Total Pageviews

Translate

Monday, December 20, 2021

Book Review: Journey To The West

While it's true that Pontianak is a small town that only had its first KFC outlet in year 2000 (and it still doesn't have McDonald's today), I'd say it was lively enough for us to grow up there in the 80s. When I compared notes, it turned out that our childhood was comparable with friends that grew up in Singapore. In my case, even though I was from Pontianak, I probably watched, read and played more than my fellow Singaporeans.

One of the things we had back then was something called parabolic antenna. Installed on a roof, it enabled us to receive overseas TV channels from Malaysia to China. Every night, I'd be sitting in front of TV with my mother to watch Journey to the West. It was in Chinese and I didn't understand the language, but it was still a fascinating show for a boy who was born in the year of the Monkey.

Around the same time, I also read the comics books in Bahasa Indonesia. The format was unusual, therefore memorable. It had two pictures per page and one paragraph of narration under each picture. Back in the days before Tiger Wong and the available comics were only DC, Marvel or European stuff such as Asterix and Tintin, this one became my earliest exposure of Chinese cultures. 

In a way, I guess you can't be Chinese without knowing about Journey to the West at all. It was featured so prominently throughout the years in every phase of my life, be it on TV, comics (most notable was the first arc of Dragon Ball) or films. Even Stephen Chow had two spoofs or more about the Monkey King. When I saw the English version of the novel at the book shop, I was so curious I simply couldn't help searching for it at the library.

Now that I'm in my forties, I had a better understanding about Chinese cultures, including the historical journey of Xuanzang to India. Re-reading the book again, albeit the abridged version, gave me a rather interesting insight about this classic. This was indeed a brilliant novel!

It was basically a three-part story which began with the birth of Monkey. It quickly established how powerful he was, culminating with the Monkey wrecking havoc in heaven and it ended with his downfall. The second part was the journey to the west that started 500 years later. While each chapter wasn't the same, I couldn't help feeling that was rather formulaic. You could see the pattern in each story, i.e. Xuanzang was captured and Wukong would save him either by defeating the demons or seeking assistance from the deities. The last part was about the time they reached India.

It was an easy reading and the first part was the most interesting one. The translation was as good as it could be, though it would help if it used the pinyin for names of the deities instead. For example, it took me quite some time to figure out that the Divine Kinsman was actually Erlang Shen, haha. The storytelling was smart, emphasized by the excellent choice of words used here, especially the poetry. The interaction among disciples, particularly Wukong and Bajie, were the source of amusement. 

It was also interesting to learn how Taoism, Buddhism and, to a certain extent, Confucianism coexisted and were incorporated into the story. It was through the reading of this book that I first realized all the gods from Jade Emperor to Nezha were actually from Taoism, which was native to China. This is why journey to the west happened: because they wanted to obtain the real teachings of Buddha in India.

Overall, it was a fun reading. As I read on, suddenly the scenes that I watched in the past kept flashing back. I remember when Wukong tried to jump out of Buddha's palm, the time he was defeated by Hong Hai-er, the turtle that shook them off while they crossed the river and many more. Good times! 

Journey to the West.



Ulasan Buku: Perjalanan Ke Barat

Pontianak mungkin hanyalah sebuah kota kecil, yang sedemikian kecilnya sehingga baru memiliki KFC di tahun 2000 (dan sampai hari ini pun belum ada McDonald's), tapi saya rasa tetap saja memiliki cukup banyak hiburan bagi generasi yang tumbuh di tahun 80an. Ketika saya mencari tahu tentang masa kecil teman-teman di Singapura, ternyata apa yang saya lewati cukup sebanding dengan pengalaman mereka. Bahkan boleh dikatakan kalau sebenarnya saya lebih banyak menonton, membaca dan bermain game bila dibandingkan dengan mereka yang berada di Singapura. 

Salah satu keunggulan kita yang tinggal di Pontianak pada saat itu adalah antena parabola. Antena yang dipasang di atap rumah ini memungkinkan kita untuk menangkap siaran dari Malaysia sampai Cina. Setiap malam, saya akan duduk di depan TV bersama ibu saya untuk menonton Perjalanan ke Barat. Film seri ini ditayangkan dalam Bahasa Mandarin. Walaupun saya tidak mengerti, tontonan ini tetap saja menarik bagi anak yang lahir di tahun monyet. 

Di saat yang sama, saya juga membaca komiknya yang berbahasa Indonesia. Formatnya tidak begitu lazim, karena itu saya ingat betul. Komik ini memiliki dua gambar per halaman dan setiap gambar memiliki narasi satu paragraf. Jauh sebelum Tiger Wong, di zaman yang hanya memiliki komik DC, Marvel dan bacaan dari Eropa seperti Asterix dan Tintin, komik Perjalanan ke Barat ini mengenalkan saya pada budaya Cina. 

Saya rasa boleh dikatakan bahwa tidak mungkin bagi orang keturunan Cina untuk sama sekali tidak mengetahui tentang kisah Perjalanan ke Barat. Dalam setiap jenjang kehidupan saya, cerita ini senantiasa terdengar, baik dalam bentuk film seri di TV, komik (dan yang paling terasa kemiripannya waktu itu adalah kisah pertama Dragon Ball) serta film-film bioskop yang dibintangi oleh Stephen Chow. Sewaktu saya melihat buku dalam versi bahasa Inggris baru-baru ini, saya jadi tergelitik untuk mencari bukunya di perpustakaan.

Sekarang, di usia 40an, saya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang budaya Cina, termasuk sejarah petualangan Xuanzang ke India. Setelah membaca kembali buku ini, meskipun hanya versi ringkasnya, saya bisa merasakan betapa buku ini sebuah karya klasik. 

Berdasarkan alur cerita, sebenarnya kisah ini bisa dibagi tiga. Bagian pertama adalah tentang lahirnya Kera Sakti dan petualangannya yang mengguncang langit dan surga. Sepak-terjang Wukong akhirnya dihentikan oleh Budha dan dia dihukum 500 tahun lamanya. Setelah Wukong dibebaskan oleh Xuanzang, bagian kedua yang mengisahkan perjalanan ke India yang pun dimulai. Setiap bab memang berbeda isinya, tapi ada kesan bahwa ceritanya ditulis berdasarkan pola yang sama. Pokoknya Xuanzang selalu ditangkap dan Wukong akan menolongnya, baik dengan cara membasmi siluman ataupun meminta bantuan dewa-dewi. Bagian terakhir adalah tentang perjumpaan dengan Budha di India. 

Kisah Perjalanan ke Barat ini gampang dibaca dan saya rasa bagian pertama adalah yang paling lucu dan heboh. Terjemahan bahasa Inggrisnya pun bagus dan akan lebih baik lagi kalau penerjemah menggunakan nama asli dewa-dewi yang diceritakan. Sebagai contoh, saya harus mencari cukup lama di internet untuk menemukan bahwa Divine Kinsman itu sebenarnya Erlang Shen, haha. Gaya bahasanya bagus, terutama karena penggunaan kata-kata yang cocok di bagian puisi.

Yang tidak kalah menariknya adalah cerita tentang Taoisme, Budhisme dan Konfusianisme. Lewat buku ini, saya baru diingatkan kembali bahwa banyak dewa-dewi, misalnya Raja Langit dan Nezha, adalah bagian dari ajaran Taoisme yang berasal dari Cina. Inilah alasannya kenapa Perjalanan ke Barat terjadi: karena Xuanzang ditugaskan untuk mengambil kitab suci Budha di India.

Secara keseluruhan, ini adalah bacaan yang santai dan lucu. Saat membaca, saya pun teringat lagi dengan berbagai adegan yang pernah saya tonton sebelumnya. Saya jadi ingat dengan adegan saat Wukong melompat dari tapak Budha, saat dia dikalahkan oleh Hong Hai-er, tentang kura-kura yang marah dan membuat kitab basah di sungai dan masih banyak lagi. Pokoknya berkesan! 

Saturday, December 18, 2021

The Staycation

One of the things I liked about travelling was the hotels. I loved lazing around in a nice hotel ambience after exploring a foreign city all day long. But if I did the same thing in the city I was living, which was the basic idea of staycation, it felt really weird. It was like, "err, I know my house is not very far from here and I can go home any time I want, so why do I do this again?"

With that thought in mind, I doubted that I would even try it out if it was up to me. The first staycation I had was based on an indirect request from my daughter. Back in 2016, she was crazy about bunk beds, so instead of buying her one, we checked in to D'Resort in Pasir Ris. Nice place, but apart from the facilities in the vicinity, the hotel was pretty isolated. 

The staycation.

The next time I had a staycation again was three years later in 2019. It was a wedding anniversary and I certainly didn't mind the idea of staying at Hard Rock Hotel in Sentosa. Hard Rock was like a rock and roll shrine, so I was receptive to the idea. And indeed the idea was good. Sentosa was a tourist spot, so it did feel like we were having a holiday. On top of that, the swimming pool was easily the best.

Then came COVID-19 not long after that. Staycation had been a thing prior to that, but it was now a norm and probably the closest thing to a vacation at the height of COVID-19. It suddenly felt like the only option, so we went for a night at the Parkroyal Hotel behind Hong Lim Park. I remember my wife loving the design so much (it was green and eco-friendly) and the high ceiling was definitely a plus point. Chinatown Point was just next to it, so food options were abundance. 

Linda and Audrey at Parkroyal.

Then a year after that, 2021, still pretty much a life in the time of corona. Since my idea of travelling didn't include PCR, we opted for staycation again. It sounded like an idea, especially now that SingapoRediscover vouchers we had were about to expire, haha. So we booked a room at Four Seasons Hotel. Since we still got some balance and my daughter was curious about Hotel Mono, we booked that one, too.

Hotel Mono was in Chinatown. It was not literally as monotone as the name suggested because some walls in the room were painted with pink color, haha. My daughter and I went there just for the fun of it and we visited the Buddha Tooth Relic Temple, too. Few days later, we checked in to Four Seasons in Orchard. Not a new hotel, but was still very grand and well maintained. Among all the rooms we booked for staycation, this one had the most luxurious feel and the only one with a bathtub.

With Linda at Hotel Mono.

After experiencing it before and during COVID-19, I'd say that for a leisure activity, staycation was not immediately enjoyable. I mean, Singapore isn't really big, so regardless where I stayed, be it in Sentosa or Orchard, I couldn't help feeling that I know the places quite well and my house was just nearby. 

I found it hard to reconcile the thought sometimes. In fact, it was so odd that I actually had to attune to the right mindset by pretending I was a tourist exploring an area that I usually passed by rather frequently in real life. I just had to look for a new angle! Then and only then it made more sense. But in the time when travelling wasn't possible, staycation was indeed better than nothing. It was still a nice family time after all.

Linda, Mum and Audrey at Four Seasons.



Staycation 

Salah satu hal yang saya sukai saat liburan adalah tinggal di hotel. Saya suka bersantai menikmati suasana hotel setelah seharian berjalan-jalan di kota asing. Akan tetapi jika saya melakukan hal yang sama di kota tempat saya berdomisili (dan ini pada dasarnya merupakan konsep dari staycation) rasanya sungguh janggal. Yang timbul justru perasaan seperti, "eh, saya tahu rumah saya tidak jauh dari sini dan saya bisa pulang kapan pun saya mau, jadi kenapa saya menginap di sini, ya?"

Dengan pemikiran seperti ini di benak saya, saya ragu kalau saya akan memiliki inisiatif untuk staycation. Pertama kalinya saya mencoba staycation itu karena permintaan tidak langsung dari putri saya. Di tahun 2016, dia tergila-gila dengan tempat tidur dua tingkat, jadi daripada saya beli, saya dan keluarga akhirnya menginap di D'Resort di Pasir Ris. Tempatnya bagus, tapi agak terpencil dan yang bisa dinikmati hanyalah fasilitas di sekitar hotel.

Hotel-hotel tempat staycation.

Tiga tahun kemudian, saya mencoba staycation lagi. Waktu itu saya dan istri merayakan ulang tahun pernikahan dan saya tidak keberatan untuk menginap di Hard Rock Hotel di Pulau Sentosa. Hard Rock ini bagaikan tempat diabadikannya rock and roll, jadi saya sangat setuju. Sentosa juga merupakan kawasan turis, jadi rasanya seperti sedang berlibur. Selain itu, kolam renangnya yang berpasir boleh dikatakan paling mantap sampai sejauh ini. 

Setelah itu dunia dilanda COVID-19. Staycation yang sebelumnya sudah merupakan hal yang unik dan memiliki daya tarik kini menjadi sesuatu yang paling menyerupai liburan di tengah hebohnya  COVID-19. Tiba-tiba saja staycation menjadi satu-satunya pilihan, jadi saya sekeluarga menginap di Parkroyal Hotel yang berlokasi di belakang Hong Lim Park. Saya ingat bahwa istri saya menyukai tata ruang hotel yang hijau dan ramah lingkungan. Langit-langitnya yang tingi pun menjadi nilai tambah. Chinatown Point berada di sebelah hotel, jadi banyak pilihan makanan. 

Linda dan Audrey di Parkroyal.

Setahun kemudian corona masih tetap merajalela. Karena saya tidak ingin menjalani liburan yang wajib PCR, kami kembali memilih untuk staycation lagi. Ini ide bagus, terutama karena kupon subsidi SingapoRediscover hampir habis masa berlakunya, haha. Saya lantas memesan kamar di Four Seasons Hotel. Karena masih ada sisa dan putri saya tertarik dengan Hotel Mono, saya pun pesan kamar yang ini juga. 

Hotel Mono berada di daerah Chinatown. Warnanya tidaklah monoton karena ada warna merah muda di dinding, haha. Yang menginap di sana hanya saya dan putri sulung saya dan kami sempat mengunjungi Kuil Buddha Tooth Relic selama berada di sana. Beberapa hari kemudian, kami check-in ke Four Seasons di Orchard. Ini bukanlah hotel baru, tapi masih terasa berkelas dan terawat. Dari semua kamar yang saya pesan selama staycation, yang satu ini terasa paling mewah dan satu-satunya kamar yang memiliki bak mandi. 

Bersama Linda di Hotel Mono.

Setelah mencoba staycation sebelum dan selama COVID-19, saya pribadi merasa bahwa aktivitas ini bukanlah sesuatu yang bisa saya nikmati secara langsung. Maksud saya, Singapura bukanlah negara yang luas, jadi di mana pun saya tinggal, baik itu di Orchard maupun Sentosa, saya tanpa sadar selalu merasa bahwa saya tahu tempat ini dan rumah saya tidaklah jauh.

Pemikiran di atas sungguh terasa janggal, sampai-sampai saya harus meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya ini turis di kawasan yang sebenarnya sering saya lewati. Singkat kata, saya harus memiliki sudut pandang yang baru dan tepat untuk menikmatinya. Setelah itu barulah terasa lebih masuk akal. Kendati begitu, di masa ketika liburan ke luar negeri sulit untuk diwujudkan, masih lebih baik staycation daripada tidak ke mana-mana. Yang penting tetap ada liburan keluarga. 

Tuesday, December 7, 2021

Google Home And Music

When I set up Google Nest Wifi, the existence of the speaker meant for Google Assistant simply couldn't be ignored as if it was begging for you to use it. One thing that I immediately tested right after noticing it was to play music. 

In order to play the music seamlessly without ads, you'd have to link the Google Home with either Spotify or YouTube Music. Prior to this, I never used any music app before. As you might have noticed, I was an avid CD fan, but I was so intrigued this time that I just had to try it out. 

Spotify was the first one that I tried out. As a result, it became a benchmark, too. The app interface was so intuitive that I felt like I knew what to do with it to get what I wanted. I also liked the lyrics that kept scrolling up as I played the song. 

Now, with Spotify as my introduction to music app, I'd naturally expect YouTube Music to be more superior. I mean, it was from Google, so the user experience must be better, right? Turned out that it wasn't exactly true. Yes, it was capable of switching from audio to video, but when the intention was to only listen to music, I found that I wasn't even bothered to switch on the video, so the feature was unused. And, while this might look trivial, I disliked the extra step of clicking the lyrics tab. It didn't feel seamless. 

After the trial version expired, I switched from YouTube Music to Apple Music. I'd have to say it was worse than the previous one. It felt like a mobile version of iTunes and in a world where it had to compete with Spotify, it certainly felt outdated. To make it worse, it wasn't compatible with Google Home, at least in Singapore. It couldn't be used as a music provider!

It was fatal. After going through the privilege of just literally asking Google to play the songs I'd like to hear, I was now deprived from it. I disliked the feeling. It was like knowing that the feature was there but I couldn't use it because Apple Music was incompatible.

Confused? Okay, let's have a step back. Nowadays there was this little something called casting. What it did was broadcasting what we played on the phone to another devices such as TV and speakers. In this context, I was referring to Google Nest speakers. 

All three apps I mentioned earlier could cast the songs. No issue with this. But what I fancied was the ability to play music by just saying hey Google and what I wanted to hear spontaneously. While this worked perfectly with Spotify and YouTube Music, it simply couldn't be done with Apple Music because it wasn't listed as music providers.

Back to the original statement above, I had been a CD fan for the longest time, but the experience was so cool that I might have had a change of heart. I liked the newfound freedom that I could play music as I stepped into any room in my house. It was something I couldn't do before. And as for the music provider, I think Spotify worked best for me...

Google Home and music.




Google Home Dan Musik

Ketika saya memasang Google Nest Wifi, keberadaan speaker berkomunikasi dengan Google Assistant tidak bisa diabaikan begitu saja karena terlihat jelas di depan mata. Oleh karena itu saya lantas melakukan uji coba dengan cara memutar lagu. 

Supaya lagu-lagu bisa dipilih dan diputar tanpa selingan iklan, saya harus menghubungkan Google Home dengan penyedia musik, misalnya Spotify atau YouTube Music. Saya lantas membuka akun dan mencoba versi gratis selama sebulan. Sebelum ini, saya tidak pernah menggunakan aplikasi musik di telepon genggam. Seperti yang mungkin sudah anda ketahui, saya adalah pencinta CD lagu, tapi kali saya sungguh tergelitik sehingga mencoba fitur yang tersedia. 

Spotify adalah aplikasi pertama yang saya coba pakai dan hasilnya pun menjadi standar bagi aplikasi selanjutnya. Aplikasi ini terasa intuitif dan saya tidak mengalami kesulitan penggunaan. Saya juga suka dengan liriknya yang dinamis dalam menampilkan bagian yang sedang dinyanyikan. 

Setelah sebulan bersama Spotify, saya berharap bahwa YouTube Music akan lebih bagus lagi aplikasinya. Maksud saya, ini produk asli dari Google, jadi seharusnya lebih mantap, bukan? Namun ternyata tidak begitu ceritanya. Ya, YouTube Music bisa menampilkan audio dan video, tapi apa yang saya inginkan hanyalah mendengarkan musik, jadi saya bahkan tidak pernah sempat untuk menonton videonya sehingga fitur ini sama sekali tidak terpakai. Dan satu hal lain yang mungkin terlihat remeh tapi tidak praktis adalah langkah ekstra untuk melihat lirik lagu. Dari sudut pandang pengalaman seorang pengguna aplikasi, ini bukanlah hal yang positif.

Setelah versi gratis selama sebulan berakhir, saya berpindah dari YouTube Music ke Apple Music. Saya jujur katakan bahwa rasanya ini lebih buruk dari aplikasi sebelumnya. Tampilannya seperti versi ringkas dari iTunes dan di dunia dimana Apple Music harus bersaing dengan Spotify, aplikasinya terasa ketinggalan zaman. Lebih parah lagi, Apple Music tidak bisa dipakai sebagai penyedia musik bagi Google Home di Singapura!

Ini sungguh fatal. Setelah merasakan betapa praktisnya berujar meminta Google Assistant untuk memutar lagu, kebebasan saya bagaikan direnggut paksa. Saya tidak suka perasaan dimana saya tahu fitur ini ada, tapi tidak bisa dipakai karena Apple Music.

Anda merasa bingung? Baiklah, mari kita mundur selangkah. Sekarang ini ada yang namanya casting. Teknologi ini memungkin pengguna aplikasi untuk memancarkan apa yang sedang dimainkan di telepon genggam ke TV atau speaker. Di dalam konteks cerita kita ini, yang saya maksudkan adalah speaker Google Nest.

Tiga aplikasi di atas bisa melakukan casting. Tidak ada masalah dengan fitur ini. Tapi yang saya sukai adalah kebebasan dalam memutar lagu hanya dengan mengucapkan hey Google dan juga lagu yang ingin saya dengarkan secara spontan. Ini yang kini tidak bisa dilakukan lagi karena Apple Music tidak terdaftar sebagai penyedia musik di Google Home.

Kembali ke pernyataan di atas, saya adalah penggemar CD dari sejak dulu kala, namun kini pendapat saya berbeda. Saya suka dengan kebebasan baru yang saya miliki dan memungkinkan saya untuk bisa memutar lagu di setiap ruangan di rumah. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa saya lakukan sebelumnya, saat mendengarkan musik dari CD. Akan halnya pilihan untuk penyedia musik, saya rasa Spotify paling cocok untuk saya...