Total Pageviews

Translate

Sunday, February 26, 2017

The Crowdfunding

A young life was born to this world yesterday. It was a tad too fast, I'm afraid, as she was premature. Her father, sounded unsure if he was to be happy or worried, asked me if I could lend some monetary assistance. I was stunned when I heard such request. We'd been friends for the longest time and gone through thick and thin, but I didn't recall him ever asking this, so it must be serious. However, a single person could only help so much. That was when I resorted to the crowdfunding. Again.

To understand what again means, let me bring you back to the first time we did this. The original crowdfunding was meant to be a one-off. What happened was rather accidental: as I was going through the messages that came flooding in our chat group, I suddenly spotted a peculiar remark from a friend. The particular person said that he was trying to obtain a reference letter from a local church so it could be used to appeal for a considerate hospital bill.

Witnessing a glimpse of his problem got me thinking that as friends, we weren't supposed to be just about happy occasions. There should be something that we could do in the times of need, too. Then I bounced the idea with some close friends and the enthusiasm was running high. As the momentum was right, what was just an idea was then immediately transformed into a concrete action: our first crowdfunding ever. The result surpassed whatever expectation that I had in mind.

I remember the night I contacted this friend of mine to inform him that we had gathered some amount to lessen his burden. I could see from Whatsapp interface that the man was typing, but nothing ever came out for at least twenty minutes, perhaps he was so caught by surprise he was utterly out of words. He was really thankful afterwards, but for us, what mattered was a hope that this little gesture from us would make a difference. That was supposed to be it, but little did I know that I was to find out myself how it felt to be in his shoes.

As some of you might already know, my Dad was diagnosed with cancer. The doctor consultations were not only frustrating, but also financially draining. Sometimes I would bitterly joked that I would sell a way one of my kidneys, to which the others would reply, making fun of my fondness of drinking beer, that an alcohol-soaked kidney wouldn't have much value in the market. Then out of the blue, after a well-done conspiracy to play me out, it was revealed to me they had did crowdfunding v.2 for my Dad. It was very touching, really.

I've been an organizer, recipient and participant since then, until the very recent case above brought me back to a full circle. After taking each part of the roles, what I can tell you is this: it was like you know life could be tough, but suddenly you were made aware that you were not alone in facing it. That feeling was wonderful. Personally, I tend to think that the moral support, the fact that we care, is the actual value of the crowdfunding.

Watching the thought being put into action was an experience like no other. It was very encouraging to have a closer look at the display of humanity, to be in the middle of it and see that everybody was actually willing to help. If one ever thinks the little that we give won't help much, it can't be more wrong than that. The final result is a combination of many, including your contribution!

And finally, regardless what the amount is, I can assure that it makes a difference. Imagine a life where you already got so much to worry about, but suddenly there's this little help from your friends that lifts you up a bit, giving you a room to breathe. It always means a lot and it definitely can be put into good uses.

This is the story of good intention, participated by many unsung heroes (you know who you are) who never asked anything in return. I'm sharing the story to the world so that many more will learn that such act of kindness can be done. In good times and bad times, that's what friends are for...

The day I was "duped"

Seorang bayi terlahir di dunia ini kemarin. Ia lahir sebelum waktunya sehingga menjadi bayi prematur. Suara ayahnya terdengar tidak yakin, entah harus sedih ataukah bahagia, saat dia bertanya apakah saya bisa membantu dalam perihal keuangan. Saya tertegun saat mendengar pertanyaan ini. Saya dan pria ini sudah berteman bertahun-tahun lamanya dan melalui berbagai hal bersama, tapi baru kali ini saya mendengar permintaan seperti darinya. Ini pastilah masalah serius, namun kemampuan satu orang tentunya tidak bisa membantu banyak. Oleh karena itu saya kembali menggalang dana. 

Ini bukan pertama kalinya kita melakukan kegiatan ini. Ketika saya pertama mengorganisirnya, aksi ini dimaksudkan hanya untuk satu kali itu saja. Asal mulanya pun tidak lebih dari sebuah kebetulan: saat saya sedang membaca dialog teman-teman di WhatsApp, terbaca oleh saya sebuah komentar yang tidak lazim dari seorang teman. Sahabat ini berkata bahwa dia sedang meminta surat referensi dari sebuah gereja supaya bisa bisa mendapatkan keringanan dalam biaya pengobatan.

Masalah yang ia hadapi membuat saya berpikir bahwa hendaknya kita tidak menjadi teman-temannya di kala gembira saja. Seharusnya ada yang bisa kita lakukan juga saat dia susah dan membutuhkan bantuan. Oleh karena itu, saya bertukar pikiran dengan beberapa teman dekat dan mereka ternyata sangat antusias untuk membantu. Apa yang awalnya hanya berupa sebuah ide segera berubah menjadi kenyataan: aksi penggalangan dana kita yang pertama. Hasil yang terkumpul bahkan melebihi apa yang saya duga!

Saya ingat ketika saya menghubunginya di malam hari untuk memberitahukan bahwa kita sudah mengumpulkan sedikit dana untuknya. Saya bisa melihat dari WhatsApp bahwa dia sedang mengetik, namun saya rasa dia cukup terkejut sehingga tidak ada balasan darinya kira-kira selama 20 menit. Setelah itu dia mengucapkan terima kasih. Akan tetapi, yang penting bagi kita adalah harapan bahwa apa yang kita perbuat ini bermanfaat untuknya. Sampai di sini, saya menyangka cerita ini pun berakhir. Tidak pernah saya sadari bahwa saya pun akan berada di posisi yang sama. 

Seperti yang mungkin sudah anda ketahui, ayah saya didiagnosa menderita kanker. Konsultasi dokter tidak hanya membuat frustrasi tapi juga menguras banyak biaya. Kadang saya bercanda bahwa sepertinya saya harus menjual sebuah ginjal saya dan yang lain pun akan menjawab bahwa ginjal yang sudah sering terendam alkohol tidak akan bisa terjual mahal. Kemudian, setelah sebuah konspirasi iseng yang cukup panjang untuk mempermainkan saya, teman-teman mengabarkan bahwa mereka telah diam-diam menggalang dana untuk membantu. Saya benar-benar tersentuh dengan kebaikan mereka. 

Saya telah menjadi koordinator, penerima bantuan dan peserta aksi pengumpulan dana. Setelah berada dalam tiga posisi yang berbeda ini, saya bisa bersaksi sebagai berikut: walau hidup terkadang terasa susah, saya menyadari bahwa saya tidak sendiri dalam menjalaninya. Ini adalah sebuah perasaan positif yang luar biasa. Secara pribadi, saya berpikir bahwa inti dari penggalangan dana adalah dukungan moral yang kita terima. Fakta bahwa orang lain peduli sungguh menyejukkan hati yang risau.

Pengalaman sebagai koordinator juga sangat berharga. Sangat menggugah rasanya ketika melihat setiap orang menggebu-gebu ingin membantu. Jika ada yang pernah berpikir bahwa anda tidak bisa memberikan banyak, percayalah hasil terakhir yang terkumpul itu karena kontribusi anda juga. Jika bukan karena anda, hasilnya tidak akan pernah sama. 

Dan akhirnya, berapa pun jumlah yang terkumpul, saya bisa menjamin bahwa itu akan sangat bermakna. Bayangkanlah seseorang yang sudah memiliki banyak kekhawatiran dalam hidupnya, lalu tiba-tiba ada kabar baik seperti ini. Bukan saja kita memberikannya sedikit ruang untuk bernafas, tetapi juga benar-benar bisa dimanfaatkan untuk hal-hal penting baginya. 

Ini adalah cerita tentang sebuah maksud baik yang diperankan oleh begitu banyak pahlawan tanpa nama (anda tahu siapa anda) yang membantu tanpa berharap imbalan. Saya membagikan cerita ini supaya semua bisa belajar bahwa perbuatan baik seperti ini pantas dan bisa untuk dilakukan. Di saat suka dan duka, itulah gunanya keberadaan seorang teman... 

Thursday, February 23, 2017

Book Review: Where China Meets India

On our last day in Yangon, I picked up this book at the airport. There are a lot of books there, including those about Burma by George Orwell if I remember correctly, but I just bought this one, perhaps out of curiosity. The title is kind of intriguing as it simply shoves the often neglected truth that Myanmar is indeed located right between China and India, the fact that means a lot these days thanks the rise of both countries.

The book itself doesn't disappoint. I like the way it was written: it was like a travel journal that brought the readers journeying from one place to another. On each stop, we are offered a glimpse of the place today, then the writer would dive into the history and close it with an explanation of how significant the place is to Myanmar.

For a start, of course, we are introduced to Myanmar. Places such as Yangon, then Mandalay, followed by those remote places that most of us may never ‎hear of. Those places are both exotic and dangerous at the same time, involving drugs, warlords and minor tribes that see themselves as having little in common with the Burmese. In a way, Myanmar is also quite similar with Indonesia: it has many tribes. The difference is, some may not even speak Burmese, which makes their integration as part of the country harder.

Then there's China on the northeast side of Myanmar. This is the first time I read an in-depth information of Yunnan province. I mean, I've heard of Kunming for a while and always thought of having a trip from Mandalay to Kunming, but places such as Dali and Lijiang are new to me. The description of those places, or Yunnan in general, sounds wonderful although Yunnan, being in China, is also changing fast thanks to the modernisation. That aside, I'm always interested in reading a place in China that has people other than the Han Chinese. Yunnan has those minorities, beautiful landscape, the Shangri-La, and if you go up north, you'll reach Guizhou and Xinjiang, the wondrous wilderness. Reading about all this is just what I need.


On the northwest of Myanmar, there's India. Not exactly the India that I'm more familiar with, but alien places that, apart from Assam, I barely heard of. To be frank, I also didn't even realize that Assam is located on the northeast of India. The part of India that is neighbouring with Myanmar is inhabited by people who look less like those from mainland India, such as the Nagas from Nagaland. It was interesting to read about those less known areas, the history of Buddhism in Bihar and the mention of the journey by Xuanzang to India surely triggers the wanderlust to go to Silk Road one day. With a little help from Google Map, of course!

Eventually we're presented with the fact of how China is a rising power that Myanmar can't ignore or do without. Heavily sanctioned by the West until very recently, Myanmar surely needs the Chinese connection to keep their economy alive. China on the other hand, uses the ties to develop Yunnan. One interesting note about China is, they don't care whether their neighbour is communist, democratic or whatever it is. To the Chinese, what's important is making money and they had made full use of the sanctions by the West to make more money. 

With India, however, it is more of a historical relationship. Both were under the British in the past. The fact that Myanmar is neighbouring with the least developed part of India also doesn't help. It's going to a while before the two countries improve their relationship in economy and while they are doing that, China's plan is already in full swing!

Overall, this is a good read that offers a unique view on the two rising giants in Asia. In the middle of it, there's Myanmar bridging them both. I don't normally read books about economy as such topics are too heavy for me, but it is packaged in a format that is so attractive and readable that I am able to finish it!

Verdict: Recommended!

Review Buku: Where China Meets India

Di hari terakhir kami di Yangon, saya membeli buku ini di bandara. Ada banyak buku tentang Myanmar di toko buku, termasuk karangan George Orwell yang terkenal, tapi saya pilih yang satu ini karena penasaran dengan judulnya yang mengetengahkan fakta bahwa Myanmar berada di antara dua raksasa Asia, Cina dan India.

Setelah saya baca, buku ini tidak mengecewakan. Saya suka gaya penulisannya yang mirip catatan seorang petualang yang membawa pembaca dari satu tempat ke tempat lain. Di setiap tempat pemberhentian, penulis menjelaskan kondisi terkini tempat tersebut, lalu membahas sejarah dan peran pentingnya terhadap Myanmar.

Bicara tentang Myanmar, kita pertama-tama diperkenalkan dengan Yangon, kemudian Mandalay dan tempat-tempat lain yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya. Daerah seperti ini terkesan eksotis dan juga berbahaya karena melibatkan obat terlarang, penguasa lokal dan etnis minoritas yang menganggap diri mereka hampir tidak memiliki persamaan dengan etnis Burma. Di sini terlihat kemiripan antara Myanmar dan Indonesia: dua negara ini memiliki banyak suku dan etnis.

Cina terletak di timur laut Myanmar dan buku ini memberikan informasi yang cukup detil tentang provinsi Yunnan. Saya pernah dengar tentang Kunming dan juga pernah berpikir untuk berkelana dari Mandalay ke Kunming, tapi saya baru mengetahui keberadaan kota seperti Dali dan Lijiang. Deskripsi kota-kota tersebut sangat menarik, terlebih lagi karena ini adalah salah satu provinsi yang memiliki berbagai etnis minoritas selain orang Han yang dominan. Yunnan juga memiliki tempat legendaris yang dikenal dengan nama Shangri-La dan jika kita terus menuju ke arah utara, kita akan tiba di Guizhou dan Xinjiang, daerah Cina yang liar. Saya suka ini.

Di sebelah barat laut Myanmar, ada India. Bagian yang bertetangga dengan Myanmar ini bukanlah India yang saya kenal, melainkan kawasan asing yang, selain Assam, tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Terus-terang, saya bahkan tidak tahu bahwa Assam terletak di timur laut India. Daerah ini dihuni oleh orang-orang yang tidak mirip orang India Selatan dan Utara, contohnya suku Naga dari Nagaland. Yang menarik di sini adalah sejarah Buddha di negara bagian Bihar. Kisah nyata tentang Pendeta Tong yang mencari kitab suci di India juga dibahas di sini.

Setelah itu, penulis juga bercerita tentang bagaimana Cina adalah negara adidaya yang dibutuhkan oleh Myanmar untuk menunjang pertumbuhan ekonominya. Cina juga membutuhkan kerjasama ini untuk membangun daerah Yunnan. Penulis cukup jeli untuk mencatat bahwa orang Cina tidak peduli apakah tetangganya ini berasas komunis atau demokrasi, yang penting bisnis mereka bisa untung. Sanksi ekonomi dari dunia Barat dimanfaatkan sepenuhnya untuk menghasilkan uang.

Akan halnya India dan Myanmar, hubungan dua negara ini lebih berdasarkan hubungan sejarah. Sebelum merdeka, Myanmar dan India sama-sama dijajah oleh Inggris. Selain itu, Myanmar juga berbatasan dengan bagian dari India yang miskin, sehingga tidak banyak bisnis yang bisa dikerjakan. Selagi India sibuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan Myanmar, bisnis Cina sudah tidak terbendung lagi.

Secara keseluruhan, ini adalah buku yang bagus dan menawarkan sudut pandang unik tentang tiga negara ini. Saya biasanya tidak membaca buku tentang ekonomi, tapi buku ini dikemas dalam gaya penulisan yang atraktif dan gampang dibaca sehingga saya bisa menuntaskannya!

Di Manakah Saya? (Part 3)

Mari kita mulai membaca tabel lagi:
Zona A artinya ada tujuan yang mau dicapai dan ada tindakan nyata untuk mencapainya sehingga berada di zona USAHA.
Zona B artinya ada tujuan yang mau dicapai tapi tidak ada tindakan nyata sehingga berada di zona MELAMUN.
Zona C artinya tidak mempunyai tujuan yang jelas tapi malah ada tindakan sehingga berada di zona NGAWUR.
Zona D artinya tidak ada tujuan dalam hidup dan tidak ada tindakan juga sehingga berada di zona MOGOK.

Nah, seperti biasa, kita akan bahas lagi satu persatu. Kita mulai dari tujuan. Tujuan merupakan pernyataan yang jelas tentang semua yang mau kita capai pada waktu tertentu di masa depan. Tujuan bisa seperti di bidang personal, pendidikan, karir atau hubungan dengan Tuhan. Misalnya: saya mau naik kelas dengan target nilai rata-rata 8 pada tahun ini, saya mau memperoleh promosi jabatan dan kenaikan gaji di kantor saya dalam waktu 1 tahun atau saya mau jadi lebih religious dengan lebih rajin pergi berdoa setiap minggu minimal tiga kali dan ikut  komunitas dalam melayani mulai hari ini.

Dengan adanya tujuan yang jelas, kita bisa membuat langkah-langkah spesifik yang harus kita jalani sehingga kita bisa sampai pada tujuan kita. Tujuan memberikan kita fokus atau penunjuk arah ke tempat yang hendak kita tuju. Dan dengan ditentukannya tujuan, kita juga bisa mengetahui halangan-halangan yang harus kita selesaikan dengan perencanaan, pengetahuan, bantuan orang lain dan yang tidak kalah pentingnya adalah doa. Kita akan lihat contoh cara menetapkan tujuan dan langkah-langkah untuk mencapainya:
Contoh I
Tujuan:
  • Ingin naik kelas dengan target  nilai rata-rata 8 pada tahun ini.
Halangan:
  • Terlalu banyak acara TV yang bagus.
  • Terlalu banyak main game.
  • Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman.
  • Cara belajar yang kurang efektif.
Langkah-langkah:
  • Membatasi menonton acara TV hanya 30 menit sehari.
  • Membatasi main game hanya 15 menit sehari.
  • Membatasi berkumpul dengan teman hanya pada hari Minggu.
  • Membaca buku tentang cara belajar yang efektif.
  • Mengikuti bimbingan belajar (kursus) mata pelajaran yang susah dimengerti.
Sarana untuk mencapai tujuan:
  • Mentor untuk mengajari pelajaran-pelajaran sekolah yang susah dimengerti.
  • Buku tentang cara belajar yang efektif.
Perencanaan waktu untuk tujuan:
  • Memberikan pengertian kepada teman bahwa kita tidak bisa berkumpul bersama mereka setiap hari lagi kecuali minggu atau menyarankan belajar bersama pada saat kumpul.
  • Membaca buku cara belajar yang efektif.
  • Mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
  • Menentukan waktu belajar dengan mentor.
Hasil tujuan:
  • Nilai yang lebih baik.
  • Puas akan pencapaian prestasi di sekolah.
  • Mendapatkan juara kelas.
  • Orang tua dan guru bangga.
  • Jalan-jalan bersama orang tua sebagai bonus dari juara kelas.
Contoh II
Tujuan:
  • Ingin lebih dekat dengan Tuhan mulai dari tahun ini dan seterusnya.
Halangan:
  • Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan teman.
  • Game dan acara TV yang bagus-bagus.
  • Takut di jauhin sama teman-teman.
  • Masih belum terlalu kenal dengan komunitas yang ada.
Langkah-langkah:
  • Menentukan waktu untuk Tuhan dulu, bukan waktu sisa baru untuk Tuhan. Misalnya tiap minggu harus pergi berdoa.
  • Mulai mengurangi main game dan nonton TV dan tidak lagi mengikuti game baru dan acara TV.
  • Mengajak teman-teman ikut juga pergi berdoa.
  • Mulai bertanya ke sekertariat atau bertanya-tanya kepada teman-teman tentang komunitas yang ada.
Sarana untuk mencapai tujuan:
  • Informasi tentang komunitas yang ada.
  • Informasi tentang cara bergabung dengan komunitas.
Perencanaan waktu untuk tujuan:
  • Mengurangi waktu berkumpul dengan teman-teman yang tanpa tujuan yang membangun.
  • Hanya menonton TV saat ada acara yang membangun seperti program motivasi atau program keagamaan.
  • Mengajak teman-teman pergi berdoa bersama.
  • Bergabung dengan salah satu komunitas dalam bulan ini.
  • Mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas yang diikuti.
Hasil tujuan:
  • Merasa lebih dekat dengan Tuhan.
  • Pergaulan makin meluas.
  • Lebih bisa bersyukur.
  • Lebih puas dengan kehidupan spiritual.
  • Lebih memahami orang lain.
  • Lebih menghormati orang lain.
  • Merasa damai di hati.
Sebelum kita latihan, kita akan melanjutkan membahas tentang tujuan. Perlu diingatkan kembali bahwa kita harus berhati-hati karena ada beberapa hal yang bisa menghalangi tujuan kita, yaitu:
1. Keluhan yang negatif atau rasa rendah diri
Sering kita mendengar orang mengatakan, "saya ingin menjadi pandai tapi tak mungkin karena memang saya dilahirkan sebagai orang bodoh," atau, "saya ingin punya usaha sendiri tapi saya pasti gagal karena tidak punya pengalaman," dan seterusnya. Banyak sekali orang-orang menghancurkan tujuannya sendiri karena faktor ini. Ini adalah pembunuh tujuan sejati, maka lawan dan hancurkan ini dengan senjata yang sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu keluhan yang memotivasi atau teknik tetapi. Contoh: "saya ingin menjadi pandai, saya akan lebih rajin belajar, bertanya pada guru dan belajar bersama teman-teman," atau, "saya tidak punya pengalaman untuk usaha, tetapi sekarang saya sedang bekerja jadi saya akan lebih rajin untuk belajar dari atasan saya dalam menangani usaha."

2. Zona nyaman
Zona nyaman ini seakan-akan memberikan kita jaminan akan keamanan, namun inilah yang tanpa kita sadari akan membunuh tujuan kita. Banyak sekali orang-orang muda yang bersemangat untuk buka usaha sendiri dan mengawali kariernya di suatu perusahaan untuk mencari modal atau pengalaman, tapi saat karier sudah bagus di suatu perusahaan yang seolah-olah memberikan jaminan keamanan bagi dia, saat itu banyak sekali yang melupakan tujuan awalnya untuk mempunyai usaha sendiri. Secara tidak langsung, zona nyamannya sudah menghancurkan tujuannya.

3. Takut akan pengorbanan
Setiap tujuan pasti memerlukan pengorbanan baik itu waktu, tenaga atau pemikiran, namun perlu kita ingat bahwa tanpa pengorbanan, apalah artinya saat kita mencapai tujuan kita. Pengorbanan merupakan proses yang membimbing kita ke arah tujuan kita. Banyak sekali dari kita yang takut akan pengorbanan sehingga melupakan tujuan yang ingin dicapai.

4. Orang tua
Kita semua yakin orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi kadang-kadang ego dari orang tua menghancurkan tujuan anak-anak mereka tanpa mereka sadari atau, lebih ironis lagi, terkadang mereka sadar akan hal itu namun tetap mempertahankan ego mereka karena merasa itu yang terbaik untuk anak mereka. Alangkah bijaknya jika orang tua membiarkan anak-anak mereka untuk menggapai tujuannya sehingga hidup mereka akan lebih berarti.

Norman Cousins, seorang profesor psikiatris yang memegang peranan penting di UCLA (University California of Los Angeles) berkata, “kematian bukanlah kehilangan besar dalam hidup kita. Kehilangan terbesar dalam hidup kita adalah matinya beberapa hal dalam diri kita sementara kita hidup.”

Maksud pernyataannya adalah untuk memberitahukan kepada kita betapa pentingnya tujuan dalam hidup kita. Setiap orang harus mempunyai tujuan, karena inilah yang akan memberikan kita energi, semangat, dan perencanaan untuk menuju ke sana. Dengan menetapkan tujuan kita, alam bawah sadar kita akan menyatu dengan tujuan-tujuan tersebut sehingga kita bisa tahu apa yang harus dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Contohnya: saat kita libur dan kita tidak menetapkan tujuan libur kita, ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu pertama, kita seakan-akan menikmati liburan kita yang tanpa tujuan yang jelas namun saat malam tiba, hari yang kita lalui terasa sia-sia karena tidak ada yang dicapai dari liburan kita. Kedua, kita akan merasakan bosan sepanjang hari tersebut. Tidak ada energi atau antusiasme untuk melakukan sesuatu karena kita tidak menetapkan tujuan liburan kita. Sebaliknya, ketika kita menetapkan tujuan dalam liburan sehari kita, tentunya kita akan merasa banyak energi yang ada dalam diri kita untuk menyelesaikannya satu persatu dan merasa waktu kita tidak terbuang percuma. Akhirnya tujuan untuk liburan kita akan tercapai sehingga kita memperoleh semangat lagi untuk memulai kegiatan besok pagi.

Latihan:
Coba habiskan hari Minggu ini dengan tidak menetapkan tujuan, terserah anda mau lakukan apa pun dan pada malam sebelum tidur, tulis apa yang anda rasakan, manfaat hari Minggu ini yang baru dilalui, apa yang anda capai?
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk hari Minggu berikutnya, tetapkan tujuan yang ingin dicapai (misalnya: membaca habis buku yang dibaca setengah-setengah atau hal yang lain), lakukan tujuan yang anda tetapkan untuk hari itu dan pada malam sebelum anda tidur, tulis apa yang anda rasakan, manfaat hari tersebut dan pencapaian anda?
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tanpa tujuan, kita tidak tahu jalan mana yang harus kita lalui, apa yang harus kita lakukan, akibatnya kita terombang-ambing. Orang yang bertindak tanpa tujuan akan banyak menghabiskan banyak waktu, tenaga, biaya dan belum tentu ada hasil. Contoh: ada orang yang mau naik taksi dan dia tidak tahu mau ke mana. Dia mengambil tindakan dengan memberhentikan taxi, lalu supir taksi bertanya, "mau kemana pak?" dan dia hanya menjawab tidak tahu. Kita bisa bayangkan apa yang akan dilakukan supir taxi itu. Ada kemungkinan supir taxi itu mengumpat, "dasar gila," dan terus taksi itu pergi meninggalkannya atau supir taksi itu menyuruhnya masuk dan bertanya, "bapak mempunyai uang berapa?" Supir taksi itu akan berkeliling sampai argonya seperti uang yang disebutkan dan supir taksi akan menyuruhnya turun.

Kita bisa bayangkan, dia akan rugi waktu, uang dan tidak jelas dia berada di mana sekarang. Tentu kita tidak mau menjadi seperti orang tersebut. Ingatlah bahwa biar pun kita mempunyai tujuan, belum tentu kita bisa mencapainya. Kendati begitu, ada kemungkinan besar kita bisa menggapai tujuan kita dengan perencanaan, kerja keras, doa dan yakinlah jika tujuan itu untuk kebaikan, pasti kita bisa mencapainya. Tujuan yang jelas itu sangat penting. Mari kita mengisi tujuan hidup kita dan langkah-langkah untuk mencapainya:
Tujuan I:
Tujuan jangka pendek ( batas waktu maksimal pencapaiannya dari 3-12 bulan):
Halangan:
Langkah-langkah:
Sarana untuk mencapai tujuan:
Perencanaan waktu untuk tujuan:
Hasil tujuan:

Tujuan II:
Tujuan jangka panjang (batas waktu maksimal pencapaiannya 5-20 tahun):
Halangan:
Langkah-langkah:
Sarana untuk mencapai tujuan:
Perencanaan waktu untuk tujuan:
Hasil tujuan:

Tujuan III:
Tujuan hidup (selama hidup):
Halangan:
Langkah-langkah:
Sarana untuk mencapai tujuan:
Perencanaan waktu untuk tujuan:
Hasil tujuan:

Setelah kita mencapai tujuan jangka pendek, syukuri pencapaian kita dan lanjutkan dengan membuat perencanaan tujuan lain lagi.

Setelah ada tujuan, kita lanjutkan dengan memberitahukan Tuhan atas tujuan-tujuan kita lewat doa. Kendati begitu, seringkali rutinitas dan berbagai masalah yang datang silih berganti setiap hari membuat kita kehilangan motivasi untuk mendapatkan yang lebih baik dalam kehidupan sehingga semua tujuan kita menjadi kabur dan lama-lama menghilang. Berikut kita diskusikan beberapa cara untuk mendapatkan motivasi setiap hari: 
1. Ciptakan Hasrat
Bayangkan apa yang kita rasakan jika kita berhasil mencapai tujuan kita. Lihat imbalan dari usaha kita secara jelas. Cara ini memberikan banyak motivasi untuk membuat rencana kita cepat terwujud. Bayangkan saat kenaikan kelas, kita menjadi juara satu sehingga banyak universitas yang mau menerima kita dengan mudah dan biaya yang relatif murah. Bayangkan jika kita sehat, kita bisa pergi jalan-jalan, berkumpul sama teman-teman dan melakukan banyak hal, ini yang bisa memotivasi kita untuk mendapatkan kesehatan yang baik dengan berolah raga, konsumsi makanan sehat. Bayangkan rumah impian kita setiap hari, dan ini akan memberikan kita dorongan untuk menjadikannya nyata dengan bekerja lebih nyata.

2. Ciptakan Rasa Sakit
Program Neuro-Linguistic mengajarkan pada kita untuk menghubungkan rasa sakit dengan tidak melakukan tindakan. Kejadian saat kenaikan kelas dan kita gagal untuk naik kelas, kita berpikir apa yang akan kita rasakan sehingga kita akan termotivasi untuk tidak melupakan tujuan kita dengan belajar lebih giat. Membayangkan kejadian saat sakit, harus menginap di rumah sakit sambil diberikan oksigen, kita berpikir apa yang akan kita rasakan sehingga kita termotivasi untuk olah raga teratur walaupun merasa tidak ada waktu dan memilih makan makanan sehat walaupun merasa sehat.

3. Bicarakan Rencana Kita
Bicaralah pada teman, pasangan, orang tua tentang rencana kita, atau tuliskan dalam buku kita yang sering kita lihat. Ini bisa mengingatkan kita pada tujuan-tujuan kita. Dengan kegiatan rutin setiap hari dan masalah-masalah yang akan menghalangi kita untuk mencapai tujuan kita, kadang kita lupa atau mencoba melupakan tujuan kita. Tetapi sering teman, pasangan atau orang tua mengingatkan kita dan memberikan dorongan kepada kita saat kita mulai mencoba melupakan tujuan kita.

4. Miliki Sebuah Ketertarikan yang Nyata
Saat kita menentukan tujuan kita baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, hendaknya tujuan-tujuan itu sangat menarik bagi kita sehingga tujuan ini menjadi keinginan yang selalu hidup. Buatlah tujuan kita menjadi menarik dalam mencapainya, buat setiap proses pencapaian menarik. Nikmati setiap proses maupun halangan dalam mencapai tujuan kita, dengan menikmati setiap prosesnyalah membuat kita lebih semangat, lebih bertenaga, lebih santai serta tetap menjaga harapan.

5. Miliki Energi
Untuk menghasilkan energi, masing-masing mempunyai caranya. Ada yang dengan merasakan secangkir kopi atau minum multivitamin. Namun demikian, yang pasti olah raga, minum air putih yang cukup dan tidur yang cukup adalah modal untuk memiliki energi yang maksimal. Selalu isi energi setiap hari dengan hal-hal yang positif dan jangan lupa berdoa sehingga energi makin berlipat ganda.

6. Ciptakan Keseimbangan Mental
Orang yang paling berkuasa adalah orang yang dapat menguasai dirinya sendiri. Sangat sulit untuk bisa fokus jika kita dalam keadaan tertekan atau berpikiran negatif. Seimbangkan mental kita dengan menguasai diri kita sendiri. Musuh yang paling utama adalah diri kita, bukan orang lain. Pikiran kita bisa menjadi sesuatu yang hebat untuk mengembangkan diri kita, namun pikiran juga yang bisa menghancurkan diri kita. Jauhi sikap berpikiran negatif dengan selalu bersyukur dengan apa yang ada.

7. Ambil Sebuah Langkah Kecil
Action... action! Saat kita mulai bertindak, meskipun hanya sebuah langkah kecil yang kita ambil, tindakan untuk mencapai tujuan akan memberikan motivasi pada kita setiap hari. Kita akan bahas ini lebih lanjut di bawah ini.

Hanya tujuan tidaklah cukup, tindakan harus diambil untuk mewujudkan tujuan kita. Tujuan sederhana yang dilaksanakan dan dikembangkan adalah seribu persen lebih baik dari tujuan hebat tapi mati tanpa ada tindakan. Pedagang besar, John Wanamaker sering berkata,  "tidak ada yang datang hanya dengan memikirkannya."

Buku the Magic of Thinking Big membagi orang menjadi dua, jenis yaitu aktivasionis dan pasivasionis. Aktivasionis adalah orang sukses yang aktif dan pelaksana. Ia mengambil tindakan, melaksanakan rencana dan menyelesaikannya untuk mencapai tujuan. Pasivasionis adalah orang yang biasa-biasa, orang menengah, orang yang tidak berhasil dan bukan pelaksana. Ia menunda segalanya hingga ia membuktikan bahwa ia tidak boleh, tidak dapat atau terlalu terlambat melaksanakannya.

Perbedaan di antara aktivasionis dan pasivasionis tampak dalam banyak hal. Contoh: aktivasionis merencanakan untuk belajar sebelum ulangan dimulai dan ia melakukannya. Sedangkan pasivasionis merencanakan untuk belajar sebelum ulangan, ia mencari cara untuk menunda belajar. Aktivasionis ingin membuka usaha sendiri dan ia melaksanakannya, sedangkan pasivasionis juga ingin membuka usaha tapi ia menunda untuk mendapatkan saat yang tepat sehingga ia tidak pernah memulainya. Aktivasionis berbuat, bertindak sedangkan pasivasionis akan bertindak tetapi tidak pernah bertindak.

Kita semua ingin menjadi aktivasionis, jadi mari kita dapatkan kebiasaan bertindak. Banyak pasivasionis menjadi demikian karena mereka berkeras menunggu hingga segalanya 100% menguntungkan sebelum mereka mengambil tindakan. Kesempurnaan memang sangat diinginkan namun tidak ada buatan manusia atau rancangan manusia yang benar-benar sempurna. Oleh karena itu, menunggu agar kondisi menjadi sempurna sama juga menunggu selamanya. Tindakan bisa menyembuhkan ketakutan dan mendapatkan kepercayaan diri. Menunggu, menunda, dan menangguhkan bisa meningkatkan ketakutan. Tentu kita pernah takut dalam melakukan sesuatu namun saat kita mulai bertindak, rasanya tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya, semuanya menjadi lancar. Contoh: si A takut ke dokter untuk check up, semakin dia menunda, ketakutan dia akan makin besar selama bertahun-tahun karena dia akan berprasangka buruk terhadap kesehatannya sehingga ketakutannya makin kuat dan bisa menyebabkan dia benar-benar sakit. Namun saat dia langsung pergi check up,  kekhawatirannya pun hilang. Mungkin ada sakit tapi setidaknya dengan mengetahuinya, dia bisa melakukan pengobatan sebelum terlambat. Kemungkinan lainnya, bisa jadi  tidak ada masalah serius dengan kesehatannya.

Saatnya latihan:
Cari apa yang baik yang mau kamu lakukan namun takut untuk melakukannya. Coba lakukan hari ini tanpa ragu-ragu (misalnya takut membicarakan sesuatu dengan orang tua, takut untuk memberikan ide kepada boss kamu ataupun yang lain). Setelah selesai melakukan hal tersebut, buatlah catatan di bawah apa yang kamu rasakan dan apa hasilnya dari bertindak yang kamu lakukan.
1.
2.
3.
4.
5.

Dan pepatah mengatakan saat kita mulai bertindak, separuh jalan sudah di jalanin. Sekarang kita bahas orang yang mempunyai tujuan tapi tidak bertindak. Nah, hasilnya orang itu hanya berhasil dalam lamunannya dan keberhasilannya hanya di dalam mimpi saja.

Setelah kita tahu zona kita dimana, kita harus menuju ke zona yang semestinya, yaitu:
1. DEWASA yang artinya kita harus mempunyai keberanian dan kecerdasan,
2. PINTAR yang artinya kita harus mempunyai kemampuan dan kemauan,
3. USAHA yang artinya kita harus mempunyai tujuan dan tindakan.

Monday, February 20, 2017

The ASEAN Tour: Indonesia

I believe that in certain cases, Indonesians can be the last to realize how beautiful their country is. Take me for an example. I easily spent the first 22 years of my life grumbling about how one day I would get out of Pontianak. I dislike staying there because my hometown is plagued by the unreliable electricity supply and yearly hazardous events such salted water and smog. It was only after I moved out of the country that I started to look back and appreciate Indonesia.

Many can tell you that Indonesia is the biggest country in Southeast Asia, but it can be little-known that Indonesia is so big it encompasses three time zones, from the east to the west. As an illustration of how significant the distance covered in three time zone is, the flight duration from Jakarta to Guangzhou is actually shorter by half an hour if compared with the flight from Jakarta to Jayapura, the capital city of Papua, which takes around 5 hours 30 minutes.


Wonderful Indonesia: lush, green and beautiful. 

The fact that Indonesia is also an archipelago means it has all sort of races as well as rich in cultures and food. Aptly calling itself Wonderful Indonesia, it also has numerous beautiful sceneries, from beaches, mountains, lakes to whatever that a tropical country can offer. This is why one should visit Indonesia. Okay, language may be a problem because Indonesians normally don't speak English, but this is compensated by how friendly Indonesians are. It's also worth mentioning that Indonesians are generally in awe with tourists, so you are surely welcome but, of course, just like visiting any other countries, you still have to be cautious. The trip will be much more fun if you go with one or two local friends, so if you are invited, just grab the opportunity!

First of all, where to visit? I can only tell you a few places because I haven't travelled the whole country, but worry not, I'll tell you what I know (that alone should get you busy) and for that, we'll start from the west: Medan. This your stop if your final destination is Lake Toba. Medan is the third biggest city in Indonesia, populated with a fair amount of Hokkien speaking Chinese and another race called the Batak. If you are a big fan of pork, then this is the right place to go. The Batak cuisines are mainly made of pork and it's fabulous! Their saksang, panggang, soup, papaya leaves, eaten together with two types of chillies, are so delicious that they'll definitely rock your world upside down! Other than that, if you're less adventurous, there's also a stretch of food stalls on the street at night, the same place where Bakmie Tiongsim is located.

Bernard and Setia on a street full of food stalls in Medan.

Medan lacks of sightseeing spots, therefore you'll have to carry on to Lake Toba. You can stop in Pematang Siantar for a short break and drink a bottle of Badak or two (it's some sort of root beer), then continue to Lake Toba. The view as we descend to Lake Toba is beautiful and the lake, well, sometimes I wonder why it is called Lake Toba. Mind you, it is so enormous that you can't even see the other side of the lake! Instead, right in the middle of it, there's an island called Samosir. Worth visiting if you are into cultural trip.

Still around Sumatra island‎, nearby Singapore, there are Bintan and Batam. Bintan is known for the resort and it charges with Singaporean visitors in mind, hence the rate is rather high. I also just learnt from my visit two years ago that the whole island is actually called Bintan. Together with Batam, it forms a province and the capital city is Tanjung Pinang, a backwater town that offers an interesting, laid back experience. The transport to get around, however, is quite poor and can be tricky. Between the two, Batam is more developed and well-known to many, especially Singaporeans. This is also where Indonesians such as myself did a day trip if we have craving for authentic Indonesian culinary (nasi Padang in particular) or a weekend trip with friends for shopping, food and leisure. Various races such as Malay, Javanese, Padang to Flores people can be found here.

Nagoya Hill, Batam.

Next to Sumatra, we have an island called Kalimantan, also known as Borneo. It houses three countries, with the biggest part of the pie owned by Indonesia. On the north, we have Malaysia and Brunei. Kalimantan is also where I came from. Pontianak is on the west of Kalimantan, dominated by Teochew and Hakka speaking Chinese, Madura, Malay and, of course, the Dayak people. Unless you have a friend or business there, I tend to think of Pontianak as a rather strange tourist destination, because it hasn't much to offer. Only the food, perhaps, and the first stop to Singkawang, which I can't tell you much because the last time I visited the town was so long ago in 2001.

On the south of Kalimantan, there's an island called Java where Jakarta is located. Apart from Bali, which we'll discuss later, Jakarta is usually the first introduction for many to Indonesia, which leads to a rather unfair preliminary assessment thanks to the notorious traffic jam (many that I asked actually told me the jam in Jakarta is worse than the one in Bangkok at any given time). Once you accept that the jam is part of life in Jakarta, you'll realize that the city is actually not that bad. Being the country's capital city means most, if not all, of the cuisines from the archipelago can be found here. The entertainment, I leave it to you define it, is also of world class.

Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

From Jakarta, there were satellite towns such as Bekasi or, further down, Karawang. The former doesn't have any place of interest, I'm afraid, but the latter at least has a traditional food called pepes. It's either steamed mushroom, tofu, chicken or fish wrapped in banana leaf. Anyway, rather than stopping by in Karawang, it makes more sense to go all the way from Jakarta to Bandung. Oh yeah, I noticed that there's a common misunderstanding here: some foreigners tend to think that the non-Chinese in Indonesia must be Malay. This is wrong, as you can see I've mentioned many races since the beginning of this article and Malay is only one of them. In Bandung, there is this people called Sundanese which has their own language, culinary and culture. Used to be known as Paris van Java during the colonial era, Bandung is famous for its cooling weather, which is especially true when you go to Lembang. It also has factory outlets and many unique hangout places, those well-designed, one of a kind caf├ęs and restaurants. Food-wise, I'm not exactly fond of Sundanese cuisine as it can be quite dry and spicy, but the ones called siomay Bandung and batagor are definitely my personal favourites. 

Next, Tasikmalaya, is three hours away from Bandung. Anybody with sweet tooth can actually stop in Garut to replenish your stock of sweets for the town is known for dodol, a sticky sweet in paper wrap. Once you reach Tasikmalaya... well, there is actually not much to do there, except eating soto Tasik, kupat tahu, tutug oncom and yamien, the localised version of Chinese noodles. Oh, for your information, Tasikmalaya is also the hometown of the world famous badminton player Susi Susanti. There's also a beach called Pangandaran nearby the town, nearby as in few hours ride, haha.

Pangandaran, West Java.

That's what I have for West Java. While I ever did a two days one night road trip from Jakarta to Bali, I surprisingly don't recall much about Central Java. I remember Yogyakarta instead due to the fact that I visited the city again few years ago. Jogja is the land where time stands still. It is slow, cheap and the food is sweet (which is fine by me). Jogja is some sort of special region, with a sultan taking up the role of a governor. It's also a land of Javanese mysticism and culture, so there are a lot to do here, from visiting temples such as Prambanan (a Hindu temple)  and Borobudur (a Buddhist temple), the palace, the active volcano called Merapi or the busy Malioboro road. Once you are done, Solo is just nearby. By the way, just for Singaporeans friends to know, the city of Solo is where the name Bengawan Solo came from.

The last section of the island, since it is on the east side, is simply called East Java. I vaguely remember Brebes, a neat looking town, but when it comes to East Java, Surabaya is the one that we're talking about. It's the second biggest city after Jakarta and it's also known as city of heroes because the people fought hard to retain our independence. Notable landmarks includes House of Sampoerna, a very intriguing museum of the cigarette factory founder that tells the story from his humble beginning to the rise of his empire. There are a couple of charming towns nearby such as Malang and Batu. They are famous for cooling weather, apples, meatballs soup, carnival rides and rabbit satay. For those mountain climbers, Bromo is also around the area. An active volcano, it may explode any time, so choose your timing correctly.


House of Sampoerna, Surabaya.

At the easternmost tip of Java, there's a town called Banyuwangi. This is where you cross from Java to Bali. If you've ever been to any part of Indonesia, especially a trip to Java, you definitely can't help feeling that the atmosphere in Bali is like no others. It is as if it's a country by itself, thanks to its thick Hindu influence throughout the island. While some may say it is overrated and over commercialized, it's hard to deny that Bali is so scenic that it has everything you need: the beach, the mountain, the Hindu temples, the food, the night life, the sports such as surfing, rafting, parasailing and so forth. If you have only one destination to visit in Indonesia, then make sure it is Bali.

That pretty much sums up the domestic places I've ever been. Oh, back to the earlier topic, Banyuwangi marks the end of the first time zone (GMT+7) and Bali is just one island in the second time zone (GMT+8). We haven't even talked about Sulawesi and there is still one more time zone that I have yet to explore. So how big is Indonesia again? Very!


Kuta Beach, Bali.

ASEAN Tur: Indonesia

Saya cenderung berpikir bahwa penduduk Indonesia seringkali menjadi orang terakhir yang menyadari bahwa negaranya sangat indah. Saya contohnya. Selama 22 tahun pertama dalam hidup saya, hanya terpikir oleh saya bahwa suatu hari nanti saya akan keluar dari Pontianak yang senantiasa padam listriknya dan mengalami masalah tahunan seperti air asin dan asap. Saya baru melihat kembali dan menghargai Indonesia ketika saya pindah ke negeri orang.

Setiap orang tahu bahwa Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara, tapi mungkin hanya sedikit yang pernah menyadari bahwa Indonesia memiliki tiga waktu yang berbeda karena luas wilayahnya. Sebagai ilustrasi, waktu penerbangan dari Jakarta ke Guangzhou lebih singkat setengah jam bila dibandingkan dengan penerbangan dari Jakarta ke Jayapura yang memakan waktu 5,5 jam. 


Menikmati selera nusantara. 

Fakta bahwa Indonesia adalah negara kepulauan berarti Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan kaya akan beragam budaya dan makanan. Sebutan Wonderful Indonesia tidaklah berlebihan, sebab Indonesia juga memiliki pemandangan alam yang indah, mulai dari pantai, gunung, danau dan semua yang mungkin ditawarkan oleh negara tropis. Oleh sebab itu Indonesia sangat menarik untuk dikunjungi. Tidak dipungkiri bahwa mungkin akan ada kendala bahasa karena rata-rata orang Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris, tapi kekurangan ini diimbangi dengan keramahan orang Indonesia (walau keramahan yang berlebihan tetap saja harus disikapi dengan waspada). Perjalanan anda pasti lebih berkesan bila ditemani oleh orang lokal, jadi bila anda diajak untuk berkunjung, jangan lewatkan tawaran tersebut! 

Pertama-tama, daerah mana yang harus dikunjungi? Saya hanya bisa bercerita tentang beberapa tempat tujuan karena saya belum menjelajahi seluruh Indonesia, tapi jangan khawatir karena apa yang akan saya ceritakan ini sudah cukup untuk membuat anda sibuk. Kita mulai dari sebelah barat Indonesia: Medan. Ini adalah kota tujuan anda jika anda ingin pergi ke Danau Toba. Medan adalah kota ketiga terbesar di Indonesia dengan demografi yang mencakup orang Hokkien dan Batak. Jika anda menyukai daging babi, ini adalah tempat yang tepat. Banyak masakan Batak yang terbuat dari daging babi dan lezat pula rasanya. Saksang, panggang, sup dan daun pepaya yang dimakan dengan dua jenis cabe dijamin enak dan akan mengguncang selera anda! Jika anda kurang berani dalam mencoba, anda bisa mendatangi kawasan kuliner Selat Panjang, tempat dimana Bakmie Tiongsim berada. 


Turis lokal dan internasional di Danau Toba.

Medan tidak memiliki banyak daerah wisata turis, oleh karena itu anda harus lanjut ke Danau Toba. Di tengah perjalanan, anda bisa beristirahat sejenak di Pemalang Siantar untuk mencicipi minuman sarsi cap Badak. Saat kita mendekati Danau Toba, akan terlihat lereng di kejauhan yang indah. Akan halnya danau itu sendiri, terkadang saya berpikir kenapa disebut danau, sebab luasnya bagaikan tak bertepi. Di tengah danau, ada sebuah pulau bernama Samosir. Layak dikunjungi bila anda berminat untuk mengetahui tentang kebudayaan Batak.

Masih di sekitar Pulau Sumatera dan tidak jauh dari Singapura, kita bisa berkunjung ke Bintan dan Batam. Bintan terkenal sebagai kawasan tempat tetirah dan harganya disesuaikan dengan harga turis Singapura. Bintan dan Batam ini termasuk dalam provinsi Kepulauan Riau. Ibukotanya adalah Tanjung Pinang, kota yang masih terbelakang namun menawarkan nuansa santai. Transportasinya masih agak sulit dan pusat perbelanjaannya masih jauh dari kesan modern. Dibandingkan dengan Tanjung Pinang, Batam lebih maju dan terkenal, terutama di kalangan orang Singapura. Bilamana saya rindu dengan masakan Indonesia, terutama nasi Padang, saya akan bepergian ke sana di akhir pekan untuk berbelanja, makan dan lain-lain. Berbagai suku bisa ditemukan di Batam, mulai dari Melayu, Jawa, Padang, Batak, Flores dan sebagainya.

Di Bintan. 

Di sebelah timur Sumatera, ada pulau bernama Kalimantan. Pulau ini menjadi rumah bagi tiga negara, namun tiga perempat wilayahnya adalah bagian dari Indonesia. Di sebelah utara pulau adalah Malaysia dan Brunei. Pontianak, tempat saya berasal, adalah ibukota Kalimantan Barat. Kota ini didominasi oleh Melayu, Madura, Tionghoa dan tentu saja Dayak. Pontianak tidak termasuk kawasan wisata sehingga orang jarang berkunjung ke sini, kecuali jika ia memiliki teman atau dalam rangka bisnis. Hiburan yang berkesan di Pontianak mungkin cuma makanan. 

Di sebelah selatan Kalimantan terletak Pulau Jawa dan Jakarta. Selain Bali, Jakarta sering kali menjadi kesan pertama Indonesia bagi orang asing dan kemacetan yang menyambut para pendatang ini mungkin memberikan pandangan yang tidak adil tentang ibukota Indonesia ini (banyak yang berkomentar pada saya bahwa macetnya Jakarta lebih parah dari Bangkok). Setelah anda bisa menerima bahwa kemacetan adalah bagian dari kehidupan di Jakarta, anda akan menyadari bahwa kota ini tidaklah buruk. Beraneka macam makanan bisa ditemukan di sini. Hiburannya, terlepas dari apa definisi hiburan bagi anda, berkelas dunia. 


Menikmati pepes di Karawang. 

Dari Jakarta, ada beberapa kota satelit seperti Bekasi, atau lebih jauh lagi, Karawang. Bekasi mungkin tidak memiliki tempat wisata, tapi Karawang setidaknya terkenal dengan pepes. Makanan tradisional ini terbuat dari tahu, jamur, ikan dan ayam yang dikukus dan dibungkus dengan daun pisang. Kebanyakan turis biasanya melanjutkan perjalanan hingga ke Bandung. Kawasan orang Sunda yang terkenal dengan julukan Paris van Java ini memiliki banyak factory outlet dan kafe serta restoran yang unik. Bicara soal masakan, saya tidak terlalu suka makanan Sunda yang kering dan pedas, tapi saya menyukai siomai Bandung dan Batagor. Oh ya, selagi berada di Bandung, jangan lupa berkunjung ke Kembang. Daerah pegunungan ini dingin, cocok untuk bersantai.

Tasikmalaya berjarak tempuh tiga jam dari Bandung. Penggemar dodol bisa memilih untuk lewat dan singgah sebentar di Garut. Bagi yang mengunjungi Tasik, makanan berikut ini layak dicoba: soto Tasik, kupat tahu, tutug oncom dan yamien. Pantai Pangandaran juga bisa menjadi tempat tujuan berikutnya bagi mereka yang sudah tiba di Tasik.

Bersantai di taman candi Sambisari, Jogja.

Dari Jawa Barat, kita bisa bertolak ke Jogja, kota dimana waktu terasa seperti berhenti. Jogja terkenal sebagai kota yang murah meriah dan manis makanannya. Sebagai Daerah Istimewa, Jogja masih menganut pola kesultanan. Jogja juga dikenal berkat budayanya, jadi banyak yang bisa dilakukan di sini, mulai dari mengunjungi candi-candi seperti Prambanan dan Borobudur, Kraton Jogja, gunung Merapi dan jalan Malioboro. Kalau anda sudah selesai berkeliling, anda bisa mampir ke Solo yang berada tidak jauh dari sana. 

Berikutnya adalah Jawa Timur. Saya ingat dengan kota Brebes yang rapi, tapi bila kita bicara tentang Jawa Timur, maka kota utamanya adalah Surabaya yang juga dikenal sebagai kota pahlawan karena perjuangan bangsa kita dalam mempertahankan kemerdekaan. Saya terkesan dengan Rumah Sampoerna, sebuah museum tentang pendiri pabrik rokok yang berkisah tentang asal mulanya yang sederhana sampai pada kesuksesannya. Selain itu, ada beberapa kota lainnya, Malang dan Batu, yang terkenal karena cuacanya yang dingin, kebun apel, bakso Malang dan juga sate kelinci. Tidak jauh dari sana, ada gunung Bromo. Mengingat bahwa ini adalah gunung berapi yang masih aktif, resiko hendaknya ditanggung sendiri. 


Di Selecta, Batu. 


Di ujung timur Pulau Jawa ada kota bernama Banyuwangi. Di pelabuhan kota inilah kita menyeberang dari Jawa ke Bali. Jika anda sudah pernah ke kota lain di Indonesia, Bali akan terasa berbeda suasananya, seakan-akan seperti negara tersendiri. Budaya Hindu terasa dominan. Walau ada yang berpendapat bahwa Bali sangat komersial dan terlalu digembar-gemborkan, susah disangkal bahwa Pulau Dewata ini memiliki semua yang anda inginkan: pantai, gunung, masakan yang enak, kehidupan malam, olahraga seperti berselancar, rafting, parasailing dan lain sebagainya. Jika anda hanya memiliki satu kesempatan untuk berkunjung ke Indonesia, maka pastikan bahwa tempat tujuan anda adalah Bali.

Dan Bali menjadi tempat paling timur yang pernah saya kunjungi di Indonesia. Kembali ke topik awal tentang zona waktu, Banyuwangi menjadi tempat terakhir yang menggunakan Waktu Indonesia Barat (GMT+7) dan Bali adalah salah satu pulau yang menggunakan zona Waktu Indonesia Tengah (GMT+8). Kita bahkan belum berbicara tentang Sulawesi dan Waktu Indonesia Timur. Jadi seberapa besar sesungguhnya Indonesia? Teramat sangat besar, tentunya!

Di Tanah Lot, Bali. 

Friday, February 17, 2017

Di Manakah Saya? (Part 2)

Mari kita melihat tabel di bawah ini untuk mengetahui berada di manakah kita.
Yuk, kita belajar membaca tabel lagi:
  • Zona A artinya mempunyai kemampuan dan ada kemauan melakukannya sehingga berada di zona PINTAR.
  • Zona B artinyamempunyai kemampuan tapi tidak ada kemauan melakukannya sehingga berada di zona MALAS.
  • Zona C artinya tidak ada kemampuan tapi banyak kemauan sehingga berada di zona TIDAK TAHU DIRI.
  • Zona D artinya tidak ada kemampuan dan sekaligus tidak ada kemauan sehingga berada di zona CULUN.
Kita akan membahasnya satu per satu lagi. Kita mulai dari kemampuan. Setiap orang itu unik dan juga diberikan suatu kemampuan atau talenta. Namun, jika kita tidak menemukan kemampuan kita, kemampuan itu tidak akan berkembang, bahkan malah akan hilang. Orang yang mempunyai kemampuan namun dia tidak mau mengasahnya dan mempergunakannya untuk kebaikan, orang tersebut tidak akan mempunyai arti apa-apa.

Kemampuan dalam diri kita akan menjadi sesuatu yang nyata jika kita menemukannya, kemudian mengasah dan mengembangkannya. Sama seperti sebuah permata yang berharga, jika permata tersebut tidak pernah ditemukan, apa artinya permata yang terkubur di tanah yang dalam? Saat pertama permata itu ditemukan, ini tidaklah bernilai tinggi. Namun, melalui proses pembentukan, permata tersebut menjadi sangat bernilai harganya. Demikian juga kemampuan yang kita miliki. Kita harus menemukannya dulu, mengasahnya dan mengembangkannya untuk kebaikan.

Nah, bagaimana kita bisa tahu kemampuan kita itu apa? Secara umum, orang susah sekali menyadari kemampuan yang dia miliki walaupun kadang orang lain bisa melihat suatu kemampuan ada di dalam diri orang tersebut. Untuk menemukan kemampuan kita, ada banyak cara. Bisa dengan tes bakat dan sekarang, dengan teknologi yang canggih, kemampuan seseorang anak bisa dideteksi hanya dengan menempelkan jari ke suatu alat. Di sini kita akan membahas cara menemukan kemampuan kita secara sederhana. Umumnya, kemampuan kita ada hubungannya dengan hobi kita atau sesuatu yang senang kita lakukan meskipun orang lain mempunyai pemikiran apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang membosankan. Sesuatu yang membuat kita tidak kehilangan energi saat melakukannya. Contoh: saya mempunyai kemampuan mengajar dan saya sangat suka mengajar. Biarpun banyak pendapat yang mengatakan mengajar itu membosankan, menjengkelkan dan lain-lain. Tapi saya sangat menikmati setiap kali saya mengajar dan seakan-akan saya tidak pernah kekurangan energi untuk mengajar dan saya menyebutnya semangat masa kini.

Mari kita mencoba menemukan kemampuan kita dengan tes sederhana berikut:
  1. Apa saja hobi-hobi kamu?
  2. Dalam hal apa kamu bisa melakukan yang terbaik?
  3. Hal apa yang senang kamu lakukan?
  4. Dalam hal apa temanmu mengatakan kamu hebat dalam melakukannya?
  5. Dalam melakukan hal apa kamu bisa kreatif?
  6. Dalam hal apa kamu bisa membuat orang lain senang?
Tentu kita masih ingat bahwa kemampuan kita harus terus diasah. Saat kita memahami kemampuan kita dan selalu mengembangkannya, disitulah letak MAU untuk mengasah kemampuan kita dan itulah yang membuat kita pintar dalam kemampuan kita. Kepintaran yang nyata bukanlah sekedar teori belaka, tapi ada nilai manfaat dari kepintaran itu. Sertifikat dengan nilai A semua, itu semuanya bagus tapi apa artinya kalau kepintaran itu hanya ada di sertifikat. Saya pernah menghadiri sebuah seminar yang dibawakan oleh Dra. Psi.Viera Adella, M.Psi. Jujur saja saya merasa seminarnya terlalu singkat, banyak yang ingin saya tanyakan namun waktunya kurang. Walaupun singkat waktunya, saya menangkap satu hal yang menurut saya keren. Saat Bu Adella mengatakan, "sertifikat les piano dengan grade A berderet itu bagus, tapi akan lebih bagus lagi jika anak itu bisa memainkan lagu-lagu dari kemampuan yang dia pelajari untuk menghibur orang." Apa gunanya sertifikat segudang namun saat di suruh praktek, malah menolak dengan berbagai alasan?

Dalam seminar tersebut juga dikatakan: ini bukanlah tentang secerdas apakah saya (how smart I am?), tapi bagaimana saya terlihat cerdas (how am I smart?).

Lantas kenapa terkadang ada orang yang dinamakan tidak tahu diri? Ini disebabkan orang tersebut tidak mau berusaha menemukan kemampuannya sedangkan MAU-nya banyak, mau ini mau itu. Kalau ada Doraemon, sih, gak apa-apa, bisa dipenuhi, hehehe (just kidding).

Sekarang ini masalah paling besar yang kita hadapi adalah TIDAK MAU melakukan sesuatu walaupun punya kemampuan untuk itu. Laziness makes a man so slow that poverty soon overtakes him, artinya kemalasan membuat seseorang begitu lamban sehingga kemiskinan segera menyusul. Pengertian ini tidak hanya berlaku untuk situasi ini saja. Kemalasan bagi para remaja atau murid-murid bisa mengakibatkan mendapatkan nilai jelek, dihukum, atau bahkan tidak naik kelas. Jika kemalasan telah mengontrol diri seseorang, maka kemampuan apa pun yang dimilikinya tidak mempunyai arti apa-apa. The work day for a lazy man is tomorrow and today is his holiday.

Suka menunda-nunda suatu pekerjaan adalah salah satu hal yang tidak bisa mengembangkan kemampuan yang kita miliki sehingga kemampuan yang dimiliki tidak terlihat. Untuk apa kita diberikan suatu kemampuan dari Tuhan tapi kita tidak mensyukurinya dengan tidak mengembangkannya untuk kebaikan? Berapa banyak kemampuan besar dari anak-anak muda yang sia-sia hanya karena kemalasan? Memang kadang ada faktor lain yang mempengaruhi tidak berkembangnya kemampuan dalam diri kita, misalnya: faktor fasilitas, keterbatasan ekonomi, tapi itu bukanlah alasan bagi kita untuk tidak mau mengembangkan kemampuan yang kita miliki. Ada banyak cara untuk mengembangkan kemampuan kita.

Orang yang pintar adalah orang yang selalu mengasah kemampuannya. Biarpun kita mempunyai kemampuan, tapi jika tidak diasah, maka kemampuan kita akan hilang. Contohnya: seorang petinju akan menjadi petinju yang handal jika dia terus latihan. Biarpun badannya besar seperti gorilla, namun jika dia tidak mau latihan, maka tidak ada gunanya.

Jadi saat kita punya kemampuan, asahlah kemampuan itu untuk kebaikan. Jadi bagaimana supaya kita tidak berada dalam zona TIDAK MAU? Ingatlah, kita yang harus mengontrol keinginan kita termasuk kemalasan tersebut, jangan sampai diri kita yang dikontrol oleh keinginan kita. Untuk menghindari kemalasan, tidak boleh ada kata tunggu untuk melakukan sesuatu yang baik. Saat kita ada kata tunggu untuk melakukan suatu kebaikan, berbagai macam alasan akan muncul dalam diri untuk tidak melakukannya.

Temukanlah talenta atau kemampuan kita dan terus kembangkan untuk kebaikan. Tidak ada orang yang dilahirkan tanpa kelebihan. Semua orang mempunyai kelebihan. Yakinlah akan hal tersebut.

Wednesday, February 15, 2017

Mortality

Sometimes, when we're in a dire or impossible situation, my friend Bernard normally says a slightly modified quote from Galvatron (that's Megatron on steroids!) that we must die, sometimes. That's when we realise that shit has happened and we have to accept it. Upon realising that there's no way out, we just laugh about it (that does make us feel better) and embrace whatever that comes next. 

Still, if we gotta be serious about it, the very literal definition of death itself is very real and it's no laughing matter. One can't just ignore it after hearing the news. Personally, it gets me thinking about my own mortality as well, just like what happened today: I woke up to the news that a school friend of mine had passed away last night due to an illness related to liver.

The guy's name was Tony. I can't say that I knew him well, but we did have a fair bit of interaction during our Junior High School days. He was known for his antics then, but my fondest memory of him was the fact that he had Godzilla Vs. Mechagodzilla video cassette, a rare item in Pontianak back in the days, and he kindly lent it to me much to my delight.

The last time I bumped into him was, perhaps, in the late 90s. Many of us were studying in Kuching then and I was at the bus departure point in my hometown, sending off Endrico and friends. That's when I spotted him and immediately snapped his picture using my trusted Ricoh camera. The result is the one below, reproduced digitally and published online here for the first time. May God rest his soul.

Tony was about the same age as me or slightly older by a year. You know the saying that life begins at 40? Tony could have been part of that but, for a cosmic reason that we neither know nor understand, it didn’t work out that way for him. It feels like only yesterday we saw him smiling in a gathering at Meetingpoint Cafe then today he's gone. It gets me thinking how life can be that fragile. We can only plan and work towards the plan, but eventually we're not the ones who decide on anything. Like it or not, the decision maker is the One above.

Having said that, it doesn't mean that we stop trying. Perhaps knowing that we're not the one who decide actually means we should stop worrying too much. We should have played our part and lived our lives to the fullest instead, so that when the time is up, hopefully there won't be much regret. As we age, as we hear more and more news about friends falling sick and dying, I'm wondering if it's the way of life reminding us that we gotta treasure the time we have and live while we're alive.

I told my wife once or twice that when I look back, I've had a wonderful life. I'm not the richest, the smartest or whatever, but throughout my life, I've lived a life full of great friends, laughed the loudest at every joke, cried the saddest tears when I have to and met all the great real life heroes that helped me along the way. I also managed to tick off items on my wish list such as visiting Liverpool or attending Paul McCartney's concert. On top of all this, I'm married to the woman I love and a proud father of two these days. I have my fair share of burdens and problems, of course, but they don't change the fact that I'm a happy man. I've been blessed, I reckon. I'm not bragging or comparing notes here, but I'm merely sharing with you all, hoping that such perspective could be useful for self-reflection.‎ If you have been too busy all this while, perhaps you want to take some time to relook at things and reorganise some priorities in your life before it's too late.

It's a sad day today, but let's not dwell too much on a sombre note. I'd say we cherish the good times we had with the man himself. Let's also be reminded that death is inevitable. For me, as much as I'd laugh at the mention of Bernard's quote, there is also this tinge of ironic feeling that it is as real as it gets. We must die, sometimes. We just have to accept that, huh?

Anyway, I'll close this chapter with another verses from the same song that I quoted in the previous article I wrote, the one called My Valentine. Tony, this one's for you:

"There are places I remember
All my life, though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain

All this places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life, I've love them all..."

The smile that had brightened the world. Rest in peace, my friend...

Kehidupan Yang Fana

Ketika kita berada dalam situasi kerja yang sulit, teman saya Bernard biasanya mengutip ucapan Megatron yang sudah dimodifikasi: terkadang kita harus mati! Kalau sudah begitu, kita hanya bisa tertawa dan menerima kenyataan bahwa yang terburuk akan terjadi dan takkan terhindarkan lagi. Meski begitu, setidaknya kita sudah siap mental. 

Akan tetapi, jika kita benar-benar serius menyikapinya, arti dari kematian secara harafiah itu sangatlah nyata dan jelas bukan hal yang patut ditertawakan. Senantiasa ada rasa terkejut ketika kita mendengar berita seperti ini. Secara pribadi, saya jadi berpikir juga tentang betapa fananya kehidupan yang saya jalani ini, seperti apa yang terjadi hari ini: saya bangun dan mendengar bahwa teman sekolah saya telah meninggal kemarin malam karena penyakit yang berkaitan dengan hati. 

Namanya adalah Tony. Saya tidak bisa berkata bahwa saya mengenalnya dengan baik, tapi kita pernah berinteraksi sewaktu SMP dulu. Dia terkenal dengan tingkah jenakanya yang sering membuat guru marah, tapi kenangan saya tentang Tony adalah video kaset Godzilla Vs. Mechagodzilla, sebuah barang langka di Pontianak ketika itu, dan dia dengan tulus meminjamkannya pada saya. 

Terakhir kali saya berpapasan dengannya adalah di akhir tahun 90an. Waktu itu banyak teman-teman yang melanjutkan kuliah ke Kuching. Saya kebetulan sedang berada di pangkalan bis dan turut mengantar Endrico yang hendak berangkat ke luar negeri. Di saat itulah saya melihat Tony melintas dan saya segera memotretnya. Hasilnya adalah foto di atas, yang dirilis untuk pertama kalinya di sini. Semoga Tuhan senantiasa melindunginya.  

Tony mungkin kurang-lebih seumuran dengan saya. Anda tahu pepatah yang mengatakan bahwa hidup itu baru mulai di usia 40? Tony hampir saja menjalaninya, tetapi untuk alasan ilahi yang tidak akan pernah kita ketahui, dia pergi mendahului kita. Rasanya seperti baru kemarin saat kita melihat fotonya tersenyum di antara teman-teman yang berkumpul di Meetingpoint Cafe, namun hari ini dia sudah tiada. Ini membuat saya berpikir bahwa hidup manusia itu bisa sedemikian rapuhnya. Kita hanya bisa berencana dan bekerja menggapai rencana kita, tapi pada akhirnya kita tidak bisa memutuskan apa yang akan terjadi. Suka atau tidak suka, yang membuat keputusan adalah Yang Maha Kuasa. 

Meskipun demikian, ini tidak berarti kita lantas berhenti mencoba. Setelah mengetahui bahwa kita bukanlah penentu segalanya, mungkin kita seharusnya berhenti mengkhawatirkan terlalu banyak hal. Kita seharusnya memainkan peran kita dan hidup sepenuhnya supaya tidak terlalu banyak penyesalan ketika hidup kita berakhir. Semakin kita berumur, akan semakin pula kita mendengar tentang kabar teman yang sakit dan meninggal. Mungkin ini adalah cara hidup ini untuk mengingatkan kita kembali bahwa kita harus menghargai waktu yang telah diberikan pada kita untuk menjalani hidup ini. 

Saya katakan pada istri saya bahwa saat saya melihat kembali, saya bersyukur telah menjalani hidup yang luar biasa. Saya bukan yang paling kaya, paling pintar, paling tampan atau apa pun, tapi sepanjang hidup saya, saya memiliki banyak teman yang baik. Saya juga banyak tertawa dan berkesempatan untuk menangis. Saya bertemu banyak orang yang berjasa besar memberikan saya kesempatan sehingga saya memiliki hari ini. Selain itu, saya juga berhasil menggapai beberapa impian seperti mengunjungi Liverpool dan menonton konser Paul McCartney. Lebih dari itu, saya juga menikah dengan wanita yang saya cintai dan dengan bangga menjadi ayah dari dua anak yang cantik. Seperti orang lain, saya juga memiliki masalah dalam hidup ini, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa saya adalah orang yang gembira. Sejauh ini saya telah diberkati.

Saya tidak bermaksud untuk pamer, namun saya hanya mau berbagi dan berharap bahwa sudut pandang ini bisa bermanfaat bagi anda. Jika selama ini anda terlalu sibuk dengan berbagai hal, mungkin anda ingin berhenti sejenak untuk melihat kembali hidup anda, jika saja ada prioritas yang perlu diubah sebelum semuanya terlambat. 

Hari ini adalah hari yang sedih, namun hendaknya kita jangan terlalu berduka. Saya rasa kita justru harus berfokus pada kenangan indah yang pernah kita lalui bersama Tony. Pada kesempatan yang sama, mungkin perlu diingat lagi bahwa kematian itu tidak terelakkan. Meski saya seringkali tertawa saat teringat tentang ucapan Bernard, ada rasa ironi bahwa kematian itu sebenarnya sangatlah nyata. Kita harus menerimanya dengan lapang dada. 

Akhir kata, saya tutup tulisan ini dengan lirik dari lagu yang pernah saya kutip juga di tulisan lain yang berjudul My Valentine. Tony, lirik ini adalah untukmu:

"There are places I remember
All my life, though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain

All this places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life, I've love them all..."