Total Pageviews


Thursday, November 28, 2019

The Seiko Moments

A watch can be many things, from fashion to a symbol of prestige. I certainly am the last person you'd call fashionable and I couldn't care less about being prestigious, but hey, surprise! I actually like wearing watch! No, it didn't have to be a fancy one that went into sleep mode when it wasn't being look at. Just the plain and simple good old fashioned one would do. 

The funny story about my watch is, I didn't really buy the timepiece I'm wearing. The last time I ever bought one (or two, as the recent photos discovery showed, haha) for myself was easily two decades ago, when I was still living in Pontianak. It was a second-hand watch from Eday. Always a trendsetter among us, he got this funky-looking black watch that I liked. I think I wore it until the rubber strap gave way. Then I bought a new, boring-looking one from Yoviana, another friend that happened to be a watch shopkeeper at that time. It didn't last very long, I'm afraid.

That black watch from Eday, worn during Parno's 20th birthday in 1999. 

I don't recall wearing a watch again until 2008. Yani gave me one for my birthday when I visited her in the Philippines. I remember going to Greenbelt in Manila to have the metal strap resized. It was a Seiko 5 watch, one that I would wear almost every day, through thick and thin, be it rain or shine. It was with me wherever I went, from Indonesia to United Kingdom

The automatic watch never gave me any problems since the day I wore it, but 10 years were probably long enough to wear it out. It might be coated with stainless steel, but it was still battle-scarred! Then, on the fateful Sunday, May 20, 2018, when I was carrying my younger daughter, one pin suddenly fell off, undoing the whole wrist strap, causing the watch to fall and smash on the pavement. The front glass cracked and my heart was broken.

That Seiko 5 moment in year 2009.

The watch had already been with me for so long that I would have gotten it fixed just for a sentimental reason. But before I could do that, my wife gave me a birthday present: another Seiko watch! A slightly bigger one with more features (that I never use), because apparently it was worth investing more on her husband than on her boyfriend. Just kidding, haha. 

From that moment on, I retired the old one and started wearing the new one instead. But 2018 was a different time, no pun intended, because people were talking about smartwatches now. I tried a step tracker, but I soon grew to dislike it. I hated tapping on the screen just to see the time and I was annoyed by the need to charge the watch. That's when I realized that what I liked best was the watch did its one and only job in no time (again, no pun intended).

Oh yes, if human is a creature of habits, then I love wearing the conventional watch due to the fact that it's the most practical way to tell time and date. Unlike my BlackBerry that may be hiding in my pocket or somewhere else, my watch is often right there on my wrist. I just have to tilt it a bit and voila! I know what time it is! Still the most elegant solution for an increasingly complicated life in a modern society!

The new and the old Seiko watches.

Saat-Saat Bersama Seiko

Yang namanya jam itu bisa berarti apa saja, mulai dari gaya sampai gengsi. Saya jelas bukan orang yang paling bergaya dalam hal mode, bukan pula orang yang perlu mengenakan sesuatu yang bergengsi, tapi saya senang memakai jam tangan. Tidak, saya tidak perlu arloji pintar yang bisa "tertidur" saat tidak sedang ditatap. Cukup jam tangan biasa saja.

Ada satu cerita tentang jam yang saya kenakan sekarang ini. Seiko ini adalah hadiah ulang tahun. Sudah lama saya tidak membeli arloji. Kali terakhir saya membeli jam tangan mungkin sekitar 20 tahun yang lalu, ketika saya masih tinggal di Pontianak. Jam tangan ini adalah bekas milik Eday (bisa dilihat di foto ulang tahun Parno di atas). Dari sejak dulu, dia memiliki selera bagus yang menjadi standar bagi teman-temannya. Jam hitam yang modis ini saya pakai sampai putus tali (strap) karetnya. Setelah itu saya membeli jam tangan yang membosankan modelnya dari Yoviana yang kebetulan saat itu bekerja di toko arloji. Seingat saya, jam tangan ini juga tidak berumur panjang, haha.

Di Kuching, tahun 2000, dengan jam dari toko yang dijaga Yoviana.

Semenjak itu, saya tidak pernah lagi memakai jam tangan. Di tahun 2008, Yani memberikan hadiah jam tangan saat saya mengunjunginya di Filipina. Saya ingat bahwa saya pergi ke kawasan perbelanjaan Greenbelt di Manila bersamanya untuk menyesuaikan tali jam dengan ukuran pergelangan tangan saya. Jam tersebut adalah Seiko 5 yang kemudian saya kenakan hampir setiap hari dan menyertai saya ke mana pun saya pergi, mulai dari Indonesia sampai Inggris

Jam tangan otomatis ini tidak pernah bermasalah sejak pertama saya pakai dan 10 tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk usia sebuah arloji. Seiko 5 memang dilapisi dengan baja anti karat, tapi penuh goresan setelah satu dekade lamanya! Pada hari Minggu tanggal 20 Mei  2018, ketika saya sedang menggendong putri saya, arloji ini akhirnya menyerah dan copot talinya sehingga jatuh menghantam lantai berubin. Kaca depan remuk, demikian juga hati saya.

Di Boracay, Filipina, bersama Seiko 5. 

Jam tangan ini sudah begitu lama bersama saya sehingga sempat terlintas di benak saya untuk memperbaikinya demi kenangan terindah. Sebelum saya sempat mengunjungi tempat reparasi Seiko, istri saya kembali memberikan hadiah ulang tahun yang serupa: sebuah jam Seiko yang lebih bagus dan memiliki beberapa fitur (yang tidak pernah saya pakai). Kalau saya pikirkan lagi, memang masuk akal untuk menghamburkan uang untuk suami dibandingkan untuk pacar, haha. 

Sejak saat itu, jam yang lama akhirnya saya simpan dan yang baru pun mulai saya pakai. Akan tetapi tahun 2018 adalah era arloji pintar. Saya lantas mencoba memakai pengukur langkah yang juga berfungsi sebagai penunjuk waktu, namun saya merasa tidak nyaman karena harus menekan permukaan jam untuk melihat waktu. Selain itu saya juga tidak suka mengecas jam dari waktu ke waktu. Konyol rasanya. Dari situ saya jadi tambah yakin bahwa yang cocok untuk saya adalah penunjuk waktu yang tepat guna dan efektif dalam menunjukkan waktu.

Di Surabaya, 2019, saat mengenakan pengukur langkah.

Oh ya, bila manusia adalah makhluk yang bergantung pada kebiasaannya, maka saya menyukai jam tangan biasa karena ini adalah cara paling praktis untuk mengetahui tentang waktu dan tanggal. Berbeda dengan BlackBerry saya yang biasanya disimpan di saku, arloji saya senantiasa berada di pergelangan tangan saya. Saya cukup memutar lengan saya sedikit dan segera bisa saya lihat pukul berapa sekarang. Jam tangan memang masih merupakan solusi paling elegan di kehidupan yang kian rumit di zaman modern ini! 

Wednesday, November 20, 2019

Book Review: Around The World In 60 Seconds

First of all, yes, this is the same Nas Daily you might have seen on Facebook, so reading the book did feel like watching his videos in a writing form. Less visual, more imagination, though. And since the book was written after the videos were made, it was actually more reflective. Around the World in 60 Seconds was Nuseir Yassin looking back at the past 1000 days. 

A lot of good stuff here, especially if you are wondering how a young man could travel for almost three years without doing a 9-to-5 job (though we might have overlooked that travelling and making a video everyday was also a job). Spoiler alert: he was a boy from a middle class family, made it to Harvard and had a good job that paid extremely well before he began his journey. On top of that, he was a smart man inspired by Steve Jobs to do something different. The chemistry was right, the timing couldn't be better. 

I like the beginning, when Nas told the story of his childhood and the origin of the name Nas. To certain extent, I surely could relate with his story of how he grew up as an Arab in Israel and how he picked up English. The Rubik's Cube story was also very original and inspiring. I also like the part where he talked about the use of drones. Very insightful! When I looked at his photos again, those taken by drones literally gave a different perspective about how I saw things!

Such a background story made the following pages more interesting. You see, I only watched some of his videos prior to this and only remembered the ones about Armenia and Albania because my friends and I discussed which one of the two that we were going to visit. With such impressions in mind, I thought Nas was a travel vlogger. The book went on to show that he was much more than that. He was some sort of reporter and most importantly, he brought us the stories of humanity from around the world. 

His stories were good. I personally liked the chapters about India (yes, there is a little bit of India in everyone of us), Japan (totally agree that there are modern and underdeveloped countries, then there is Japan) and Singapore (I live here and it's interesting to see the country from his perspective). The chapter about the discrimination he experienced in Jerusalem reminded me of what I went through as a minority in Indonesia (his was worse, though). The section called Nas Moments is also brilliant, easily my favorite.

Granted, some of the stories felt like a wishful thinking, but the optimism was infectious. That, perhaps, is what we need these days. A good faith in humanity. Now, if the humbling experience of a man that just completed 1000 days of globetrotting doesn't inspire you in any way, I don't know what else will. Overall, good reading!

The latest addition on my book rack!

Ulasan Buku: Keliling Dunia Dalam 60 Detik

Kalau anda merasa kenal dengan orang di sampul buku, maka jawabannya adalah ya, ini adalah Nas Daily yang mungkin pernah anda lihat di Facebook. Membaca bukunya itu terasa seperti melihat video-videonya dalam bentuk tulisan. Dan karena buku ini ditulis setelah videonya dirilis, kesannya terasa lebih reflektif. Keliling Dunia Dalam 60 Detik adalah rangkuman Nuseir Yassin saat dia melihat kembali perjalanannya selama 1000 hari. 

Banyak hal-hal menarik di buku ini, terutama bila anda membayangkan bagaimana seorang anak muda bisa berkelana hampir tiga tahun lamanya tanpa memiliki pekerjaan tetap di kantor (walau kita mungkin lupa bahwa membuat video setiap hari juga sebuah pekerjaan). Sebagai bocoran, Nas berasal dari keluarga kalangan menengah, lulusan Harvard dan memiliki pekerjaan yang tinggi gajinya sebelum dia memutuskan untuk melanglang buana. Selain itu, dia juga seorang yang pintar, yang kemudian terinspirasi oleh Steve Jobs untuk melakukan hal yang berbeda. Latar belakangnya pas dan waktunya pun tepat baginya.

Saya suka awal cerita, ketika Nas mengisahkan tentang masa kecilnya di Israel dan asal mula nama Nas. Karena saya melalui peristiwa yang serupa, ada kesan tersendiri saat membaca bagaimana dia yang berdarah Arab tumbuh di Israel dan belajar bahasa Inggris. Cerita tentang kubus Rubik juga sangat unik. Bagian lain yang juga saya sukai adalah tentang drones. Sangat informatif! Ketika saya melihat foto-fotonya lagi, foto yang diambil dengan drones memberikan perspektif yang sungguh berbeda! 

Permulaan cerita yang menarik kian membuat halaman-halaman berikutnya memukau. Jujur saya katakan, sebelum ini, saya hanya melihat beberapa videonya. Saya hanya ingat video tentang Armenia dan Albania karena saya dan teman-teman pernah berdiskusi tentang negara apa yang hendak kita kunjungi tahun depan. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya sempat mengira bahwa Nas adalah seorang vlogger tujuan wisata. Buku ini membuka wawasan saya tentang apa yang sesungguhnya ia kerjakan. Ternyata Nas itu tak ubahnya seperti wartawan dan dia membawakan kita berbagai cerita tentang kemanusiaan dari berbagai penjuru dunia. 

Cerita-ceritanya bagus. Saya sendiri suka dengan cerita mengenai India (ya, saya setuju kalau pengaruh India itu sedikit-banyak ada pada diri kita), Jepang (kategorinya tentang negara maju, negara berkembang dan Jepang terasa benar karena Jepang memang berbeda) dan Singapura (karena saya tinggal di sini dan senang membaca tentang Singapura dari sudut pandangnya). Satu bab tentang diskriminasi yang dialaminya di Yerusalem juga mengingatkan saya dengan apa yang saya alami sebagai kaum minoritas di Indonesia (tapi apa yang ia ceritakan rasanya lebih parah). Bagian yang bernama Nas Moments juga bagus dan merupakan favorit saya. 

Ya, beberapa ceritanya mungkin terasa terlalu indah untuk menjadi kenyataan, tetapi rasa optimisnya sungguh menular. Mungkin ini yang kita perlukan di zaman sekarang. Rasa percaya pada kemanusiaan. Jika pengalaman dari seseorang yang baru saja menyelesaikan perjalanan 1000 hari keliling dunia tidak membuat anda tergugah, saya tidak tahu lagi apa yang bisa membuat anda tersentuh. Secara keseluruhan, buku yang bagus untuk dibaca! 

Friday, November 15, 2019

Pacific Rim

As mentioned before, I'm not a fan of beaches, but from time to time, I do read about the neighbouring countries on the Pacific Rim. There are some that you might have heard of before, such as Fiji, Guam (a territory of the US) or even Vanuatu. I found them fascinating, mainly because these tiny dots are quite far from the nearest continent. I imagined it'd be like stranded in the middle of the ocean, but yet the islanders seemed to be doing fine. 

Of all these sovereign states, I always thought that I would visit New Caledonia one day. The French territory is easily the most beautiful and advanced country in the Oceania region. But it comes with the price. The flights to New Caledonia aren't cheap!

Image from

Kiribati is also interesting, but it was due to the fact that the country used to be split into two by the International Date Line (IDL). Back then, if you travelled to the eastern side of the country, suddenly you were one day behind simply because you crossed the IDL. 

Another one that caught my attention was Palau. I never realized that the island country's location is not exactly far from the Philippines and Indonesia, but yet I never heard of it until recently. It's famous for Rock Islands and Jellyfish Lake.

Image from

Then there is Nauru, the third smallest country in the world, right after Vatican and Monaco. Nauru is heavily dependent on Australia as it has almost nothing, but when I checked out the videos on YouTube, the Nauruans seemed to live quite a happy life down there. 

Closer to home is East Timor. I had mixed feelings about this country, because it used to be part of Indonesia. When I realized that two of my friends, Mul and William, actually went there before, I was intrigued. Why would they go there and what was it like? Curious, I asked about their experiences.

The International Airport of East Timor.
Photo by Mul.

They took different routes to get there. Mul flew directly from Jakarta to Dili whereas William stopped in Bali before making his way to Dili. Another alternative according to Mul was to travel from Kupang, East Nusa Tenggara. It took approximately eight to nine hours to reach Dili (and Mul did the reversed route when he returned to Indonesia). At the immigration checkpoint, they applied for visa on arrival (it's USD 30 these days). While Bahasa Indonesia still can be used in East Timor, rupiah isn't a legal tender note. English isn't widely spoken as the national language is Portuguese. 

Both of them had a rather memorable first impression. Mul said it was like entering an African country that one would see on National Geographic. It was hot, dry and dusty. William saw the UN helicopter when he landed. There were military and civilians from various NGOs in East Timor.

The seaside of East Timor.
Photo by Mul.

The country was underdeveloped and the view from airport to city was not dissimilar to small towns in Indonesia. The city centre was basically a strech of buildings on the street next to the seashore. No shopping malls, at least during the time when they visited Dili. The tallest building was four stories. The food was quite on the high side, roughly around USD 5 per meal.

As he was on a rather short business trip (only two days and one night) William had no time for sightseeing. Still he had unforgettable moments there. When he checked in to his hotel, he bumped into a fellow Teochew from Pontianak. In Dili of all places! To make it more astounding, his hotel was actually a cruise ship that was docking at the port! It's not everyday one could wake up with a brilliant sea view! William reminisced about the time he was on the ship deck. He saw a lot of fishing boats dotting the sea under the bright blue sky.

Cristo Rei of Dili.
Photo by Mul.

Mul was in Dili for work purpose, too, but he had more time there. He managed to visit Cristo Rei of Dili, the statue of Jesus, a major tourist attraction in town. Not much can be said about night time because Mul was advised not to go out after dark. The safety concern was real and valid. William recalled seeing bullet holes on the wall. 

And there was only so much they could tell about East Timor. Quite an experience, but probably not one that I would want to experience myself. From what they described, it might take years for East Timor to become a tourist destination. In the meantime, probably I should stick with New Caledonia...

The East Timor passport stamps.
Photo by Mul.

Pacific Rim

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya bukanlah anak pantai. Kendati begitu, terkadang saya suka membaca tentang negara-negara tetangga yang berada di sekeliling Samudera Pasifik. Mungkin anda mengenal beberapa di antaranya, misalnya Fiji, Guam (yang merupakan kawasan Amerika Serikat) atau bahkan Vanuatu. Saya senantiasa merasa bahwa negara-negara ini menakjubkan, terutama karena pulau-pulau kecil ini jauh dari benua terdekat. Kalau saya bayangkan, rasanya seperti terdampar di tengah lautan, tapi para penghuni pulau-pulau ini sepertinya menikmati kehidupan mereka.  

Dari berbagai negara di Pasifik, saya berangan-angan bahwa suatu hari nanti saya akan ke New Caledonia. Negara yang termasuk dalam wilayah Perancis ini boleh dikatakan negara yang paling indah dan maju di kawasan Oceania. Masalahnya adalah, tiket ke sana mahal harganya!

New Caledonia.
Image from

Kiribati juga menarik, tapi lebih dikarenakan oleh Garis Batas Penanggalan Internasional (IDL) yang dulunya melintasi negeri ini. Sebelum koreksi dilakukan di pertengahan tahun 90an, kita akan kembali ke satu hari sebelumnya begitu kita berkelana ke sebelah timur Kiribati dan melewati IDL. 

Negara lain yang juga menarik perhatian saya adalah Palau. Tidak pernah saya sadari sebelumnya kalo negara pulau ini berada di antara Filipina dan Indonesia. Palau terkenal dengan gugusan Rock Islands dan Danau Ubur-ubur.

Foto dari

Kemudian ada lagi yang namanya Nauru, negara terkecil ketiga di dunia, setelah Vatikan dan Monaco. Nauru yang luasnya hanya 21 km2 (34,5 kali lebih kecil dari Singapura) ini hampir tidak memiliki apa-apa dan sangat tergantung pada Australia, namun saat saya lihat YouTube, para penduduk Nauru terlihat gembira dengan kehidupan mereka di pulau kecil di tengah samudera.

Yang paling dekat dengan Indonesia adalah Timor Timur. Ada perasaan yang susah dijelaskan kalau bicara tentang negara ini, sebab Timor Timur merupakan bagian dari Indonesia dulu. Ketika saya mengetahui bahwa dua teman saya, Mul dan William, pernah ke sana, saya jadi tertarik untuk mendengarkan cerita mereka. 

Dua teman ini mengambil rute yang berbeda dalam perjalanan ke Timor Timur. Mul terbang langsung dari Jakarta sementara William transit di Bali sebelum lanjut ke Dili. Alternatif lain yang ditempuh Mul sewaktu pulang adalah perjalanan darat. Menurut Mul, rute Dili-Kupang (Nusa Tenggara Timur) membutuhkan waktu delapan sampai sembilan jam. Di imigrasi, pengunjung dengan paspor Indonesia perlu mengajukan visa on arrival (harganya USD 30 sekarang). Meski Bahasa Indonesia masih bisa dipergunakan Timor Timur, rupiah tidak lagi berlaku. Bahasa Inggris tidak dipergunakan secara luas karena bahasa nasional di sana adalah Portugis. 

Mul dan William memiliki kesan pertama yang tidak terlupakan. Mul merasa seperti memasuki negara Afrika yang dilihatnya di dokumenter National Geographic. Negara ini panas, kering dan berdebu. William melihat helikopter PBB begitu mendarat. Banyak militer dan orang asing dari berbagai NGO di sana. 

Timor Timur masih terbelakang dalam hal pembangunan. Pemandangan dari bandara ke kota hampir sama dengan Indonesia. Pusat kotanya hanya sederet gedung di jalan raya yang terletak di tepi pantai. Tidak ada mal di Dili pada saat mereka berkunjung ke sana. Bangunan paling tinggi hanya empat lantai. Makanan pun agak mahal, kira-kira sekitar USD 5 sekali makan. 

Karena pergi dalam rangka bisnis selama dua hari satu malam, William tidak sempat berwisata. Walaupun demikian, dia masih memiliki kenangan tersendiri di sana. Ketika dia registrasi di meja resepsionis hotel, dia bertemu dengan sesama orang Tiociu yang berasal dari Pontianak. Bayangkan, di Dili, negeri antah-berantah! Yang lebih mengesankan lagi, hotel tempat William menginap adalah sebuah kapal pesiar yang berlabuh di sana. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk bangun pagi dengan pemandangan laut yang luar biasa. William ingat betul saat dia berada di dek kapal, memandang laut yang dipenuhi dengan kapal-kapal nelayan yang berlayar di bawah langit biru.

Cristo Rei of Dili.
Foto oleh Mul.

Mul berada di Dili dalam rangka kerja juga, tapi waktunya lebih panjang di sana. Dia sempat mampir dan melihat Cristo Rei of Dili, patung Yesus yang merupakan atraksi turis di Dili. Karena alasan keamanan, Mul disarankan untuk tidak keluar hotel setelah hari gelap. William juga mendapatkan saran yang sama. Ketika dia bepergian dengan mobil, William ingat betul dengan lubang-lubang peluru di dinding gedung yang dilewatinya.  

Dan hanya inilah yang bisa mereka ceritakan tentang Timor Timur. Unik pengalamannya, tapi mungkin bukan sesuatu yang ingin saya alami. Berdasarkan deskripsi mereka, sepertinya butuh waktu lama bagi Timor Timur untuk siap menjadi tujuan wisata. Untuk saat ini, saya rasa New Caledonia masih merupakan pilihan yang tepat...

Friday, November 8, 2019

Untuk Adik-Adik Di STMIK Pontianak

Tulisan berikut ini terinspirasi dari foto-foto kunjungan siswa-siswi yang baru-baru ini dipos oleh Pak Sandy. Para remaja ini terlihat masih begitu muda sehingga saya jadi ikut membayangkan masa depan seperti apa yang membentang di hadapan mereka. Saya teringat bahwa dua dekade yang lalu, saya juga pernah berada di posisi yang sama, duduk di bangku mendengarkan kuliah dari Pak Sandy di STMIK Pontianak, tapi di gedung lama di samping Harum Manis.

Oh ya, beberapa bulan silam, saya sempat mampir ke kampus. Ada rasa senang di hati saat bertamu dan melihat perkembangan tempat dimana saya kuliah dulu. Jauh lebih bagus gedung dan fasilitasnya sekarang. Kalau saya ingat kembali, 20 tahun yang lalu adalah zaman yang sungguh berbeda. Hmm, mungkin saya bisa bercerita sedikit, seperti apa perbedaannya. 

Saya memasuki jenjang kuliah di tahun 1998, tepat di saat internet baru bermula di Pontianak. Dulu internet hanya bisa dipakai di tempat yang namanya warung internet dan proses registrasi satu email address di Hotmail membutuhkan waktu satu jam lamanya karena lambatnya koneksi internet. Yang namanya telepon genggam pada saat itu merupakan barang mewah yang cuma bisa dipakai untuk menelepon dan mengirim SMS. Era internet di handphone baru mulai setelah iPhone diluncurkan pada tahun 2007, sembilan tahun setelah setelah saya mengenal internet. 

Tahun ajaran pertama, 1998-1999.

Sebagai contoh lainnya, jaringan komputer itu bagaikan sesuatu yang abstrak. Dipelajari di kampus, tapi tidak jelas seperti apa bentuknya. Semuanya baru menjadi jelas setelah saya mendapat kesempatan untuk berkecimpung dan melihat langsung. Saat itu laboratorium komputer masih menggunakan Novell dan Windows 3.1. Sewaktu dua mahasiswa tingkat akhir melakukan upgrade ke Windows 2000 dan Linux Red Hat sebagai bagian dari skripsi, saya dan Pak Gat yang pada saat itu bekerja sebagai asisten lab pun turut dilibatkan. Itulah pertama kalinya saya mengerti, seperti apa jaringan komputer itu.

Bayangkan kehidupan kalian sekarang yang baru lahir setelah internet ada. Tumbuh besar dan terbiasa pula dengan yang namanya teknologi dalam genggaman tangan (tapi kalian mungkin tidak tahu apa yang namanya disket, haha). Kalian bukan saja memiliki kesempatan, tapi juga jauh lebih siap karena sudah terbiasa dengan kehidupan berinternet. Bagi kalian, internet ini bukan lagi barang mewah, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Saya tidak tahu bagaimana pola pikir anak muda sekarang, namun sebagai seseorang yang berasal dari Pontianak, saya ingin berbagi sedikit pengalaman dengan harapan agar kalian menjadi lebih tahu dan tidak lagi membuat kekeliruan yang sama. Dulu saya tidak memiliki gambaran seperti apa masa depan saya nanti, terlebih lagi karena saya tidak punya uang. Adalah tante saya, yang saat itu bekerja di Taiwan, yang memberikan saya uang untuk mendaftarkan diri di perguruan tinggi. Saya memilih STMIK Pontianak semata-mata karena teman dekat saya, Hendri Muliadi, mengajak saya untuk registrasi di sana.

Saya sering bingung saat kuliah karena tidak mengerti apa sebenarnya yang dijelaskan oleh dosen. Mata kuliah seperti keamanan komputer, pengolahan data terdistribusi atau jaringan komputer yang disebutkan di atas, semuanya dijelaskan secara teori. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa penerapannya. Satu-satunya yang terlihat jelas adalah mata kuliah pemrograman, sehingga muncul pemikiran bahwa setelah lulus kuliah, saya nantinya akan menjadi programmer. Saya jadi agak cemas, sebetulnya, sebab saya tidak menguasai programming dengan baik. 

Bersama bos dan rekan-rekan tim network dan web di Kalbe Farma.

Akan tetapi IT bukanlah tentang programming saja. IT mencakup banyak hal, mulai dari helpdesk, application support, email administrator, IT security, server team, network team, project manager dan lain-lain. Saya baru mengetahui hal ini di tahun 2002, sewaktu saya melamar kerja di Kalbe Farma yang memiliki kantor di Jakarta dan Cikarang. Kalau anda belum tahu mau jadi apa dan tidak mahir di programming, semoga sekarang lebih terbuka wawasannya dan bisa mengambil ancang-ancang untuk menekuni salah satu profesi di atas.

Oh ya, 17 tahun yang lalu, sesudah wisuda, saya hanya bercita-cita untuk kerja di Jakarta. Saya tidak terlalu pintar, tidak pula paham apa yang ingin saya kerjakan di bidang IT, maka dari itu impian saya pun tidak terlalu muluk. Namun jalan hidup saya ternyata tidak berhenti di situ dan membawa saya ke Singapura. Saya mulai dari bawah, dari seorang helpdesk hingga menjadi salah satu pimpinan IT regional di sebuah perusahaan sekuritas (anda bisa lihat detilnya di profil LinkedIn saya). Saya mendapat kepercayaan untuk memimpin tim yang terdiri dari orang Singapura, Malaysia dan India.

Jadi apa makna dari cerita di atas? Saya hanya ingin memberitahukan bahwa seseorang dari kota kecil bernama Pontianak yang merupakan lulusan STMIK Pontianak pun bisa bersaing di negara maju. Jangan pernah berkecil hati, tapi tekunlah dalam berusaha. Jika saya bisa, saya percaya bahwa anda yang lebih muda pasti bisa melangkah lebih jauh dan berbuat lebih banyak lagi. Satu pesan saya, selain mendalami apa yang anda pelajari di kampus, biasakan juga berbahasa Inggris. Ini penting. Tanpa Bahasa Inggris, anda tidak akan bisa berkiprah di luar Indonesia. Selamat belajar dan semoga sukses! Buktikan pada dunia bahwa lulusan STMIK Pontianak tidak kalah unggulnya! 

Makan siang bersama staf di Singapura. 

Monday, November 4, 2019


"CrackBerry is the nickname given to a BlackBerry device, a handheld smartphone to which users have a tendency to become addicted. The term is a combination of “crack” - or crack cocaine, which is a highly-addictive narcotic - and BlackBerry."

My friend Budiman, a fellow Roadblogger, once said that we came from the best generation ever. I concurred. We had a proper childhood that included outdoor and indoor playtime. We witnessed the rise of the Internet. We were definitely old enough to buy the smartphone we liked on a whim, but not too old to understand the latest piece of technology we were holding in our hands. We could really use it and unlike the generation before us, we were connected more than ever. 

We could make a call and do a lot more than twenty years ago, when handphone could only do calling, SMS sending and simple gaming. I'd read news on my favorite Facebook pages and Flipboard, write my blog, google stuff, read my emails, make video-calls, check-in using Swarm, call cabs, book my flights and hotel, check the currency rates, find my way using the map, note down the appointments on my calendar, translate other languages, scribble notes, take photos, watch movies, do online shopping and banking, listen to music, etc. The point is, in the history of mankind, the world is literally at our fingertips for the first time ever.

Then of course there was this chatting feature. I can't speak for others, but for me, long before everything else could be done on a smartphone, this neat little feature was what came handy and got me hooked. The BBM and its blinking red LED light started the craze. Note that chatting wasn't exactly new then, because we could already chat on a desktop computer, but the capability to do so on the go was certainly a game-changer. It was so addictive that I subconsciously felt the need to check the messages constantly.

The world, at my fingertips.
Photo by Evelyn Nuryani.

Many years had gone by since then. BBM was no more and WhatsApp had overtaken it, but the CrackBerry symptoms remained. I just couldn't help it. I remember the first day in Paris. It was one of the rare occasions that I had no connection in 4G era, simply because I hadn't bought the local SIM card yet. I was restless, feeling lost when we explored the city without Google Maps. The biggest gripe was, of course, the fact that I felt disconnected from my chat groups. It was like cold turkey! Much to my wife's chagrin, I couldn't really enjoy the sightseeing until we came out from the telco shop nearby Galleries Lafayette. 

That's not to say that I am glued to my phone all the time. During office hours, I rarely checked my phone because I was so busy (that's the beauty of working in Singapore. We are so busy that time flies so fast). Other than that, I didn't think I do a good job in kicking the habit. 

I'd been warned many times about this by my wife, but the wake up call only happened recently, when I had duck rice with my seniors from Futures industry. One of us was busy typing on the phone because his customer was asking something. DNO, the funny one, then jokingly said in Hokkien, "bo eng mai lai lah," which could be translated as, "if you're so busy, then it's better for you not to come."

It was hilarious and true at the same time. Right after that, throughout the lunch time, we ate and talked just like the good old days, not distracted by phone. For the first time ever in a long while, it felt right. Before we parted way, a phone was pulled out so that we could take a picture together. Now that was a proper use of technology! Instead of getting in the way, it was used at the right time. That, my friends, was probably the way to go! 

Lunch with DNO (the second one from the left) and friends.


"CrackBerry adalah julukan yang diberikan pada BlackBerry, smartphone yang membuat penggunanya ketagihan. Istilah ini merupakan kombinasi dari “crack” - yang berarti kokain, narkotika yang sangat adiktif - dan BlackBerry."

Teman saya Budiman, sesama Roadblogger, pernah berkata bahwa kita berasal dari generasi terbaik. Saya cenderung setuju. Kita memiliki masa kecil dengan berbagai permainan di dalam dan di luar rumah. Kita menyaksikan asal mula internet. Di usia sekarang ini, kita bisa membeli smartphone apa saja yang kita sukai, tapi belum terlalu tua untuk memahami cara penggunaan teknologi paling canggih dalam genggaman kita. Berbeda dengan orang tua kita yang gagap teknologi, kita bisa dengan mudah menggunakannya.

Kita bisa menelepon dan melakukan begitu banyak hal lainnya. Sungguh berbeda dengan dua puluh tahun silam, ketika telepon genggam hanya bisa untuk menelepon, mengirim SMS dan bermain game sederhana. Saya membaca berita di laman Facebook favorit saya dan juga di Flipboard. Saya bisa menulis blog, mencari informasi apa saja di Google, membaca email, melakukan panggilan video, check-in tempat yang saya kunjungi dengan aplikasi Swarm, memanggil taksi, membeli tiket pesawat, memesan kamar hotel, melihat kurs mata uang, mencari jalan dengan Google Maps, membuat catatan dan janji, memotret, menonton, berbelanja dan melakukan transaksi perbankan secara online, mendengarkan musik dan mengerjakan apa saja. Intinya adalah, dalam sejarah manusia, untuk pertama kalinya dunia sungguh bagaikan berada dalam genggaman kita. 

Kemudian tentu saja ada yang namanya fitur chatting. Bagi saya pribadi, jauh sebelum hal-hal di atas bisa dilakukan, fitur inilah yang benar-benar menghubungkan saya dengan dunia dan membuat saya ketagihan. BBM dan kedipan lampu LED-nya yang berwarna merah memulai segalanya. Meski chatting bukanlah hal baru pada saat itu karena kita sudah bisa melakukannya di komputer, tapi BBM yang memungkinkan kita untuk chatting setiap saat sungguh mengubah kebiasaan kita. Sejak saat itu saya sering tanpa sadar mengeluarkan telepon dari saku untuk memeriksa pesan masuk. 

Tahun demi tahun pun berlalu. BBM telah menjadi bagian sejarah dan tergantikan oleh WhatsApp, tapi gejala CrackBerry masih tidak bisa dihilangkan. Saya ingat betul hari pertama saya di Paris. Sore itu adalah sesekalinya saya tidak memiliki koneksi di era 4G karena saya belum membeli kartu SIM lokal. Saya sungguh gelisah saat menyusuri Paris tanpa Google Maps, namun masalah terbesar yang saya rasakan adalah betapa terkucilnya saya karena terputus dari grup chat. Istri saya pun kesal karena saya tidak menikmati liburan. Keresahan saya baru berakhir ketika saya menemukan toko telkom di dekat Galleries Lafayette.

Bingung dan tak tentu arah di Galleries Lafayette karena tidak ada sinyal.
Foto oleh Evelyn Nuryani.

Kendati begitu, ini tidak berarti saya senantiasa terpaku dengan smartphone saya. Pada saat jam kerja, saya jarang melihat telepon karena kesibukan di kantor (ini satu hal yang saya sukai di Singapura. Begitu sibuknya kita sehingga waktu pun berlalu dengan cepat). Selain itu, saya tergolong parah dalam hal ketergantungan pada smartphone

Istri saya sudah memperingatkan saya beberapa kali akan kebiasaan buruk ini, tapi saya baru tersadar beberapa hari yang lalu, ketika saya menikmati nasi bebek bersama para senior saya di dunia trading. Saat itu salah satu dari kita sibuk mengetik di telepon genggamnya karena menjawab pertanyaan dari nasabahnya. DNO, teman kita yang lucu, lantas menyeletuk dalam bahasa Hokkien, "bo eng mai lai lah." Kalau diterjemahkan, artinya kira-kira, "jangan datang kalau sibuk."

Komentarnya kocak tapi mengena. Segera setelah itu, sepanjang makan siang, kita bersantap dan berbincang seperti dulu kala, dimana kita tidak sibuk sendiri dengan smartphone. Senang juga rasanya. Kemudian, sebelum kita berpisah, kita pun berfoto bersama. Ini baru yang namanya penggunaan teknologi yang tepat pada waktunya! Setelah dipikir lagi, mungkin seharusnya beginilah yang terjadi saat kita kumpul bersama, ya?