Total Pageviews


Saturday, September 30, 2017

The Lyrics

How do you listen to a song? Do you ever realize that there are actually many ways a person can enjoy a song? For a start, perhaps only when the music is catchy enough to attract our attention that we'll start listening to it. In the event that it's our favorite band, we may want to put on an earphone and listen to only the specific part of the music, for example, there are times when I actually pay attention to only George's guitar or Ringo's drums. Another way, and this is how my wife normally does it, is to play repeatedly the song with good music and vocals (she's into All I Ask of You from Phantom lately).

Remember those days when you flipped open and album and read the lyrics? 

As for me, I often dig further into the lyrics. I love the well-written lyrics, probably because I'm a writer myself. If you never noticed this before, do take note that some songs do have lyrics that are brilliant and relevant to our lives. The one below, written by John, is a good example:

Life is what happens to you while you're busy making other plans.
~Beautiful Boy (Darling Boy) - John Lennon~ 

I don't know if you can sense it, but I always find the verse above fascinating. It is unusual and smart, like a casual remark that gently nudges us. After years of listening to many songs, I've gathered so much inspiration out of this hobby. You'll be surprised by how much you can learn. Things like the following one are solid gold:

There can be miracles, when you believe.
Though hope is frail, it's hard to kill.
~When You Believe - Whitney Houston and Mariah Carey~

I like how it speaks volumes about faith without preaching. So simple and yet so elegant. Same goes for this one. If you look beyond the fact that it was featured in Tarzan and sung by a female ape to her human son, it was very much about humanity:

Why can't they understand the way we feel?
They just don't trust what they can't explain.
I know we're different but deep inside us,
We're not that different at all.
~You'll Be in My Heart - Phil Collins~

Talk about humanity, you hear people making noises all the time. Dissatisfaction is rampant, but by the end of the day, that's all there is to it: noises. If only you listen to what Michael sang a long time ago that if you want to make a change, you'll have to start with the man in the mirror and ask him to change his ways:

If you wanna make the world a better place,
Take a look at yourself and make that change.
~Man in the Mirror - Michael Jackson~

The thing with songs is, it could have been something that you've heard many times before, but because the message is conveyed by the right voice with the right amount of sincerity and vulnerability, you believe it! The lyrics give us some perspective and the singers enable us to see it that way. Let's look at the particular lines from Ringo's song:

Maybe I haven't always been there just for you. 
Maybe I try but then I got my own life, too.
~Weight of the World - Ringo Starr~

Sometimes there are things in life that you think you shouldn't be doing. But through the songs like the one above, you are enlightened that certain things are not selfish acts at all. I mean, if someone who knows what he's doing sang it, just like Ringo here, I would stop and ponder to see if that actually made sense or not. And the lines above not only make sense, but are also beautifully written and realistic. Trust me on that, because if we are to quote John's, his lines are definitely more straight to the point:

After all is said and done,
You can't go pleasin' everyone, 
So screw it...
~I'm Stepping Out - John Lennon~

So what I have told you so far is just a glimpse of the lyrics that we can certainly relate with. If I really have to go in-depth, I will end up writing a book about it (in fact, I did at least two books with such topics when I was so much younger than today). For this occasion, I'd just like to give you an idea of how such hobby can benefit you if you listen carefully. Now, allow me to sign off with another favorite of mine, one that is based on love and bursting with optimism. I hope you like it, too. Here we go!

There's nothing you can do that can't be done
Nothing you can sing that can't be sung 
Nothing you can say but you can learn how to play the game 
It's easy 
All you need is love...
~All You Need is Love - The Beatles~

PS: Remember, it's easy! All you need is love!

Tentang Lirik Lagu

Bagaimana biasanya anda mendengarkan lagu? Apakah pernah anda sadari bahwa ada banyak cara untuk menikmati lagu? Seringkali semua berawal dari musik yang menarik perhatian kita untuk mulai mendengarkannya. Kalau kita sedang mendengar lagu dari grup favorit kita, lebih enjoy rasanya kalau kita menggunakan earphone. Kalau saya melakukan ini dan mendengarkan lagu the Beatles, terkadang saya hanya fokus pada bagian tertentu, misalnya gitar yang dimainkan George atau drumnya Ringo. Alternatif lainnya, ada yang suka memutar lagu yang sama berulang kali, misalnya istri saya ketika dia terpesona dengan lagu All I Ask of You dari Phantom belakangan ini. Dia suka musik, suara dan teknik menyanyi yang bagus.

Bagi saya sendiri, saya sering memperhatikan bukan saja musiknya, tetapi juga liriknya, mungkin karena saya sendiri suka menulis. Jika hal ini tidak pernah anda perhatikan sebelumnya, menarik untuk diketahui bahwa ada banyak lagu yang mempunyai lirik yang bagus dan relevan bagi hidup kita. Sebagai contoh, yang satu ini, misalnya:

Life is what happens to you while you're busy making other plans. 
~Beautiful Boy (Darling Boy) - John Lennon~ 

Saya tidak tahu apakah anda bisa merasakannya, tapi saya selalu berpikir bahwa ini adalah sepenggal lirik yang mengagumkan. Ini adalah sebuah tulisan yang cerdas dan tidak biasa, layaknya seperti komentar yang santai namun membuat kita berpikir. Setelah bertahun-tahun mendengarkan banyak lagu, saya mendapatkan banyak inspirasi dari hobi ini, misalnya lirik berikut ini: 

There can be miracles, when you believe.
Though hope is frail, it's hard to kill.
~When You Believe - Whitney Houston and Mariah Carey~

Dengan hanya dua baris, lirik ini sudah berbicara lebih banyak dari khotbah yang panjang. Begitu sederhana, tetapi sangat elegan. Sama halnya dengan yang di bawah ini. Jika anda bisa mengabaikan fakta bahwa lagu ini ditampilkan di kartun Tarzan dan dinyanyikan oleh gorila betina kepada putranya yang merupakan anak manusia, makna lagu ini sebenarnya sangat manusiawi:

Why can't they understand the way we feel?
They just don't trust what they can't explain.
I know we're different but deep inside us,
We're not that different at all.
~You'll Be in My Heart - Phil Collins~

Bicara tentang manusiawi, kita mendengarkan banyak orang mengeluh setiap saat. Ketidakpuasan ada di mana-mana, namun pada akhirnya, yang tersisa hanyalah keluhan semata. Hasilnya akan berbeda kalau saja kita mendengarkan tentang apa yang pernah dilantunkan Michael dulu, bahwa jika anda ingin membuat perubahan, anda harus mulai dari dari diri anda sendiri: 

If you wanna make the world a better place,
Take a look at yourself and make that change.
~Man in the Mirror - Michael Jackson~

Yang unik dari lirik lagu adalah, walaupun topik yang sama mungkin sudah pernah anda dengar berulang kali, tapi karena kali ini disampaikan oleh suara yang tepat, anda jadi bisa mempercayainya. Lirik lagu memberikan kita sebuah perspektif dan penyanyinya membuat kita bisa melihat sudut pandang tersebut. Lirik dari Ringo di bawah ini, misalnya: 

Maybe I haven't always been there just for you. 
Maybe I try but then I got my own life, too.
~Weight of the World - Ringo Starr~

Kadang ada beberapa hal dalam hidup yang kita rasa tidak boleh dilakukan. Akan tetapi, lewat lagu seperti yang di atas, kita jadi diingatkan bahwa kita tidaklah egois jika kita sudah mencoba tapi tidak selalu bisa menolong orang lain. Maksud saya, jika musisi sekaliber Ringo yang menyanyikannya, saya akan berhenti sejenak untuk memikirkannya. Lirik di atas bukan saja masuk akal, tetapi juga ditulis dalam bahasa yang indah. Kalau kita lihat topik yang sama dari sudut pandang John, hasilnya akan lebih sederhana dan apa adanya: 

After all is said and done,
You can't go pleasin' everyone, 
So screw it...
~I'm Stepping Out - John Lennon~

Jadi kira-kira seperti gambaran tentang apa yang bisa kita pelajari dari lirik lagu yang relevan. Jika saya harus membahas lebih dalam, mungkin saya harus menulis satu buku tentang ini (dan saya sudah pernah melakukannya sekitar lima belas tahun yang lalu). Untuk kesempatan ini, saya hanya ingin memberikan gagasan kepada anda tentang topik ini, jadi coba dengarkan lagi dengan baik lagu favorit anda. Nah, untuk menutup artikel ini, mari kita simak lirik favorit saya di bawah ini, lirik yang penuh dengan cinta dan rasa optimis. Saya harap anda menyukainya juga: 

There's nothing you can do that can't be done
Nothing you can sing that can't be sung 
Nothing you can say but you can learn how to play the game 
It's easy 
All you need is love...
~All You Need is Love - The Beatles~

PS: Ingat, pada dasarnya semua itu mudah! Yang anda butuhkan adalah cinta!

Penggalan lirik lagu yang ditulis bersama Ardian.

Tuesday, September 26, 2017

Padang Rice

When I was a primary school student, there were these two eateries that I always found intriguing. One was Rumah Makan Sahara, which I would pass by when I was on my way to school, and the other was Rumah Makan Barito, which I also passed by when I went home after school. They both had this mysterious display made of plates lined up side by side and stacked on top of each other. I never really figured out what that strange formation of plates really was for until I grew up and, much to my own amusement, I still never step into and eat at either one both eateries. May be I should do that one day, for the sake of having a closure. Anyway, by not understanding what I saw when I was younger, I actually missed out what was arguably the most famous food from Indonesia for easily the first 18 years of my life.

I first tried Nasi Padang with my friend and band mate Susanto Phang. It was late at night, perhaps around 11pm Pontianak time, after our high school graduation party at the public swimming pool. I didn't eat during the party as I was nervous about our upcoming band performance then (I remember doing Oasis on the top of the platform at the pool side where audience seats were located), so after the party was over, we went to Melda, to the one before Rumah Makan Barito (I was never aware of its existence, likely due to the fact that it was just an obscure tiny stall). What we had was, probably, the leftover for the day. It was rice with fried tofu, a bit of beef rendang, cassava leaves and the coconut milk gravy.

The dishes was served at Rumah Makan Sederhana in Tanjungpinang!

It was so simple and might not even sound tempting, but if there was any learning curve in life about how the look could be deceiving, this had to be the one! I was skeptical prior to my first bite, but I was a convert the moment I was done with my package of rice. Clearly satisfied that he was the one who introduced me to this life changing experience, Susanto reveled in his I-told-you-so moment.

I learnt later that Melda was actually one of the most popular joint for Nasi Padang in my hometown. As I grew to like it, I joined my Hotel Kartika colleagues whenever they opted for Nasi Padang (I think the name of the eatery was Darmias, but it no longer exists as it was burnt down during the fire incident). We always had the usual dishes, ie. the ones I named earlier plus others like perkedel (fried mashed potatoes), bakwan jagung (corn fritters) and fried or grilled chicken.

I thought that was it for Nasi Padang, but little did I know that my journey had just begun. It was when I moved to Jakarta that I got to know the real deal. I became aware of other menus such as fried beef lung, beef tendon and fish eggs. After that, I went for the national standard, Rumah Makan Sederhana, the franchise well-known for its irresistible green chilli and Ayam Pop (the light colored fried stewed chicken), and it became my favorite restaurant since then. By the way, sederhana means humble in Bahasa Indonesia, but when I got the bill, I often joked that the price was not humble at all, haha.

The dishes from the left: the beef tendon, the cassava leaves and the beef lung.
Location: Rumah Makan Sederhana, Kelapa Gading, Jakarta.

Nasi Padang is so popular and unique due to two main reasons. First, it has plenty of dishes that one can choose. If you count the menus I mentioned above, there are already 12 of them. There are still many more such as egg or prawn with gravy, beef jerky, fried fish, etc. The dishes have a rich taste as if they don't hold back in order to give you the best gourmet experience ever. Secondly, it is about how the food is presented. All the dishes are served until they fill up the whole table. I always love to see the reaction of the foreigners that come to a Padang restaurant for the first time, because they'll have this funny, confused look due to the unexpected element of surprise.

While we're still on this subject, another thing worth mentioning is when you ask for the bill. The waiter will come and note down what you have eaten, but sometimes the color of the gravy from different dishes can look pretty similar, so if you finish the whole dish, leaving only the gravy on the plates, only God knows whether the waiter actually lists down the correct dishes or not!

I always crave for Nasi Padang from time to time. In Singapore, Sari Ratu is the only restaurant that manages to achieve the quality that is almost as authentic as the one in Indonesia. However, when the temptation of having two plates of rice with my favorite dishes such as cassava leaves, green chilli, beef lung and tendon soaked on coconut milk curry was ever unbearable, that was when I would at least cross the sea and head to Batam. Oh yes, I would go the distance just for a taste of Indonesia...

All the happy faces, after the meal at Sari Ratu.

Nasi Padang

Ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar, ada dua tempat makan yang selalu menarik perhatian saya. Yang pertama adalah Rumah Makan Sahara yang selalu saya lewati sewaktu saya menuju sekolah dan yang satu lagi, yang selalu saya lintasi saat pulang sekolah, adalah Rumah Makan Barito. Dua tempat makan ini memiliki etalase yang unik dimana piring-piring diletakkan berjejer dan saling bertumpukan sehingga membentuk dua atau tiga baris piring. Saya baru memahami formasi piring yang aneh ini bertahun-tahun kemudian. Lucunya, sampai sekarang saya belum pernah mampir untuk bersantap di dua rumah makan ini. Mungkin ada baiknya saya ke sana untuk mengakhiri rasa penasaran saya. Akan tetapi inti dari cerita singkat ini adalah, karena saya tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka jual, selama 18 tahun pertama dalam hidup saya, saya melewatkan apa yang rasanya layak disebut sebagai makanan paling terkenal dari Indonesia.

Rumah Makan Sahara, Pontianak.
Source: Google Maps.

Saya pertama kali mencoba Nasi Padang karena diajak oleh teman yang juga satu grup musik dengan saya, Susanto Phang. Saat itu sudah cukup malam, mungkin sekitar jam 11 waktu Pontianak, seusai acara pesta perpisahan sekolah di kolam renang Oevang Oeray. Saya tidak makan malam karena agak gugup sebelum tampil (sewaktu pentas, kita memainkan lagu Oasis di panggung yang terletak di tempat duduk penonton di samping kolam). Susanto lantas membonceng saya ke Melda, tempat makan yang letaknya beberapa blok sebelum Rumah Makan Barito (aneh juga bahwa sebelumnya saya tidak pernah menyadari keberadaan cabang Melda ini, mungkin karena tempatnya yang kecil mungil). Di sana kita membeli apa yang tersisa dari masakan hari tersebut: sebungkus nasi dengan tahu, sedikit rendang, daun singkong dan kuah kari. 

Kelihatannya sangat sederhana dan bahkan mungkin tidak mengundang selera makan, tapi jika di dalam hidup ini ada proses pembelajaran tentang bagaimana penampilan bisa mengecoh, maka ini adalah salah satunya! Saya sangat merasa ragu sebelum makan, tapi setelah saya tuntaskan satu bungkus nasi tersebut, wawasan saya langsung terbuka. Susanto tersenyum puas karena dia berhasil menjadi orang yang memperkenalkan saya dengan satu pengalaman yang mengubah hidup.

Belakangan baru saya ketahui bahwa Melda termasuk tempat makan yang populer di Pontianak. Karena saya mulai menyukainya, saya turut serta apabila teman-teman kantor saya di Hotel Kartika memilih Nasi Padang sebagai menu makan siang (kita biasanya membeli di Darmias. Kalau tidak salah ingat, tempat makan ini sudah tidak ada lagi semenjak kebakaran). Selain menu yang saya sebutkan sebelumnya, kadang kita juga memesan perkedel, bakwan jagung dan ayam bakar atau goreng.

Saya mengira itu adalah semua menu yang tersedia untuk Nasi Padang, tapi ternyata perjalanan kuliner saya baru dimulai. Ketika saya pindah ke Jakarta, barulah saya menyadari, apa sebenarnya yang dinamakan Nasi Padang itu. Saya jadi tahu bahwa ada menu-menu lain seperti paru, kikil dan telur ikan. Setelah itu, saya mencoba standar nasional, Rumah Makan Sederhana, yang terkenal dengan cabe hijau dan ayam pop-nya. Rumah Makan Sederhana akhirnya menjadi restoran favorit saya. Menarik untuk dicatat, meski namanya adalah Rumah Makan Sederhana, setiap kali saya melihat tagihannya, saya biasa bercanda bahwa harga yang tertera tidak terlihat sederhana, haha.

Sajian makanan di Restoran Garuda, Kelapa Gading, Jakarta.

Kalau saya amati, Nasi Padang itu populer dan unik karena dua alasan utama. Pertama, banyaknya sayur dan lauk-pauk yang bisa dipilih. Jika anda menghitung menu yang sudah saya sebutkan di atas, itu saja sudah ada 12 macam masakan. Masih ada lagi yang lain seperti telur, udang, dendeng, ikan dan masih banyak lagi. Yang terpenting dari beraneka macam masakan ini adalah kualitas rasanya yang gurih dan lezat sehingga memberikan kepuasan dalam bersantap yang tiada tara. Yang kedua adalah tentang bagaimana Nasi Padang ini disajikan. Semua masakan ini digelar sampai penuh di atas meja. Saya selalu senang melihat reaksi orang asing yang datang restoran Padang untuk pertama kalinya, sebab mereka akan terperangah karena belum pernah melihat cara penyajian yang seperti ini. 

Selagi kita masih di topik penyajian makanan ini, satu hal unik yang pantas disebut di sini adalah ketika anda memanggil bon tagihan. Seorang pelayan akan datang dan mencatat apa yang sudah dimakan, tapi terkadang warna dari kuah kari untuk beberapa makanan yang berbeda itu terlihat sama, jadi jika anda menghabiskan makanan dan hanya menyisakan kuahnya di piring, hanya Tuhan yang tahu apakah pelayan tersebut menuliskan menu yang benar di catatannya!

Dari waktu ke waktu, di dalam diri saya selalu muncul rasa ingin menyantap Nasi Padang. Di Singapura, Sari Ratu adalah satu-satunya restoran yang berhasil mencapai kualitas yang hampir sama otentiknya dengan Nasi Padang di Indonesia. Akan tetapi, jika godaan untuk menikmati dua piring nasi dengan lauk daun singkong, cabe hijau, paru dan kikil yang disajikan dengan kuahnya sudah di ubun-ubun, saya biasanya tidak sungkan untuk menyeberang laut menuju Batam atau bahkan berkelana lebih jauh lagi. Oh ya, demi kenikmatan citra rasa Indonesia, tidak ada alasan untuk tidak pulang... 

Parno dan Ardian di Melda, Pontianak, 2014. 

Saturday, September 23, 2017

The Foreign Language

I often wrote bilingual articles lately, just to ensure that my fellow Indonesians had an option to read in our own language. Once I published one, I normally asked my wife if she had read it and if yes, which version, English or Bahasa Indonesia. She liked the English version better, citing the reason that my style in Bahasa was horrible, dated and awkward. 

That was one amusing feedback, really. Never realized that my Bahasa Indonesia writing skill had deteriorated that much. To think that it used to be the other way around. English was something that we had to learn, unlike Bahasa Indonesia that happened naturally and gradually as we grew up. Learning English was one hell of a chore and I hated it, so I always made lame excuses such as feeling sleepy or sick in order to skip the tuition class.

For the longest time, I practically learnt nothing thanks to my deliberate attempts to sabotage myself. Things changed when I watched the Beatles Anthology on TV in early 1996. I was impressed with the music and charmed by the way they spoke. It was an epiphany. For the first time ever, I felt like I wanted to be able to speak English like these four lads from Liverpool, too. In fact, I was so motivated that I actually went to register myself to a class that focused on conversation at Gajah Mada English course (that was the place where we sang MLTR's songs).

Despite the enthusiasm, I had an awful start. I still remember clearly how I couldn't tell the difference between campaign and champagne. I was a laughing stock, but I guess that was how it worked when you learnt something new. It was only natural that people laughed at our silly mistakes, but then they'd give us some useful pointers.

Ardian (middle), my sparing partner in English, with Jimmy (left) and Endrico (right) in Bali, 2005.

I also spent those nights listening to Rubber Soul album, writing down the lyrics as much as I could. This was the pre-internet era, so I couldn't just google it, but the pronunciation of John and Paul was actually quite clear that it helped. A little bit of advice here, don't ever start with Michael Jackson. As much as I loved Michael, the way he sang was like butchering the language! He also pronounced come on in a very weird way. 

As I gained more vocabularies, the next thing was to make good use of them. I was lucky that apart from the time I spent at the tuition centre, I had this friend called Ardian as a sparing partner. We practiced by communicating in English frequently.

Years later, when I came to Singapore, I realized that there was actually this thing called accent. Singlish has a heavy Hokkien influence, the East Java people often have the accent that reveals their origin, the French can't help adding z letter pronunciation on some words and so forth. Intimidating, eh? There were cases where it actually took some time for my ears to get used to somebody's accent and I would usually smile and nod along until I was attuned to the right frequency, haha. 

In the end, practice makes us better. I was a late starter in learning English, but with the combination of motivation and willingness to learn, I managed to catch up. In the world we're living in now, I think it is a basic necessity to be able to speak English and Chinese. But if a genius like Mark Zuckerberg still has a hard time getting the right intonation in speaking Chinese, perhaps we should start with English first...

PS: Please bear with my Bahasa Indonesia version as I'm working on it 😀

Bahasa Asing Itu...

Saya sering menulis artikel dalam dua bahasa belakangan ini, supaya para pembaca dari Indonesia bisa membaca dalam bahasa kita. Setelah merilis artikel terbaru, biasanya saya bertanya pada istri saya, versi mana yang dia baca. Ternyata dia lebih menyukai versi bahasa Inggris, alasannya karena bahasa Indonesia saya parah gayanya, ketinggalan zaman dan kaku.

Ini benar-benar masukan yang menarik. Saya tidak pernah menyangka kemampuan menulis saya dalam bahasa Indonesia sudah berkurang drastis, padahal dulunya itu kebalikan dari apa yang terjadi saat ini. Bahasa Inggris adalah sesuatu yang harus saya pelajari, sedangkan bahasa Indonesia bagaikan dikuasai begitu saja secara alami dari sejak kecil. Bagi saya, belajar bahasa Inggris itu seperti tugas berat dan saya tidak menyukainya. Saya sering beralasan sakit atau ngantuk hanya untuk membolos kursus bahasa Inggris dulu.

Dari SD kelas tiga sampai awal SMA kelas satu, boleh dikatakan saya tidak belajar apa-apa meskipun kursus di sana-sini. Situasi ini baru berubah setelah saya menyaksikan the Beatles Anthology yang ditayangkan di RCTI tahun 1996. Saya terkesan dengan musik mereka yang sederhana tapi enak di telinga dan juga gaya bicara mereka. Tontonan selama tiga malam berturut-turut itu tak ubahnya seperti pencerahan bagi saya. Untuk pertama kalinya saya ingin bisa berbicara bahasa Inggris seperti mereka. Saya sungguh termotivasi dan akhirnya pergi mendaftar sendiri di kursus bahasa Inggris Gajah Mada, kursus yang fokus pada percakapan (ingat artikel sebelumnya, dimana kita sering menyanyikan lagu MLTR? Ini tempatnya).

Walaupun antusias, itu tidak berarti semuanya berjalan mulus. Di hari pertama kursus, saya bahkan tidak bisa membedakan kata campaign dan champagne. Saya menjadi bahan tertawaan, tapi saya kira itu adalah bagian dari pembelajaran. Lumrah saja bila orang lain menertawakan kesalahan kita yang konyol, tapi selanjutnya mereka akan memberitahukan di mana letak kesalahan kita.

Saya juga ingat tentang setiap malam yang saya habiskan dengan mendengar album Rubber Soul dan menuliskan lirik lagu saya dengar. Lafal dan ucapan John dan Paul cukup jelas sehingga cocok untuk latihan. Sedikit nasehat buat anda jika ingin menggunakan metode yang sama, jangan mulai dengan lagu Michael Jackson. Saya juga penggemar Michael, tapi caranya menyanyi membuat lirik lagunya tidak jelas sama sekali!

Setelah saya mulai mengenal banyak kata, berikutnya adalah melatih cara penggunaannya. Waktu kursus sangat terbatas, namun saya beruntung karena memiliki teman baik yang memiliki minat yang sama. Sewaktu kuliah, saya berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan Ardian hampir di setiap kesempatan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya datang ke Singapura, saya baru menyadari bahwa ada yang namanya aksen. Singlish sangat dipengaruhi oleh bahasa Hokkien, orang Jawa Timur cenderung mempunyai aksen yang medok sehingga gampang ditebak, orang Perancis sering menggunakan bunyi huruf z karena aksen Perancisnya dan masih banyak lagi. Terkadang, selagi saya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan aksen lawan bicara, saya biasanya tersenyum dan mengangguk saat mendengarkan apa yang ia katakan, haha. 

Pada akhirnya, berlatih secara rutin tentu saja membuat kita lebih mahir dari sebelumnya. Saya sebenarnya tergolong terlambat dalam belajar bahasa Inggris, tapi karena adanya motivasi dan keinginan, saya bisa mengejar ketertinggalan saya. Di era globalisasi ini, saya rasa bahasa Inggris dan Mandarin adalah keperluan mendasar, karena itu sebaiknya kita juga belajar. Akan tetapi, jika seorang jenius seperti Mark Zuckerberg pun masih kesulitan dalam intonasi bahasa Mandarin, mungkin sebaiknya kita mulai dari bahasa Inggris dulu...

NB: Harap sabar dengan versi Bahasa Indonesia saya, sedang diupayakan supaya menjadi lebih baik lagi 😀

Ardian di siomay Acin, Pontianak, 2004.

Thursday, September 21, 2017

The Band That Learns To Rock

I played 25: The Complete Singles by Michael Learns to Rock (MLTR) quite often lately. Getting old and feeling nostalgic, perhaps, but they did bring back a lot of memories from 20 years ago (yes, that was how old some of the songs were). Good songs, good moments, good band.

25: The Complete Singles.

Growing up in Pontianak, I first heard of MLTR at, of all places, an English tuition centre called Longman. The song was Sleeping Child and we were expected to listen to the lyrics and fill in the blanks. I wasn't very into music back then and I thought the song title was rather odd, but I also remember enjoying the song as it was catchy. 

As I grew older, the band was getting more popular as well. Their biggest hit then was, of course, That's Why (You Go Away). Everybody knew that song. Even a friend of mine, who was tone deaf and barely able to sing, resorted to this song when he had to perform something during the art exam. It didn't help, though. It was more like a poem recital than a proper singing, causing the whole class to burst into laughter, haha.

That unfortunate event aside, by now, MLTR was so big that they were virtually everywhere in our lives. Even the usual suspect that I often went to Orbit Wonderland with said that 25 Minutes was his favorite song. He disliked English lesson, but even he couldn't resist the charm of MLTR! As for me, I remember riding my bike to a cassette shop nearby the traffic light to buy my first ever MLTR's album: Paint My Love - Greatest Hits.

I just learnt recently that the album was exclusively released in Asia (and South Africa) only. Looking back, it was quite amazing that they actually had so many hits in Asia within the span of three albums. Back in the 90s, there were either rock bands or boy bands, but MLTR was like the amalgamation of both. They had a rock band setup but performed pop songs that were normally done by boy bands. A friend of mine who was into Green Day told me that MLTR was almost non-existent in the USA. I couldn't believe him then, but in retrospect, he was right. MLTR's songs were often slow, with nice music and simple lyrics about love. This could be the reason why we, the Pontianak people with poor command of English, could relate with them.

Paint My Love - Greatest Hits was, in a way, the highlight of MLTR's career. It was like the coolest thing ever at that time. Not only we owned the album, but in my case, I also learnt English from singing the songs. Few years after Sleeping Child, I switched to a tuition centre that focused more on English conversation skill. It had a karaoke session, too, which we liked, and the songs from that greatest hits album were always featured. The teacher would play the Laser Disc version of it, where the songs would come with music video and lyrics for us to sing them to our hearts' content.

I'm Gonna Be Around, another favorite, was released afterwards. Few years later, I remember watching the music video of Strange Foreign Beauty. A fellow college student that I knew since high school suggested to me that I should try listening to Blue Night, another hit song. Then Take Me to Your Heart, a cover version of a Chinese song, came along. That was the last MLTR's song that I ever heard and I stopped following their music anymore since then.

But the good times lingered. When MLTR came to Singapore as part of their Eternity tour in 2009, I attended the concert with my friend, expecting a good time there. True enough, it was very entertaining. I mean, since we knew almost all the songs, we could actually sing along. MLTR wasted no time by opening the show with Sleeping Child, which was impressive, because that was one of their biggest hits. Jascha Richter was a brilliant performer, very humble and communicative, he told us stories behind the songs. I also remember the encore, as the concert wouldn't be complete without That’s Why (You Go Away). Overall, it was a fantastic experience.

Fast forward to present day, on one occasion, as the song was playing, I told my five years old daughter about a man that was 25 minutes too late in finding his girlfriend. Since then, I noticed that she also made an effort to sing along, especially during 25 Minutes or Out of the Blue. What made it more interesting was, she also did the same for Complicated Heart, my personal favorite. Coincidence? I don't know, really. But I do know that I like the moments when we, the father and his daughter, sang those old songs from my time together. I mean, how often in life you actually get a chance to do exactly that? Pretty rare, I reckon, and it's priceless..

Grup Yang Belajar Bermain Musik

Saya sering memutar album 25: The Complete Singles dari Michael Learns to Rock belakangan ini, mungkin saja karena kian berumur dan jadinya ingin bernostalgia. Lagu-lagu ini membuat saya teringat lagi dengan kenangan yang terjadi dua dekade yang lalu (oh ya, lagu MLTR rata-rata sudah berumur 20 tahun). Lagu bagus, kenangan yang indah dan grup yang tak bisa disangkal bakatnya.

Sebagai remaja di Pontianak, dari berbagai tempat yang memungkinkan, saya justru pertama kali mendengarkan lagu MLTR di tempat kursus bahasa Inggris bernama Longman. Kala itu gurunya memutar Sleeping Child dan kita harus mendengarkan liriknya dan mengisi bagian yang kosong. Ketika itu, musik bukan bagian yang penting dari hidup saya dan saya juga tidak mengerti kenapa judul lagunya agak aneh, tapi saya menikmati lagunya.

Seiring dengan bertambahnya usia penggemarnya, MLTR juga bertambah populer. Lagu yang paling terkenal saat itu adalah That's Why (You Go Away). Semua orang tahu lagu tersebut. Bahkan teman saya yang tidak berbakat musik pun nekat menyanyikan lagu ini saat ujian seni. Hasilnya terdengar lebih seperti membaca puisi daripada menyanyi, sehingga satu kelas pun tertawa, haha.

Meski gagal dalam menyelamatkan teman saya, MLTR semakin terkenal. Bahkan satu teman saya yang biasanya tidak menyukai pelajaran bahasa Inggris pun menggemari MLTR dan lagu favoritnya adalah 25 Minutes. Bagi saya sendiri, saya ingat betul saat dimana saya mengayuh sepeda ke toko kaset di dekat persimpangan lampu merah di Jalan Gajah Mada untuk membeli album MLTR pertama saya: Paint My Love - Greatest Hits.

Saya baru mengetahui bahwa album ini ternyata dirilis secara eksklusif hanya di Asia (dan Afrika Selatan). Kalau dilihat kembali, rasanya sangat mengagumkan bahwa MLTR bisa memiliki begitu banyak lagu hits dalam rentang tiga album. Di blantika musik tahun 90an, yang namanya grup itu, kalau bukan rock band, berarti termasuk kategori boy band. Ini yang membuat MLTR berbeda, sebab mereka memiliki formasi rock band, namun membawakan lagu-lagu pop yang biasanya dinyanyikan boy band. Saat seorang teman bercerita kepada saya bahwa MLTR nyaris tidak terdengar di Amerika, saya merasa sulit untuk percaya, tapi pendapatnya itu benar adanya. Lagu-lagu MLTR biasanya memiliki irama musik yang mendayu-dayu dan lirik yang sederhana tentang cinta. Ini mungkin salah satu alasan kenapa kebanyakan orang Pontianak, yang cenderung pas-pasan bahasa Inggrisnya, menyukai MLTR.

Konser di Singapura, 2009.

Boleh dikatakan bahwa adalah Paint My Love - Greatest Hits adalah puncak dari karir MLTR, setidaknya di Pontianak. Bagi saya pribadi, album tersebut bukan saja sekedar kompilasi dari lagu-lagu terbaik mereka, tapi juga merupakan bagian dari proses pembelajaran saya dalam menguasai bahasa Inggris. Beberapa tahun setelah Sleeping Child, saya pindah ke kursus bahasa Inggris Gajah Mada yang lebih fokus dalam percakapan. Sebagai bagian dari latihan, kita terkadang memiliki sesi karaoke dan lagu-lagu yang ada di album ini seringkali dinyanyikan.

Paint My Love digantikan oleh lagu hit berikutnya, I'm Gonna Be Around. Selang beberapa tahun kemudian, saya menonton Strange Foreign Beauty di MTV. Setelah itu, lagu Blue Night direkomendasikan oleh seorang teman kuliah yang saya kenal sejak SMA. Take Me to Your Heart menjadi lagu MLTR yang terakhir saya dengar dan semenjak itu, saya berhenti mengikuti karir mereka.

Kendati begitu, lagu-lagu mereka tetap terngiang di benak saya. Ketika MLTR datang ke Singapura dalam rangka tur Eternity di tahun 2009, saya menghadiri konsernya bersama seorang teman. Konser ini sangat menghibur, persis seperti yang saya harapkan. Karena kita tahu hampir semua lagu MLTR, kita bisa bernyanyi sepanjang konser. Sebagai grup, MLTR juga tampil memukau. Mereka membuka konser langsung dengan Sleeping Child yang merupakan salah satu lagu terbaik mereka. Jascha Richter juga pintar berinteraksi dengan penonton melalui berbagai cerita tentang lagu dan pengalamannya selama tur keliling Asia. Dan tentu saja konser MLTR tidak akan lengkap tanpa lagu That’s Why (You Go Away), jadi mereka kembali ke panggung untuk encore. Secara keseluruhan, sungguh pengalaman konser yang luar biasa.

Kembali ke masa kini, pada suatu kesempatan, sewaktu lagunya sedang melantun, saya bercerita kepada putri saya yang berumur lima tahun bahwa lagu ini bercerita tentang seorang pria yang terlambat 25 menit dalam menghampiri kekasihnya. Sejak saat itu, saya perhatikan bahwa dia juga terkadang turut serta menyanyikan lagu 25 Minutes atau Out of the Blue. Yang lebih menarik lagi, dia juga suka menyanyikan lagu Complicated Heart yang merupakan lagu favorit saya. Hanya kebetulan? Saya tidak tahu, tapi yang penting adalah saya tahu bahwa saya menyukai saat-saat kami, ayah dan anak, bersama-sama menyanyikan lagu-lagu dari zaman saya. Seberapa sering kiranya itu terjadi dalam hidup? Cukup jarang, saya kira, dan saya merasa beruntung karena mengalaminya...

Hari ketika kita menghadiri konser MLTR!
Sumber: Facebook, Jimmy Lim

Monday, September 18, 2017

The Dancer

When I wrote about the musicals, I mentioned that the culture of Pontianak people mainly evolved around local cuisines. Anything else was either secondary or unheard of, therefore I was curious about how this friend of mine ended up doing something as exotic as belly dancing. I mean, it was a tradition from Middle East, a land faraway from Pontianak, where it had names that sounded as alien as they could be, such as Raqs Baladi or Raqs Sharqi. How on earth that my friend Lianna became a belly dancer?

I had a chat with her and was informed that she has always been passionate about dancing. She loved it since she was very young and when she was in kindergarten, she performed with fellow students Wiwi and Lilies at the church. They dressed up as white flowers and did a dance with butterfly theme. Years later, she also participated in the high school graduation party. Things were quiet down afterwards, especially when marriage and kids came along, but her lifelong passion kept burning inside. Then one fine day, when she could already afford me-time, the long lost rhythm found her again.

It started as another day in Kuching, the city where she lived in. Lianna was at a gathering with friends when one of them responded to the music with some interesting move that attracted her attention. "It was called shoulder shimmy," said her friend when she asked, "one of the moves in belly dancing." This eventually led her to a free trial class, to a dance studio called Right Steps and left her with excruciating hip pain when she woke up the next day. Nevertheless, the excitement lingered. She would come back for more to learn belly dancing.

The belly dancer.

For Lianna, belly dancing as an exercise helped to shape her body and relieve stress. It also built up her confidence. With revealing costumes and what perceived as seductive moves, belly dancing was easily misunderstood. People often forgot that it was an art form with punishing moves of shoulder thrusting and hip shaking. It took a lot of hard work to master a series of breathing techniques, steps and moves such as hip shimmy, undulation or chest slide (go check it out on YouTube and tell me what you think, because I did exactly that and immediately gave up just by watching it). For the fact that she could do that difficult moves, she had all the rights to be confident.

People progressed when they did the things they liked, because the hobbies didn't feel like chores. In Lianna's case, she practiced her dance routinely. She even did it at home, in front of the mirror of her dressing table. She entered a competition or two afterwards. The first time she did that, she was so nervous that she was even struggling to smile naturally before the audience. She got better, of course. She also joined another competition in KL, this time with a group called Hidden Spirit. Other highlights of her career included the mother and daughter performance. Yes, her daughter began practicing when she was six years old and few years later, she rocked the stage with her mother!

It's been six years since Lianna first took up her lesson. She is now a co-instructor at Soul Dance Studio, teaching level two for adults and kids (by the way, just for our information here, the masculine form of belly dancing actually exists for men). Meanwhile, the landscape in Kuching is changing slowly. It is better than few years ago, but it is still long way to go for belly dancing to be fully appreciated as an art form. It's worse in Pontianak, her hometown, where she performed once before to a lukewarm reception. Belly dancing is still something that is frowned upon in Pontianak and Kuching, but Lianna is feeling optimistic that the next generation should be able to accept it. While waiting for the day to come, she'll carry on dancing, pursuing her lifelong passion...

Performing on stage.

Sang Penari 

Ketika saya menulis tentang drama musikal, saya menyinggung tentang budaya Pontianak yang tidak jauh dari makanan lokal, seakan-akan hal lain adalah nomor dua atau bahkan tidak pernah terdengar sama sekali. Oleh karena itu, saya sungguh penasaran, bagaimana teman sekolah saya yang satu ini bisa ikut serta dalam tari perut yang eksotis? Ini 'kan tradisi Timur Tengah, tempat yang jauh sekali dari Pontianak, dimana tarian ini memiliki berbagai nama yang asing bagi telinga kita, seperti Raqs Baladi atau Raqs Sharqi. Bagaimana ceritanya teman saya Lianna bisa menjadi penari perut?

Saya lantas chatting dengannya dan baru saya ketahui bahwa dari dulu dia memang senang menari. Dia menggemari hobi ini dari sejak kecil dan sewaktu di TK, dia pernah tampil bersama di gereja bersama Wiwi dan Lilies, teman-teman sekolahnya. Di kala itu, mereka mengenakan kostum bunga dan membawakan tarian bertajuk kupu-kupu. Bertahun-tahun kemudian, Lianna juga berpartisipasi dalam pesta perpisahan SMA. Aktivitas yang ia sukai ini bagaikan berakhir setelah ia memulai kehidupan di Kuching dan sibuk dengan pernikahan serta anak-anak. Kendati begitu, keinginan untuk menari tidak pernah sirna dari dalam hatinya. Suatu ketika, setelah terbiasa dengan perannya sebagai seorang istri dan ibu sehingga bisa menyisihkan waktu luang untuk dirinya sendiri, ia menemukan kembali sesuatu yang hilang dalam hidupnya. 

Semuanya bermula seperti layaknya hari biasa di Kuching, tempat dimana Lianna tinggal dan berumah tangga sekarang. Dia sedang berkumpul dengan teman-temannya ketika salah satu dari mereka tiba-tiba melakukan satu gerakan bahu mengikuti irama musik. Hal ini menarik perhatiannya dan ia lalu bertanya. "Ini namanya shoulder shimmy," jawab temannya, "salah satu gerakan dalam tari perut." Percakapan ini lantas berlanjut dengan satu kelas uji coba gratis dan juga membawanya sanggar tari bernama Right Steps serta menyisakan pinggang yang pegal keesokan harinya. Namun Lianna menyukainya. Dari situlah ia mulai menekuni tari perut. 

Bagi Lianna, tari perut adalah olahraga yang bermanfaat dalam membentuk badan dan menghilangkan stress. Aktivitas ini juga memberikan rasa percaya. Memang, dikarenakan oleh kostum yang terbuka dan gerak tari yang  gampang disalahpahami sebagai gerakan menggoda, banyak orang awam yang gagal paham tentang tari perut. Seringkali orang lupa bahwa tari perut adalah seni dalam wujud tarian rumit yang mengandalkan gerakan bahu dan pinggul. Sang penari perlu berlatih keras untuk menguasai pernapasan, langkah dan gerakan tari perut seperti hip shimmy, undulation atau chest slide (coba liat di YouTube dan baru berikan komentar sesudah itu, karena saya sendiri sudah cek dan langsung menyerah begitu menyaksikan gerakan-gerakan tersebut). Masuk akal rasanya bila Lianna tambah percaya diri karena kemampuannya dalam menari.

Orang cenderung lebih cepat maju dalam bidang yang mereka sukai, sebab tidak terasa seperti pekerjaan. Sama halnya dengan Lianna, dia berlatih secara rutin karena berminat. Dia bahkan berlatih di rumah, di depan meja rias, untuk memperhatikan pantulan gerakannya. Setelah mantap, dia pun ikut serta dalam kompetisi. Pertama kali dia berlomba, dia bahkan perlu berjuang untuk tersenyum secara alami karena terlampau gugup. Lama-kelamaan Lianna pun terbiasa. Dia juga pernah turut berpartisipasi dalam lomba di Kuala Lumpur, kali ini bersama grup yang bernama Hidden Spirit. Kenangan lain dalam tampil di atas panggung adalah saat ia pentas bersama putrinya. Ya, putrinya mulai berlatih saat umur enam tahun dan beberapa tahun kemudian, ia menari di depan penonton bersama ibunya!

Tidak terasa sudah enam tahun berlalu sejak Lianna mulai berkecimpung dalam seni tari perut. Sekarang dia adalah salah satu instruktur di Soul Dance Studio, membimbing baik dewasa maupun anak-anak dalam level dua tari perut. Sementara itu, dunia tari perut pun perlahan-lahan berubah. Di Kuching, seni ini mulai mendapat tanggapan yang lebih baik, walau mungkin masih butuh waktu lama sebelum tari perut dianggap sebagai bagian dari budaya dan hiburan lokal. Di Pontianak, tempat kelahirannya sekaligus tempat dimana dia pernah tampil sekali di hadapan publik, masih belum siap untuk menerima seni ini. Singkat kata, tari perut bisa dikatakan masih membuat banyak orang berkerut dahi karena terlalu seksi untuk dikonsumsi massa, namun Lianna percaya bahwa generasi muda akan lebih bersikap positif dan menerima. Sambil menunggu tibanya hari tersebut, Lianna akan tetap menari, mengikuti kata hati dan hobinya...

Sang Penari.

Friday, September 15, 2017

The Man Without Fear

I've known Jimmy for easily three decades. We were friends since primary school or perhaps earlier than that. We were never that close, but when we kept in touch, it always felt like we just saw each other yesterday.

Jimmy was always the odd one out, but in a very positive way. When we were kids, he stood out among the rest of us as this charming, small size kid. He was always true to his words and had a strong moral compass, but never an uptight person. Skinny though he was, bullies feared him and we admired him.

We crossed path in many stages of life. When we were kids, Jimmy walked out after a racial slur and we followed him immediately. In retrospect, it was rather cool. We were still so young then, growing up in a place where discrimination was rampant, and here was one boy who knew he didn't have to take no shit when insulted and underestimated by this non-Chinese boy. He was brave enough to stand up against it. Hell, it was actually a miracle that he didn't beat him there and then.

My first lesson about karma involved Jimmy as well. Though we weren't in the same secondary school, I took the English course in a tuition centre opened by his elder brother. One day, when I stepped out from the building (that was actually his house), there Jimmy and his bicycle were, on a dry patch of a dirty ditch. I proceeded to make fun of him, but I tripped and soon fell into the blackish and smelly water. Instant Karma! So who had the last laugh?

From the left: Rudy, Jimmy, Setia, Endrico and Yours Truly. 

As we grew up, we again went to the same school. During the last year in high school, we were in the same class. We used to go for siew mai at night and we had this unforgettable Temajoh trip together, alright, but what impressed me the most was how well his school results were. Jimmy always struck me as a street-smart kind of student, not the academically inclined, but I seem to recall that he had this conversation with one of the teachers and was challenged to do better. That was when he made a leap that surprised everybody, especially me, because he did it better than me, a top ten student! I was really humbled by the experience.

We parted ways after graduation, but I heard about him from time to time through our mutual friend, Endrico. He beat the hell out of a black belt in Kuching during his college days. He gambled all his money that was meant for his college fund. He ran away only to realize that he couldn't run away from himself, so he went back to face his elder brother and repent. He started over since then, built his business and got married. Then we got reacquainted again in 2013, when we visited Surabaya. He was the same old friend, a very easy going one, and he immediately brought us to Malang and Batu, even though his baby was only few days old then, haha. Oh, it was also during this trip that we learnt about his death-defying act: he won a bet by jumping into a crocodile farm in Kuching!

Jimmy and I grew closer again after Whatsapp came into existence, allowing us to have the alumni chat group. He would say his piece of mind that might sound arrogant to those who didn't know him well. But trust me, he was like one of the nicest weird guy around. The chatting platform was not built to convey the emotion properly, so inarticulate people would sound ruthless sometimes due to the poor choices of words.

Recently he approached me for some IT matter. He was doing some freight transportation business and was keen to have a website. After recruiting Setia for an extra pair of hands and brain, we explored Shopify and decided to go with it because Jimmy might bring his business online one day (although, on the second thought, we may need to move it to for cost saving reason until he's ready to go online). The two of us then worked on Jimmy's simple requirement. I had no idea why Setia chose that particular theme, but I liked the clean look that reminded me of After two years, the owner decided to shut it down, haha.

Anyway, Jimmy once said that if all friends, each with our own special skill, can work together and help each other, imagine what sort of business we can do. I only smiled when I heard that. I thought it was a utopian dream for an ideal world, because in reality, with so much egos in the room, we would have been busy killing each other before we ever achieved anything. But I was wrong and he was right. With the right mindset and integrity, indeed we could make things work. The way I look at it, he got his website and and we had a chance or two to try out something new. I also learnt that in life, if we can set aside our differences as well as be sincere and committed without asking anything in return, life itself will bring you to an uncharted territory through a rewarding experience...

A night at the race in Batu, 2013.

Pria Pemberani Bernama Jimmy

Saya sudah kenal Jimmy tiga puluh tahun lamanya. Kita berteman sejak SD atau mungkin bahkan sejak TK. Sebagai teman, kita tidak pernah terlalu akrab, tapi setiap kali berkumpul lagi, rasanya seperti baru bertemu kemarin.

Jimmy memiliki karakter yang aneh, tapi dalam arti positif. Ketika kita masih kanak-kanak, dia sudah berbeda sendiri. Dia jujur dalam berkata dan memiliki pandangan moral yang tegas, tapi luwes dalam menghadapi orang. Walau kurus dan tergolong kecil, dia disegani anak-anak nakal dan dikagumi oleh kita yang tipe pelajar.

Jimmy dan saya berulang kali berpapasan dalam berbagai jenjang kehidupan. Sewaktu SD, dia pernah meninggalkan suatu acara karena tidak terima dengan perlakuan berbau SARA. Saya dan seorang teman pun mengikutinya. Kalau dipikirkan lagi, itu sungguh pengalaman yang unik. Kita masih sangat muda ketika itu dan tumbuh di lingkungan yang sangat diskriminatif terhadap Tionghoa, namun bocah yang satu ini sejak dini sudah menyadari bahwa dia tidak harus menerima perlakuan yang menghina dan semena-mena dari anak non-Tionghoa. Dia juga berani menentang semua ini. Sungguh keajaiban bahwa dia bisa menahan diri untuk tidak menghajar anak yang membuat masalah itu.

Pelajaran saya yang pertama tentang karma juga melibatkan Jimmy. Walau kita tidak bersekolah di SMP yang sama, saya kursus bahasa Inggris di tempat kursus yang dibuka oleh abangnya. Suatu hari, saat saya melangkah keluar dari rumah Jimmy, saya melihatnya sedang berusaha mengeluarkan sepedanya dari tanah kering di parit. Karena memang watak saya yang iseng, saya tertawa dan mulai mengejeknya. Akan tetapi saya tidak melihat ke mana saya melangkah, akibatnya saya tersandung dan jatuh sendiri ke dalam parit yang berair hitam dan berbau busuk. Jadi siapa yang tertawa paling akhir?

Di Selecta, 2013.
From the left: Yours Truly, Alfan, Setia and Jimmy.

Di masa SMA, sekali lagi kita memasuki sekolah yang sama. Kita bahkan sekelas di kelas tiga. Kadang kita pergi makan malam bersama, masing-masing menyantap semangkok bakso dan sepuluh atau dua puluh biji siomai Acin. Kita juga bertualang bersama ke pulau Temajoh yang tidak terlupakan. Kendati begitu, jika ada satu hal yang betul-betul membuat saya terkesan tentang Jimmy di masa SMA ini adalah hasil ujian akhirnya. Saya selalu mengira bahwa Jimmy adalah tipe murid yang selalu bisa meloloskan diri dari masalah, tetapi biasa-biasa saja dalam segi pendidikan. Kalau saya tidak salah ingat, sepertinya waktu itu dia pernah berbincang dengan seorang guru yang menantangnya untuk berprestasi dan ia akhirnya membuktikan pada banyak orang kalau dia juga bisa. Saya adalah salah satu dari teman yang paling terkejut, sebab hasilnya jauh lebih baik dari saya yang biasanya masuk sepuluh besar. Singkat kata, saat lulus, nilai saya lebih rendah darinya. Sungguh pengalaman yang membuka mata saya. 

Kita berpisah jalan setelah lulus, tapi saya selalu mendengar berbagai kisah tentang Jimmy dari teman saya Endrico, misalnya tentang bagaimana dia menghajar seorang pemegang ban hitam yang menganggap remeh dirinya. Bertahun-tahun kemudian, sewaktu kita bertemu di Jakarta, Jimmy juga bercerita bagaimana dia menghabiskan uang sekolahnya di meja taruhan, lalu melarikan diri karena merasa bersalah. Namun ia sadar ia tidak bisa berlari terus dan akhirnya kembali menemui abangnya untuk mengaku salah. Dari situ dia memulai kembali dari awal sampai berhasil membangun usahanya dan menikah. Kita bertemu lagi di tahun 2013, ketika kita mengunjunginya di Surabaya. Dia masih sama seperti dulu, santai pembawaannya, dan dia membawa kita ke Malang dan Batu walaupun bayinya baru berusia beberapa hari, haha. Oh, pada kesempatan yang sama ini pula kita mendengar tentang aksi berani matinya: dia pernah memenangkan taruhan dengan cara melompat ke kandang buaya di Kuching!

Saya dan Jimmy mulai berkomunikasi lagi sejak era Whatsapp, dimana kita semua tergabung dalam grup alumni. Di grup ini dia kadang berkata apa adanya sehingga mungkin terkesan angkuh bagi yang tidak begitu mengenalnya. Kalau ada yang berpikir seperti itu, saya bisa bersaksi bahwa dia adalah salah satu orang aneh yang paling baik karakternya. Aplikasi chatting itu tidak dibuat untuk menyampaikan emosi seseorang dengan tepat, jadi kalau kebetulan orang tersebut memang tidak terlalu mahir dalam menulis, bisa ketus dan sombong kesannya.

Suatu ketika Jimmy bertanya kepada saya tentang perihal IT. Dia menekuni bisnis pengiriman barang dan tertarik untuk memiliki situs di internet. Setelah kita merekrut Setia yang lebih jago, kita mencoba Shopify dan akhirnya menggunakan fasilitas ini karena Jimmy memiliki rencana untuk mengerjakan bisnisnya secara online suatu hari nanti. Kita berdua lantas bekerja membuat situs berdasarkan permintaan Jimmy. Setia membuat kerangka dengan tema yang polos dan mengingatkan saya tentang tampilan yang minimalis dan putih. Setelah dua tahun, situs ini pun ditutup oleh pemiliknya, haha.

Jimmy pernah berkata bahwa jika semua teman, masing-masing dengan kemampuannya tersendiri, mau bekerja sama dan membantu satu sama lain, bayangkan hasil yang bisa dicapai. Saya hanya tersenyum saat mendengarkannya, sebab saya berpikir bahwa itu impian yang muluk. Yang saya bayangkan justru realitanya, dengan ego masing-masing, mungkin kita akan sibuk memaksakan ide satu sama lain tanpa pernah mencapai apa pun. Tapi saya salah dan dia benar. Dengan pola pikir yang tepat dan integritas, ternyata benar bahwa kita bisa mengerjakan sesuatu yang saling menguntungkan. Dalam contoh ini, Jimmy berhasil mendapatkan situsnya dan kita berhasil memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari teknologi yang baru. Yang lebih penting lagi, saya belajar bahwa jika kita bisa mengesampingkan perbedaan kita dan mengerjakan sesuatu dengan tulus, hidup akan membawa kita mencapai sesuatu yang baru...

Jimmy dan Endrico di Hotel Harris Malang, 2013.