Total Pageviews


Saturday, June 27, 2020

The Grand Plan

When I thought of writing this, the topic felt strangely familiar. True enough, after checking, I realized that I had talked about this before in the Chronicler, the Impresario. It basically about the events I'd organized before. 

This 1-week-old inspiration came from my friend Ardian. He posted a picture of all the game consoles since Atari in the chat group and I did a similar thing right after that by posting a picture of high school events that happened since the reunion in 2014. He missed out all, haha, but that's not the point. What intriguing was, after I did that, I recalled the stories behind the picture.

Once again, this one is not about the past events. It's more about how they became the events. Oh yes, they all started the same way. Before an event happened, it was once an idea that often sounded too bizarre or simply just a joke. If I heard of it, I might go, "haha, what?" But that's when I knew I was onto something.

Once upon a time in Japan.
Photo by Evelyn Nuryani.

The key is to let the idea, regardless how ridiculous it ever was, sink in. Case in point was Parno's idea of going to Japan with only IDR 10 million. It was hilarious when he said it. I remember making fun of it when I boarded bus 371, but half way home, when I had enough time to digest it, I was touched by the fact Parno was brave enough to dream about it. I planned for a Da Nang trip with high school friends earlier this year, but it was canned thanks to COVID-19, so I thought, let's make this one happen instead. It must be fun to travel with Parno again at the age of 40.

And so I began campaigning relentlessly for the trip to Japan in March 2021. I've done this activity many times and I know the drill quite well. You said it once and people would laugh at you, mostly because they never thought it was going to happen. But you meant it like you believed in it and you said incessantly, then people would start to think that it might be possible. They just had to hear it often enough to subconsciously think it was probably a doable idea. 

In this particular case, we were from a small town and Japan was beyond our reach mainly because it was so far away and expensive. The mindset had been like that for the longest time and it wasn't going to change overnight. It took some persuasion, or rather a daily dose of me mentioning anything about Japan, to make them receptive to the idea (or feel sick about it, haha). Once they started accepting that going to Japan wasn't just a dream but something closer to a day in the life, then it could happen. And I didn't just made this up. The same mantra worked for me and since I'm one of the people from Pontianak, I reckon it would work for them, too.

In all honesty, will we really make it with just IDR 10 million? May be. Never say never. But part of the fun is planning and having a laugh about it. We can always adjust somewhere a long the way, right? But without a plan, we wouldn't even have anything to look forward to! So there you go, one budget trip to Japan, coming up. Itinerary with cheap and probably free tourist spots will be available in October.

The events from 2014 to 2018.

Sebuah Rencana

Ketika saya berpikir untuk menulis tentang topik ini, entah kenapa rasanya tidak asing lagi. Ternyata benar. Setelah saya cek, ternyata saya sudah pernah bercerita tentang hal ini di the Chronicler, the Impresario. Setahun yang lalu, saya membahas tentang acara-acara yang pernah saya pelopori di grup SMA. 

Inspirasi berumur seminggu ini dipicu oleh teman saya Ardian. Saat itu dia mengunggah foto semua perangkat game sejak Atari ke grup WhatsApp dan saya lekas meniru hal serupa dengan kumpulan foto-foto acara teman-teman SMA yang dimulai sejak reuni di tahun 2014. Dia tidak pernah hadir dalam satu acara pun, haha, tapi bukan itu intinya. Yang membuat saya tergerak untuk menulis adalah cerita yang melatarbelakangi semua acara tersebut.  

Sekali lagi, ini bukan tentang acaranya, melainkan tentang asal mula sebuah acara. Boleh dikatakan pola kejadiannya senantiasa sama. Semuanya berawal dari sebuah ide yang konyol dan lebih menyerupai lelucon. Bagi saya pribadi, jika ada yang membuat saya tergelitik sampai saya ulang-ulang, biasanya itu nanti menjadi landasan dari sebuah rencana.

Suatu ketika di Jepang.
Foto oleh Evelyn Nuryani.

Kuncinya adalah membiarkan ide konyol itu diresapi secara perlahan-lahan. Baru-baru ini yang kita bahas adalah impian Parno untuk ke Jepang dengan modal 10 juta. Saya tertawa geli saat menaiki bis 371 sambil membaca apa yang dia tulis, namun ketika saya sudah setengah jalan pulang ke rumah, ide itu terasa mungkin untuk dikerjakan. Saya merasa terinspirasi oleh fakta bahwa Parno berani untuk bermimpi. Saya sendiri tadinya merencanakan liburan ke Da Nang bersama teman-teman SMA, tapi rencana ini bubar sudah karena COVID-19. Jadi saya lantas berpikir, bagaimana kalau kita wujudkan impian ini saja? Pasti lucu kalau bertualang bersama Parno lagi di umur 40.

Lalu saya mulai berkampanye tentang liburan ke Jepang di bulan Maret 2021. Saya sudah sering melakukan aktivitas ini dan paham respon seperti apa yang saya terima. Orang lain akan tertawa saat pertama kali mendengarnya. Ini karena mereka tidak yakin bahwa ini akan terjadi. Tapi katakanlah dengan sungguh-sungguh setiap hari. Yang mendengar pasti lambat-laun berpikir bahwa ide ini bukanlah mustahil. Kadang kita hanya perlu mendengarnya berulang-ulang sampai kita tanpa sadar mulai percaya bahwa sepertinya ide ini bisa dilaksanakan. 

Dalam konteks ini, kita adalah orang dari kota kecil dan Jepang itu sepertinya tidak terjangkau karena terasa begitu jauh dan mahal. Pola pikir ini sudah tertanam dari sejak lama dan tidak akan berubah dalam waktu semalam, jadi memang perlu seseorang persuasif untuk membuat orang lain menerima ide ini (atau muak dengan celotehan yang diulang-ulang, haha). Begitu pendengar mulai merasa bahwa pergi ke Jepang bukanlah sekedar mimpi, melainkan sesuatu yang biasa seperti aktivitas sehari-hari, maka acara ini mulai mungkin untuk diwujudkan. Dan saya tidak sekedar mengada-ada. Teori yang sama membuat saya mewujudkan banyak hal dan karena saya juga berasal dari Pontianak, saya rasa teori ini juga bisa membantu yang lain.  

Sesungguhnya, apakah mungkin bahwa kita bisa ke Jepang hanya dengan uang 10 juta? Saya tidak tahu pasti, tapi yang lebih penting dan seru adalah membuat rencana dan tertawa bersama-sama sambil mewujudkan rencana tersebut. Bila ada rintangan, kita selalu bisa melakukan penyesuaian rencana, bukan? Tapi tanpa rencana, maka sudah pasti tidak ada acara yang menunggu kita di masa depan. Jadi, mari buat satu rencana ke Jepang dengan anggaran rendah! Rute perjalanan dengan tempat wisata yang murah atau bahkan gratis akan dirilis di bulan Oktober!

Acara-acara dari tahun 2014 sampai 2018.

Sunday, June 21, 2020

A Taste Boutique

This story began with Wiwi, a fellow high school friend that I got to know since WhatsApp era. Out of the blue, she suddenly asked, if she interviewed a baker, could I write the story? I was stunned when I saw the request. Roadblog101 had been around since 2017, why would she ask now? Was she inspired by the slogan Malaysia Boleh? But, hey, since Roadblog101 had a motto, "because we, the commoners, have stories to tell," I was more than happy to oblige.

Wiwi then sent me the result. It turned out that our interviewee, a friend of Wiwi, happened to be an Indonesian originally from Jakarta and she's now living in Malaysia. Her name is Imelda, better known as Imel, a a wife and a mother of two.

Every story gotta start somewhere and hers began from a kitchen fulls of ingredients and baking tools. Excitement was in the air, so inspiring that she gotta do something about it! Then, after measuring the flour, mixing it with eggs, checking the oven temperature, baking the cake batter and decorating the outcome, she found the whole process oddly satisfying. Yes, even her baking took a wrong turn and produced a disastrous result, it was fun! Gradually, what started as a hobby she did during her leisure time evolved into a profession she was known for. 

Her first cake was sold some time in 2001. A Taste Boutique, her bakery shop, came afterwards. It was aptly named for it's a place where she displays the finely crafted cakes. They are limited editions. None ever looked the same for each was made with love and background story that was uniquely its own. A taste of elegance in a form of cakes.

In reality, the business is exactly that. Customers come in with all sorts of requests. Imel has been this field long enough to be able to tell what she can or can't deliver. She would be upfront, which meant she'd try her best but wouldn't overpromise. She'd also go the extra mile by literally going to fix the cake if it was somehow damaged. By the end of the day, the happy smile of the customers was a reward by itself for all the efforts she gave them.

Now, just for illustration here, how complicated a cake business could be? Or rather, how ridiculous a customer's request could be? As far as I could remember, the most conventional cakes these days could look like a box of Rolex watch or came with tiny horses from My Little Ponies. I'm sure you'd also seen cakes where you could pull money out of them. Gone were the days when a cake just had few words carved on top of it. It's a more challenging time now.

Wiwi asked an interesting question in this regard. Even when someone could bake, it didn't mean they could decorate. A rather solid point of view, I'd say, but our baker begged to differ. She wisely believed that even an expert was once a beginner. In her opinion, it was like learning how to ride a bike. You just had to try and try again. Then the discussion went on to the next level: buttercream or fondant icing? According to Imel, both were equally fun for each was characteristically different. I'm not going to pretend that I understand all this, but I agree that both are delicious.

Since we are living in the instragammable era, Imel did share that social media does make things easier for her to promote her cakes. Customers could also reach her easily via social media (try searching for a taste boutique on Instagram). However, she didn't discount the need of having a boutique, because, "what if somebody needs a cake urgently? Or if someone simply craves for it?" A valid opinion!

And eventually the conversation would go back to the fact that she's a wife and a mother. How does Imel manage her time? For our baker, the keyword is must. What must be done first? If it's not a must, then it can be done later. She'd go through the whole day with that in mind, so she'd take care of her family first, then the cake business. Yes, it's not easy to practice this approach in a real life situation, but it does help to have right mindset. 

Imel is proud of being a Mum. To quote her words, "dedicating one's life just for family is super noble and it is a blessing that not many can treasure." But that idealistic thought aside, she totally agrees that it's beneficial for everyone to be financially independent. Now that's one smart, realistic woman, isn't she? 

Yet one can't be a business woman without being asked about the definition of success. When it comes to this, Imel is quite clear that successful women are those who manage to balance things in life while working towards their goals. What she didn't know was, perhaps, how inspiring she was to her friends. Yes, on top of what she's been doing, she is also a great friend that will support others all the way, be it morally, financially or simply by spending time with friends who are in need. Wiwi told me that Imel reminded her a modern-day personification of those strong women in the Bible, but I'd rather go with something less biblical and more down-to-earth: she does sound like a lovely person indeed!

A Taste Boutique 

Cerita kali ini dimulai oleh Wiwi, teman SMA yang saya kenal sejak era WhatsApp. Mendadak dia bertanya, jika dia mewawancarai seorang pemanggang kue, apakah saya bersedia menulis ceritanya? Saya tertegun saat membaca permintaannya. Roadblog101 sudah muncul sejak tahun 2017, kenapa baru sekarang dia bertanya? Apakah dia terinspirasi oleh slogan Malaysia Boleh? Akan tetapi, karena moto Roadblog101 adalah, "setiap orang biasa memiliki cerita," saya dengan senang hati menurutinya. 

Wiwi lantas mengirimkan hasilnya. Ternyata yang diwawancarai itu adalah temannya, sesama orang Indonesia yang berasal dari Jakarta dan sekarang berdomisili di Malaysia. Namanya Imelda, biasa dipanggil Imel, seorang istri dan ibu dengan dua anak.

Setiap cerita ada permulaannya dan kisah Imel berawal dari dapur yang penuh bahan dan peralatan memanggang kue. Ada kegembiraan tersendiri saat berada di dapur dan perasaan ini mendorongnya untuk berkreasi. Imel pun mencoba menakar tepung, kemudian dicampur dengan telur dan dikocok. Setelah oven siap, adonan pun dipanggang dan hasilnya dekorasi. Ternyata ada rasa puas setelah semua itu dikerjakan. Ya, meskipun terkadang adonannya gagal dan kuenya bantat, hati tetap terasa senang. Perlahan-lahan, apa yang dimulai sebagai hobi pun berubah menjadi sebuah profesi. 

Kue pertamanya terjual di tahun 2001. A Taste Boutique, toko kuenya, dibuka tidak lama setelah itu. Bila anda penasaran dengan nama tokonya, ini karena butik adalah etalase bagi kue-kue yang dibikin olehnya. Semua karyanya ini adalah edisi terbatas. Tidak ada yang persis sama karena setiap kue memiliki cerita tersendiri. Semuanya adalah selera elegan yang menjadi nyata dalam bentuk aneka kue.

Dan bisnis kue adalah persis seperti yang dijabarkan di atas. Para pelanggan datang dengan berbagai permintaan. Imel sudah berkecimpung di bidang ini cukup lama sehingga ia tahu apa yang bisa dan tidak bisa ia ciptakan. Dia akan sampaikan apa adanya kepada pelanggan, bahwa dia akan mencoba, tapi tidak menjanjikan sesuatu yang mustahil untuk dikerjakan. Komitmennya juga luar biasa. Dia bahkan rela pergi memperbaiki kue yang rusak dalam perjalanan, asalkan terjangkau tempatnya. Pada akhirnya, senyum puas pelanggan adalah harga yang sepadan untuk jerih-payahnya.

Seberapa rumit bisnis kue ini sebenarnya? Sesulit apakah permintaan dari pelanggan? Sejauh yang bisa saya ingat, kue-kue sekarang dirias sedemikian rupa sehingga ada menyerupai sekotak jam tangan Rolex atau ada pula yang disertai dengan aneka kuda mungil dari serial My Little Ponies. Saya juga yakin bahwa anda pun pernah melihat kue yang bisa mengeluarkan gulungan uang. Ya, di masa kini, kue ulang tahun tidak lagi sekedar ditulis nama. Bentuknya lebih menantang sekarang.

Wiwi lalu menanyakan tentang hal ini. Katakanlah misalnya seseorang bisa memanggang kue, tapi ini tidak lantas menjamin bahwa orang yang sama bisa merias kue. Ini sudut pandang yang masuk akal, tapi pakar kue kita ini memiliki pendapat lain. Dia percaya bahwa yang namanya seorang ahli itu pada awalnya juga merupakan seorang pemula. Prinsipnya seperti naik sepeda. Anda hanya perlu mencoba dan mencoba terus. 

Kemudian diskusi Wiwi dan Imel pun berlanjut: lebih enak merias krim mentega atau fondan? Menurut Imel, dua-duanya menarik karena masing-masing memiliki karakteristik tersendiri dan hasil akhir yang berbeda. Saya tidak akan berpura-pura mengerti tentang apa yang mereka bicarakan, namun saya setuju bahwa krim mentega dan fondan memang lezat, haha.

Kita sekarang hidup di era Instagram dan Imel juga bercerita bahwa media sosial sangat membantu dalam hal promosi. Pelanggan pun jadi mudah menghubunginya (anda bisa cari a taste boutique di Instagram). Walaupun demikian, dia memiliki pandangan bahwa toko kue masih tetap dibutuhkan. "Bagaimana jika pelanggan membutuhkan kue secara mendadak? Atau ingin menikmati kue pada saat itu juga?" Masuk akal juga! 

Dan akhirnya percakapan pun kembali lagi ke fakta bahwa dia adalah seorang istri dan ibu. Bagaimana caranya membagi waktu? Bagi Imel, kata kuncinya adalah harus. Apa yang harus dikerjakan dulu? Jika tidak harus, maka bisa dikerjakan nanti, bukan? Imel melewati hari-harinya dengan prinsip ini, jadi keluarga adalah prioritas, baru bisnis kue. Ya, memang tidak mudah pelaksanaannya, tapi sudut pandang ini sangatlah membantu.

Lebih lanjut lagi, Imel bangga menjadi seorang ibu. Mengutip kata-katanya, "mengabdikan hidup untuk keluarga adalah hal yang mulia dan merupakan berkat yang sering tidak dihargai oleh mereka yang berkesempatan untuk melakukannya." Kendati begitu, dia juga setuju bahwa memiliki kebebasan finansial adalah hal yang sangat baik. Pintar dan realistis, ya? 

Dan sebagai orang bisnis, satu hal yang wajib untuk ditanyakan padanya adalah bagaimana ia mendefinisikan kesuksesan. Imel berpendapat bahwa wanita sukses itu adalah mereka yang bisa menjalani hidupnya secara seimbang dalam peranannya sebagai ibu rumah tangga dan pemilik usaha tanpa kehilangan fokus dan tujuannya. 

Imel tahu pasti apa yang dia kerjakan, namun terlepas dari apa yang telah ia capai, ada satu hal yang mungkin tidak ia ketahui: kesuksesannya sebagai seorang teman. Wiwi merasa bahwa Imel adalah teman yang baik, yang selalu hadir untuk memberikan dukungan moral, finansial atau waktu. Wiwi bercerita bahwa Imel sungguh membuatnya terinspirasi, mirip seperti tokoh-tokoh wanita di kitab suci. Saya tidak tahu itu, tapi saya percaya bahwa berdasarkan apa yang saya tulis, Imel memang luar biasa. Sukses selalu!

Wednesday, June 17, 2020

Dream Comes True

Ever since I was a child, my life was enriched with tons of Japanese cartoon series. Anime series, movies ranging from Mask Riders, Space Sheriff, Power Rangers and all the robots. I was so influenced by them. I grew up watching them, from elementary school, secondary school, high school till college... no, until now, actually. The passion was burning inside me. I turned my eyes and my mind on those movies everyday. How I wish that I'd be financially free by earning money from my hobby!

In that regard, I kept on drawing and spending most of my money just for the drawing tools. It was quite a fighting spirit I had all those years ago. I wish I could go to Japan, became a famous manga artist who was financially independent. It was a dream, you know. A huge fantasy, but never came true, haha. But in the end, I still need to help my parents at their shop, making ends meet for family.

Family time.

A part of me still remains as a comic artist wannabe. I  remember the best time I had with my future wife. During our dates, we rented the animation series and watched together, haha. It was too good, indeed, and my future wife just enjoyed it, too.

And as time went by, my dreams of going to Japan was always taking a back seat. The only thing that kept it burning was the time I spent watching all those Japanese goodies on YouTube. I was busy with daily activities and family, but I suddenly felt so determined to make my dream come true next year. Perhaps I was influenced friends who were fond of travelling. I want to fulfill the childhood dream and I hope I can take a walk in Japan 👍😀🤩🙏

Comics I did.

Saturday, June 13, 2020

Book Review: Dreams From My Father

I am a fan of Barack Obama. He's a great orator with a good sense of humour. He is also a very charismatic fellow and most importantly, he seems genuine. There's a certain sincerity when he speaks. The fact that he ever lived in Indonesia is also quite an endearing factor to me. On top of that, he honored Sir Paul McCartney with Gershwin Prize and was, in turn, endorsed by the ex-Beatle, so what's not to love about Obama? 

I watched Obama quite a fair bit on YouTube, from talk shows with Ellen, Stephen Colbert, Jimmy Kimmel, etc. to the speech he made in many parts of the world, including Indonesia. He can talk about anything and he knows what he's talking about. He's knowledgeable and so talented that he can go impromptu. His speech, from his choice of words and the way he says them, is very eloquent. I don't speak well, let alone make a speech, so he's like a role model to me.

Dreams From My Father.

In a Netflix show hosted by David Letterman, a book called Dreams From My Father was mentioned. It occurred to me that I never really read about his life before. I got curious about his autobiography, so I ordered one from It turned out to be quite an interesting book and an eye-opener for one who had never visited the USA.

First of all, I found that America is a very confusing country. Colours really matter there. The country adored and gave us people like Michael Jackson and Michael Jordan, but yet most of Black people were treated differently. I mean, as a Chinese who grew up in Indonesia, I could understand the discrimination to a certain extent, but the African Americans seem to have it worse.

The Colbert Report - President Obama delivers the decree! It's funny!

As if this isn't complicated enough, Obama was born to a Kenyan father and a white mother. He was only half-black. During his formative years, he was raised by his mother and maternal grandparents, but the color of his skin is dark, so he couldn't be white. As a result, he had his fair share of hardship. But he was really loved and while he never really had a father figure, it did help that his mother's side didn't bad-mouth his father.

I especially liked chapter two that told about his time in Jakarta. It was the 60s, a different era, and it was interesting to see it from Obama's point of view. Imagine a black kid running around, chasing kites on a muddy kampong road. Who on earth who would have thought that this kid would be the 44th president of the United States? One interesting part from this chapter was when his mother recognized the laid back nature and poor education in Indonesia wouldn't be good for his son, so she sent him back to Hawaii.

Presidential Medal of Freedom, featuring Michael Jordan, Bill Gates, Bruce Springsteen and many more. 

The second part of his life, when Obama finished school and moved to Chicago, was very American. I'm not sure if I understand it well, but he was like a community worker or organizer that gathered the Black people for rallies and good causes. There were few moments when he showed his talent in making speeches, but he was yet to become Barack Obama that we know now.

The last part of the book was about his time in Kenya. Barack only met his father once in Hawaii, when he was around 10. His father died of a car accident roughly a decade later and Obama eventually visited Kenya to meet his family. This story was like an adventure by itself, very African this time. His father was a highly educated man that was once successful but then fell from grace. Barack have many siblings in Kenya as his father had a few wives. He learnt about his ancestors and heritage. The story of his grandfather and father was then beautifully told like a folklore by his grandmother.

Obama addresses the Muslim world in Indonesia.

The book did a good job in telling the colourful life of Barack Obama. He was not born rich. He was one of us, as Indonesia would always be part of his life. He was once young and wandered around, too, trying to figure out who he was. Then we had the eight years when he was a president. On a personal level, it is good to know that a left-handed man could achieve so much in a right-handed world! Last but not least, after reading the book, I'm also wondering if I should visit Hawaii or not!

Ulasan Buku: Mimpi Ayah Saya

Saya adalah seorang penggemar Barack Obama. Dia seorang ahli pidato dengan selera humor yang elegan. Karismatik pembawaannya dan yang lebih penting lagi, dia santai dan tampil apa adanya sehingga ucapannya terdengar meyakinkan. Fakta bahwa dia pernah tinggal di Indonesia juga menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, dia pernah memberikan sebuah penghargaan tertinggi di bidang musik pada Paul McCartney yang kemudian berbalik memujinya saat menerima penghargaan. Seorang presiden yang disanjung oleh mantan anggota Beatles! Apalagi yang kurang mengagumkan dari Obama? 

Saya terkadang menonton Obama di YouTube, mulai dari acara yang dipandu oleh Ellen, Stephen Colbert, Jimmy Kimmel dan lain-lain. Saya juga menyimak pidato resmi yang ia sampaikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dia bisa berbicara tentang banyak hal dan dia menguasai topik yang ia bicarakan. Pengetahuan dan talentanya memungkinkannya untuk berbicara panjang-lebar tanpa naskah. Pidatonya, mulai dari pilihan kata sampai nada bicaranya, sangatlah berkesan. Saya tidak pandai berbicara, apalagi berpidato, jadi saya sungguh mengidolakannya.

Dreams From My Father.

Di acara Netflix yang dibawakan oleh David Letterman, Obama sempat menjawab pertanyaan David tentang buku berjudul Dreams From My Father. Lantas terpikir oleh saya bahwa saya belum pernah membaca tentang kisah hidupnya. Karena penasaran, saya memesan otobiografi Obama lewat Buku ini cukup menarik dan membuka wawasan saya tentang Amerika, terutama karena saya belum pernah ke sana. 

Pertama-tama saya merasa bahwa Amerika adalah negara yang sangat membingungkan. Warna kulit benar-benar bisa menimbulkan perbedaan bagi mereka yang hidup di sana. Bayangkan sebuah negara yang memuja para bintang seperti Michael Jackson dan Michael Jordan, namun negara yang sama juga memiliki perlakuan tidak adil bagi rata-rata orang kulit hitam. Sebagai orang Tionghoa yang besar di Indonesia, saya bisa mengerti tentang diskriminasi, tapi sepertinya orang Negro di sana lebih parah nasibnya.

The Colbert Report - President Obama delivers the decree! It's funny!

Jika ini masih belum cukup rumit, maka bayangkan pula nasib Obama yang terlahir dari ayah berbangsa Kenya dan seorang ibu berkulit putih. Dia cuma setengah hitam! Dari kecil hingga beranjak dewasa, dia diasuh oleh ibu dan orang tua ibunya, tapi Obama berkulit gelap sehingga dia tidak bisa menjadi warga kulit putih. Alhasil, dia terkadang mendapat kesulitan karena warna kulitnya. Syukurlah dia mendapatkan kasih sayang yang cukup. Meski dia tidak pernah memiliki seorang ayah, keluarga ibunya tidak menjelek-jelekkan Obama Senior yang meninggalkannya dari sejak kecil. 

Saya suka bab dua yang menceritakan pengalamannya sewaktu hidup di Jakarta. Ini adalah pertengahan tahun 60an, ketika Soekarno baru saja tumbang. Menarik rasanya bisa melihat Jakarta tempo doeloe lewat sudut pandang Obama. Saat itu dia hanyalah seorang bocah kulit hitam yang berlarian mengejar layang-layang di jalanan kampung yang berlumpur. Siapa yang menyangka bahwa anak kecil di jalanan Jakarta ini kelak akan menjadi presiden Amerika yang ke-44? Satu hal unik dari bab ini adalah ketika ibunya menyadari bahwa kehidupan dan pendidikan Jakarta yang terbelakang  itu tidak baik untuk masa depan anaknya. Obama pun dikirim kembali ke Hawaii.

Presidential Medal of Freedom, featuring Michael Jordan, Bill Gates, Bruce Springsteen and many more. 

Bagian kedua dari hidupnya bermula ketika dia menyelesaikan pendidikan dan pindah Chicago. Kisah berikut ini sangat bernuansa Amerika. Saya tidak sepenuhnya memahami apa yang dia kerjakan. Profesinya saat itu adalah sebagai koordinator yang berbicara dengan para warga kulit hitam di Chicago dan menggalang massa untuk perubahan dan perbaikan taraf hidup. Ada beberapa peristiwa dimana kemampuannya dalam berorasi mulai terlihat, namun dia masih belum sepenuhnya menjadi Obama yang kita lihat sekarang. 

Kisah hidup yang terakhir diceritakan di buku tersebut adalah saat dia berada di Kenya. Barack hanya pernah bertemu sekali dengan ayahnya di Hawaii, saat ia berusia 10 tahun. Satu dekade kemudian, ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil di Nairobi. Sebelum ia melanjutkan pendidikan di Harvard, Obama akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kampung halaman ayahnya. Bagian ini bagaikan sebuah petualangan yang kali ini bernuansa Afrika. Ayahnya juga lulusan Harvard, sempat berjaya di posisi tinggi di Kenya sebelum akhirnya jatuh miskin dan terpuruk. Barack memiliki banyak saudara tiri karena ayahnya memiliki beberapa istri. Di Kenya, dia mencari tahu tentang asal-usul leluhurnya. Riwayat kakek dan ayahnya pun diceritakan kembali oleh neneknya dalam ulasan yang menyerupai kisah legenda setempat.

Obama addresses the Muslim world in Indonesia.

Buku ini memberikan gambaran tentang hidup Obama yang melintas benua. Dia tidak terlahir kaya, namun dia bisa dikatakan sebagai salah satu dari kita, terutama karena Indonesia akan selalu menjadi bagian dari hidupnya. Suatu ketika di masa lalu, dia juga seorang anak muda yang berkelana mencari jati dirinya sebagai orang kulit hitam. Bertahun-tahun kemudian, dia menjadi presiden sebuah negara adidaya selama delapan tahun. Secara pribadi, saya merasa senang dan terinspirasi karena ada orang kidal yang begitu sukses di dunia yang didominasi oleh orang-orang tangan kanan. Dan... setelah membaca buku ini, saya pun berpikir, bagaimana kalau misalnya liburan ke Hawaii? Haha!

Friday, June 12, 2020

Universitas Kehidupan

Dalam Universitas Kehidupan, 

Future expectation
Merupakan ilmu tertinggi dari segala ilmu apa pun,
Karena dengan bisa memprediksi masa depan,
Kesempatan meraih peluang dan masa depan yang lebih baik, menjadi lebih besar dan pasti.

Ilmu pengetahuan umum dan segala ilmu-ilmu lainnya,
Bahkan rumus-rumus dan cara-cara,
Bisa didapatkan dari Mbah Google yang tinggal kita klik.

Seiring dengan usia yg terus bertambah ,
Dan lepas dari bangku sekolah serta bangku dunia kerja,
Keinginan kita untuk dianggap hebat serta pengakuan pun kian terasa tawar,
Semakin tidak diperlukan lagi.

Kita hanya menunggu hari esok,
Apakah prediksi kita benar atau tidak,
Atau bulan bahkan tahun depan,
Semua tergantung diri sendiri yang tentukan.

Dari semua itu,
Yang terpenting dan belum berubah, yakni harus hidup sehat dan tetap sehat.

Jika seseorang bisa mencapai tahap yang memenuhi syarat tentang keakuratan future expectation,
Tempat dan ruang tidak mengikat kita lagi, 
Kita tidak harus atau mesti di suatu tempat,
Bahkan ikatan lokasi pun bisa dilepas,
Jika capai tahap memenuhi syarat.

Ini pelajaran terakhir dari sekolah tanpa bangku dan tanpa guru,  
Pelajaran terakhir dari Universitas kehidupan, 
Dengan juri dan hakim yang paling adil sedunia.

Titelnya pun tak diperlukan, 
Bahkan ijazah juga tak diperlukan,
Karena tak ada boss yg mampu menggaji.

Namun kebanyakan hanya menyangka tahu,
Dan alhasil sering di-bully oleh bursa.

Universitas Kehidupan.

Sunday, June 7, 2020

Still The First Impression

When I wrote about the first impression of countries that I had visited (including Indonesia), I realized that I only visited 16 countries thus far. Yes, 16, if I counted Macau and Hong Kong, since both have their own flag and currency, haha. Anyway, here's the other half of the list, written from the perspective of someone from a small town called Pontianak

When I visited Brunei, I kept thinking of how surreal that the country is in the same island as my hometown. It felt as if Pontianak was just somewhere down the road. Furthermore, for a country with currency pegged to SGD, I was expecting an advanced country like Singapore. But Brunei was different. Not only it was less developed, it also felt very Islamic. In fact, it was the first and only time that I ever visited mosques as tourist spots. They were really grand! And the Empire Hotel that is directly facing the South China Sea? Majestic! I said it before that I didn't have much regrets in life, but now that I thought of it, not staying there was probably one of the few regrets I had, especially because I never thought of going back to Brunei anymore!

At the shopping mall near the Omar Ali Saifuddien Mosque, Bandar Seri Begawan.
Photo by Swee Hin.

After Brunei, I had my first visit to China. Of all the places, I went to this city called Nanning. Never heard of it? Me, too. I originally thought it was Nanjing, but it was not misspelled. After a short transit at Baiyun International Airport in Guangzhou, Nanning Wuxu International Airport looked tiny. But China is a huge country and it didn't take look for first-timers to notice that. The road was so spacious! I didn't think of Nanning was a tourist destination then, but one would have a stopover there if they wanted to go Guilin. I remember only Wal-Mart and Nanning Zoo throughout the visit, haha. And the notoriously dirty toilets in China? No, it wasn't that bad, just like any average toilets you'd find in other countries.

In 2010, I finally got a chance to travel to a country I always wanted to see: Laos. I always found Laos enigmatic, because I almost never heard of news about the landlocked country. I flew to Vientiane via Kuala Lumpur. The capital city was unbelievably quiet. Even Pontianak was more crowded! When I was there, Swensen's was the only Western restaurant in Vientiane. The main attraction was temples. Was it boring? No, I quite enjoyed my short visit there. I rode a bicycle for sightseeing, sampled the French influenced food, had a peaceful afternoon stroll along the Mekong River. Laos was neither a rich nor modern country, but it felt peaceful.

In Vientiane, 2010.
Photo by Benny.

Two years later, I went to Macau with my parents. Up until then, Singapore was the smallest country I ever visited, but it turned out that Macau was even smaller! But Macau was unique thanks to the Portuguese influence. You could see things written in Portuguese, but yet the atmosphere felt undeniably Chinese. You could see casinos everywhere, but some parts of the city were not so glamorous and looked rather dirty. The Portuguese egg tart might be more famous, but it was overrated and definitely no match for Pontianak egg tart, haha.

Then there was Japan. It was a big deal! A big chunk of influences in my younger days, from Godzilla, Gavan, Dragon Ball, Street Fighter, Super Mario to the Legend of Zelda, all came from Japan! To simply be where the games, films and comics you loved came from was mind-blowing! Tokyo was a nice place to be. The people were helpful. The toilets were high-tech and came with a lot of buttons. Tokyo also had a wide range of super delicious food and on top of that, there was Disneyland, where the best childhood dreams came true! In all seriousness, if there is only one place that Pontianak people of my generation can visit in a lifetime, then the choice is obvious: Tokyo! Japan trip was a fantastic experience and I'd certainly come back for more!

Exploring Asakusa, Tokyo.
Photo by Evelyn Nuryani.

How about United Kingdom? Well, this one was probably not for everyone, but I loved London. Sweeney Todd, the main character from a musical named after him, once sang, "there's no place like London," and he was right! That gloomy weather, that British accent, that neighbourhood around Notting Hill, that modern tale of Harry Potter, they were so charming that I fell in love with London. The capital city was old, but classically beautiful. But the main attraction for me? Abbey Road. That zebra-crossing that I stared at when I was a high school student. I was perhaps the only kid my age that loved the Beatles in Pontianak and to have a glimpse of Abbey Road Studios years later was like paying my dues to the heroes that changed my life. 

Just a train ride away, there is France in the Europe continent. I remember Gare du Nord, the train station, the first impression I had about Paris. It was... messy. Throughout my stay in Paris, I was somehow nervous, probably due to the sight of military soldiers carrying rifles. My visit took place several months after the November 2015 terrorist attacks, so while the view of Eiffel Tower and Seine River was breathtaking, I didn't really enjoy it. In fact, didn't remember seeing Paris the City of Light at night (that's why I always have the illuminating image of Singapore as City of Light instead).

To Moulin Rouge!
Photo by Evelyn Nuryani.

Finally, there was Myanmar in 2017, the latest foreign country that I visited thus far. I couldn't shake off the feeling that Yangon was actually hotter than Pontianak! Other than that, I was actually impressed that the Ooredoo's 4G signal was so good, even on mountaintop, that it would put Indonesia's Telkomsel to shame. Myanmar is a Buddhist country and the great Shwedagon Pagoda that shines brightly at night makes sure that tourists know about it. Nice place, I certainly don't mind going back, probably to Mandalay next time.

So where's my next destination? I don't know. May be Sweden? Thought of going there to see the first IKEA and the country was in my mind again after I read the story about an Indian who cycled to Sweden for love. How about Kazakhstan, the country where Borat came from? Taiwan for family trip? Armenia? Or perhaps Guam? So many ideas, but can't go anywhere in the time of corona, haha. Anyway, regardless where I go, it'll be interesting because of the Pontianak perspective that I have. I might have been staying in Singapore for 14 years, but deep down inside, I'll always be the small town boy that is fortunate enough to see the world!

Asking for direction in Yangon, Myanmar.
Photo by Keith.

Masih Tentang Kesan Pertama

Sewaktu saya menulis topik kesan pertama tentang negara-negara yang pernah saya kunjungi (termasuk Indonesia), saya menyadari bahwa saya baru mengunjungi 16 negara sampai sejauh ini. Ya, 16, jika saya hitung Macau dan Hong Kong juga, karena dua-duanya memiliki bendera dan mata uang masing-masing, haha. Berikut ini adalah kisah singkat tentang delapan negara yang terrsisa dari daftar, ditulis dari sudut pandang orang Pontianak.

Ketika saya mengunjungi Brunei, terngiang-ngiang di benak saya bahwa negara ini sesungguhnya berada di pulau yang sama dengan kampung halaman saya. Rasanya seakan-akan Pontianak itu ada di ujung jalan. Selain itu, untuk negara yang mata uangnya memiliki nilai sama dengan SGD, saya membayangkan bahkan negara ini akan maju seperti Singapura. Akan tetapi tidak begitu, ternyata. Brunei tidak begitu modern. Nuansanya pun Islami, bahkan lebih kental dari Malaysia. Boleh dikatakan bahwa ini adalah pertama dan sekali-kalinya saya mengunjungi mesjid sebagai tempat wisata. Sungguh megah arsitekturnya. Dan Empire Hotel yang langsung menghadap Laut Cina Selatan benar-benar memukau. Sebelumnya pernah saya katakan bahwa saya tidak memiliki banyak penyesalan dalam hidup ini, namun kalau dipikirkan lagi, keputusan untuk tidak menginap di hotel ini adalah salah satu dari sedikit penyesalan yang ada, terutama karena saya tidak pernah berpikir untuk kembali ke Brunei lagi!

Di pusat perbelanjaan Mesjid dekat Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan.
Photo oleh Swee Hin.

Setelah Brunei, says pergi ke Cina untuk pertama kalinya. Dari berbagai tempat yang mungkin dikunjungi, saya ke kota bernama Nanning. Tidak pernah terdengar sebelumnya?  Saya juga merasakan hal yang sama. Awalnya saya kira kota Nanjing, tapi ternyata tidak salah eja namanya. Sesudah transit di Bandara Internasional Baiyun di Guangzhou, Lapangan Terbang Wuxu di Nanning terlihat kecil. Akan tetapi Cina adalah negara yang besar dan tidak butuh waktu lama untuk melihat luasnya Cina. Jalannya begitu lebar! Nanning tidak tampak seperti tempat tujuan wisata, tapi turis mungkin singgah di sana saat hendak menuju Guilin. Saya hanya ingat dengan Wal-Mart dan Kebun Binatang Nanning selama berada di sana, haha. Dan bagaimana pula dengan mitos toilet Cina yang terkenal jorok? Tidak terlalu buruk, sebetulnya. Hampir sama dengan toilet di negara lain. 

Di tahun berikutnya, 2010, saya akhirnya berkelana ke negara yang senantiasa ingin saya kunjungi: Laos. Saya selalu merasa bahwa Laos itu misterius, sebab jarang terdengar beritanya. Saat itu saya terbang ke Vientiane melalui Kuala Lumpur. Ibukota negara Laos ini sangat sepi! Bahkan Pontianak pun terasa lebih ramai! Di kala itu, Swensen's adalah satu-satunya restoran asing di sana. Atraksi utama di Vientiane adalah kuil-kuil Budha. Apakah membosankan? Tidak juga, saya menikmati kunjungan singkat di Laos. Saya berkeliling kota dengan sepeda, mencicipi makanan yang merupakan perpaduan lokal dan Perancis, serta berjalan santai menyusuri Sungai Mekong. Laos tidaklah maju dan kaya, tapi terasa damai di sana.

Di Vientiane, 2010.
Foto oleh Benny.

Dua tahun kemudian, saya membawa orangtua saya ke Macau. Sebelumnya, Singapura adalah negara terkecil yang pernah saya kunjungi, namun siapa sangka Macau ternyata lebih kecil lagi? Kendati begitu, Macau terasa unik karena pengaruh budaya Portugis. Banyak tulisan Portugis di mana-mana, tapi kotanya juga bernuansa Cina. Kasino terlihat di setiap sudut kota, namun ada juga bagian kota yang terlihat kumuh dan kotor. Sempat saya coba pula tar susu Portugis terkenal, tapi tidak terlalu enak dan masih kalah dengan tar susu Pontianak, hehe. 

Dan selanjutnya adalah Jepang. Ini pengalaman yang tiada duanya. Saya jadi terkenang dengan sebagian besar masa kecil saya yang diisi dengan Godzilla, Gaban, Dragon Ball, Street Fighter, Super Mario hingga the Legend of Zelda. Pokoknya segala macam hal yang diimpor dari Jepang. Bisa ke Jepang, tempat dimana semua game, film dan komik berasal, adalah suatu kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata! Orang-orangnya pun sopan dan ramah, toiletnya canggih dan memiliki banyak tombol, makanannya super lezat dan selain itu, masih ada lagi Disneyland, tempat impian masa kecil! Bila seseorang yang seumuran dan berasal dari Pontianak hanya bisa mengunjungi satu tempat di luar negeri sepanjang hidupnya, maka tidak diragukan lagi bahwa pilihan yang paling bijak adalah Tokyo! Liburan ke Jepang sangatlah fantastis dan saya masih ingin kembali ke sana lagi!

Berjalan-jalan di Asakusa, Tokyo.
Foto oleh Evelyn Nuryani.

Bagaimana pula dengan Inggris? Hmm, saya rasa Inggris tidaklah menjadi pilihan setiap orang, tapi saya suka London. Seperti yang dilantunkan oleh Sweeney Todd, tokoh utama dari musikal yang sama namanya, "tidak ada tempat lain seperti London." Cuacanya yang muram, aksen Inggrisnya, perumahan di Notting Hill, cerita Harry Potter, semuanya begitu menawan sehingga saya pun jatuh hati dengan London. Kotanya terasa tua, tapi indah dan klasik. Namun apa sesungguhnya atraksi utama bagi saya di sana? Abbey Road, zebra-crossing yang dulu sering saya lihat fotonya sewaktu SMA. Sebagai penggemar the Beatles, rasanya seperti mimpi saat melangkah melewati tempat penyeberangan jalan yang dilalui oleh para pahlawan yang mengubah hidup saya. 

Perancis yang berada di seberang Selat Inggris bisa dicapai dalam waktu kurang lebih dua jam dengan menggunakan kereta. Saya ingat dengan Gare du Nord, stasiun kereta yang menjadi kesan pertama saya tentang Paris. Entah kenapa terasa semrawut. Sepanjang liburan di sana, saya merasa was-was, mungkin karena melihat para tentara yang membawa senapan dan berjaga-jaga. Kunjungan saya ini terjadi beberapa bulan setelah serangan teroris di bulan November 2015 sehingga meskipun pemandangan Menara Eiffel dan Sungai Seine sangatlah menarik, saya tidak begitu menikmatinya. Saya bahkan tidak melihat Paris, kota yang dijuluki City of Light, di malam hari (karena inilah saya selalu merasa bahwa Singapura yang terang-benderang adalah City of Light).

Menuju Moulin Rouge, Paris.
Foto oleh Evelyn Nuryani.

Lantas ada Myanmar, negara asing terakhir yang pertama kali saya kunjungi di tahun 2017. Yangon terasa lebih panas dari Pontianak! Selain itu, yang juga membuat saya terkesan adalah bagusnya sinyal 4G Ooredoo, bahkan di puncak gunung sekali pun. Kalau saya bandingkan, Telkomsel kalah jauh. Myanmar benar-benar terasa seperti negara yang menganut ajaran Budha dan Shwedagon Pagoda yang bercahaya terang keemasan di malam hari memperkuat kesan tersebut. Myanmar cukup menarik dan saya tidak keberatan untuk kembali lagi dan pergi ke kota Mandalay yang belum pernah saya kunjungi. 

Jadi apa tempat tujuan berikutnya? Saya tidak tahu. Mungkin Swedia? Saya ingat melihat IKEA yang pertama di dunia dan baru-baru ini, setelah membaca tentang Indian yang bersepeda ke Swedia demi cinta, saya kembali terpikir untuk ke Swedia. Bagaimana dengan Kazakhstan, tempat asal Borat? Mungkin Taiwan untuk liburan keluarga? Armenia? Atau mungkin Guam? Banyak ide, tapi tak bisa ke mana-mana karena korona, haha. Namun tempat mana pun yang akan saya tuju pastilah akan menarik karena sudut pandang orang Pontianak yang saya miliki. Saya mungkin telah tinggal di Singapura selama 14 tahun, tapi saya tetaplah seseorang yang berasal dari kota kecil dan cukup beruntung karena memiliki kesempatan untuk melihat dunia!

Bertanya tentang arah ke Pagoda Shwedagon di Yangon, Myanmar.
Foto oleh Keith.