bahwa para kolektor ini lebih cenderung berasal dari kalangan dewasa dan bukannya anak kecil. Para penggemar mobil-mobilan ini memiliki komunitas tersendiri. Mereka bahkan memiliki rangkaian acara tahunan, contohnya Indonesia Diecast Expo. Koleksi mereka ini berasal dari toko mainan dan juga transaksi lewat internet, misalnya melalui Tokopedia. BL pernah membeli dari eBay, namun dia berpendapat bahwa seiringan dengan semakin semaraknya minat dan pasaran di Indonesia, koleksi yang ditawarkan pun semakin beraneka ragam sehingga tidak perlu lagi membeli dari luar negeri. 

Hal terakhir yang membuat saya ingin tahu adalah bagaimana para kolektor ini menikmati koleksi mereka. Mereka tentunya tidak akan bermain mobil-mobilan di lantai seperti anak-anak, bukan? Menurut dua orang penggemar ini, hal yang paling lazim dilakukan adalah menyimpan mobil-mobilan ini dalam rak khusus yang transparan dan digantung di dinding. Proses menata dan mengagumi koleksi ini memberi kepuasan tersendiri. Selain itu, AW bahkan mencoba fotografi diorama dan juga membongkar serta merancang ulang mobilnya. Kalau BL lebih memilih untuk menjadi pembawa acara khusus buka bungkus dan aktivitas lain seputar hobi mobil-mobilan ini. Mari lihat siarannya di bawah ini dan jangan lupa klik subscribe untuk mengikuti video-video terbarunya!


Unboxing mobil Hot Wheels.
Youtube Channel: Panki LSL.

Thursday, February 7, 2019

Puisi Bukan Atas Nama Rakyat

Ada yang ngaku wakil rakyat
Tapi tidak pernah bersama rakyat
Ada yang ngaku membela rakyat
Rakyat yang bersyarat

Hobi berpuisi tanpa prestasi
Gak sadar yang disindir penuh amal bakti
Harusnya DPR ada bagian berpuisi
Untuk mengurangi puisi yang menyebabkan polusi

Puisi untuk memuji dan mengungkap hati
Jika puisinya penuh nyinyir dan iri hati
Terungkaplah pembuatnya yang penuh ambisi
Ambisi disertai kebencian dan busuk hati

Nyinyir dengan puisi dianggap prestasi
Membela kriminal dianggap benar
Tugas terbengkalai sampai UU tak selesai
Muncul di TV berpose paling benar

Bangga atas nama rakyat mengintervensi hukum
Tanpa ragu-ragu berkunjung
Untuk mengubah hukum
Kami rakyat berkabung

Berbuat kriminal dianggap dikriminalisasi
Katanya situ jago berpuisi
Tapi tidak bisa membedakan me dan di
Mengkriminalkan diri tentu beda dengan dikriminalisasi

Wakil rakyat yang satu ini memang bikin ketawa karena menggelikan...


Monday, February 4, 2019

A Long Way Home

I was looking at some old pictures the other day and I suddenly realised that I had moved house quite often: 11 times in 38 years! What's even more astonishing about these events is the fact that apparently I have almost all the pictures of the houses where I stayed before, except one. It had been a long way, from Pontianak to Singapore, and given the circumstances, I naturally wouldn't expect those photos to be around. It was really a nice surprise to have something to reminisce about, hence this story.

Birthday celebration at the first house.

I remember the house for the first six years of my life. It was right behind a wet market called the Horse Stable. Only God knows why the Chinese called it like that because throughout my life in Pontianak, I never saw a single horse there. My neighbours were of Teochew descent and they were the reason why I could speak the dialect, too, even though I'm of Hakka descent. The neighbourhood I lived in was a stretch of shophouses. I remember being puzzled by the shop on the far right of the block. It was called Ayam Goreng Ratu, which could be read as either the chicken fried the queen or the queen's fried chicken. Ours was called Adil Makmur, a three-story house with a mezzanine floor. One of my earliest memories there, a favourite moment of Mum, was when I tried her home-made kaloci (a localised version of mochi) and commented dryly that perhaps she shouldn't make any further attempts. She still laughed when she retold the story. It was also at the shop in front of our house that I first saw the prawn flavored Indomie. The flavor is no longer available now, so talk about a historical moment! By the way, the shop is still open -now run by my uncle- and one could actually find the photos of the latest layout of the shop on Google. Amusing.

Birthday celebration at the second house.

I remember the second house. We moved in to stay with my maternal grandparents for about two years. It was a fun house with domesticated chickens and ducks. There was a yard with a big longan tree that never bore fruits. The floor of the house was made of Bornean ironwood, a very durable but expensive material. I couldn't be too sure if the story was exaggerated, but the house was allegedly built with a suitcase full of money. But whether it was true or not, I had a good time living here. I remember Grandma sitting on the floor between the dining room and kitchen, busy making the dough of a traditional pastry called bahulu while I played Atari, my first game console, or watching Space Sheriff Gavan. By the way, the house is now known as Aneka Rasa Restaurant. The mosque next to it looked almost the same as the one I knew back in the 80s, but the house had been totally revamped. The wooden floor, the pride of the house, had been long gone.

Birthday celebration at the third house. 

I remember the third house, located in the middle of Jalan Setiabudi. I learnt how to roller skate and ride a bicycle when I lived there. I also started keeping pet turtles, ranging from Malayan box turtle, spiny turtle to red-eared slider. I stopped watching the Japanese tokusatsu series and replaced the hobby with new ones such as lifelong interests in Michael Jackson's music and Stephen Chow's movies, reading comics (my father bought me my first Asterix here) and eating. Oh yes, Setiabudi had lot of good eateries, from fried kway teow to pork porridge! Not very far from my house, there was a small Orbit Wonderland, the popular gaming arcade where the boys used to hang out. Some of my friends stayed nearby, too, and they'd come to play Nintendo and Sega. Parno stayed quite far from my house, but he would ride the bicycle and come by as well. And... my fondest memory there? Probably Mum's spicy long beans. She was selling nasi kuning (yellow rice) towards the end of our stay there and her cooking was delicious!

Birthday celebration at the fourth house. 

Things went downhill after this. The fourth house was actually my maternal auntie's house and with Dad, Mum and my brother moving to Bekasi, I ended up staying with my auntie's family. That's not to say it was a bad experience. For a freeloader, I was actually treated pretty well. The house was so big and at least for the first year, I stayed alone at the older but bigger part of the house. It was only later on that I shifted to the sauna-like second floor. No complain, though. The house was very near to my school, making it easier for me to go there early when I had a need to make a copy of the previous day's homework, haha. Located in the more cozy area of the city, it wasn't exactly easy to find any eateries around the house, but I remember the first time I tried ketoprak, a vegetarian dish from Jakarta. I grew to like it since then. The entire life before college and three quarter of the life before Jakarta happened here. Most importantly, it was here that I learnt how to behave and be responsible.

I remember the fifth house, the missing link, the one without any photographs. My last year in Pontianak took place at a rented house where my parents and I were reunited. Our place was between the houses of Dewi and Nurvika, my high school friends. I would ride my road bike to my campus every morning because I worked there, then I'd either go back for lunch or spend time in the computer lab to work on something before I attended the lectures in the evening. I didn't earn much, probably just IDR 300K per month as I vaguely remember that the salary was half of what my previous pay used to be, but in return, I had access to computers and lecturers, the very much needed resources to finish my study. In order to make some extra money, there was a period of time when I was teaching English privately to my fellow college student. I wasn't good, but in a small town where people don't normally speak English, I clearly had the head start and the advantage. It was also while I was here that I learnt the death of George Harrison, the first Beatle that died after I became a fan.

My friend Suhendi, who stayed with me for quite some time in Jakarta.

I remember the sixth house. It was located behind my office in Jakarta and the only part of the house that I actually occupied was a rented room on the second floor. It was burning hot in there and I only had a tiny fan that wasn't even sufficient for one person, but yet many friends, including Parno and Endrico, ever came to stay overnight, haha. It was a very simple room, with one mattress, one wardrobe, one table and one chair. Fried rice vendors with a two-wheeled cart always passed by the house and I once fell down from the top of the steep staircase as I was rushing down to order my dinner. I was lucky that I wasn't paralysed! My best memory here was my treasure, the music CDs that I bought every month from early 2003 to early 2006. It was also during this period that I bought a digital camera, a rare commodity that made a lot of difference for me at that time!

Fendy and Markus at the balcony of my room in Kembangan. 

I remember the seventh house, the three-story landed property was in Kembangan, Singapore. We surely had a lot of fun there. We were young, making a bit of money now and bursting with creativity! Pheng iu was created there and the picture above, the only one that I could salvage, was taken when we made the short film. I'm actually surprised that I didn't managed to save any other photos. It was during my stay there that I kept a terrapin that is still with me 13 years later. It was a beautiful time. We were strangers fated to be together in a foreign land and by the time we left the house, we were family bonded by many bowls of zhu za tang (猪杂汤) that we ate together.

Angie's birthday celebration at the eight house in Bedok.

I remember the eighth house. It was in Bedok. We had to split abruptly after the landlord decided to take back his house in Kembangan. We looked around and I made a decision to make up the number and joined Sugi, Ferdy and Surianto so that the house rent wouldn't be too expensive for them to pay. In hindsight, that went to show how close we were. Most of us actually stayed together until we got married or left Singapore. Now, despite all the good food in the area, what I remember most was empek-empek fish cake, the local delicacy from Palembang. Sugi's wife always made sure that we never ran out of it!

Christmas celebration in Eunos.

I remember the ninth house. It was the last house before I got married. I had my registration of marriage there. The place we were staying was a maisonette, a rather interesting two-story unit. Judging from the smell of the food, our neighbour on the left must be a Myanmar family. On the right, there was Tante Cantik, literally translated as beautiful auntie, a nickname that we anonymously agreed and used. There was a famous chicken rice and fried rice across the street. At night, we'd have our supper at the Indian stall in Geylang Serai. We had our Christmas party and other celebrations there. We also traveled together to Malaysia, Vietnam and Cambodia, but we didn't make it to Darwin, Australia.

Linda and Papa.

I remember the tenth house, the one in Clementi. It was the one and only time I ever stayed so far from Changi Airport. But Clementi was quite alright, though. It was a mature estate with good food, shopping mall, etc. For a short period of time, there was just me and my wife staying there. Then Fendy and Budi came and went (funny that I had more pictures of Fendy rather than myself in that house). Then Linda came along. We were now a little family. While it was nice to live in Clementi, it wasn't meant to be a permanent arrangement.

Then came the 11th house, the current one in Sengkang. It's the one that I'll step out from every morning so that I can provide for my family. It's the same one that I'll go home to at night when I'm tired, knowing that what I do the whole day will be worth it. Looking back, I had lived in many places. I had been loved. I'd been welcomed. I'd had some fun, no, a lot of fun, but for the first time ever, I'm home. It may not be perfect, but it feels like this is it. If life was a journey, then mine was a long ride that passed by 10 stops. Each stop taught me something and prepared me for the next one until I reached where I am today...

The 11th house.



Perjalanan Panjang Ke Rumah

Beberapa hari yang lalu, saya melihat-lihat kembali foto-foto lama dan tiba-tiba saya menyadari bahwa saya cukup sering berpindah rumah: 11 kali dalam 38 tahun! Yang lebih menakjubkan lagi adalah ternyata saya memiliki foto hampir semua rumah yang pernah saya tinggali. Hanya satu yang tidak ada fotonya. Perjalanan saya dari Pontianak ke Singapura tidaklah singkat dan setelah berpindah rumah begitu banyak kali, saya tidak pernah berharap bahwa foto-foto lama itu masih ada. Senang rasanya mendapat kejutan yang penuh kenangan seperti ini. Cerita berikut ini adalah hasilnya.

Di rumah pertama.

Saya ingat dengan rumah yang saya tinggali selama enam tahun pertama dalam hidup saya. Letaknya berada di belakang Pasar Mawar yang juga dikenal dengan sebutan Kandang Kuda di kalangan Tionghoa Pontianak. Hanya Tuhan yang tahu kenapa tempat itu disebut Kandang Kuda, sebab saya tidak pernah melihat seekor kuda pun di sana selama 22 tahun hidup saya di Pontianak. Tetangga saya adalah orang-orang Tiociu dan karena merekalah saya bisa menguasai bahasa Tiociu, meskipun saya sebenarnya orang Khek. Lingkungan tempat tinggal saya adalah deretan ruko. Saya ingat bahwa saya sempat merasa heran dengan restoran yang berada di ujung kanan. Namanya adalah Ayam Goreng Ratu, yang bisa saja diartikan sebagai ratu digoreng ayam atau ayamnya itu yang digoreng ratu. Salah satu kenangan saya yang paling awal di rumah itu adalah ketika mencoba kaloci buatan Mama. Saya masih berusia balita pada saat itu dan dengan polos saya katakan padanya bahwa saya tidak akan memintanya untuk membuat kaloci lagi, meskipun saya sangat menyukai makanan tersebut. Mama masih tertawa geli saat dia mengingat kembali saat itu. Ruko tempat tinggal saya bernama Adil Makmur dan di sinilah untuk pertama kalinya saya melihat Indomie rasa udang. Ruko ini masih buka dan kini dikelola oleh paman saya. Ketika saya coba cari di internet, ternyata foto tata ruang tokonya bisa ditemukan di Google. Mencengangkan.

Bersama Mama di halaman rumah kedua.

Saya ingat dengan rumah yang kedua. Saya dan orang tua pindah ke rumah kakek dari pihak ibu saya untuk dua tahun lamanya. Rumah itu sangat menyenangkan karena memiliki banyak ayam dan bebek. Di depan rumah ada halaman yang memiliki pohon lengkeng yang tidak pernah berbuah. Lantai rumah terbuat dari kayu belian yang awet namun mahal. Berdasarkan dongeng yang saya dengar, rumah ini dibangun dengan satu koper yang penuh berisi uang. Saya ingat bahwa nenek saya biasanya duduk di lantai antara ruang makan dan dapur. Setiap hari dia sibuk membuat adonan kue bolu sementara saya duduk tidak jauh darinya, entah bermain Atari atau asyik menonton serial Gaban. Sekarang rumah ini mungkin lebih dikenal sebagai Restoran Aneka Rasa. Mesjid di sampingnya masih terlihat sama, tetapi rumahnya sudah jauh berubah. Lantai kayu belian yang pernah menjadi kebanggaan rumah tersebut hilang sudah.

Bersama adik saya di rumah ketiga.

Saya ingat dengan rumah ketiga yang berada di Jalan Setiabudi. Saya belajar bermain sepatu roda dan menaiki sepeda di sana. Saya juga mulai memelihara kura-kura di rumah tersebut, mulai dari kuya batok, kura-kura duri sampai terapin. Saya berhenti menonton video robot-robotan Jepang dan mulai berganti hobi, mulai dari mengidolakan Michael Jackson dan Stephen Chow, membaca komik (dan buku Asterix pertama saya dibelikan oleh Papa saat kita tinggal di rumah ini) dan jajan makanan. Oh ya, Setiabudi memiliki banyak sekali makanan yang dijual di pinggir jalan, mulai dari kwetiau goreng sampai dengan bubur babi. Orbit Wonderland, tempat anak-anak lelaki berkumpul dan bermain game, terletak tidak jauh dari rumah. Beberapa teman pun tinggal di dekat rumah dan terkadang mereka mampir untuk bermain Nintendo dan Sega. Rumah Parno tergolong jauh, tapi biasanya dia akan bersepeda ke rumah. Bicara soal kenangan, yang terpikirkan oleh saya adalah kacang panjang pedas yang dimasak oleh Mama. Dia berdagang nasi kuning di tahun-tahun terakhir kita di sana dan kacang panjang yang menjadi lauk nasi kuning itu sangat lezat!

Saat kita merayakan ulang tahun Parno yang ke-20 di rumah keempat. 

Dan kehidupan saya berubah setelah itu. Rumah keempat yang saya tinggali adalah rumah tante saya, adik dari Mama. Saat itu semua pindah ke Bekasi, jadi saya tinggal bersama keluarga tante saya dan melanjutkan SMU di Pontianak. Pengalaman selama tinggal di sana tidaklah buruk. Justru sebaliknya, sebagai orang luar yang tinggal secara gratis, saya sebenarnya diperlakukan dengan sangat baik. Di tahun pertama, saya tinggal sendiri di bagian rumah lama yang luas. Di tahun berikutnya, barulah saya pindah ke lantai dua rumah baru yang luar biasa pengapnya. Walaupun demikian, saya tidak mengeluh. Rumah tante saya ini sangat dekat dengan sekolah saya sehingga saya bisa berangkat pagi untuk menyalin PR yang tidak bisa saya kerjakan, haha. Rumah ini terletak di kawasan yang lebih mewah dari pusat perkotaan yang saya tinggali sebelumnya, sehingga makanan yang dijual bebas di tepi jalan pun jarang ditemukan. Namun saya ingat dengan ketoprak yang dijual di salah satu sudut jalan. Saya menyukai ketoprak sejak saat itu. Masa SMU dan kuliah saya dilewati di rumah itu, namun yang lebih penting lagi adalah karena saya berada dalam posisi menumpang tinggal di rumah orang lain, saya belajar untuk lebih bertanggung jawab dan menjaga sikap saya. 

Saya ingat dengan rumah kelima, rumah yang tidak ada fotonya, mata rantai yang hilang. Tahun terakhir saya di Pontianak dilewati di rumah sewaan. Saya pindah lagi karena orang tua dan adik saya kembali ke Pontianak. Rumah yang saya tempati berada di antara rumah Dewi dan Nurvika, teman-teman SMU. Setiap pagi saya akan mengendarai sepeda balap saya ke kampus untuk bekerja, lalu saya pulang untuk makan siang atau tetap tinggal di kampus untuk menyelesaikan sesuatu. Malamnya saya mengikuti kuliah. Gaji saya mungkin hanya sekitar Rp. 300 ribu, pokoknya setengah dari apa yang saya terima dari pekerjaan pertama saya di Hotel Kartika, tapi di sisi lain, saya mendapatkan akses komputer dan juga ke dosen pembimbing skripsi. Untuk mendapatkan uang lebih, saya juga mengajar bahasa Inggris secara privat ke rekan mahasiswa. Bahasa Inggris yang saya kuasai tidaklah fantastis, tetapi di kota kecil dimana orang-orang tidak biasa berbicara dalam bahasa Inggris, saya jelas mempunyai keunggulan karena telah mulai lebih dulu. Di rumah ini pulalah saya mendengar kabar tentang meninggalnya George Harrison, Beatle pertama yang wafat sejak saya menjadi penggemar.

Saat dr. Hengky berkunjung ke kamar saya di Jakarta. 

Saya ingat dengan rumah keenam. Lokasinya di belakang kantor saya di Jakarta dan satu-satunya bagian yang saya tempati adalah kamar sewaan di lantai dua. Kamar itu panas membara dan saya hanya memiliki kipas angin kecil yang bahkan tidak cukup untuk satu orang, namun lucunya banyak teman yang datang menginap, termasuk Endrico dan Parno, haha. Kamarnya sangat sederhana, hanya ada satu matras, satu lemari pakaian dan satu set meja dan kursi. Penjaja nasi goreng selalu lewat di depan rumah dan saya pernah jatuh dari atas tangga yang curam karena tergesa-gesa mengejar penjaja yang lewat. Untung saja tidak sampai lumpuh! Kenangan saya di kamar itu adalah koleksi CD musik yang saya beli tiap bulan sejak awal tahun 2003 sampai awal 2006. Saya juga membeli kamera digital saat tinggal di sini, sebuah komoditas langka yang membawa banyak keuntungan bagi saya pada saat itu! 

Fendy dan Markus dalam adegan film Pheng iu.

Saya ingat dengan rumah ketujuh. Rumah tiga lantai ini berada di Kembangan, Singapura, dan menampung 19 orang. Banyak momen lucu dan gembira di sana. Kita masih muda saat itu, mulai menghasilkan uang dan teramat sangat kreatif. Film Pheng iu diciptakan saat kita tinggal di rumah tersebut. Kendati begitu, saya sebenarnya agak terkejut karena selain potret yang sengaja dibuat untuk film Pheng iu di atas, saya tidak memiliki foto lain di rumah itu. Saat tinggal di sini pula saya kembali memelihara kura-kura yang masih bersama saya hingga sekarang. Masa-masa di Kembangan adalah saat-saat yang indah. Kita adalah sekumpulan orang asing yang ditakdirkan untuk tinggal bersama dan ketika kita pindah keluar dari rumah itu, kita menjadi keluarga yang disatukan oleh bermangkok-mangkok zhu za tang (sup organ babi) yang kita santap bersama.

Surianto, teman sekamar di Bedok.

Saya ingat dengan rumah kedelapan. Lokasinya di Bedok. Saat itu kita harus berpisah secara tiba-tiba karena pemilik rumah di Kembangan memutuskan untuk tidak menyewakan rumahnya lagi. Kita lantas mencari tempat lain dan saya memutuskan untuk menggenapkan jumlah penyewa rumah di Bedok supaya tidak terlalu berat ongkos sewanya. Kalau dilihat kembali, hal ini menunjukkan betapa dekatnya kita sama satu lain. Hampir semua dari kita tinggal bersama sampai kita menikah atau meninggalkan Singapura. Perlu dicatat bahwa Bedok adalah kawasan yang memiliki banyak makanan enak, tapi yang saya ingat betul saat tinggal di situ adalah empek-empek Palembang. Istri Sugi senantiasa memastikan bahwa kita tidak akan pernah kehabisan empek-empek!

Bersama Fendy dan Markus di rumah Eunos, saat saya merayakan ulang tahun ke-29. 

Saya ingat dengan rumah kesembilan. Ini adalah rumah terakhir yang saya tempati sebagai bujangan. Surat nikah saya ditandatangani di rumah ini. Unit yang kita tempati adalah apartemen kecil berlantai dua, unit yang langka di Singapura. Berdasarkan aroma masakannya yang kencang, tetangga sebelah kiri kita adalah keluarga Myanmar. Di sebelah kanan ada Tante Cantik, sebuah nama panggilan yang kita berikan karena memang orangnya sangat cantik. Di seberang jalan ada nasi ayam dan nasi goreng yang terkenal enak. Di malam hari, kita sering bersantap malam di tempat makan Indian di Geylang Serai. Kita mengadakan pesta Natal dan banyak perayaan lainnya di rumah itu. Selama tinggal di sana, kita juga berlibur ke Malaysia, Vietnam dan Kamboja, namun kita gagal mengunjungi Darwin di Australia.

Fendy saat tinggal di Clementi.

Saya ingat dengan rumah ke-10 di Clementi. Ini adalah sekali-kalinya saya tinggal begitu jauh dari Bandara Changi. Kawasan Clementi ini sudah tergolong lama sehingga memiliki banyak tempat makan, pusat perbelanjaan dan fasilitas lainnya. Untuk beberapa waktu, hanya saya dan istri saya yang tinggal di rumah kecil dengan dua kamar ini. Kemudian Fendy dan Budi datang menumpang untuk beberapa waktu (lucu rasanya bahwa saya memiliki lebih banyak foto Fendy di rumah itu dibandingkan foto saya sendiri). Setelah itu Linda pun lahir. Kita menjadi keluarga kecil sekarang. Walau tinggal di Clementi terasa menyenangkan, kita tidak berencana untuk tinggal di rumah sewaan selamanya.

Di rumah keluarga Robinson.

Saya lantas pindah lagi ke rumah yang ke-11, rumah pertama yang saya beli. Sekarang ini adalah rumah yang saya tinggalkan setiap pagi untuk pergi bekerja menafkahi keluarga saya. Ini juga rumah yang saya tuju saat saya pulang untuk melepas lelah setelah bekerja seharian di kantor. Ya, lelah, namun sepadan rasanya begitu saya bertemu dengan keluarga saya. Sewaktu saya melihat kembali foto-foto ini, saya menyadari bahwa saya sudah tinggal di begitu banyak tempat. Selama itu pula saya dicintai dan diterima dan melewati begitu banyak saat bahagia, namun hanya di Sengkang inilah untuk pertama kalinya saya merasa tiba di rumah. Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maka hidup saya sampai sejauh ini adalah sebuah perjalanan panjang dengan 10 pemberhentian. Setiap pemberhentian mengajarkan saya sesuatu dan mempersiapkan saya untuk pemberhentian berikutnya, sampai saya tiba dengan selamat di rumah yang saya tempati hari ini...