Total Pageviews


Saturday, August 26, 2023

Pontianak: The Hometown Of Great People?

This one came before the macroeconomics. Quite intriguing, but I refrained from writing it to see if it's just a spur-of-the-moment kind of thing. Weeks later, the idea still lingered and begged to be told, so here's my take on the off-the-cuff remark from a friend in our group chat: Pontianak churned out a lot of great people.

When I first heard of that, I thought of Working Class Hero, a song written by John Lennon. The song reminded me of myself and those who left our dear hometown to make it elsewhere. At one glance, and if I were to take pride in the achievements we unlocked, then the remark seemed to be aptly made. 

But to keen observers like Eday, it was not that simple. Was the remark really true, though? Was there anything special about Pontianak? Was there a formula or concoction that made us who we are? The last sentence got me thinking of Captain America. The formula, if indeed there was one, must have been lost. That's why Steve Rogers is the one and only super soldier, haha. 

One couldn't formulate this, of course. Otherwise it would have been easy to replicate successful people. The opinion came about simply because we were from Pontianak. We knew Pontianak and it was easy to subconsciously overdramatize our feeling of our hometown. But the same claim could certainly be made by people from other parts of the world, too. 

If Pontianak ever played any parts in churning out a lot of great people, then it had to be about how the town shaped our personality. One definitely learnt a thing or two for being a minority in a place you were born and grew up. At the very least, you'd be more cautious and tactful in life.

I always felt that Pontianak repelled me in a sense that it had not much to offer. Eday phrased it better as lacking support systems. If the town was so great, we would have stayed there, wouldn't we? But it wasn't. Therefore we went to try our luck somewhere else. For some of us, the first few stops weren't the final destination and we kept looking. That's how we end up where we are today. 

But you see, even with the repelling factor and what it had to do with our upbringing, Pontianak still had a different effect on each individual. Many smarter guys I know continued staying in Pontianak to live a decent life. There's nothing wrong with that, it's a matter of choice and I won't be judgmental about it. However, if the context is Pontianak churning out a lot of great guys and whether there's something we can formulate from these samples of great guys, then I don't think so.

To conclude, I don't think Pontianak churns out a lot of great guys. Yes, it has its role, just like any other cities in the world, but any greatness goes all the way back to the decisions and changes one is willing to make, even when this person doesn't necessarily know what the direction in his or her life is. And eventually, human being is just too complex to be defined by a formula...

The greats from Ponti? Not quite!

Pontianak Mencetak Banyak Orang Hebat?

Topik yang satu ini muncul sebelum ekonomi makro. Cukup menggelitik, tapi tidak langsung saya tulis karena saya ingin tahu apakah ide ini terasa menarik hanya karena karakter saya yang impulsif. Beberapa minggu kemudian, ide ini masih tidak terlupakan, jadi inilah respon saya tentang pernyataan spontan dari teman di grup SMA: Pontianak mencetak banyak orang hebat. 

Saat pertama kali terlontarkan, pernyataan tersebut mengingatkan saya dengan lagu Working Class Hero yang ditulis oleh John Lennon. Saya jadi teringat dengan diri saya sendiri dan juga teman-teman yang merantau mencari kehidupan yang lebih baik. Secara sekilas, dan bila saya sedikit berbangga hati dengan apa yang telah kita capai, memang sepertinya pernyataan itu benar. 

Tapi untuk yang lebih jeli seperti Eday, masalahnya tidak sesederhana itu. Apakah pernyataan tersebut benar? Apakah ada sesuatu yang istimewa dengan Pontianak? Lantas apakah ada formula yang mencetak orang-orang hebat? Dan kata formula ini memunculkan sosok Captain America di benak saya. Kalau sungguh pernah ada formula seperti itu, pasti sudah hilang formulanya. Makanya hanya ada satu Steve Rogers, haha. 

Tidak ada yang bisa merumuskan kisah sukses menjadi formula. Kalau sungguh bisa begitu, maka orang-orang sukses bisa dengan mudah direplikasi. Pernyataan Pontianak mencetak orang-orang hebat hanya muncul karena kita semua berasal dari Pontianak. Kita tahu Pontianak dan bisa tanpa sadar mendramatisir perasaan kita tentang kampung halaman. Klaim serupa tentang kota kelahiran tentu saja bisa diucapkan oleh mereka yang berasal dari tempat lain pula. 

Jika Pontianak memiliki peran dalam menghasilkan orang-orang hebat, maka peran tersebut adalah pembentukan karakter orang-orang yang berasal dari sana. Sedikit banyak kita pasti belajar dari pengalaman kita selama hidup sebagai minoritas di Pontianak. Semua itu membuat kita lebih berhati-hati dalam menyikapi apa yang kita hadapi. 

Saya sendiri kadang berpandangan bahwa Pontianak itu bagaikan magnet yang begitu kuat daya tolaknya sehingga saya harus pergi. Daya tolak itu secara realistis bisa dijabarkan sebagai kota yang tidak menawarkan apa yang saya mau. Eday menyebutnya dengan istilah minimnya sarana penunjang. Ya, jika sungguh itu Pontianak kota yang hebat, tentunya kita semua memilih untuk tinggal di situ, bukan? Namun tidak begitu kenyataannya. Makanya kita pergi dan coba di tempat lain. Bagi beberapa di antara kita, beberapa kota berikutnya pun tidaklah cocok dan kita terus mencari. Ini alasannya kenapa kita berada di tempat yang berbeda sekarang.

Meski Pontianak memiliki daya tolak dan peran tersendiri di masa kecil kita, efeknya terhadap setiap individu tidaklah sama. Banyak orang pintar yang masih memilih untuk tinggal di sana. Tidak ada yang salah di sini karena ini adalah pilihan dan saya pun tidak akan menghakimi. Akan tetapi, bila konteksnya adalah Pontianak mencetak banyak orang hebat dan apakah ada formula untuk semua itu, saya rasa tidak demikian halnya. 

Sebagai kesimpulan, saya tidak merasa bahwa Pontianak mencetak banyak orang hebat. Ya, memang ada perannya, tapi sebatas kewajaran seperti halnya kota-kota lain. Kesuksesan seseorang pada akhirnya tergantung dengan keputusan dan kemauannya untuk membuat perubahan, bahkan ketika orang tersebut tidak tahu pasti ke mana arah hidupnya. Dan pada akhirnya, manusia terlalu kompleks untuk dibatasi oleh sebuah formula...

Saturday, August 12, 2023

Traveling Solo

For the longest time, I wasn't the type that would travel solo. Prior to India, I did it only once involuntarily. Back in 2005, when budget airlines were new, I made a mistake in purchasing what was supposed to be the IDR 0 tickets. You see, there was such a promo and silly me, I tried it out by clicking next and entering my credit card details. I was convinced that the IDR 0 value would appear in the end. It didn't. I paid full price for the return tickets, so off I went to Bali alone.

It was different time then. Even BBM hadn't existed yet. SMS was expensive and it wasn't meant for continuous two-way conversation. Travelling solo during this period was as good as talking to strangers or you ended up mumbling yourself. It wasn't fun at all. On top of that, you could also lose your way if you didn't carry a map.

Ready to travel alone!

Fast forward to 2022, again I was in the situation where I had to travel solo. The country was India and the destination was Kolkata, not exactly a favourite country and a city many were unfamiliar with, so it was a double whammy. Needless to say, nobody was keen to join me and I eventually travelled alone. 

Bleak though the situation might seem, it turned out to be a rediscovery that I quite enjoyed. Things had changed a lot since 2005. The technology is so advanced now it brought us an entirely new experience of travelling solo. The phone we have was a game changer as it gave so much power in the palm of our hand. 

Walking tour in Kolkata.

First of all, it's like having family and friends in your pocket these days. While they may not be physically with us, they are just a few clicks away thanks to the chat apps such as WhatsApp. I like, no, I enjoy the fact that I can just pull out my phone to talk and share my experience with them. 

Next is the simplicity in getting the right direction and travelling from one point to another. Google Maps is a godsend and Ride-hailing apps such as Uber and Grab are brilliant in the countries where metro isn't much of an option. Uber was so cheap in Bangalore that I felt like a king, haha.

Local tour in Bangalore.

I relied on the phone to search for a recommended restaurant within proximity. The phone also eliminated the need of carrying a digital camera around. But one tiny thing that I also like best is having the transport and accommodation details in one glance. Google Travel used to do the job, but now it didn't, so I switched back to TripIt. I just love how things are organised!

Now, what I want to tell you next has nothing to do with phone. It is more of something I discovered recently. Not sure if it had always been there, but I booked local tour by car and walking tour on Tripadvisor for both trips to India. The former covered more destinations, the latter allowed me to see more in details. And this actually solved the problem I had 17 years ago: the tour was a perfect setting to talk to strangers.

With Thomas from the US.

While it may not be my first choice, I can safely conclude that travelling solo is no longer a bad idea. If you're ever deterred by it, let me assure you that it isn't as scary or boring as it used to be. In a world where travelling has been made so easy, travelling solo is definitely an option now! 

Berlibur Seorang Diri

Saya jarang berlibur sendiri dan baru belakangan ini saya kembali bepergian seorang diri. Di tahun 2005, ketika maskapai AirAsia baru mulai dikenal, saya pernah membuat kesalahan dalam pembelian tiket. Saat itu ada promosi tiket 0 rupiah, namun karena saya tidak berpengalaman, saya melanjutkan setiap tahap pembelian sampai memasukkan nomor kartu kredit. Saya mengira promosi 0 rupiah itu akan muncul setelah transaksi terjadi. Ternyata saya salah kaprah. Karena saya membayar tiket sesuai dengan harga yang tertera, jadi saya pun berangkat sendirian ke Bali.

Saat itu adalah zaman yang berbeda. Bahkan BBM pun belum dikenal pada waktu itu. SMS tergolong mahal dan tidak cocok untuk percakapan dua arah yang terus-menerus. Jadi yang namanya berlibur sendiri pada masa itu sama artinya dengan memberanikan diri berbicara dengan orang asing atau jadinya bergumam sendiri. Pokoknya tidak seru. Selain itu, kita pun bisa tersesat kalau tidak membawa peta.

Siap bepergian sendiri!

Bertahun-tahun kemudian, di tahun 2022, sekali lagi saya berada di dalam situasi yang membuat saya akhirnya harus bepergian sendiri. Negara yang ingin saya kunjungi adalah India dan kota tujuannya adalah Kolkata. Bukan negara yang populer bagi turis dan kotanya pun asing bagi banyak orang, jadi situasinya dua kali lebih buruk dari yang saya duga. Tak ayal lagi, tiada teman yang berminat dan saya akhirnya bertualang sendiri. 

Meski terlihat suram, ternyata pengalaman ini menjadi sesuatu yang baru dan bisa saya nikmati. Banyak hal telah berubah menjadi lebih baik setelah 17 tahun berlalu. Canggihnya teknologi telepon masa kini  memberikan kemudahan dan kontrol dalam genggaman telapak tangan kita. 

Tur jalan kaki di Kolkata.

Hal yang paling dominan dan terasa adalah keluarga dan teman-teman yang bagaikan berada di dalam saku celana. Meski mereka tidak bersama saya secara fisik, mereka bisa dengan gampang dihubungi lewat aplikasi WhatsApp. Saya sangat menikmati praktisnya berbagi cerita secara instan lewat hape. 

Yang berikutnya adalah kemudahan dalam mencari jalan dan bepergian dari satu titik ke titik lainnya. Google Maps sangat membantu dan aplikasi untuk memanggil mobil seperti Uber dan Grab adalah pilihan yang bagus untuk negara-negara yang masih terbelakang dalam perihal sarana transportasi metro. Uber di Bangalore sangat murah bila dibandingkan dengan fasilitas serupa di Singapura, sampai-sampai saya merasa seperti raja dan naik dengan semena-mena, haha. 

Tur lokal di Bangalore.

Saya menggunakan telepon genggam untuk mencari tempat makan di dekat saya. Telepon yang sama juga menggantikan kamera digital yang dulunya perlu dibawa untuk berfoto. Satu hal lain yang juga saya sukai sekarang adalah mudahnya melihat penerbangan dan hotel yang telah dipesan. Saya dulu memakai Google Travel, namun setelah fungsinya ditiadakan oleh Google, saya kembali beralih ke TripIt. Saya suka dengan betapa terorganisirnya tiket dan voucher yang diperlukan sepanjang perjalanan ini. 

Selanjutnya, apa yang akan saya sampaikan ini tidak ada hubungannya dengan telepon, tapi lebih berkaitan dengan sesuatu yang tanpa sengaja saya temukan. Saya tidak tahu apakah fasilitas ini ada sedari dulu, tapi saya memesan tur mobil lokal dan tur jalan kaki lewat Tripadvisor untuk dua liburan ke India. Tur mobil memberikan jangkauan yang lebih luas dan tur jalan kaki memberikan perspektif yang lebih detil. Selain itu, tur ini juga merupakan solusi dari masalah yang saya hadapi 17 tahun yang lalu: karena ini adalah tur, saya bisa mengobrol dengan orang asing yang turut serta. 

Bersama Thomas yang berasal dari Amerika.

Walau ini bukanlah pilihan pertama saya, kini saya bisa dengan aman menyimpulkan bahwa bepergian sendiri bukanlah ide yang buruk lagi. Jika anda merasa ragu, saya bisa yakinkan anda bahwa bepergian sendiri tidaklah menakutkan atau membosankan seperti pengalaman dua dekade silam. Di dunia di mana bepergian sekarang terasa begitu mudah, berlibur seorang diri bisa menjadi sebuah pilihan! 

Tuesday, August 8, 2023

The Macroeconomics

Our group chat hadn't been the same since the incident that happened on 29 December 2022 (oh yes, we do have momentous and historical dates, too, starting last year). We lost the man without fear and, despite our attempts to get him back, he still refused to rejoin. To think that he was known as the king of 10-liners! His absence was sorely missed. 

But still we had him in a smaller group chat and we patiently coaxed him to return. So imagine our surprise when, out of the blue, he suddenly agreed to talk to us after months of incessant persuasion. Finally! A revelation! I mean, we're in our 40s and holding grudges was not really a thing anymore, hence we were wondering why he was so adamant about rejoining the group chat. 

An impromptu Zoom session was quickly set up. The man was slow in technology, so he had to download Zoom on his phone first, haha. Then we heard the familiar voice on the other end of the line. We were excited, but the excitement wasn't justified and it turned sour pretty fast, haha. 

The speech began with the macroeconomics outlook of the world. I was stunned, as I neither expected that nor saw that coming. Still I gave it the benefit of the doubt, thinking that all good speeches used big word and started with something vague before it zoomed into the details. But after few minutes, it was still like listening to a macroeconomics lecture. Then it dawned on me that we must have been experiencing expectations mismatched, haha. 

Then I muted my mic on Zoom and had my dinner instead. God knows how we ended up talking about profiting from digitisation and automation. They bored the hell out of me. One thing did catch my attention, though. It turned out that there were two schools of thought. One was represented by Eday and I, the group of people that dreamt and planned towards it. On the opposite side was those that planned within their means.

Now this piqued my interest. Eday was quick to point out that planning within your means was as good as limiting oneself. I agreed with his assessment. While it seemed to be a safer and more reasonable approach, it was so conventional that it wouldn't get you very far. To put it simply, because you could only afford to go to Thailand, therefore you planned to visit only Thailand.

The dream-based plans, on the other hand, was different. Based on past experiences, I could tell you this much: it always started with a dream. I might not always have the means or know-how, but it was okay, I'd figure it out later. One tiny step at a time, but a step forward nonetheless. And I have done this often enough to know that it works. The recent Japan trip was a good example of how much work and timed spent on a dream-based plan before it really happened.

One, I couldn't remember who, argued that it was only suitable for travelling. I begged to differ. It only seemed that way because the most obvious thing I did lately was travelling. But more than that, the dream-based plans was a concept and a way of life. Didn't Bruce Lee say, "having no limitation as limitation?" So in this context, why limit ourselves by planning within our means?

In all fairness, I do understand that there is no one size that fits all. If you know all your options and you still choose to plan within your means, then I believe you have your reasons. But if you did't know that it's okay to dream big and plan towards it, then perhaps you should start giving it a try. 

By the end of the call, we didn't get what we wanted to hear. But I like the fact that we came out wiser than before. That's the thing with the group chat. More often than not, it was just a laughable crazy talk. But once in a while, we had something epic going on. Very inspiring...

The Zoom call participants.

Ekonomi Makro

Grup SMA di WhatsApp tidak pernah sama lagi sejak insiden yang terjadi tanggal 29 Desember 2022 (oh ya, grup kita ada tanggal-tanggal bersejarah yang mulai dicatat sejak tahun lalu). Grup kehilangan pria tanpa rasa takut dan meskipun kita sudah berulangkali membujuknya, dia selalu menolak untuk bergabung lagi. Padahal dia ini raja 10 baris, jadi grup terasa berbeda karena dia absen. 

Kendati begitu, dia masih aktif di grup kecil dan kita tetap setia menggiringnya kembali walaupun sejauh ini tiada hasil. Jadi bayangkan betapa kagetnya kita ketika dia bersedia untuk bicara setelah dibujuk, didesak dan dipaksa. Akhirnya! Sesuatu akan terkuak! Maksud saya, di usia 40an ini, menyimpan dendam sepertinya adalah perkara kekanak-kanakan, jadi kita merasa penasaran, kenapa dia sangat bersikeras untuk tidak bergabung lagi. 

Sesi Zoom dadakan lekas dibikin. Teman yang satu ini agak lamban dalam teknologi, jadi dia harus mengunduh Zoom di hapenya dulu, haha. Kemudian kita mendengar suara yang tak asing lagi bagi kita. Tegang rasanya, namun ketegangan itu cair dalam sekejap, berubah menjadi kebingungan. 

Pembicaraan kita dibuka dengan ulasan ekonomi makro dunia. Saya jadi heran karena saya tidak menyangka akan mendengar hal ini. Walaupun demikian, saya masih fokus lebih lanjut, soalnya pembicara kadang menggunakan kata-kata yang hebat dan sesuatu yang umum sebelum masuk ke pokok pembahasan. Namun setelah beberapa menit, yang terdengar masih saja seputar ekonomi makro. Lantas saya sadar, sepertinya kita sudah salah paham, haha. 

Lalu saya mematikan mikropon saya di Zoom dan makan malam sambil mendengar saja. Hanya Tuhan yang tahu kenapa kita jadi berbicara tentang mencari keuntungan dari era digital dan otomatisasi. Sungguh membosankan. Namun mendadak ada yang menarik perhatian saya. Dua sudut pandang terlontarkan untuk ditanggapi. Satu adalah tentang sekelompok orang yang bermimpi dan mewujudkannya, satunya lagi adalah mereka yang merencanakan sesuai dengan kemampuannya pada saat itu. 

Topik yang satu ini membuat saya tergelitik. Eday dengan cepat merespon bahwa merencanakan sesuatu sesuai dengan kemampuan sesungguhnya tidak beda dengan membatasi diri sendiri. Saya setuju dengan pendapatnya. Meski cara ini sepertinya lebih aman dan masuk akal, di satu sisi juga begitu konvensional dan hasil akhirnya cenderung biasa-biasa saja. Sebagai contoh, karena kita hanya sanggup ke Thailand, maka kita hanya merencanakan liburan ke Thailand. 

Rencana berbasis impian berbeda dengan ilustrasi di atas. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya bisa jabarkan seperti ini: semuanya selalu berawal dari impian. Saya tidak selalu memiliki kemampuan atau tahu cara mewujudkannya, tapi itu tidak masalah, karena saya akan mencari tahu lebih lanjut. Satu langkah kecil dari waktu ke waktu, tapi langkah yang maju ke depan dan membawa saya mendekati impian. Dan saya sudah sering melakukan hal ini sehingga saya bisa berkata dengan yakin bahwa cara ini terbukti berhasil. Petualangan ke Jepang di awal tahun ini adalah contoh yang baik tentang betapa banyak upaya dan waktu yang kita habiskan sebelum rencana berbasis impian ini terwujud. 

Ada satu orang, saya tidak ingat siapa gerangan, yang berkomentar bahwa sudut pandang ini hanya cocok untuk liburan. Saya tidak setuju dengan hal ini. Rencana berbasis impian ini terlihat seolah-olah hanya cocok untuk liburan karena hal yang paling menonjol dari saya adalah propaganda liburan. Lebih dari itu, rencana berbasis impian adalah sebuah konsep dan jalan hidup. Bukankah Bruce Lee pernah berkata, "gunakan tiada batas sebagai batas?" Jadi dalam konteks ini, kenapa kita justru merencanakan sesuatu hanya berdasarkan kemampuan kita? 

Jujur saya katakan, saya mengerti bahwa tidak ada sesuatu yang cocok untuk diterapkan dalam segala hal. Jika anda tahu semua opsi yang ada dan anda masih memilih untuk merencanakan sesuatu berdasarkan kemampuan anda, saya percaya anda pasti memiliki alasan tersendiri. Tapi jika anda tidak tahu bahwa anda bisa bermimpi dan mulai mengejar impian tersebut, saya sarankan untuk mencoba.

Sampai saat Zoom berakhir, kita tidak mendengar apa yang sesungguhnya ingin kita dengar. Akan tetapi kita menjadi sedikit lebih bijak dari sebelumnya setelah berdiskusi. Ini salah satu hal yang saya sukai dari grup. Isinya bukan saja obrolan gila yang jenaka. Terkadang bisa muncul sesuatu yang epik. Sungguh menginspirasi... 

Friday, August 4, 2023

A Glimpse Of India: Bangalore

The thing with India is, it's just as big as China. You can't go to just one city and claim that you've seen India. I went to Kolkata last November and it was great to be immersed in their rich and centuries old culture. I just wanted to experience more of it. So Bangalore came to mind, because it doesn't have river. If the holy river is an integral part of Hinduism, how does the religion thrive in places without the river?

I checked the tickets to Bangalore and, as I compared it with other destinations, I was contemplating if I should go to Mumbai instead. I have a colleague there and it would have been fun to go around the city with a local. But the sheer size of the city map somehow spooked me. I eventually booked the flights to Bangalore and applied for my e-visa while I was in Salzburg

Hello, Bangalore!

My flight to Bangalore was in the morning. As India is 2,5 hours behind Singapore, I arrived before lunch time. The airport gave a good impression. It was clean and modern. Custom clearance was straightforward, my Airsim worked and Uber was aplenty. I queued and hopped into one. 

All good so far, but then the Uber driver suddenly stopped in the middle of nowhere and tried to tell me something in a local dialect. After several attempts, he left the car and walked into a shop house crowded by many rowdy looking people. It could get ugly if he came to me together with all of them, but no, he only returned with what I would assume as a packet of rice. After a long ride with a view that reminded me of Jakarta, I tipped the driver when we reached Hyatt Centric MG Road. 

Masala McEgg.

It was still too early for me to check in, so I went for a walk and looked for lunch. There was McD nearby and since this is India, I should give it a try. Ordered one called Masala McEgg for something uniquely India, haha. It tasted exotic and quite spicy, too.

I began my Hard Rock moments right after that. Taking Uber there was fantastic because the price was really, really affordable! Whitefield is on the east of Bangalore, not exactly near and the traffic jam, though not as bad as Jakarta, extended the time taken to get there. But it's not like I got anywhere else to go, so I just sat and enjoyed.

Bhel puri and chai.

Much to my disappointment, the Hard Rock Cafe there didn't really print the word Whitefield on the T-shirt anymore. It showed Bangalore instead, because most customers would come looking for that. I walked out and had a cup of chai at the cafe nearby. Also ordered a plate of bhel puri, an Indian snack that I learnt from my colleague Muru. It was tasty, but a bit too much for one person, haha. 

The journey continued. Bangalore has another Hard Rock Cafe in the city and that's where I went. It made use of a colonial building, which was kind of cool. After a T-shirt and a glass of Kingfisher beer, I returned and checked-in to my room before going out again for my dinner at the eatery across the street. As the traffic was chaotic, crossing the road was a challenge. I summoned my Indonesia instinct to do that! The reward was a delicious mutton biryani at Dindigul Thalapakkati and a glass of masala Coke. Again, exotic!

At Lalbagh Botanical Garden.

My local tour began the next morning. Ramesh the tour guide picked me up and we went to fetch two more guests that came from Sweden. Our first stop was Lalbagh Botanical Garden. The morning weather was nice, much nicer than Singapore. We walked around for 45 minutes. The British loved building big gardens with trees from around the world, hence Bangalore as part of British Raj has one. 

From there we went to the Bull Temple. So instead of Shiva or Visnu, there was a statue of a giant bull with big, captivating eyes inside the temple. It was a quick visit. After a cup of coffee, we continued to Bangalore Fort and KR Market. The former was not impressive and the latter was chaotic and dirty, with rubbish piling up here and there. Unlike the Flower Market in Kolkata that felt exciting and shocking at the same time, the one in Bangalore somehow reminded me of Pasar Mawar in my hometown back in the mid 80s. 

KR Market.

Then came lunch time. We went to Mavalli Tiffin Room. This one was interesting. People had been gathering in front of the restaurant when we reached there. By the time it opened, people just rushed in, including our tour guide. No queue, first one to reach the counter and pay would get a number. Once we had ours, we were redirected to a waiting room on a second floor. We were seated when our number was called. 

The waiters came one by one to pour vegetarian dishes on our metal plates. There were all sorts of curries and puri. Sensing that we weren't quite sure of how to begin eating, a family sitting next to us gave us some guidance. As we ate, varieties of food kept coming until we had to stop the waiter from refilling our plates. Now, I am never a big fan of vegetarian meal, but I have to say that MTR's food was delicious!

At MTR, after lunch.

After lunch, we had an obligatory visit to silk shop. Bought a pashmina for my wife there. Government Museum was supposed to be the next destination, but it was closed, so we went to the one next to it, the Industrial and Technological Museum. While it's interesting to learn about first cosmonaut from India, it was equally mind blowing to experience blackouts in the museum. Certainly didn't expect that!

The main attraction came after that: Vidhana Soudha, the Parliament House. It's a grand building with a statue of Mahatma Gandhi. The last two destinations of the tour, Bengaluru Palace and Holy Trinity Church, were less inspiring. I went back to the hotel after that. Didn't feel like going out anymore, so I ordered bannur mamsa chops for dinner. After the bland European food, Indian food was both mouth-watering and brilliant!

Vidhana Soudha, also known as the Parliament House.

I joined the walking tour on the following day. It started at Tipu Sultan's Palace. On my way there, I saw with my own eyes for the first time ever what my colleague Puneet told me before: cows on the street! And my Uber driver simply avoided the holy cows. Not that the cows understood the beeping anyway, so went around them was a logical move, haha.

Tipu Sultan's Palace was a tad rundown, but the history was rich. I had been wondering why there was a Sultan, since Sultan was a Muslim ruler. It turned out that Tipu and his father were the usurpers of the throne and they seized control of Bangalore from the Kingdom of Mysore. All this happened around the time of the French Revolution and the US Independence, hence the events were somewhat interlinked. Very interesting!

At KR Market. Again!

From the Palace, we went to a Vishnu Temple next to it, then walked to Bangalore Fort and KR Market again. My second time in two days! Coming with me were two Americans that also joined the tour. The guy told that they never saw such places before in America, but they were game and they seemed to enjoy the sightseeing. After a stop to eat dosa, we went to a silk factory and our tour was done.

I went back to the hotel to check out, but I still got about half a day to roam around, so I went to the Bengaluru General Post Office for my regular holiday activity of sending postcards. From there, I headed west to Lulu Mall. It was amusing to see the food court crowded by people. Not much queuing happening and I wouldn't have gotten a seat to enjoy my KFC if I didn't ask.

Indiana Jones!

The last few hours in the mall was spent on the cinematic experience. In Singapore, row C of the seats are nearby the entrance. I didn't look carefully when I bought my ticket, so imagine my surprise when I had to sit three rows before the screen, haha. Then audience was expected to stand up when national anthem was played. I had encountered this in Thailand, too, but I wasn't prepared for the intermission. I thought the movie projector had a technical issue when the film stopped half way. Suddenly ads started appearing and people walked out. Didn't see that coming!

After the movie, I jumped onto my Uber and went back to hotel to collect my luggage. I saw a young girl, hugging the books while waiting for the bus under the dim street light. She reminded of my colleagues that came from Bangalore and are now living in Singapore. Bangalore is quite a city for the uninitiated, but now that they have seen a better place like Singapore, it must be tough to go back here again. 

And as I looked out the window to glance at the night lights for one last time before I left Bangalore, I thought of my fast paced experience in the past few days. Bangalore is not Kolkata. It has no river, all right, but it is still brimming with Hinduism. And proudly so. Incredible India, a big country with a rich and engaging culture, I'm sure I'll be back again...

Goodbye, Bangalore!

Sekilas Tentang India: Bangalore 

Bicara tentang India, negara ini tidak kalah besarnya dengan Cina. Anda tidak bisa hanya pergi ke satu kota dan berkomentar bahwa anda telah melihat India. Saya mengunjungi Kolkata November lalu dan seru rasanya melihat-lihat budaya mereka yang sudah ribuan tahun lamanya. Saya jadi ingin mencari tahu lebih lanjut. Bangalore langsung muncul di benak saya karena kotanya yang tidak dilintasi sungai. Jika sungai adalah bagian penting dari budaya Hindu, bagaimana dengan daerah yang tidak dialiri sungai? 

Saya lantas memantau tiket ke Bangalore dan juga memantau harga ke daerah sekitarnya. Dari perbandingan yang ada, sempat terpikir pula bagaimana seandainya kalau saya ke Mumbai saja. Saya ada kolega di sana dan tentunya asyik bila dibawa jalan-jalan oleh orang lokal. Namun setelah saya lihat peta kotanya yang luas, saya jadi gugup sendiri. Akhirnya saya membeli tiket ke Bangalore dan mengajukan e-visa saat saya berada di Salzburg

Halo, Bangalore!

Jadwal penerbangan ke Bangalore adalah jam 9 pagi. Karena zona waktu India adalah 2,5 jam di belakang Singapura, saya tiba di sana sebelum jam makan siang. Bandaranya bagus, bersih dan modern. Imigrasi dan Airsim saya pun lancar. Uber juga berlimpah. Saya mengantri dan tak lama kemudian meluncur ke pusat kota. 

Sampai sejauh ini semuanya bagus, tapi kemudian supir Uber tiba-tiba berhenti di tengah jalan dan mencoba berkomunikasi dengan saya dalam dialek lokal. Upayanya tidak berhasil dan tiba-tiba dia turun dari mobil dan berjalan ke arah ruko yang dipenuhi orang. Sempat terpikir bahwa saya akan celaka bila dia kembali bersama gerombolannya, tapi syukurlah dia hanya datang membawa sebungkus nasi. Setelah perjalanan yang cukup jauh dengan pemandangan mirip Jakarta, saya memberikan bayaran lebih kepada supir saat kita tiba di Hyatt Centric MG Road. 

Masala McEgg.

Karena belum jam check-in, saya mondar-mandir di sekitar hotel untuk mencari tempat makan siang. Ada McDonald's di dekat hotel dan karena ini adalah India, saya wajib mencoba. Saya pesan yang namanya Masala McEgg dan khas India. Rasanya esksotis, ada pedasnya, haha.  

Seusai bersantap, petualangan berburu kaos Hard Rock pun dimulai. Naik Uber di Bangalore memang murah-meriah! Whitefield berada di sebelah timur Bangalore, tidak dekat juga dan ditambah macet yang meskipun tidak separah Jakarta, jadi terasa lama dan jauh. Tapi saya memang tidak punya tujuan lain, jadi saya pun menikmati perjalanan saja. 

Bhel puri dan chai.

Ternyata kaos Hard Rock Cafe Whitefield menggunakan nama kota Bangalore. Penjaga toko menjelaskan pada saya, ini dikarenakan pengunjung lebih cenderung memilih Bangalore sehingga versi Whitefield tidak dicetak lagi. Saya pun keluar tanpa membeli apa-apa dan masuk ke kafe di mal untuk santai sejenak. Saya pesan secangkir chai dan sepiring bhel puri, kudapan India yang dulu diperkenalkan oleh Muru, kolega saya. Rasanya enak, tapi porsinya kebanyakan untuk satu orang, haha. 

Perjalanan pun berlanjut. Bangalore memiliki Hard Rock Cafe di tengah kota dan saya pun menuju ke sana. Hard Rock yang satu ini berada di gedung kolonial, jadi terkesan klasik. Setelah membeli kaos dan menikmati segelas bir Kingfisher, saya kembali ke hotel dan cek-in dulu sebelum keluar lagi untuk makan di seberang jalan. Lalu lintas yang semrawut membuat saya mengandalkan insting Indonesia untuk menyeberang. Akhirnya saya pun menyantap nasi biryani kambing yang lezat di Dindigul Thalapakkati dan menyeruput segelas Coca-Cola masala. Memang eksotis! 

Di Lalbagh Botanical Garden.

Saya mengikuti tur lokal di pagi berikutnya. Pemandu wisata Ramesh menjemput saya dan dua peserta lain yang berasal dari Swedia. Dari hotel mereka, kita menuju ke Lalbagh Botanical Garden. Cuacanya enak, bahkan lebih sejuk dari Singapura. Kita berjalan keliling taman kira-kira 45 menit lamanya. Inggris memiliki kebiasaan membangun taman dengan pohon dari berbagai belahan dunia di tanah jajahannya, jadi Bangalore sebagai bagian dari British Raj juga memiliki Botanical Garden. 

Dari Lalbagh, kita bertolak ke Bull Temple. Berbeda dengan kuil lain yang biasanya menyembah Siwa atau Wisnu, yang satu ini justru memuja patung sapi dengan mata besar dan cemerlang. Kita tidak lama di sana. Setelah menikmati secawan kopi, kita lanjut ke Bangalore Fort dan Pasar KR. Benteng Bangalore tampak biasa saja, sedangkan pasar di dekatnya penuh sesak, hirup-pikuk dan kotor. Ada tumpukan sampah di kiri kanan jalan. Berbeda dengan pasar bunga di Kolkata yang mencengangkan, pasar di Bangalore ini membuat saya teringat dengan Pasar Mawar di Pontianak pada pertengahan tahun 80an. 

Pasar KR.

Kemudian tiba saatnya untuk makan siang. Kita pergi ke Mavalli Tiffin Room (MTR). Pengalaman di sini cukup menarik. Saat kita sampai di rumah makan, sudah banyak orang berkerumun di depan. Ketika pintu dibuka, semua berbondong-bondong masuk, termasuk pemandu wisata kita. Tidak ada antrian, yang pertama bayar langsung mendapatkan nomor urut. Sesudah itu kita diarahkan ke ruang tunggu di lantai dua dan dipersilahkan ke meja setelah nomor urut dipanggil.

Pelayan pun datang dan menyajikan masakan vegetarian satu persatu. Ada berbagai macam kari dan puri. Satu keluarga yang duduk di samping kita menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana harus memulai, jadi mereka pun memberikan petunjuk. Selagi kita makan, para pelayan masih berdatangan tiada hentinya untuk menyodorkan menu yang berbeda sampai kita kenyang dan memberikan isyarat berhenti. Nah, saya ini bukanlah pencinta menu vegetarian, tapi harus saya akui kelezatan masakan di MTR. Memang sedap! 

Di depan MTR setelah makan siang.

Setelah makan siang, kita dibawa ke toko sutra. Di sana saya membelikan pasmina untuk istri. Seusai belanja, kita meneruskan perjalanan ke Government Museum. Karena tutup, kita mampir ke sebelahnya, Museum Industri dan Teknologi. Di sana saya membaca tentang astronot pertama dari India, namun yang tak kalah menariknya adalah lampu yang padam dan menyala lagi. Ternyata museum India tidak luput dari mati lampu! 

Dan akhirnya tibalah waktu untuk mengunjungi atraksi utama: Gedung Parlemen Vidhana Soudha. Gedung ini memang megah seperti istana. Ada patung Mahatma Gandhi di dalamnya. Setelah melihat Vidhana Soudha, dua tujuan terakhir, Istana Bengaluru dan Gereja Holy Trinity, terasa tidak mengesankan. Sekembalinya ke hotel, saya memilih untuk makan di restoran. Menu rekomendasi dari pelayan adalah bannur mamsa chops. Setelah makanan Eropa yang miskin rasa, daging kambing empuk ini terasa sangat menggiurkan! 

Gedung Parlemen Vidhana Soudha.

Keesokan harinya, saya ikut tur jalan kaki yang dimulai dari Istana Sultan Tipu. Dalam perjalanan ke sana, untuk pertama kalinya saya melihat sendiri apa yang pernah diceritakan oleh Puneet, kolega saya: sapi di tengah jalan. Dan supir Uber saya dengan santai berkelit menghindari sapi yang suci. Sapi tidak mengerti klakson, jadi memang lebih logis bila kita saja yang menghindari, haha. 

Istana Sultan Tipu tak lagi terlihat megah, tapi kaya dengan sejarah. Saya sempat berpikir, kenapa pemilik istana ini adalah seorang sultan, padahal sultan itu gelar muslim. Ternyata Tipu dan ayahnya adalah pembelot yang mengambil alih tahta di Bangalore dari Kerajaan Mysore. Semua ini terjadi saat Revolusi Perancis dan tak lama setelah Amerika merdeka, jadi semua peristiwa ini saling terkait. Seru pembahasannya. 

Di KR Market lagi!

Dari istana, kita ke Kuil Wisnu di sampingnya, lalu berjalan ke Bangalore Fort dan Pasar KR lagi. Kali kedua dalam dua hari berturut-turut. Bersama saya kali ini adalah dua orang Amerika. Thomas berkata pada saya bahwa pemandangan seperti ini tidak ada di Amerika, tapi dia menikmati pengalamannya sebagai turis. Setelah mencicipi dosa (ini nama makanan mirip martabak), kita mampir ke pabrik sutra dan tur pun berakhir. 

Saya kembali ke hotel untuk check-out, tapi masih memiliki setengah hari untuk keliling Bangalore, jadi saya pergi ke Kantor Pos Umum Bangalore untuk mengirim kartu pos. Selanjutnya saya pergi ke Lulu Mall. Menakjubkan rasanya melihat tempat makan yang dipadati oleh orang India. Begitu homogen dan saya adalah satu-satunya yang terlihat berbeda di antara mereka. Semua berseliweran, antri seadanya, dan saya tidak akan dapat tempat duduk seandainya saya tidak bertanya pada pasangan dengan kursi kosong di samping mereka. 

Indiana Jones!

Dua jam terakhir di mal saya habiskan untuk mencoba bioskop di India. Di Singapura, baris C biasanya dekat pintu masuk, jadi saya tidak perhatikan lagi saat membeli tiket. Ternyata baris C di India itu baris ketiga terdepan, haha. Sebelum film dimulai, lagu kebangsaan diputar dan penonton wajib berdiri. Saya sudah pernah mengalami hal serupa saat nonton di Thailand. Yang tidak terduga oleh saya adalah jedah di tengah film. Sempat saya sangka jangan-jangan rusak proyektornya. Namun mendadak muncul iklan dan penonton pun keluar sejenak. Memang berbeda! 

Setelah film usai, saya memanggil Uber dan kembali ke hotel untuk mengambil koper. Saya melihat seorang gadis muda yang memeluk erat buku-bukunya dan berdiri menanti bis di bawah lampu jalan yang redup. Apa yang saya lihat itu mengingatkan saya pada kolega yang berasal dari Bangalore dan sekarang tinggal di Singapura. Bangalore memang kota besar bagi mereka yang datang dari pelosok, tapi setelah tinggal di Singapura yang modern, pasti sulit bagi mereka untuk kembali lagi ke kota yang kacau dan macet ini. 

Dan saya memandang keluar jendela mobil untuk menatap terang malam untuk kali terakhir dan membayangkan kembali pengalaman saya di kota ini. Bangalore memang bukan Kolkata. Tak ada sungai di kota ini, tapi Hinduisme tetap terasa kental. Dan mereka bangga dengan budayanya. Sesuai julukannya, Incredible India, negara yang besar dan kaya budaya. Saya akan kembali lagi suatu hari nanti. 

Sampai jumpa, Bangalore!