Total Pageviews

Translate

Saturday, August 28, 2021

The Collaborations

There was this somewhat familiar feeling when I wrote about the ghostwriting experience, but I couldn't really put my finger on it. Ten days later, as I had a daily habit of going through what had been done and republished it, I saw another blog post called Online Business. Then it dawned on me why it felt like déjà vu: both told the stories of collaboration.

From time to time, I collaborated with high school friends for various reasons. There were things that I couldn't do alone, therefore I needed them. It could also due to the fact that it took more than one person to achieve a greater good. But regardless what the circumstances were, I enjoyed the togetherness. I believe it didn't always have to be about me. There were times when I'd prefer to be just one of us or playing a supporting role.

With Ardian (and Jimmy behind him) in Bali. 
Photo by Endrico.

My earliest recollection of such partnership was the songwriting collaboration. Ardian came up with the music and I wrote the lyrics. He was a talented but reluctant musician, so it was up to me to coax him into doing it, haha. Putting words into the songs wasn't that difficult, but to see him crafting the melody as he strummed the guitar was like witnessing a miraculous act!

The song we wrote, performed by Parno.

If Ardian was the first, he was certainly not the last. Endrico, together with Susan, were definitely the people I'd work with for event organizing and Robinson Travel. I remember the time when we did Reunion 2014 and that trip to Karawang. Wouldn't happen without them. They were great in helping to execute the ideas!

Then there were efforts where everybody chipped in. The first crowdfunding we had, it was memorable. If you ever wanted to know whether it was worth it to scramble like mad for good cause, I'd tell you that it felt extremely good. The feeling of finding out that many people actually cared and knowing that the joint effort would really mean something for the recipient was... priceless. 

Of course not all were as gloomy as the example above. The time we did We Are the World was a much happier occasion. I remember rallying friends to sing a line or two while trying my best to finish this before my trip to London. Just like what Ardian and I did years ago, we created something that may outlast any of us. A legacy, if you like. Every time I listen to the song, it made me smile. I was glad, proud and amused that we actually made it.

We Are the World - our version.

Like I said earlier, sometimes it didn't even have to my idea or me taking charge. I was happy just to be part of the team. I did exactly that in the last reunion. I came up with a quiz in the form of high school exam and performed a cheap IT trick to impress my fellow alumni, haha. It was the same with the ghostwriting. I played second fiddle doing what I did best: writing, mostly done on my trusted BlackBerry.

Sometimes I could hear the song from the Beatles playing in my head, " he's a real nowhere man, sitting in his nowhere land, making all his nowhere plans for nobody." So why did I do this? As far as I was concerned, I didn't get any richer. But I guess the monetary gain wasn't even the point. I did it because I liked it and it made me happy. In this context, I believe that time I enjoyed wasting wasn't wasted. When I looked back, I was one memory richer than before. That's what got me going...

As part of the committee of Reunion 2018. 




Kolaborasi

Ada semacam perasaan yang sepertinya saya kenal ketika saya menulis tentang ghostwriting experience, tapi saat itu tidak bisa saya jelaskan, apa sebenarnya yang saya rasakan. 10 hari kemudian, karena saya memiliki kebiasaan untuk melihat roadblog101 dan menerbitkan ulang apa yang sudah saya tulis, saya menemukan artikel bertajuk Online Business. Lantas saya sadar kenapa perasaan ini sepertinya tidak asing lagi: itu karena dua cerita ini bertema kolaborasi. 

Dari waktu ke waktu, saya bekerja sama dengan teman-teman SMA karena berbagai alasan. Ada saja hal yang tidak bisa saya kerjakan sendiri, jadi saya butuh bantuan mereka. Ada kalanya pula sesuatu yang hendak dicapai itu perlu dikerjakan bersama, jadi banyak teman yang dilibatkan. Apa pun latar belakang kolaborasi ini, saya selalu menyukai kebersamaan yang saya lalui. Saya percaya bahwa tidak semua hal harus berfokus pada diri saya, jadi terkadang saya senang menjadi bagian dari sebuah kebersamaan dan memainkan peran pendukung.  

Bersama Ardian (dan Jimmy di belakangnya) di Bali. 
Foto oleh Endrico.

Kisah paling awal yang bisa saya ingat tentang berbagai kolaborasi yang pernah saya lakukan adalah pengalaman menulis lagu. Ardian menciptakan musiknya dan saya mengarang liriknya. Dia seorang musisi yang berbakat tapi enggan berkarya, jadi saya senantiasa harus membujuk-rayu supaya dia mau menulis lagu dan rekaman, haha. Mengisi nada dengan kata-kata tidaklah begitu sulit, tapi melihat Ardian bersenandung sambil menggeser jemarinya ke kunci gitar yang cocok ini sungguh sebuah pengalaman yang menakjubkan! 

Lagu yang Ardian dan saya tulis, dinyanyikan oleh Parno di sini.

Jika Ardian adalah yang pertama, dia jelas bukan yang terakhir. Endrico, bersama dengan Susan, merupakan rekan kerja yang baik dalam hal menyelenggarakan acara dan liburan Robinson Travel. Saya ingat saat kita mengadakan Reuni 2014 dan perjalanan ke Karawang. Tidak akan terwujud tanpa bantuan mereka!

Kemudian ada lagi kolaborasi dengan banyak peserta, misalnya saat kita menggalang dana untuk pertama kalinya. Sungguh suatu pengalaman yang berkesan. Jika anda mau tahu apakah sepadan rasanya bila kita jadi sibuk sendiri karena ingin berbuat baik, saya bisa jawab bahwa rasanya sangat sepadan. Sewaktu saya menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak teman yang peduli, sewaktu saya mengetahui bahwa yang menerima sedikit-banyak merasa terbantu, saya tahu apa yang saya kerjakan itu tidak sia-sia. 

Namun tentu saja tidak semuanya bernuansa sedih seperti contoh di atas. Rekaman We Are the World adalah suatu peristiwa yang menggembirakan. Saya ingat saat saya menghubungi teman satu per satu untuk menyumbangkan suara sementara saya mencoba menyelesaikan rekaman ini sebelum liburan saya ke London. Sama halnya seperti apa yang saya kerjakan bersama Ardian bertahun-tahun silam, kita menciptakan sesuatu yang mungkin akan tetap beredar setelah kita tiada. Sebuah warisan dari generasi kita. Setiap kali saya dengarkan kembali lagunya, saya pun tersenyum. Saya senang, bangga dan juga merasa sedikit tidak percaya bahwa kita berhasil mengerjakannya. 

We Are the World - versi alumni '98.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, terkadang sebuah kolaborasi tidak harus berdasarkan ide saya atau dikoordinasi oleh saya. Saya juga tidak keberatan menjadi bagian dari sebuah tim dan itu yang saya lakukan ketika kita menyelenggarakan reuni di tahun 2018. Saya menciptakan kuis dalam bentuk ujian sekolah dan menampilkan tipuan IT murahan untuk mengisi acara, haha. Sama halnya juga saat menulis untuk teman baru-baru ini. Saya memainkan peran pendukung dengan melakukan apa yang saya bisa: menulis, yang hampir seluruhnya dikerjakan dengan BlackBerry

Kadang-kadang saya mendengar lagu the Beatles berikut ini di benak saya, "he's a real nowhere man, sitting in his nowhere land, making all his nowhere plans for nobody." Hal ini membuat saya bertanya sendiri, kenapa saya melakukan semua ini. Setahu saya, hal ini tidak membuat saya tambah kaya secara finansial. Akan tetapi keuntungan dari segi keuangan tidaklah menjadi bagian dari pertimbangan. Saya mengerjakan apa yang saya bisa karena saya suka dan ini membuat saya gembira. Dalam konteks ini, saya percaya bahwa waktu yang saya habiskan dengan riang tidaklah sia-sia. Saat saya lihat kembali, saya tahu saya satu kenangan lebih kaya dari sebelumnya. Mungkin inilah yang mendorong saya untuk terus berkarya dan berkolaborasi...

Sebagai bagian dari panitia Reuni 2018. 

Sunday, August 15, 2021

The Quiz

What can be done in the time of corona, when lockdown and all sorts of restrictions happen? Well, you can be creative about spicing up your life! And what we did wasn't something new. We had done it before long ago, from time to time, but we brought it up to a new level recently. 

We had an active high school chat group. I remember one day, as I walked home, I started sending pictures of flags and prominent figures just for friends to guess. Sometimes, when I listened to oldies, I'd also record few seconds of the songs for them to guess.

And this is how it got started.

That fateful night began with Eday talking about ancient history and I casually responded with pictures of places I was browsing. It turned out to be lively and interactive. We all had some fun, so how about making it a real game to score points for some rewards? The following night, we did exactly that. With 1 kg of Aming Coffee and an Indonesian snack called emping, Gunawan and Susan were the first sponsors of the game. 

The competition was fierce and hilarious at the same time. We quickly learnt that Indonesia's internet was much slower than other countries such as Hong Kong and Singapore. Many saw others answering before the pictures appeared on their WhatsApp, so picture guessing was soon omitted. Other than that, typo and autocorrect also made it even more entertaining. For example, Buaton, a teacher's name, was inadvertently corrected as Buatan, an actual word in Bahasa Indonesia. This was a wrong answer!

Autocorrrect in action!

The first night was like a tried-and-true attempt. We got even more creative with the questions afterwards. With topics ranging from high school times to general knowledge, we came up with various types of questions, such as:

Simple and direct questions:
What's the name of roti prata in Indonesia?

Multiple choices:
Who's the member of Spice Girls:
Mel B
Mel C
Mel D
Mel E

Guess the hints:
What's the name of this friend?
Hints: salted fish, j'adore

Fill in the blanks:
D_ _G_N  _AL_
The name of story about the search for seven magic crystal balls that grant one wish.

The simple and direct question. 

And the points increased as we progressed from one category to another! We even threw in 10 points for the final question. The chat group went crazy with answers coming in rapidly. Some were really good and quick, others were trying their best (Tuty was the dark horse!) and then of course there were a few that were not only hopeless and naggy, but also deliberately sabotaging the game with fake questions and lousy answers, haha.

The quiz had run its course now. But looking back, it was amazing how we put on effort to be a little creative. I mean, we could have just done nothing and complained about COVID-19, but no, we chose to act and make the best out of our days instead. Probably that got to do with that we were the graduates from a school with the motto: stay motivated!


Kuis

Apa yang bisa dilakukan di musim korona, ketika PPKM dan berbagai larangan diterapkan? Kita bisa sedikit lebih kreatif untuk tetap bergembira dalam menyikapi perkembangan ini. Apa yang baru-baru ini saya dan teman-teman lakukan bukanlah sesuatu yang baru, tapi beberapa minggu terakhir ini diadakan dengan lebih profesional. 

Sebagaimana yang telah diketahui, saya memiliki grup WhatsApp SMA yang cukup aktif. Suatu ketika, sewaktu berjalan pulang dari kantor, saya iseng mengirim gambar bendera dan tokoh-tokoh ternama sebagai pertanyaan. Terkadang, selagi saya mendengarkan lagu-lagu lama, saya juga tergerak untuk merekam cuplikan lagu dan meminta teman-teman untuk menerka judul lagu atau penyanyinya. 

Dan pertanyaan seperti ini menjadi pemicu kuis di grup.

Pada suatu malam, Eday bercerita tentang tempat-tempat bersejarah dan saya pun turut menanggapi dengan foto-foto tempat yang terlintas di benak saya. Ternyata banyak yang ikutan menjawab. Karena banyak yang antusias dan menikmati, akhirnya kita coba jadwalkan acara kuis berhadiah di malam berikutnya. Gunawan dan Susan menjadi sponsor satu kilo Kopi Aming dan emping

Kompetisi pun berlangsung seru dan kocak. Kita lantas menyadari bahwa internet di Indonesia kalah cepat dengan negara lain, misalnya Hong Kong dan Singapura. Banyak yang melihat jawabannya sebelum gambarnya muncul di WhatsApp, jadi acara menebak gambar pun dihilangkan di kuis berikutnya. Selain itu, kesalahan pengetikan dan fitur autocorrect juga menjadi kendala yang cukup menghibur. Contohnya adalah nama Buaton yang merupakan nama guru, namun dikoreksi menjadi Buatan sehingga salah jawabannya.

Fitur autocorrrect yang menimbulkan masalah!

Kuis di malam pertama tak ubahnya seperti percobaan. Setelah itu kita kian kreatif dalam membuat pertanyaan. Beraneka topik, mulai dari kisah di SMA sampai hal-hal umum, pun dibuat menjadi berbagai pertanyaan: 

Cepat-tepat: 
Apa sebutan roti prata di Indonesia?

Plihan ganda:
Siapa saja yang merupakan anggota Spice Girls:
Mel B
Mel C
Mel D
Mel E

Menerka petunjuk:
Siapa nama teman yang satu ini?
Petunjuk: ikan asin, j'adore

Melengkapi jawaban:
D_ _G_N  _AL_
Kisah mencari tujuh bola berbintang yang mengabulkan satu permintaan.

Salah satu pertanyaan cepat-tepat!

Dan poin yang diraih peserta akan kian tinggi setiap kali kategori pertanyaan berganti. Tidak jarang pula satu pertanyaan terakhir memiliki nilai 10 poin. Grup WhatsApp pun menjadi luar biasa sibuk karena jawaban yang masuk secara beruntun. Ada teman yang memang cepat dan betul pula jawabannya, ada yang sudah berupaya sebisa mungkin (Tuty seringkali tampil mengejutkan) dan ada satu atau dua orang yang kerjanya cuma mengeluh dan mengacaukan permainan, haha. 

Setelah beberapa waktu, kuis tidak lagi seheboh sebelumnya. Namun kalau dilihat kembali, yang menakjubkan adalah niat untuk melakukan sesuatu yang sedikit kreatif. Kita bisa saja tidak berbuat apa-apa dan bersungut tentang COVID-19, tapi kita justru memilih untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti dalam mengisi waktu luang kita. Mungkin semua ini ada hubungannya dengan fakta bahwa kita adalah lulusan sekolah yang memiliki semboyan Tetap Bersemangat! 

Monday, August 9, 2021

The Ghostwriter

I remember those early days when I started writing. It was year 1997 and the newfound ability clearly came handy to impress girls in high school. I volunteered to write on their behalf in composition writing, but I immediately learnt that I was overconfident. Just because I had a few good short stories under my belt, that didn't automatically make me a hit maker. 

The ghostwriting process was such a struggle that it wasn't enjoyable at all. I soon learnt that the thought of not wanting to disappoint people's expectation and the deadline of the project added the unnecessary pressures I certainly could do without. I write because it's fun. And it wasn't fun when it became a chore. 

Since then, I never really helped others to write anymore. I was happier that way, haha. Then, a year after I started roadblog101, I realized that I might alienate Indonesian readers if I wrote only in English. That's when I began writing in bilingual. 

The books and the ghostwriter.

Shortly after that, my friend Eday approached me. For those of you who didn't know, Eday represents the best of my generation. Even though we came from a small town, some of us really hit the big time. Some are household names in Indonesia these days, but Eday is probably the only one that is well-known internationally. And Eday is the expert in what he does best: art. 

It was an honor when a friend like him said he liked my writing style. It was a privilege when he wanted me to help him with his books. I'd certainly lend a hand! About two decades after I first gave it a try, I was finally ghostwriting again. 

This time was slightly different, though. At the very least, I didn't have to start from scratch, so it didn't feel like a burden. Eday wrote in a mixture of Bahasa Indonesia and English, so I what I had to do was to position myself, how I would write this if I were Eday. It wasn't easy, because what he wrote was quite specific and the content was nothing like what I had done before.

The books by Eday.

His first book was called Wood Soul. It was fascinating and also a great reminder of how different we were, even though we were friends since secondary school. I wouldn't for the life of me have any interests in wood crafts, old boxes, bronze pots, etc. But here I was, writing about these from his perspective. What would have been junks for me became art in his hands. It gave me the first hand experience to appreciate his mastery.

The second book, just released recently, was about another hobby he had: Gundam. Remember what I said earlier, about him being international? He was the 2012 world champion of Gundam tournament and now I had the chance to look at things that made him great. I used to wonder what ver.ed was about until I wrote about it few months ago. He surely was a legend among his fellow Gundam enthusiasts.

ver.ed's Gundams.

The ghostwriting was quite a unique experience, I'd say. It was like having a glimpse of how Eday looked at things. I mean, when two old friends met up, we'd joke around instead. Through the books, I had a rare opportunity to see how he was actually like when he was serious and passionate about something. He understood branding and he had the skills, consistency and passion to build it up. A brilliant man, and I guess that's what set him apart from us...

PS: I once explained to my daughter that Uncle Eday was famous for what he did. Then she innocently asked, "since you are a friend of a famous person, does this make you famous, too?" I laughed and told her that it didn't work that way. But it was great to be part of his books. All the best, buddy!



Pengarang Untuk Orang Lain

Saya ingat masa-masa ketika saya baru mulai menulis. Di tahun 1997, kemampuan yang baru saya temukan ini sangat berguna untuk membuat teman wanita di masa SMA terkesan. Saya secara sukarela menawarkan untuk mengerjakan tugas pelajaran mengarang, namun setelah itu saya sadari bahwa saya terjebak oleh rasa terlalu percaya diri. Hanya karena saya bisa menulis beberapa cerpen yang disukai teman, itu tidak berarti setiap tulisan saya sudah pasti bagus. 

Pengalaman menulis untuk orang lain terasa seperti perjuangan dan sama sekali tidak bisa saya nikmati. Beragam pikiran, misalnya perasaan tidak ingin mengecewakan orang lain dan juga batas waktu tugas, menambah beban saya sebagai penulis. Saya menulis karena saya suka. Beda rasanya ketika menulis itu menjadi sebuah tugas dan bukan lagi hobi. 

Semenjak itu, saya jarang membantu orang lain dalam perihal menulis lagi. Rasanya lebih lega, haha. Kemudian, setahun sesudah saya memulai roadblog101, saya menyadari bahwa saya bisa kehilangan pembaca Indonesia bila saya hanya menulis dalam bahasa Inggris. Oleh karena itulah saya kini menulis dalam dua bahasa. 

Buku Eday dan the ghostwriter.

Tidak berapa lama setelah itu, teman saya Eday bertanya apakah saya bisa membantunya. Bagi anda yang belum tahun, Eday ini adalah yang terbaik dari generasi saya. Meski kita semua berasal dari kota kecil, beberapa dari kita kini teramat sangat sukses. Tidak sedikit yang sudah termashyur namanya di Indonesia, tapi saya kira hanya Eday yang dikenal di kalangan internasional. Dan Eday adalah ahli di bidang yang ditekuninya: seni. 

Adalah suatu kehormatan tersendiri saat seorang teman seperti Eday berkata bahwa dia menyukai gaya tulisan saya. Ketika dia ingin saya membantunya menulis buku, saya pun menyanggupi permintaannya. Setelah hampir dua puluh tahun lamanya tidak menulis untuk orang lain, akhirnya saya pun mencoba lagi. 

Proses kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Saya tidak perlu lagi memulai dari awal, sehingga tidak terasa seperti sebuah beban. Eday sudah menulis apa yang hendak disampaikannya, namun dalam perpaduan Bahasa Indonesia dan Inggris. Berdasarkan karangannya, saya lantas mengambil pendekatan berikut ini: bilamana saya adalah Eday, seperti apa kira-kira tulisannya. Tidak mudah juga, sebab topik yang dibahas olehnya cukup spesifik dan berbeda dengan apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya. 

Buku-buku karya Eday.

Buku pertamanya berjudul Wood Soul. Pengalaman menulis buku ini terasa menggelitik dan juga mengingatkan saya kembali, betapa berbedanya pola pikir kita berdua, meskipun kita berteman dari sejak SMP. Saya tidak pernah tertarik dengan kerajinan kayu, kotak tua, pot perunggu dan lain-lain, namun sebagai Eday, saya menulis tentang semua ini berdasarkan perspektifnya. Apa yang pasti sudah menjadi sampah di tangan saya berubah menjadi seni berkat sentuhannya. 

Buku kedua yang baru saja dirilis bercerita tentang hobi lain yang dimilikinya: Gundam. Masih ingat yang saya katakan tentang prestasinya yang internasional? Dia adalah juara dunia turnamen Gundam di tahun 2012 dan saya kini berkesempatan untuk melihat langsung hal-hal yang menunjukkan kehebatannya. Dulu saya sempat heran, apa sebenarnya ver.ed, dan buku ini memberikan jawabannya. Dia memang legenda di kalangan penggemar Gundam. 

Gundam ver.ed.

Pengalaman mengarang untuk Eday tergolong unik. Biasanya, di kala bertemu, kita cenderung bersenda-gurau. Lewat buku-buku ini, saya jadi bisa melihat, seperti apa teman saya ini di kala serius menekuni hobinya. Eday mengerti pentingnya sesuatu khas dari karyanya dan dia memiliki kemampuan, konsistensi dan semangat untuk mengerjakannya. Memang orang yang luar biasa dan kualitas inilah yang membedakannya dengan saya dan teman-teman lainnya... 

NB: baru-baru ini saya jelaskan pada putri saya bahwa Paman Eday terkenal karena hasil karyanya. Mendengar hal itu, anak saya lantas dengan polos bertanya, "karena Papa berteman dengan orang terkenal, apakah ini berarti Papa terkenal juga?" Saya tertawa dan menjelaskan pula bahwa prosesnya tidaklah seperti itu. Namun saya senang bisa turut berpartisipasi dalam buku-bukunya. Sukses selalu, sobat lama!