Total Pageviews

Translate

Tuesday, March 28, 2017

Pentingnya Citra Diri Positif

"Buatlah diri kita menjadi berharga dengan mengenal diri sendiri dan memberikan citra yang positif terhadap diri kita..." 

Siapa namamu?  
Siapakah kamu?
   
Kedua pertanyaan ini sekilas akan kelihatan sama namun berbeda. Saat kita ditanya siapa nama kita, tentu saja kita akan menjawabnya dengan menyebutkan nama kita, tapi ketika kita ditanya siapakah diri kita, bukan nama yang diharapkan menjadi jawabannya. Seringkali kita pandai dan mahir sekali memberikan penilaian terhadap orang lain seakan-akan kita lebih mengerti dari orang itu sendiri. Coba kita tanyakan kepada salah satu teman kita mengenai teman kita yang lain, dengan cepat dia bisa memberitahu kepada kita siapa teman yang kita tanyakan. Misalnya: si A itu cerewet, banyak ngomongnya, pandai tapi sombong, hebat dalam olah raga, sayang keluarga dan lain-lain. Ketika ada pertanyaan yang sama diarahkan kepada kita, seakan-akan kita membisu siapakah kita. 

Apakah kita bisa memberikan sesuatu yang kita tidak punyai? Tentu tidak. Hal sama yang juga menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana kita bisa mengenal orang lain dengan baik sebelum kita mengenal diri sendiri. Terus pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, kenapa kita musti tahu siapakah kita? Pentingnya jawaban dari pertanyaan ini bisa ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang yang dulunya baik dalam berperilaku, bisa berubah menjadi makin baik atau buruk setelah lama pindah ke kota lain. Sama juga halnya dengan banyak orang tua yang mengirimkan anak-anak mereka melanjutkan studinya di luar kota ataupun luar negeri, namun hasilnya banyak yang tidak sesuai dengan harapan orang tua mereka. Apa yang orang tua mereka mau adalah anak-anaknya menjadi lebih baik sikap perilakunya, lebih cerdas dan lebih maju, tapi karena mereka tidak diajari untuk mengenali diri sendiri, banyak di antara mereka menjadi terpengaruh dengan lingkungan kota tersebut. Kita bisa lihat betapa banyak anak remaja sekarang yang, karena pengaruh lingkungan, menjadi budak narkoba. Adalah sulit sekali menjadi pribadi yang baik apabila lingkungan tempat kita tinggal buruk, karena kadang kita takut tersingkir dari lingkungan ataupun teman-teman baru kita jika kita tidak ikut-ikutan berperilaku seperti mereka. Contoh:
Ini dari pengalaman saya, namun di contoh ini saya tidak akan menyebutkan nama teman saya demi menjaga privasinya. Dia adalah teman saya, saat kami masih di kota kecil, tepatnya di Pontianak. Teman ini adalah salah satu anak yang berperilaku baik. Saya katakan berperilaku baik karena dia tidak narkoba, tidak suka mabuk-mabukan, bahkan tidak merokok. Banyak teman yang sependapat dengan saya. Kemudian dia mencoba mencari kehidupan di negara lain, tepatnya di Taiwan. Setelah sekitar 12 tahun kami berpisah, kami bertemu lagi di Jakarta. Dia dideportasi karena tertangkap mengkonsumsi narkoba jenis XTC. Dan dia bercerita banyak kehidupan dia di sana dan menurutnya, apa yang terjadi di sana adalah hal yang biasa. Mabuk, ke disko sambil narkoba dan lain-lain adalah lumrah.

Ini hanya salah satu contoh pengaruh negatif dari lingkungan di mana kita berada. Kendati begitu, kita tentunya tidak memungkinkan bahwa banyak juga lingkungan yang memberikan pengaruh yang positif. William James, psikolog pertama Amerika, mengatakan, "neraka yang harus dihadapi setelah kita mati, yang dikisahkan oleh para teolog, tidak lebih buruk dari neraka yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri di dunia ini akibat terus mendandani karakter kita dengan cara yang salah."

Dari kalimat pernyataan yang diberikan oleh William James, kita tahu bahwa kita bisa menciptakan neraka bagi diri kita di dunia ini hanya karena kita salah dalam memberikan citra diri yang selanjutnya akan menjadi karakter kita. Walaupun kita belum tahu rasanya neraka itu bagaimana dan kita mempunyai gambaran neraka yang berbeda-beda, tapi saya yakin sekali kita semua mempunyai gambaran secara umum bahwa neraka adalah tempat yang tidak enak dan akan membuat sengsara. Kalau begitu, akankah kita masih membiarkan diri kita hidup seperti di neraka hanya karena kita tidak mau tahu siapa diri kita? Saya yakin kita tidak menginginkan hidup seperti itu. Nah, teruslah membaca karena saya yakin tulisan ini bisa menjadi salah satu cara untuk membantu kita menemukan siapakah kita, sehingga kita bisa memberikan citra diri yang positif.

Sangatlah penting bagi kita untuk mengenal dan memberikan citra diri kita sedini mungkin dan saya harap anda tidak hanya membaca saja, tapi juga menerapkannya. Teori tanpa tindakan sama dengan nol besar. Anda mungkin bertanya, "kenapa saya harus mengenal dan memberikan citra diri saya sedini mungkin? Saya kan masih remaja, masih SMP, SMU." 

Ini alasannya, mengapa sangat penting bagi kita untuk mengenal dan memberikan citra diri yang positif pada diri kita. Jika kita bukan kita yang melakukannya, sangat mungkin orang lain yang ada di sekitar kita yang akan memberikan citra tentang diri kita. Dengan begitu, citra diri kita tergantung lingkungan kita. Percaya atau tidak, lingkungan sangat mempengaruhi diri kita, apalagi jika kita masih belum mengenal diri kita. Perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan orang-orang di sekitar kita akan sangat mempengaruhi diri kita dan itu bisa menjadi citra diri kita. Contoh:
Di suatu lingkungan, ada sekelompok orang suka mabuk-mabukan. Ketika ada satu orang di  antara mereka yang tidak suka melakukan hal tersebut, menurut orang-orang di lingkungan tersebut, siapakah yang akan menjadi orang aneh? Apakah mereka yang suka  mabuk-mabukan atau seseorang yang tidak suka mabuk-mabukan tersebut? Tentu saja, yang menjadi orang aneh adalah yang tidak suka mabuk-mabukan karena ia menjadi berbeda dengan orang-orang di lingkungan tersebut.

Jika lingkungan sekitar kita orang-orangnya positif, mungkin itu tidak terlalu masalah tapi tetap saja lebih baik kita yang memberikan citra diri kita sendiri. Lebih buruk lagi jika lingkungan kita adalah orang-orang yang negatif. Kita akan mudah terbawa dengan lingkungan yang buruk tersebut dan citra diri kita akan diberikan oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Apakah kita bisa membayangkan jika citra diri kita dibentuk di lingkungan yang orang-orangnya menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan, suka mabuk-mabukan, narkoba dan suka saling menghina?
Kita bisa lihat contoh dari kehidupan sehari-hari kita:
  • Di dalam keluarga saja saya bisa menemukan perbedaan-perbedaan dalam berkomunikasi. Ada keluarga yang menganggap biasa saat berbicara dengan orang-orang di rumah, baik saat memanggil mbak mereka atau ketika anak berbicara dengan orang tua, dengan cara berteriak atau bahkan ada yang diawali atau diakhiri dengan "kata-kata mutiara" (segala nama binatang, cacian, kata-kata negatif lainnya). Ini terjadi karena kebiasaan yang dilakukan sejak dini dan bisa menjadi karakter jika dibiarkan berlanjut. Hal ini kelihatan sederhana tapi, sekali lagi saya tekankan, bisa membentuk karakter anak-anak saat dewasa. Selain contoh di atas, ada juga keluarga yang bisa menerapkan cara komunikasi yang baik, tidak teriak-teriak saat berbicara dengan orang tua, atau antar anak-anak dan meminta mbaknya melakukan sesuatu dengan kata tolong. Mungkin kata tolong adalah kata yang sederhana tapi efeknya luar biasa. Ini termasuk salah satu kata ajaib selain terima kasih dan maaf.
  • Dalam pergaulan juga banyak ditemukan bahwa anak-anak remaja yang merasa akrab ada kalinya saat saling memanggil teman dengan sebutan salah satu nama binatang. Bila para remaja mengambil citra salah satu binatang, anda bisa bayangkan akan menjadi apa generasi selanjutnya? Jadi menurut saya, rasa-rasanya wajar jika sering terjadi tawuran di negara kita ini selama kita tidak berusaha untuk membiasakan anak-anak remaja, terutama saat mereka SMP dan SMU, mengenali diri mereka dan memberikan citra diri yang baik.

Untuk melihat lebih jauh pengaruh perkataan-perkataan orang sekitar terhadap diri kita, mari kita membaca ilustrasi berikut:
Pada suatu hari ada segerombolan katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. 

Perlombaan pun dimulai. Secara jujur, tak satu pun penonton yang benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak menara. Lalu terdengarlah suara-suara seruan: "Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak," atau, "Tidak ada kesempatan untuk berhasil. Menaranya terlalu tinggi!!"

Katak-katak kecil mulai berjatuhan satu persatu, kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara yang semakin tinggi dan semakin tinggi. Penonton pun terus bersorak, "terlalu sulit!!! Tak akan seekor katak pun akan berhasil!"

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah, tapi ada SATU yang tetap lanjut. Dia tak menyerah! Akhirnya, setelah yang lain telah menyerah untuk menaiki menara, satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak. SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya? Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Ternyata... katak yang menjadi pemenang itu TULI!

Terlepas dari katak kecil yang tuli tersebut, dari cerita ini kita bisa melihat berapa besar pengaruh perkataan orang-orang sekitar terhadap diri kita. Apakah kita mau menjadikan citra diri kita negatif hanya karena penilaian orang lain? Citra diri kita sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita sekarang dan selanjutnya. Citra diri kita seperti mata kita. Meskipun mata kita tidak terlalu besar, kita bisa memandang dunia yang besar tanpa batasan. Namun sebaliknya, dengan gampang sekali kita bisa menghalangi pandangan mata kita yang luas hanya dengan menutupnya dengan telapak tangan. Dan semuanya akan menjadi gelap dan tidak bisa melihat apa pun. 

Sudit pandang sangat sederhana sekali tidaklah cocok untuk citra diri kita. Bila kita memandang diri kita kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan kita pun jadi kerdil. Namun bila kita memandang diri kita besar, dunia terlihat luas, kita pun melakukan hal-hal penting dan berharga. Karakter kita adalah cermin bagaimana kita melihat dunia dan dunia kita tak lebih luas dari pikiran kita tentang diri kita sendiri.

Itulah alasan mengapa kita diajarkan untuk berpikiran positif tentang diri sendiri, supaya kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Diri kita adalah ciptaan Tuhan yang istimewa dan kita diberikan kebebasan ataupun tanggung jawab untuk menjadi baik atau buruk. Walaupun diberikan kebebasan, seharusnya sebagai rasa terima kasih kepada Tuhan, sudah selayaknya kita memberikan citra yang baik kepada diri kita. Yang tidak kalah pentingnya, saat memberikan citra diri positif, lakukan dengan penuh keyakinan dan camkan itu sebagai karakter kita sehari-hari sehingga menjadi prinsip dalam hidup kita. Jika kita sudah mengenal diri kita dan memberikan citra diri positif yang menjadi karakter hidup kita, saat lingkungan dan orang-orang sekitar kita membawa pengaruh yang negatif, kita akan menyadari pengaruh negatif tersebut dan selanjutnya kita bisa tahu apa yang seharusnya kita lakukan, misalnya pindah dari lingkungan tersebut atau membatasi pengaulan kita dengan orang-orang yang bisa memberikan citra buruk kepada diri kita.

Pindah dari suatu lingkungan ke lingkungan lain tentunya tidak semudah yang kita bicarakan. Ada faktor-faktor yang kadang membuat kita harus berada di lingkungan tersebut untuk beberapa saat. Dengan mengenal diri sendirilah maka kita bisa tetap mempertahankan citra diri kita sambil menunggu waktu untuk bergerak ke lingkungan yang positif yang mendukung citra diri kita. Contoh:
Dalam kisah tentang putera Raja Louis XVI dari Perancis, dikisahkan Raja Louis telah digulingkan dari takhtanya dan dipenjara. Puteranya yang masih muda, sang pangeran, dibawa oleh mereka yang menggulingkan ayahnya. Mereka berpikir, karena pangeran itu adalah putera mahkota, kalau mereka bisa menghancurkannya akhlaknya, ia takkan pernah mencapai takdir agung yang sebenarnya dianugrahkan kepadanya. Mereka bawa dia ke suatu komunitas yang jauh dan di sana, mereka memperlihatkan segala hal yang kotor dan memalukan kepada sang pangeran. Mereka hadapkan dia pada makanan yang akan segera membuatnya diperbudak oleh selera makan. Di dekatnya, mereka selalu menggunakan kata-kata yang memalukan. Mereka bawa dia ke lingkungan penuh hawa nafsu dan wanita pelacur. Mereka mencoba membiasakannya dengan sikap tidak hormat dan tidak percaya. Dua puluh empat jam sehari ia dikelilingi oleh segala hal yang dapat menyeret jiwa seorang pria serendah-rendahnya. Selama lebih dari enam bulan ia diperlakukan demikian, tetapi tidak sekalipun pangeran ini takluk kepada tekanan. Akhirnya setelah pencobaan yang intensif, mereka menanyai dia, mengapa ia tidak takluk pada semuanya itu? Mengapa ia tidak ikut-ikutan, padahal semua itu akan memberikannya kesenangan, memuaskan hawa nafsunya dalam kenikmatan duniawi? Pangeran ini pun menjawab, "saya tidak bisa melakukan apa yang kamu minta karena saya dilahirkan untuk menjadi seorang raja."

Kesimpulannya, Pangeran Louis mengenal betul siapa dirinya dan tidak tergoyahkan oleh lingkungannya yang kelihatannya menggiurkan namun akan menghancurkan dia.

Selanjutnya sangatlah penting bagi kita untuk tidak merampas citra orang lain dengan memberikan penilaian-penilaian atau sebutan yang buruk tentang seseorang. Sebagai contoh, kita akan lihat pengalaman saya dengan seorang murid saya:
Pertama kali saya ditelpon untuk mengajar anak ini, saya memanggilnya Joe dan sekilas tidak ada masalah. Setelah beberapa kali pertemuan, saya menemukan bahwa citra dirinya dibentuk oleh orang-orang negatif yang menghancurkan semua kemampuannya. 

Dalam mengajar, saya selalu memakai metode yang dimulai dengan penjelasan dan contoh, lalu saya berikan waktu untuk melihat kembali dan dilanjutkan dengan sesi bertanya kalau ada yang belum jelas, kemudian ditutup dengan latihan. Ketika saya mulai langkah-langkah saya, dia diam saja memperhatikan walaupun saya menyadari bahwa dia tidak benar-benar memperhatikan. Sampai waktunya bertanya, dia tidak bertanya. Lantas saya lanjutkan dengan latihan. Dia juga mencoba mengerjakan, tapi dari 10 soal, tidak ada satu pun yang benar. Setelah beberapa waktu kejadiannya tetap sama dan hasil ulangan dari sekolah pun tidak memuaskan. Saya mulai menginterogasi dia secara santai, bercanda sambil bertanya jawab. 

Saya bertanya kepada dia, "Joe, soalnya ini bisa kamu kerjain, tidak? Ini soalnya mudah, coba kamu baca dan dimengerti dulu?" 

Dia menjawab bahwa dia tidak bisa. 

Saya lanjut lagi bertanya, "sudah baca dan coba dikerjakan, belum?" 

Dia menjawab, "belum." 

Ketika saya bertanya kenapa dia berpikir bahwa dia tidak bisa, jawabannya sangat mengejutkan saya. Dengan polosnya dia berkata, "pasti tidak bisa, karena saya 'kan bodoh." 

Karena penasaran, saya mencoba cari tahu siapa yang membentuk citra dirinya sedemikian rupa dan saya kaget ketika jawanbannya adalah, ibu, guru dan beberapa temannya. Sejak saat itu saya berusaha lebih keras untuk membentuk citra dirinya kembali. 

Saya berkata kepada dia, "Joe, kamu percaya saya?" 

Ketika ia berujar bahwa ia percaya, saya mengulangi pertanyaan yang sama untuk menguji keyakinannya. Dia diam sebentar dan menjawab dengan yakin, "percaya, Sir." 

Kemudian saya tepuk pundaknya dan berkata dengan serius, "Joe, kamu tidak bodoh dan ingatlah kalau tidak ada orang yang bodoh. Yang ada hanya orang yang malas dan tidak mau belajar dan pada akhirnya dia dijuluki si bodoh. Mulai sekarang, jika ada orang yang bilang kamu bodoh, katakan padanya kalau kamu tidaklah bodoh. 

Joe pun bertanya balik, "bagaiamana kalau Mama saya yang menyebut saya bodoh? Apa saya jawab seperti tadi yang Sir katakan?" 

Saya iyakan pertanyaan tersebut, namun dia masih terlihat ragu. "Terus kalau mama marah, bagaimana? Saya bilang Sir yang ajari, ya?" 

"Tidak apa-apa, bilang saja Sir yang ajari begitu." 

Setelah itu, saya lupa untuk memberitahu mamanya supaya tidak memarahi dia dengan sebutan bodoh lagi. Dan benar saja, keesokan harinya, mamanya menegur saya, kenapa anaknya diajari melawan dia. Saya minta maaf, namun saya juga jelaskan tentang pentingnya citra diri anak. Singkat cerita, sekarang anak ini sudah melanjutkan studinya keluar negeri.

Dari pengalaman saya di atas, kita bisa lihat kadang orang terdekat kita bisa merampas citra diri kita walaupun mereka tidak bermaksud demikian. Sangat gampang bagi kita untuk memberikan penilaian yang buruk terhadap orang lain sebelum kita benar-benar mengenalnya. Kita bisa lihat dari kisah berikut dari majalah Readers’ Digest:
Teman saya, wanita, ketika pulang ke Afrika Selatan setelah lama tinggal di Eropa, masih punya banyak waktu menunggu di bandara Heathrow di London. Setelah membeli secangkir kopi dan sekantong kue kering, keberatan dengan kopernya, ia berjalan menuju sebuah meja kosong. Ia sedang membaca surat kabar pagi ketika sadar ada seseorang yang merogoh kantong kertas di mejanya. Dari balik surat kabarnya, ia sangat terkejut melihat seorang pemuda berpakaian rapih sedang mengambil kuenya. Karena tidak mau membuat keributan, ia hanya mengambil kuenya saja tanpa berkata apa-apa. Satu menit berlalu, terdengar lagi suara keresek. Pemuda itu sedang mengambil kuenya lagi.

Ketika kuenya tinggal satu, teman saya menjadi sangat marah tetapi tidak berani bilang apa-apa. Lalu, pemuda itu membelah kuenya, menyodorkan separuh kepada teman saya, makan sisanya lalu beranjak pergi.

Beberapa waktu kemudian, ketika namanya dipanggil untuk naik pesawat, teman saya masih kesal. Bayangkan rasa malunya ketika ia membuka tasnya dan menemukan kantong kuenya sendiri. Jadi, sedari tadi itu, yang ia makan adalah kue pemuda itu.

Sebelum wanita itu tahu kue pemuda itu yang dia makan, dalam hatinya, dia sudah memberikan penilaian yang negatif kepada pemuda itu, yaitu dasar tidak tahu malu. Ketika dia tahu bahwa kue yang dimakannya adalah kepunyaan pemuda itu, segera penilaian menjadi berbeda yaitu baik sekali pemuda itu. Oleh karena itu, kendalikan diri kita untuk tidak cepat-cepat menilai orang, mencap orang atau membentuk pandangan yang kaku tentang orang lain.

Saat kita mau membicarakan orang lain, bicarakanlah yang baik, berikan cap yang baik untuk mengembangkan citra dirinya. Bicarakan yang baik dan positif tentang seseorang di depan orang lain saat ada orang tersebut. Ini adalah citra diri yang luar biasa yang akan dia rasakan dan juga dia akan merasakan sisi positif yang berlipat ganda. Citra diri positif seseorang akan makin berkembang jika ia tahu orang lain yakin akan citranya. Saat kita mendukung citra diri positif seseorang, haruslah kita lakukan tidak hanya lewat kata-kata tapi juga dengan tindakan. Misalnya:
Seorang ayah yang mengatakan bahwa anaknya adalah anak yang bisa bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Anak itu akan benar-benar percaya bahwa dia adalah anak yang bisa diandalkan jika ayahnya memberikan dia kepercayaan untuk menjaga mamanya dan adik-adiknya saat ayahnya bertugas di luar kota. Keraguan akan citra diri yang positif akan hilang jika keyakinan kita kepada seseorang kita tunjukkan dengan tindakan.

Selanjutnya kita juga tidak boleh membiarkan orang-orang lain merampas citra diri kita yang sudah diciptakan dengan spesial oleh Tuhan. Masa lalu yang kelam bisa juga menghancurkan citra diri kita jika kita tidak benar-benar mengenal diri kita. Berapa orang yang ingin berubah menjadi lebih baik namun karena terbelenggu dengan masa lalunya, mereka berpikir mereka tidak bisa menjadi lebih baik. Akan banyak orang yang akan membicarakan masa lalu kita yang kelam saat kita berusaha menberikan citra diri yang baik bagi diri kita. Contoh:
Ada seorang siswa yang nakal, pemarah dan pemalas. Ketika ia ingin berubah dan memberikan citra yang positif akan dirinya, entah itu karena dia banyak membaca ataupun karena ada orang yang memberikan pengaruh positif terhadap dia, akan ada saja omongan yang bisa menghancurkan citra diri yang ia ingin ciptakan. Misalnya saja ada teman-teman yang berkata, “"tidak mungkin dia bisa berubah menjadi rajin dan baik, dia 'kan teman main saya dulu yang bisanya mengganggu orang dan suka main-main," atau, "paling juga cuma dua atau tiga hari ini dia bisa baik begitu." Lebih parahnya lagi, keluarga malah memberikan kesan yang negatif saat anak tersebut mau berubah. Banyak curiga dan berprasangka bahwa anaknya mempunyai maksud tersembunyi.

Kejadian ini bisa terjadi, namun saat kita mau berubah dan memberikan citra diri yang baik, yakin dan percayalah bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik. Tentu saja semuanya membutuhkan pengorbanan, baik itu waktu atau kadang kehilangan teman-teman yang tidak percaya akan kita (teman-teman yang negatif).

Intinya jangan terpengaruh dengan masa lalu kita. Setiap orang punya masa lalu yang baik maupun yang buruk, namun setiap orang mempunyai hak untuk masa depan yang lebih baik. Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk tidak menggapai mimpi-mimpi di masa depan kita...

Citra positif di ruang kosong memberikan nuansa positif di ruang tersebut...

Saturday, March 25, 2017

絕代雙驕

Juedai Shuangjiao (絕代雙驕), the story about Jiang Xiaoyu (江小魚) and Hua Wuque (花無缺), the twins who were separated from birth, has always been my favorite. I first read it in the 80s, when it was called Tapak Sakti (the Force of Buddha's Palm/如來神掌) by Tony Wong. It was the second Hong Kong comic released in Indonesia, right after Tiger Wong (Oriental Heroes/龍虎門), and it immediately became one of the most popular comics among the readers of our generation. Years later, through the comic series by He Zhi Wen, I learnt that the story in Tapak Sakti had been very much twisted by Tony Wong. Zhi Wen's version was more faithful to the original written by Gu Long and the story, much to my delight, was a lot better. It was so good that it made me curious to find out more about the novel version. As I couldn't read Chinese, the closest I could get was a stack of pocket-size paperbacks called Pendekar Binal, a translated version of Gu Long's original (I just discovered that it can be found here nowadays: http://dunia-kangouw.blogspot.sg/2015/04/khu-lung.html). 

It was mind blowing. I mean, if you wanted to see, let's say, how powerful the kung fu of Yan Nantian (燕南天) was, of course you'd have to pick up the comics. Otherwise, the novel would be an obvious choice. The main attraction of the Juedai Shuangjiao, however, was the colorful and interesting characters such as the cold-hearted Yaoyue (邀月), the tragic Lianxing (憐星), the cunning father and son Jiang Biehe (江別鶴) and Jiang Yulang (江玉郎), the ever charming Ten Great Villains (十大惡人), the evil Twelve Zodiac (十二星相) and many more. The major characters were so well-developed and the subplots involving these characters, interwoven seamlessly within the main story, were wrapped up nicely.

For the benefit of those who never heard of it, I'll give the brief summary of the story so that you have at least the faintest idea of what I'm talking about: the story began when Jiang Xiaoyu's parents were betrayed and murdered. When Yan Nantian, the sworn brother of Jiang Xiaoyu's father arrived on the scene, he found only a crying baby among the dead bodies. In his pursuit of the betrayer, he entered the Valley of Villains where he was tricked and defeated by the five members of the Ten Great Villains. The baby was then groomed to be the greatest villain in the history, though soon it was clear that it didn't turn out to be that way. Fast forward to more than a decade later, Xiaoyu'er, now a smart and happy-go-lucky young man, was kicked out from the valley as none could stand his antics anymore. That was when his adventure began, getting him tangled with romances and intrigues. He also made friends and enemies along the way. As the story progressed, Yan Nantian woke up from his coma state and since his return, everyone else seemed to make their come back as well. Xiaoyu'er also met Hua Wuque, a naive young man who tried to kill him for no apparent reason other than being asked by his teachers, the princesses of Yihua Palace. They fought five times throughout the story and the last one, as Xiaoyu'er outsmarted Yao Yue by faking his death, eventually revealed their relationship as siblings.

Now, through Jiang Xiaoyu's adventure, we are introduced to various characters and some came with complicated background, for example, Wei Wuya the Rat. The ugly looking and partially disabled leader of the Twelve Zodiac was an evil, perverted, heartbroken and sad man at the same time, thanks to his unrequited love for Yao Yue. There are many more that are worth discussing here, but if I have to single out a personal favorite, it must be the Ten Great Villains. 

First of all, the Great Villains were not exactly ten, but eleven, due to the inclusion Ouyang Ding and Ouyang Dang. They were not an actual group of bad guys operating together like the Twelve Zodiac, but were grouped together instead. Each villain was famous for his or her eccentricity, hence the nicknames, and not all were evil. Some harbored hatred against another and they didn't mind killing each other, a trait that ultimately led the Ten Great Villains to their demise. They were great characters that were well-utilized throughout the story. Just for the fun of it, here are the ten:
1. "Blood Hand" Du Sha - "血手" 杜殺
2. "Neither Male nor Female" Tu Jiaujiau - "不男不女" 屠嬌嬌
3. "Blade Beneath the Smile" Haha'er - "笑裡藏刀" 哈哈兒
4. "Not Eating Man's Head" Li Dazui - "不吃人頭" 李大嘴
5. "Half Man, Half Ghost" Yin Jiuyou - "半人半鬼" 陰九幽
6. "Mad Lion" Tie Zhan - "狂獅" 鐵戰
7. "Evil Gambling Ghost" Xuanyuan Sanguang - "惡賭鬼" 軒轅三光
8. "Trick People to Die Without Paying a Soul" Xiao Mimi - "迷死人不賠命" 蕭咪咪
9. "Trying Very Hard to Earn Profit, Better Die than Suffering Loss" Ouyang Ding, Ouyang Dang - "寧死不吃虧、拚命佔便宜" 歐陽丁、歐陽當
10. "Harming People Without Benefiting Himself" Bai Kaixin - "損人不利己" 白開心

While I like both the story and the characters, I also like the good quotes that were scattered around the series. When Wei Wuya was beaten by Yan Nantian, he bitterly complained, "if one wasn't born as the brightest jade, why bother living gloriously? If the world already has Wei Wuya, why must there be Yan Nantian?"

Now that's just resentful, isn't it? On another occasion, when he was captured together with Xuanyuan Sanguang, Xiaoyu'er remembered what Du Sha told him when he was a kid, "cowards are those who like titles and fame to cover up their bad behavior. They shirk responsibilities. Only those who face their own demons can act honestly. Why should one regret to die? Or to live?"

Coming from a villain, that was just so cool! The best one, as you might have guessed, were of course reserved for the main character, Xiaoyu'er. One of his greatest gift is his easygoing manner. Instead of admitting that Su Ying was right when she cornered him about his plan, Xiaoyu'er simply brushed her off with his cheeky answer, "my days are too good. If there are people who make me miserable, that will suit me just fine!"

The optimism is just infectious! This is the reason why I keep coming back to this story once in a long while...

The Impeccable Twins, the complete series.



Pendekar Binal/Tapak Sakti/The Impeccable Twins

Juedai Shuangjiao (絕代雙驕), cerita tentang Kang Siau-hi (江小魚) and Hoa Bu-koat (花無缺), dua anak kembar yang terpisah sejak lahir, adalah kisah Chinese favorit saya. Pertama saya baca di tahun 80an, cerita ini dikemas dalam judul Tapak Sakti (the Force of Buddha's Palm/如來神掌) yang dikarang oleh Tony Wong. Ini adalah komik Hong Kong kedua yang dirilis di Indonesia setelah Tiger Wong (Oriental Heroes/龍虎門) dan dengan cepat menjadi komik favorit generasi saya. Bertahun-tahun kemudian, lewat komik yang dibuat oleh Ho Ce Wen, saya baru tahu bahwa Tapak Sakti itu sebenarnya sudah diubah sana-sini oleh Tony Wong. Versi Ce Wen tidak ubahnya seperti versi komik dari novel Khu Lung, sang pengarang, sehingga alur ceritanya lebih menarik. Setelah saya baca habis, saya jadi tergelitik untuk mencari tahu tentang versi novelnya. Karena saya tidak bisa membaca tulisan Mandarin, akhirnya saya membaca stensilan yang berjudul Pendekar Binal, saduran dari karya Khu Lung (Pendekar Binal sekarang bisa dibaca online lewat situs berikut ini: http://dunia-kangouw.blogspot.sg/2015/04/khu-lung.html).

Versi novelnya tidak kalah seru. Tentu saja, kalau misalnya anda berminat melihat kehebatan kungfu pendekar besar Yan Lam Thian, mungkin anda harus membaca komiknya. Akan tetapi atraksi utama dari kisah si kembar ini adalah penokohan karakternya, seperti Putri Kiau Goat (邀月) yang berhati sedingin es, Putri Lian Sing (憐星) yang tragis nasibnya, bapak dan anak yang culas Kang Piat-ho (江別鶴) dan Kang Giok-long (江玉郎), Sepuluh Penjahat Ulung (十大惡人) dan Cap Jie Shio (十二星相) yang keji serta masih banyak lagi. Karakter-karakter utama ini benar-benar unik dan alur cerita yang melibatkan mereka merupakan satu kesinambungan yang tidak terpisahkan dari cerita utama.

Bagi yang belum pernah mendengar tentang kisah ini, saya bisa ceritakan dengan singkat supaya anda memiliki gambaran tentang apa yang sebenarnya saya bicarakan sampai sejauh ini: cerita ini bermula dari terbunuhnya ayah dan ibu Kang Siau-hi. Ketika Yan Lam Thian, abang angkat Kang Hong, tiba di lokasi, dia hanya menemukan seorang bayi di tengah mayat-mayat yang bergelimpangan. Pendekar besar Yan masuk ke Ok Jin Kok demi menemukan pelakunya, namun dia dijebak dan akhirnya dikalahkan oleh lima dari Sepuluh Penjahat Ulung. Bayi yang dibawanya kemudian diasuh dengan tujuan dibesarkan sebagai penjahat paling kejam, walau hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Satu dekade kemudian, Kang Siau-hi tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan keluar dari Ok Jin Kok. Dari situlah petualangannya bermula, melibatkannya dalam berbagai kisah cinta dan perkara besar di Kang Ouw. Dia pun bertemu dengan banyak kawan dan lawan. Di saat bersamaan, Yan Lam Thian juga terbangun dari koma dan berbagai tokoh lainnya pun turut bermunculan. Kang Siau-hi akhirnya bertemu dengan Hoa Bu-koat, pemuda yang ingin membunuhnya hanya karena perintah Putri dari Istana Bunga. Mereka bertarung lima kali sepanjang cerita dan di pertarungan terakhir, Kang Siau-hi berhasil menjebak Putri Kiau Goat untuk membocorkan rahasia bahwa mereka berdua adalah saudara kandung.

Kang Siau-hi berkelana dan bertemu dengan beraneka tokoh yang memiliki beragam latar belakang, misalnya Gui Bu-geh, pemimpin Cap Jie Shio yang buruk rupa dan lumpuh. Walau jahat dan maniak, Gui Bu-geh juga pria menyedihkan yang patah hati karena cintanya ditolak oleh Putri Kiau Goat. Banyak lagi karakter lain yang menarik dan bisa didiskusikan, tapi jika saya harus memilih tokoh favorit, maka yang paling saya sukai adalah Sepuluh Penjahat Ulung. 

Pertama-tama, Sepuluh Penjahat Ulung sebenarnya bukanlah sepuluh orang, tetapi sebelas, karena keberadaan kakak-beradik Auyang Ting Tang. Yang lebih unik lagi, mereka bukanlah para penjahat yang satu komplotan seperti halnya Cap Jie Shio. Masing-masing Penjahat Ulung terkenal karena karakternya dan tidak semuanya jahat. Beberapa di antaranya membenci satu sama lain dan tidak segan untuk saling membunuh. Para anggota berikut julukannya adalah:
1. "Tangan Berdarah" Toh Sat - "血手杜殺
2. "Bukan Laki-laki, Bukan Perempuan" To Kiau Kiau - "不男不女屠嬌嬌
3. "Di Balik Tawa Ada Pisau" Ha Ha-ji - "笑裡藏刀哈哈兒
4. "Tidak Makan Kepala Manusia" Li Toa-jui - "不吃人頭李大嘴
5. "Separuh Manusia, Separuh Setan" Im Kiu-yu - "半人半鬼陰九幽
6. "Singa Gila" Tie Cian - "狂獅鐵戰
7. "Setan Judi Jahat" An Wan Sam-kong - "惡賭鬼軒轅三光
8. "Menipu Orang Sampai Mati Tidak Mau Membayar Nyawa" Siao Mi-mi - "迷死人不賠命蕭咪咪
9. "Mati-matian Dapat Untung, Lebih Baik Mati Daripada Rugi" Auyang Ting, Auyang Tang - "寧死不吃虧、拚命佔便宜歐陽丁、歐陽當
10. "Merugikan Orang Tidak Menguntungkan Diri Sendiri" Pek Khek-sim - "損人不利己白開心

Saya suka cerita dan karakternya, tapi saya juga suka kalimat-kalimat menarik yang diucapkan para tokohnya. Misalnya, ketika Gui Bu-geh dikalahkan oleh Yan Lam Thian, dia dengan pahit mengeluh, "jika tidak terlahir sebagai giok cemerlang, buat apa hidup berjaya? Jika di dunia ini sudah ada Gui Bu-geh, kenapa masih mesti ada Yan Lam Thian?"

Pedih rasanya, bukan? Contoh lainnya, ketika ditangkap bersama An Wan Sam-kong, Kang Siau-hi teringat apa yang diucapkan Toh Sat kepadanya sewaktu dia masih kecil, "pengecut adalah orang yang menyukai jabatan dan ketenaran untuk menutupi tabiat buruk mereka. Hanya yang berani menghadapi setan dalam diri mereka yang bisa bersikap jujur." 

Bayangkan, seorang penjahat bisa mengucapkan hal seperti ini! Gagah nian! Akan tetapi yang terbaik tentu disisihkan untuk karakter utama, Kang Siau-hi. Salah satu dari sifatnya yang menarik adalah gayanya yang santai. Ketika dipojokkan oleh So Ing tentang rencananya, Kang Siau-hi dengan enteng menjawab, "hari-hari di dalam hidupku terlalu baik. Jika ada yang membuatku susah, itu pun boleh-boleh saja."

Rasa optimisnya sangat menular dan luar biasa positif! Ini alasannya kenapa saya kadang membaca serial ini kembali setelah beberapa lama...

Berbagai versi 絕代雙驕
Dari kiri: Tapak Sakti, The Impeccable Twins dan Pendekar Binal
Image credit: Gorief, Tokopedia dan Bugiskha



Thursday, March 23, 2017

The ASEAN Tour: Singapore

More often that not, any Indonesians, should they have only one chance to travel around Southeast Asia, then the country they'd like to go must be Singapore. This country is easily one of the nearest to Indonesia and yet the two are so world apart. A city that is also a country, Singapore is so neat, so clean, so safe, so modern, unlike any other neighboring countries. When the night comes, it lights up proudly, a breathtaking view that is unseen elsewhere. Simply said, the charm of Singapore is irresistible. If we ever had our initial glimpse of first world countries, it is likely through our visit to Singapore.

I always find the thought of Singapore as a city state or an island country amusing. I mean, coming from Indonesia, an archipelago, I grew up with an idea that going to Jakarta or Medan means you literally travel to another city on another island. However, Singapore is nothing like that. From Sengkang to Raffles Place, for example, you just have to hop on a train or bus and voilà, there you are. How convenient!

Singapore has a mixture of Malay, Chinese and Indian traditions. Some other minorities such as Western, Thai, Burmese, etc. are also thrown into the mix, giving Singapore a very rich international flavor. One day you see a well-decorated Orchard road, embracing the Christmas spirit, and the next thing you know is Chinatown getting ready for Chinese New Year.

The Geylang frog porridge, a famous local delicacy!

A cultural melting pot, it's safe to say that Singapore is a food heaven. It has everything, ranging from nasi lemak, chicken rice, roti prata to exotic stuff like Lebanese food. Same goes for the beverages. You can opt for local delights such as Tea C, the localized cocktail Singapore Sling or hard liquor such as Martell. In Singapore, you eat and drink to your heart's content... until the bill comes. Seriously, things in Lion City are not going to be cheap, especially when you convert it back to IDR, but they are still reasonable in general if you don't go over the top. 

For first timers who come from backwaters, Singapore is definitely a mind blowing experience. The world class Changi airport is your beginning of a grand adventure. The train system is so advanced it could be a tourist attraction by itself. Then of course there is this infamous panoramic view of the CBD area, together with Merlion, best seen while strolling along the riverside at night. Afterwards, the shopping paradise from Dhoby Ghaut to Orchard awaits. Last but not least, while it lacks of natural beauty, Singapore compensates this with man-made wonders, from the Zoo (I've been to many, from the one in Pontianak to the one in Tokyo, but Singapore Zoo is still the best) to Sentosa Island, where Universal Studios Singapore is located.

The Universal Studios Singapore in Sentosa Island.

Personally, I've been here for more than a decade that I have a hard time remembering what or how it was like to be a tourist. One thing I never fail to appreciate, though, is how safe Singapore is. For the fact that a girl can walk alone on the street after midnight, one will have to admit that it's a feeling like no other. Try doing that in Jakarta and you know what I'm saying.

My advice for those who are visiting? The city is best explored on foot and very pedestrian friendly. Furthermore, when you are at the city center, the tourist spots are within walking distance. For example, Chinatown, Clarke Quay and Bugis are practically side by side. Having said that, if you are willing to walk, don't forget to wear the comfortable shoes!

A glimpse of Singapore.
Photo by Evelyn Nuryani.


Tur ASEAN: Singapura

Jika orang Indonesia hanya punya satu kesempatan untuk mengunjung satu negara di Asia Tenggara, biasanya negara yang paling ingin dikunjungi adalah Singapura. Negara ini bukan saja dekat, tetapi juga sangat berbeda dengan Indonesia. Sebagai negara kota, Singapura tertata rapi, bersih, aman dan modern bila dibandingkan dengan negara-negara tetangganya. Ketika malam tiba, kotanya menyala terang-benderang, suatu pemandangan yang sungguh menakjubkan. Pesona Singapura sulit untuk disangkal. Bagi banyak orang, kesan pertama tentang negara maju itu mungkin didapatkan melalui kunjungan ke Singapura.

Saya selalu merasa bahwa fakta Singapura adalah negara kota atau negara pulau ini menarik. Karena Indonesia adalah negara kepulauan, saya tumbuh dewasa dengan persepsi bahwa bepergian ke Jakarta atau Medan berarti berkelana ke kota lain yang berada di pulau lain. Akan tetapi konsep ini tidak bisa diterapkan di Singapura. Dari Sengkang ke Raffles Place, misalnya, anda hanya cukup naik bis atau kereta dan tidak lama kemudian, anda pun tiba di sana. Betapa praktisnya!

Kereta MRT di Singapore. 

Singapura adalah perpaduan dari budaya Melayu, Cina dan India. Minoritas lainnya, orang Barat, Thai, Burma dan sebagainya, juga membaur di sini sehingga Singapura benar-benar memiliki budaya yang beragam dan internasional. Menjelang Desember, anda akan melihat dekorasi Natal di Orchard. Satu atau dua bulan kemudian, Chinatown lantas bersiap-siap menyambut Tahun Baru Cina.

Posisi Singapura sebagai tempat bertemunya beraneka budaya otomatis membuatnya menjadi surga makanan. Singapura memiliki hampir semuanya, mulai dari nasi lemak, nasi ayam Hainan, roti prata sampai dengan makanan eksotis dari Lebanon. Sama juga halnya dengan minuman, mulai dari yang lokal seperti Tea C, Yinyang, Singapore Sling sampai minuman keras bertaraf internasional seperti Martell. Di Singapura, anda bisa makan dan minum sepuasnya sampai... tagihannya datang. Perlu diingat, segala sesuatu di Kota Singa ini tidak murah, apalagi jika dikonversi ke IDR, jadi berliburlah sesuai dengan dana yang tersedia.

Nongkrong dan ngobrol gaya Singapura.

Untuk turis dari kota kecil yang baru pertama kali datang berkunjung, Singapura adalah pengalaman yang luar biasa. Banda udara Changi yang berkelas ini akan menjadi permulaan dari petualangan yang tidak terlupakan. Sistem transportasi MRT-nya adalah yang paling maju di Asia Tenggara dan seringkali menjadi atraksi tersendiri bagi turis. Kemudian tentu saja ada panorama di sekitar kawasan perkantoran yang bisa dinikmati sambil berjalan santai di tepi sungai tatkala malam tiba. Setelah itu ada pusat perbelanjaan yang membentang dari Dhoby Ghaut sampai Orchard. Meski Singapura tidak memiliki keindahan alam, sebagai gantinya mereka memiliki wahana alam buatan, mulai dari Kebun Binatang Singapura sampai Pulau Sentosa, tempat dimana Universal Studios berada. 

Saya sudah berada di sini lebih dari satu dekade lamanya, jadi agak susah bagi saya untuk mengingat kembali, bagaimana rasanya jadi turis di sini. Akan tetapi, jika ada satu hal yang saya syukuri di sini adalah betapa amannya Singapura. Sebagai contoh, seorang gadis bahkan bisa berjalan seorang diri di tengah malam, satu hal yang mungkin terlalu beresiko untuk dilakukan di kota-kota di Indonesia.

Turis Indonesia, malam-malam berpose di Clarke Quay.
Foto: Endrico Richard.

Nasihat saya buat yang mau berkunjung ke sini? Singapura sangat ramah pejalan kaki dan paling enak dijelajahi sambil berjalan santai. Ketika anda berada di pusat kota, semua kawasan turis saling berdekatan satu sama lain, misalnya saja Chinatown, Clarke Quay dan Bugis yang bersebelahan. Oleh karena itu, berjalan kaki adalah pilihan terbaik. Jangan lupa mengenakan sepatu yang nyaman!

Tuesday, March 21, 2017

Hukum Pikiran Positif (Part 1)

Jangan menunggu keadaan baik baru berpikir positif, tetapi dengan berpikir positiflah maka keadaan akan menjadi lebih baik 

Seberapa positifkah anda dalam menghadapi hidup anda, baik terhadap situasi dalam kehidupan sehari-hari, masalah hidup sehari-hari, orang-orang yang ada di sekitar anda maupun orang-orang yang baru anda temui? Bagaimanakah pengaruh dari cara berpikir anda dalam menghadapi hidup anda? Sebelum kita masuk pembahasan kita tentang Hukum Pikiran Positif, mari kita baca cerita di bawah ini. Bayangkan pula seandainya anda turut berada di situasi dalam cerita berikut ini. Sediakan pen atau pensil dan jika anda terinspirasi saat membaca bagian manapun, tulis apa yang anda rasakan atau apa yang mau anda lakukan. Sekali lagi, jangan ragu-ragu untuk menuliskan apa yang anda rasakan:

Cerita 1 : Di sebuah kota kecil ada sepasang muda-mudi yang berpacaran sejak mereka masih SMP. San lelaki mempunyai seekor anjing yang sangat disayangi, baik oleh ya maupun oleh pacarnya. Setiap sore, setelah pulang sekolah, mereka berdua mengajak anjing tersebut jalan-jalan dan kadang-kadang mereka bermain di taman. Mereka memberi makan, memandikan dan merawat anjing tersebut dengan baik sehingga anjing ini menjadi pandai dan setia. 

Setelah selesai kuliah, mereka memutuskan untuk menikah dan membawa serta anjingnya untuk tinggal di sebuah rumah yang sederhana tapi sangat nyaman. Pasangan ini sangat berbahagia dan kebahagiaan mereka bertambah saat mereka dikaruniai seeorang anak bayi. Kendati demikian, kehadiran sang bayi tidak mengurangi sayang mereka terhadap anjing itu. Sama halnya dengan anjing tersebut, ia selalu setia dengan mereka, senantiasa menjaga rumah dan menyambut mereka saat pulang. 

Suatu hari mereka ke kota untuk belanja tanpa membawa bayi mereka. Setelah berbelanja beberapa lama, mereka baru ingat bahwa mereka lupa memberi makan sang anjing. Mereka bergegas pulang dan saat tiba di depan rumah, mereka sangat terkejut karena anjing itu yang selalu menyambut mereka tidak terdengar suaranya. (seandainya anda adalah pasangan muda mudi itu, apa yang terlintas dalam pikiran anda?). Mereka cepat-cepat masuk dan betapa terkejutnya mereka tatkala melihat anjing tersebut berada di depan pintu kamar dengan mulut yang berdarah (nah, ayo apalagi yang ada di pikiran anda?).  Setelah melihat Tuannya pulang, anjing itu berdiri dengan mulut yang masih meneteskan darah segar. Istrinya langsung berteriak histeris dan memarahi anjingnya. Suaminya lantas mengambil sebuah balok dan memukul sambil memaki anjing itu sebagai hewan tidak tahu diuntung (apakah anda akan lakukan hal yang sama?). Anjing itu menggelepar kesakitan, mengaing perlahan, meneteskan air mata dan tidak lama kemudian terdiam selamanya. Pasangan itu masuk ke kamar dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat bayi mereka masih tidur pulas di ranjang sementara di bawahnya ada bangkai seekor ular besar dengan darah berceceran bekas gigitan. Mereka pun segera sadar bahwa darah yang menempel di moncong anjing tadi adalah darah ular yang hendak memangsa anak mereka. Perasaan sesal segera mendera karena kesalahan fatal yang telah mereka lakukan. Mereka menyesal setelah memukul anjing yang setia itu.


Emosi kemarahan yang tidak terkendali telah membunuh anjing setia yang mereka sayangi. Penyesalan mereka tentu tidak akan membuat anjing kesayangan itu hidup kembali. Sungguh mengenaskan. Gara-gara pikiran negatif yang menciptakan emosi dan kemarahan yang membabi-buta, seekor anjing setia yang telah membantu dan membela majikannya akhirnya mati secara tragis.

Saya rasa demikian pula yang terjadi dengan kehidupan ini. Begitu banyak permasalahan, pertikaian, perselisihan bahkan peperangan muncul dari pikiran negatif dan emosi yang tidak terkendali. Kita perlu belajar dan melatih diri agar selalu berpikir positif di saat emosi sehingga  kita mampu mengendalikan diri secara sabar dan bijak. Dari cerita ini kita belajar, janganlah berpikiran negatif sehingga menimbulkan kemarahan dalam bertindak karena pikiran negatif akan menghancurkan kita, membuat penyesalan dan sungguh tidak ada gunanya dalam kehidupan kita.

Sekarang kita lanjut ke cerita berikutnya:
Cerita 2 : Ada seorang lelaki yang mempunyai sifat berpikiran positif. Pada suatu hari dia melakukan perjalanan dengan kapal untuk liburan. Di tengah perjalanan, kapal tersebut mengalami bencana, terkena batu karang sehingga karam. Walau terdampar di sebuah pulau kecil yang terpencil, dia bersyukur karena masih selamat. Setiap hari dia menunggu kapal lewat, menanti pertolongan untuk dirinya. 

Selama berminggu-minggu menunggu, tidak ada satu pun kapal yang lewat. Demi bertahan hidup, ia belajar memanfaatkan segala yang ada di pulau itu untuk dimakan. Dalam upayanya untuk melindungi diri, ia bahkan berhasil membangun gubuk untuk berteduh. Selama berbulan-bulan ia bertahan tanpa bantuan siapa pun. 

Suatu hari, dia masuk hutan untuk berburu makanan. Betapa terkejutnya dia ketika kembali dari berburu, ia mendapati gubuknya terbakar (jika anda adalah lelaki itu, apa yang anda rasakan?). Dengan badan lemas, ia duduk mengeluhkan nasibnya. Pikiran positifnya hilang. Dia mulai menyalahkan Tuhan dan menyalahkan nasibnya. Setelah itu dia terlihat pasrah akan nasibnya. Dia sudah tidak ada semangat lagi untuk bertahan hidup. 

Apa yang terjadi kemudian? Keesokan harinya ada kapal yang datang memberikan pertolongan. Setelah naik kapal, dia bertanya dari mana mereka tahu kalau dia ada di pulau ini. Awak kapal pun memberitahukan kalau mereka melihat ada asap sehingga mereka melakukan pencarian ke pulau ini. Ternyata asap dari gubuk terbakar itu memberi tanda bagi kapal penolong.

Dari cerita di atas kita dapat belajar jika kita mempunyai pikiran positif, akan ada kejadian-kejadian yang mencoba menghancurkan pikiran positif kita. Meskipun demikian, yang harus kita ingat adalah, jika kita ingin berpikiran positif, pertahankan itu sampai mati. Yakini semua pikiran positif kita walaupun banyak masalah yang menghadang. Percayalah bahwa setiap persoalan yang kita hadapi pasti mempunyai sisi positifnya bagi kita. Masalah dalam hidup kita akan membuat kita makin kuat, bukannya menghancurkan kita. 

Perlu diingat juga kalau pikiran positif bisa terkikis jika kita tidak tegas terhadap diri kita. Bukan hanya kejadian atau masalah yang bisa mengikis pikiran, tetapi juga orang-orang sekitar kita yang mempunyai pikiran negatif. Mereka akan sangat mempengaruhi kita.

Kalau begitu, apakah kita tidak boleh berteman dengan orang-orang yang berpikiran negatif itu? Jawabannya boleh-boleh saja, namun kadar persahabatannya yang kita batasi. Jika ada orang yang benar-benar memberikan pengaruh ataupun contoh yang buruk bagi kita, jangan ragu-ragu untuk meninggalkan orang tersebut.

Seperti yang dijelaskan dalam buku pertama saya yang berjudul Cara-Cara Mengenal dan Menciptakan Positif Diri, pengaruh orang-orang sekitar kita begitu besar dan bisa merubah diri kita tanpa kita sadari. Apalagi jika orang tersebut berada dalam lingkungan sehari-hari dimana kita banyak berinteraksi dan menghabiskan waktu dengannya. Tidak ada salahnya, malah ini menjadi tugas kita untuk memberikan pengaruh positif kepada orang lain, namun terkadang ada orang yang kepalanya terbuat dari besi, yang tidak ingin berubah sehingga pengaruh negatifnya lebih besar. Ini adalah pilihan dalam arti apakah kita tetap bertahan dengan orang-orang tersebut atau pergi dari mereka. Kita masih tetap berteman, tetapi kurangi waktu bersama mereka. Tegas dan buatlah keputusan yang bijak untuk hidup kita. Hanya doa dan waktu yang bisa kita berikan kepada orang-orang tersebut.
***
Kita akan lihat tipe-tipe manusia dan tipe yang cocok bagi kita untuk menghabiskan waktu bersama. Berikut ini adalah empat tipe manusia, mari kita lihat satu persatu :
1. The man who does not know, and he doesn’t know that he doesn’t know, he is a stupid man. Go away from him. (orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu, dia adalah orang bodoh/sok tahu. Tinggalkan dia).

Di dalam hidup kita, seringkali kita bertemu dengan orang tipe ini, orang yang seakan-akan tahu segalanya. Orang tipe ini ibaratnya Google.com yang bisa memunculkan semua data. Akibatnya, di saat kita berbicara, dia akan merasa serba tahu dan ikut campur walaupun biasanya tidak nyambung. Tipe orang ini tidak suka belajar dan kalaupun kita beri tahu, dia tidak mau terima karena merasa paling hebat. Orang ini suka mempermalukan dirinya sendiri dengan bangga.

Contoh : Saya ada satu teman, sebut saja A, yang merupakan orang tipe ini. Banyak teman yang sudah kesal dengan kelakuannya dan saat dia ada, teman-teman pun pergi satu persatu. Suatu hari kami sedang membahas tugas kelompok yang diberikan oleh dosen kami. Di saat A muncul, satu teman saya yang agak jahil mulai mengerjainya. Temanku ini berkata, "nanti saat dia ke sini, kalian dengarin saja saya ngomong."

Dan benar saja, ketika A datang dan menanyakan kabar, temanku ini langsung menyela, "kemarin aku menonton sebuah film yang sangat keren, kalian harus menontonnya." Seperti biasa, si A muncul kepo-nya dan bertanya, "film apa? Hampir semua film sudah aku tonton." Temanku pun menjawab, "di film itu ada adegan dimana jagoannya bisa menghancurkan beton dengan jarinya." Si A serta-merta menanggapi, "oh, film itu, aku udah tonton juga. Benar, tuh, kalian harus nonton film itu, keren banget." Si Iseng kemudian melanjutkan lagi, "dan dalam film itu juga, jagoannya bisa memunculkan 5 tangan dari tubuhnya." Si A turut menimpali lagi, "iya, keren, tuh. Kalian bayangin, sampai 5 tangan. Sebelum film itu ditayangkan di Indonesia aja aku udah nonton di Singapura."

Temanku akhirnya bertanya, "emang kamu tahu itufilm apa? Coba, judulnya apa?" Lalu A berujar, "wah, aku lupa judulnya. Terlalu banyak film yang sudah aku tonton, sih." Ketika dia bertanya balik tentang judulnya, temanku dengan santai menjawab, "itu film yang baru aku karang saat melihatmu datang ke sini.’ Bukannya merasa malu, A malah berceloteh, "itu juga aku tahu."

Anda bisa bayangkan orang tipe seperti ini? Sangat disarankan agar lebih baik jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan tipe ini.

2The man who doesn’t know, and he knows that he doesn’t know, he is honest. Teach him. ( orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, dia orang yang jujur. Ajari dia).

Tipe ini sudah jarang tapi masih ada dalam kehidupan kita, yaitu tipe yang dengan ujur mengaku kalau memang dia belum tahu. Sebagai manusia, sebenarnya sangatlah mustahil untuk mengetahui semua hal, namun jika kita mau jujur dan bertanya saat tidak tahu, masih banyak orang yang mau mengajari kita.
3. The who knows, and he doesn’t know that he knows, he is sleeping. Wake him up. (orang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu, dia sedang tertidur. Bangunkan dia).

Nah, tipe ini banyak kita jumpai terutama di kalangan remaja, baik di sekolah atau di tempat kuliah. Banyak sekali siswa-siswi yang ditunjuk untuk melakukan sesuatu, misalnya debat antar sekolah ataupun kegiatan baik lainnya, tapi tidak ada kepercayaan diri. Akibatnya selalu ada kata-kata negatif yang keluar yakni, "jangan saya, saya tidak bisa, yang lain saja."

Ini tidak hanya terjadi pada para remaja, tapi juga semua kalangan umur. Seringkali saat kita ditunjuk untuk melakukan suatu yang baik, kita menolaknya dengan alasan tidak bisa. Ingatlah saat kita ditunjuk, itu artinya orang yakin kita mempunyai kemampuan dan kita tinggal berusaha keluar dari zona nyaman kita untuk melakukannya.

Mendapatkan kepercayaan orang bukanlah hal yang mudah, jadi saat kita diminta untuk melakukan sesuatu yang baik, bayarlah kepercayaan orang tersebut dengan berusaha, bahkan bila perlu dengan bertanya, sehingga kita benar-benar bisa melakukannya. 

4. The man who knows and he knows that he knows, he is a wise man. Follow him. (orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu, dia adalah orang yang bijaksana, ikuti dia).

Ini adalah tipe yang paling bagus dan kita harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Tidak jarang banyak orang yang iri dengan tipe ini sehingga mereka mengatakan tipe ini adalah kategori orang sombong. Kita harus membuat perbedaan antara sombong dan percaya diri. Sombong artinya mengatakan mampu tapi tidak bisa melakukannya, sedangkan percaya diri adalah orang yang jujur mengatakan bisa dan mempunyai kemampuan dan kemauan untuk melakukannya.

Pertanyaan refleksi bagi kita: kenapa penting sekali dalam hidup kita untuk mempunyai pikiran positif?

Berpikir positif tidak hanya terhadap masalah yang kita hadapi tapi juga terhadap orang. Jangan menunggu keadaan baik baru berpikir positif, tapi dengan berpikir positiflah maka keadaan akan menjadi lebih baik. Begitu juga sikap kita terhadap orang lain. Jangan menunggu orang melakukan kebaikan bagi kita, barulah kita berpikir positif terhadap orang tersebut. Justru sebaliknya, dengan berpikir positif terhadap orang lain, maka orang lain pun tergerak untuk berpikir positif dan menginspirasi kita. Jika kita berpikir negatif terhadap orang lain, kita tidak akan pernah belajar apa pun dari orang-orang yang kita kenal. Ketika kita melihat dan berpikir negatif terhadap seseorang, pertanyaannya adalah apakah mungkin kita mau belajar dari orang yang kita pandang negatif? Lantas, ketika kita tidak pernah belajar apa pun dari orang lain dalam hidup kita, apa yang bisa kita kembangkan dalam diri kita? Kita akan seperti hidup di hutan dan tentu kita akan ketinggalan karena apa yang kita tahu hanya itu-itu aja.
***
Hukum Berpikir Positif
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Akan tetapi Pygmalion berkata, "untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini." Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "kikir betul orang itu." Namun Pygmalion berkata, "mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu." Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya." Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu betul-betul tampak seperti manusia. Wajah patung itu tersenyum manis menawan dan tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "ah, sebagus- bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion tetap memperlakukan patung itu sebagai layaknya manusia. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia seutuhnya.

Singkat cerita, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya, jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itu pun akan menjadi ramah terhadap kita. Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas. Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes. Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur. Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga hal yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk.

Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Jika kita berpikir buruk, kita akan menjadi curiga, "barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita malah mengomel, "ah, hadiahnya cuma barang murah." Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur. "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita."

Warna hidup memang tergantung dari warna kacamata yang kita pakai. Kalau kita memakai kacamata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Bila kita memakai kacamata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kacamata yang penuh berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam, tetapi kacamata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah.
***
Setelah kita mengerti hukum berpikir positif mari kita lihat beberapa kalimat sederhana tapi yang berdampak dasyat untuk kita renungkan dan terapkan dalam kehidupan kita:

Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apa pun untuk dimakan.

Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalan.

Sebelum kamu mengeluh tentang betapa jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang para pengangguran dan orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa.

Mari kita coba renungkan semua kalimat-kalimat sederhana di atas tersebut. Pernahkah kita merenungkannya dan menerapkannya dalam hidup kita? Mulai hari ini, coba terapkan salah satu slogan di atas dan coba rasakan apa efeknya. Jika efeknya membuat kita lebih baik dan lebih damai, maka mulai dari hari ini, kita terapkan slogan-slogan di atas tersebut dalam hidup kita. Tidak mudah untuk memulai sesuatu yang baru apalagi sesuatu kebiasaan baik, kita butuh pengorbanan dan butuh kontrol diri untuk itu semua. Namun, jika kita tidak pernah berhenti mencoba, yakinlah satu persatu slogan-slogan di atas bisa kita terapkan dalam hidup kita, bukan sebagai slogan atay sekedar motto hidup, tapi sebagai bagian dalam diri kita dalam segala tindakan kita di kehidupan ini.

Supaya kita semakin yakin jika berpikir positif itu bagus untuk  kita, mari kita baca kisah di bawah ini:
Kisah ini tentang seorang raja yang memiliki kawan yang selalu berpikir positif dan optimis, yang melihat segalanya dari kacamata positif sehingga segalanya tampak lebih baik. Raja sangat menyukai kawan yang satu ini. Bersamanya, selalu ada keceriaan sehingga hatinya terhibur.

Suatu hari, Raja mengajak kawan tersebut untuk berburu. Sang kawan bertugas membawa senapan-senapan sang Raja dan mengisi pelurunya. Dalam perburuan itu, Raja melihat seekor rusa jantan yang segera dikejarnya dengan menungganggi kuda sementara sang kawan, di atas kuda yang lain , mengikutinya sambil memberikan senapan sang raja. Naas bagi Raja, rupanya senapan tersebut tidak terkunci dan ketika berpindah ke tangannya, picunya tertarik dan raja menembak kakinya sendiri.

Raja terjatuh dari kuda, kaki kanannya berlumuran darah. Sambil mengerang kesakitan, ia melihat bahwa ibu jari kakinya putus tertembak. Sang kawan turun dari kuda dan mendekati sang Raja, tetap dengan sikapnya yang ceria. Ia berusaha menghibur Raja, "tak apa-apa" katanya, "Baginda bisa saja terluka lebih parah. Ini hal yang baik."

Bukan main marahnya Raja saat mendengar komentar tersebut. Segera ia memerintahkan pengawalnya untuk memenjarakan sang kawan. Itu hukuman yang setimpal karena menyebabkan raja kehilangan ibu jari kakinya.

Selang beberapa tahun kemudian, Raja kembali berburu. Kali ini, karena asyiknya, rombongan Raja tersesat. Mereka melewati perbatasan negaranya dan akhirnya ditangkap oleh suku kanibal. 

Bukan main takutnya sang raja. Ia sudah melihat beberapa pengawalnya sudah mengalami nasib yang mengerikan, dipanggang untuk dijadikan makanan lezat bagi seluruh anggota suku. Gilirannya pun tiba. Sewaktu melihat api unggun sudah disiapkan di luar gubuk, ia memohon agar dibebaskan. Raja menawarkan harta dan wilayahnya, tetapi suku kanibal itu tak menggubrisnya.

Ketika suku tersebut melucuti pakaiannya, mereka tiba-tiba berhenti dan berteriak, lalu berbicara satu sama lain dalam bahasa yang tak dimengerti Raja. Sesekali mereka menunjuk ibu jarinya yang cacat. Akhirnya Raja mengetahui bahwa suku kanibal tersebut mempunyai pantangan untuk tidak memakan manusia yang anggota tubuhnya tidak lengkap. Mereka meyakini bahwa anggota tubuh yang hilang tersebut akan datang mencari dan menghantui mereka. Raja kemudian dibebaskan. Ia satu-satunya yang selamat dalam rombongan tersebut.

Sepanjang jalan ke ibukota, Raja memikirkan kejadian yang dialaminya. Ia teringat akan ucapan sahabatnya dan sekarang ia bisa menerima kebenaran yang disampaikan kawannya dulu, bahwa kecelakaan itu adalah hal yang baik. Terbayang apa yang telah ia lakukan kepada sahabat baiknya itu dan ia sangat menyesal.

Sesampainya di ibukota, ia segera mendatangi penjara dan memerintahkan agar sahabatnya itu dibebaskan. Kawannya tampak kurus dan pucat, namun tetaplah ceria. Raja sangat terharu. Dipeluknya sang sahabat seraya memohon maaf atas kesalahannya, kemudian ia ceritakan pengalaman yang baru saja terjadi.

"Sahabat, sungguh-sungguh aku menyesal. Engkau memang benar. Kehilangan ibu jari kaki itu hal yang baik, mohon engkau maafkan aku atas perlakuan yang engkau terima selama ini." 

"Tak apa-apa, Baginda” ujar kawannya sembari tersenyum, "ini hal yang baik."

"Bagaimana ini jadi hal yang baik?" ujar Raja heran. "Engkau dipenjarakan di sini, kehilangan kebebasanmu, statusmu, harus hidup bersama sampah masyarakat selama ini..."

"Tentu saja ini hal yang baik, Baginda," ujar temannya sambil tersenyum lebar, “Jika saya tidak dipenjarakan, maka pasti saya ikut rombongan baginda berburu."


Dari cerita di atas kita bisa belajar bahwa dalam keadaan yang buruk pun, tetap ada sisi positifnya, sepertinya halnya teman raja yang dikurung tersebut: seseorang yang mempunyai kebebasan yang luar biasa, makan enak, hidup enak tapi sekarang kehilangan segalanya. Bisa kita bayangkan betapa susahnya hidup kehilangan kebebasan dan harus hidup di dalam penjara. Namun, setelah semua dilalui, ada nilai positif yang bisa didapat, yaitu keselamatan hidupnya.

Begitu juga dalam hidup kita, seringkali kita mengeluh tentang orang yang menjengkelkan diri kita, masalah-masalah hidup kita. Saat menjalani masalah-masalah hidup kita, seakan-akan hidup kita yang paling sulit dan tidak ada harapan lagi. Setelah dilalui, kita baru tahu semuanya itu membentuk kita supaya menjadi lebih kuat dan juga untuk menyelamatkan kita dari masalah yang lebih besar, termasuk juga menyelamatkan hidup kita. Mulailah dari sekarang untuk berpikir positif tentang orang-orang yang kita temui, masalah-masalah yang kita hadapi dan segala kesulitan yang kita hadapi. Kita akan lanjutkan dengan episode berikutnya...

Berpikir positif: Orang ini dicekik atau hobinya menjulurkan lidah?

Sunday, March 19, 2017

Johnny B. Goode

I woke up to the news that Chuck Berry has passed away today. There seems to be many that had gone too soon since last year, the latest one prior to this was Tommy Page, but Chuck's death feels different to me. Not only Chuck had live a life long enough to change the world but, most importantly, he also inspired and was idolized by the four lads from Liverpool who eventually became the Beatles.

Chuck Berry was just that good. He was an accomplished musician who "could play a guitar just like ringing a bell." He was a brilliant performer, very charming and entertaining, the one who gave us the infamous duck walk. However, if there was one greatest legacy of Chuck, it must be his songs.

What we saw at the beginning of our visit to the Beatles Story museum, Liverpool.
Photo by Evelyn Nuryani.

John Lennon once said, "if you tried to give rock and roll another name, you might call it Chuck Berry." I heard it before and remember seeing the quote at the Beatles Story museum in Liverpool. It wasn't an overstatement, because Chuck was such a prolific songwriter that he refined rock and roll as a form of art. He was singlehandedly responsible for some of the greatest lyrics ever written. The way he told stories with ease and devil-may-care attitude as well has how the verses rhymed, it was just poetic and beautiful. Take this one from Brown Eyed Handsome Man for example and you tell me how not to admire his piece of work:

"Way back in history three thousand years
In fact every since the world began
There's been a whole lot of good women sheddin' tears
For a brown eyed handsome man..."

Here's a man who also wrote songs such as Rock and Roll Music, Roll Over Beethoven, Memphis, Tennessee, Too Much Monkey Business and many more. However, one important song that has always been a standard repertoire of any rock and roll band is, of course, Johnny B. Goode. A partly autobiography of the man himself, it's a song that is so famous that it needs no introduction anymore. If you think you never heard it before, that was the song played by Marty McFly in Back to the Future, when he travelled back to the 50s. If you still don't have any idea what I'm talking about, perhaps it's best for you to find out what you have missed all this while. This is the song that gets you up from your seat, dance and shout, "go, Johnny, go, go!"  

I heard of Chuck Berry when I became a fan of the Beatles. For the fact that John could smile like a child when he played with Chuck, it only went to show how admirable the man was. While it's a sad day and we mourn his death, let's also celebrate his life and music. Thanks, Chuck, for making this world a better place...



Johnny B. Goode

Berita pertama yang saya baca saat saya terbangun pagi ini adalah tentang wafatnya Chuck Berry. Banyak yang pergi terlalu dini di tahun 2016 dan Tommy Page adalah yang terakhir sebelum Chuck Berry, akan tetapi meninggalnya Chuck terasa berbeda artinya bagi saya. Charles Edward Anderson Berry bukan saja mengubah dunia, tapi juga menginspirasi dan diidolakan empat anak muda dari Liverpool yang akhirnya menjadi the Beatles.

Chuck Berry adalah musisi sehandal karakter yang ditulisnya, yang konon bisa memainkan gitar semudah orang membunyikan lonceng. Dia juga bintang kawakan yang berkharisma dan menghibur, yang terkenal dengan duck walk-nya, gaya bergitar sambil berjalan seperti bebek. Akan tetapi peninggalan Chuck yang paling penting tentu saja adalah lagu-lagunya.

John Lennon and Chuck Berry, 1972
Image credit: John Lennon Facebook Page

John Lennon pernah berkata, "jika anda mau memberikan nama lain untuk rock and roll, anda bisa menyebutnya Chuck Berry." Saya pernah dengar itu dan melihatnya sendiri di museum the Beatles Story di Liverpool. Ini bukan pernyataan yang dibuat-buat, sebab Chuck memang penulis lagu yang luar biasa dan membawa rock and roll dari sekedar musik hingar-bingar menjadi sebuah seni. Penting untuk dicatat bahwa Chuck menulis lirik-lirik terbaik dalam rock and roll. Gaya bercerita dalam liriknya terasa luwes dan sesuka hatinya, tapi bersajak, sehingga terdengar puitis. Sebagai contoh, berikut ini adalah kutipan dari Brown Eyed Handsome Man. Coba baca dan bertanyalah pada diri sendiri, bagaimana mungkin kita tidak mengagumi karyanya?

"Way back in history three thousand years
In fact every since the world began
There's been a whole lot of good women sheddin' tears
For a brown eyed handsome man..."

Orang ini juga menulis lagu-lagu seperti Rock and Roll MusicRoll Over BeethovenMemphis, TennesseeToo Much Monkey Business dan masih banyak lagi, termasuk satu lagu pamungkas yang menjadi standar setiap grup rock and roll, Johnny B. Goode. Lagu yang populer ini boleh dikatakan sebagai otobiografi singkatnya. Jika anda merasa belum pernah mendengarnya, ini adalah lagu yang dimainkan oleh Marty McFly dalam Back to the Future, ketika ia kembali ke tahun 50an. Jika anda masih tetap tidak mengerti lagu mana yang saya maksudkan, ada baiknya anda mencari tahu tentang lagu yang hilang dalam hidup anda selama ini. Ini adalah lagu yang membuat anda berdiri, menari dan berseru, "go, Johnny, go, go!"

Saya mendengarkan Chuck Berry ketika saya menjadi penggemar the Beatles. Kalau anda lihat bagaimana John tersenyum gembira seperti layaknya seorang bocah saat bermain bersama Chuck seperti yang diabadikan dalam foto di atas, itu menunjukkan betapa orang ini layak dikagumi. Walau sedih rasanya bahwa dia tidak lagi bersama kita di dunia ini, mari kita rayakan hidup dan musiknya. Terima kasih, Chuck, karena telah membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik...

Johnny B. Goode di album the Beatles.

Friday, March 17, 2017

Limin And His Aming Coffee

I always have a dream of producing talkshow that features our friends who, I think, have made it in their lives. It must be very inspiring to hear about how they worked hard to reach where they are today. I tell you a little secret here: there was supposed to be a section for this particular programme when I organized our High School Reunion 2014 that took place in Jakarta. Out of the three candidates, one was actually with us on that day, but due to time constraint, the talkshow was eventually cancelled. Since then, the idea would always resurface from time to time, until I recently realized that I actually have a platform to execute it in the form of writing. Now, for the first time ever, I proudly present the story of our dear friend Limin.

His story began with the coffee powder staring back at him. His Dad had been doing this business since the 70s, so Limin was no stranger to anything related to coffee. Limin might not know it yet at that time, but that fragrant and exotic smell that he grew up with would one day change his life forever. Long before that fateful day, though, he was just a kid like any of us. He studied, he played, he graduated and he got a nine-to-five job, a typical path of life for many young men in Pontianak. 

It was only in 2002 that Limin thought of opening a coffee shop as an extension of what his Dad already did. Since the family business was producing and selling coffee powder, why not brewing and serving the drinkable form to customers? However, Pontianak was far from ready for coffee culture then. Only old men would frequent coffee shops. Young people, especially girls, would be frowned upon. Limin himself, then in his twenties, was also still finding his way and trying his hands on other ventures, too, but none was proven to be successful.

As luck would have it, a few years later, Limin found himself stuck with the coffee shop, the only business that survived the test of time. In fact, it started to look rather promising, partly thanks to the changing landscape. That was when he gave 100% of his time to focus on it. 

Limin picked up where he left off. He put on effort to master the art of coffee making and learnt that the best coffee drink should be served in a freshly made condition, not mass-produced only to be kept aside and heated up when there were orders. He also observed what the public demand was like. Robusta was the way to go, but the sour tasted coffee was a complete no-no. The he added in some personal touch that made his customers feel welcome. This was achieved by knowing what the preference of each and individual customer was, ie. some would like it sweet, others would like their coffee filtered and so forth. Last but not least, he started to realize the importance of branding and presentation, something that many from previous generation overlooked or ignored. When coffee culture was becoming more and more trendy, Limin understood that a comfortable atmosphere was something that would differentiate his coffee shop and others, hence the innovations such as modern interior, free wifi and charging points, wide screen TV, etc.

The effort above was done without forgetting the quality of the most important ingredient: the coffee itself. Everything, from the purchase of the coffee bean, the roasting and every single process that were required to produce a cup of coffee went through a strict quality control routine. To ensure the consistency of the coffee taste, the man himself would have coffee several times a day.

The hardwork was for nothing if it wasn't properly advertised. In a small town such as Pontianak, word-of-mouth marketing was the way to go. Apart from that, advertisement was also done via social media or the more conventional mass media in order to reach out to a bigger audience.

Success didn't happen overnight, of course. Nevertheless, Limin was on the right track and before he knew it, Aming Coffee was the talk of the town. He was then sought after, interviewed and God knows what else, because the best is yet to come. Always a humble person to begin with, Limin is smart enough to know that the next step is what brings him ahead of the competitors. A coffee expert these days, he never stops improving his Dad's original formula and refreshing the look and feel of the packaging. The result eventually goes to supermarkets and other distribution channels.

A bright future lies ahead for the humble and happy family man who keeps expanding his business to a new territory such as Kopi Luwak. He won an award from Go-Food in 2017. He also got a chance to serve a cup of Aming coffe to President Jokowi recently. The coffee is what his success smells like. As you can see now, his is a story of passion, hardwork and persistence combined together, but still this doesn't deter the non-believers to come and ask, "what's your secret?" 

Unlike many others, perhaps Limin does have a secret. He did tell me that the coffee served at Aming Coffee has this special ingredient that makes it stand out among the rest. I'm afraid I didn't really get it when he mentioned about the chewy feeling (how is it possible or what does it even mean?), so I don't think I should describe it until I give it a try. Oh, talk about what I wouldn't give for a cup of Aming Coffee now!
The man and the coffee
Image credit: Limin

Limin Dan Warkop Aming

Setiap orang mempunyai cerita. Satu impian yang ingin saya kerjakan dari sejak dulu adalah menyelenggarakan talkshow yang menampilkan teman-teman seangkatan dimana mereka bisa berbagi kisah dan pengalaman. Tentunya menarik jika kita mendengarkan langsung kisah perjuangan mereka yang akhirnya mengantarkan mereka ke posisi mereka hari ini. Jika boleh saya membuka rahasia, sebenarnya acara talkshow ini sudah dijadwalkan sebagai bagian dari rangkaian acara Reuni SMA tahun 2014 di Jakarta. Satu dari tiga kandidat acara talkshow bahkan hadir dan sudah bersedia untuk tampil. Sayang sekali, karena kendala waktu, acara tersebut akhirnya dibatalkan. Semenjak itu, idea ini selalu terngiang-ngiang di benak saya, sampai akhirnya saya sadar bahwa saya sebenarnya bisa mewujudkannya dalam bentuk tulisan di blog ini. Sekarang, untuk pertama kalinya, saya persembahkan hasil wawancara jarak jauh dengan teman kita, Limin.

Kisah Limin bermula dari bubuk kopi yang selalu ia lihat di masa kecilnya. Ayahnya sudah menekuni usaha ini sejak tahun 70an, jadi Limin kecil tidaklah asing dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan kopi. Sebagai seorang bocah, ia tentu tidak menyangka bahwa aroma wangi yang ia hirup setiap hari itu akan mengubah hidupnya suatu hari nanti. Jauh sebelum hari itu tiba, Limin hanyalah anak biasa seperti kita. Dia bermain, sekolah, lulus dan kerja kantoran. Selangkah demi selangkah seperti pemuda Pontianak lainnya.

Di tahun 2002, Limin membuka usaha warung kopi, suatu pilihan yang masuk akal mengingat ayahnya berusaha di bidang bubuk kopi. Akan tetapi Pontianak di awal tahun 2000an bukanlah tempat yang ramah bagi penikmat kopi. Di kala itu, warung kopi identik dengan hal-hal negatif sehingga anak muda di kota kecil ini, apalagi seorang wanita, jarang mengunjungi warung kopi. Limin sendiri, waktu itu berusia 20an, masih mencoba menemukan jalan hidup dengan cara menjajal beraneka usaha yang ada, tapi seringkali kandas di tengah jalan.

Pada akhirnya hanya tinggal warung kopi yang bertahan. Bukan cuma itu, seiring dengan perubahan zaman yang membuat warung kopi mulai diterima sebagai tempat yang lumrah, usaha ini tampaknya kian menjanjikan. Di saat itulah Limin merasa barangkali ia harus terjun 100% untuk mengelolanya. 

Limin mulai lagi dari awal. Ia belajar menguasai seni menyeduh kopi dan dari percobaan yang terus menerus ia lakukan, Limin menyadari bahwa kopi yang disajikan haruslah dibikin langsung, bukannya dibuat dalam jumlah melimpah dan dihangatkan ketika ada yang pesan. Dia juga mulai mengamati seperti apa sebenarnya minat pelanggan, misalnya jenis kopi yang digemari adalah Robusta, lalu kopi yang enak seharusnya tidak terasa asam. Lebih lanjut lagi, ia pastikan bahwa ia mengenal pelanggan dengan baik sehingga sebelum mereka memesan, dia sudah tahu seperti apa penyajian kopi yang pelanggan inginkan. Limin juga memahami pentingnya branding dan image, hal yang seringkali diabaikan oleh para senior warung kopi dari generasi sebelumnya. Pentingnya suasana bagi pengunjung membuat Limin memperhatikan tata ruang, menyediakan wifi dan charging gratis serta TV layar lebar dan fasilitas lainnya.

Segala upaya di atas adalah penting, tapi yang terutama tentunya adalah rasa kopi itu sendiri. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kopi, mulai dari pembelian biji kopi mentah hingga pengolahan dan pengemasan dikontrol secara rutin supaya kualitasnya terjaga. Di Warkop Aming, Limin turun langsung untuk menikmati kopinya demi memastikan agar rasanya tetap konsisten.

Semua kerja keras ini tentunya tidak berarti jika tidak dipromosikan. Di kota kecil seperti Pontianak, tidak ada yang lebih ampuh dari bisikan mulut ke mulut. Nama Warkop Aming pun mulai terdengar berkat para pelanggannya. Akan tetapi Limin sendiri tidak tinggal diam. Dia jeli dalam melihat dan memanfaatkan peranan media sosial yang gratis tapi bisa menjangkau massa.

Sukses tentunya tidak terjadi dalam semalam, namun Limin sudah berada di jalur yang tepat. Warkop Aming senantiasa dibanjiri pengunjung dan bahkan Presiden Jokowi pun mampir ke sana untuk menikmati kopinya. Warkop Aming juga memenangkan penghargaan dari Go-Food di tahun 2017. Popularitasnya melejit belakangan ini, sehingga koran pun mewawancarai pemiliknya untuk memuaskan rasa ingin tahu publik, seperti yang bisa kita baca di link berikut ini: https://goo.gl/9fo3vd

Satu hal yang patut diteladani dari pria yang telah berkeluarga ini adalah di dalam kesederhanaannya, dia mengerti bahwa langkah berikutnya adalah apa yang membedakan dia dan para pengusaha warung kopi lainnya. Limin terus mengembangkan usaha bubuk kopi yang telah dirintis ayahnya dan memasarkannya ke supermarket dan berbagai jalur distribusi lainnya. Ia juga mencoba terobosan baru seperti Kopi Luwak. Asalkan ia tetap memiliki visi selanjutnya, niscaya masa depan terbentang cerah di hadapannya...

Aming Coffee bisa ditemukan di Google, lengkap dengan jam buka dan tutup dan info lainnya
Image credit: Google