Total Pageviews

Translate

Saturday, July 30, 2022

Straighten It Up

You couldn't be in your 40s without straining a few muscles, spraining an ankle or suffering from back pain. Next to aromatherapy, you must be very familiar with the smell of Counterpain or Tiger Balm by now. The body stiffened as we aged and the problems mentioned above started occurring. In our group chat, the exercise topic would crop up from time to time as it was supposed to be something we could do to overcome this issue.

I started my Strava time since last October and to a certain extent, it helped. But I had this recurring backache that first happened when I helped shifting the heavy Futures dealing desk probably some 10 years ago. I still remember the soft horror sound only I could hear, it was as if something within the lumbar spine area had broken. So painful that I could barely move.

The pain would come and go since then. We'd get back to that. On a separate but not unrelated track, there was this friend of mine, Alvin. He was many things: a teacher, a cook and also a massage expert. He was academically smart, as we could see from his writings. His drunken chicken and noodles were delicious. I tasted those recently. And then there was his massage skills. 

The pictures of him doing that had been circulating from time to time. Some of our friends had testified that he did wonders. I'd seen it live at least once, when we visited Bakmi Alit in 2018. But it was during his visit to Singapore that I got a chance to experience it myself. And it was one helluva experience. Literally, haha.

It was quite interesting. You see, the term "massage" had been loosely used in Indonesia. What Alvin did, I think, was what we referred to as chiropractic in English. There was no equivalent word in Bahasa Indonesia or at least I didn't know if there was any. 

The initial check began with him sitting behind me, poking my back with his fingers and applying some pressure here and there. When he finished doing that, he said some parts of my bone structure had gone wrong for years. Come to think of it, perhaps it also got to do with my style of sitting. You see, just because the sitting position was comfortable, it didn't mean it was right for the body. It was a bad habit slowly creeping in without us realizing it until it was too late.

Then he did his stuff to correct this posture issue. As he twisted and turned my body, there'd be this cracking sound that felt so oddly satisfying. Quite fun, actually, except the neck part. I couldn't help thinking if it ever went wrong, I'd die on the spot, haha. 

Once done, I asked curiously if this would need to be done on a regular basis. Apparently it depended on the severity. If it wasn't that bad, it could be rectified immediately. Otherwise it might take more than one attempt to get it right.

To be frank, I was kind of surprised. I was under the impression this would be a regular treatment because I vaguely remembered that the chiropractic centre often offered such packages. It was certainly good to know that the bone issue could be addressed permanently. 

But it turned out that there was part two. After he settled the bone, he worked on the muscles. I thought shoulder massage was bad, but the calf massage hurt even more! It was like a torture that I almost cried. And he closed it with reflexology, which was quite bearable, though I wasn't sure if I liked it at all. As he did that, he mentioned that I might want to pay attention to the liver. I acknowledged that the issue could have been originated from my casual drinking habit.

When we wrapped it up, I recalled the testimonies from our friends. I wasn't immediately convinced, but a few days later, I could feel that my back was not as stiff as before. It felt... relieved. Now that I really gave it a thought, it was kind of amusing how he learnt all this. Looking back, the weirdest moment was the time he did his initial analysis. How on earth did he figure out the issue simply by poking my back? But it worked. The man knew his stuff and he sure had a talent that could benefit many. Highly recommended!

The professional massage!




Luruskan!

Di usia 40an ini, kemungkinan anda sudah melewati apa yang namanya nyeri otot, kaki terkilir atau sakit punggung. Di samping aromaterapi, bau Counterpain atau balsem pasti tidak lagi asing bagi anda. Semakin umur kita bertambah, tubuh kita menjadi kian kaku. Di grup SMA, topik olah raga pun sering dibahas sebagai solusi untuk mengatasi masalah ini. 

Saya mulai menjajaki Strava sejak bulan Oktober lalu. Sampai batasan tertentu, aktivitas gerak badan ini cukup membantu. Akan tetapi saya juga memiliki masalah sakit punggung yang pertama terjadi sewaktu saya turut membantu mengangkat meja kerja yang berat di departemen Futures kira-kira 10 tahun silam. Saya masih ingat bunyi gemeretak yang hanya terdengar oleh saya sendiri, seakan-akan sesuatu di bagian pinggang telah patah. Sakitnya langsung membuat saya berdiri diam di tempat. 

Rasa sakit di pinggang yang kadang menjalar ke punggung ini muncul dan hilang tak tentu waktu. Kita akan bahas lebih lanjut lagi nanti, tapi mari kita beralih dulu ke teman saya Alvin. Dia ini memiliki profesi guru, koki dan juga tukang urut. Dia pintar secara akademis, seperti yang bisa kita simak dari tulisannya. Ayam arak dan mie masakannya pun lezat nian. Baru-baru ini saya mencicipinya. Kemudian ada pula keahliannya dalam memijat. 

Foto-fotonya dalam menekuni profesi ini sudah sering beredar di grup dari waktu ke waktu. Beberapa teman pun sudah bersaksi tentang kepiawaiannya. Saya juga pernah melihat Alvin beraksi sewaktu kita mampir Bakmi Alit di tahun 2018. Akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba sendiri sewaktu dia datang ke Singapura.

Ada satu sudut pandang unik yang saya dapatkan dari pengalaman ini. Istilah pijat itu ternyata agak rancu. Yang Alvin lakukan itu sepertinya disebut chiropractic dalam Bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa terjemahan kata tersebut dalam Bahasa Indonesia. 

Pemeriksaan awal dimulai ketika dia duduk di belakang saya dan mulai menotok serta menekan punggung saya dengan jemarinya. Sesudah itu, dia mengatakan bahwa beberapa bagian struktur tulang saya sudah tidak beres selama bertahun-tahun. Kalau dipikirkan lagi, mungkin juga ada hubungannya dengan cara saya duduk dan bersandar. Hanya karena posisinya terasa nyaman, bukan berarti sudah benar. Jadi kebiasaan buruk ini terbentuk tanpa sadar.

Alvin lantas mulai melakukan koreksi postur tubuh. Setiap kali dia menyentak tubuh saya, ada bunyi gemeretak tulang yang memuaskan rasanya. Saya cukup menikmatinya, kecuali pas di bagian leher. Sempat terbersit di benak saya, jika ada gerakan yang salah, hidup saya bisa berakhir pada saat itu juga, haha. 

Setelah selesai, saya bertanya apakah proses serupa harus dilakukan berulang kali. Di luar dugaan, ternyata tidak perlu. Jika tidak terlalu parah, sekali pun sudah cukup. Bila agak kronis, maka perlu diulang beberapa kali. Terus-terang saya agak terkejut. Saya sering melihat promosi klinik chiropractic yang menawarkan paket, misalnya paket 10 sesi. Menarik untuk diketahui bahwa masalah tulang ini bisa dituntaskan secara permanen. 

Namun ternyata masih ada bagian kedua. Setelah tulang, kini dia menguraikan ketegangan otot. Ini baru yang biasanya kita sebut sebagai pijat atau urut. Pijat bahu membuat saya menahan sakit, tapi ternyata pijat betis lebih bikin ampun lagi! Rasanya seperti siksaan fisik yang membuat saya meringis. Terapi pijat pun akhirnya ditutup dengan refleksi. Yang ini lebih enteng, tapi tetap saja sulit untuk dinikmati. Dari tapak kaki, Alvin tahu bahwa liver saya kurang sehat, tapi saya juga tahu itu karena saya kadang memang minum bir, haha.  

Seusai pijat, saya jadi teringat dengan testimoni dari teman-teman. Saya tidak langsung percaya, namun setelah beberapa hari kemudian, pinggang saya terasa lebih lega dari sebelumnya. Saya lantas teringat lagi dengan caranya memeriksa yang tergolong aneh. Bagaimana bisa dia mengetahui apa yang salah hanya dengan menekan punggung saya? Tapi hasilnya nyata. Alvin jelas tahu apa dikerjakannya dan keahliannya ini bisa membantu banyak orang yang membutuhkannya. Memang layak direkomendasikan! 

Monday, July 11, 2022

Get

I was a sucker for the plastics since I got my first one back in 2001. I often said I loved the card design and I collected them after they were cancelled, but perhaps I also subconsciously loved being approved for applying cards. I'd never know for sure. Whatever the reason was, I browsed the relevant websites frequently, just in case there was a new one that I'd like to have. 

On the other hand, the internet was so smart these days that it picked up my search result and displayed the ads based on it. And the plastics had changed so much that they were not only issued by banks, American Express and Diners Club anymore. Any companies that were licensed to do financing such as Grab, Crypto.com, Wise or InstaRem could issue Visa or Master these days. Then one day, I saw an ad from Get on the news feed of my Facebook. 

The Get Card.

The concept was quite unique. I was always a supporter of cashless transactions, but I never heard of anything like this being extended to kids. I fancied the idea and it got more interesting as there was this concept of earning their keep. My Dad did that and I believe the impact on me was positive, therefore I'd like to try it out with my daughter, too. Noticed that Revolut offered the same thing, too, but I finally opted for Get as it looked much simplified.

The account opening was seamless and fast, except for the odd behaviour of repeated details after the app pulled data from Singpass. I was using Google Pixel 6 with Android on its purest form, so it had to be the app's fault, haha. Due to this, my daughter's name was listed twice. But I chose only one and the subsequent process was smooth-sailing.

The setup was pretty straightforward. That included disabling the magnetic stripe, online purchase, ATM and enabling the transaction limits. The physical debit card that carried the Visa was ordered and it arrived much earlier than expected. I also installed the app on my daughter's phone and it linked immediately to my account. 

Transaction details. The payment was scheduled, apparently!

I had to top up the account in order to activate it. At the moment, this could only be done using a credit or debit card. It showed Get Kid Account right after that. Upon seeing this, I clicked it as prompted only to realize that it was a a label called Get Kid Account instead of a button to get a kid's account, haha.

Then came the fun part where I got to assigned chores. The interface was quite confusing, I'd say. There was this rolling date saying when the payment date would be, but it was apparently superseded by the default payment scheduled on Sunday. As a result, when she finished her first chore, I sent the money to her account as automatic payment didn't seem to occur. On Sunday, I learnt that each payment I did before was paid again at 8am. 

Her first transaction. She wanted to swipe!

When she first received the card, I did share with her that the card details shouldn't be revealed to anybody. Now that she had some money to spend, I could teach how to use the card. I asked if she would buy me an ice cream at McDonald's and she was okay to treat me. So off we went and bought a strawberry sundae. She did everything herself on a self-service counter and when it was time to pay, she was taken aback when the point of sales beeped before she did anything. "I thought I had to swipe the card first," she said innocently. And I told her that was how we did it a long time ago. 

When we returned to our seats, she said about stuff she'd like to buy and she started asking her Mum for more chores. As I watched the scene unfolded, I ate my sundae, thinking and hoping that I had taught her the right thing: the same lesson I had, wrapped in present day's technology...

Free ice cream always makes me smile!



Get

Saya senantiasa tergila-gila dengan kartu kredit sejak saya mendapatkan kartu kredit pertama saya di tahun 2001. Saya sering berkata bahwa saya suka disain kartunya, yang kemudian saya koleksi setelah kartunya saya batalkan. Selain itu, mungkin juga ada kepuasan tersendiri yang timbul dari disetujuinya aplikasi kartu kredit yang saya ajukan. Saya tidak tahu pasti, tapi apa pun alasannya, saya sudah sejak lama memiliki kebiasaan melihat situs-situs kartu kredit. Siapa tahu ada yang baru dan menarik perhatian saya. 

Berdasarkan kebiasaan saya ini, internet yang kini kian canggih bisa mendeteksi apa yang sering saya cari, lalu menampilkan iklan yang sama kategorinya. Sekedar info, kartu kredit tidak lagi dimonopoli oleh bank, American Express dan Diners Club. Perusahaan yang juga memiliki ijin finansial seperti Grab, Crypto.com, Wise atau InstaRem pun bisa mengeluarkan Visa atau Master sekarang. Suatu hari, saya melihat iklan Get yang muncul di Facebook. 

Kartu Get.

Konsepnya cukup unik. Saya selalu menyukai transaksi non-tunai, tapi saya tidak pernah mendengar hal serupa diterapkan di kalangan anak-anak. Saya tergelitik oleh ide ini dan semakin tertarik pula dengan konsep yang mengajarkan anak tentang arti dari kerja untuk mendapatkan uang. Ayah saya dulu mengajarkan hal serupa dan saya percaya dampaknya positif. Ketika saya hendak mencoba teknologi ini, sempat saya amati bahwa Revolut juga menawarkan konsep yang sama, namun akhirnya saya coba Get karena terlihat lebih sederhana. 

Pembukaan rekening terbilang praktis dan cepat, meski ada kejanggalan data yang seperti terulang dua kali ketika aplikasi Get menarik data dari Singpass, semacam pusat info terintegrasi di Singapura. Saya menggunakan Google Pixel 6 yang sudah jelas murni Android-nya, jadi kesalahan pasti dari aplikasi Get, haha. Karena duplikasi data, nama putri saya terdaftar dua kali, tapi saya hanya memilih salah satu dan prosesnya pun beres. 

Konfigurasi selanjutnya tidaklah rumit. Saya mematikan fitur transaksi lewat lapisan magnet di kartu, belanja online dan juga penarikan ATM. Saya juga mengatur batas transaksi. Kartu debit berlogo Visa pun saya pesan lewat aplikasi dan tiba lebih awal dari estimasi. Selain itu, saya juga mengunduh aplikasi yang sama di HP putri saya. Setelah registrasi, akunnya pun terhubung dengan yang ada di HP saya. 

Daftar transaksi. Pembayaran upah sudah otomatis terjadwal setiap Minggu!

Saya harus memasukkan uang untuk mengaktifkan akun saya. Untuk saat ini, penambahan saldo hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit atau debet. Kemudian muncul tulisan Get Kid Account setelah saldo berhasil diisi. Saya coba klik, tapi ternyata itu hanya label bertulisan Get Kid Account yang artinya akun Get untuk anak, bukan tombol instruksi untuk mendapatkan (get) Kid Account, haha.

Setelah itu, saya bebas memberikan pekerjaan. Tampilannya cukup membingungkan menurut saya. Ada tanggal yang selalu berubah dari hari ke hari dan tanggal ini digunakan sebagai tanggal pembayaran. Akan tetapi pembayaran pekerjaan ternyata berdasarkan jadwal yang sudah tersimpan di bagian menu lain, yakni setiap hari Minggu. Alhasil, saya jadi mengira bahwa saya harus mengirimkan uang setiap kali anak saya berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Ketika Minggu tiba, baru saya sadari bahwa apa yang telah saya bayar itu lantas dibayar lagi oleh sistem pada pukul delapan pagi. 

Transaksi pertamanya. Tadinya dia mau gesek!

Sewaktu anak saya menerima kartunya, saya jelaskan padanya detil di kartu yang tidak boleh diberitahukan pada orang lain. Sekarang, setelah dia memiliki uang di saldonya, maka saya bisa ajarkan cara menggunakan kartu. Saya tanyakan padanya apakah dia mau membelikan saya es krim di McDonald's dan dia setuju untuk traktir. Saya amati dari belakang bagaimana dia memesan es kirim di layar sentuh. Ketika tiba di tampilan untuk membayar, dia agak terkejut karena transaksi sudah terjadi saat dia baru memegang kartu di dekat mesin pembayaran. "Saya sangka harus digesek dulu," gumam putri saya. Mendengar ucapannya yang polos, saya jelaskan padanya bahwa memang seperti metodenya bertahun-tahun silam, tapi sekarang cukup didekatkan ke mesin.

Saat kita kembali ke tempat duduk, dia bercerita tentang apa yang hendak dia beli kalau uangnya terkumpul lebih banyak lagi, lalu bertanya pada ibunya, ada tugas apa lagi yang bisa dia kerjakan. Saya menikmati es krim saya dalam hening tatkala menyaksikan semua ini. Di dalam hati saya hanya bisa berharap, semoga saja saya sudah mengajarkan hal yang benar: pelajaran yang sama dengan apa yang saya dapatkan dulu, namun kini dikemas dalam teknologi... 

Es krim gratis selalu membuat saya tersenyum!

Thursday, July 7, 2022

Not All Apps Are Created Equal

I kid you not! I had the title lingering in my mind for the past few days, as if it begged to be written! It was so amusing that I couldn't help thinking about it. This story started with an incident that happened few days ago, when a friend that was pretty active in our WhatsApp group chat suddenly contacted me via Messenger. She asked me to top up her prepaid phone. When I mentioned that in our group, another friend said she was asked to provided the SMS OTP. Then a friend in Bali was asked to lend her money. Needless to say, we knew immediately that her Facebook account was hacked. The issue was sorted out quickly. 

But how did we go from the experience above to the idea that not all apps are created equal? In order to understand this, let's go back to the very beginning, to the dawn of the internet. I was old enough to be a young man during this exciting time in Pontianak. Internet cafes were thriving and it was hard to get seats on Saturday night. Every youngster would be there to play mIRC. We'd be logging in to channels such as #khuntien and #bawel, getting to know girls. Though we could be banned if we accidentally said something that was deemed as abusive, we couldn't go wrong with the opening line: "ASL, please." 

For those who were born after the internet, it might sound weird that we found this thrilling. You had to realize that just a year before, we were hanging out at Telkom's public phone booths, holding a stack of coins while conversing with girls we tried to impress. It was unglam and we had to suffer from mosquito bites. Going from analog conversation like that to asking Age, Sex, Location to strangers was beyond wild! The internet was a miracle, mIRC was a godsend and ASL was the universal internet slang that ruled them all! Good times! Got me no girlfriends, though. Only one or two pen pals, haha.

Then there was ICQ. I just had to mention this, even though it wasn't as popular as mIRC. In fact, I knew it only from Jun Fui, a fellow computer lab assistant and a geeky friend of mine. I never used ICQ for chatting purpose, but it did one thing that was quite valuable at that time: it could send SMS to the mobile phone. Yes, SMS. Short Message Service containing only 160 characters. Back when you barely had enough money to top up your prepaid number, free SMS was too good to be true. While it might seem silly by today's standard, being able to send a couple of SMSes for free per day was a luxury back then!

When I went to Jakarta few years later in 2002, the internet had significantly improved in just a short period of time. I was now using Yahoo! Messenger on a desktop computer. I think it was the first chat app that introduced emojis to me. Cool stuff. Now people could know that I was smiling when I replied them. Then I switched to Google Talk when I moved to Singapore because... the girl I loved also used it, haha. One more that was worth mentioning during this period was MSN Messenger. I used it because some Singaporean friends used it, too. 

Then came the time when the three messengers above were made available on mobile phone. There was an app that allowed us to log in to all three. But this coincided with the rise of BBM. With a native app on a phone that was so widely used, especially in Indonesia, third-party messengers seemed redundant. When BlackBerry was riding high, BBM was all I needed. Looking back, I liked the idea of BBM pin. Nobody could add you without your permission, haha.

Skype appeared around the same time. The voice call feature was its main attraction. I remember those days when I always had to buy the prepaid cards for long distance calls to Indonesia. Skype eliminated this costly need. Suddenly it was free to make a call! So there was a period of time when Yani and I used this quite regularly. I remember staying in Eunos, getting ready for a call at 8pm Singapore Time. It was a date!

Then came WhatsApp that changed it all. It started small, as if it was a BBM wannabe that used phone number instead of pin. But then it got better. One-to-one chat, ticked. Group chat, ticked. Voice call ticked. Video call, ticked. Group call, ticked. File sharing ticked. By then, it had become the ultimate communication tool that we must have. BBM's days were numbered and I remember the fateful day when I had to say goodbye to the most beloved app during its heyday.

And that brought us back to Messenger. If you observed the apps that I described above, each of them was quite revolutionary and it served its purpose. But in a world where WhatsApp was the benchmark, Messenger looked like a sad little app with not much use. Both had pretty similar features, but nobody I knew really used Messenger. The recent case got me wondering, perhaps the only time the app became useful was when it inadvertently alerted us that the person's Facebook account had been hacked. How ironic. So it's true that not all apps are created equal...

PS: yes, I know there were still other apps such as Line, WeChat, Telegram, KakaoTalk, Snapchat, Viber, and many more, but I never really used those. I remember reading it somewhere that Chinese had WeChat, Japanese had Line and South Koreans had KakaoTalk, but only Indonesians had the time to use them all to chat with the same people, haha.  

Those logos we saw before...




Tidak Semua Aplikasi Diciptakan Setara

Percaya atau tidak, beberapa hari ini judul di atas selalu muncul di benak saya, seakan-akan meminta untuk diceritakan. Agak mengherankan juga, sebenarnya. Cerita kali ini dimulai dengan sebuah peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu, ketika seorang teman yang cukup aktif di grup WhatsApp tiba-tiba menghubungi saya lewat Messenger. Dia ingin agar saya mengirimkan pulsa untuknya. Sewaktu saya pos ini di grup, seorang teman lain langsung bercerita bahwa dia juga dimintai SMS OTP. Kemudian seorang teman di Bali juga ternyata diminta untuk meminjamkan uang. Kita langsung tahu bahwa akun Facebook teman yang satu ini telah dibajak. Isu ini pun segera ditindaklanjuti. 

Akan tetapi apa hubungan kejadian di atas dengan ide bahwa tidak semua aplikasi diciptakan setara? Untuk mengerti lebih lanjut, mari kita kembali ke awal munculnya internet di Pontianak. Saat itu saya adalah seorang pemuda di periode yang gegap-gempita. Internet cafe bertaburan di mana-mana dan penuh-sesak di malam Minggu oleh muda-mudi yang ingin bermain mIRC. Kita sibuk di channel #khuntien dan #bawel untuk mencari pacar. Walau kita bisa didepak kalau salah bicara, tapi sudah pasti aman kalau memulai perkenalan dengan, "ASL, please." 

Bagi yang lahir setelah zaman internet, mungkin sulit untuk memahami kenapa hal seperti ini bisa terasa seru. Anda harus menyadari bahwa setahun sebelumnya, angkatan saya masih berkumpul di telepon umum kantor Telkom sambil menggenggam setumpuk koin untuk menelepon gadis yang diincar. Ini jelas kalah pamor, ditambah lagi banyak nyamuk. Peralihan dari pengalaman seperti ini ke internet, lalu bertanya Age, Sex, Location pada orang asing, rasanya seperti dahsyat sekali. Internet adalah sebuah keajaiban, mIRC adalah kiriman Tuhan dan ASL adalah istilah universal yang menjembatani perkenalan! Masa-masa yang menyenangkan. Tapi saya tidak dapat pacar. Hanya dapat satu atau dua sahabat pena, haha. 

Lantas muncul ICQ. Saya wajib sebutkan yang satu ini, meskipun ICQ tidak sepopuler mIRC. Saya sendiri baru tahu aplikasi ini dari Jun Fui, sesama asisten lab komputer dan juga teman saya yang kutu-buku. Saya tidak menggunakan ICQ untuk chatting, tapi untuk satu fitur yang bisa dilakukan oleh aplikasi ini: mengirim SMS ke HP. Ya, SMS. Short Message Service yang hanya berisi 160 karakter. Di zaman tatkala saya sering kekurangan uang untuk membeli pulsa, SMS gratis itu bagaikan berkat. Walau mungkin terlihat konyol sekarang, bisa mengirimkan beberapa SMS gratis per hari adalah suatu kemewahan tersendiri di masa itu!  

Sewaktu saya pindah ke Jakarta di tahun 2002, internet sudah jauh lebih maju. Kini saya menggunakan Yahoo! Messenger di komputer. Seingat saya, dari aplikasi inilah saya menggunakan emoji untuk pertama kalinya. Ini adalah hal kecil yang luar biasa. Sekarang pembaca bisa tahu kalau saya sedang tersenyum saat merespon komentarnya. Kemudian, setelah pindah ke Singapura, saya menggunakan Google Talk karena... wanita yang sukai juga menggunakannya, haha. Satu lagi dari masa ini yang perlu saya sebutkan adalah MSN Messenger. Saya juga pakai ini karena banyak teman-teman Singapura yang menggunakannya.

Lalu tiba era di mana tiga aplikasi di atas bisa digunakan di telepon genggam. Jadi ada satu aplikasi yang bisa sambung ke Yahoo! Messenger, Google Talk dan MSN Messenger. Kedengarannya memang praktis, tapi semua ini terjadi ketika BBM mulai populer. Dengan aplikasi yang sudah tersedia di telepon yang digunakan oleh begitu banyak orang, terutama di Indonesia, tiga aplikasi di atas jadi seperti ekstra dan tidak begitu diperlukan. Di era BlackBerry, satu-satunya yang saya perlukan adalah BBM. Jikalau saya lihat kembali lagi sekarang, saya suka dengan konsep pin BBM. Orang lain tidak bisa semena-mena menghubungi anda, apabila tidak ada permisi dari anda, haha. 

Skype juga muncul di saat BBM menyapu bersih aplikasi lainnya. Fitur telepon lewat internet adalah atraksi utamanya. Saya ingat betul hari-hari di mana saya perlu membeli kartu untuk sambungan langsung internasional. Kemunculan Skype mengurangi biaya dari keperluan ini. Tiba-tiba saja kita bisa menelepon secara gratis. Jadi ada periode di mana saya dan Yani cukup rutin menggunakan aplikasi ini. Saya ingat saat itu saya tinggal di Eunos. Jadi kita cukup janjian, misalnya telepon jam 8 malam waktu Singapura, dan kini bisa berbicara langsung! 

Sesudah itu muncul WhatsApp yang mengubah segalanya. Di awal kiprahnya, WhatsApp mirip seperti tiruan BBM yang menggunakan nomor telepon sebagai ganti pin. Kemudian WhatsApp kian berkembang. Chat perorangan, bisa. Chat secara group, bisa. Panggilan suara, bisa. Panggilan video, bisa. Panggilan lebih dari satu orang, bisa. Kirim file, juga bisa! Akhirnya WhatsApp menjadi andalan sehari-hari. BBM pun pudar. Saya ingat betul dengan hari-hari terakhir dari aplikasi yang kalah saing ini. 

Dan cerita di atas membawa kita kembali ke Messenger. Bila anda perhatikan setiap aplikasi yang saya jabarkan di atas, setiap aplikasi ini cukup revolusioner dan memainkan peran penting di zamannya. Tapi di dunia di mana WhatsApp kini jadi patokan, Messenger terlihat mengenaskan. Dua-duanya memiliki fitur yang mirip, tapi dari semua yang saya kenal, tidak ada seorang pun yang benar-benar menggunakan Messenger. Insiden di atas membuat saya membayangkan, sekali-kalinya Messenger terasa berguna adalah saat akun Facebook kena bajak. Sungguh ironis. Jadi benar bahwa tidak semua aplikasi diciptakan setara...

NB: ya, saya tahu masih banyak aplikasi lain seperti Line, WeChat, Telegram, KakaoTalk, Snapchat atau Viber, tapi saya tidak menggunakan semua itu. Satu hal yang saya pernah saya baca dan ingat adalah, orang Cina punya WeChat, orang Jepang punya Line dan orang Korea ada KakaoTalk, tapi hanya orang Indonesia yang punya waktu menggunakan semua aplikasi ini untuk chat dengan orang yang itu-itu juga, haha.