Total Pageviews


Saturday, March 30, 2024

The Privileges

I received a call when I was on a shuttle bus to River Wonders yesterday. The caller knew I stayed at Intercon during my recent trip to Bandung, so she'd like to share with me about the privileges I'd have if I signed up for the IHG membership. As I listened to the lady talking passionately, I zoned out gradually. At the end of the conversation, I thanked her and declined the offer politely. As I hung up, I pondered a while over the idea of complicating life which the so-called privileges. 

Those perks in life, they always sound so promising. But do I really need them? Do I bother keeping track of those benefits that I may or may not use at all throughout the year? Why on earth do I want to sign up for something that gets me busier and forces me to plan something just because I have paid for it upfront? Most importantly, am I not already happy now, even without having the privileges?

Then the thought led me to the moment with my friend Eday at the sake bar in Tokyo last year. I remember him saying one thing that was oblivious to me all this while. As I praised a friend of ours, Eday said I shouldn't sell myself short. He pointed out that growing up, I always had quite a freedom and before I got married, I was pretty much always on my own. I could have taken the wrong turn and gone astray, but yet I managed to stay on track and became who I am today.

Looking back, I don't always know what I want, but I subconsciously know what I don't need. I had been wearing the same Seiko watches since 2008. For the longest time, when the majority were divided between iPhone or Samsung, I was happily using BlackBerry. When people opt for Xbox or Sony Playstation, I stick with Nintendo. Unnecessary privileges can be confusing and become a burden you don't need, therefore the innate ability to say no to them is a blessing to me.

But it's important to highlight that it's no harm listening to what people have to say, though. We can't possibly know everything. There are times when what people say is probably what you need to hear. For example, I'm neither smart or wise when it comes to financial matters, but from to time, I do benefit from those that are willing to share. Thanks to Franky, I had a good deal when I did my HDB refinancing. Stuff like SRS and T-bills were also things I learnt along the way from listening to other people's ideas.

I guess we don't always have to be the smartest one in the room or the one who talks all the time. It's fine to sit back and listen to what others have to offer sometimes, just like what I did when I listened to the lady. Problems arise only when you don't have the filter mechanism. You'd think it's a privilege until you realise you actually have to pay the price. If that's not something you are prepared to do, then probably you don't need the privileges at all. Think again.

Intercontinental Bandung, an IHG hotel.

Hak Istimewa

Kemarin saya menerima telepon saat dalam perjalanan ke River Wonders bersama keluarga. Yang menelepon tahu bahwa saya menginap di Intercontinental saat ke Bandung baru-baru ini, jadi dia ingin memberitahukan lebih lanjut hak-hak istimewa yang bisa saya dapatkan bila saya mendaftar sebagai anggota IHG. Saat mendengar penjelasannya, perlahan-lahan saya jadi melamun. Di akhir pembicaraan, saya berterima kasih dan menolak tawarannya dengan sopan. Setelah itu saya jadi merenung sejenak, apa gunanya membuat hidup menjadi lebih rumit dengan hak-hak istimewa seperti ini. 

Semua keistimewaan yang terlihat menjanjikan ini, apakah benar saya memerlukannya? Relakah saya untuk mengingat dan memantau durasinya? Apakah ada alasan yang kuat bagi saya untuk berlangganan sesuatu yang membuat saya tambah sibuk dan akhirnya harus membuat aneka rencana supaya hak istimewa yang sudah saya bayar itu terpakai? Yang lebih penting lagi, bukankah saya sudah gembira sekarang, meski saya tidak memiliki hak-hak istimewa tersebut? 

Apa yang terlintas di benak saya itu lantas membawa saya kembali ke saat bersama teman saya Eday di bar sake Tokyo tahun lalu. Di kala itu dia mengucapkan sesuatu yang tidak pernah saya sadari sebelumnya. Sewaktu saya memuji seorang teman kita, Eday berkata bahwa hendaknya saya tidak melupakan apa yang sudah saya sendiri lewati. Dia mengingatkan saya kembali bahwa selama ini saya tergolong memiliki kebebasan dan sebelum menikah, boleh dikatakan pula saya hidup seorang diri. Saya bisa saja salah jalan dan terjerumus, namun saya bisa tetap berada di jalur yang lurus dan menjadi diri saya sekarang. 

Kalau saya lihat kembali, saya tidak selalu tahu apa yang saya mau, tapi di bawah sadar, saya tahu apa yang tidak saya perlukan. Saya memakai jam Seiko sejak tahun 2008. Ketika mayoritas pengguna telepon genggam terbagi antara iPhone dan Samsung, saya bahagia dengan BlackBerry di tangan. Tatkala orang-orang melirik Xbox atau Sony Playstation, saya senantiasa setia dengan Nintendo. Intinya adalah, hak-hak istimewa yang sebenarnya tidak perlu itu bisa terasa membingungkan dan menjadi beban yang tidak diperlukan, jadi kemampuan terpendam untuk mengatakan tidak pada hak-hak istimewa yang ditawarkan ini adalah sebuah berkat bagi saya. 

Tapi mendengarkan ide orang lain pun tidak ada salahnya, terutama karena pengetahuan kita sendiri pun terbatas. Ada kalanya apa yang dikatakan orang lain itulah yang perlu anda dengarkan. Sebagai contoh, saya tidaklah pintar ataupun bijak dalam hal finansial. Dari waktu ke waktu, pendapat orang lain memberikan manfaat bagi saya. Berkat Franky, saya bisa menghemat banyak ketika memperbaharui kredit rumah. Hal-hal seperti SRS (skema pensiun) dan T-bills (surat hutang negara) adalah sesuatu yang saya pelajari sewaktu makan siang bersama kenalan. 

Saya rasa kita tidak perlu selalu menjadi yang paling pintar dan berbicara paling banyak saat berkumpul. Tidak ada salahnya duduk dan mendengarkan, seperti halnya saat saya menyimak soal IHG di telepon. Masalahnya muncul ketika anda tidak memiliki mekanisme filter. Hak-hak istimewa itu datang dengan harga yang perlu anda bayar. Bila hal ini bukanlah sesuatu yang siap anda tebus, mungkin anda tidak perlu hak-hak istimewa tersebut. Pikirkanlah kembali. 

Thursday, March 14, 2024

The Business Trip

I've joined the workforce since year 1998. My first job was at Hotel Kartika in Pontianak and I worked as a stock-keeper. Because Wisma Siantan Indah was owned by the same boss, I had to deliver goods to the inn across the river. My first and quite regular business trip, if I could call it that since it happened in the same town. 

Back to where it all started.

The pattern repeated when I moved to Jakarta and worked at Kalbe Farma. The company's factory is in Cikarang and it has many branches, so I'd go to offices in Jakarta such Rawagelam, Pulo Lentut, Tanah Abang, Fatmawati and many more. But my first and proper business trip had to be the visit to Sukajadi office in Bandung. My colleague Surijanto drove me there for an easy job: replacing a faulty network router. 

Then came the Medan trip in 2005, the first time I ever took a two-hour flight. I also had the first overseas trip to Singapore and Hong Kong for business purpose that year. Since I was never a brilliant network engineer, I'm pretty sure I was selected simply because I had a passport ready with me plus the fact that I was able converse in English (and Chinese to a certain extent), haha. 

Lunch with Juniper team in Boat Quay, Singapore. 

When I moved to Singapore and worked at Ong First, I was also sent to Kuala Lumpur and Bangkok for business trips with the worst arrangement ever: a day trip! So I had to fly out and return to Singapore on the same day. I met clients right after I landed and went back to the airport again immediately.

14 years into my current job, I flew once in a blue moon to Jakarta and Kuala Lumpur for work. The last one happened a week ago and it got me thinking about the pros and cons of such trips. All this while, the nature of my job didn't really require me to travel. I love travelling, but based on few trips that I did, I could say that business trip is my least favourite kind of trip. 

With colleagues at KL office. 

Yes, I like meeting people, especially putting faces to the names I normally work with. But other than that, business trip doesn't offer much liberty because you are clearly there for work. Imagine visiting a new city but you don't have a chance to explore. So no, not exactly a fan. Given the choice, I'd rather pay for the trip myself and have the full freedom to travel properly. 

 Perjalanan Bisnis

Saya sudah mulai bekerja sejak tahun 1998, begitu saya lulus SMA. Profesi pertama saya berkaitan dengan bagian pengadaan barang di Hotel Kartika Pontianak. Karena Wisma Siantan Indah juga dikelola oleh pemilik yang sama, maka saya juga secara berkala mengantarkan barang-barang ke penginapan yang berada di seberang sungai. Meski masih dalam kota yang sama, boleh dikatakan itulah "perjalanan bisnis" dalam tiga tahun pertama saya di dunia kerja. 

Kembali ke Kartika di tahun 2023.

Pola serupa ini juga berulang ketika saya pindah ke Jakarta dan bekerja di Kalbe Farma. Perusahaan obat ini memiliki pabrik di Cikarang dan banyak kantor cabang. Di Jakarta, saya mengunjungi kantor-kantor di Rawagelam, Pulo Lentut, Tanah Abang, Fatmawati dan masih banyak lagi. Akan tetapi perjalanan bisnis saya  untuk pertama kalinya terjadi saat saya ke kantor di Sukajadi, Bandung. Di masa sebelum ada jalan tol, kolega saya Surijanto yang menyetir dan kita ke Bandung untuk tugas yang tergolong enteng: mengganti router yang rusak. 

Kemudian ada lagi perjalanan ke kantor cabang Medan di tahun 2005. Untuk pertama kalinya saya menaiki penerbangan yang berdurasi dua jam lamanya. Saya juga diberangkatkan ke Singapura dan Hong Kong di tahun yang sama. Terus-terang saya bukanlah pakar jaringan komputer, jadi sepertinya saya terpilih semata-mata karena saya memiliki paspor dan bisa berbahasa Inggris, plus Mandarin seadanya, haha. 

Makan siang di Boat Quay, Singapura, bersama tim dari Juniper.

Sewaktu saya hijrah ke Singapura dan bekerja di Ong First, saya sempat pula ditugaskan ke Kuala Lumpur dan Bangkok dalam rangka mengunjungi CIMB Bank dan Bangkok Bank, tapi pergi-pulang di hari yang sama. Saya harus bergegas menemui klien begitu tiba dan kembali ke bandara setelah misi tercapai. Sungguh melelahkan dan tidak menyenangkan. 

Memasuki tahun ke-14 di pekerjaan yang saya tekuni sekarang, sesekali saya pergi ke Jakarta dan Kuala Lumpur karena urusan kantor. Perjalanan bisnis terkini terjadi seminggu lalu dan membuat saya berpikir tentang pro dan kontra bepergian dalam rangka bisnis. Sejauh ini, pekerjaan saya cenderung tidak memerlukan saya untuk bertugas ke luar, namun berdasarkan pengalaman yang ada, saya bisa katakan bahwa saya tidak menyukai perjalanan bisnis. 

Bersama para kolega di kantor KL.

Ya, saya senang bertemu dengan mereka yang selama ini hanya saya kenal sebatas nama. Namun ada rasa tidak bebas karena perjalanan bisnis itu memang dalam kapasitas pergi bekerja. Bayangkan jika kita pergi ke tempat yang baru dan tidak punya kesempatan untuk jalan-jalan. Dari sini saya bisa menyimpulkan, kalau saya bisa memilih, saya lebih suka bayar sendiri dan berjalan sepuas hati. 

Wednesday, March 6, 2024

The Guilt Trip

One privilege of living the second half of your life outside your hometown is gaining a new perspective as you matured. You learnt that what we grew up with weren't always right and there were better ways in looking at things.

To give you the context, back in Pontianak, we were brainwashed with phrases such as pang tia lai and ai kak mai. The former can be roughly translated as relax, what's the rush? and the latter is as good as I also could it if I wanted to. First one is condoning the time wasting behavior, the second one is an arrogant way to cover the fact that one is lazy. Both are equally damaging. 

As I said in the grand plan, you listen to a certain thing long enough, you'll end up believing that perhaps this is the way it should be. Well, not if I could help it. Now that I had a different view, I made it my crusade to combat the old tradition. It was like discovering the gospel truth and you just had to shout about it! 

Our story this time began with a distraught friend sharing with us what he meant by grounded. He was so grounded that he'd say stuff like I love Pontianak. But it wasn't genuine. It felt ironic instead. Anyone in their right mind would have sensed that it wasn't true. 

This is coming from the same guy that dreamt of going to Japan and the dream came true because he put on effort wholeheartedly. When he exclaimed that he was now grounded indefinitely after the glorious Japan trip, it just didn't feel right. Something must have gone awfully wrong here. But what's that?

So we dug deeper and offered some countermeasures. Financial concerns were quickly addressed quite brilliantly by Eday in a comical way. The harder problems were the ones from within, those that were originated from years of living in such a toxic culture. 

In Pontianak, there is an apparent fear about what others would say. You'd think and think, worrying what their cynical opinions were, as if these were the most important thing ever. It clouded your judgement and left you very much unsure about anything, so paralyzing that you'd live with not much things to look forward to.

This guilt trip rendered our friend questioning his every move. That it was very wrong of him to go to Japan. That he has to pay the price and do all things because of it. That his wife has all the rights to do as she pleases while he has to suffer in silence. That it'll be a dreamless future from here onwards till the day he dies.

What he failed to realize is, perhaps all this was just wrecking havoc in his mind. It might not necessarily happen. So we told him that. We pulled him out from the guilt trip. And for the first time in a long while, we saw that cheeky, smiling face again. Then right after that, he said he wanted to sleep. It felt right, though. This was the guy that made us laugh and drove us nuts at the same time since we were kids.

So what's the moral of story here? I could have just walked away. It's not my fight anymore. But I guess some parts of Pontianak will always live in me and there's a sense of belonging there. We either continue the awful way of thinking or we stop it here and now. What's not good should end with us. To put a stop to it will be a lifelong battle, but I'll say it's pretty rewarding. It is oddly satisfying to show them time and again that the new way can be done...

When we were in Japan...

Perasaan Bersalah

Satu kelebihan dari hidup merantau dalam 22 tahun terakhir ini adalah perspektif baru yang saya dapatkan seiring dengan bertambahnya usia. Saya belajar bahwa tidak semua budaya yang saya kenal baik dari sejak kecil itu sudah pasti benar. Ada hal dan cara yang lebih baik dari apa yang saya ketahui sebelumnya. 

Sebagai konteks, saya bisa ceritakan bahwa semasa di Pontianak, kita seringkali dicuci otak dengan frase dan ungkapan seperti pang tia lai dan ai kak mai. Yang pertama artinya santai, kenapa harus terburu-buru? Yang kedua bisa diterjemahkan sebagai berikut: saya juga bisa kalau saya mau. Frase pertama condong mendukung prilaku buang-buang waktu, sedangkan yang kedua adalah cara sombong untuk menutupi kenyataan bahwa yang ngomong itu sebenarnya malas dan tidak mau berusaha. Dua-duanya sama-sama merusak. 

Seperti yang saya katakan dalam artikel rencana ke Jepang, jika anda mendengarkan sesuatu terus-menerus, lambat-laun anda akan percaya bahwa mungkin inilah satu-satunya cara yang benar. Ini yang hendak saya ubah. Saya temukan bahwa apa yang sering kita dengar itu tidaklah benar. Seperti halnya dengan kabar gembira, saya berkewajiban untuk mengabarkan hal ini sampai ke ujung dunia! 

Cerita kita kali ini dimulai dengan teman murung yang akhirnya berbagi cerita, apa maksudnya dengan istilah grounded yang sering ia pakai untuk mengambarkan kondisinya sekarang. Sedemikian terkekangnya teman yang satu ini, sampai-sampai ia bersembunyi di balik ucapan saya mencintai Pontianak. Cara penggunaan kalimatnya itu tidak terasa jujur. Justru lebih berkesan ironis. 

Ini adalah teman yang sama, yang dulunya berani bermimpi untuk ke Jepang dan mewujudkan impiannya karena dia berusaha sepenuh hati. Ketika dia mengeluh tentang nasibnya yang kini terbelenggu setelah liburan ke Jepang, rasanya ada yang salah. Tapi apa permasalahan sesungguhnya? 

Jadi kita pun menggali lebih dalam lagi dan menawarkan beberapa solusi. Masalah finansial dengan cepat diatasi oleh Eday dengan cara yang kocak nian. Yang lebih rumit adalah masalah dari dalam hati, yang tercipta karena puluhan tahun diracuni dengan budaya yang tidak benar. 

Di Pontianak, ada ketakutan yang akut akan cibiran orang lain. Teman saya ini berpikir dan kian terjerumus karena mengkhawatirkan opini sinis orang lain, seakan-akan itu adalah hal paling penting. Hal ini membuatnya merasa serba salah dan dia tidak yakin lagi dengan apa yang harus dilakukannya. Begitu parahnya hingga dia hanya bertahan hidup tapi tak lagi memiliki tujuan. 

Perasaan bersalah yang tidak jelas ujung pangkalnya ini membuat teman saya mempertanyakan setiap langkahnya. Dia kini merasa berdosa karena telah ke Jepang. Dia merasa bahwa dia harus membayar mahal perbuatannya ini. Dia merasa istrinya bebas berkumpul dan menikmati hidup sementara dia wajib menderita dalam hening. Hidupnya kini, mulai dari sekarang hingga mati, tak lagi boleh memiliki impian. 

Apa yang gagal disadarinya adalah, mungkin semua ini hanyalah imajinasi belaka. Belum tentu apa yang dibayangkannya itu sedang terjadi. Jadi kita sampaikan itu padanya dan kita bimbing dia keluar dari perasaan bersalah ini. Di malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum konyol yang khas itu muncul lagi. Segera setelah itu, dia berkata bahwa sudah waktunya untuk tidur. Meski menyebalkan, semua ini terasa benar. Inilah teman yang membuat kita tertawa dan kesal dari sejak kecil. 

Jadi apa moral cerita kali ini? Sejujurnya saya bisa saja mengabaikan semua ini. Lagipula sudah bukan urusan saya lagi. Namun Pontianak akan selalu menjadi bagian hidup saya. Ada perasaan ikut andil kalau bicara tentang Pontianak. Pilihan kita adalah tetap melanjutkan budaya pemikiran seperti generasi sebelumnya atau kita hentikan itu sekarang. Apa yang tidak baik hendaknya diakhiri di generasi kita. Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk mencapai itu, tapi hasilnya itu sepadan dengan upayanya. Ada perasaan puas saat menunjukkan bahwa cara baru yang lebih baik bisa membuahkan hasil yang lebih baik pula...