Total Pageviews

Translate

Friday, August 31, 2018

Wonderful Indonesia: West Java

I first realised that Indonesia is a beautiful country when I traveled from Jakarta to Bali. At that time, as we passed by West Java, we took the South Route that led to towns such as Singaparna (the name stuck in my mind because it sounded like a localised version of Singapura and Patno used to joke about it) and Tasikmalaya before we reached Majenang in Central Java. I was amazed by the spectacular view that I saw during the road trip. The scenery was green, mountainous, with gorges here and there. Breathtaking.

While I never repeated such an adventure anymore, I had returned to West Java numerous times since then. Visited several destinations, to be precise. Having said that, here are some places that I'd been to: Karawang, Tasikmalaya and Pangandaran. Bandung is intentionally excluded this round. The way I look at it, I'd been to the capital city of West Java so often that the only way I can cover the entire experience is by writing a standalone story about it.

Let's start with Karawang first. Located more or less 50km away from Jakarta, I don't think the town is ever a tourist destination. That's not to say there's nothing good there. Visited the town twice. The first visit was to see where Tommy, my ex-housemate from Singapore, lived. I recall eating the wet spring roll, playing Zelda on Nintendo Wii and having pepes on the following day.

When we had the famous pepes in Karawang!

The second time was a proper visit with a group of high school friends and that's when I had a good look at the town. After visiting an old friend in Bekasi, we continued our journey to Karawang and stayed at Mercure Karawang. Not only it was a nice hotel, but the location was good, too. There were shopping malls there and we went to the one across the street, passing by a rather memorable view: there were two aeroplanes parking next to the mall, converted as one bizarre looking restaurant. Now that's something you don't see everyday! The next morning, before we left the town, we went to Pepes Jambal Bapak Emin in Walahar. Now, just in case you are curious after hearing the word pepes twice, it's a famous local delicacy. It could be anything, ranging from fish, tofu to mushrooms, wrapped in banana leaf and cooked. Not exactly my favorite, but it is edible, haha.

Next, about three hours away from Bandung, there's this town called Tasikmalaya. You can get there via Nagreg then Tjiawi or detour a bit via Garut. Now, the Tjiawi route may be slightly faster, but Garut is a town worth visiting. It's famous for dodol, a sweet sugar palm-based confection. I loved it and I used to buy it when I was in Pontianak, so imagine how delighted I was when I stepped into a shop full of dodol. Elsewhere, you'd see boxes of dodol stacking up nicely at the supermarket, but here, you'd see the same brand being piled up and sold per kg! It was a mind-blowing, no, an overwhelming experience to see dodol everywhere I turned my head to!

Riding becak in Tasik with my daughter. 

Talk about Tasikmalaya, I tend to think that the town is an unlikely destination for tourists, but one can definitely stop here for a short break before continuing the journey to Pangandaran. The reason why I ended up there was because that's where my wife came from. When I was there, I couldn't help feeling that the atmosphere was very much Islamic and Sundanese. The downtown area is small but very busy! I reckon no tourist will go to Tasikmalaya for the shopping malls, but the food is alright, especially the soto Tasik and yamien. I remember being amused by my first bowl of soto Tasik, because the scoop of rice was already soaking inside the bowl of soup. Prior to this, I always had the impression that the meal was served separately as a plate of rice and a bowl of soto. Yamien, basically noodles with either salty or sweet taste, is abundant! My brother-in-law also owns a noodles shop called Lucky Mie.

Now, for people of Tasik, Pangandaran is a popular destination for holiday. The distance is roughly three hours from the town. People will go there for the seafood and the beach. While it is no Bali, it is the nearest and, in a way, the most affordable. Along the way, one can also go to Green Canyon (a very cool name for a place otherwise known as Cukang Taneuh). I had never been there myself, but I went to the second best spot called Cikupa. The environment was still rather pristine and it had a decent waterfall for us to get wet. 

To summarise, in West Java, one has to manage the expectation. The land of Sundanese is definitely not a world class standard, but the places are modestly charming and not so commercialised. Here's one destination waiting for you to discover its natural beauty and the simplicity of life...

When we were visiting Cikupa. 


Indonesia Yang Menakjubkan: Jawa Barat

Perjalanan saya dari Jakarta ke Bali adalah pertama kalinya saya menyadari betapa indahnya Indonesia. Saat itu kita melintasi jalur selatan yang membawa kita ke arah kota-kota kecil di Jawa Barat seperti Singaparna (saya ingat betul nama kota yang mirip dengan Singapura ini karena teman saya Patno sering menyebutnya saat bercanda) dan Tasikmalaya sebelum kita mencapai Majenang di Jawa Tengah. Di dalam mobil, saya dibuat takjub oleh pemandangan alam yang hijau, bergunung-gunung dan diselingi ngarai.

Walau saya tidak pernah lagi mengulangi perjalanan serupa, saya telah berulang kali kembali ke Jawa Barat dan mengunjungi beberapa kota dan tempat wisata di sana, mulai dari Karawang, Tasikmalaya sampai Pangandaran. Oh ya, Bandung sengaja tidak disebutkan di sini karena saya merasa bahwa saya perlu menulis satu cerita tersendiri tentang kota ini.

Karawang difoto dari arah Hotel Mercure.
Foto oleh Endrico Richard. 

Mari kita mulai dulu dengan Karawang. Kota ini berjarak kira-kira 50km jauhnya dari Jakarta. Saya rasa kota ini bukanlah tujuan wisata yang lazim, namun ini tidak berarti bahwa tidak ada yang bagus di sini. Saya sendiri pernah ke sana dua kali. Kunjungan pertama saya cukup spontan. Saya ikut dengan Tommy di suatu malam untuk melihat seperti apa tempat yang didiaminya setelah dia pindah dari Singapura dan kembali ke Indonesia. Waktu itu kita sempat bersantai di tepi jalan sambil menikmati lumpia basah, lalu pulang ke tempatnya dan bermain Zelda. Kita lantas bersantap pepes pada keesokan harinya. 

Ketika saya kembali ke Karawang untuk kedua kalinya, saya berangkat bersama teman-teman sekolah untuk mengunjungi kawan-kawan lama yang tinggal di sana. Kita bertolak dari Bekasi setelah makan di Bebek Kaleyo, lalu meneruskan perjalanan ke Karawang dan menginap di Hotel Mercure. Hotel ini bukan saja bagus, tapi juga strategis lokasinya karena dikelilingi oleh banyak pusat perbelanjaan. Dua buah pesawat terparkir di sebidang tanah kosong tepat di seberang hotel dan konon dialihfungsikan sebagai restoran. Sungguh unik sekali! Di pagi berikutnya, sebelum kembali ke Jakarta, kita sarapan di Pepes Jambal Bapak Emin di Walahar. Bagi anda yang penasaran setelah mendengar kata pepes yang muncul dua kali sampai sejauh ini, pepes adalah masakan lokal yang terkenal di Karawang. Isinya beragam, mulai dari ikan, tahu, jamur dan lain-lain, yang kemudian dibungkus dengan daun pisang sebelum dimasak. Saya tidak terlalu suka, tapi tidak keberatan untuk menikmatinya bersama-sama, haha.

Kota berikutnya, yang bisa ditempuh dalam tiga jam dari Bandung, adalah Tasikmalaya. Ada dua jalur menuju Tasik. Dari Nagreg, kita bisa mengambil jalur ke arah Tjiawi atau putar sedikit melalui Garut. Arah Tjiawi mungkin saja sedikit lebih cepat, tapi Garut layak untuk dikunjungi karena kota ini terkenal dengan dodol. Saya suka dodol Garut dan sering membeli cemilan ini di Ligo Mitra saat di tinggal di Pontianak dulu, jadi bayangkan betapa bersuka-citanya saya saat memasuki toko yang dipenuhi dodol. Di tempat lain, dodol Garut biasa dijumpai dalam kemasan kotak yang ditumpuk dengan rapi di supermarket, tapi di sini, merek yang sama tumpah-ruah di meja dan dijual secara kiloan.

Yamien di Lucky Mie.
Foto oleh Liu Junius. 

Akan halnya kota Tasikmalaya, kota ini juga tidak terkenal sebagai tempat pariwisata, tetapi layak dikunjungi bagi mereka yang ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Bagi saya sendiri, saya terkadang pergi ke Tasik karena istri saya berasal dari kota ini. Berbeda dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi, Tasik memiliki nuansa Islami dan budaya Sunda yang kental. Pusat kotanya kecil, tapi sangat ramai. Saya rasa tidak ada yang mengunjungi Tasik karena pusat perbelanjaannya (Bandung jelas lebih menarik), tapi makanannya cukup lezat, misalnya soto Tasik dan yamien. Saya ingat saat pertama kalinya saya melihat soto Tasik. Nasinya disajikan di dalam mangkok soto dalam kondisi terendam. Ini terasa janggal bagi saya yang selalu memiliki persepsi bahwa nasi dan soto dihidangkan secara terpisah. Makanan lainnya, yamien, adalah mie yang bisa disajikan dalam dua pilihan, asin atau manis. Yamien bisa ditemukan di setiap pelosok kota. Adik ipar saya pun memiliki toko yamien bernama Lucky Mie, dimana ia terjun langsung sebagai koki, mulai dari membuat mie sampai siap saji bagi pelanggan. 

Bagi warga Tasik, Pangandaran adalah tempat wisata yang populer untuk liburan. Jarak tempuhnya berdurasi tiga jam dari Tasik. Di Pangandaran, kita bisa menikmati makanan laut dan pantai. Pangandaran tentu saja bukan Bali, tapi jaraknya tidak terlalu jauh dan terjangkau harganya. Tidak jauh dari sana, kita juga bisa mampir ke Green Canyon (nama yang kebarat-baratan untuk tempat yang aslinya bernama Cukang Taneuh). Saya belum pernah ke Green Canyon, tapi saya pernah mampir ke Cikupa yang terletak tidak jauh dari sana. Lingkungannya masih asri dan ada sebuah air terjun kecil bagi mereka yang ingin berbasah-ria. 

Bilamana seseorang ingin berlibur di Jawa Barat, saya kira harapannya harus disesuaikan. Tanah Sunda ini bukanlah tempat wisata kelas dunia, tapi menarik karena pesonanya yang sederhana dan tidak terlalu komersial. Singkat kata, ini adalah tempat-tempat yang menanti anda untuk menemukan keindahan alami dan gaya hidup yang lebih santai...

Pangandaran

Sunday, August 26, 2018

The Reminiscences

Of all the chores that have to be done by the head of a household, there are two that I avoid like the plaque. The first and foremost are electrical matters. The high voltage and sparks scare the hell out of me that it makes more sense to pay an electrician to do such thing instead.

The second one is woodwork. Unlike my friend Eday who takes it as a hobby (oh yes, you should look at his upcoming book, it's brilliant), I dislike the carpentry work. To me, it is physically demanding, too much work and the result isn't satisfying. I won't be doing it unless I'm left with no choice.

And that exact situation happened last week. I was just about to begin my Sunday morning when the door hinge of the mirrored cabinet in the bathroom gave way as I opened the door. It was unbelievable. I was like, "what a bloody way to start my day." As I was desperately trying to figure out how to fix the hinge, my wife stepped in. She built a temporary foundation by stacking up boxes to support the heavy door, then she convinced me to go to shower and went to church first.

But of course no amount of prayers could fix the door miraculously. I thought it was quite urgent and it seemed like something that I could DIY. Furthermore, the bathroom cabinet right below the basin had rusty hinges. I had ignored this problem for quite a while, so it was about time that I fixed them as well. I went to Ikea, got myself an electric screwdriver and replaced all the hinges.

Once done, I took a step back and looked at the result. It got me laughing. The heavy door of the mirrored cabinet was slanted. The other cabinet had a gap between doors. Then I called my wife and, while we were admiring the masterpiece that failed spectacularly, I told her that it wouldn't be like this if Dad was here. She nodded in agreement. Dad is never a professional carpenter, but his work is always neat and precise.

I called Mum that night and we laughed about how none of her sons manages to posses the very skill her husband is good at. Then I also spoke with Dad. He gave me some pointers on how to fix this, but as he carried on speaking, his voice faded away. I was deep in thoughts, marvelling at how a series of unfortunate events could turn out to be so memorable. It led to me to a good memory about my Dad. Such a simple memory, but yet so beautiful.

And it got me thinking that it must be good to be remembered for a good reason. Just like how I know my Dad will always be in my heart, I hope my daughters will remember me, too, one day. For many things that I could have done wrong, I do wish that I'm a good father and doing this right...

Me and Dad and a birthday that wasn't mine. We just took a picture there, haha.
PS: Just realized that we seldom took pictures together and this was like the only one I could find.



Kenangan

Dari semua hal yang harus diurus oleh seorang kepala rumah tangga, ada dua hal yang sebisa mungkin selalu saya hindari. Yang pertama adalah masalah listrik. Tegangan tinggi dan percikan bunga api senantiasa membuat nyali saya ciut sehingga lebih masuk akal bagi saya untuk membayar tukang listrik untuk mengerjakannya. 

Hal kedua adalah pekerjaan tukang kayu. Berbeda dengan teman saya Eday yang memiliki hobi di bidang ini (oh ya, anda harus lihat buku barunya yang mengulas tentang segala sesuatu yang ia kerjakan dalam mempercantik tempat tinggalnya), saya tidak menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan memasang, memperbaiki dan membongkar perabotan rumah. Bagi saya, ini adalah pekerjaan kasar yang melelahkan dan kalau dikerjakan sendiri, hasilnya belum tentu memuaskan. Saya cenderung akan mengabaikannya kalau tidak terpaksa. 

Dan seburuk itulah situasinya minggu lalu. Saya baru saja akan memulai aktivitas saya di hari Minggu ketika engsel pintu lemari kaca di kamar mandi saya copot saat saya buka pintunya. Saya sungguh tertegun dan tidak percaya bahwa saya bisa semalang ini. Bukankah ini seharusnya hari Minggu yang cerah? Kenapa jadi begini? Ketika saya mengutak-atik engsel tersebut dengan gusar, istri saya pun datang menghampiri. Dia menumpukkan beberapa kotak untuk menyangga pintu lemari yang agak berat itu, kemudian meyakinkan saya untuk mandi dan ke gereja dulu. 

Akan tetapi tentu saja engsel yang rusak itu tidak akan kembali seperti sediakala hanya dengan doa di gereja. Setelah pulang, saya kembali melihat seberapa parah kerusakan pintu tersebut, kemudian terbayang oleh saya bahwa sepertinya ini adalah sesuatu yang bisa saya kerjakan sendiri. Lagipula lemari yang menyangga wastafel toilet pun sudah berkarat engsel pintunya. Setelah sekian lama saya abaikan, mungkin sudah saatnya ini diperbaiki juga. Akhirnya saya pergi ke Ikea untuk membeli obeng listrik dan memperbaiki semua engsel tersebut. 

Setelah selesai, saya mundur sedikit ke belakang untuk melihat hasil kerja saya secara keseluruhan. Dan saya jadi tertawa geli. Pintu kaca itu miring, sedangkan lemari di bawah wastafel itu kini memiliki celah di antara dua pintu. Kemudian saya memanggil istri saya dan di kala kita mengagumi hasil kerja saya yang gagal total, saya berujar padanya bahwa ini tidak akan terjadi kalau ayah saya yang mengerjakannya. Istri saya mengangguk setuju. Meski ayah saya tidak pernah berprofesi sebagai tukang kayu, tapi hasil kerjanya selalu rapi. 

Saya lantas menelepon Ibu untuk bercerita dan kita tertawa karena tidak ada satu pun dari dua anaknya yang mewarisi keterampilan suaminya. Lalu saya juga berbicara dengan Ayah. Dia memberikan petunjuk tentang bagaimana saya bisa memperbaiki lemari-lemari tersebut, namun petunjuknya hilang begitu saja, masuk dari telinga kiri dan keluar lagi dari telinga kanan. Saya larut dalam pikiran saya, takjub dengan rangkaian kejadian tidak menyenangkan yang akhirnya menjadi berkesan dan membuat saya teringat dengan kenangan tentang ayah saya. Ya, sebuah kenangan yang sederhana, tapi membuat saya bahagia dan tersenyum ketika teringat dengan beliau. 

Hal ini membuat saya berpikir bahwa pasti senang rasanya bila diingat dan dikenang karena alasan yang baik. Sebagaimana saya diingatkan kembali tentang ayah saya pada hari ini, saya juga berharap bahwa putri-putri saya akan tersenyum saat terkenang akan ayah mereka suatu hari nanti. Dari begitu banyak hal yang mungkin saya lakukan secara keliru dalam hidup ini, saya sungguh berharap bahwa saya melakukan tanggung jawab sebagai seorang ayah dengan benar... 

Saturday, August 18, 2018

Gat

Now here's a single word subject of a blog post that gets you puzzled, ain't it? Gat was a college friend and a fellow colleague of mine during my last year in STMIK. The two of us worked together as the computer lab assistant then. And back to the name, I did ask him recently about what it actually meant. To tell you the truth, I had this curiosity built up for years since the day I knew him until now, so I subconsciously expected a secret origin or something dramatic, but life had its way to tell me to suck it up and live with it. No, Gat's name had no hidden meaning. It was on the spur of the moment kind of thing and his parents just decided to name him like that.

But still it was a name to remember. Not only it is uniquely short, but it is also a name that resonates in the academics world. He's a lecturer since he graduated from college, teaching subjects such as programming, networking, IT security, operating systems, database and many more, but what impressed me the most was his keen interest in intellectual pursuit. He already completed his master's degree and is now doing his doctorate. This was the first time I heard of a friend studying the highest level of academic agree, so it was a nice surprise, really. Good for him.

Gat in the traditional Dayak attire. 

Talk about surprise, I really didn't see that coming. Based on what I saw from afar (from Facebook, to be precise), he was busy singing with his band. Then he told me that it was an old interest that got revived after he joined his students' band. His audition story was something like this: one day in 2007, he happened to be a bystander watching the band rehearsing for the upcoming show in campus. I guess it was a basic courtesy for students to get your lecturer to sing, but apparently it felt right, so Gat became a full time member. Since he was a lecturer with a rather well-known name, the band was eventually called Gat's Band, with Gat as the vocalist, Joko as the keyboardist and Nano as the drummer. The rhythm, lead and bass guitars section were handled by Andri, Kiki and Meldi respectively.

As a band, they performed in several occasions, from campus to a place as far as Singkawang. After performing cover versions for a while, Gat's Band realised that perhaps they could write their own song. That's when they came up with one called Cinta Terakhirku. Their effort was commendable. The song was properly recorded and it also had a music video! You can see it here!


When we were on the songwriting topic, I asked his opinion about the current situation in Indonesia. I told him that the freedom of speech was abused to the extent that one could easily condemn another as infidel just because we were different. Gat said the freedom to express oneself is alright, as long as it is positive and it doesn't harm other people. He had no comments about infidelity because he doesn't subscribe to such concept. What's more important is for us to realize the beauty of unity in diversity. 

But will he write a song about such topics? No, apparently not. The only time they ever did that, they wrote about love. Why? That's because love is beautiful and love brings peace. Well said, eh?

Gat's Band, live on stage.


Gat

Jadi, apakah judul artikel yang hanya berupa satu kata ini membuat anda bingung? Gat adalah nama teman kuliah dan juga rekan kerja saya di tahun terakhir saya di STMIK. Kita dulu berprofesi sebagai asisten laboratorium komputer. Kembali ke soal nama, akhirnya saya berkesempatan untuk bertanya, apa artinya. Terus-terang saja, saya sudah penasaran selama bertahun-tahun lamanya, jadi saya mengira ada rahasia besar atau kisah legendaris di balik nama tersebut. Akan tetapi hidup ini memiliki cara tersendiri untuk mengingatkan saya agar jangan terlalu sering berkhayal. Menurut Gat, mungkin nama itu spontan diberikan kepadanya. Hanya begitu saja.

Nama tersebut bukan saja unik, tetapi juga bergaung di dunia pendidikan. Gat menjadi dosen di STMIK sejak lulus kuliah dan dia mengajar programmingnetworkingIT security, operating systems, database dan masih banyak lagi. Akan tetapi, jika ada hal yang membuat saya paling terkesan adalah minatnya dalam mendalami ilmu. Gat sudah menyelesaikan S2 dan kini tengah merampungkan S3. Ini pertama kalinya saya mendengar tentang seorang teman yang belajar untuk meraih gelar doktor. Saya sungguh salut dan kagum.

Pembuatan video Cinta Terakhirku. 

Ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan dan tidak terduga oleh saya, sebab saya sepertinya melihat Gat sibuk bernyanyi bersama grupnya beberapa waktu yang lalu. Oh ya, Gat memiliki grup musik dan dia bercerita bahwa menyanyi adalah hobi lama yang akhirnya tersalurkan setelah dia bergabung dengan grup yang dibentuk oleh para mahasiswanya. Kisah audisinya kurang lebih seperti ini: di tahun 2007, Gat kebetulan menyaksikan latihan para anak muda berbakat musik ini, lalu diajak untuk turut bernyanyi. Suaranya cocok dan disukai, akhirnya Gat pun menjadi anggota grup. Karena nama Gat cukup tenar di lingkungan kampus, akhirnya mereka sepakat untuk mengunakan nama Gat's Band. Gat adalah vokalisnya, Joko dan Nano, dua mahasiswa STMIK, adalah pemain keyboard dan drum. Bagian gitar dan bas diisi oleh Andri, Kiki dan Meldi.

Sebagai grup musik, mereka tampil di beberapa kesempatan, mulai dari pentas musik kampus sampai suatu acara di Singkawang. Setelah memainkan lagu-lagu terkenal yang diciptakan oleh orang lain, mereka lantas berpikir bahwa mungkin mereka juga bisa menulis lagu sendiri. Berawal dari sinilah lagu Cinta Terakhirku tercipta. Upaya mereka patut diacungi jempol. Mereka bukan saja merekamnya secara profesional, tetapi juga membuat video musiknya! Anda bisa lihat karya mereka di bawah ini!


Ketika, kita membahas tentang topik menulis lagu, saya iseng bertanya tentang opininya mengenai situasi terkini di Indonesia. Saya katakan bahwa saya merasa sepertinya kebebasan berbicara di Indonesia itu sudah sampai pada tahap semena-mena sehingga seseorang bisa dengan gampangnya memanggil orang lain dengan sebutan kafir. Gat lantas berujar bahwa kebebasan berekspresi itu bagus, namun hendaknya bernilai positif dan tidak merugikan orang lain atau bahkan menimbulkan keributan. Yang penting adalah bagaimana kita menyadari indahnya kebersamaan dan keanekaragaman kita dalam berbangsa.  

Kalau begitu, apakah dia akan menulis lagu dengan tema di atas? Rasanya tidak. Sekali-kalinya mereka menulis lagu, mereka mengangkat tema cinta. Ini karena cinta itu indah dan cinta membawa rasa damai. Jawaban yang mantap, bukan?

Friday, August 17, 2018

You Are What You Read

I remember those days when Ahok was still the governor of Jakarta. There was this feeling that my country was going to the right direction and I just needed to know the latest news about it. This then formed a habit to read the day-to-day progress through Kompas and a bit of Denny Siregar and Birgaldo Sinaga.

Kompas is a trusted media since the 60s, so the news is unlikely to be wrong or biased. Denny and Birgaldo were good writers, the former was a satirist and the latter always wrote the touching stories about his fight for Ahok. During the governor election, I read seword.com as well. It was good, but I couldn't help feeling that the news was skewed towards Ahok's favor. I mean, I knew Ahok was great, but he shouldn't be portrayed as an invincible man.

As we all know it, Ahok was eventually defeated and jailed. For a person who loves his country, to have a dream snuffed out like that was hard to swallow. I was dejected. I totally lost interest in doing what I did. This lasted for a while, until my visit to Endrico's house. He humorously talked about Jonru and I had a glance. The fake news was full of hatred and I couldn't bring myself to read any further. It was like, how on earth could someone write something like that? How did the person sleep at night?

As a reader, my question would be, who'd believe that? One had to be really blind or stupid to take this rubbish seriously. But much to my surprise, the followers/readers were not exactly little. That's when I realised that the social media hoax was really horrifying. If you hadn't traveled to other places before and sites such as Jonru's were your only source to outside world, you could end up believing it as the truth if you read it everyday. It's like brainwashing. Quite scary, actually.

And that was the one and only time I ever ventured out to read something that was against my conscience. These days, I browsed Katakita a couple of times per day. It had a very much pro-Jokowi content, alright, but at least I felt peaceful reading it. From time to time, I'd visit Humor Politik as well for good laugh. They did a good job in making fun of the current governor and all the political antics that happened recently in Indonesia. In a way, I think Indonesians are the grateful bunch. If we didn't get the anything good out of what was happening to us, at least we got something to laugh at.

While Indonesia may not be the most literate country (in fact, according to a Jakarta Post article dated 12-Mar-2016, Indonesia was the second least literate of 61 nations, besting only Botswana), but I tend to think that those who can read, love to read. That's good, except what we read is not always good. Oh yes, it can be very damning at times, so please be very selective!

Humor Politik. Liked!


Anda Adalah Apa Yang Anda Baca

Saya ingat hari-hari dimana Ahok masih menjabat sebagai gubernur di Jakarta. Saat itu ada perasaan bahwa Indonesia seperti menuju ke arah yang benar. Setiap hari, saya merasa ingin tahu tentang perkembangannya sehingga lambat-laun saya memiliki kebiasaan membaca berita di Kompas dan juga tulisan Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Kompas adalah media yang terpercaya sejak tahun 60an, jadi beritanya bisa dijamin benar dan tidak bias. Denny dan Birgaldo adalah penulis yang bermutu. Tulisan Denny lucu dan bernada menyindir, sedangkan Birgaldo sering menulis tentang perjuangannya dalam membela Ahok. Menjelang pilkada, saya juga mulai membaca artikel di seword.com. Walaupun bagus, saya sering merasa kalau artikelnya dengan sengaja menggiring opini pembaca ke Ahok. Maksud saya, tidak salah bahwa Ahok itu orang hebat, tapi itu tidak lantas berarti dia sempurna. 

Sebagaimana yang kita ketahui, Ahok akhirnya kalah dan bahkan dipenjara. Rasanya seperti terbangun dari mimpi yang direnggut paksa dan ini susah untuk saya terima. Saya sangat kecewa dengan kenyataan yang ada dan kehilangan minat untuk melanjutkan rutinitas yang saya jabarkan di atas. Puasa berita ini berlangsung sampai kunjungan saya ke rumah Endrico. Ucapannya yang humoris tentang Jonru membuat saya tergelitik untuk mencari tahu, siapa orang ini sebenarnya. Ketika saya baca, saya sungguh terperangah. Tulisannya bukan saja berbentuk ujaran kebencian, tetapi juga tidak benar. Ada rasa sesak yang membuat saya berhenti membaca. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, bagaimana seseorang bisa menulis seperti ini dan tidur nyenyak di malam hari?

Dari sudut pandang pembaca, pertanyaan saya adalah, siapa yang akan percaya tulisan Jonru ini? Orang tersebutlah pastilah buta atau luar biasa bodohnya untuk mempercayai sampah seperti ini. Namun pengikut/pembaca artikel-artikel ini tidak sedikit jumlahnya. Saat itulah saya jadi sadar akan bahaya berita palsu di media sosial. Masalahnya adalah, jika anda tidak pernah melihat dunia luar dan satu-satunya sumber berita anda adalah tulisan-tulisan keji seperti ini, anda akhirnya akan percaya bila tiap hari melahap berita palsu yang disuguhkan di depan anda secara rutin. Ini seperti cuci otak. Cukup mengerikan, sebenarnya. 

Dan itu adalah sekali-kalinya saya pernah mencoba membaca sesuatu yang bertentangan dengan nurani saya. Sekarang, saya masuk ke halaman Katakita beberapa kali per hari. Tulisannya cenderung pro-Jokowi, tapi setidaknya saya merasa tenang saat membaca. Dari waktu ke waktu, saya juga mengunjungi Humor Politik. Orang-orang di balik Humor Politik ini sangat kreatif dalam membuat lawakan yang terjadi di panggung politik sehingga saya seringkali tertawa geli di MRT. Humor Politik ini mengingatkan saya lagi bahwa orang Indonesia adalah orang-orang yang bisa bersyukur. Jika kita tidak memperoleh hasil yang baik dari apa yang sedang terjadi pada kita (gaberner, misalnya), setidaknya kita mendapatkan bahan tertawaan. 

Meski Indonesia bukanlah bangsa yang paling rendah angka buta hurufnya (menurut artikel Jakarta Post tanggal 12-Mar-2016, dari 61 negara, Indonesia ada di urutan nomor dua dari bawah, hanya sedikit lebih baik dari Botswana), namun saya percaya bahwa yang bisa membaca, gemar membaca. Ini hal yang bagus, cuma apa yang kita baca tidak selalu bagus. Oh ya, tulisan yang ada bisa saja sangat menjerumuskan, jadi pilihlah dengan seksama!

Katakita. Liked! 

Sunday, August 12, 2018

The Four-Headed Monster

"We were playing a little club in Richmond and I saw right in front of me, there they were — THE FAB FOUR. The four-headed monster. They never went anywhere alone. And they had on the most beautiful long, black leather trench coats. I thought to myself, 'If I have to learn to write songs to get one of those, I will.'"

That, my friends, was the quote from Mick Jagger, part of his speech when he inducted the Beatles into the Rock and Roll Hall of Fame in 1988. There was a video of that monumental moment and, as you could see from Mick's expression, it was funny and sincere at the same time. Even a Rolling Stone admired and was inspired by the Beatles. A bit of history lesson here, the Rolling Stones didn't write their own songs then. It was the Beatles that showed them how this was done. That's why Mick made that reference about writing his own songs.

At the very least, the Beatles are loveable. To many and many more to come, they are adorable. To me, they are simply irresistible. I already mentioned how the Beatles changed my life through their music. I also picked up English because they made it cool and I wanted to speak like them. Now, here's the story of how the Beatles, as four different individuals, became my heroes.

As a high school student, I didn't grow up with a father figure. Due to financial difficulty, even my mother and brother had to leave Pontianak not long after my father left. In retrospect, I could have felt abandoned and became an angry young man, but luckily that didn't happen. That was because around the same time, I found the Beatles. After seeing them on TV in early 1996, I was immediately converted. 26 years after they broke up, even after their heyday was long gone and they no longer existed, the Beatles were still attracting new fans, me included.

With the Beatles in Liverpool, 2016.

Now, by any definition, I wasn't a cool kid. I might be doing quite alright academically, but I wasn't a popular student. I was skinny and very poor, but for the first time ever, the outward appearance and how much I had (or didn't have) in my pocket didn't matter anymore. I gained confidence because I knew how to rock and roll. I could really sing one, dammit! I remember performing Money (oh, the irony) in front of the class with my friend Hardy. That's when I realised I was cool in my own way.

And the craze didn't end there. It got worse, actually. The Beatles were so awe-inspiring that I began to read about about them. The internet didn't exist then, so my primary sources were the newspapers and magazines. I remember reading the articles from Hai and Intisari. The former was about the rise and fall of the Beatles, including the short biography of each member. The latter was more about John and the day he died. My late Uncle Hendy gave the magazines to me as he noticed that I always borrowed them. By the way, it was also through him that I first heard of No More Lonely Nights, a very underrated song from Paul McCartney and my all-time favorite.


Speaking from my own experience, in my very first year of being a fan, John was by far the coolest Beatle. He was quick-witted and foul-mouthed, but he was also honest-to-God at the same time. I must have been subconsciously trying to be like him that many years later, such characters are now part of who I am. John also made it okay for guys to show their vulnerabilities. From him, I learnt about humility. It's also worth remembering that John was a genius. He got a lot of quotes (and lyrics) that are relevant to many situations in life. And of course it was only John who could declare confidently that everything is easy and all you need is love. I always believe that optimism wholeheartedly.

Once I got past John's charm, I began to notice that the other three weren't half bad. In fact, they were equally cool. There was Paul, the most entertaining Beatle and the one responsible for many, many good songs. For a living legend, he is surprisingly humble. Ever a storyteller, you could see how genuine he was when he was fondly remembering his time with the Beatles. His relationship with John was beautiful. I remember watching him live in Japan and when he performed Here Today, a song he wrote for his fallen friend John, I could tell that he meant it from the bottom from his heart. Oh, Paul is also left-handed, something that I definitely can relate with. It's good to know that left-handed people can do well, too!

A favorite of mine, Devil's Radio. (Source - George Harrison)

Then there was George, the one that gave me the first taste of Indian culture and Hinduism. There was one period of my life where I played My Sweet Lord almost everyday. The chanting of Hare Khrisna mantra was just so catchy! But most importantly, the life of George Harrison was a constant reminder of the need to have God's presence in my life. I mean, if a Beatle said, "everything else in life can wait, but the search for God cannot wait," then there must be a certain degree of truth in it!

Last, from Ringo, I learnt to be happy-go-lucky. Easily dismissed as just a drummer and not much of a singer, it's interesting to note that Ringo is the only one that can aptly sing Act Naturally and With a Little Help from My Friends. The way I look at it, that's how life should be. Perhaps I'm neither very important nor very talented, but it feels great to be just the way I am and to get by with the help from my friends. Ringo is also an excellent example that we don't always have to be basking under the spotlight. Sometimes we can just be at the back and play our parts.

As I said it earlier, I could have made a wrong turn in growing up and became a horrible person. But no, I met the Beatles instead. They might not be the ideal role models, but they were the best thing that could happen to me at that time. The Beatles were no saints, alright. They were just flawed and ordinary human beings. But those qualities, together with their story of hard work or beautiful brotherhood, were precisely why they were so relatable. They became the major influence in my life. Looking back, it was, perhaps, almost unimaginable how rock and roll could change one's life, but with the Beatles, it certainly could!

The Beatles, Hard Days Night Hotel.
Photo by Evelyn Nuryani.


Monster Berkepala Empat

"Ketika kami tampil di klub kecil di Richmond, saya melihat mereka di depan saya — THE FAB FOUR. Monster berkepala empat ini senantiasa datang dan pergi bersama. Dan saat itu mereka mengenakan jas kulit yang bagus dan berwarna hitam. Saat itu saya jadi berpikir, 'kalau saya harus belajar menulis lagu untuk mendapatkan jas seperti itu, maka saya akan melakukannya.'" 

Kutipan di atas berasal dari pidato Mick Jagger ketika dia mendapat kehormatan untuk menyampaikan kata sambutan saat pelantikan the Beatles sebagai anggota Rock and Roll Hall of Fame di tahun 1988. Lewat video yang berdurasi sekitar empat menit ini, anda bisa bisa melihat ekspresi yang lucu dan tulus saat Mick berbicara. Bahkan seorang Rolling Stone pun mengagumi dan terinspirasi oleh the Beatles. Sedikit pelajaran sejarah di sini, Rolling Stones tidak menulis lagu mereka sendiri sampai Mick and Keith melihat bagaimana John dan Paul melakukannya di depan mereka. Karena inilah Mick menyinggung tentang perihal menulis lagu.

Mick Jagger inducts The Beatles - Rock and Roll Hall of Fame Inductions 1988. (Sumber - Rock & Roll Hall of Fame)

The Beatles disukai dan daya tarik mereka telah terbukti melintasi generasi. Bagi saya pribadi, mereka adalah salah satu pengaruh paling penting yang membawa perubahan positif. Saya sudah pernah bercerita tentang bagaimana the Beatles mengubah hidup saya lewat lagu-lagu mereka. Selain itu, saya juga akhirnya bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Inggris karena saya ingin berbicara seperti mereka. Nah, berikut ini adalah cerita bagaimana the Beatles sebagai empat individu yang berbeda menjadi pahlawan bagi saya. 

Sebagai seorang remaja yang baru memasuki jenjang SMA, saya tidak memiliki figur seorang ayah. Karena masalah keuangan, bahkan ibu dan adik saya harus turut meninggalkan Pontianak tidak lama setelah ayah saya pergi. Tumbuh dalam situasi seperti itu, saya bisa saja merasa diabaikan dan menjadi seorang yang pemarah, namun syukurlah ini tidak terjadi. Saat saya ditinggal seorang diri, saya menemukan the Beatles. Setelah melihat mereka di RCTI pada awal tahun 1996, saya langsung tergila-gila. 26 tahun setelah bubar, the Beatles masih saja menarik perhatian penggemar-penggemar baru, termasuk saya. 

Kembali tampil bersama Hardy (dan juga Muliady) untuk lagu Money di Reuni 2014.

Di kala itu, dari sudut pandang apa pun, saya bukanlah sosok yang menonjol di kalangan teman-teman SMA. Saya mungkin lumayan berprestasi secara akademis, namun saya bukanlah murid yang populer.  Selain kurus, saya juga miskin. Kendati begitu, untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa penampilan dari luar dan apa yang ada (atau tidak ada) di saku saya tidaklah terlalu penting. Saya menjadi percaya diri karena saya tahu dan bisa menyanyi rock and roll. Bersama Hardy, saya tampil di depan kelas membawa lagu Money (ah, betapa ironis). Sejak saat itu, saya tahu saya unik dan tidak perlu malu untuk menjadi diri sendiri.

Dan kegilaan saya tentang the Beatles tidak berakhir di situ, namun justru kian menjadi-jadi. Saya mulai mencari tahu dan membaca artikel-artikel mengenai the Beatles. Saat itu belum ada yang namanya internet, jadi sumber saya adalah koran dan majalah. Saya ingat betul tentang tulisan yang saya baca di majalah Hai dan Intisari. Dari majalah Hai, saya membaca ulasan kisah the Beatles dan biografi singkat masing-masing anggota. Dari Intisari, saya membaca tentang John dan cerita tentang hari terakhirnya di muka bumi ini. Almarhum paman saya, Hendy, akhirnya memberikan dua majalah tersebut kepada saya setelah saya pinjam berulang-kali. Oh ya, dia juga orang yang memperkenalkan No More Lonely Nights, lagu yang kemudian menjadi favorit saya. 


Cuplikan lagu the Beatles, ketika John berseru tentang apa yang kita perlukan adalah cinta. (Sumber - The Beatles) 

Berbicara dari pengalaman saya sendiri, saya rasa John adalah sosok idola yang paling menarik perhatian orang-orang yang baru mulai menggemari the Beatles. Dia paling cerdas dan cepat tanggap. Gaya bicaranya lucu dan menjurus ke arah sinis, namun dia juga terkenal jujur dan berbicara apa adanya. Perlahan tapi pasti, karakternya pun menjadi bagian dari diri saya. John yang ekspresif juga memberikan contoh bahwa pria boleh saja menunjukkan kelemahannya. Dari John, saya belajar untuk mengakui kelebihan dan kekurangan saya. Perlu diingat juga bahwa John Lennon itu jenius. Banyak ucapan dan liriknya yang relevan dengan situasi dalam kehidupan. Dan tentu saja hanya John yang bisa berseru tentang bagaimana semua hal itu mudah untuk dijalani dan apa yang kita butuhkan hanyalah cinta. Saya selalu percaya pada optimismenya dengan segenap hati.

Setelah saya mulai terbiasa dengan kharisma John, barulah saya mengetahui bahwa tiga anggota Beatles lainnnya pun tidak kalah menariknya. Mereka bahkan boleh dibilang setara dengan John. Yang paling menghibur dan menulis banyak lagu-lagu bagus adalah Paul. Untuk seorang legenda hidup, dia tergolong sangat rendah hati. Sebagai seseorang yang senantiasa senang bercerita, anda bisa melihat bagaimana Paul terlihat ceria saat mengenang masa-masa yang ia lalui bersama the Beatles. Kisah persahabatannya dengan John sangatlah indah. Saya ingat ketika menyaksikan pertunjukannya di Jepang. Saat ia menyanyikan Here Today, lagu yang ditulisnya untuk John yang telah meninggal, saya bisa merasa bagaimana ia merasa sangat kehilangan seorang teman dekat. Oh, Paul juga seorang kidal, jadi lega dan senang rasanya mengetahui bahwa orang kidal pun bisa sukses.

Sir Paul, legenda hidup yang bersahaja. (Sumber - The Late Late Show with James Cordern)

Setelah Paul ada George, Beatle yang memperkenalkan saya pada budaya India dan Hindu. Ada suatu ketika dalam hidup saya dimana saya memutar lagu My Sweet Lord setiap hari. Mantra Hare Khrisna yang diucapkan berulang-ulang itu sangat bernuansa mistis dan berkesan! Bicara tentang topik keagamaan, yang terpenting dari George adalah kisah hidupnya yang mengingatkan saya tentang perlunya mencari Tuhan. Maksud saya, jika seorang Beatle berkata bahwa, "semua hal di dunia ini bisa ditunda, tapi mencari Tuhan adalah prioritas utama," maka ini sudah hampir bisa dipastikan sebagai suatu kebenaran!

Terakhir, dari Ringo, saya belajar untuk bergembira dan menikmati hidup. Secara sekilas Ringo gampang untuk dianggap sebagai hanya sekedar seorang penabuh drum dan penyanyi yang tidak begitu berbakat, namun faktanya adalah hanya Ringo yang bisa menyanyikan Act Naturally and With a Little Help from My Friends dengan pas. Menurut saya, hidup itu seharusnya persis seperti apa yang dinyanyikan Ringo. Saya belajar untuk menerima bahwa saya mungkin bukan sosok yang terlalu penting atau berbakat, namun nyaman rasanya bisa menjadi diri sendiri dan dikelilingi teman-teman yang senantiasa membantu saya. Ringo adalah sebuah teladan yang juga mengingatkan saya bahwa saya tidak harus menjadi selalu pusat perhatian. Ada kalanya saya cukup berada di belakang dan memainkan peran saya untuk orang lain.

Ringo, saat diwawancarai oleh Ellen. (Sumber - The Ellen Show)

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya bisa saja salah langkah dan tumbuh menjadi orang yang buruk sifatnya. Tapi jalan hidup saya mempertemukan saya dengan the Beatles. Mereka mungkin bukan contoh yang ideal, tapi mereka adalah hal yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya pada saat itu. The Beatles jelas bukan sekumpulan orang suci. Justru sebaliknya, mereka adalah anak-anak muda biasa yang berbuat banyak kesalahan. Kualitas tersebut, ditambah lagi dengan kisah perjalanan mereka yang penuh kerja keras dan persahabatan yang erat, adalah alasan kenapa mereka bisa menjadi idola dan menjadi salah satu pengaruh paling besar dalam hidup saya. Kalau saya lihat kembali, rasanya sulit dibayangkan bahwa rock and roll bisa mengubah kehidupan seseorang, tapi dengan the Beatles, semuanya menjadi mungkin!

Friday, August 3, 2018

The Snacks

I'm never a big fan of snacks, but yet they're not quite something that I can do without. The relationship is rather enigmatic. I don't mind munching if the snacks are available, but usually I won't go all the way just to buy them. I'd love to believe that, but still this is not quite true. There's at least one that I'd go the extra mile just for the sentimental reason. Here's the story about snacks that are worth considering.

Roti gem.

I was a kid then. I can't remember when or where. I don't even know the name until many years later, when I saw it at Carrefour in Jakarta. It's called roti gem in Bahasa Indonesia. God knows what they call it in English. It was this tiny little biscuit with a solid sugar frosting on top of it. When I first had it, I was smitten. It was like love at first sight. So beautiful, so sweet. By the way, I was referring to the top part of it, haha. As a little boy, I often ate only the sugary part and threw away the biscuit. As I grew older, I began to appreciate it as a whole. Apparently the biscuit is meant to negate the sugar level, otherwise it'll be too sweet. Brilliant, eh? For your information, roti gem normally comes in red, yellow, green and white, but don't get fooled by the colours, because they all taste the same. And just like any other good snack should be, I always have a hard time of stopping the moment I start eating roti gem. I finished a whole bucket recently, with a little help from my colleagues. 

Next, I'd like to introduce you something that is native to Indonesia. It's called emping, a cracker made of melinjo. If you might have heard of it before and suspected it as the cause of gout, I'm happy to inform you that according to Wikipedia, some scientists from Japan had checked it out and no, it had nothing to do with the disease. Having said that, we can now safely talk about emping itself. I didn't always love it due to its bitter aftertaste, but the art of making emping must have become more sophisticated than before. The taste is very much refined that it isn't felt bitter anymore. The sweet one is subconsciously encouraging whereas the spicy version will make you come back for more. Both are neither too thick nor too hard, making them very crunchy these days. Oh, there's a bland of version of it, too. If you are a big fan of Indonesian cuisines, you'll find emping served together with lontong, soto and many more.

Emping. 

Last one that I often had throughout the year was pineapple tarts. These bad boys are godsend. The skin is soft and it crumbles when you bite it, revealing the pineapple jam that is sweet enough for you to pick up some more. A bit of a history lesson here, back then, during Chinese New Year, pineapple tarts were bigger and shaped like a leaf. Nowadays, they are smaller in size, but that's the beauty of it. Each of them is, for lack of a better word, mouthful. Before I knew it, I could have gulped down many. This could be fatal, because sore throat might come afterwards, haha.

So there you go, my favorite snacks. Just in case you are wondering why these three were featured here, there were simple reasons for this. The first snack was literally for the sake of a sweet childhood memory. I loved it then, I love it now. The other two were the courtesy of a good friend of mine, Susan. She owned a snack shop and supplied me the good stuff from time to time, just when I needed them the most. Life has been good, but it gets better with an appropriate amount of snack time!

Pineapple tarts. 


Cemilan

Saya rasa saya tidak tergolong sebagai penggemar cemilan kelas berat, namun saya juga tidak bisa dikatakan tidak suka ngemil. Tabiat yang satu ini agak rumit, tapi mungkin bisa dijelaskan seperti ini: saya bisa duduk diam dan menikmati cemilan kalau kebetulan tersedia, tapi saya hampir tidak pernah membeli cemilan karena memang niat dan disengaja. Definisi ini hampir benar, kecuali untuk cemilan di foto di bawah ini. Kalau saya merindukan kenangan masa kecil, terkadang saya tergerak untuk membelinya. Berikut ini adalah cerita tentang cemilan-cemilan yang mungkin pantas anda pertimbangkan untuk dicoba.

Versi Singapura (kiri) dan versi Indonesia (kanan).

Saya tidak ingat persis di mana atau kapan tepatnya saya pertama kali mencicipinya. Saya bahkan tidak tahu apa namanya sampai bertahun-tahun kemudian, ketika saya melihatnya di Carrefour ITC Cempaka Mas. Menurut label yang ada di depan toples, namanya adalah roti gem. Cemilan ini berbentuk biskuit kecil dengan gula manis warna-warni di atasnya. Rasanya seperti cinta pada pandangan pertama. Begitu indah, begitu manis. Maksud saya bagian atasnya, haha. Ketika masih kanak-kanak, saya seringkali hanya memakan bagian yang bergula, lalu membuang biskuitnya. Ketika saya lebih dewasa, saya mulai mengerti kenapa cemilan ini disertai biskuit. Ternyata kalau dimakan bersamaan, rasa manisnya berkurang karena adanya biskuit. Orang pertama yang membuat roti gem pastilah luar biasa cerdasnya. Oh ya, gula di atas roti gem biasanya berwarna hijau, kuning, merah atau putih, namun apa pun warnanya, rasanya sebenarnya sama saja, hehe. Dan seperti halnya cemilan lainnya, saya senantiasa sulit berhenti kalau sudah mulai menikmatinya. Terakhir kali saya makan roti gem, saya menghabiskan satu toples berukuran sedang dengan sedikit bantuan dari rekan-rekan kerja saya. 

Berikutnya, saya ingin memperkenalkan anda sesuatu yang berasal dari Indonesia. Namanya emping melinjo. Anda mungkin pernah mendengar bahwa emping bisa menyebabkan asam urat, tapi saya baru lihat di Wikipedia bahwa ilmuwan Jepang membantah hal tersebut. Dengan demikian emping aman untuk dikonsumsi. Secara pribadi, saya tidak begitu menyukai emping dulu karena ada rasa pahit yang melekat di lidah. Kendati begitu, teknik membuat emping sepertinya sudah meningkat dan kian mahir. Rasa emping sudah berubah jauh bila dibandingkan dengan kualitas di tahun 80an. Yang manis terasa sangat mengundang dan yang pedas membuat anda terlena. Emping zaman sekarang tidak terlalu keras dan tebal sehingga terasa renyah saat dikunyah. Oh, yang versi tawar juga ada. Kalau anda adalah pencinta makanan Indonesia, anda pasti tahu bahwa emping juga disajikan dalam menu seperti soto, lontong dan lain-lain.

Emping dalam toples. 

Cemilan terakhir yang sering tersedia di rumah adalah nastar, anugerah luar biasa yang dikaruniakan pada umat manusia. Kulitnya begitu lembut dan langsung melebur ketika digigit, membuka jalan bagi anda untuk menikmati selai nenas yang terbungkus di dalamnya. Bertahun-tahun silam, di saat perayaan Tahun Baru Cina, nastar berukuran besar dan berbentuk daun. Hari ini, nastar jauh lebih kecil dan pas di mulut sehingga anda akan tanpa sadar mengambil dan mengambilnya lagi. Terkadang ini bisa fatal karena setelah itu, timbullah sakit tenggorokan, haha. 

Seandainya anda jadi bertanya-tanya, kenapa tiga cemilan ini menjadi favorit, saya memiliki beberapa alasan berikut ini. Yang pertama, ketika kita berbicara tentang roti gem, saya menyukainya dari sejak kecil. Akan halnya emping dan nastar, ini adalah buah kebaikan dari teman saya Susan. Keluarganya memiliki toko cemilan dan kirimannya senantiasa tiba di saat saya benar-benar membutuhkannya. Jadi jangan lupa, hubungi Susan untuk persediaan cemilan di musim dingin!