Total Pageviews

Translate

Sunday, September 27, 2020

Seize The Moments

This topic felt somewhat familiar. Probably I had said something about this before, but what you are going to read here would surely sound different. It was new and inspired by different experiences. In fact, the two experiences I had were as new as yesterday and today. It was uncanny. They were one day apart, so intriguing that I felt like writing about them.

I was craving for mui fan yesterday, so my wife and I went to an eatery nearby our house. While waiting for our dinner to be served, we talked about how I missed traveling. The conversation led to one regret that I had in life: my parents and I never really had an overseas trip that included my brother. Now that Dad is no longer with us, that trip is not going to happen anymore.

When Mum and I finally had a trip with my brother earlier this year.

Then I recalled the trip I had with my in-laws. In a blink of an eye, it's been seven years since we went to Bangkok. We talked about having another trip because one of my wife's siblings didn't join us at that time, but nothing was ever materialised since then. Funny how almost all of them could make it last time, but life had changed so much after that one and only overseas trip we had together. Que sera sera, I guess.

This morning, I had a chat with Wawa, one of a handful friends that has time to entertain my nonsense. Then we talked about Endrico and I sent her the picture below. When I did that, I noticed the date. It'd been almost a year since Semarang. I remember us talking excitedly about the overseas trip with other high school friends in order to celebrate the big 40. Endrico proposed Kota Kinabalu, but based on our polling result, it was decided that Da Nang would be our destination instead. Corona happened right after that. Everything was eventually put on hold until further notice.

The last time we had a trip with high school friends.

These three events got me thinking and the first one hit me the hardest. I really couldn't remember the reason why we didn't go as the whole family. Probably I was just being optimistic that one day my parents, brother and I would travel together. Little did I know that our last chance turned out to be the day we found out Dad had cancer. Definitely not a joyous one. I learnt it the hard way that for all the things that we didn't do, thinking that we'd still have a chance next time, they'd become regrets once you lost the chance forever. 

The bottom line is, when we have a chance to do things that matter to us, we better act on it. If whatever that we plan still fails due to unforeseen circumstances, at least we've tried. It'll become a failure that we can live with. I could say this because not all my plans were successful, but I could certainly look back and laugh about them. The one thing that I wanted but didn't do, it was no laughing matter. Believe me when I said it hurt, so don't make the same mistake as mine...


Tentang Sebuah Kesempatan

Topik kali ini terasa tidak asing. Mungkin saya sudah pernah menulis blog bernada serupa, tapi apa yang akan anda baca ini tetap akan berbeda isinya, terutama karena tulisan ini terinspirasi dari pengalaman yang baru saja terjadi. Ya, ada dua peristiwa yang terjadi kemarin dan pagi tadi. Dua hal ini ternyata memiliki kaitan satu sama lain, sehingga saya jadi tertarik untuk menulisnya. 

Di Sabtu malam, saya ingin menyantap mui fan yang sudah lama tidak saya cicipi, jadi saya dan istri pun mengunjungi tempat makan di dekat rumah. Sambil menunggu makanan dihidangkan, kami berbincang tentang betapa saya ingin berlibur lagi. Saya lantas bercerita tentang satu penyesalan yang terkadang melintas di benak saya: adik saya tidak pernah ikut saat saya berlibur bersama Papa dan Mama. Sekarang Papa sudah tiada, jadi tidak mungkin lagi untuk mewujudkan liburan ini.

Ketika adik saya turut berlibur bersama di awal tahun ini, Papa sudah tiada.

Kemudian saya teringat dengan liburan bersama keluarga besar istri. Hanya dalam sekejap mata, tujuh tahun sudah berlalu sejak liburan kami ke Bangkok. Terkadang saya, istri dan adik-adiknya membahas tentang liburan berikutnya, sebab ada satu dari mereka yang tidak ikut saat kita mengunjungi Thailand di tahun 2013. Hingga hari ini belum terwujud juga. Kalau dipikir lagi, entah kenapa dulu kebetulan bisa berlibur bersama. 

Pagi tadi, saya bercakap-cakap dengan Wawa lewat WhatsApp. Wawa ini salah satu dari sedikit teman yang mau meladeni perbincangan yang konyol dengan saya. Ketika nama Endrico muncul di tengah percakapan, saya mengirim foto di bawah ini kepada Wawa. Tanpa sadar saya amati tanggalnya. Sudah hampir setahun berlalu semenjak kita jalan-jalan ke Semarang. Saya ingat bahwa saat itu kita berdiskusi dengan penuh semangat tentang liburan keluar negeri bersama teman-teman SMA dalam rangka merayakan usia 40. Awalnya Endrico mengusulkan Kota Kinabalu, tapi hasil jajak pendapat menentukan Da Nang sebagai tempat tujuan kita. Setelah itu tiba-tiba COVID-19 melanda. Semuanya pun tertunda sampai hari ini.

Terakhir kali kita berlibur bersama teman-teman SMA.

Tiga peristiwa di atas lantas membuat saya merenung. Saya tidak ingat lagi, apa alasannya kenapa orang tua, saya dan adik saya tidak pernah berlibur ke luar negeri bersama, tapi mungkin saat itu saya optimis bahwa masih ada lain waktu. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa sekali-kalinya kita bersama di luar negeri adalah saat kita menyadari bahwa Papa mengidap kanker. Ini jelas bukan liburan yang saya harapkan. Dari situ saya belajar bahwa apa yang kita tunda hanya semata-mata karena kita merasa masih ada hari esok, bisa menjadi penyesalan begitu kita kehilangan kesempatan itu untuk selamanya.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah, jika kita memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang terasa penting bagi kita, maka sebaiknya kita melaksanakannya. Seandainya sudah dicoba pun masih gagal juga, setidaknya kita sudah berusaha. Kegagalan seperti ini akan menjadi sebuah kenangan tersendiri. Saya bisa berkata seperti ini karena tidak semua yang saya rencanakan itu berhasil, tapi saya bisa melihat kembali dan tertawa. Beda halnya dengan liburan keluarga yang tidak terwujud di atas. Ada rasa pedih setiap kali saya teringat kembali akan hal ini, jadi jangan sampai anda juga melakukan kesalahan yang sama seperti saya... 

Sunday, September 20, 2020

That Half An Hour

We had a regional meeting recently and all of us were given a chance to respond to a set of questions provided by the moderators. To be frank, I couldn't remember what the particular question was, but I recalled writing something like this: "eight hours of BAU (Business As Usual) work keeps the light on, but it's the half an hour we invest on thinking that makes a difference."

In order to understand how the sentence came about, I'd have you know that in my line of work, we were always swarmed by IT issues. Our team existed mainly because we were required to troubleshoot issues. Some were straightforward, others could be larger than life. We spent crazy amount of time rectifying the incidents, so crazy that oftentimes, the working hours had long ended before we knew it. 

Now, the most fundamental problem with the situation above is the fact that we were so busy fighting fire and we barely had time to think, let alone execute the plan we had in mind. It was easy to lose our footing and be dragged into the vicious cycle. We could have been going through the motion of fight-solve-repeat on daily basis. 

Then came the day I mentioned earlier. There was something about writing the sentence down, because it lingered in my mind long after the meeting was over. It was as if the truth was revealed and staring back at me. Funny how I never thought of it that way before! All this while, I had been subconsciously doing what I wrote. From time to time, I forced myself to spend time not only thinking, but also doing what I was thinking.

With such a little time that I had, I did things that nobody else cared about (you know how people tend to talk only). I replaced a decade-old SFTP with something new that could be used regionally, I decommissioned unused tables and so forth. I didn't do big things, but the sum of small things that turned out to be useful on our day-to-day activities. And I didn't look back until now.

The point I was trying to make is, I didn't set out to do great things. I just did them as pet projects, regardless how small, and not knowing that I was making changes. As I often said, I wasn't that smart, anyway. But I could do it because I made time and I did it because it was the right thing to do. Reading what I wrote myself made me realise that, apparently, I was making a difference. Good to know!

In a bigger picture, what I discovered is applicable in life, too. I mean, think about it. If you've been doing the same routine everyday and yet it seems like you're going nowhere, perhaps it's time to invest on that half an hour to think and do something different. It could be the life-changing thing you had been looking for...

That stressful corner of mine.
A candid photo by Sneaky Franky.



Setengah Jam Yang Berharga Itu

Baru-baru ini perusahaan mengadakan rapat regional dan setiap manajer diberi kesempatan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang telah disiapkan oleh moderator. Saya tidak seberapa ingat lagi tentang pertanyaannya, tapi saya ingat betul tentang satu jawaban yang saya tulis berikut ini: "delapan jam dari BAU (pekerjaan rutin di kantor) memang menjamin kelangsungan usaha, tapi perubahan hanya terjadi ketika kita meluangkan setengah jam untuk berpikir."

Supaya anda mengerti kenapa saya menulis seperti itu, perlu saya jelaskan bahwa di bidang yang saya tekuni, yang namanya masalah IT itu selalu datang bertubi-tubi. Ada saja masalahnya, kadang dari user, kadang dari sistem itu sendiri. Tim saya dibentuk untuk menangani semua ini. Kadang gampang masalahnya, tapi ada juga yang luar biasa rumit. Kita menghabiskan begitu banyak waktu, tidak jarang sampai larut malam ketika perkara besar terjadi.  

Nah, ada satu problem yang paling mendasar dari situasi di atas. Karena kesibukan kita dalam menyelesaikan masalah setiap hari, kita hampir tidak pernah memiliki waktu untuk berpikir panjang, apalagi waktu untuk mengeksekusi apa yang sempat direncanakan. Mudah bagi kita untuk kehilangan pegangan dan terjebak dalam siklus ini. Bisa-bisa kita hanya menghadapi masalah, menyelesaikan masalah dan mengulangi hal yang sama lagi pada keesokan harinya.

Kemudian tibalah hari yang saya sebutkan di atas. Sesuatu terjadi ketika saya menuliskan kalimat tersebut, sebab saya jadi selalu memikirkannya bahkan lama setelah rapat usai. Kalimat ini bagaikan sebuah kebenaran yang tersingkap. Lucu rasanya bahwa saya tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya. Selama ini, saya tanpa sadar mengerjakan apa yang saya tulis. Saya menyempatkan diri bukan hanya untuk berpikir, tetapi juga melaksanakan apa yang ada di benak saya. 

Dengan sedikit waktu yang saya miliki, saya mengerjakan hal-hal yang diabaikan orang lain (anda tahu bagaimana orang seringkali hanya cuap-cuap saja, tapi tidak ada aksi). Saya mengganti SFTP usang yang sudah berusia 10 lamanya sehingga kantor-kantor di negara lain pun bisa menggunakannya. Saya melihat kembali tabel-tabel data dan saya bersihkan apa yang tidak diperlukan lagi. Selain itu, masih banyak lagi hal-hal serupa yang telah saya kerjakan. Saya tidak mengerjakan hal-hal besar yang membuat orang terpana, melainkan hal-hal sederhana yang kemudian terbukti berguna untuk aktivitas sehari-hari. 

Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah, saya tidak berpikir bahwa apa yang saya kerjakan akan mengubah IT secara drastis. Saya hanya mengerjakan apa yang saya bisa, tidak peduli seberapa kecil, dan saya tidak berpikir bahwa saya sedang membuat perubahan. Seperti yang sering saya katakan, saya tidak sepintar itu. Namun yang penting adalah saya bisa melakukan sesuatu karena saya meluangkan waktu dan saya mengerjakannya karena ini benar dan harus dikerjakan. Ketika saya membaca kembali apa yang saya tulis di saat rapat, saya jadi tertegun. Ternyata saya sedang membuat perubahan!

Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa konsep serupa juga bisa diterapkan bukan hanya di IT, tetapi juga di dalam hidup ini. Coba anda pikirkan. Jika anda sudah melakukan rutinitas yang sama setiap hari dan sepertinya anda tidak tambah maju, mungkin anda perlu menyisihkan setengah jam untuk berpikir kembali dan melakukan sesuatu yang berbeda. Bisa jadi inilah perubahan yang sudah anda nantikan tanpa sadar selama ini...

Sunday, September 13, 2020

Why People Are Different

I had a drink with Franky three weeks ago. Spontaneously. We both had a long day in office and needed to chill a bit. I don't think we ever hung out like this before, drinking just the two of us, but I had a good time. With a glass of cold beer in hand, we talked mainly about life. 

Our conversation only re-emphasized what I had already known for the past 13 years: Franky was not only blessed with the ability to crunch numbers, he was also a hard-working man that always tried to ensure everything was right and in order. I admired him for that, but it must be a really stressful thing to do. And that's when he mentioned that I was so fortunate for being happy-go-lucky.

A glass of Guinness with Franky.

The remark was spot on. It got me thinking of how different we were. What he said was true. I mentioned the Aesop's fables about the grasshopper and the ants, then I told him sometimes I felt as if I was the grasshopper that played music and never prepared for winter. Not the best thing ever and I knew that. But how did I become like this again? I looked back as far as I could these past few days. Here's the observation I had. 

First of all, this is how I was wired since birth. Then the upbringing shaped me accordingly. I had a happy childhood. My parents weren't exactly the richest in Pontianak, but I always had enough. I could eat whatever I wanted. I had all the comics I wanted read. I watched all the cartoons and Japanese tokusatsu series we could find in Pontianak. I had all the games I wanted to play. Most importantly, I was always surrounded by friends. That's when I first learnt to share what I had with others.

P3, the best time (academically) in primary school days! Can you spot me?

Then there were life lessons. Dad made sure I understood that responsibility came before anything else. Only when it was done that I could have some fun. When I neglected this, I was punished, but then he explained to me why he whacked me. From Mum, I learnt how to save money. In hindsight, I didn't think she purposely taught me that. She simply refused to buy me things I liked, so I saved and bought them myself, haha.

I also had a good dose of laughter. I grew up watching Stephen Chow and his nonsense. This, I believe, enhanced the playfulness in me. I also figured out from early age that I would never be a tough guy. I mean, I cried when I saw something touching. When I was young, I was embarrassed by this. But it turned out to be alright. Instead of bottling up my feelings, I was able to let go. It was a relief to be able to express oneself healthily.

With my auntie and her husband.

When Dad went bankrupt and my family moved to Bekasi in West Java, life could have been tough for me. I could have been an angry young man, but luckily I was loved. My auntie took me in and together with her husband, they taught me what it meant to live independently as an occupant that paid no rent while staying at other people's house. I was a spoiled brat and it was during my stay here that I helped out with house chores. From this experience, I learnt about humility. 

Around the same time, I saw the Beatles for the first time. Life was great with rock and roll. Not only their music got me dancing and cheered me up when I was down, they also inspired and motivated me to learn English. When the Beatles sang All You Need is Love confidently, their lyrics filled me up with optimism. When I found myself in times of trouble, they told me to let it be. Then, years later, I learnt from John that, "life is what happens to you while you're busy making other plans," and, "after all is said and done, you can't go pleasin' everyone, so screw it!"

With my friend and mentor Rusli.

By the time I was working, what I learnt earlier in life turned out to be useful. I was able to admit that I wasn't good albeit reluctantly, as I had a young man's ego, too (this got better as I aged. I realized I didn't have to pretend that I knew or understand something when I actually didn't). That's how I ended up with people that I admired in life. I didn't suck up to them. I sincerely thought they were geniuses. They mentored and gave me chances along the way, brought me to a level I never imagined before. 

Life as a young adult could have been the lowest point of my life. I was so poor, but I was neither sad nor lonely. I had good times and good friends, from those days in Jakarta till the past 14 years in Singapore. On top of that, I met a girl I loved and she brought the best out of me. That's why I'm here today, as cheerful as ever.

With the girl of my dream in Chinese Garden, year 2006 and 2018.

When I went to Japan with my Dad right before he was diagnosed with cancer, we talked about what happened in the past. I realized that I neither blamed him nor had any regrets that our lives changed so much after his bankruptcy. It was through this experience I learnt that things happened for a reason. 

Another thing was, since Dad helped many people when he was well-to-do, I also learnt that people might not return the favor. That's the reality. That's just how life works, I guess. But I was proud of my Dad. He had the courage to make a difference in other people's lives. The world was a better place to be for them because he showed kindness. That's why I did the same. Kindness was something worth sharing.

Celebrating birthday with my daughter Linda. 

After becoming a father, I also started asking myself, "to what extent will one be considered as successful? How rich is rich?" Suddenly all the hard work in climbing the corporate ladder became trivial, because there was no end to it. I loved the work I was doing all this while, but I wasn't exactly lacking in anything, so I'd be damned if I wasn't there for my kids as they grew up. Balance was the key, so there I was, juggling my work, family and me-time on daily basis. I couldn't claim that I was very good in doing so, but it'd been manageable so far. I hope my wife and kids agree with my opinion, too, haha.

But we're not quite there yet. There was one final thing that changed my mindset since few years ago: death. Yes, people my age, be it poor or rich, died. Some knew their days were numbered, some just dropped dead. So I ticked off the bucket list whenever I could. I also made peace that I had provided as much as I could for the family, because to what extent would it be deemed as enough? But if I learnt of a thing or two from my own experience, one should not underestimate how resilient human beings could be. They'd be doing fine.

Visiting Strawberry Field. A dream achieved!

So why are we different again? This self-assessment did explain to me why. It was basically about the set of characters we were born with, moulded by the long process we went through in life. It took me years to gradually become a happy-go-lucky person I am today. How about you? Have you ever traced back to understand why you are this person today?



Mengapa Setiap Orang Berbeda?

Saya minum bersama Franky tiga minggu yang lalu. Saat itu kita lelah setelah seharian di kantor dan ingin santai sejenak sebelum pulang ke rumah, jadi kita pun spontan berjalan ke ALT Café and Bar. Dengan segelas Guinness di tangan, kita pun berbincang tentang kehidupan. 

Percakapan kita ini mengingat saya kembali apa yang sudah saya ketahui tentang Franky selama 13 tahun terakhir ini: selain kepiawaiannya dalam kalkulasi dan perhitungan, dia juga seorang pekerja keras yang selalu ingin memastikan bahwa semuanya selalu berjalan sesuai rencana. Saya mengaguminya dalam hal ini, namun saya rasa sifatnya ini membuatnya sering terlihat stres. Di saat itu pula dia lantas berkata bahwa saya beruntung karena senantiasa terlihat ceria dan tanpa beban. 

Segelas bir bersama Franky di dekat kantor.

Perkataannya sungguh tepat sasaran. Saya jadi berpikir, kenapa kita sebagai teman bisa berbeda seperti ini kepribadiannya. Saya lantas bergumam tentang dongeng seekor belalang dan para semut. Saya katakan padanya bahwa ada kalanya saya merasa seperti belalang yang senantiasa bermain musik dan tidak mempersiapkan diri untuk musim dingin. Ini bukanlah hal yang baik dan saya sendiri tahu akan hal ini. Lantas bagaimana ceritanya sehingga saya jadi seperti ini? Karena penasaran, saya melihat kembali sejauh saya bisa. Berikut ini adalah hasil pengamatan saya. 

Yang paling pertama adalah karakter dari sejak lahir. Pembawaan ini sudah dari sananya, terus dibentuk lagi di masa pertumbuhan. Saya memiliki masa kecil yang bahagia. Orang tua saya bukan yang paling kaya di Pontianak, tapi saya senantiasa berkecukupan. Saya bisa menyantap makanan yang saya sukai. Saya bisa membaca segala komik yang ada pada saat itu. Saya bisa menonton aneka kartun dan serial tokusatsu Jepang yang bisa didapatkan di Pontianak. Saya memiliki aneka game, mulai dari Game & Watch, Atari, Nintendo sampai Sega. Yang paling penting lagi adalah saya selalu memiliki teman bermain. Dari sinilah saya belajar untuk berbagi apa yang saya miliki dengan orang lain. 

Kelas tiga, masa paling gemilang di SD! Bisa tebak yang mana saya?

Kemudian ada pula pelajaran hidup. Ayah saya memastikan bahwa saya mengerti kalau tanggung jawab harus didahulukan sebelum saya menuntut hak saya. Ketika saya mengabaikan hal ini, saya pun dihukum. Selanjutnya ia jelaskan pada saya, kenapa saya dihajar dengan rotan. Dari ibu saya, yang saya dapatkan adalah pentingnya menabung. Kalau saya pikirkan lagi, sepertinya dia tidak pernah dengan sengaja mengajarkan saya untuk menabung. Dia hanya menolak untuk membelikan apa yang saya mau, jadi saya tabung dan beli sendiri, haha.  

Saya juga banyak tertawa. Saya tumbuh dewasa sambil menyaksikan film-film Stephen Chow yang kocak dan konyol. Apa yang saya tonton ini mempengaruhi selera humor saya. Selain itu, saya juga sadar dari sejak dini bahwa saya bukanlah pribadi yang tangguh. Tidak jarang saya meneteskan air mata saat melihat sesuatu yang menyentuh perasaan saya. Dulu saya merasa malu dengan kelemahan saya ini. Setelah dewasa, saya menyadari bahwa menangis bukanlah perkara yang buruk. Kini saya tidak menyimpan perasaan sedih dan sakit hati karena saya bisa mengekspresikannya dengan baik. 

Bersama tante saya dan suaminya.

Tatkala ayah saya bangkrut dan keluarga saya pindah ke Bekasi, hidup seharusnya terasa susah. Kalau nasib berkata lain, saya bisa saja menjadi pemarah yang merasa hidup ini tidak adil, tapi saya beruntung karena tidak pernah kekurangan kasih sayang. Saya diperkenankan untuk tinggal di rumah tante saya dan diperlakukan dengan baik. Bersama suaminya, dia mengajarkan saya seperti apa yang namanya hidup mandiri saat tinggal dengan gratis di rumah orang lain. Sebelum ini, saya adalah anak manja yang senantiasa dilayani pembantu. Dari sini saya belajar untuk bertanggung jawab dalam tugas-tugas rumah di dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman ini mengajarkan saya, apa yang dimaksudkan dengan tahu diri.

Pada saat yang sama, saya juga melihat dan mendengarkan the Beatles untuk pertama kalinya. Hidup yang diiringi dengan rock and roll memang nikmat. Musik mereka tidak hanya membuat saya berjingkrak dengan hati senang, tapi juga memotivasi saya untuk belajar Bahasa Inggris. Ketika the Beatles menyanyikan All You Need is Love dengan penuh percaya diri, lirik mereka membuat saya merasa optimis dengan hidup ini. Sewaktu saya gundah-gulana, mereka meyakinkan saya untuk let it be. Lantas, bertahun-tahun kemudian, saya belajar dari John bahwa, "life is what happens to you while you're busy making other plans (hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sibuk membuat rencana)," dan, "after all is said and done, you can't go pleasin' everyone, so screw it (meski pun kita berusaha semaksimal mungkin, tetap saja ada yang tidak senang dengan kita, jadi peduli setan)." 

Bersama Rusli, seorang teman dan mentor bagi saya.

Sewaktu saya memasuki dunia kerja, apa yang saya pelajari tentang kehidupan ini terbukti berguna. Saya bisa menerima kenyataan bahwa saya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan yang lain. Awalnya ini tidak gampang, sebab bagaimanapun juga saya seorang anak muda yang memiliki ego. Namun seiring dengan bertambahnya usia, saya sadar bahwa saya tidak perlu berlagak tahu kalau saya memang tidak tahu. Berbekal sifat inilah saya bertemu dengan orang-orang yang saya kagumi. Mereka lantas mengajari saya tentang banyak hal dan memberikan saya kesempatan sehingga saya bisa menjadi lebih baik lagi di dalam hidup ini. 

Hidup di usia 20an boleh dikatakan sebagai titik terendah dalam hidup saya. Saya miskin secara finansial, tapi tidaklah sedih atau merasa sendirian. Justru sebaliknya, hidup saya diisi dengan kegembiraan dan teman-teman baik, mulai dari Jakarta sampai 14 tahun terakhir di Singapura. Selain itu, saya juga bertemu dengan wanita yang saya sukai, yang akhirnya membuat saya bertekad untuk memberikan yang terbaik dari kamampuan saya. Perjalanan hidup ini lantas membawa saya pada hari ini, lebih baik, tapi tetap riang seperti dulu. 

Bersama si dia di Chinese Garden, tahun 2006 dan 2018.

Tatkala saya pergi ke Jepang bersama ayah saya sebelum dia terdiagnosis mengidap kanker, kita bercerita tentang masa lalu. Saya menyadari bahwa saya tidak menyalahkan dia atas apa yang terjadi. Saya juga tidak menyesal bahwa hidup saya berubah total setelah dia bangkrut. Saya menjadi tahu bahwa di dalam hidup ini, sesuatu terjadi karena ada hikmahnya. Ya, mungkin pahit rasanya sewaktu mengalami, tapi suatu hari nanti kita mungkin mengerti saat kita melihat kembali. 

Satu hal lainnya adalah, karena ayah saya membantu banyak orang saat dia berjaya, saya juga belajar bahwa tidak semua orang membalas budi baiknya ketika dia mengalami kesusahan. Ini adalah kenyataan hidup. Akan tetapi saya bangga pada ayah saya. Dia memiliki ketulusan untuk membantu orang lain dan hidup mereka berubah menjadi lebih baik karena dia memberikan kebaikan kepada sesama. Karena inilah saya juga melakukan hal yang sama. Kebaikan adalah sesuatu yang layak dibagi, tapi tidak untuk digembar-gemborkan. 

Merayakan ulang tahun bersama Linda, putri saya. 

Sekarang, setelah saya menjadi seorang ayah, saya jadi bertanya, "seperti apa yang namanya sukses? Seberapa banyak pula kekayaan seseorang sehingga baru dianggap cukup?" Tiba-tiba saja kerja keras siang-malam untuk mencapai jenjang karir yang lebih tinggi terasa tidak masuk akal, sebab semua ini tidak ada habisnya. Saya suka pekerjaan saya, tapi terus-terang saya tidak kekurangan, jadi betapa konyolnya saya jika saya sampai melewatkan masa pertumbuhan anak-anak. Keseimbangan adalah kuncinya, jadi saya berbagi waktu untuk pekerjaan, keluarga dan diri saya setiap hari. Saya tidak berani berkata dengan lantang bahwa saya sudah berhasil menjalankan ini dengan baik, tapi sampai sejauh ini tampaknya lumayan. Saya harap istri dan anak saya sepakat dengan pendapat saya ini, haha. 

Kita hampir sampai di penghujung cerita. Satu hal terakhir yang mengubah pemikiran saya hingga seperti sekarang ini adalah kematian. Ya, beberapa kenalan yang seusia dengan saya, miskin atau kaya, telah meninggal dunia. Ada yang tahu bahwa mereka mendekati ajal, ada pula yang mendadak wafat. Saya menyikapi kenyataan ini dengan mengejar impian-impian hidup saya sebisa mungkin. Saya juga meyakinkan diri saya bahwa saya sudah memberikan yang terbaik untuk keluarga saya, meski saya tidak tahu seperti apa baru dianggap cukup. Bilamana ada satu hal yang saya pelajari dari pengalaman hidup saya sendiri, kemampuan seseorang dalam beradaptasi itu biasanya melebihi perkiraan. Saya percaya bahwa istri dan anak-anak akan baik-baik saja jika sampai kesulitan melanda. 

Di Strawberry Field, Liverpool, tak jauh dari rumah John Lennon. Cita-cita tercapai.

Jadi kenapa setiap orang berbeda? Observasi terhadap diri sendiri di atas menjelaskan kepada saya kenapa. Pada dasarnya semua ini tergantung pada karakter kita dari sejak lahir, yang kemudian diasah dengan pengalaman hidup yang kita alami. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menjadi seorang yang riang dan tanpa beban. Bagaimana dengan anda? Pernahkah anda melihat kembali, kenapa hari ini anda menjadi seperti sekarang ini?