Total Pageviews


Sunday, October 30, 2022

The Islands

Earlier this month, few weeks before the trip to Karimunjawa took place, a friend in our group chat commented about the danger of going to an island in October. She said stuff about bad weather and the sea could be unpredictable. The remark annoyed the head honcho of the trip and he immediately ranted on about how often the person who made the comment actually visited any islands for the past 42 years of her life. Was she actually so experienced or qualified about the topic she was talking about?

As the gas stove in the group, it was fun to take part in this heated conversation. But I was also intrigued to count how many times I had visited the islands. You see, I always preferred to visit cities, but it turned out that I also visited quite a number of islands, too. From 1998, I had gone to many islands, from Temajoh, Bali, Batam, Sentosa, Boracay, Penang, Bidadari, Phuket, Ko Phi Phi, Samosir, Bohol, Pulau Ubin, Miyajima, Bintan to Madura. That, I would say, was quite a lot for someone who wasn't exactly a fan.

Memorable for all the wrong reasons was, of course, Temajoh. It wasn't a blessed trip to begin with and that's probably why it was the only trip where, whether you believe it or not, I had my first and only encounter so far with the other realm. 24 years later, we still talked about it from time to time, but I'd never set foot there again for the rest of my life.

In Bali with my uncles and my auntie.

Bali is the complete package: the food, the nature and the culture. So different than other places in Indonesia that I had been to. It might not be the most modern island I ever visited (that title would go to Sentosa), but it didn't have to be, for it was very charming. My first three trips happened in 2004-2005 and the fourth one happened in April this year, about 17 years since I last went there. Nice place to be for a short break.

Batam is like the default place to go for a short getaway. It is so close to Singapore that every time I feel like having Indonesian cuisines, I can just go there. It is also a transit gateway for me to go back to my hometown. When you are an Indonesian or an ex-Indonesian living in Singapore, you are likely to visit this island from time to time.

In Boracay.

Boracay was famous 14 years ago, though to be frank it offered pretty similar attractions like any other islands such as water sports, the crystal clear sea water, etc. But it came with some Pinoy flavours like sisig and San Miguel. I think the only reason I went there was so that I could be with Yani, haha. In normal circumstances, no way I'd go to such places. 

Penang, the part where Georgetown was located, was also an island. It was quite lively, brimming with Chinese influence, I'd say. The most memorable place was a temple called Kek Lok Si. I think that was the first time I ever used the word serene to describe how I felt, especially when I was nearby the big Buddha statues. So tranquil.

With Yani in Pulau Bidadari.

Pulau Bidadari was another island that I went solely because of Yani. We didn't see much of the island because... we went there for pre-wedding pictures, haha. It was the same with Phuket. It was also with Yani during our honeymoon. By the way, remember when I mentioned about Bali offering the complete package? It was in Phuket that I got this idea. Both were quite similar that I couldn't help comparing, I concluded that one would have so much more in Bali, except Simon Cabaret. Probably.

My idea of honeymoon was to relax, but I guess Yani was more adventurous. That's how we ended up visiting Ko Phi Phi. It wasn't exactly near. About two hours ride when taking the larger ferry as Ko Phi Phi is between Phuket and Krabi. Apart from the tsunami signs on the roadside, I barely recall how the island looked like back in 2011.

In Ko Phi Phi.

Samosir is an island in the center of Lake Toba. I went to the lake twice, first time was in 2005. The second visit happened seven years later and it was during this time that we went to see Samosir. Quite interesting as there was a museum and some historical sites of Batak people here, but I reckon it was only worth visiting once. I mean, if you had gone a long way from Medan to Lake Toba (about four hours), you might as well go there. 

Bohol was again the brainchild of Yani, just like how we visited Ko Phi Phi. I was comfortable doing nothing in Cebu, but Yani felt that we could spend the extra day in Bohol, the neighbouring island, so off we went. And she was right. Bohol was worth the effort. I personally enjoyed checking out the tarsiers. Never saw this primate before. It was also in Bohol that I came to realize wherever we went in Southeast Asia, the flora actually looked pretty much the same.

Chocolate Hills, Bohol.

Pulau Ubin was another reminder of how Singapore was part of the archipelago that formed Indonesia and Malaysia. The wooden boat we took, the old houses that sold coconuts, they were quite similar with what I saw back in West Borneo. Went there once with my parents and never returned to the island since then.

If there was an island felt so different that those I had visited before, it had to be Miyajima. It was not very far from Hiroshima and you'd be greeted the tame deer the moment you arrived. There was this torii gate that was supposed to be flooded during the high tide. The island also had a lot of spatulas, from tiny ones to the world's biggest spatula. 

With Yani in Bintan.

Bintan was very much another option for those who stay in Singapore (or less preferred option for me). It was known for two things: Bintan resorts and the capital city of Kepulauan Riau province: Tanjungpinang. None was as charming as Batam. Bintan resorts were pricey and overrated whereas Tanjungpinang looked rundown.

The last island I went so far was Madura. It was a planned visit, one of a few islands I actually wanted to go. The Madura people had a long, illustrious history in Pontianak, therefore I'd like to see the island that shaped the character of its people. A tough place indeed.

Now, back to the trip to Karimunjaya. Did the weather go wild for those who went there? No, it was fine and the boys had some fun there, though it was kind of surprising to see the head honcho bringing the whole family. Not only it was unannounced, but it was also unexpected. But perhaps it got to do with the upcoming trip in 2023. Until then, stay tuned!

The boys in Karimunjawa.

Berkelana Ke Pulau

Awal bulan ini, beberapa minggu sebelum liburan ke Karimunjawa tiba, seorang teman di grup WhatsApp berkomentar tentang bahaya ke pulau di bulan Oktober. Dia berceloteh tentang cuaca buruk yang mungkin terjadi. Pendapat ini ternyata membuat ketua panitia menjadi jengkel dan dia pun mengomel panjang-lebar tentang seberapa sering sebenarnya orang yang berkomentar ini ke pulau selama 42 tahun terakhir. Memangnya punya cukup pengalaman sampai bisa berujar tentang cuaca? 

Sebagai kompor gas di grup, saya senang terlibat dalam topik yang mulai memanas seperti ini. Namun saya juga tergelitik untuk menghitung, seberapa sering saya sudah ke pulau sampai sejauh ini? Saya pribadi lebih menyukai perkotaan, tapi ternyata saya pun juga sudah mengunjungi beberapa pulau. Dari tahun 1998, saya sudah ke Temajoh, Bali, Batam, Sentosa, Boracay, Penang, Bidadari, Phuket, Ko Phi Phi, Samosir, Bohol, Pulau Ubin, Miyajima, Bintan dan Madura. Cukup banyak juga untuk orang yang tidak menggemari liburan ke pulau. 

Yang berkesan karena alasan-alasan tidak benar adalah Temajoh. Ini bukanlah liburan yang mendapat restu orang tua dan mungkin karena inilah, percaya atau tidak, sekali-kalinya saya berinteraksi dengan dunia lain. 24 tahun kemudian, kita masih mengenang kembali liburan ini, tapi saya tidak akan kembali lagi ke sana sampai akhir hayat saya. 

Bersama paman dan tante saya di Bali.

Kalau Bali, yang terasa adalah satu paket lengkap yang mencakup makanan, alam dan budaya. Pokoknya berbeda dengan wilayah lain di nusantara. Bali bukanlah pulau paling modern yang pernah saya kunjungi (gelar ini lebih cocok disandang oleh Pulau Sentosa), tapi Bali tidak perlu menjadi yang paling modern karena pesonanya yang sangat memikat. Tiga liburan pertama saya terjadi di tahun 2004-2005 dan yang ke-empat terjadi di bulan April tahun ini, sekitar 17 tahun setelah saya terakhir ke sana. Bali cocok untuk liburan sejenak. 

Akan halnya Batam, ini adalah tempat kunjungan akhir pekan. Begitu dekat dengan Singapura sehingga bila saya ingin mencicipi makanan Indonesia, saya tinggal menyeberang ke Batam. Pulau ini juga menjadi tempat transit jika saya ingin kembali ke Pontianak. Orang Indonesia atau mantan warga Indonesia yang tinggal di Singapura pasti akan pergi ke Batam dari waktu ke waktu. 

Di Boracay.

Boracay boleh dikatakan cukup terkenal 14 tahun silam, walaupun jujur saya katakan bahwa suasananya mirip dengan pulau-pulau lain yang menawarkan hal serupa, misalnya aneka olahraga air, laut yang jernih dan sebagainya. Yang berbeda di sini adalah nuansa Pinoy, misalnya sisig dan bir San Miguel. Saya rasa satu-satunya alasan saya ke sana adalah agar bisa bertemu dengan Yani, haha. Kalau bukan karena itu, tidak mungkin rasanya saya main ke sana. 

Penang, tepatnya lokasi kota Georgetown, juga merupakan sebuah pulau. Cukup semarak dan kental pula dengan budaya Cina. Yang paling saya ingat dari kunjungan saya ini adalah kuil bernama Kek Lok Si. Setelah kunjungan inilah saya pertama kalinya menggunakan kata serene yang berarti tenteram untuk menjabarkan apa yang saya rasakan, terutama saat berada di dekat patung Buddha. Begitu damai rasanya.

Bersama Yani di Pulau Bidadari.

Pulau Bidadari juga merupakan tempat yang saya kunjungi semata-mata karena Yani. Kita tidak berjalan-jalan pulau ini karena kita ke sana dalam rangka pemotretan foto pranikah, haha. Demikian halnya juga dengan Phuket. Saya ke sana bersama Yani untuk berbulan madu. Oh ya, sempat saya katakan di atas bahwa Bali merupakan satu paket lengkap. Sewaktu di Phuket inilah saya merumuskan pendapat ini. Karena mirip, saya lantas bandingkan. Anda akan jumpai lebih banyak yang menarik di Bali, kecuali Simon Cabaret. 

Apa yang saya inginkan dari bulan madu hanyalah bersantai-ria, namun Yani mungkin lebih bersemangat menjelajah ke sekitar. Oleh sebab inilah kita ke Ko Phi Phi. Jaraknya tidak terlalu dekat juga, sekitar dua jam kalo naik feri berukuran besar karena Ko Phi Phi terletak di antara Phuket dan Krabi. Selain rambu tsunami di tepi jalan, saya tidak ingat lagi seperti apa pulau ini di tahun 2011.

Di Ko Phi Phi.

Samosir terletak di tengah Danau Toba. Saya dua kali ke Danau Toba dan pertama kali ke sana di tahun 2005. Kali kedua terjadi tujuh tahun kemudian dan di kali ini saya ke Samosir. Cukup menarik juga bila anda menikmati museum dan tempat bersejarah, tapi rasanya cukup sekali ke sini. Jika anda sudah menempuh empat jam dari Medan ke Danau Toba, anda bisa sekalian ke sini. 

Bohol lagi-lagi merupakan ide Yani. Saya sudah cukup puas dengan kunjungan ke Cebu, tapi Yani merasa bahwa satu hari ekstra ini bisa dimanfaatkan ke Bohol dan dia sungguh benar. Saya menikmati kunjungan ke penangkaran tersier, sejenis monyet kecil yang hidup di pulau ini. Dan juga di Bohol inilah saya menyadari bahwa selama kita berkeliling Asia Tenggara, pemandangan dan tumbuhannya kurang lebih sama. 

Bukit Coklat, Bohol.

Pulau Ubin mengingatkan saya kembali bahwa Singapura adalah bagian dari kepulauan yang membentuk Indonesia dan Malaysia. Perahu kayu yang membawa kita ke sana, rumah-rumah tua yang menjual kelapa muda, semua ini serupa dengan apa yang saya lihat di Kalimantan Barat. Saya hanya pernah ke sana satu kali bersama orang tua saya dan tidak pernah kembali lagi semenjak itu. 

Jika ada pulau yang terasa sungguh berbeda, maka pulau itu adalah Miyajima. Letaknya tidak jauh dari Hiroshima dan anda akan disambut oleh rusa-rusa jinak begitu anda mendarat. Tak jauh dari dermaga, ada gerbang torii yang terendam laut di saat air pasang. Selain itu, yang unik adalah berbagai ukuran sendok nasi dari bahan kayu yang bisa ditemukan di sana, mulai dari yang mungil sampai sendok nasi terbesar di dunia. 

Bersama Yani di Bintan.

Selain Batam, Bintan juga sering menjadi alternatif bagi yang tinggal di Singapura. Saya sendiri tidak begitu suka ke sana. Pulau ini dikenal karena dua hal: kawasan hotel dan ibukota provinsi Kepulauan Riau: Tanjungpinang. Dua-duanya tidak terlalu menarik. Kawasan perhotelan Bintan tergolong mahal dan Tanjungpinang masih sangat terbelakang. 

Pulau terakhir yang saya kunjungi sampai sejauh ini adalah Madura. Kunjungan ke sana memang direncanakan karena saya ingin lihat sendiri, seperti apa Madura ini. Orang-orang Madura memiliki sejarah yang panjang di Pontianak, karena itu saya ingin tahu, seperti apa pulau yang membentuk karakter orang Madura ini. Ternyata memang tempat yang keras. 

Sekarang mari kita kembali lagi ke liburan ke Karimunjawa. Bagaimana dengan cuacanya pas liburan berlangsung? Semuanya baik-baik saja dan teman-teman terlihat gembira, tapi yang agak mengejutkan adalah saat melihat ketua panitia membawa keluarga. Kesannya mendadak dan tak terduga, namun mungkin ini ada hubungannya dengan liburan tahun 2023 nanti. Siapa tahu? Mari nantikan! 

Tim Karimunjawa.

Sunday, October 16, 2022

Larry And Jerry

I told you five years ago that I was from the Friends generation. It was the show that I grew up with. I remember discussing the story with Ardian and with Rusli later on when I moved to Jakarta. I still re-watched the sitcom many times since then, from the time when I was staying with my housemates till Netflix days. 

But being a fan of sitcom (oh yes, I also loved How I Met Your Mother, That '70s Show, The Big Bang Theory and Modern Family that came after Friends), of course I've heard of Seinfeld. It was widely regarded as one of the greatest and most influential sitcoms of all time. When it became available on Netflix, I naturally tried it out. 

To be frank, I was hesitant at first. I mean, this series started in 1989, five years before Friends. The show got to be so dated and, after watching it, I wasn't wrong about that. What surprised me was the jokes. It was still very fresh, even by today's standard, that it made me laugh hysterically. Season 1 wasn't that great, though. In fact, it had only five episodes. It got better from season 2 onwards. The moment all the characters, especially Kramer, were fully established, that's when the fun really began.  

By the way, unlike Friends, there were only four of them: Jerry Seinfeld (arguably the one with the weakest acting skill, haha), Elaine Benes (not the Rachel-kind of pretty, but much funnier), George Costanza (easily the best from the start) and Cosmo Kramer (my favorite). The supporting roles, most notably Newman (Jerry's nemesis) and Frank Costanza (George's father) were equally hilarious. Guest stars were brilliant, too. Love Marisa Tomei, Teri Hatcher and Courteney Cox (oh yes, Monica from Friends acted in one episode, too). 

The most surprising discovery was, perhaps, the origin of many jokes I'd seen in the subsequent series that came after Seinfeld, including Friends. It turned out that many were recycled from Seinfeld. The moment I saw them, I recognized them immediately and I was amazed to see that it was said and done by Seinfeld first. That's how genius Larry David and Jerry Seinfeld were. They created a show that became the template for the future. 

My love for Seinfeld brought me to Curb Your Enthusiasm. The show featured Larry living his life years after Seinfeld and in season 7, he actually did a Seinfeld reunion within the show. It was a unique concept that I gotta watch and I did exactly that. It was great to see the main cast of Seinfeld again after the controversial finale that ended the original series, but most importantly, that's how I got to know Curb and Larry. 

It was often said that the character of George Costanza was based on Larry (and funny that he tried and failed to play George in Curb Your Enthusiasm, haha). But apart from cameos and voiceovers, Larry's role was limited to mainly behind the scenes. Through Curb, I discovered the humor of Larry David as he acted as a fictional version of himself. It was unusual and a bit dark, as in annoyingly funny, which explained why the last two seasons of Seinfeld felt different after his departure. 

I started Curb Your Enthusiasm because of Seinfeld and in the beginning, I watched only episodes featuring Seinfeld characters. But the show grew on me, so I started from season 1 recently. It was great, though I had to say that it was kind of weird to see David Schwimmer in Curb during the same time Friends ended. He looked exactly like Ross, but he was David here in another show called Curb, haha. 

Anyway, why am I telling you all this? You see, it was like how I discovered the Beatles. It was a gem we didn't know it existed. People our age normally stick with stuff we grow up with. We rarely go back further in time, but that means we would miss out the great stuff that were Larry and Jerry. The accidental discovery I had was a good news I'd like to share. In the world where people are fascinated by horrible things such as Dahmer, I'd like to assure you that there are better shows to watch out there...

Seinfeld and Curb Your Enthusiasm.

Larry Dan Jerry

Lima tahun silam, saya pernah bercerita bahwa saya berasal dari generasi Friends. Ini adalah sitcom paling terkenal di masa remaja saya. Saya ingat saat-saat bertukar cerita dengan Ardian tentang episode terbaru Friends dan juga dengan Rusli ketika saya pindah ke Jakarta. Semenjak itu, saya masih menonton sitcom tersebut berulang-kali, mulai dari sejak di Eunos bersama teman-teman serumah sampai ketika Friends ditayangkan di Netflix. 

Sebagai penggemar sitcom (oh ya, saya juga menyukai How I Met Your Mother, That '70s Show, The Big Bang Theory dan Modern Family yang muncul setelah Friends), tentunya saya pernah mendengar tentang Seinfeld. Saya tahu reputasinya sebagai sitcom paling sukses dan berpengaruh sepanjang masa. Ketika serial ini muncul di Netflix, saya pun akhirnya coba menonton. 

Jujur saya katakan bahwa awalnya saya ragu. Maksud saya, serial ini pertama kali dirilis tahun 1989, lima tahun sebelum Friends. Dengan demikian, sudah pasti terlihat ketinggalan zaman. Setelah saya tonton, saya tidak keliru tentang hal ini, namun yang mengejutkan saya adalah leluconnya. Serial ini tetap terasa lucu di tahun 2022. Saya bahkan sampai terpingkal-pingkal dan tertawa lepas. Season 1 yang hanya terdiri dari lima episode boleh dikatakan masih tidak begitu bagus, namun semuanya kian mantap di season berikutnya. Ketika potensi semua karakternya terealisasi, terutama Kramer, kejenakaan Seinfeld pun tidak terbendung lagi.

Berbeda halnya dengan Friends, Seinfeld hanya memiliki empat tokoh utama: Jerry Seinfeld (yang boleh dikatakan paling buruk aktingnya karena dasarnya dia adalah komedian dan bukan aktor, haha), Elaine Benes (yang tidak secantik Rachel tapi jelas lebih lucu), George Costanza (yang paling konyol dan diperankan dengan baik oleh Jason Alexander) dan Cosmo Kramer (favorit saya). Para pemeran pendukung, terutama Newman (musuh bebuyutan Jerry) dan Frank Costanza (ayah George) juga luar biasa kocaknya. Bintang tamunya pun bagus, misalnya Marisa Tomei, Teri Hatcher dan Courteney Cox (ya, Monica dari Friends juga tampil di satu episode). 

Akan tetapi yang paling mencengangkan adalah asal-mula lelucon dari berbagai sitcom yang muncul setelah Seinfeld, termasuk juga Friends. Ternyata banyak lelucon yang diambil dan didaur ulang dari Seinfeld. Begitu saya tonton, saya langsung ingat dengan adegan serupa di sitcom lainnya. Siapa sangka Seinfeld yang lebih dulu mencetuskan semua itu. Larry David dan Jerry Seinfeld memang jenius. Mereka menciptakan sesuatu yang kemudian menjadi standar bagi serial-serial yang bermunculan setelah Seinfeld. 

Kesukaan saya akan Seinfeld lantas memperkenalkan saya pada Curb Your Enthusiasm. Serial ini bercerita tentang kehidupan Larry bertahun-tahun setelah Seinfeld sukses. Dan di season 7, dia menulis episode reuni Seinfeld di serial Curb. Konsep ini sungguh unik dan akhirnya saya tonton. Senang rasanya bisa melihat para pemeran Seinfeld lagi setelah episode terakhir Seinfeld yang kontroversial. Dari sinilah saya tahu tentang Curb dan Larry. 

Saya sering dengar bahwa karakter George Costanza ditulis berdasarkan Larry David (dan konyol rasanya melihat Larry mencoba berperan sebagai George dan gagal di Curb Your Enthusiasm, haha). Di Seinfeld, Larry hanya muncul sesekali secara sekilas dan perannya lebih cenderung di balik layar karena dia adalah penulis cerita. Lewat Curb, saya pertama kalinya melihat sisi humoris Larry saat dia berperan sebagai versi fiktif dari dirinya. Humor Larry tidak lazim dan agak kelam sehingga karakternya lucu karena cenderung menyebalkan. Saya lantas jadi mengerti kenapa nuansa di dua season terakhir Seinfeld terasa agak berbeda setelah Larry berhenti dari serial ini. 

Saya mulai menjajal Curb Your Enthusiasm karena Seinfeld dan pada awalnya, saya hanya menonton episode yang menampilkan karakter Seinfeld. Lambat-laun saya jadi suka dan saya akhirnya mulai lagi dari season pertama baru-baru ini. Ceritanya kocak, walau agak aneh juga rasanya melihat David Schwimmer di Curb di saat bersamaan dengan tamatnya Friends. Dia terlihat persis seperti Ross, tapi David menjadi dirinya sendiri di serial lain bernama Curb, haha. 

Jadi kenapa sebenarnya saya bercerita panjang lebar tentang Seinfeld dan Curb Your Enthusiasm? Ini karena rasanya seperti saat saya menemukan the Beatles. Orang-orang seusia kita biasanya hanya tahu hal-hal yang populer saat kita remaja. Kita jarang melihat kembali lebih jauh lagi dan ini berarti kita tidak tahu tentang hal-hal menakjubkan seperti Larry David dan Jerry Seinfeld. Penemuan secara tidak sengaja inilah yang ingin saya bagikan. Di dunia di mana orang cenderung terhipnotis oleh kisah-kisah negatif seperti Dahmer, saya ingin meyakinkan anda bahwa masih ada tontonan lain yang lebih layak... 

Sunday, October 9, 2022

The Translator

The thing with knowing a foreign language or two is, you may end up doing a bit of translation here and there, especially if you have lived as long as four decades. My Mandarin was sufficient only to order some food while my French was barely enough to let me introduce myself, at least for now. But both my English and Bahasa Indonesia (it's kinda hard to tell which one is my primary language these days) were not bad at all that I did quite a fair bit of translation regularly for the past six years.

Yes, I did it first and foremost on Roadblog101, hence it was bilingual for those posts that were written by me. I think I was once questioned whether I used Google Translate to convert it to Bahasa. The answer is no. I always write in English, which is a much more versatile language and fun to write in, then I translate it into Bahasa. While it might not be immediately obvious to many, they were two different things. The first one was a creative process by putting thoughts into words. The latter one was almost like re-writing what I read so that the message was conveyed properly in Bahasa. It was an art by itself. Google Translate was all right, but it still couldn't imitate someone's style of writing.

Apart from that, I also helped translating the sermon slides recently. I couldn't help noticing that it wasn't as easy as it looked. The choice of words or phrases could be so peculiar at times that there was no way to translate them directly. More often than not, they got me thinking, why were they written like that? What did the writer actually want to say? I wouldn't say translating other people's work was enjoyable, but it was still doable. Just like when I did the ghostwriting. It was a chore, not a hobby.

The worst of them all was the live translation, apparently. It was quite an experience that I went through recently, so much so that it inspired me to look back and wrote this. I'm never good in verbal communication to begin with and I stutter from time to time. That, plus being a first timer doing a live translation for a fast-talking preacher, was one helluva rollercoaster! 

I remember thinking that it'd be computer-like, processing English and churning out Bahasa in real time. But of course the reality would be less than ideal. A human brain simply couldn't catch up! The moment I was stuck with a word, I'd be three or four sentences behind. That was also made worse by the habit of subconsciously trying to be a regular churchgoer. I'd sit back and try to relax only to realize that I was the translator. Needless to say, I felt like having butterflies in my stomach throughout the session, haha.

But the weirdest experience had to be the time when I was a translator for a foreigner who went through a divorce letter with his soon-to-be ex-wife's lawyer. It was horrible. I sympathized the guy who seemed to be on the losing side, but I had to be impartial and I answered truthfully only when I was asked. I couldn't give any advice or speak my mind. For a wage of SGD 50, the work was mentally exhausting!

Looking back, good to know that translating from English to Bahasa and vice versa was something that I could do. Perhaps I could put that in my resume, haha. But the process was often not something that I enjoyed. It was just done out of necessity or curiosity. In the meantime, I reckon I'd just stick with the IT job...


Bilamana anda menguasai satu atau dua bahasa asing, anda mungkin pernah menerjemahkan sesuatu, terlebih lagi bila anda sudah hidup lebih dari 40 tahun. Mandarin saya pas-pasan, hanya cukup untuk memesan makanan, sedangkan bahasa Perancis saya untuk saat ini hanya sampai pada tahap memperkenalkan diri. Akan tetapi Inggris dan bahasa Indonesia saya cukup mantap (dan agak susah dibedakan, mana yang sebenarnya merupakan bahasa utama saya sekarang ini) sehingga saya sering alih bahasa dari Inggris ke Indonesia dalam enam tahun terakhir ini. 

Ya, bila anda simak Roadblog101, anda akan melihat bahwa artikel saya ditulis dalam dua bahasa. Seingat saya, pernah ada yang bertanya apakah saya menggunakan Google Translate untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Jawabannya adalah tidak. Saya selalu menulis dalam bahasa Inggris yang terasa lebih luwes dan menyenangkan untuk digunakan, kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Mungkin banyak yang tidak tahu, tapi dua hal ini adalah proses yang berbeda. Ketika saya mulai menulis dalam bahasa Inggris, apa yang terjadi adalah sebuah proses kreatif yang menuangkan sebuah pemikiran menjadi rangkaian kata. Selanjutnya yang terjadi adalah semata-mata menulis kembali apa yang saya baca supaya intinya tersampaikan dengan baik dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan seni tersendiri. Google Translate memang berguna, tapi alat bantu ini tidak bisa meniru gaya tulisan seorang pengarang.

Selain itu, sejak beberapa bulan terakhir ini saya juga membantu menerjemahkan presentasi khotbah gereja. Yang paling terasa adalah fakta bahwa proses ini tidak segampang apa yang saya duga sebelumnya. Ada kalanya kata atau frase dalam presentasi tidak bisa diterjemahkan secara langsung. Kalau sudah begitu, terkadang saya jadi bertanya, kenapa bagian ini ditulis seperti itu? Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulisnya? Menerjemahkan karya orang lain adalah sesuatu yang tidak begitu saya nikmati, namun tetap bisa saya kerjakan. Sama halnya dengan menulis untuk orang lain. Rasanya seperti pekerjaan, bukan hobi.  

Dan pengalaman terburuk sejauh ini adalah menerjemahkan secara langsung ketika pembicara sedang berceramah. Baru-baru ini saya alami peristiwa ini, begitu berkesan sampai-sampai menjadi inspirasi cerita kali ini. Saya tidak pandai berbicara menjabarkan sesuatu dan kalau dipaksakan, kadang terbata-bata. Hal ini, ditambah lagi dengan pengalaman pertama menjadi penerjemah untuk seorang pembicara yang cepat penuturannya, rasanya seperti sedang menaiki wahana rollercoaster

Sebelum mulai, yang terpikir di benak saya adalah sebuah proses seperti komputer yang menerima input dalam bahasa Inggris dan langsung menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Tapi tentu saja kenyataannya tidak akan semulus itu. Kinerja otak manusia tidak bisa mencerna data yang datang bertubi-tubi. Begitu saya tersangkut di satu kata, tiga atau empat kalimat pun terlewatkan dalam sekejap. Selain itu, saya sering kali tanpa sadar mencoba menyimak sebagai pendengar. Begitu saya duduk santai, lantas saya sadari bahwa saya adalah penerjemahnya. Rasanya tegang dan bikin mual, haha.  

Namun pengalaman teraneh adalah saat menjadi penerjemah untuk orang asing dan menjelaskan padanya apa isi surat cerai yang disampaikan oleh pengacara dari pihak istrinya. Sungguh tidak mengenakkan. Saya bersimpati pada pria yang dituntut ini, tapi saya tidak boleh memihak dan hanya bisa menjawab apa adanya ketika ditanya. Saya tidak bisa memberikan nasehat atau berbicara menurut pendapat saya. Untuk upah sebesar SGD 50, pekerjaan ini sungguh membuat cape mental! 

Kalau saya lihat kembali, menarik untuk diketahui bahwa menerjemahkan sesuatu dalam Inggris ke bahasa Indonesia dan juga sebaliknya adalah sesuatu yang bisa saya kerjakan. Mungkin saya bisa masukkan ini dalam pengalaman kerja saya, haha. Kendati begitu, seringkali prosesnya tidak begitu saya nikmati. Saya cenderung melakukannya karena perlu atau karena ingin tahu. Untuk sementara ini, mungkin saya tetap berkutat di bidang IT dulu saja...