Total Pageviews

Translate

Friday, December 29, 2017

Malaysia Boleh: Malacca

Of all the places in Malaysia, Malacca is always my favorite destination for short getaway. A weekend trip, arriving on Saturday and departing on Sunday will be just nice. While Malaysia was used to be well-known for the inconvenient public transport (this is now changing thanks to Uber and Grab), Malacca is the one place that is pedestrian friendly. Well, at least the city center is best explored on foot!

I had a couple of visits since a decade ago. The first trip was with a Malaysian ex-colleague, Swee Hin, my travel buddy during this period. The beauty of travelling with a local was we could do it the Malaysian way, so we headed to Larkin Sentral, the bus terminal located in Johor Bahru, and took a bus from there. The journey to Malacca was roughly around three hours ride. Once we reached there, as this visit was before the rise of agoda.com, we did a walk-in to book our hotel room.

The riverside, when the evening came.
Photo by Evelyn Nuryani.

So what to do in Malacca? The two days, one night routine pretty much involved a walk around the city center, visiting various tourist spots ranging from the museum (that's where I refreshed my history lesson about Hang Tuah and Admiral Zheng He), the big Portuguese ship that also happened to be another museum, to Jonker Walk that was famous for its night market. However, as this was a trip with a Malaysian, we had this unlikely chance to visit the Malacca Zoo. It was alright, quite decent, but not exactly memorable, haha.

The next trip to Malacca happened to be from Kuala Lumpur. Together with a bunch of friends, I departed from Puduraya to Melaka Sentral, the main bus station. Oh yeah, if we took bus, be it from Singapore, Johor Bahru or Kuala Lumpur, we always alighted at this bus station. It was from here that we should take a cab to reach the city centre, where the main attractions were. The visit itself was a basically a repetition of the routine, described in the previous paragraph, minus the zoo, haha.

Eko and Suresh, when we stopped for a short break.

The third one was rather interesting because we drove from Singapore to Malacca. Chia was on the driver's seat while Suresh, Eko and I took turn on the front seat, if I remember correctly. Apart from the city center, we managed to explore some other places, but the most memorable one was the A'Famosa resort. We stayed at the apartment and we visited the theme park and the Old West, a rather charming Red Indians and cowboys show. Too bad that the one above was the only picture I could find. This is when we had our breakfast at the resting area, when we were on our way to Malacca.

The last time I went there was like a big, extended family trip. It was their first visit, so I did spend quite a fair bit of time with my daughter in our hotel room (we were staying at Hatten hotel, one of the newer hotels in town) in order to allow my wife, her sisters and mum to roam the city centre freely. A quality time well-deserved by the best wife ever! Later that night, I joined them for dinner where we had Korean food instead of the local peranakan cuisine or chicken rice ball, haha.

Overall, Malacca is a nice city with enough entertainment and eateries for all ages. The city center, the main tourist attraction, has this relaxed ambience, especially when it is not too hot. Here's one place that's great for us to walk around and yet it is neither confining nor restrictive like resorts. Highly recommended and satisfaction guaranteed for first timers!

Family time in Melacca.


Malaysia Boleh: Melaka

Dari berbagai tempat di Malaysia, Melaka adalah tempat tujuan favorit saya. Melaka sangat cocok untuk kunjungan singkat di akhir pekan, dimana kita datang pada Sabtu siang dan pulang pada Minggu sore. Transportasi di Malaysia biasanya tidak praktis (walau ini mulai berubah sejak adanya Uber dan Grab), tapi Melaka tidak terlalu terganggu oleh ketidaknyamanan ini karena pusat kotanya tergolong ramah pejalan kaki.

Saya mengunjungi Melaka berulang kali terhitung sejak 10 tahun yang lalu. Swee Hin, teman sekantor yang menjadi teman seperjalanan saya dalam kunjungan perdana ini. Karena dia adalah orang Malaysia, maka saya berkesempatan untuk bertualang dengan gaya lokal. Saat itu kita berangkat dari Larkin Sentral, stasiun bis yang terletak di Johor Bahru. Lamanya perjalanan berkisar tiga jam. Begitu sampai di sana, karena ini adalah perjalanan sebelum populernya agoda.com, kita masuk dan memesan kamar hotel secara langsung di meja resepsionis.

Swee Hin, lagi antri buat pesan kamar.
Foto dari Sony Ericsson K630, sebelum era BlackBerry, haha.

Jadi apa saja yang bisa dilakukan di Melaka? Rutinitas dua hari satu malam ini biasanya mencakup kunjungan ke berbagai daerah turis, misalnya museum (di sini saya diingatkan kembali tentang Hang Tuah dan Laksamana Cheng Ho), kapal Portugis yang juga merupakan sebuah museum dan juga pasar malam di Jonker Walk. Yang sedikit berbeda di kali pertama ini adalah kesempatan untuk mampir di kebun binatang Melaka. Tidak terlalu buruk, tapi juga tidak terlalu berkesan, haha.

Saya bertolak dari Kuala Lumpur saat mengunjungi Melaka untuk kali kedua. Bersama beberapa teman, saya naik bis dari Puduraya ke Melaka Sentral, stasiun bis utama di Melaka. Oh ya, kalau kita naik bis, baik dari Singapura, Johor Bahru maupun Kuala Lumpur, bis yang kita tumpangi akan merapat di stasiun Melaka Sentral. Dari sini barulah kita naik taksi ke pusat kota, dimana atraksi turis berada. Kunjungan kali ini mirip dengan rutinitas yang dideskripsikan di atas, akan tetapi kebun binatang tidak lagi termasuk dalam rangkaian acara.

Dari kiri: Anthony, Sudarto, Markus, Tommy dan Setia.

Di kali ketiga, kita berangkat dari Singapura menggunakan mobil. Chia mengemudikan mobilnya sementara saya, Suresh dan Eko silih berganti tempat duduk di sepanjang perjalanan. Selain pusat kota, kita juga pergi ke berbagai tempat lain yang biasanya hanya bisa dituju dengan mobil. Yang paling mengagumkan adalah A'Famosa. Kita bermalam di apartemen dan di sore hari, kita pergi ke taman bermain dan menyaksikan pertunjukan koboi dan Indian Amerika.

Terakhir kali saya ke sana adalah sebagai peserta dari rombongan keluarga besar. Karena ini adalah kunjungan pertama mereka, saya menjaga anak di kamar hotel (kita tinggal di Hatten yang masih tergolong di tahun 2013) supaya istri saya lebih leluasa menjelajah pusat kota bersama saudari-saudari dan ibunya. Saya bergabung dengan mereka untuk makan malam, dimana kita justru menyantap makanan Korea, bukannya makanan peranakan lokal atau nasi bola ayam Hainan yang terkenal di Melaka, haha. 

Dari beberapa kunjungan bersama berbagai teman seperjalanan ini, saya rasa bisa disimpulkan bahwa Melaka adalah kota yang nyaman dan lengkap dengan hiburan untuk berbagai usia. Pusat kotanya, daerah atraksi selalu dipadati oleh turis, memiliki suasana yang santai, terutama saat cuaca tidak terlalu panas. Sangat direkomendasikan dan dijamin merupakan pengalaman yang memuaskan, terutama bagi mereka yang pertama kali berkunjung! 

Yani di depan benteng A Famosa. 

Wednesday, December 27, 2017

A Life Less Ordinary (Part 1)

Hello, it's been a while! It's me again, Parno, and here's the story of my life. I was born in a simple family and I grew up on Nusa Indah street. In my younger days, just like any other kids in Pontianak during the 80s, I spent time watching anime such as Kamen Rider, Google V, Space Cops series from Gavan to Saider and there were also Getter Robo and Mazinger Z.

I had a good time watching all of them, but as time went on, I found it hard to follow all the series. At that time, anime and movies for children were in the form of video tape and one actually had to rent them. 

Nusa Indah Street that I knew was surrounded by a lot of entertainment! It was easy for boys to have some fun. The game arcade wasn't very far, so after I stopped watching anime, frequenting the game arcade became my next hobby. Loved it there! Was so engrossed until I forgot to keep track of time. It was as if I lived my life just for this very moment.

Everyday, when my mother was at home, I'd always ask for money. Father was often far away from home because he ran a private ship expedition where he delivered goods to customers from those remote and rural areas. While he was doing that, here I was, playing the games at the arcade. I couldn't care less. My adolescence years were great!

Me, during school days...


Saturday, December 23, 2017

The Bucket List

My wife once said that I had so many friends. I took it as a compliment, though it might or might not be a good thing. In a world where everybody had only 24 hours, I might have sacrificed one thing over another. Sometimes I did it right, but there were also times were I made foolish and selfish choices. Nonetheless, this one, a story that took two years in the making, definitely felt right.

In order to understand this, let me begin by revealing one of the greatest things in life: the bucket list. The very existence of it gets you going and gives you something to look forward to. I've been lucky enough to strike off some entries, such as marrying the woman I love, watching a Paul McCartney concert and crossing Abbey Road. They were like the wildest dreams came true! Some, however, were more down-to-earth, but they were still the pleasant memories that were worth telling. This story was one of them.

Like I said previously in the blog post called Love Thy Parents, the dawn of WhatsApp changed the way we made friends. I got reacquainted with old friends and, through a natural selection, I ended up having this group of friends with the same sense of humour. We actively shared thoughts, jokes and every lingo that only friends from the same school would understand.

From left: Susanti, Tuty, Endrico and Rudiyanto in Jakarta. And, yes, that's the same Endrico from almost every story I had. 

It was funny how we could chat as though we'd known each other forever, especially when I actually never met some of them before and hadn't seen the others for a long time. It could have stayed that way, but then opportunity knocked. What was started as a casual talk about school holiday was transformed into a trip to Karawang.

That's when I met Susanti for the first time. For your information, I'd been blessed with a good memory about anything and anybody that I encountered during high school days, but yet I didn't have any recollection about her. As far as I was concerned, the day we met in Jakarta was the first time I ever saw and spoke to her in person. My first impression of her was her voice: it was as if she was going to cry, haha. But she was a nice person and we got along immediately. She was like an old friend with a clean slate: nothing in the past for us to reminisce about, haha.

When we reached Karawang, we were welcome by Hendra. Back in the days, he was like this fellow classmate that always got on my nerves. Let's just say that he was this friend that was not exactly friendly. But easily two decades had passed since then and I was actually surprised to see how polite he was. When we were there, he was the host that constantly tried to ensure everything was okay for us. What a nice chap, really. He was surely a living proof that boys wouldn't always be boys. Sometimes we grew up, too, haha.

From left: James, Anthony, Harry, Vivi, Tuty and Lawrence in Pontianak.

Few months after that, I had a chance to go back to my hometown again. I met Harry, the man behind the cake, and passed him the MRT card that he won after participating in the silly competition that I organized. A friend of mine since primary school or earlier than that, Harry was good looking and tall, a popular student back then. While we were in the same class for a couple of times, we weren't close friends as we hung out with a different group of friends, but the arrival of WhatsApp changed all that. The day I visited him was the first time I saw him since 12 years ago.

Then Vivi came visiting us. In high school, she was a friend I always saw from afar, but never talked with, so the moment she stepped out from the car and walked towards us, I had a blast from the past. It was as if she was walking in slow in slow motion while I was having all the high school memories replaying in my mind, serenaded by Irene Cara's What a Feeling. Haha, I just overdid it, didn't I? So there we were, talking face to face for the first time ever since 1995, when I first noticed that I had a schoolfriend named Vivi. 

After meeting almost everyone of them, I realized this felt like a bucket list entry called meeting a bunch of funny old friends from WhatsApp era. That's when I jokingly told Wiwi, whom I never crossed path with during school days, that I'd travel more than 300km just to meet her. It sounded bombastic and ridiculous at the same time, but that was just what I needed. It was the kind of nonsense that got me excited, so I hopped on the train and went the distance to make it happen. As luck would have it, CP was visiting Malaysia, too. By the time we had a dinner together that night, the entry from the bucket list that had gotten me travelling from Singapore to Jakarta, Karawang and Pontianak was finally fulfilled in Kuala Lumpur

It was another milestone completed in life. What's next for me? A trip to Armenia? I don't know, but what I do know is, we shouldn't stop dreaming and filling up our bucket list. It's okay if we failed to execute some entries in the list (I failed going to Bhutan, Mongolia and Kazakhstan so far, if you know what I mean, haha), but the bottomline is, you don't stop believing and trying. If life isn't about chasing our dreams and making some of the adventures come true, then it's just a routine that's not worth living...

From left: Wiwi, Anthony and CP in KL.


Daftar Keinginan

Suatu ketika istri saya berkomentar tentang betapa banyaknya teman yang saya miliki. Saya anggap itu sebuah pujian, walaupun hal tersebut belum tentu merupakan sebuah berkah. Di dunia dimana setiap orang hanya memiliki 24 jam, ini berarti saya sibuk berbagi waktu antara keluarga dan teman. Terkadang saya melakukannya dengan baik, tapi ada juga saat dimana saya keliru. Yang berikut ini, sebuah kisah unik yang bersinambungan selama dua tahun terakhir, bukan saja terasa benar, tetapi juga istimewa.

Untuk mengerti maksud saya di atas, saya perlu sebutkan satu dari beberapa hal yang menarik dalam hidup ini: daftar keinginan. Keberadaan sesuatu yang abstrak ini memberikan dorongan bagi kita untuk berusaha mencapai apa yang kita inginkan. Saya beruntung sudah berhasil menggapai beberapa hal yang saya inginkan, misalnya saja menikahi wanita yang saya cintai, menonton konser Paul McCartney dan menyeberangi zebra-crossing di Abbey Road, London. Rasanya seperti impian-impian terbesar dalam hidup yang akhirnya menjadi kenyataan! Beberapa kisah lainnya (termasuk yang satu ini), walau tidak seheboh yang baru saja saya jabarkan, tetap merupakan pengalaman yang menarik untuk dikenang dan diceritakan.

Bersama Parno, teman jenaka yang tidak pernah absen dari dunia maya.
Foto oleh: Endrico.

Seperti yang saya bahas sebelumnya dalam artikel berjudul Cintailah Orang Tuamu, munculnya WhatsApp betul-betul mengubah cara kita dalam berteman. Bagi saya sendiri, saya berkesempatan untuk berinteraksi lagi dengan teman-teman lama. Melalui proses seleksi yang terjadi begitu saja tanpa saya sadari, saya sekarang memiliki sekelompok teman yang sama selera humornya. Kita aktif bertukar pikiran dan berbagi cerita lucu menggunakan istilah yang hanya bisa dipahami oleh teman-teman yang berasal dari sekolah yang sama. 

Satu hal yang unik dari interaksi ini adalah betapa kita bisa berbincang seakan kita sudah kenal begitu lama, walau kenyataannya saya bahkan belum bertemu atau sudah lama tidak bersua dengan mereka. Saya kira pertemanan kita akan seperti ini adanya, tetapi kemudian muncul kesempatan untuk bertemu. Apa yang bermula dari percakapan biasa tentang liburan sekolah anak-anak kemudian berkembang dan berubah menjadi perjalanan ke Karawang.

Dari kiri: Alvin, Anthony, Endrico, Eddy, Hendra dan Rudiyanto sewaktu kunjungan ke Karawang.

Pada kesempatan itulah saya bertemu Susanti untuk pertama kalinya. Sekedar informasi untuk pembaca, saya memiliki ingatan yang cukup baik tentang apa yang terjadi dan siapa yang pernah saya temui di masa SMA, namun saya sama sekali tidak ada gambaran tentang Susanti. Saat di Jakarta itulah saya pertama kalinya berjumpa dan berbicara langsung dengannya. Kesan pertama saya adalah suaranya yang lucu, seperti orang yang akan menangis, haha. Meskipun demikian, dia ramah orangnya dan kita pun langsung akrab sepanjang perjalanan kita ke Karawang. Dia seperti teman lama tanpa sedikit pun kenangan di masa lalu, haha. 

Setelah kita tiba di Karawang, kita disambut oleh Hendra. Di zaman sekolah dulu, dia ini bagaikan sebuah teror karena suka mengganggu. Namun dua dekade telah berlalu dan saya tertegun saat melihat betapa sopannya Hendra sekarang. Saat kita berada di Karawang, dia tidak ubahnya seperti tuan rumah yang selalu memastikan bahwa tamu-tamunya merasa nyaman selama kunjungan. Betul-betul salut. Dia adalah bukti nyata bahwa anak laki-laki tidak selamanya kekanak-kanakan. Ada kalanya kita tumbuh dewasa juga, haha.

Harry dan Budi Hendra, di depan rumah rumah Endrico, tahun 2005. 

Beberapa bulan setelah kunjungan ke Karawang, saya pulang ke kampung halaman. Saya bertemu dengan Harry, teman yang terkenal dengan kue lapisnya, untuk menyerahkan kartu MRT yang dimenangkannya dalam lomba menulis SMS cinta yang saya adakan. Harry adalah teman dari sejak SD atau mungkin sejak TK. Tinggi dan tampan, dia tergolong populer di sekolah. Meski kita sempat sekelas beberapa kali, kita tidak akrab karena masing-masing bergaul dengan kelompok teman yang berbeda. Era WhatsApp mengubah semua itu. Ketika saya berkunjung ke tempatnya, itu adalah pertama kalinya kita bertemu lagi sejak 12 tahun silam di rumah Endrico.

Kemudian Vivi datang berkunjung ke tempat Harry juga. Di masa sekolah, saya hanya sekedar tahu namanya dan pernah melihatnya dari jauh, tapi tidak pernah berbicara dengannya. Begitu Vivi turun dari mobil dan berjalan ke arah kita, setiap langkahnya bagaikan adegan lambat dalam film. Di saat bersamaan, semua kenangan SMA berputar kembali di benak saya sambil diiringi lagu What a Feeling yang dinyanyikan oleh Irene Cara. Haha, hiperbola yang luar biasa, ya? Dan kita pun bersantap siang sambil mengobrol untuk pertama kalinya sejak tahun 1995.

Bersama Wiwi dan CP di KLCC.

Setelah perjumpaan di Pontianak, saya menyadari bahwa saya sudah bertemu dengan hampir semua teman yang akrab di dunia maya, kecuali Wiwi, seorang teman lama yang juga tidak pernah bertegur sapa dengan saya dulu. Saya lantas bercanda dengannya dan berkata bahwa saya akan menempuh jarak lebih dari 300km untuk berjumpa dengannya. Ini mungkin terdengar seperti bualan yang konyol, tapi saya selalu tergelitik dengan hal-hal seperti ini dan seringkali tergerak untuk mewujudkannya. Saya lantas membeli tiket kereta dan, setelah tujuh jam perjalanan, kita pun berjumpa di KLCC. Kebetulan saat itu CP juga sedang berkunjung ke Malaysia. Di malam itu, ketika kita menikmati hidangan di restoran, saya terkenang lagi dengan perjalanan yang membawa saya berkelana dari Singapura ke Jakarta, Karawang dan Pontianak. Petualangan ini pun berakhir di Kuala Lumpur.  

Sebuah babak kehidupan pun terselesaikan. Apa lagi yang akan terjadi? Perjalanan ke Armenia? Saya tidak tahu, tapi yang bisa saya pastikan adalah, kita tidak boleh berhenti bermimpi dan mengisi daftar keinginan kita. Tidak masalah jika kita tidak berhasil mewujudkan beberapa di antaranya (saya sendiri masih belum berhasil menyelesaikan Bhutan, Mongolia dan Kazakhstan, jika anda tahu apa maksud saya, hehe), tapi yang penting adalah kita tidak pernah berhenti untuk percaya dan berusaha. Jika hidup tidak diisi dengan menggapai impian, maka hidup itu tidak ubahnya seperti rutinitas yang tidak menarik untuk dijalani...

Bersama Eday (paling kanan), Surianto dan Taty di Singapura. Eday juga teman baik dari sejak dulu yang kembali akrab setelah era WhatsApp.



Monday, December 18, 2017

Love Thy Parents

Since the era of WhatsApp, we had this group of 30 or 40 high school alumni (the number always fluctuated as some members came and went) that always talked about all sorts of stuff. The other day, after the usual greetings that began our morning, one of us brought up an interesting topics about parents. She recently encountered an old folk and she sympathised him for still selling soy milk at his age. She made a remark that he should have been retired and taken care of by his children.

To certain extent, that opinion rang true. In an ideal situation, this should be the scenario. Nevertheless, what if the children themselves were struggling? If they already had a hard time making ends meet, how on earth they were going to support their parents? In such cases, were they going to be deemed as irresponsible children?

I didn't just make it up. If parents ever got sick, the medical expenses could be astronomically high. I just went through that and as I saw my savings depleting rapidly, I still got to put on my brave face and say, "no worries, it's alright." But I was worried as hell at times because I was also the sole breadwinner for my wife and daughters. I wasn't being petty here, but such problem was, apparently, as real as it got.

The insurance agent, the writer and the debt collector.

How should a person strike a balance here? I gave it a thought and did the survey based on the context above. My respondents were the man without fear, a homemaker, a bakery shop owner, a cargo businesswoman, an insurance agent and a debt collector. Much to my surprise, the people of my generation thought pretty much alike. Some answers were more refined than others, but they were basically the same.

The gist of it was something like this: when our parents were sick, it was only right that we footed the bill, especially when they couldn't afford it. It was our responsibility to do so. Out of love, we did it for our parents. We set aside our money for them, we could even spend our share if what we originally allocated for them wasn't enough, but we were certainly not sacrificing the savings meant for our spouse and kids. Rest assured that no ailing parents would like to see their children living miserably in debts due to their illness. If people ever questioned why we didn't do more, well, we simply couldn't stop people from commenting what they felt like saying, and that wasn't even important! As long as we'd done things answerable to our conscience and our parents knew it, that'd be it.

The cargo businesswoman. 

We also acknowledged that most of our parents were from the era where people worked hard, but often failed to understand the concept of getting insured and so forth. Now that some of us were parents ourselves, we surely didn't wish to burden our children by repeating the same vicious cycle made by the previous generations. We learnt things that our parents didn't, so we had to make a difference by having a better financial planning for our future.

While the respondents were from various walks of life, it was interesting to note that we had the same thought. Personally, I was relieved to know that I wasn't alone, because I originally thought I was cruel for thinking this way. Also worth mentioning was the comment from one of us about the fact that God provided in God's way, a unique insight that no one else seemed to mention. That, perhaps, was the missing link that eventually completed an idea that we wrote together here...

The homemaker.


Cintailah Orang Tuamu

Sejak era WhatsApp, kita memiliki sebuah beranggota 30 sampai 40 teman SMA (jumlahnya selalu fluktuasi karena ada anggota yang masuk dan keluar) yang selalu aktif membahas apa saja. Minggu  lalu, salah satu dari kita berkomentar tentang betapa dia bersimpati saat melihat ayah seorang kenalan lama yang masih berjualan susu kacang. Dia merasa sudah sepantasnya orang tua ini pensiun untuk menikmati masa senja yang dijamin oleh anaknya.  

Opininya terasa masuk akal. Di dalam situasi yang ideal, harusnya memang seperti itu. Akan tetapi, bagaimana jika anak-anak dari orang tua itu sendiri belum mapan? Bila hidup sendiri saja susah, bagaimana caranya untuk menunjang kehidupan orang tua? Jikalau mereka tidak mampu, apakah mereka lantas dituding sebagai anak tidak berbakti? 

Saya tidak sekedar mengada-ada. Hal yang paling nyata adalah, jika orang tua kita sakit, biaya pengobatannya tidaklah murah. Saya baru saja melewatinya. Di saat saya melihat tabungan saya terkuras, saya masih harus tersenyum dan berkata, "oh, tenang. Tidak apa-apa." Di balik semua itu, saya terus-terang khawatir karena saya adalah satu-satunya yang bekerja menafkahi istri dan anak-anak saya. Saya tidak berpikiran picik atau bahkan mengeluh, tetapi saya ingin menekankan bahwa masalah ini bisa terjadi pada siapa saja.

Terbersit di benak saya, apa yang harus diperbuat di dalam situasi ini supaya kita tidak mengabaikan orang tua kita dan juga tidak menelantarkan tanggung jawab terhadap keluarga kita sendiri. Kemudian saya melakukan survei berdasarkan lingkup permasalahan di atas. Para responden saya adalah seorang pria yang terkenal berani, ibu rumah tangga, pemilik toko kue, pengusaha jasa pengiriman, agen asuransi dan manajer bagian penagihan hutang. Di luar dugaan, orang-orang dari generasi saya ini ternyata berpikiran sama. Beberapa peserta memberikan jawaban lebih mendetil dari yang lain, tapi pada intinya semua saling melengkapi.

Pemilik toko kue. 

Pemikiran kita bisa dijabarkan seperti ini: ketika orang tua kita sakit, sudah selayaknya kita menanggung biayanya, terlebih lagi jika mereka memang tidak mampu membayar sendiri. Itu adalah tanggung jawab kita sebagai seorang anak. Sebagai ungkapan cinta dan bakti kepada orang tua sudah mengasihi kita sejak kita lahir, kita melakukan apa yang kita bisa untuk orang tua kita. Kita menyisihkan uang untuk mereka dan kita bahkan mungkin mengorbankan bagian tabungan yang sebenarnya kita cadangkan untuk diri sendiri, tetapi kita tidak seharusnya menghabiskan simpanan dana untuk masa depan istri dan anak-anak kita. Alasannya sederhana: tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya hidup susah dan terbelit hutang karena penyakit yang mereka derita. Jika orang lain bertanya, kenapa kita tidak menjual rumah atau menggunakan seluruh tabungan kita, percayalah bahwa kita tidak bisa menghentikan orang lain untuk berkomentar seenaknya. Kita bahkan tidak perlu meladeni mereka. Selama kita sudah melakukan apa yang kita bisa sesuai dengan hati nurani kita, orang tua akan memakluminya. Posisikan diri anda sebagai orang tua dari anak-anak anda dan anda akan mengerti pemikiran ini.

Dari jawaban-jawaban yang ada, bisa dikatakan bahwa kita juga sepakat bahwa orang tua kita berasal dari generasi pekerja keras yang menabung sebisa mereka, namun tidak semuanya memahami cara mengasuransikan diri mereka. Sekarang, di kala beberapa di antara kita telah menjadi orang tua, tentunya kita tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Kita belajar beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh orang tua kita dulu, jadi sedapat mungkin kita harus membuat perubahan dalam segi jaminan di hari tua supaya tidak membebani anak-anak kita suatu hari nanti. 

Sekali lagi, menarik untuk dicatat bahwa orang-orang yang menanggapi survei ini berasal dari berbagai kalangan dan memiliki pekerjaan yang berbeda-beda, ternyata pemikiran kita cenderung sama. Saya merasa lega setelah mengetahui bahwa pola pikir di atas bukan saja dianut oleh saya sendiri, sebab pada awalnya saya bertanya-tanya, apakah saya ini kejam karena telah berpikir seperti ini? Hal lain yang perlu disinggung juga adalah, ternyata ada satu yang berpendapat bahwa Tuhan menyediakan segalanya sesuai dengan cara dan kehendak-Nya. Pendapat ini mungkin adalah bagian yang hilang, yang akhirnya melengkapi sebuah pemikiran yang kita tulis bersama ini...

Pria pemberani. 


Thursday, December 14, 2017

Rock Show

If you look at my CDs collection, you'll notice that I'm not really a big fan of rock music. Nevertheless, I'm certainly not immune to it. When it's good, it's really good. There's no denying it, therefore I still love bands such as Bon Jovi and Guns N' Roses. They had a lot of great songs that I grew up with, from Livin' on a Prayer to November Rain.

When I heard Bon Jovi was coming to Asia, I knew I got to go. I could have just attended their concert in Singapore, but the band was sharing the stage with other acts during F1 event. I reckoned it wouldn't be a full-fledged concert, therefore I opted for their concert in Indonesia instead. Together with friends from Singapore, we flew to Jakarta on September 11, 2015.

It was my first concert experience in Indonesia since Mr. Big came to my hometown 15 years ago. Jakarta's traffic jam was notorious, so we went to Pacific Place and had early dinner at Hard Rock Cafe, then walked from there to Gelora Bung Karno. It was not exactly near, but doable.

From left: Steven, Hendra, Anthony, Muliady and Franky, taking wefie in front of the entrance gate!
Photo by Hendra. 

The most memorable moment before the concert started was the queue to the entrance. It wasn't chaotic, but it was packed to the extent that we were literally stuck there for easily an hour. There wasn't a space to wriggle freely at all! It was so bad that I remember glancing at those with backpacks, half thinking if one of them was ever a suicide bomber, we would have died at the very spot where we stood.

But we didn't die and we got to watch the concert instead. When the lights were on and the music began, I look around to find Jon Bon Jovi, never realising that the white haired man on the stage was actually him! It was only when he started singing that I noticed he was Jon.

Bon Jovi, live in Jakarta!
Photo by Franky.

He looked much older than the last time I saw him on TV. It seemed like he also never expected that the night in Jakarta would be so hot and humid. I mean, he was sweating profusely from the start, gasping for some air at times that I cringed and hoped he wasn't going to faint.

It took him quite long to adjust and the new songs that I didn't recognise clearly didn't help. Richie Sambora was notably absent, so the concert featuring a struggling front man was rather boring. Jon also had this habit of shoving the mic to the audience when he was supposed to be singing the high notes. In hindsight, I jokingly told some friends that he might have regretted writing the songs that could tear his larynx apart. Jon Bon Jovi could belt out those songs easily when he was much younger, but he couldn't sing them anymore these days.

The singer only got back to the top of the game from Keep the Faith onwards, which was like the second last song before the encore. As Jon got himself busy with maracas, he transformed into this Bon Jovi we knew and loved. The concert was eventually ended with a brilliant performance of Livin' on a Prayer. The song started slow in acoustic, then switched into full band, rocking the stadium and giving us a satisfying closure. It redeemed Bon Jovi's reputation as a world class rock band.

After the concert.
Photo by Franky. 
Having gone through such experience, you'd understand why I was a bit wary of Guns N' Roses. First of all, the concert venue was like in the middle of nowhere. On top of that, we had this unknown opening band blasting their unrecognisable loud music from afar while we were lining up for the worst queue arrangement ever in 2017 for our... hotdogs, if I remember correctly. Then came Axl Rose, putting on so much weight and looking totally different from the young man I saw on MTV back in the 90s. I immediately had doubts that he could do what he used to do. I thought this was it, I'd been Bon Jovi-ed again.

That's when I was in for a nice surprise. Axl was not only very agile, but his voice was also still solid. He ran, he jumped and he sang throughout the concert. Duff McKagan was as cool as a bass player could be. Then of course there was Slash. His curly hair, his seasoned and battered looking guitar and his legendary guitar playing, he was everything you'd like your eyes to feast on. Both Slash and Axl were the very reason why GNR was so great. I couldn't get enough of them.

Getting ready for Guns N' Roses!

They did all the good stuff ranging from Paradise City, Live and Let Die, to Sweet Child O' Mine, but none was more captivating than November Rain. Axl was on piano and the moment he played the intro, I was transported back to that tiny studio in Pontianak. I remember my friend Hardy doing his best Axl impression and here was the real deal, singing right in front of me. It was so surreal to have your dream come true, really.

Just like Bon Jovi's concert where Always was curiously missing from the set list, I had no idea why GNR didn't perform Don't Cry that night. But it was still one helluva concert. When the concert ended, it was like waking up from a childhood dream, a very loud one at that...



Konser Musik Rock

Jika anda mengamati koleksi CD musik saya, anda bisa melihat bahwa saya bukan penggemar berat musik rock. Meskipun demikian, saya suka mendengarkan lagu-lagu populer dari grup-grup tersohor seperti Bon Jovi dan Guns N' Roses. Mereka menulis banyak lagu yang mengisi hari-hari saya di Pontianak dulu, mulai dari Livin' on a Prayer sampai November Rain.

Ketika saya mendengar kabar bahwa Bon Jovi akan datang ke Asia, saya tahu saya harus menyaksikan aksi panggungnya. Bon Jovi juga datang ke Singapura, tapi hanya sebagai bagian dari aneka artis yang mengisi acara Formula 1. Oleh karena itu, saya terbang ke Jakarta bersama teman-teman Singapura pada tanggal 11 September 2015 untuk menonton konser tunggal Bon Jovi di sana.

Dan tiket pun dibeli jam 17.29 waktu Singapura!

Ini adalah pengalaman konser pertama saya di Indonesia sejak Mr. Big datang ke Pontianak 15 tahun yang lalu. Mengingat macetnya Jakarta, kita berangkat lebih awal ke Pacific Place dan makan malam di Hard Rock Cafe, lalu berjalan kaki ke Gelora Bung Karno.

Ada sebuah pengalaman menarik yang terjadi sebelum konser. Kita terjebak di tengah lautan manusia satu jam lamanya saat mengantri untuk masuk. Suasananya memang tidak rusuh, tapi kita tidak bisa bergerak maju maupun mundur. Sambil memandangi mereka yang memikul tas ransel di punggung, saya berpikir, kalau saja ada di antara mereka yang merupakan pelaku bom bunuh diri, kita pasti mati di tempat.

Akan tetapi tentu saja kita tidak mati dan jadinya berkesempatan untuk menonton konser. Ketika lampu menyala dan musik dimainkan, saya langsung fokus ke arah panggung untuk mencari Jon Bon Jovi. Setelah dia mulai bernyanyi, saya baru sadar bahwa pria berambut putih itu adalah sang bintang utama! Dia tampak jauh lebih tua dari yang saya perkirakan. Selain itu, sampai hari ini, saya selalu berasumsi bahwa sepertinya dia tidak terbiasa dengan panasnya cuaca di Jakarta. Begitu konser mulai, dia sudah banjir keringat dan seperti kehabisan napas. Saya bahkan berharap bahwa dia tidak pingsan.

Bon Jovi membutuhkan waktu cukup lama untuk beradaptasi dan bagi saya, lagu-lagu baru yang dinyanyikannya tidak membantu menghidupkan suasana. Richie Sambora juga tidak datang sehingga kelangsungan konser sepenuhnya bergantung pada Bon Jovi yang terlihat lelah dan memaksakan diri untuk menyanyi. Jon juga memiliki kebiasaan mengarahkan mikrofonnya ke arah penonton ketika dia seharusnya menyanyikan bagian lagu bernada tinggi. Karena kecenderungannya ini, saya seringkali bercanda dengan teman bahwa Bon Jovi pasti menyesal telah menulis lagu-lagu yang memaksanya untuk berteriak. Dia dengan gampang menyanyikannya dulu, tetapi sekarang ia tidak sanggup lagi. 

Pose saat antrian masuk.
Foto oleh Franky.

Bon Jovi terlihat kembali prima saat mereka memainkan Keep the Faith, lagu kedua terakhir sebelum encore. Dia dengan lincahnya memainkan maracas, persis seperti Bon Jovi yang kita lihat di TV dulu. Tidak lama kemudian, konser pun ditutup dengan lagu Livin' on a Prayer. Lagunya dimulai dengan irama pelan dan akustik. Setengah jalan kemudian, terjadi transisi dan lagunya berganti menjadi elektrik seperti yang biasa kita dengar dari rekamannya. Dengan lagu andalannya, Bon Jovi mengguncang stadion dan memuaskan dahaga penggemarnya sekaligus kembali menunjukkan kelasnya sebagai grup musik kelas dunia. 

Setelah konser Bon Jovi ini, anda pasti mengerti kenapa saya agak cemas dengan konser Guns N' Roses. Pertama-tama, konsernya berada di tempat yang terpencil dan sulit dijangkau, sesuatu yang tidak lazim untuk standar Singapura. Selain itu, antrian untuk sebuah roti hotdog juga benar-benar parah. Kita mengantri satu jam lamanya sementara grup pembuka yang tidak terkenal memainkan musik sekeras-kerasnya. Kemudian Axl muncul. Dia terlihat gemuk dan sungguh berbeda dengan pemuda yang tampil di video musik GNR di tahun 90an. Saya langsung merasa ragu bahwa dia bisa menyanyi seperti dulu. Jangan-jangan penampilannya akan seperti Bon Jovi lagi.

Saat lagi antri isi kredit buat beli makanan.
Foto oleh Eday.

Namun saya terbukti salah dalam menilai. Axl bukan saja berjingkrak hingga akhir, tapi suaranya pun tidak memudar dan masih sebagus dulu. Dia berlari, melompat dan menyanyi tanpa terlihat lelah. Duff McKagan juga ada di panggung, dengan tenang memainkan bass-nya. Slash pun tidak kalah sibuknya. Dengan rambut keriting yang menutupi mata dan permainan gitarnya yang memukau, dia membuat kita serba salah, entah harus melihat permainannya atau menonton Axl. Perpaduan dua orang inilah yang menjadi alasan kenapa GNR adalah salah satu grup paling dahsyat di dunia.

Mereka memainkan tembang-tembang terbaiknya, mulai dari Paradise City, Live and Let Die, sampai Sweet Child O' Mine, tapi yang paling berkesan adalah November Rain. Axl duduk di depan piano dan tatkala dia mulai memainkan nada pembukanya, saya bagaikan terbuai kembali ke studio kecil di Jalan Cendana di kampung halaman saya. Saya ingat teman sekolah saya Hardy yang bernyanyi dengan gaya Axl Rose dan kini penyanyi aslinya melantunkan lagu yang sama di hadapan saya. Serasa tidak percaya, tapi nyata di depan mata dan tidak terbantahkan oleh telinga.

Sama halnya seperti konser Bon Jovi yang tidak memainkan lagu Always, saya juga tidak tahu GNR kenapa tidak memainkan Don't Cry di malam itu. Akan tetapi tidak bisa disangkal bahwa penampilan mereka sangat luar biasa. Ketika konser berakhir, rasanya seperti terbangun dari sebuah mimpi masa silam yang hingar-bingar...

Guns N' Roses, live di Singapura!
Foto oleh Eday.

Saturday, December 9, 2017

The Long Walk

I remember feeling amused when I saw the picture below. For once I had the walking activity measured and recorded, therefore I could see that I'd traveled as far as almost 11km from west to east side of Singapore in roughly two hours. However, it wasn't the result, but rather the sentimental value behind it that impressed me. When I looked at it, I was reminded again about how I love walking and how I often did it when I was in Pontianak.

The night we did the after office-hours walk.

In order to understand this, you'd have to know that walking on the streets was not part of our culture. Pontianak was not a pedestrian-friendly town: it was hot, dusty and the pavement was often missing from the roadside. This perhaps was the reason why people would ride the motorbike even though it was actually very near.

I wasn't that lucky. In fact, I never had a motorbike in my entire life. I got only a bicycle or two, but for a reason that I couldn't recall now, I actually walked a lot with my school friend Parno. We did quite a distance that teenagers usually wouldn't do on foot, but it was alright for us because we could talk as we walked.

Parno and I, walking buddies, when we were in Kuching almost two decades ago.

Then came the time when I went with a bunch of school friends to Temajo, the haunted island. Throughout the entire time when we got lost, we walked from noon to evening, covering unusual landscapes such as hiking up to the hill, crossing the muddy soil with tall grasses, hopping from one stone to another another as we passed by the rock terrain. Eventually we took a dive into the sea, making our way to the hut on the other side of the gulf. That was a punishing seven-hours walk, my best record since 1998, to be broken only recently in 2017.

Earlier this year, I was organising a Singapore trip for my friends. I told them Endrico and I would be the guides and we'd explore Singapore on foot to have a glimpse of the city from a different angle. The motive was only partly revealed. What I never said until now was, I also wanted to have some fun by getting them walking while fully knowing that people from Pontianak weren't used to walking, haha. I reminded them repeatedly to get a nice pair of shoes for walking, of course.

The tourists at Boat Quay. 

As I expected, it turned out to be a happy outing. Singapore was such a fantastic city for tourist to walk around and I was glad that we did it that way because surely it was a different kind of experience for them. On the first day, we started at 8am by having breakfast in Chinatown, then we walked from there to Clarke Quay, Boat Quay, Raffles Place, Merlion, then turned right to Fullerton Bay. We headed to Marina Bay Sands and Gardens by the Bay before we turned back and went to Helix Bridge, Millenia Walk and ended that day at Suntec City. It was 11 hours of walking! The ending point of the original itinerary was Farrer Park, but we didn't make it.

The second day was supposed to be a leisure stroll from Dhoby Ghaut to Orchard, from one shopping mall to another. It rained, so we immediately skipped the rest and went from Plaza Singapura to Ion Orchard by train instead. After crisscrossing the malls up until Takashimaya, we went back to Dhoby and headed to Sengkang and Punggol to have a look at how Pontianak people were living overseas. Definitely not your usual tourist spots!

At Endrico's house. 

The third day was the morning walk from Marang Trail all the way up to Mount Faber. Afterwards, we passed by Henderson Waves and continued to Southern Ridges. We took a bus from there to VivoCity, then hopped on to another bus to Sentosa for lunch. After that, we dropped by Chinatown for a short while before we carried on to Farrer Park to visit the legendary Mustafa Centre. We ended our visit properly with a dinner at Anjappar, the tasty Southern Indian food. The tourists resumed their journey to Bugis and spent the night at Clarke Quay.

Coming from Pontianak, I think it must be torturous for them to walk like mad. On the bright side, this wasn't any regular tour where tourists were being driven around to see things from afar. This was the walking tour: up, close and personal. And this, my friend, is how you should enjoy Singapore. Keep walking!

The morning walk, at Southern Ridges.


Perjalanan Yang Panjang

Saya ingat betapa saya merasa terkesan saat saya melihat gambar pertama di atas. Di hari itu saya menggunakan aplikasi untuk merekam dan mengukur aktivitas saya dalam berjalan kaki. Dari situ saya bisa melihat bahwa saya telah menempuh jarak hampir 11km jauhnya. Saya berjalan dari barat ke timur Singapura dalam waktu kurang lebih dua jam. Kendati begitu, yang membuat saya terkesan sebenarnya bukan data yang tertera di gambar, tetapi kenangan yang tersirat. Ketika saya melihat gambar tersebut, saya teringat lagi bahwa saya suka berjalan kaki dan sering melakukannya sejak saya di Pontianak. 

Untuk memahami istimewanya hal yang satu ini, perlu dijelaskan bahwa berjalan kaki bukanlah bagian dari budaya orang Pontianak. Kota ini tidak ramah terhadap pejalan kaki karena sangat panas cuacanya, berdebu dan trotoar pun sering kali tidak ditemukan di pinggir jalan. Mungkin karena inilah orang Pontianak lebih sering mengendarai motor ke mana-mana meski dekat jaraknya.

Saya tidak seberuntung itu. Saya bahkan tidak pernah memiliki motor sepanjang hidup saya. Saya hanya pernah mempunyai sepeda, tapi untuk alasan yang tidak lagi saya ingat, dulu saya sering berjalan kaki bersama Parno, teman sekolah saya. Jarak yang kita tempuh tidaklah pendek, tapi tidak terasa bagi kita karena kita senantiasa berbincang saat berjalan.

Temajo, 2017.
Foto: Parno.

Kemudian saya mengunjungi Temajo bersama teman-teman sekolah. Ketika tersesat di sana, kita berjalan dari siang hingga senja, melewati jalan menanjak menuju bukit, menyeberangi tanah berlumpur dengan rumput liar yang tinggi di sisi kiri dan kanan, lantas melompat dari satu bongkahan batu ke bongkahan lainnya di pantai berbatu. Setelah itu kita terjun ke laut dan menghampiri pondok yang ada di tepi teluk. Total perjalanan tersebut berkisar tujuh jam dan menjadi rekor terbaik saya sejak 1998 sebelum akhirnya terpecahkan di tahun 2017. 

Di pertengahan tahun 2017, saya mengadakan kunjungan wisata ke Singapura untuk teman-teman saya. Saya katakan pada mereka bahwa saya dan Endrico akan menjadi pemandu dan kita akan berjalan kaki menjelajahi Singapura untuk melihat kota ini dari sudut pandang yang berbeda. Apa yang tidak pernah saya katakan sampai sekarang adalah, saya tertarik untuk melihat mereka berjalan kaki, meski saya tahu bahwa ini bukanlah kebiasaan mereka, haha. Supaya lancar, saya juga berulang kali mengingatkan mereka untuk memakai sepatu yang nyaman untuk berjalan.

Di terowongan Hotel Fullerton, dalam perjalanan ke Merlion.

Seperti yang saya harapkan, tur jalan kaki yang direncanakan sejak tahun lalu itu berlangsung dengan cukup baik. Singapura adalah kota yang fantastis untuk berjalan kaki. Di hari pertama, kita mulai dengan sarapan pagi jam delapan di Chinatown, lantas kita mulai berjalan ke Clarke Quay, Boat Quay, Raffles Place, Merlion, kemudian belok ke kanan, ke arah Fullerton Bay, menuju Marina Bay Sands dan Gardens by the Bay. Setelah itu kita berbalik arah ke MBS lagi dan lanjut ke Helix Bridge, Millenia Walk dan mengakhiri perjalanan kita di Suntec City. Kita berjalan 11 jam lamanya! Menurut rencana, seharusnya hari tersebut berakhir di Farrer Park, namun tidak tercapai.

Hari kedua dijadwalkan sebagai jalan santai dari Dhoby Ghaut ke Orchard, dari satu mall ke mall lain. Karena hujan, rencana pun batal dan kita langsung bertolak ke Ion Orchard dari Plaza Singapura. Setelah menembus Wisma Atria dan sampai di Takashimaya, kita kembali ke Dhoby Ghaut untuk pergi ke Sengkang dan Punggol untuk melihat bagaimana kehidupan orang Pontianak di negeri orang. Ini jelas bukan pengalaman turis biasa!

Makan malam di Punggol, saat menanti kepiting saus cabe.

Di hari ketiga, kita olahraga jalan pagi dari Marang Trail naik ke Mount Faber, lalu melewati Henderson Waves dan berakhir di Southern Ridges. Kita naik bis dari sana ke VivoCity, lalu berganti bis lagi ke Sentosa untuk makan siang. Selanjutnya kita singgah sebentar di Chinatown, kemudian menuju Farrer Park untuk mampir ke Mustafa Centre yang terkenal dan mencicipi masakan India di Anjappar yang berada di seberangnya. Malam harinya, para turis ke Bugis dan bersantai di Clarke Quay sebelum pulang pada keesokan harinya.

Bagi yang datang dari Pontianak, berjalan kaki gila-gilaan seperti ini pastilah melelahkan. Walaupun begitu, perasaan cape ini kiranya sepadan dengan pengalaman yang didapat. Ini bukan tur biasa dimana para turis hanya duduk dan diantar sampai ke tempat tujuan wisata. Ini adalah tur jalan kaki, melihat dari dekat sebuah potret kehidupan di negara ini. Dan para pembaca yang budiman, beginilah seharusnya anda menikmati kunjungan ke Singapura. Tetaplah berjalan!

Malam di Clarke Quay.

Friday, December 8, 2017

Pemimpin Berkata

Pemimpin berkata, dia dicerca namun dia memupuk Bhinneka
Secercah harapan indah merekah
Negeriku tercinta akan berubah
Namun sekarang harapan indah mereda
Pemimpin berkata, dia dipuja-puja namun dia merusak Bhinneka
Suka berkata-kata dan bersilat lidah supaya dipuja-puja
Namun dia tidak tahu rakyat jelata menjadi sengsara

Kami tetap menjaga asa
Supaya Indonesia tetap jaya
Walaupun lewat puisi dan peribahasa
Ini supaya menjaga
Agar jangan dipenjara
Oleh orang-orang yang banyak rencana

Mengejar dan memfitnah
Itu hal biasa bagi mereka
Tidak peduli anda siapa
Membungkam siapa saja yang berbeda

Mari berharap pemimpin kembali bekerja
Untuk kejayaan Indonesia

Menyuarakan pendapat...
Foto: Alvin Alexander

Saturday, December 2, 2017

The Sinking Ships

This story began when I ran out of bedtime stories for my daughter, so I told her about the sinking of Titanic. Much too my surprise, she was into it, therefore I showed her the film afterwards. We sat through the Titanic movie by James Cameron in the span of three days, doing roughly an hour each day. She loved every bit of it, but she didn't stop there and probed further (that curious kid bombarded with me with a lot of questions)! That's when we dug further about the sinking ships.

As I needed to tell the story and answered her questions (soon there was a set of default questions such as how did the ship sink, how long did it take to sink and how many people died), I learned about Britannic, the third in a trio of Olympic-class ocean liners (the other two was Olympic and Titanic). It only had a brief tenure of being a hospital ship before it hit a naval mine and sank. Then there was Lusitania, too, torpedoed by the Germans during World War I and sank within 18 minutes. Carpathia, the one that picked up the Titanic passengers from the sea, also didn't end well. Fast forward to 21st century, there was Costa Concordia and Captain Francesco Schettino whom notoriously abandoned the ship. His conversation with the coast guard was embarrassingly funny: he refused to go back to the ship because it was too dark.

Quite fascinating, I must say, but none of the tragedies was as captivating and dramatic as Titanic. Here was a ship dubbed as the Unsinkable (even right after she hit the iceberg, the ship crew still told the passenger that not even God could sink Titanic), yet she went down on her maiden voyage. 20 years after I first watched the movie, my interest in Titanic was renewed again by my research on sinking ships thus far. I was reading lot about Titanic on Wikipedia, but it was the article about the launch of the lifeboats that eventually prompted me to purchase A Night to Remember, the non-fiction book about the sinking of Titanic and the aftermath, written by Walter Lord and published in 1955. I just couldn't resist to find out more about the struggle of life and death in the final hours of Titanic.

The book opened with the scene when the iceberg was suddenly spotted by the lookout. The reaction of the passengers right after the collision that happened soon afterwards was rather amusing. They actually believed Titanic was unsinkable that they took it lightly. For the first one hour after Titanic hit the iceberg, the situation was almost normal.


Titanic collided with the iceberg at 11.40pm and sank at 2.20am. She lasted for two hours and 40 minutes, which was quite long. Titanic seemed to be steady for a while, but ship builder Thomas Andrews knew it better. The ship wouldn't stay afloat at her current state. Chaos was inevitable as it only made sense for the people to try their best to stay alive, but a century ago, the word gentleman did mean something. Not only some passengers were prepared to die, but they also did their best to escort the women and children to the lifeboats. To be able to do such thing while fully knowing that you might die was honorable.

Also worth mentioning here was the ship crews. Jack Philips, the wireless officer, was tapping frantically to get the message out to the nearest ships until he was released from his duty at 2.05am by the captain. Second Officer Lighttoller and others were busy launching the lifeboats, boarding women and children first. They worked extra hard right till the end. Some even went down with the ship and survived only by sheer of luck.

Then came the final moment. Unlike other ships that I read where they were listing and eventually collapsed on one side before sinking, Titanic was actually broke into two, leaving the other half of the ship standing tall in the starlit night before it went down entirely into the bottom of the sea. It must be quite a sight and a humbling experience for the rich and poor people alike. The unsinkable Titanic, the ship that not even God could sink, was heading down to the seabed and eventually no more. The Atlantic ocean went quiet afterwards, when the swimming people died of hypothermia.

Few hours later, the rescue came in the form of Carpathia. They did the best their could, but weren't fast enough to be there. The nearest ship, Californian, was uncontactable, even though some of the ship crews were actually observing the strange behavior of Titanic from afar until she went dark and presumably disappeared due to unknown reason. It was just unfortunate. I could only wonder if Californian, the ship that also warned Titanic about the iceberg earlier, picked up the message and sped up to the location, but it wasn't meant to be.

It's been more than 100 years since that fatal incident, but the interest on Titanic never waned. It was a cautionary tale about the arrogance of mankind and we learnt it the hard way. It was a romance, for it was a beautiful story about the noble struggle in the face of death. It was a tragedy like no other, hard to believe and yet it happened. That, indeed, was a night to remember...

RMS Titanic.


Kapal-Kapal Yang Karam

Cerita kali ini bermula ketika saya kehabisan dongeng sebelum tidur untuk putri saya, jadi saya mengisahkan tenggelamnya Titanic kepadanya. Di luar dugaan, ternyata dia tertarik tentang Titanic. Oleh karena itu, selama tiga hari berturut-turut, saya duduk bersamanya untuk menonton film Titanic yang disutradarai James Cameron, tiap malam selama satu jam. Dia suka filmnya, kian penasaran dan bertanya lebih jauh lagi tentang Titanic dan kapal lain yang bernasib sama. Berawal dari situlah saya mencari tahu lebih banyak lagi tentang kapal-kapal yang karam.

Karena saya harus bercerita dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Linda (lambat-laun yang ia tanyakan selalu berkisar tentang bagaimana kapal tersebut tenggelam, berapa lama kapal tersebut karam dan berapa banyak jumlah korbannya), saya akhirnya belajar tentang Britannic, kapal ketiga dari trio kapal laut kelas Olympic (dua kapal lainnya adalah Olympic dan Titanic). Britannic yang diluncurkan sebagai kapal rumah sakit berumur kurang dari setahun dan akhirnya tenggelam setelah menabrak ranjau di laut. Lantas ada lagi yang namanya Lusitania, kapal penumpang yang menjadi sasaran torpedo Jerman dalam Perang Dunia Pertama dan terbenam dalam waktu sesingkat 18 menit. Carpathia, kapal yang menyelamatkan penumpang Titanic, juga bernasib sama. Di abad 21, ada kapal pesiar bernama Costa Concordia dan Kapten Francesco Schettino yang terkenal karena kabur duluan setelah kapal yang dikemudikannya menabrak karang. Percakapannya dengan penjaga pantai terkesan lucu dan memalukan: dia bersikukuh untuk tidak kembali ke kapal karena malam itu sangat gelap.

Kisah-kisah kapal tenggelam ini sangat mencengangkan, tetapi tidak ada yang lebih menarik dan dramatis dari Titanic. Kapal ini digembar-gemborkan sebagai kapal yang tidak akan tenggelam (bahkan setelah menabrak gunung es pun awak kapalnya masih berujar bahwa bahkan Tuhan tidak bisa menenggelamkan Titanic), namun siapa sangka riwayatnya justru berakhir di tengah pelayaran perdana? 20 tahun setelah saya menyaksikan film tersebut untuk pertama kalinya, rasa ingin tahu saya terhadap Titanic membara lagi setelah saya membaca tentang kapal-kapal lainnya. Saya melahap segala macam informasi tentang Titanic di Wikipedia, namun saat saya membaca tentang sekoci-sekoci yang diluncurkan sewaktu Titanic mulai tenggelam, saya akhirnya tidak bisa menahan diri untuk membeli A Night to Remember, buku non-fiksi tentang saat-saat terakhir Titanic dan sesudahnya. Buku ini ditulis oleh Walter Lord dan diterbitkan di tahun 1955. Saya sungguh penasaran tentang informasi mendetil dari perjuangan hidup-mati para penumpang dan awak kapal Titanic.

Buku ini dibuka dengan adegan dimana awak kapal tiba-tiba tersentak oleh keberadaan gunung es di depan Titanic. Seperti yang kita ketahui, tabrakan tersebut tidak terelakkan, namun reaksi para penumpangnya sangat tidak lazim. Banyak dari mereka yang percaya bahwa Titanic tidak bisa tenggelam. Oleh sebab itu, mereka menganggap enteng benturan tersebut dan tenang-tenang saja. Selama satu pertama, situasi di kapal hampir bisa dikatakan normal.

Titanic menabrak gunung es jam 11.40 malam dan tenggelam jam 2.20 pagi. Kapal tersebut masih sempat mengapung selama dua jam 40 menit. Setelah benturan, kapal berukuran besar itu masih terlihat stabil, tapi arsitek kapal Thomas Andrews tahu bahwa Titanic tidak akan bertahan. Pada akhirnya kekacauan pun merebak tatkala para penumpang mencoba untuk menyelamatkan diri. Kendati begitu, satu abad silam, sikap pria sejati bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi juga perbuatan nyata. Ada di antara penumpang yang bukan saja siap untuk mati, tetapi mereka juga memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengawal wanita dan anak-anak ke perahu darurat. Orang yang masih sanggup berbuat seperti itu walau tahu resikonya patut dihormati.

Yang juga layak disebut di sini adalah para awak kapal. Jack Phillips, petugas telegraf, tidak henti-hentinya berusaha mengirimkan pesan ke kapal-kapal terdekat sampai ia dibebastugaskan oleh sang Kapten jam 2.05, sekitar 15 menit sebelum kapal tenggelam. Komandan Kedua Lighttoller beserta kelasi lainnya sibuk meluncurkan sekoci, bekerja keras hingga akhir. Tidak sedikit di antara mereka yang turut tenggelam bersama Titanic, meski beberapa di antaranya terselamatkan oleh keberuntungan semata.

Kemudian tibalah saat-saat terakhir Titanic. Berbeda dengan kapal-kapal lain yang miring dan roboh ke samping sebelum karam, Titanic terendam di bagian depan sebelum retak dan patah menjadi dua. Peristiwa tersebut membuat bagian belakang kapal terangkat tinggi secara vertikal di tengah malam bertaburan bintang. Pemandangan yang luar biasa itu pasti sangat mencekam bagi mereka yang melihatnya secara langsung dari sekoci (Bruce Ismay, presiden perusahaan pemilik Titanic, memalingkan wajahnya karena tidak sanggup untuk melihat). Kapal yang konon tidak akan tenggelam bahkan oleh kuasa Tuhan sekali pun ini kini menyongsong akhir hayatnya, melesat turun ke dalam lautan dan lantas sirna begitu saja. Samudera Atlantik lantas menjadi sunyi kembali setelah mereka yang berenang akhirnya meninggal karena kedinginan (menarik untuk dicatat bahwa ada seorang pemanggang roti selamat dari dinginnya laut karena badannya hangat setelah meminum alkohol sebelum kapal tenggelam).

Pertolongan akhirnya datang beberapa jam kemudian dalam wujud Carpathia. Kapten dan awak kapalnya telah berusaha sebisa mereka, tapi tidak cukup cepat untuk berada di lokasi. Kapal terdekat, Californian, gagal dihubungi meskipun beberapa awak kapalnya sempat mengamati kapal aneh di kejauhan yang disinyalir adalah Titanic, yang tiba-tiba padam lampunya dan menghilang begitu saja. Saya sempat membayangkan, seandainya saja Californian yang sempat memperingatkan Titanic tentang bahaya gunung es di kawasan tersebut itu sempat menerima pesan gawat darurat dari Titanic dan melaju untuk memberikan pertolongan, tapi tentu saja itu tidak pernah terjadi. Sayang sekali.

Dan lebih dari 100 tahun telah berlalu semenjak kecelakaan fatal itu, tapi minat terhadap Titanic tidak pernah pudar, mungkin karena kisahnya yang bercerita tentang keangkuhan manusia yang akhirnya dibayar mahal dengan korban jiwa. Di saat yang sama, Titanic adalah kisah perjuangan, keberanian dan kehormatan dalam menghadapi maut. Selain itu, Titanic juga merupakan sebuah tragedi, sulit dipercaya tapi pernah terjadi. Malam itu, 15 April 1912, adalah suatu malam yang tidak akan terlupakan...