Total Pageviews

Translate

Wednesday, September 15, 2021

Book Review: Forrest Gump

Certain characters can be so iconic that you'll immediately think of the actors that played them. This is one of the cases. The moment I started reading this book, I immediately thought of Tom Hanks. In my mind, the way he talked in the movie became the voice that narrated the novel I read.

The story began with a feeling that probably I should watch Forrest Gump again. After spending 2 hours 23 minutes on Netflix, I did some reading about the movie I just watched and was reminded that it was based a novel with the same name. It was written by Winston Groom and originally published in 1986. 

I learnt that the novel was quite different than the movie, so I got curious and browsed the library collection. Got my copy and, the moment I started reading, I just had to smile. Told in a first-person narrative, the wording was full of spelling and grammatical errors. The way it was written hinted that the person who told the story was retarded. If you had watched the movie before, you'd immediately think of Tom Hanks as Forrest Gump.

Some familiar characters such as Jenny Curran and Bubba were featured in the story. Their portrayals in the book and movie were quite similar. Lieutenant Dan, on the other hand, was slightly different than his movie counterpart. Forrest himself was very much aware that he was an idiot, but yet he could do the impossible such as solving mathematical problems, playing harmonica or defeating many chess grandmasters.

One of the highlights in the movie, moments he met people like Elvis and John Lennon, was not in the book. Both the book and the movie did tell about Forrest in Vietnam and his meetings with US presidents, but the time he joined NASA space program, the few years he was stranded in Papua New Guinea or his adventure as a wrestler could only be found in the novel. 

I'm not sure if i'd like the book if I never watched the movie, but I had to say that I chuckled a lot in the train when I read it on my way to and from office. Because he was an idiot, the way he viewed things were quite funny and innocent at the same time. Overall, a good reading and a great reminder that even a fool had a chance to succeed in this world, as long as he did it wholeheartedly!

Forrest Gump: the movie and the book.



Ulasan Buku: Forrest Gump 

Karakter-karakter tertentu bisa sangat identik dengan pemerannya sehingga anda langsung teringat dengan aktornya. Contohnya Forrest Gump. Begitu saya mulai membaca, Tom Hanks pun muncul di benak saya. Novel yang saya baca mengingatkan saya dengan gaya bicaranya. 

Cerita kali ini dimulai dengan suatu perasaan yang mengingatkan saya kembali untuk menonton Forrest Gump. Setelah menghabiskan 2 jam 23 menit di Netflix, saya iseng membaca tentang film yang baru saja saya tonton. Saya pun teringat kembali bahwa film ini diangkat dari novel. Ditulis oleh Winston Groom, cerita fiksi ini diterbitkan di tahun 1986. 

Berdasarkan apa yang saya baca, novel ini konon agak berbeda dengan filmnya. Saya pun jadi ingin tahu dan mulai mencari bukunya di perpustakaan. Saya dapatkan bukunya dan jadi tersenyum sendiri saat mulai membaca. Kisah yang diceritakan dalam sudut pandang orang pertama ini banyak kesalahan penulisan yang disengaja. Gaya penulisannya pun memberikan kesan bahwa yang sedang bercerita ini adalah orang idiot. Bila anda sudah pernah menonton filmnya, pasti langsung teringat dengan Tom Hanks yang berakting sebagai Forrest Gump. 

Beberapa karakter di film seperti Jenny Curran dan Bubba juga muncul di novel dan hampir sama pula kisahnya. Yang agak berbeda itu Lieutenant Dan. Forrest di novel sangat menyadari bahwa dia adalah orang bodoh, tapi seringkali tanpa sadar bisa mengerjakan hal yang mustahil, misalnya matematika, bermain harmonika dan mengalahkan para pecatur tangguh. 

Salah satu bagian yang menarik di film, saat Forrest bertemu dengan Elvis dan John Lennon, tidak ada di buku. Kisahnya di Vietnam dan pertemuannya dengan presiden Amerika ada di buku dan film, tapi pengalamannya sebagai astronot dan pegulat serta petualangannya di Papua Nugini hanya ada di novel. 

Saya tidak tahu apakah saya akan menyukai buku ini kalau saya tidak pernah menonton filmnya, tapi saya akui bahwa saya berulang kali tertawa sendiri di kereta dalam perjalanan ke dan pulang kantor. Secara keseluruhan, buku ini menarik untuk dibaca dan juga mengingatkan kita kembali bahwa orang bodoh pun bisa sukses di dunia ini kalau dia berupaya sepenuh hati! 

Wednesday, September 8, 2021

Robinson Travel

If you read what I wrote about a week ago, you'd notice a little something called Robinson Travel. It was an in-joke in our high school chat group, came about after I needed a name for trips I organized. Oh yes, I often made the plans. It's what I do! Some did happen, some failed to materialise. But how and when did this start?

I wish I could tell you that it began long ago, when Ardian, Jimmy, Endrico and I visited Bali in our mid 20s, but Robinson Travel came only much later, after our trip to Karawang in 2016. It was the first event we did after we had the WhatsApp group chat and that's when Robinson Travel was born.

When we were in Karawang.

And it didn't stop there. The portfolio kept growing after that. A year later, we had a walking tour in Singapore. The Lion City is best seen on foot, hence we walked. A lot! Probably quite torturous for tourists from Indonesia, haha. Still it was fun. I enjoyed showing them the beauty of Singapore.

In 2018, we had the parents and children trip to Hong Kong. In hindsight, the different timing of school holiday between Indonesia and Singapore certainly wasn't very accommodating. Only Endrico participated this time, so off we went to Hong Kong with our daughters. Quite an experience, I'd say. It'd probably become the one and only father and daughter trip for us. At the same time, it was good to know we were pretty capable fathers, too!

Ocean Park! Hong Kong!

Then came 2019 and I thought it was time to play host again. Hence we had another Singapore tour! The theme this round was destinations by request and we went to places the participants wanted to see. Walking was cut down a lot this time, but since this is Singapore, they still needed to walk, haha. We went to peculiar places that I wouldn't normally go, such as Grab office, Haw Par Villa and Apple Store.

Before the year ended, I organized another one, this time to Semarang in Indonesia. I always wanted to visit this city so I invited some to tag along. It turned out to be well-received, so there were five of us heading from Jakarta to Semarang by train while the other two drove from Surabaya and Sragen respectively. The tour eventually brought us to main cities such as Yogyakarta, Solo and Surabaya.

Exploring Semarang.

Next one would have been a trip to Da Nang, Vietnam, to celebrate the big 40 in 2020. It was a milestone! Life began at 40! But it was cancelled due to the rise of COVID-19. It had been roughly a year and a half since then and there was no certainty when we could travel again, but a grand plan inspired by Parno's dream had been made. We'll go to Japan, covering Tokyo, Kawasaki, Yokohama and Kamakura (because John Lennon once had a pancake there). 

So why Robinson Travel? That's because I like reading, daydreaming and planning. No doubt that I screwed up sometimes (and I always had a memorable Guangzhou trip in mind when I thought of this), but it was fun. More than that, it was about making a dream come true. People like me were driven by that. To me, it was like, "okay, we had done a trip together in Indonesia. How about going somewhere far for once in our lives?"

I guess the key is the phrase for once in our lives. We don't know when our time is up, but if I could, I would want to go with not much regrets in life. I dream and I make it happen, knowing that we'll have that memory we'll treasure for the rest of our lives.

The future is unknown. Little did we know that COVID-19 would happen after this.



Robinson Travel

Jika anda membaca apa yang saya tulis kira-kira seminggu yang lalu, anda pasti menemukan sesuatu yang saya sebut sebagai Robinson Travel. Ini adalah satu lelucon kecil di grup SMA yang muncul karena saya butuh nama untuk liburan-liburan yang saya adakan. Oh ya, saya suka membuat rencana jalan-jalan. Ini memang hobi yang dengan senang hati saya kerjakan. Beberapa terwujud, tapi ada juga yang batal. Namun bagaimana atau kapan semua ini bermula? 

Saya ingin sekali menyatakan kepada anda bahwa kisah ini dimulai bertahun-tahun silam, ketika Ardian, Jimmy, Endrico dan saya mengunjungi Bali di pertengahan usia 20an. Dengan demikian cerita kali ini pasti akan terdengar lebih dramatis, haha. Namun fakta berbicara bahwa Robinson Travel baru muncul lama setelah liburan ke Bali dan istilah ini pertama kali dipakai setelah kunjungan ke Karawang di tahun 2016. Itu adalah liburan pertama setelah kita memiliki grup WhatsApp dan dari situlah Robinson Travel bermula.

Ketika kita berada di Karawang.

Dan biro perjalanan fiktif ini tidak berakhir begitu saja. Rekam jejaknya kian bertambah semenjak liburan pertama. Setahun kemudian, saya mengadakan tur jalan kaki di Singapura. Negara kota ini paling menarik dilihat lewat sudut pandang pejalan kaki, jadi kita pun berjalan. Berkilo-kilo meter jauhnya. Sampai ampun turisnya, haha. Tapi tetap seru. Saya senang membawa mereka melihat indahnya Singapura.

Di tahun 2018, saya adakan kunjungan ke Hong Kong khusus ayah dan anak. Kalau saya lihat kembali, mungkin perbedaan liburan sekolah di Indonesia dan Singapura menyulitkan yang lain untuk berpartisipasi, jadinya hanya Endrico yang bisa ikut. Pengalaman yang satu ini sangat unik dan bisa saja ini menjadi satu-satunya liburan ayah dan anak bagi saya. Lega rasanya saat mengetahui bahwa saya cukup kompeten untuk menjaga anak siang-malam!

Ocean Park! Hong Kong!

Ketika tahun 2019 tiba, saya pun merasa bahwa sudah saatnya untuk menjadi tuan rumah lagi. Oleh karena itu, tur Singapura kembali diadakan! Kali ini tujuan wisatanya disesuaikan dengan keinginan peserta. Jalan kaki pun dikurangi, namun karena ini adalah Singapura, mustahil bisa dijelajahi tanpa berjalan kaki, haha. Kita mampir ke tempat yang biasanya tidak saya kunjungi, misalnya kantor Grab, Haw Par Villa dan Apple Store. 

Sebelum tahun 2019 usai, saya adakan satu liburan lagi, kali ini kunjungan ke Semarang. Saya tidak pernah ke Semarang dan selalu berniat untuk melihat kota ini, jadi saya pun ajak yang lain untuk ke sana. Ternyata cukup banyak peminat. Akhirnya lima, termasuk saya, berangkat dari Jakarta dengan kereta sementara dua teman lain masing-masing berangkat dari Surabaya dan Sragen. Tur kali ini membawa kita melewati berbagai kota seperti Yogya, Solo dan Surabaya. 

Menjelajahi Semarang.

Da Nang di Vietnam nyaris menjadi tujuan berikutnya. Saat itu saya hendak merayakan usia 40 dengan wisata ke luar negeri bersama teman-teman, namun rencana ini akhirnya batal karena COVID-19. Sudah lebih dari setahun berlalu semenjak wabah melanda dan hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kapan kita akan bisa berlibur lagi. Kendati demikian, sebuah rencana yang terinspirasi dari keinginan Parno sudah dirancang. Kita akan ke Jepang dan mengunjungi Tokyo, Kawasaki, Yokohama dan Kamakura (karena John Lennon pernah makan pancake di sana). 

Jadi kenapa Robinson Travel? Ini karena saya suka membaca, berangan-angan dan membuat rencana untuk mewujudkannya. Tak diragukan lagi bahwa kadang saya pun salah langkah dalam membuat rencana liburan (dan kesalahan ini selalu mengingatkan saya tentang liburan ke Guangzhou), tapi tetap saja seru. Lebih dari itu, pada akhirnya yang penting adalah membuat impian menjadi kenyataan. Orang-orang seperti saya senantiasa termotivasi oleh hal ini. Bagi saya, rasanya seperti, "nah, kita telah berlibur bersama di Indonesia. Bagaimana kalau sekali dalam seumur hidup, kita pergi ke luar negeri, melihat negara yang agak jauh?"

Saya kira kuncinya di sini adalah frase sekali dalam seumur hidup. Kita tidak tahu kapan waktu kita akan berakhir di dunia fana ini, tapi sebisa mungkin saya ingin hidup tanpa banyak penyesalan. Saya bermimpi dan mewujudkannya karena saya tahu hanya kenangan yang bertahan sampai akhir hayat kita nanti... 

Masa depan tidak bisa diprediksi. Tak pernah terduga bahwa COVID-19 merajalela tidak lama setelah liburan ini.