Total Pageviews

Translate

Friday, February 28, 2020

The Mathematicians

As a writer/dreamer, I once said that we dreamed about going to the moon long before the scientists could make it happen. I was always proud of fact that we were steps ahead of the science people. We had the privilege of dreaming about stuff and they'd be playing catch up to fulfill the dreams.

Then came one day when I watched a movie called the Theory of Everything. When I saw Stephen Hawking (portrayed by Eddie Redmayne) writing formulas like ABC and how he easily filled up two blackboards with his calculation, I was blown away. A genius person must be insanely smart! I had nothing but my utmost respect for this type of people.

Little did I know that I'd actually see this in real life. Recently I had a problem in figuring out the formula of EOD rates. My friend Keenan had this idea he called backwards calculation and it was all fine when we presented that, until I realised I actually didn't know how it worked mathematically. I was so curious that I spent some time in the night staring at the numbers, but I just couldn't get it right. 

Came the next morning, I brought this up to Franky during breakfast. Upon hearing the problem I faced, his eyes grew bigger in excitement, his usual expression when he's in it's-time-to-convince-you mode. He told me to see him at his office after breakfast, so that's what I did. I gave him all the numbers I had: the quantity, the traded price and the unrealized PNL. I wanted to know the EOD rate used in calculating the unrealized PNL. As this trade was a currency pair, the conversion rate became the unnecessary confusion on top of what I already couldn't solve.

Franky wrote the details on his notebook while explaining to me the calculation he was now doing. When Keenan stepped in, that's when the real show began. They shifted to the window-cum-glass writing board. Each of them was holding an erasable marker, then they got busy scribbling and striking off each other's formula as they discussed. It was like watching the scene from the Theory of Everything replayed live in front of me! If I wasn't entirely sure what Franky was babbling about earlier before Keenan joined in, I was pretty sure now that both of them were talking some alien language! They were so fast that I simply failed to comprehend. 

When Franky produced the final result, his number matched the EOD rate shown on my paper. Then he started speaking proper English and explained to me in a much slower pace. What impressed me the most was how he actually overcame the conversion rate issue by using variables and had them struck off as the calculation progressed. That was wild!

The whole experience of watching them working on the equation was unbelievably surreal. I mean, I'd known them for so long and throughout the past 12 years, we had worked together, gone to places and had our fair share of meals and drinks. Just when I thought I had known them well, then came the first time I ever saw them doing something different, so unusual that it was almost magical!

I might have never revealed this before, but I always respected those who could crunch the numbers. I often joked that being a divorce lawyer seemed to be a lucrative job to make a living, but after what I saw that day, I was convinced that those who could get their numbers right were likely to make more money than a mere writer/dreamer...

From left: Franky, Bernard, Keenan and I.



Pakar Matematika

Sebagai seorang penulis sekaligus orang yang bermimpi dan mengejar impian, saya pernah berkata bahwa kita sudah berangan-angan tentang pergi ke bulan jauh sebelum para ilmuwan bisa mewujudkannya. Saya bangga dengan kenyataan bahwa seniman senantiasa beberapa langkah lebih maju dari ilmuwan. Kita mempunyai hak dan kebebasan untuk bermimpi sementara mereka pontang-panting untuk membuat impian itu menjadi realita. 

Kemudian tiba hari dimana saya menonton film berjudul the Theory of Everything. Sewaktu saya melihat Stephen Hawking (diperankan oleh Eddie Redmayne) menulis formula matematika segampang menulis ABC dan bagaimana dia terus menulis hingga perhitungannya memenuhi dua papan tulis, saya merasa takjub dan sungguh terkesima. Yang namanya orang jenius itu bukan main kepintarannya! Saya salut sama orang-orang seperti ini. 

Kendati begitu, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan melihat adegan ini dalam kehidupan nyata. Baru-baru ini saya gagal paham, bagaimana caranya menghitung kurs EOD (End of Day alias kurs saat pasar uang tutup). Di hari sebelumnya, teman saya Keenan memiliki ide cemerlang untuk menghitung mundur berdasarkan transaksi yang ada dan gagasannya diterima saat kita melakukan presentasi di depan para pemimpin departemen di kantor. Semuanya kelihatan baik-baik saja, sampai saya menyadari bahwa apa yang kita bicarakan itu belum terbukti caranya. Dengan kata lain, saya tidak tahu seperti apa cara menghitungnya. Karena penasaran, di malam itu saya coba menganalisa angka-angka transaksi yang ada, tapi saya tidak bisa memecahkan persoalan tersebut. 

Keesokan paginya, saya berbincang dengan Franky saat sarapan pagi dan mengungkit hal ini. Sesudah mendengar masalah yang saya hadapi, mata Franky membesar terbawa rasa antusias, ekspresi khasnya saat dia mulai masuk dalam mode waktunya-saya-meyakinkan-anda. Dia lantas meminta saya menjumpainya di kantor untuk berdiskusi lebih lanjut. Di kantornya, saya kemudian memberikan semua angka yang saya miliki, mulai dari kuantitas, harga transaksi sampai keuntungan yang belum direalisasi. Saya katakan bahwa saya ingin tahu kurs yang dipakai untuk menghitung keuntungan yang belum direalisasikan ini. Karena ini adalah transaksi valuta asing USD/JPY, maka ada lagi kurs konversi yang membuat saya kian kebingungan. 

Franky mencatat angka-angka tersebut di buku dan mulai berhitung sambil menjelaskan apa yang sedang ia lakukan. Tatkala Keenan datang, pertunjukan pun dimulai. Kalkulasi di buku dipindahkan ke jendela kaca yang juga berfungsi sebagai papan tulis. Masing-masing berdiri di satu pojok sambil memegang spidol, lalu mereka mulai sibuk menulis dan mencoret formula sambil saling memberikan masukan. Rasanya seperti sedang menonton secara langsung adegan dari the Theory of Everything! Jika tadinya saya tidak begitu yakin dengan apa yang Franky jelaskan pada saya, sekarang saya sungguh yakin kalau kedua orang ini sedang berbicara bahasa planet! Begitu cepatnya mereka berdiskusi tentang angka-angka sehingga saya tidak mengerti sama sekali!

Sewaktu Franky menyelesaikan perhitungannya, angkanya persis sama dengan kurs EOD yang ada di kertas yang saya cetak dari sistem FX. Kemudian dia berbicara dalam bahasa Inggris awam yang bisa saya pahami (bukan ini dikalikan itu trus dibagi ini sama dengan blablabla) dan menjelaskan secara pelan. Yang paling mengesankan adalah bagaimana dia bisa mengganti kurs konversi dengan variabel dan kemudian mencoretnya seiring dengan berjalannya kalkulasi. Persis seperti pelajaran matematika di sekolah! 

Pengalaman menyaksikan mereka mengerjakan persamaan matematika ini sungguh unik. Saya telah lama mengenal mereka dan dalam 12 tahun terakhir ini, kita adalah rekan kerja sekaligus teman yang berlibur, makan dan minum bersama. Saya kira saya telah mengenal mereka dengan baik, namun pengalaman ini adalah pertama kalinya saya melihat sisi lain dari mereka yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya! 

Saya mungkin tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya, tapi saya selalu menghormati mereka yang jago berhitung. Seringkali saya bercanda bahwa menjadi pengacara yang mengurus perceraian adalah pekerjaan yang sungguh menghasilkan banyak uang, tapi setelah apa yang saya lihat ini, saya percaya bahwa mereka yang bisa mendapatkan angka yang benar dalam berhitung tentunya akan lebih sukses secara finansial daripada seorang penulis yang menghabiskan waktunya untuk bermimpi... 

Wednesday, February 26, 2020

Who You Are

Prolog

Pagi ini, setelah melihat kabar suami BCL meninggal, saya terpicu untuk mulai menulis. Seperti yang pernah disampaikan Anthony aka Living in Music, tulisan adalah peninggalan kita dan orang akan memahami kita dari tulisan kita. 

Saya setuju dengan hal ini, tetapi daripada orang mengenal saya dari tulisan, lebih baik saya yang mencoba membuat tulisan agar bisa menjadi satu pandangan yang memicu orang lain berpikir, sehingga bisa muncul hasil pemikiran yang berguna untuk orang lain dan juga menjadi titik refleksi pemikiran saya di masa depan.

Alam

Apa yg terbesar di dunia? Alam semesta? Jawaban yang pasti adalah alam itu sendiri. Kita tinggal di alam, hanya bisa mengikuti perubahan alam dan tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah kejadian atau peristiwa alam yang besar. Seringkali kita hanya bisa memanfaatkan alam untuk kepentingan kita.

Everyone Has A Problem

Apa kalian pernah merasa bahwa dunia sedang menghukum kalian, tidak ada yang mendukung kalian atau merasa kalian adalah orang yg kesepian padahal hidup di keramaian kota? Tidak jarang kita menjumpai hal ini, bahkan sampai muncul peristiwa tragis seperti anak yang bunuh diri dan meninggalkan surat kepada orang tua untuk menjelaskan kenapa dia membenci orang tuanya.

Saya rasa semua orang yang mendengar cerita ini pastilah mempunyai kesedihan, bahkan turut menyesal sedalam-dalamnya bagi mereka yang mengalami. Hal seperti ini sangat sering terjadi di kehidupan sekarang, kadang sama polanya namun berbeda dosisnya. Jika kita tanyakan ke korban, mereka akan merasa diperlakukan tidak adil. Bila kita tanya ke pelaku, maka mereka akan bilang bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik dan tidak tahu apa yang salah.

Di sini kita melihat fenomena bahwa manusia selalu merasa benar dan saya menyadari bahwa who you are dan who you think you are berperan sangat besar di dalam hal ini. Mari kita lihat contoh yang sering terjadi dalam parenting. Kita pasti pernah melihat anak yang membangkang orang tua dan respon orang tua yang menghela napas berat seolah-olah mengatakan sudah tidak ada atau habis caranya untuk mendidik anak tersebut. Di pihak lain, sang anak biasanya merasa kenapa orang tuanya tidak adil, tidak mengerti atau tidak sayang dengannya.

Nah, who we are sangat gampang jika dilihat dari perspektif orang lain. Jika orang dekat kita dalam jumlah mayoritas merasa kita malas, maka kita harus mulai introspeksi meskipun kita merasa kita rajin.

Jika anda mulai merasa berat atau tertekan, maka sebaiknya kita mulai menanyakan pertanyaan ini: who am I? Bila jawaban dari dua pertanyaan di atas berbeda jauh dan kian bertambah jauh seiring waktu, maka kekecewaan yang semakin besar akan muncul suatu hari karena akumulasi.

Jadi salah siapakah ini? Apakah kemudian kita mencari pembenaran? Sebagian besar orang cenderung akan mencari jalan keluar, mencari dukungan teman, mencari pembenaran, mencari motivasi, mengambil quote kata-kata mutiara yang membenarkan dirinya. Di sinilah pertanyaan who you think you are akan semakin tebal sehingga menutupi kebenaran.

JADI SALAH SIAPAKAH INI?

Di sini kita harus berhenti sejenak.

Tidak ada yg salah di sini. Di dalam hidup ini kita selalu mencari siapa yang salah, mencari tahu apakah saya benar, atau bahkan merasa kenapa dia benar tapi saya tidak terima?

Akan tetapi coba pikirkan yang berikut ini. Kita tidak pernah berdebat dengan alam dan tidak pernah bisa. Alam tidak pernah fight back secara langsung dan tampaknya hanya menerima, menerima dan menerima.

Duduk Diam

Mari kita duduk diam. Tanggalkan semua topeng dalam hidup bersosialisasi dan mulai mencari ke dalam hati. Semua yang berkecamuk dalam pikiran kita, hendaknya kita lepaskan dahulu. Terima apa yang orang anggap tentang diri kita dan tanyakan ke diri sendiri, apakah ada sedikit kebenaran di dalam pernyataan mereka.

Jika ada, kita tampung dan kita renungkan apakah ini adalah kepribadian yang kita lakoni selama ini. Maafkanlah diri kita dan katakan, “maafkan diri kita yang belum memaafkan.”

Renungkanlah apa tujuan hidup kita. Apa yang paling berarti? Satu hal yang pasti adalah, kehidupan ini merupakan perjalanan menuju kematian. Walau terdengar negatif, tetapi kebenaran ini tidak terbantahkan. Jika kita menentang hal ini, maka kita hanya akan membuat beban baru pada diri kita.

Kalau kita bisa menerima fakta bahwa kita berjalan menuju kematian, lantas apa yang berarti dalam hidup ini? Apa yang kita punya, akan ditinggalkan. Orang yang kita cintai pun akan kita tinggalkan.

Kematian tidak hanya kita borong sendiri. Orang yang kita sayangi, pasangan, orang tua, anak dan bahkan teman pun akan mengalaminya. Sudahkah kita menyiapkan diri untuk menerima ini semua atau kita justru menutup dua belah mata kita? Apakah selama ini kita sudah menebarkan cinta kasih agar hal ini menjadi momen baik yang bisa dikenang?

Sampai saat ini saya pikir secara logika kita bisa menemukan hal yang berarti untuk kita. Langkah berikutnya dan yang paling praktis adalah: KEEP EXPLORING YOUR INNER SELF AND START LIVING IT.

Points To Remember

Hidup ini hendaknya menghargai alam dan sesuai dengan sifat alam.

Semua orang mempunyai masalah dalam hal yang berbeda. Pengertian ini bisa diumpamakan seperti casing yang berbeda tapi sama isinya, yakni ketidakpuasan.

Melihat yang di luar sebaiknya bukan untuk membandingkan, namun untuk refleksi ke dalam dan merubah diri menjadi lebih baik.

Who Am I?

Monday, February 24, 2020

Time

I'd been wanting to write this one for quite some time, just for the sake of getting it out of my mind, haha. As some of you might have noticed, the one thing I often carry on my way to office is not a bag, but the latest issue of Time magazine. In this time of day, when news is at your fingertips and Google even notifies you of the latest news, is there still a need for us to read a magazine? 

My answer would be, "yes, Time magazine is still relevant." But in order to understand why, let's go back the very beginning. The year was 1998. The town was Pontianak. It was not long after the Godzilla movie, the first one made by Hollywood. It was bad, so horrible that it felt like they took my childhood memory and ruined it for me. The Americans came up with something that was entirely different and yet they had a cheek to call it Godzilla. 

I was so disgusted by it and I knew I was right. As I rode my bicycle aimlessly on Jalan Patimura, something caught my attention as I passed by the roadside book store: a secondhand Time magazine featuring Godzilla. The cover was in black and white. Godzilla, the Japanese version, stood tall. It was almost glorious, except for the fact that the head of American Godzilla was pasted on top of the original. The headline couldn't be more eye-catching: what have they done to Asia's favorite monster? 

That became the first Time magazine I ever bought. Much to my delight, the article shared the same sentiment about Godzilla. I loved what I read, but I just didn't know how much I loved it yet. It never occurred to me that I would read Time magazine regularly one day. The natural selection happened much later in life.

Fast forward to 2012, I remember sitting quite frequently in the waiting room of the OB-GYN doctor as we waited for my wife's turn. There was a magazine rack filled up with Time, Newsweek, Reader's Digest and National Geographic, too, if I'm not wrong. The waiting time for each visit was pretty long that reading a magazine would surely help to pass time. That's when I rediscovered my love for Time again. 

It's not that the other three magazines weren't good, but after reading all of them, there was something about Time magazine that I liked: the way the articles were written. It's one thing to be informative, but the beauty of Time's articles are, they make me care about the news. 

One that I could recall as an example was the recent story about Kobe Bryant. The sentence, "and he died being a parent," almost made me cry, for I am also a father and I could relate with that. I certainly knew what it meant. To me, that was journalism at its best. 

Also worth mentioning is the fact that being a weekly magazine doesn't make the news outdated. I always like how Time summarised all the latest updates that I read online into a complete and newsworthy reading. I remember articles such as the Belt and Road Initiative or the Coronavirus and how it started. They felt thorough and up-to-date. 

I subscribed to the magazine not long after my first daughter was born. Time became my window to the world out there. Eight good years had passed since then. In a world where fake news are getting more and more rampant, Time magazine is one of the few sources that remain trustworthy...

Time of my life.


Time

Sudah sejak lama saya ingin menulis tentang hal yang satu ini, terutama karena saya ingin mengeluarkannya dari benak saya, hehe. Beberapa dari anda mungkin memperhatikan bahwa yang sering saya bawa ke kantor itu bukan tas, melainkan majalah Time yang terbaru. Di zaman sekarang ini, ketika berita di internet berada dalam genggaman anda dan Google bahkan mengirimkan notifikasi tentang berita terkini, apakah masih perlu bagi kita untuk membaca majalah?

Jawaban saya adalah, "ya, majalah Time masih relevan." Untuk memahami jawaban saya ini, mari kita kembali ke saat pertama saya membaca Time. Cerita ini bermula di Pontianak, suatu ketika di tahun 1998. Saat itu Godzilla versi Hollywood baru saja dirilis. Saya ingat betul bahwa film itu sedemikian buruknya sehingga saya merasa kenangan masa kecil saya seperti direnggut secara paksa dan digantikan dengan sesuatu yang membuat saya tercengang karena jeleknya. Orang Amerika membuat film tentang semacam kadal raksasa dan mereka berani-beraninya mengatakan bahwa itu adalah Godzilla. 

Saya benar-benar kesal dengan apa yang saya tonton dan saya tahu bukan saya saja yang merasakan kekesalan serupa. Tak lama setelah itu, di kala saya bersepeda tanpa tujuan di Jalan Patimura, tiba-tiba saya melihat sesuatu yang menarik perhatian saat saya melewati toko majalah yang sederet dengan toko buah: majalah Time yang menampilkan Godzilla di sampul depannya. Foto itu hitam putih dan Godzilla versi Jepang berdiri tegak, namun kepalanya seperti ditempel dengan guntingan kepala Godzilla Amerika. Judulnya pun tak kalah menarik: apa yang telah mereka lakukan terhadap monster favorit Asia?  

Dan majalah bekas itu menjadi majalah Time pertama yang saya beli. Saya senang membaca ulasannya yang persis sama dengan apa yang saya rasakan. Saya benar-benar suka dengan apa yang saya baca, namun tidak pernah saya bayangkan bahwa suatu hari nanti saya akan membaca majalah ini setiap minggu. Lanjutan dari kisah ini baru terjadi bertahun-tahun kemudian. 

Dari tahun 1998, kita melompat ke tahun 2012. Saya ingat tentang masa-masa dimana saya berada di ruang tunggu dokter kandungan sewaktu saya menemani istri menunggu gilirannya untuk diperiksa. Ada rak majalah yang diisi dengan Time, Newsweek dan Reader's Digest. Kalau saya tidak salah ingat, National Geographic juga ada di situ. Waktu tunggu setiap kunjungan dokter ini sangat lama sehingga membaca majalah menjadi alternatif yang tepat. Di sinilah saya diingatkan kembali bahwa saya suka membaca Time.  

Perlu saya jelaskan bahwa tiga majalah lainnya juga merupakan bacaan yang bagus, hanya saja setelah saya baca semua dan bandingkan, ada sesuatu yang membedakan Time dengan majalah lainnya: cara penulisan artikel Time. Kalau bicara soal informatif, semuanya juga padat dengan info. Akan tetapi Time membuat saya peduli dengan apa yang diberitakan.  

Sebagai contoh, baru-baru ini saya membaca tentang Kobe Bryant. Kalimat, "dan dia meninggal sebagai orang tua," membuat saya nyaris meneteskan air mata. Saya juga seorang ayah dan saya tahu apa arti kalimat tersebut. Saya bisa merasakan kepedihan di dalam artikel tersebut. Bagi saya, inilah yang namanya jurnalisme yang hebat.  

Yang juga patut disebutkan di sini adalah menjadi majalah mingguan bukan beritanya basi. Saya suka bagaimana Time bisa merangkum penggalan berita-berita online menjadi satu kesinambungan berita yang utuh. Saya ingat tentang artikel seperti Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Coronavirus dan asal mulanya. Artikel-artikel ini terasa lengkap dan terkini beritanya. 

Saya mulai berlangganan majalah Time tidak lama setelah putri sulung saya lahir. Majalah ini menjadi jendela bagi saya untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia luar. Delapan tahun telah berlalu sejak saya mulai berlangganan. Di dunia dimana berita palsu kian merajalela, majalah Time pun menjadi salah satu sumber yang masih terpercaya beritanya...

Saturday, February 15, 2020

Around Three Countries In Six Days: Malaysia And Thailand

After spending less than 48 hours in Pontianak, it was time to begin the second part of my holiday. Mum, Bro and I reached KLIA in the afternoon. By the time we cleared the immigration checkpoint, it was already 4pm. We had early lunch in Pontianak, so I got me a plate of nasi kandar at Food Arcade because my colleague Ariff hyped so much about it, haha. Nasi kandar is an Indian Muslim dish with mutton and chicken. Quite delicious. I liked it and, when I met him in office after my holiday, Ariff told me there are better outlets in town.

But, no, we didn't go to the city at that time. It would be quite rush for us to go to KLCC only for few hours and then headed back to the airport later on that night. Mum and Bro didn't feel like it, so we spent our time exploring KLIA, shopping and having our dinner there. Much to my surprise, we spent almost MYR 300 while we were there!

Mum and Bro inside the so-called suite room of Capsule Transit.

If you wonder why we needed to go back to the airport, that's because our flight to Bangkok on the following day was quite early. Because of that, I booked the suite room at the Capsule Transit. The hotel has a rather interesting design. The interior had the feel of a warehouse. Our room was like inside a shipping container. The ceiling was low because the container was split into two and we were occupying the lower half. The shower was very narrow and the water piping had the rustic look. Quite an experience, I'd say.

The next morning, we flew to Bangkok and landed at Don Mueang Airport. It was supposed to be nearer to where we were staying, but thanks to the traffic jam, it didn't feel that way. As we were heading to Centre Point Pratunam Hotel (it was an old hotel, but the room was spacious and it also came with a living room), Bro commented that the capital city of Thailand looked like Jakarta v2.0. Similar, but better.

When we landed in Bangkok.

Once we left our luggage at the concierge, we walked to Platinum. Bro loved the meal he had for early lunch, but got bored real quick because Platinum was all about clothing. On the other hand, Mum liked it there, but something didn't look quite right with her. I found out later that her inability to bargain due to language barrier made the whole experience less enjoyable. 

From Platinum, we went to Central World to check out Naraya bags, a popular brand in Thailand. Next thing we did was late lunch because, well, Mum and Bro like eating, haha. Mum tried something that was equivalent to economical rice in Singapore. This allowed her to choose the menu simply by pointing at it. And what a choice she made! That's when she learnt Thai food could be extremely spicy!

Bro in front of Hard Rock Cafe.

After lunch, I sneaked out to the nearest post office at the basement of Central World for the usual routine of sending a postcard, then we took a Grab car and headed for the Hard Rock moment. That's when I realized that I couldn't always be on the go as I wasn't traveling with my usual travel buddies. Mum was no longer young and her idea of traveling was at a much slower pace. We woke up very early to catch our flight to Bangkok and we had been travelling by plane, by car and on foot since then, so it was only right for me to bring Mum back to hotel and rest. 

And that turned out to be what we sorely needed. We dozed off immediately and by the time we got out of bed, it was already dark. We explored Pratunam Market at night and had a tom yum soup steamboat next to McDonald's. The roadside eatery seemed to be for tourists, hence the tom yum soup was only moderately spicy and edible, haha.

At the Temple of Emerald Buddha.

The next day, I learnt to take it slow. We went to the Grand Palace. Though I came here before, this was the first I ever stepped in to explore. The palace lived up to its name and it was quite grand. The Temple of Emerald Buddha is also within the complex. In fact, the entrance would lead us to the temple first. We went one round of sightseeing before we reached the gate to the palace.

The boat ride was the easiest way to go from the Grand Palace to Chinatown, therefore we headed to Tha Chang. The pier was of local standard and it was floating shakily above the mighty Chao Phraya River. I glanced at my brother as we stood there and waited for the boat. He was very concerned with his safety, haha. But it was alright and we were soon cruising to Rajchawongse Pier. Mum loved the boat ride! Once we alighted, we walked towards the crowded Yaowarat Road. We passed by old buildings that looked no different than those on Jalan Sultan Muhammad in Pontianak!

Bro and Mum in front of Yoo Fishball, Chinatown.

Apart from eating Yoo Fishball, we actually did nothing in Chinatown. After lunch, we tried the MRT at the nearby station called Wat Mangkon. It was... decent. We stopped at Sam Yan Station, went up to Chamchuri Square and took a Grab Car there to go back to hotel and take a nap. Yeah, that's how you do it when you are travelling with parents. Resting is part of the trip.

As suggested by my buddy Franky, I brought Mum and Bro to the Asiatique. By the way, Bangkok Jam wasn't just a restaurant name. It was a real deal especially right after office hours. We were stuck in the traffic jam for quite some time when we headed to Sathorn Pier. Worse still, the Grab driver didn't have a clue where Sathorn Pier was, so we walked the last few hundred metres.

At the Asiatique.

From Sathorn Pier, we took the shuttle boat to the Asiatique. It wasn't a exactly a mall, but more of shop houses that were nicely done and combined into one big shopping complex by the riverside. It was bright and well-lit, made it all the more attractive and charming at night time. Nice place to relax and shop. We ended the visit by watching Calypso, a cabaret show. You couldn't be visiting Bangkok without paying respect to the ladyboys, so it was a must!

The following day, Thursday, was the last day in Bangkok. We had breakfast at Pier 21, the food court at Terminal 21 shopping mall. The food was surprisingly cheap and yet quite tasty. It was almost ideal until Mum ordered a plate of phat kaphrao, better known as Thai basil minced pork rice. It was bloody spicy!

At Asok BTS Station.

After buying dried fruit snacks that Thailand is famous for, we tried the BTS from Asok to Chit Lom. From there, we took a walk to Platinum for one last round of shopping. As I crossed the bridge to head back to our hotel, I gave it a thought and concluded that Bangkok is quite a fun place to be and perhaps I should come back here with my wife for a short getaway. Then off we went to Suvarnabhumi Airport. Until we meet again, Bangkok!



Keliling Tiga Negara Dalam Enam Hari: Malaysia Dan Thailand

Setelah menghabiskan waktu kurang dari 48 jam di Pontianak, babak kedua dari liburan saya pun dimulai. Mama, Herry dan saya tiba di KLIA pada sore hari. Ketika kita selesai cap paspor, jam sudah menunjukkan pukul empat. Karena kita makan siang lebih awal dari biasanya di Bandara Supadio, kita pun singgah di Food Arcade. Saya memesan nasi kandar karena kolega saya Ariff sering menggembar-gemborkan kelezatannya. Nasi kandar adalah masakan muslim India yang disajikan bersama daging domba dan ayam. Lumayan enak. Saya cukup menyukainya dan ketika saya berbincang lagi dengan Ariff tentang nasi kandar, dia berkata bahwa nasi kandar di KL jauh lebih enak rasanya.

Nasi kandar.

Akan tetapi kita tidak sempat ke pusat kota. Akan sangat tergesa-gesa rasanya bila kita ke KLCC untuk beberapa jam, lalu balik lagi ke bandara. Mama dan Herry tidak tertarik, jadi kita pun bersantai di KLIA, berbelanja dan makan malam di sana. Dan dalam tempo kurang dari sehari, kita menghabiskan 300 ringgit! 

Oh ya, jika anda bingung kenapa kita harus kembali lagi ke bandara di malam hari yang sama, itu karena kita hanya transit di KL dan jadwal penerbangan kita ke Bangkok di hari berikutnya sangatlah pagi jamnya. Oleh sebab inilah saya memesan kamar di Capsule Transit. Hotel ini unik tata ruangnya, mirip seperti gudang. Kamar kita menyerupai kontainer kargo di pelabuhan. Langit-langitnya rendah karena kontainer dibagi dua dan yang kita tempati adalah bagian bawahnya. Kamar mandi ada di luar. Sempit kamarnya dan pipa air logamnya dirancang supaya terlihat kusam. Pengalaman yang menarik.

Herry di Bandara Don Mueang.

Di pagi berikutnya, kita terbang ke Bangkok dan mendarat di Bandara Don Mueang. Lapangan udara ini seharusnya lebih dekat dengan tempat tinggal kita, namun perjalanan ke hotel lumayan macet sehingga akhirnya sama saja. Dalam perjalanan menuju Centre Point Pratunam Hotel (ini adalah hotel tua, tapi besar kamarnya dan dilengkapi dengan ruang tamu pula), Herry berkomentar bahwa ibukota Thailand ini terlihat seperti Jakarta versi 2.0. Mirip tapi lebih bagus dan maju. 

Sesudah menitipkan koper di hotel, kita berjalan ke Platinum. Herry menikmati makanan pertamanya di Thailand, tapi dia lantas merasa bosan karena Platinum hanya menjual pakaian. Akan halnya Mama, dia suka melihat-lihat, tapi ada sesuatu yang janggal dengan sikapnya. Lambat-laun saya menyadari bahwa dia kesulitan melakukan tawar-menawar karena perbedaan bahasa, padahal menawar harga adalah bumbu yang membuat berbelanja menjadi sedap.

Makan siang di Platinum.

Dari Platinum, kita berjalan ke Central World untuk melihat tas-tas Naraya, merek populer di Thailand. Setelah itu kita makan lagi karena... makan adalah hobi Mama dan Herry, haha. Mama mencoba sesuatu yang mirip dengan nasi ekonomis di Singapura, dimana kita tinggal menunjuk menu yang kita mau. Ternyata ada yang salah dengan pilihannya dan dia pun merasakan pedasnya masakan Thai yang bikin ampun.

Setelah makan siang menjelang sore, saya ke kantor pos di lantai dasar Central World untuk mengirim kartu pos. Kemudian kita menumpang mobil Grab untuk mengunjungi Hard Rock Cafe, sebuah rutinitas yang senantiasa saya lakukan saat berlibur. Di sini saya menyadari bahwa saya tidak bisa ke sana dan kemari tiada henti karena saya tidak sedang bertualang bersama teman-teman. Mama tidak lagi muda dan akan lebih cocok baginya untuk berlibur dengan santai. Kita sudah bangun sebelum matahari terbit untuk berangkat ke Bangkok dan kita juga sudah berkelana menggunakan pesawat, mobil dan berjalan kaki, jadi saya pun menyadari bahwa sudah waktunya untuk beristirahat di hotel.

Jalan-jalan malam di Pratunam.

Dan ternyata waktu istirahat itu benar-benar kita butuhkan. Kita langsung tertidur saat menyentuh kasur dan ketika kita bangun, hari sudah gelap. Kita berjalan menyusuri Pratunam di malam hari dan menikmati sup tom yum di samping McDonald's. Tempat makan tepi jalan ini sepertinya memang untuk turis, jadi sup tom yum yang dihidangkan pun tidak terlalu pedas dan bisa dimakan, haha. 

Keesokan harinya, kita pergi ke Grand Palace. Meski saya pernah mampir ke sini sebelumnya, ini adalah kali pertama saya masuk untuk melihat-lihat. Istana ini luas dan megah. Kuil Emerald Buddha juga berada di kompleks istana. Ketika kita membeli karcis dan masuk, kita akan tiba dan mengitari kuil terlebih dahulu, baru kemudian memasuki kawasan istana.

Mama di kapal yang mendekati Dermaga Rajchawongse.

Transportasi sungai adalah cara paling praktis dan cepat untuk bepergian dari Grand Palace ke Pecinan, jadi kita pun berjalan ke Tha Chang. Dermaga ini benar-benar bernuansa lokal dan terombang-ambing di permukaan Sungai Chao Phraya. Sekilas saya melihat wajah adik saya yang tampat cemas saat kita berdiri di dermaga dan menanti kedatangan kapal. Terlihat betul bahwa dia gelisah dan tidak tenang, haha. Kendati begitu, semuanya aman-aman saja dan kita pun melaju ke Dermaga Rajchawongse. Mama sungguh menikmati perjalanan menggunakan kapal! Setelah merapat, kita berjalan ke Jalan Yaowarat yang ramai, melewati bangunan-bangunan tua yang tidak jauh beda dengan toko-toko orang Tionghoa di Jalan Sultan Muhammad, Pontianak.

Selain bersantap siang di Yoo Fishball, kita sebenarnya tidak melakukan aktivitas lain di Pecinan. Dari tempat makan, kita berjalan ke Stasiun Wat Mangkon dan mencoba MRT Bangkok. Lumayan, tidak jauh beda dengan yang ada di Singapura. Kita berhenti di Stasiun Sam Yan, naik ke mal Chamchuri Square dan naik mobil Grab untuk kembali ke hotel. dan tidur siang. Ya, beginilah caranya kalau berlibur bersama orang tua. Beristirahat adalah bagian dari liburan.

Herry di stasiun MRT.

Seperti yang disarankan oleh teman saya Franky, saya pun membawa Mama dan Herry ke Asiatique. Oh ya, yang namanya Bangkok Jam itu bukan hanya sekedar nama restoran. Macetnya tidak kalah dengan Jakarta saat jam pulang kerja. Kita terjebak macet saat menuju ke Dermaga Sathorn. Lebih parah lagi, pengemudi Grab yang kita tumpangi itu tidak tahu di mana Dermaga Sathorn, jadi kita harus berjalan kaki sejauh beberapa ratus meter. 

Dari Dermaga Sathorn, kita menaiki kapal gratis ke Asiatique. Ternyata tempat ini bukanlah mal, tapi ruko-ruko yang digabungkan menjadi satu kawasan perbelanjaan di tepi sungai. Asiatique menyala terang di malam hari sehingga tampak menarik. Santai tempatnya dan enak pula bagi yang sekedar ingin jalan-jalan. Kunjungan kita pun ditutup dengan menonton Calypso, sebuah pertunjukan kabaret. Selagi di Bangkok, kita harus menyaksikan para banci. Ini wajib hukumnya!

Herry di Terminal 21.

Hari ketiga di Bangkok menjadi hari liburan terakhir sebelum kita pulang ke Singapura. Kita sarapan di Pier 21, pujasera di mal Terminal 21. Makanan di sini terkenal murah dan lumayan. Awalnya terasa ideal, sampai Mama memesan sepiring phat kaphrao yang lebih terkenal dengan nama nasi babi cincang dan daun basil. Pedasnya dashyat dan bikin tobat!

Sesudah membeli buah-buahan kering yang merupakan cemilan khas Thailand, Kita mencoba BTS dari Asok ke Chit Lom. Kita kemudian berjalan kaki melewati Central World dan kembali ke Platinum untuk berbelanja sebelum pulang. Sewaktu saya menyeberangi jembatan yang mengarah ke hotel, terlintas di benak saya bahwa Bangkok itu seru dan mungkin saya akan kembali ke sini lagi bersama istri saya untuk liburan singkat. Dan ketika tiba waktunya, kita pun berangkat ke Bandara Suvarnabhumi. Sampai berjumpa lagi, Bangkok!

Herry saat kita berjalan menuju Platinum. 


Sunday, February 9, 2020

Around Three Countries In Six Days: Indonesia

Yes, looking back, I did a similar trips before, but it was never in such a short period of time. The recent trip was a series of quick cultural changes, from Indonesia, Malaysia to Thailand. It was like going through the twilight zone. Very surreal!

The trip began with a ferry ride from Singapore to Batam. It was an odd one. First, I bumped into Budi, the elusive ex-housemate of mine. Hadn't seen him in quite some time! Secondly, the ferry left the pier but it wasn't departing because it gave way to some big cruise ship that was coming into to the harbour. So there we were, floating on the same spot for easily half an hour! It was alright, though. We had a good catch-up and talked about tons of stuff, i.e. the good ol' days told from Budi's perspective (for the first time ever!) and new credit cards such as Revolut.

Fried Indomie.

I didn't have much time when I reached Batam, so I rushed to the airport. Grabbed a lunch there. The menu? I was choosing between fried Indomie and batagor, but they were so tempting that I decided to have both, haha. Greedy, eh? Not long after the stomach was filled up, it was time to fly. Around 4pm, when I reached Pontianak, I already travelled 626 km, from the first world country to my slowly-changing hometown via Batam. Three cities within five hours!

My friend Harry picked me up at Supadio Airport in Pontianak. It was always good to see some familiar faces in a town that is fading away from what I used to know. As I said earlier, Pontianak is slowly changing. Gone were some places I remember fondly, replaced by new ones. I was only partially impressed, though. Due to sentimental reasons, I wasn't sure if I liked the changes. 

But there's no denying that my hometown is more developed than before. An excellent example would be one particular road where Aming Coffee is located. It was barely a road back then as it was always in a bad shape throughout the 22 years of my life in Pontianak. Imagine how surprised I was to see it so smooth now! It was so amusing that I just had to laugh!

Sweet fried noodles.

By the way, how did I end up there? Back to our story, instead of heading home directly from the airport, Harry and I went for an early dinner. We had the sweet fried noodles, one that I was craving for, and the stall happened to be a walking distance from where the road is. When I finished eating, I walked a bit just to look around. That's when I unintentionally found out about it. 

Parno already was at my home when I got there. He wanted to pick up something that he had been waiting for months: the Nintendo Switch! Later on that night, Ardian picked us up. He said it was up to me to decide on what to do, since I was the guest of honor, so I thought we should go singing! It was fun to scream at the top of your lungs! Gunawan, Harry and Novi came to join us, too.

Parno began selecting songs.

The next morning, Gunawan and I went out for breakfast at A Kuang, the eatery opened by a friend's father. We had a local delicacy called kwe kia theng, the equivalent of kway chap in Singapore. Good stuff! We met Santi there and, as she left before us, she quietly paid for our breakfast. How generous! 

After breakfast, it was time to live a local lifestyle. We grabbed our coffee and spent our time talking at the coffee house. I chose Aming Coffee as a place for Lisan, Harry, Gunawan and I to hang out. To me, Aming Coffee is like our local Hard Rock Cafe. I feel proud of it! And the day got better when Limin, the owner, came to join us. We weren't close during school days, but that didn't stop me from admiring his achievement. In fact, I was so in awe that when I started interviewing people for Roadblog101, he was the first candidate I had in mind!

Lisan and Gunawan.

By the way, let's talk about the local lifestyle a bit. Yes, it was Sunday, so what I observed might not be a good indicator, but I was reminded again about how places were so reachable in this small town. As far as I'm concerned, Pontianak was probably the only town where you could go home for lunch and have a short nap before going back to office. Compared to the fast-paced life in Singapore, Pontianak was so relax. Time moved rather slow there, but things were surprisingly not cheap! 

Conclusion? I had a good time living there, but no, I wouldn't trade my life now with, let's say, another 20 years in Pontianak. I like it here in Singapore and nowadays, when I went back, I couldn't help feeling like I was visiting my hometown as a tourist. Just spend a couple of days there, having good food, meeting friends and being nostalgic about the good old days.

Afu's chicken rice. 

And reliving the nostalgia is what I did. After having a cup legendary chocolate ice cream that was located right across our high school with Gunawan, I hung out with Sudarto, my ex-housemate in Singapore. Heard about Afu's chicken rice lately, so I thought of giving it a try. It wasn't as wet as Asan's chicken rice, but it had quite a lot of meat. Not bad!

The rest of the day was spent at my cousin's wedding. There was a family gathering at the restaurant prior to the banquet, but as I already had a plate of chicken rice, the food didn't look tempting, haha. I just ate a bit and grew hungry again few hours later. The night was eventually ended with a dinner with Vivi and Gunawan at Lenda's Meetingpoint.

The next morning, I went to the airport with my mother and brother. Had a bowl of bakso there and off we went! The family trip to Bangkok via Kuala Lumpur had finally begun! The plane took off, taking us away from Pontianak and bringing us closer to Indochina as we flew...

As the plane took off...



Keliling Tiga Negara Dalam Enam Hari: Indonesia

Ya, kalau saya lihat kembali, memang saya pernah melakukan perjalanan serupa, tapi rasanya saya belum pernah berlibur menjelajahi tiga negara dalam waktu enam hari. Petualangan bulan lalu membawa saya melewati pergantian tiga budaya yang berbeda, dari Indonesia, ke Malaysia dan Thailand. Semua itu terjadi dalam waktu singkat sehingga terasa seperti mimpi yang aneh tapi nyata.  

Perjalanan kali ini dimulai dengan kapal feri dari Singapura ke Batam yang tidak lazim. Pertama, saya bertemu dengan Budi, mantan teman serumah saat saya pindah ke Singapura. Sudah lama tidak bertemu dengan teman yang jarang terlihat ini! Kedua, setelah sudah meninggalkan dermaga, feri tidak segera berlayar karena ada kapal pesiar yang masuk dengan perlahan-lahan ke pelabuhan. Jadi kita pun terombang-ambing di laut kira-kira setengah jam lamanya! Kita pun berbincang tentang masa lalu di Kembangan (kali ini Budi berkesempatan untuk bercerita dari sudut pandangnya) dan berbagai hal lainnya, termasuk juga kartu kredit bernama Revolut yang konon bagus kursnya.

Indomie goreng.

Karena keberangkatan feri yang tertunda, saya tidak mempunyai banyak waktu saat tiba di Batam, jadi saya pun bergegas ke bandara. Saya makan siang di sana dan menunya adalah Indomie goreng dan batagor. Seharusnya saya memilih salah satu, tapi saya memesan dua-duanya karena rakus, haha. Setelah perut kenyang, akhirnya tiba waktunya untuk menaiki pesawat. Ketika saya tiba di Pontianak sekitar pukul empat sore, saya sudah menempuh jarak 626 kilometer dari Singapura ke kampung halaman saya via Batam. Tiga kota dalam lima jam! 

Teman saya Harry menjemput saya di Bandara Supadio di Pontianak. Senang bisa melihat wajah yang saya kenal di kota yang perlahan-lahan pudar dari ingatan saya. Ya, Pontianak kini berubah karena pembangunan. Hilang sudah beberapa tempat yang dulu saya kenal baik, berganti menjadi tempat yang baru. Saya tidak begitu terkesan, sebenarnya, tapi itu lebih dikarenakan alasan sentimentil.  

Kendati begitu, saya harus mengakui bahwa Pontianak sudah lebih maju dari sebelumnya. Satu contoh yang membuat saya terkejut dan juga merasa geli adalah Jalan Haji Abbas 1 yang juga merupakan lokasi Aming Coffee. Jalan ini selalu rusak parah selama 22 tahun hidup saya di Pontianak, jadi bayangkan betapa kagetnya saya tatkala melihat mulusnya jalan ini sekarang. Saya jadi tergelak sendiri karena merasa sulit untuk percaya.

Mie goreng manis.

Oh ya, kenapa saya bisa muncul di sana? Kembali ke cerita kita, saya tidak langsung pulang ke rumah. Dari bandara, Harry dan saya langsung mencari makan malam dan kita menyantap mie goreng manis yang memang sudah saya idamkan. Seusai makan, saya menyusuri Jalan Siam sejenak dan berjalan kaki hingga persimpangan. Saat itulah saya tanpa sengaja menemukan fakta tentang Jalan Haji Abas 1 yang mengejutkan ini. 

Ketika saya tiba di rumah, Parno sudah menunggu di sana. Dia ke rumah karena ingin mengambil sesuatu yang telah dinantikannya selama beberapa bulan: Nintendo Switch! Kemudian, sewaktu malam mulai larut, Ardian datang menjemput. Katanya, karena saya adalah tamu, maka saya yang tentukan acaranya. Oleh karena itu kita pun pergi karaoke di De'Tones by Afghan. Gembira rasanya bisa bernyanyi dan berteriak lagi. Gunawan, Harry dan Novi datang bergabung juga di malam itu.


Parno mulai memilih lagu.

Keesokan paginya, Gunawan dan saya pergi sarapan pagi di kwe kia theng A Kuang. Makanan ini mirip dengan kway chap di Singapura. Sedap rasanya! Kita juga bertemu dengan Santi di sana dan, ketika dia pamit duluan, diam-diam dia juga membayar pesanan kita. Terima kasih karena sudah ditraktir! 

Sesudah sarapan, tibalah waktunya untuk menikmati gaya hidup Pontianak: duduk dan mengobrol di warung kopi. Saya sangat memilih Aming Coffee karena saya senantiasa merasa bahwa kedai kopi ini tak ubahnya seperti Hard Rock Cafe bernuansa lokal. Pokoknya seperti kebanggaan Pontianak. Dan kunjungan ini pun tambah berkesan ketika Limin, sang pemilik, datang untuk turut berbincang. Saya tidak dekat dengannya sewaktu sekolah, tapi hal ini tidak mengurangi kekaguman saya terhadap apa yang ia capai. Ketika saya mulai mewawancarai teman dan kenalan untuk Roadblog101, dia adalah orang pertama yang saya hubungi.

Lisan dan Gunawan.

Oh ya, mari berbicara sedikit tentang gaya hidup lokal. Ya, hari itu adalah Minggu, jadi apa yang saya amati mungkin bukan indikator yang tepat, namun saya diingatkan kembali, betapa jarak bukanlah masalah bagi mereka yang tinggal di Pontianak. Sejauh yang saya ketahui, Pontianak mungkin adalah satu-satunya kota dimana anda bisa pulang untuk makan siang dan bahkan tidur sejenak sebelum kembali ke kantor. Dibandingkan dengan pola hidup Singapura yang cepat, kehidupan di Pontianak sungguh santai. Waktu berjalan pelan di sini, tapi sungguh mencengangkan bahwa makanan di sini tidaklah murah. 

Kesimpulannya? Kehidupan saya di Pontianak dulu cukup menyenangkan, tapi saya tidak akan menukar kehidupan saya di Singapura, katakanlah dengan 20 tahun lagi di Pontianak. Sekarang ini saya lebih suka mengunjungi kampung halaman sebagai seorang turis. Cukup tinggal dua tiga hari di sana, makan makanan yang saya sukai, ketemu teman lama dan bernostalgia tentang masa lalu yang indah.

Afu's chicken rice. 

Dan bernostalgia adalah apa yang saya lakukan di sana. Setelah menikmati es krim A Ngi yang legendaris bersama Gunawan, saya pun menjumpai Sudarto, mantan teman serumah di Singapura. Belakangan ini saya sering mendengar tentang nasi ayam Afu, jadi pun saya pun mencobanya. Nasi ayam Afu tidak sebasah nasi ayam Asan dan dagingnya berlimpah. Lumayan enak! 

Sore harinya saya habiskan di pernikahan sepupu saya. Ada acara makan khusus keluarga sebelum pesta dimulai, namun berhubung saya telah makan nasi ayam, hidangan di meja tidak lagi membangkitkan selera, haha. Alhasil saya hanya makan sedikit dan lapar lagi. Malam itu akhirnya ditutup dengan santap malam bersama Vivi dan Gunawan di Meetingpoint. 

Di pagi berikutnya, saya ke bandara bersama ibu dan adik saya. Saya sempat menyantap bakso sebelum berangkat. Setelah itu, pesawat pun lepas landas, membawa kita menjauhi Pontianak dan mendekati Indocina. Liburan keluarga ke Bangkok lewat Kuala Lumpur akhirnya dimulai! Nantikan ceritanya di episode selanjutnya!

Ketika pesawat lepas landas...