Total Pageviews

Translate

Wednesday, June 30, 2021

Book Review: The Reason I Jump

Autism is often a thing you have heard before, but never really care about until you encounter it in the form of someone you love dearly. Autistic people are neither stupid nor deranged, but they view the world and react so differently that they are typically misunderstood. When they did things that didn't seem to make any sense, the general response would be, "what are they thinking?"

It's a question not many can answer, so when a movie called The Reason I Jump was in cinema, my wife and I went to watch. The film began with a rather strange narration, then split into a few sections showing the lives of five individuals who lived with autism spectrum disorder. 

The movie was unusual, probably not recommended for the uninitiated as it could be quite depressing. But it also offered an explanation of... literally the reason they jumped. The key here was Naoki Higashida. At age 13, he managed to write a book about what he thought and felt as an autistic kid. The movie was sort of adapted from his book.

After watching the show, I was so curious that I immediately checked the library collection and reserved the book. And what an intriguing book it was! Most of the pages were in Q&A format. They were questions commonly asked by normal people and, through his answers, Naoki gave the readers a glimpse of how his brain and body worked.

It was interesting to see how he actually processed an image, for example a rainy day. It was quite touching to learn that inside his heart, he could be emotional just like any of us. It was painful to read that he couldn't help it when his body behaved differently, so much different than what he had in mind. It wasn't an easy reading, but coming from an autistic kid, it was an eye-opener. More than that, it showed that beyond the odd behaviours, there was a soul longing to be accepted and loved. 

And the fact that he could write all this and some short stories, especially the last one, was a proof that there was a beautiful mind trapped inside the body. It could be a bumpy and challenging journey to meet the real person beneath this autistic demeanour. This book was a great reminder for the readers not to give up and lose hope. 

The book and the movie poster.



Ulasan Buku: Alasan Saya Melompat

Autisme adalah sesuatu yang mungkin sering anda dengar, tapi tak pernah dimengerti sampai anda menemukannya sendiri dalam bentuk orang yang anda sayangi. Orang-orang autis tidaklah bodoh atau tidak waras, tapi cara mereka memandang dunia dan tingkah mereka begitu berbeda sehingga seringkali disalahpahami. Ketika mereka melakukan hal-hal yang tidak jelas artinya, tak jarang kita berpikir, "apa sebenarnya yang mereka pikirkan?" 

Ini adalah satu pertanyaan sulit yang hanya bisa dijawab oleh orang autis, jadi ketika film berjudul The Reason I Jump ditayangkan di bioskop, saya dan istri pun pergi menonton. Film ini dimulai dengan narasi yang terdengar aneh, lalu menampilkan kisah lima muda-mudi yang autis. 

Film ini tidak lazim dan barangkali tidak disarankan bagi orang awam karena berat materinya dan menyedihkan pula. Akan tetapi film ini juga menawarkan sebuah penjelasan tentang... kenapa mereka melompat. Kuncinya di sini adalah Naoki Higashida. Di usia 13 tahun, dia menulis buku tentang apa yang dia pikirkan dan rasakan sebagai bocah yang autis. Film ini merupakan adaptasi dari bukunya. 

Seusai menonton, saya menjadi sangat ingin tahu sehingga saya segera mengecek koleksi perpustakaan dan memesan buku tersebut. Saat saya dapatkan dan baca, ternyata unik bukunya. Sebagian besar isinya ditulis dalam format Q&A. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah apa yang biasa muncul di benak orang normal dan lewat jawabannya, Naoki menjelaskan cara kerja pikiran dan tubuhnya sebagai orang autis.

Menarik rasanya saat mengetahui bagaimana Naoki memahami apa yang sedang dilihatnya, misalnya saat hujan. Saya jadi terenyuh sewaktu membaca tentang apa yang dirasakannya, sebab dia pun ternyata memiliki perasaan. Ada rasa sedih pula saat Naoki bercerita tentang perbuatan dan prilaku yang luar kendalinya. Baginya, semua itu terjadi begitu saja dan dia tidak bisa mencegahnya. Ini bukan buku yang gampang dibaca, tapi sangat membuka wawasan. Buku ini juga mengingatkan kembali bahwa di balik semua tingkah laku yang aneh itu, ada seorang bocah yang berharap diterima dan dicintai apa adanya.

Fakta bahwa dia bisa menulis semua ini dan juga beberapa cerpen lainnya, terutama yang terakhir, menunjukkan bahwa ada sebuah kecerdasan yang terkurung dalam tubuh yang autis. Butuh perjuangan untuk bisa bertemu dengan sosok sejati dari pengidap autisme yang sulit dimengerti ini. Bilamana anda merasa lelah, buku ini bisa menguatkan anda kembali supaya tetap tegar dan tidak putus asa.  

Tuesday, June 22, 2021

The Third Option

I always have a soft spot for Chromebook. It's like, in the world dominated by Windows and Mac, it's good to have an alternative. More ofen than not, Windows is the default operating system for many of us. Mac is the fancy one, a very elegant piece of technology to behold and play with. Yes, both are great in their own ways, but one is not exactly cheap and the other is known to be pricey.

I bought my first Chromebook in July 2014, roughly three years after it was first launched. I remember trying it out as a substitute for MacBook, but it was a far cry from what I had in mind. The early Chromebook came with a small storage space as it was meant to work seamlessly with data on cloud, but the cloud technology itself was still in its infancy then (Google Drive was only introduced in 2012). The whole concept felt alien, resulting in a impression that without internet, the Chromebook was practically useless. 

I eventually gave it to my brother for browsing purpose as he didn't have an iPad at that time. Now that I looked back, if the whole Chromebook idea didn't work in Singapore, it definitely fared much worse in Pontianak, haha.

Windows, Chromebook and MacBook.

Fast forward to 2021, it was a different time now. As the technology was way more mature than before, cloud computing almost became a norm these days. Then of course there was COVID-19 that forced many of us to do our activities from home. In my case, that included my wife and daughter recently. As both needed to study, suddenly one MacBook Air was no longer sufficient.

If I had to get a second computer, I reckon it shouldn't be a Mac anymore. I also disliked the idea of getting another laptop, therefore I was contemplating whether I should get a Surface Go 2 or not. The price did look attractive, but it turned out that the spec was below par. If I beefed it up, I'd end up paying more than a new MacBook, which didn't make sense, because Apple was supposed to be the premium one here.

That's when I revisited Chromebook again and found this Lenovo product called Ideapad Duet. It was a solidly built tablet that came with a detachable keyboard and a cover that could be used as a kickstand. It also had a decent price tag for a Chromebook. I really like what I saw and I bought it for my daughter so she could use it as a laptop for home-based learning. Just to clarify here, I didn't want a laptop, but I wanted a tablet that looked like one, haha.

The first Chromebook I had, now in Pontianak.
Photo by Herry Robinson.

Anyway, Chrome OS had changed a lot since I last used it, but the most brilliant enhancement was the integration with Android. By allowing Chromebook to access Google Play Store, I could install most of the things my daughter needed such as Office 365 and all the Google stuff, i.e. Gmail, Google Translate, etc. Zoom was surprisingly missing from Play Store, but could be found on Chrome Web Store. In short, I could have all the required applications on Chromebook.

One last thing, the login required a Google ID. I created one for my daughter a while ago and it did have some sort of parental control. Things she could access were based on her age and anything she'd like to install had to be approved by her parents. 

Overall, it was a good buy. Chromebook was no longer a computer that simply didn't work when there was no internet. Everything had finally fallen into place for Chromebook to function properly. To a certain extent, it simply works! Recommended! 

Trying out WhatsApp on her new Chromebook. 




Pilihan Ketiga

Chromebook selalu menarik perhatian saya karena keunikannya. Di dunia yang didominasi oleh Windows dan Mac, keberadaannya merupakan sebuah alternatif. Sering kali Windows menjadi pilihan utama bagi kita karena sistem inilah yang digunakan oleh khalayak ramai. Di sisi lain, Mac adalah teknologi yang dikemas dengan elegan dan sedap dipandang. Dua-duanya memiliki keunggulan tersendiri, tapi yang satu tidaklah murah dan yang lainnya terkenal mahal. 

Saya membeli Chromebook pertama saya di bulan Juli 2014, kira-kira tiga tahun setelah Chrome OS dirilis. Saya ingat saat saya mencoba Chromebook sebagai pengganti MacBook, tapi apa yang saya tes ini masih jauh dari harapan. Chromebook pada masa ini memiliki tempat penyimpanan data yang kecil karena teknologinya dirancang untuk bekerja dengan data di cloud, tapi teknologi cloud sendiri masih tergolong baru pada saat itu (Google Drive pertama kali diluncurkan pada tahun 2012). Konsepnya masih terasa asing. Kesan yang saya rasakan waktu itu adalah, tanpa internet, Chromebook ini sama sekali tidak berguna. 

Akhirnya saya berikan Chromebook kepada saudara saya sebagai sarana untuk menggunakan internet karena dia tidak memiliki iPad di kala itu. Kalau saya lihat kembali sekarang, jika ide di balik Chromebook tidak bisa diterapkan di Singapura, tentunya produk ini lebih gagal lagi di Pontianak, haha.

Chromebook pertama di Pontianak.
Foto oleh Herry Robinson.

Kembali ke tahun 2021, ini adalah masa yang sama sekali berbeda. Teknologi sudah jauh lebih matang dan cloud mulai diterima secara meluas. Kemudian ada pula wabah COVID-19 yang memaksa kita untuk beraktivitas di rumah. Bagi saya pribadi, dampaknya mencakup istri dan anak saya. Karena dua-duanya perlu menggunakan komputer untuk belajar, tiba-tiba satu MacBook Air tak lagi memadai.

Jika saya harus membeli komputer baru, aneh rasanya kalau saya membeli Mac lagi. Saya juga tidak ingin membeli laptop lagi, jadi saya sempat berpikir untuk menjajal Surface Go 2 yang berbasis Windows. Harganya terlihat menarik, tapi ternyata spesifikasinya di bawah rata-rata. Jika saya upgrade, harganya jadi lebih mahal dari MacBook. Ini terasa tidak masuk akal, soalnya produk Apple yang biasanya lebih premium. 

Jadi saya pun melihat Chromebook kembali dan saya temukan produk Lenovo yang bernama Ideapad Duet. Piranti keras ini berbentuk tablet dan datang bersama keyboard serta cover yang juga bisa dipakai sebagai sandaran. Harganya pun standar untuk Chromebook. Saya suka dengan apa yang saya lihat, jadi saya beli sebagai sarana bagi putri saya untuk belajar di rumah. Sekedar penjelasan bagi yang heran, saya tidak ingin membeli laptop, tapi saya mau tablet yang bisa dibentuk menjadi laptop, haha.  

Chromebook di antara Windows dan Mac.

Setelah saya kutak-katik, saya menemukan bahwa Chrome OS sudah berubah drastis sejak terakhir kali saya gunakan. Terobosan yang paling cerdas adalah integrasi Chrome OS dan Android yang akhirnya memberikan pengguna akses ke Google Play Store. Saya jadi bisa menginstal aplikasi yang dibutuhkan putri saya, misalnya Office 365 dan produk Google lainnya seperti Gmail dan Google Translate. Zoom tidak ditemukan di Play Store, tapi bisa diinstal dari Chrome Web Store. 

Satu hal terakhir, untuk login dibutuhkan Google ID. Saya sudah membuat login untuk putri saya beberapa waktu yang lalu dan login ini memberikan semacam pengawasan kepada orang tua. Usia menjadi patokan untuk apa yang bisa diakses olehnya dan apa yang hendak dia instal harus mendapat ijin dari orang tua. 

Secara keseluruhan, ini adalah produk yang bagus untuk dibeli. Chromebook tak lagi merupakan komputer yang tak bisa dipakai bila tidak memiliki akses internet. Kemajuan zaman membuat Chromebook dan cloud bisa digunakan setidaknya untuk keperluan sekolah. Bila anda berminat, anda bisa mencobanya juga.

Anak lagi mencoba WhatsApp di Chromebook.


Tuesday, June 15, 2021

Paid By Crypto

This story began with Abbey Road, the 50th anniversary edition. You know how in today's fast paced life, music was often just a background noise to kill the solitude while you were busy doing something else? I didn't want that. For this special occasion, I decided to do it the good old way, when listening to music was actually an activity. 

For the next 47 minutes, I wore headphones and did nothing else. As I closed my eyes, what I heard made me smile. The vocals, the melody, the great music. Basically everything one could expect from a band called the Beatles

Then of course there was this groovy drumming of Ringo Starr. It was so captivating that it reminded me how I used to love playing drums as well. I remember lining up boxes and banging them with drum sticks, the only part I could afford then. I remember the happiness I had 20 years ago. It was fun, wasn't it? How about getting a drum kit now?

I was indecisive about it. I wanted to buy one, but spending SGD 500 felt like a bit too much for a hobby that I hadn't pursued for the past two decades. On the other hand, I had been quietly observing cryptocurrency, especially Ethereum (ETH). I missed the first round when it suddenly went as high as SGD 5.5K. From that moment on, I thought I'd like to give it a try, so I made a wager in our high school chat group: if I made enough profit, I'd buy the drums.

That's when I learnt how to trade. A friend from Hong Kong recommended Exodus for the crypto wallet and xanpool.com for trading. This whole thing sounded quite complex as they were separated. Then another friend, the one we called CEO, suggested Coinhako. This solution is not only more integrated, but it also designed with Singapore users in mind. I eventually decided to use this instead.

The registration was slightly unusual as it involved face recognition. For password, it used PIN and also 2FA from Google Authenticator. Once all this was setup, the trading finally began! I was prepared to enter at SGD 2.9K, but when it dropped tremendously to 2.7K, I found myself waiting and wondering if it could drop further to 2.6K. I was a novice and I must say that I was surprised to discover this human nature called greed in me. In the end market rebounded and I entered at SGD 2.9K as I originally intended to, haha.

What happened next was the waiting game. During this period, I realized that crypto was kind of odd. It was either I didn't know anything about it or there wasn't any indicator for me to tell if it'd go up or down. As a result, I developed this habit of checking the price. Eventually, I set up the alert to sell when the price reached SGD 3.5K. Two days later, it hit the sell price around 5am. I was still groggy, not entirely sure if I was to sell, but then my friend, an early bird from Surabaya, sternly warned me that I better exited the position as I said I would.

I knew he meant well so I did exactly that and cashed out. Just like the buy and sell, there was some small percentage of withdrawal fee charged by Coinhako. It took almost five days to receive the money in my bank account. I immediately ordered the drums from Amazon right after that and two weeks later, that young man from 20 years ago, the one who had to make do with boxes (and ceiling fan blades as cymbals) finally had his own drum kit! 

Conclusion? With my limited experience, while it's true that I made profit within such a short time span, it was probably pure luck. There was no telling how crypto actually worked. Secondly, my skill was so rusty that Ringo's drumming on Abbey Road felt intimidating. I actually switched to Michael Learns to Rock after one round, haha. And lastly, the moral of the story was, to quote Irene Cara, "take your passion and make it happen!"

Give me the beat, girl!



Dibayar Oleh Kripto

Cerita kali ini dimulai dengan Abbey Road, edisi 50 tahun. Anda pasti tahu bahwa di masa kini, musik seringkali hanya sekedar latar belakang bagi anda yang sibuk mengerjakan hal lain. Nah, saya tidak mau yang seperti ini. Untuk kesempatan yang istimewa ini, saya memutuskan untuk menikmati musik dengan cara lama, ketika mendengarkan lagu merupakan sebuah aktivitas yang menghibur. 

Oleh karena itu, selama 47 menit, saya menggunakan headphones dan bersantai tanpa mengerjakan hal apa pun. Sewaktu saya memejamkan mata, apa yang saya dengar membuat saya tersenyum. Suara penyanyinya, melodi gitar dan juga musiknya sesuai dengan apa yang bisa diharapkan dari grup musik bernama the Beatles

Kemudian tentu saja ada permainan drum Ringo Starr yang merupakan daya tarik tersendiri. Begitu memukau sehingga saya pun jadi teringat, betapa saya suka menabuh drum dulu. Saya ingat tatkala saya menjejerkan kotak-kotak dus dan menggebuknya dengan drum sticks, satu-satunya bagian dari drum yang sanggup saya beli pada saat itu. Saya teringat dengan kegembiraan saat bermain drum 20 tahun lalu. Senang rasanya, bukan? Bagaimana kalau misalnya memiliki drum sekarang?

Saya jadi ragu. Di satu sini, saya ingin membeli drum, tapi di sini lain, rasanya menghambur SGD 500 untuk hobi yang sudah lama saya tinggalkan tidaklah bijak. Saya lantas teringat dengan mata uang kripto yang sering saya amati belakangan ini, terutama Ethereum (ETH). Saya tidak sempat ikut serta ketika harganya melambung tinggi hingga SGD 5.500. Sejak saat itu, saya jadi ingin coba, jadi saya pun sesumbar di grup SMA: kalau saya dapat untung di kripto, maka saya akan beli drum.  

Dari sinilah saya mulai cari tahu. Seorang teman dari Hong Kong merekomendasikan Exodus sebagai dompet kripto dan xanpool.com untuk jual-beli. Akan tetapi prosesnya terdengar cukup rumit karena dompet dan tempat jual-beli terpisah. Seorang teman lain yang akrab dengan panggilan CEO lalu menganjurkan Coinhako. Solusi lebih terintegrasi dan cenderung cocok untuk pengguna di Singapura, jadi akhirnya saya pakai yang ini. 

Proses registrasinya agak unik karena melibatkan teknologi pengenalan wajah. Untuk password, Coinhako menggunakan PIN dan juga 2FA dari Google Authenticator. Setelah pendaftaran berhasil diproses, saya pun bisa mulai membeli kripto. Awalnya saya ingin masuk di harga beli SGD 2.900, namun ketika harganya jatuh sampai 2.700, saya jadi menanti dan membayangkan apakah harganya bisa turun lagi hingga 2.600. Saya adalah pemula dan terus-terang saya terkejut juga saat menyadari bahwa tanpa sadar saya menjadi tamak dan tidak melakukan transaksi di harga beli yang saya tetapkan sebelumnya. Pada akhirnya pasar berbalik arah dan saya pun masuk di harga 2.900, haha.  

Apa yang terjadi selanjutnya adalah penantian. Selagi menanti, saya jadi merasa bahwa kripto ini agak aneh. Entah saya sendiri yang tidak tahu apa-apa tentang kripto atau memang tidak ada indikator jelas apakah harganya akan naik atau turun. Alhasil, saya jadi memiliki kebiasaan melihat harga. Setelah itu saya memasang peringatan untuk menjual saat harga mencapai SGD 3.500. Dua hari kemudian, sekitar jam 5 pagi, terdengar bunyi yang menandakan bahwa harga sudah tercapai. Saya masih setengah sadar, tidak sepenuhnya yakin apa mesti lanjut tidur atau atau menjual ETH, tapi seorang teman dari Surabaya yang bangun pagi dan memantau pasar akhirnya mengingatkan saya kembali untuk segera bertindak sesuai dengan apa yang saya katakan sebelumnya. 

Saya tahu teman ini bermaksud baik, jadi saya pun jual dan ambil uangnya. Sama halnya seperti transaksi jual-beli, ada sedikit biaya administrasi untuk penarikan dana. Prosesnya memakan waktu hampir lima hari. Setelah menerima dana tersebut di rekening bank, saya bergegas memesan drum di Amazon. Dua minggu kemudian, pemuda dari 20 tahun silam yang dulunya harus membuat drum dari kotak dus (dan baling-baling kipas angin sebagai simbal) akhirnya memiliki drum sendiri! 

Kesimpulannya? Berdasarkan pengalaman saya yang terbatas, meskipun saya bisa mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat, saya rasa ini sepenuhnya bergantung pada nasib. Tidak jelas bagaimana cara kerja mata uang kripto itu sebenarnya. Hal kedua, permainan drum saya begitu buruk sehingga keahlian Ringo di Abbey Road terasa sangat mengintimidasi, sampai-sampai saya pindah ke lagu-lagu Michael Learns to Rock, hehe. Terakhir, bila ada moral dari cerita, maka bisa dirangkum lewat kutipan lagu Irene Cara, "take your passion and make it happen!"

Thursday, June 10, 2021

Crypto: Sebuah Konspirasi?

Well, sebelum masuk ke pembahasan crypto, mari kita mundur dulu ke tahun 1999.

Tahun 1999 adalah tahun penjualan perangkat IT terbesar sepanjang sejarah. Barang-barang IT ini bisa laku karena di tahun 1999, Bill Clinton tiba-tiba minta agar pemerintah Amerika mempersiapkan diri menghadapi Millenium Bug. Lantas dunia pun heboh dan mengira akan terjadi kiamat digital. Semua berbondong-bondong menganti komputer. 

 Nah, ujung-ujungnya, yang untung siapa? Tentunya Amerika yang mendominasi teknologi IT pada saat itu (dan bahkan sampai sekarang). Sampai-sampai ada yang produksi Y2K card sebagai solusi hemat mengatasi Millenium Bug

Setelah kita lalui, ternyata kekhawatiran tentang kiamat digital tidak terjadi. Bisnis IT terutama komputer dan komponen perlahan menjadi lesu, tersaingi dengan hadirnya smartphone dan lain-lain.

Lalu tiba-tiba di tahun 2009 ada sosok misterius yang menciptakan mata uang digital dengan segala keunggulan yang diproyeksikan menjadi mata uang dunia. Wow, menarik juga konsepnya!

Seiring dengan berjalannya waktu, muncul pula koin-koin baru yang dengan gampangnya diciptakan beberapa orang berbeda. Bahkan sampai ikon anjing dijadikan logo koin. Jadi koin mana yang nantinya menjadi koin yang dipakai dunia secara luas? Sampai di sini sudah merasa, dong, kok siapa pun dan kapan pun bisa ciptakan koin digital ini?

Ok, kembali ke konspirasi. Di tahun 2016, bisnis IT khususnya komputer mulai mencapai titik jenuh dan diramalkan akan kiamat karena smartphone. Mendadak di awal 2017, sekeping bitcoin dihargai sampai USD 20.000. Di tahun yang sama, miners alias para penambang digital mulai borong vga card dan seketika itu juga harganya melonjak dan industri komputer pun bangkit lagi. Lagi lagi siapa yang untung? Ya Amerika lagi karena Nvidia asalnya dari Amerika.

Karena bitcoin tidak memiliki aset yang terjamin, harganya pun turun sampai USD 4.000. Bisnis IT/komputer serta-merta turun juga.

Kemudian awal 2020 dihebohkan dengan pandemik COVID-19. Orang-orang tidak ke mana-mana untuk menghabiskan duit, jadinya mulai melirik saham. Tiba-tiba investor ritel naik signifikan.

Momen inilah yang dimanfaatkan "mafia" untuk mendongkrak koin digital ini. Di tahun 1999, Bill Gates adalah biangnya. Kini, di tahun 2020, Elon Musk menjadi biangnya. Bitcoin pun mencapai harga USD 50.000.

Karena harga koin digital yang tinggi, para penambang digital pun kembali memborong vga card sehingga harganya sampai naik dua tiga kali lipat. Lebih dashyat lagi dari tahun 2017, bertepatan pula dengan industri mobil pintar yang membutuhkan chip dalam jumlah besar sehingga chip dunia terbatas kuantitasnya. 

Setelah momen vga card yang diborong dan naik sampai tiga kali lipat, Bram Cohen dari BitTorrent pun meciptakan koin baru bernama Chia yang mining-nya memakai cara baru, yaitu pakai hard disk storage space. Sekarang gantian harga-harga hard disk kapasitas besar yang melambung.

Nah, dilihat dari opini saya di atas, apakah ini bisa disebut konspirasi dari produsen hardware?





Sunday, June 6, 2021

What God Giveth...

When you work hard in life, it's easy to get carried away and think that any achievement unlocked is due to your own hard work. It's pure logic. You've made it, therefore it's yours. It's that plain and simple. Or so it seems, because it's more than that.

Do you ever wonder why other people also work as hard, or even harder than us, but yet never seem to make it? This shows that hard work alone is not enough. There has to be another part of the equation. There must be, but what? The answer, apparently, was found in the sentence that I muttered every morning for twelve years during school days: Thy will be done.

His will, not ours. And what God gives, God may take away, too. Now, before we get too far, I want to assure you that this is the same Roadblog101 that you've been reading for the past four and a half year. If what you read up until here had been rather biblical, that's because I was reminded again by the sudden turn of events. What I wanted to share with you here had been something that I always believed in, but like any other human beings, I might have forgotten it and taken things for granted, too.

Oh yes, this happened. Even though I had been an easy-going person, I also had a habit of clinging too dearly to things that I had worked hard for. Money was one of them. It's good to have money because it makes a lot of things in life much easier. Money is a great servant, but as the saying goes, it's also a bad master. It's a lifelong practice to strike the balance. Parting with ten percent of your earning, especially right after bonus, is admittedly not easy. But once you get past it, you learn that life is more than just money. It's... liberating.

Anyway, the trigger of today's writing was the change that happened recently. I started a team and after all the things we went through together for the past eight years, the day finally came for me to part ways. This resulted in mixed feelings. It was like, I couldn't believe this was taken away from me. Then, as the reality sank in, I realized that what I thought was being taken away from me wasn't actually mine to begin with. I was only given a chance to take charge and it was fun while it lasted. When it ended, that simply meant I had to move on. 

So that was the key, I reckon. We shouldn't be too sad about the things we lost or things that didn't happen, be it money or whatever it was that the material world got to offer, because they were never ours anyway. We are merely the custodians. But when they are placed under our care, we better do our best. Time only moves forward, so you don't want to get into a situation where you wish you have done this or that. Life is best lived with as little regret as possible...

Once upon a time in 2017.



Apa Yang Tuhan Berikan...

Ketika kita bekerja keras di dalam hidup ini, terkadang kita bisa terlena dan berpikir bahwa setiap sukses yang dicapai adalah karena kerja keras kita. Ini wajar, sebab masuk akal. Anda bekerja keras, anda sukses, maka sukses itu milik anda. Sesederhana itu. Namun betulkah sesederhana itu?

Pernahkah anda bayangkan kenapa orang lain yang bekerja keras, bahkan lebih keras upayanya dari kita, namun tidak juga kunjung berhasil? Ini menunjukkan bahwa usaha kita sendiri tidaklah cukup. Ada faktor lainnya, tapi apa? Setelah dipikirkan, saya rasa jawabannya ada di kalimat yang saya ucapkan selama 12 tahun di sekolah: jadilah kehendak-Mu. 

Ya, kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Dan apa yang Tuhan berikan, bisa diambil kembali pula oleh-Nya. Sebelum kita bercerita lebih jauh, saya ingin meyakinkan anda bahwa Roadblog101 masih sama seperti apa yang anda baca selama empat setengah tahun terakhir. Bila kali ini kesannya lebih terasa seperti khotbah, ini karena saya diingatkan kembali lewat pengalaman yang terjadi baru-baru ini. Apa yang ingin saya bagikan berikut ini adalah sesuatu yang selalu saya yakini. Namun seperti manusia lainnya, ada kalanya saya pun lupa dan berpikir bahwa semua yang terjadi adalah jerih payah saya semata. 

Oh ya, hal ini sangatlah manusiawi. Meskipun saya tergolong pria yang santai dan tidak ambil pusing banyak hal, saya juga tidak luput dari kebiasaan menggenggam terlalu erat hal-hal yang sudah saya perjuangkan dengan susah-payah. Misalnya tentang uang. Memiliki uang itu bagus karena banyak hal di dalam hidup ini yang menjadi lebih mudah kalau ada cukup uang di saku anda. Uang itu pelayan yang bagus, tapi seperti kata pepatah, uang itu tuan yang buruk. Butuh latihan yang terus-menerus untuk bisa mengendalikan diri soal uang. Berpisah dengan sepuluh persen dari penghasilan, apalagi setelah bonus, bukanlah perkara mudah. Tapi setelah perpuluhan ini ditekuni secara rutin, saya belajar bahwa hidup ini tidak hanya sekedar tentang uang. Rasanya seperti... bebas dari belenggu. 

Hal lainnya, dan yang ini menjadi pemicu topik hari ini, adalah perubahan yang baru saja terjadi. Di tahun 2013, saya memulai tim baru di kantor dan bersama-sama kita melewati banyak hal dalam delapan tahun terakhir ini. Siapa sangka kemudian tiba waktunya bagi saya untuk keluar dari tim yang saya bentuk? Berbagai perasaan berkecamuk di hati saya. Rasanya sulit untuk percaya bahwa tim ini diambil begitu saja dari saya. Lantas, setelah kenyataan ini bisa saya terima, saya sadari bahwa apa yang saya sangka direnggut dari saya ini sebenarnya bukanlah milik saya dari sejak awal. Saya hanya diberi kepercayaan dan kesempatan untuk menjalaninya dan semuanya telah berjalan dengan seru dan baik. Ketika semua ini berakhir, artinya saya akan memulai sesuatu yang baru.

Sesederhana itu. Dan saya rasa inilah hikmahnya. Kita tidak perlu terlalu sedih, baik ketika sesuatu itu hilang ataupun ketika sesuatu tidak terjadi, sebab sedari awal semua ini bukanlah milik kita. Ya, entah itu uang atau jabatan atau apa pun itu yang bersifat duniawi, pada dasarnya kita hanyalah diberi kesempatan untuk mengelolanya. Ketika semua itu dipercayakan pada kita, maka kerjakanlah dengan sebaik mungkin. Waktu hanya berjalan maju, jadi tentunya kita tidak mau terjebak dalam situasi dimana kita mengeluh, seandainya saja waktu itu saya mengerjakan hal itu. Hidup ini idealnya dijalani dengan penyesalan sesedikit mungkin...