Total Pageviews

Translate

Friday, January 6, 2017

Friendship In Our Thirties: Chapter 1 - So This Is Thirties, And What Have We Done?

I've gone through a life where friends are integral part of it, from the formative years to where I am today. There are many good friends that I meet along the way and they are fun, alright, but there's this indescribable excitement of having high school friends around. I mean, these are the people we grew up with, who literally went through the same era and understand every lingo we're talking about. I love those guys, really, especially those who were there for me then. Those good times, however, ended for most of us as we grew up. Looking back, I realize that in my case, I've been blessed with a privilege of having the closest bunch with me still. We were together, making our ways in this foreign land and although ten years have passed since I first started here, I still have at least one friend I can call my neighbour. It may sound silly because it may be something normal in our hometown, but that's definitely a thing to treasure about when you are living abroad.

Now we've gone through our twenties and are in the midst of our thirties. I believe we've been working hard in our respective line of works and some have rewarded themselves with a nice wedding and blessed with a couple of beautiful kids while some prefer to enjoy themselves in any other possible ways. The bottom line is, we've grown up quite a bit since we left high school, so I guess it's quite natural if some of us ever stop and wonder, where are the good old friends now?

Given what I went through, I do that from time to time. A lot of things have happened since we graduated. There are friends who rise to fame and fortune. Some are ready for it and they are as humble as ever, some turn out to be money-minded assholes who feel the need to brag about it. There are some who live peaceful domestic lives, quite like what we'd have had imagined about them in the past, while others, whom I thought could never go wrong as they were so cool, went through stormy lives, some ended up with divorces or are no longer with us. All these serve as a humbling experience that if I ever thought I knew what life is all about, then I better think again.

A recent encounter with an old friend also reminds me that we're only as good as who we think we are and what we choose to be. I admire this guy for his forward thinking and what he has achieved in life. The very same guy then told me he's actually amazed with what I'm doing with friends, ie. Reunion 2014, We Are the World, the trip to Karawang, etc.

I wasn't sure what to reply him, but it got me thinking really, where am I and what have I done? I searched for the answer and it brought me back to the day I crossed the Kapuas bridge with two close friends who live in Pontianak. We must have been in our late twenties when I was complaining about the life down there, with the power down happening so often and annual problems with clean water and smog, why on earth they'd still want to live there? And the answer was simple and yet stunning: because they are contented.

That was when I started asking, to what extent a person can be satisfied until he or she feels contented? In a life where there are endless possibilities for those who try, what is it that I want the most and is there anything else that I'd like to prove? It turns out that what I have always wanted is a balanced life between family and friends. I'm always a sentimental person that laughter and moments are what matter the most. That's where my heart is. Always. In whatever limited time that we have in this world, I'd be a fool to exchange this for anything else.

There's, of course, no end to such topics. There's even no right or wrong for this as it doesn't really matter what other people would say. It's a matter of choice, hence it's safe to say that you just have to follow your heart and choose wisely. Do remember that while it's always good to make money, time is unfortunately a luxury that money can't buy...

It may be blurry, alright, but can you sense the happiness in the air? 

Hidup Di Usia 30an: Jadi Inilah Usia 30an. Apa Yang Telah Kita Lakukan?

Teman adalah bagian integral dari hidup saya, mulai dari saat kanak-kanak sampai sekarang. Saya berjumpa dengan banyak teman sepanjang hidup saya dan mereka adalah orang-orang yang menyenangkan. Akan tetapi ada kegembiraan yang sukar diutarakan dengan kata-kata saat berkumpul dengan teman-teman SMU. Mungkin karena ini adalah orang-orang yang tumbuh dan berkembang bersama saya, yang juga melewati era yang sama dan mengerti setiap jargon yang kita pakai. Saya dekat dengan teman-teman ini, terutama mereka yang menjadi teman dekat saya pada waktu itu. Saat-saat tersebut biasanya berakhir bagi kebanyakan orang saat masa SMU berakhir. Namun saya beruntung karena masih memiliki teman-teman ini sekarang. Bersama-sama kita mengadu nasib di negeri asing ini dan setelah sepuluh tahun berlalu, saya masih memiliki setidaknya satu teman yang menjadi tetangga saya. Mungkin ini terdengar normal bagi yang tinggal di Pontianak, tapi bagi yang tinggal di luar negeri, kebersamaan ini adalah sesuatu yang berharga.  

Sekarang kita telah melewati usia 20an dan berada di pertengahan umur 30an. Saya percaya bahwa kita telah bekerja keras dalam bidang masing-masing dan beberapa di antara kita telah menikah dan memiliki anak sementara yang lain mungkin menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Intinya adalah, kita telah melangkah cukup jauh sejak kita meninggalkan sekolah, jadi saya rasa cukup lumrah bila kita berhenti sejenak dan membayangkan, di mana teman-teman lama sekarang berada? 

Setelah apa yang saya lalui, saya melakukan hal tersebut dari waktu ke waktu. Banyak yang telah terjadi sejak kita lulus. Ada teman yang kini sukses dan kaya. Di antara mereka yang berhasil, ada yang sudah siap mental sehingga keberhasilan itu tidak mengubah sifat mereka, namun tidak dipungkiri bahwa ada pula mereka yang merasa perlu untuk membanggakan keberhasilan mereka. Ada lagi mereka yang hidup berkeluarga dengan tenang, persis seperti yang kita lihat sejak SMU, namun ada pula yang dulu kelihatannya mantap dan langgeng, tapi malah melewati kehidupan yang kacau-balau. Mereka mungkin telah bercerai atau bahkan tidak lagi bersama kita di dunia ini. Semua ini menjadi pengalaman yang berharga bagi kita untuk meninjau kembali, apakah kita sudah berada di jalur yang benar. 

Sebuah pertemuan dengan seorang teman lama mengingatkan saya kembali bahwa kita hanyalah sebaik apa yang kita pikirkan dan inginkan. Bagi saya pribadi, saya mengagumi teman yang satu ini karena pemikirannya yang jauh di depan telah membawanya mencapai begitu banyak hal dalam hidup ini. Di satu sisi, pria ini juga berkata bahwa dia merasa kagum dengan apa yang saya telah lakukan bersama teman-teman, misalnya Reuni 2014We Are the World, perjalanan ke Karawang dan lain-lain.

Saya tidak begitu yakin apa yang harus saya katakan untuk menjawabnya, tetapi saya jadi berpikir, di mana saya sekarang di dalam kehidupan ini dan apa yang telah saya lakukan sejauh ini. Saya mencoba mencari jawabannya dan upaya saya ini membawa saya kembali ke saat saya menyeberangi jembatan Kapuas bersama dua teman karib yang tinggal di Pontianak. Saya rasa kita berumur 20an pada saat itu dan saya mengeluh tentang kehidupan di Pontianak yang sering mati lampu dan memiliki masalah tahunan air asin dan asap. Saya bertanya, kenapa mereka masih mau tinggal di sana. Jawabannya sangat sederhana namun mencengangkan: karena mereka merasa sudah cukup. 

Dari situ saya mulai berpikir, sampai sejauh mana seseorang bisa puas dan merasa cukup? Di dalam kehidupan dimana ada berbagai kemungkinan bagi mereka yang berani mencoba, apa sebenarnya yang paling kita inginkan dan apakah masih ada yang ingin kita buktikan? Setelah saya telusuri, apa yang saya inginkan hanyalah kehidupan yang seimbang antara keluarga dan teman-teman. Bagi saya, tawa dan kenangan adalah sesuatu yang paling berarti. Itulah yang saya inginkan. Itu saja. Di dalam waktu kita yang terbatas di dunia ini, bodoh rasanya bila saya menukarkan apa yang saya inginkan dengan hal lain yang sebenarnya tidak berlalu penting. 

Topik seperti ini tentu saja tidak ada habisnya untuk dibahas. Tidak ada yang benar dan salah dalam hal ini. Apa pun yang mungkin dikatakan orang lain sebenarnya tidak terlalu penting. Ini adalah masalah pilihan, jadi kita cukup mengikuti kata hati dan menentukan pilihan hidup kita. Perlu diingat bahwa menghasilkan banyak uang itu bagus, tapi sayang sekali waktu adalah suatu kemewahan yang tidak terbeli dengan uang. Manfaatkanlah dengan sebaik mungkin...


No comments:

Post a Comment