Total Pageviews


Monday, October 26, 2020

The Curious Skill Of Walking Away

I think it's safe to say that I'd been doing IT troubleshooting for the past two decades. From college, Kalbe days, till now. I could tell you that there was an inexplicable fun in solving problems. Of course some days could be so miserable that I had to questioned myself, how on earth did I end up with this job again? Life as an IT man was pretty unpredictable that there was never a boring moment. That's what kept me going, I reckon.

Along the way, I learnt many things. Some weren't technical at all, including the one that I'd like to share with you today. This particular skill was rather unique and I couldn't say if I had mastered it properly, because it was a rather contradicting one. In order to understand why I said so, allow me to take one big round to explain.

You see, oftentimes, when I was so engrossed in troubleshooting, there was this lingering feeling that I was so close to solving it. Perhaps it got to do with my ego and, unfortunately, ego was a double-edged sword. As I pushed myself to carry on trying, I either made it or was misled even further from the truth.

This is where the skill of walking away became useful. I first stumbled upon this in college, when I got a problem with the html coding. I didn't really recall how or why I decided to walk away, especially from something as important as a dissertation for college degree, but it must be really bad that I really couldn't go any further. 

Much to my surprise, new ideas came rushing in not long after I stopped trying. I then realized that I had taken a wrong turn that the harder I tried, the worse it got. By walking away and letting go, albeit reluctantly, I accidentally gave myself a chance to look at things from a different angle.

I couldn't speak for others, but prior to this event, I often heard that giving up was so shameful that it was not even an option. Nobody told me that I could walk away for a while. Furthermore, this act of walking away was not the same as giving up. It was more like losing a battle, but you'd eventually return and win the war. 

Later on in life, I also learnt that the same skill was also useful in responding to others. To be specific, some emails could be downright rude and they pissed you off. Replying them immediately while you were angry might have a disastrous impact. You were not in the right mind and your judgement was clouded, therefore it was wiser for you to walk away. Just go and take a leak or something. You'd be surprised how this actually gave you time to process the unpleasant information and react to it in a better way. 

By now, hopefully you got the idea that walking away was not necessarily a negative or wrong thing to do. Doing so might actually provide you the solution you had been looking for. But like I said earlier, it wasn't a skill that came naturally, at least not for me. My biggest challenge was, sometimes I didn't always know when to stop. That, perhaps, is another skill that I've yet to learn, haha.

Do I stop or carry on?
Photo by Nicholas Tham.

Keahlian Dalam Berhenti Sejenak Dari Masalah

Kalau saya lihat kembali, rasanya tidak salah untuk berkata bahwa saya sudah bergelut di bidang IT troubleshooting selama dua dekade. Ya, mulai dari kuliah, waktu di Kalbe, sampai hari ini. Apa yang saya kerjakan ini memberikan kesenangan tersendiri. Tentu saja ada juga hari-hari yang begitu buruknya sehingga saya jadi bertanya sendiri, kenapa saya memilih profesi ini. Akan tetapi hidup seorang IT tidak pernah membosankan, terutama karena ada saja aneka masalah yang bermunculan setiap hari. Saya kira tantangan inilah yang membuat saya suka dengan pekerjaan saya. 

Selama 20 tahun ini, saya belajar banyak hal. Tidak semua bersifat teknis, termasuk juga apa yang hendak saya bagikan ini. Keahlian ini agak unik dan saya sendiri tidak begitu menguasainya. Untuk memahami kenapa saya berkata demikian, mari simak penjelasan berikut ini.

Yang namanya troubleshooting itu sangat menyita perhatian dan senantiasa ada kesan kalau masalah yang dihadapi sepertinya akan segera teratasi. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan ego yang tak ubahnya seperti pedang yang tajam di dua belah sisinya. Semakin saya memaksakan diri untuk tetap mencoba, bisa jadi peluang saya untuk berhasil menjadi semakin besar. Di satu sisi, kalau saya salah langkah dari sejak awal, yang terjadi justru saya kian terjerumus lebih dalam lagi.  

Di situasi seperti inilah keahlian untuk berhenti sejenak dari masalah itu berguna. Saya pertama kali menyadari hal ini ketika saya menghadapi masalah dalam pemrograman html di semester terakhir kuliah. Saya tidak ingat lagi kenapa saya memutuskan untuk berhenti, terutama saat mengerjakan hal sepenting skripsi. Mungkin saja saat itu saya sudah benar-benar merasa buntu.  

Ketika saya melangkah pergi dari komputer, mendadak ide-ide baru bermunculan. Saya tertegun, lalu menyadari bahwa saya sudah keliru dari sejak awal, sehingga semakin dikerjakan, semakin salah pula jadinya. Ketika saya berhenti sejenak, secara tidak sengaja saya memberikan kesempatan bagi saya sendiri untuk melihat kembali apa yang saya kerjakan dari sudut pandang yang berbeda. 

Saya tidak tahu apakah anda sering mendengar tentang hal ini, tapi sedari kecil, saya sering mendengar bahwa menyerah itu adalah perbuatan yang memalukan. Menyerah itu bukan pilihan. Akan tetapi tidak pernah ada yang memberitahukan kepada saya bahwa sebenarnya saya bisa berhenti sejenak. Lebih penting lagi, berhenti sejenak itu tidak sama dengan menyerah. Mungkin lebih cenderung menyerupai kekalahan dari suatu pertarungan, tapi akhirnya kita akan kembali dan memenangkan pertempuran. 

Ketika usia saya kian bertambah, saya mengamati bahwa keahlian yang sama juga bisa dipergunakan saat kita hendak merespon pendapat orang lain. Lebih spesifik lagi, yang namanya email kantor itu kadang ada yang kasar isinya dan mengesalkan pula. kalau kita jawab langsung saat emosi kita terpicu, bisa saja timbul kesalahpahaman yang sebenarnya bisa dielakkan. Di saat seperti ini, lebih baik kita menjauh sebentar. Mungkin ke toilet dan kencing saja dulu, haha. Dalam waktu singkat, anda akan merasa lebih tenang dan bisa mencerna informasi dengan lebih rasional. Alhasil, anda pun bisa menyikapinya dengan lebih baik. 

Sampai sejauh ini, saya harap anda mengerti bahwa berhenti sejenak dari masalah yang sedang anda hadapi bukanlah sesuatu yang negatif. Justru sebaliknya, mungkin saja anda menemukan solusi yang tadinya anda cari-cari. Namun seperti yang saya jelaskan sebelumnya, keahlian ini bukanlah sesuatu yang terasa alami bagi saya. Tantangan terbesar saya adalah, terkadang saya tidak tahu kapan saya harus berhenti. Mungkin saja ini adalah sesuatu yang masih harus saya telaah dan pelajari, haha. 

Sunday, October 18, 2020

Book Review: Tintin

I told you before that comics were quite a permanent fixture in my childhood. In hindsight, the fact that I love reading might be started by this hobby of comics reading. I was lucky that a small town such as Pontianak had so much for kids to read. Back in the 80s and 90s, I read American comics featuring both DC and Marvel superheroes as well as Disney characters like Scrooge McDuck, European comics such as Smurf, Hong Kong manhua that was started by Tiger Wong and a lot of Japanese manga, for example One Piece.
During that period, I noticed Tintin, too. I remember browsing through Destination Moon at my cousin's house. However, I wasn't a fan back then. Tintin had too much words to read, haha. Furthermore, it wasn't as funny as Asterix. It was only much later in life that I started to appreciate Tintin. The girl I liked, who turned out to be my wife now, was an avid fan. That's when I began reading Tintin again.

The framed covers Yani bought in Vietnam.

Now, the girlfriend effect aside, Tintin was actually cool. Of course Tintin wasn't as crazy as Asterix (anyway, one was Belgian, the other was French, haha), but he was just as adventurous. When I bought Yani the Adventures of Tintin that collected three stories in one book, I read it, too. I was impressed by the Broken Ear. Even the title sounded mysterious! That's when I found out that Tintin was fascinating, too.

Fast forward to year 2020, I suddenly saw an ad on Facebook that a Tintin box set, collecting stories from Tintin in America to Tintin and the Picaros, was offered at only SGD 55. To think that the usual price is about SGD 210 on or USD 108 on! Yes, it wasn't a complete box set and I had no idea why Tintin in the Land of the Soviets, Tintin in Congo and Tintin and Alph-Art were excluded. But still it was a good deal, so I grabbed the box set immediately. 

The book I bought for her. It was through this book that I read the Broken Ear for the first time.  

That's how my adventure with Tintin resumed. The first book, Tintin in America, felt very odd and disjointed, but then it got better. The Blue Lotus was an early masterpiece. Chang, the Chinese character in the story, was actually based on Hergé's lifelong friend. He would reappear again 25 years later, this time in a story called Tintin in Tibet. This was also another good entry.

Now, how did I know this background story? Well, every time I finished an episode, I checked it out on Wikipedia. Some of Tintin's adventures, including the Blue Lotus, were very old that they were actually written before World War II. It portrayed events that happened during that period. Early stories felt stereotyping at times, but Hergé did his homework and his writing from the Blue Lotus onwards outgrew this kind of storytelling. 

Our latest Tintin box set and its content!

Apart from this, Hergé's effort in making his story as realistic as possible in the era before internet is also worth noting. Case in point, 15 years before Neil Armstrong became man on the moon, Tintin and friends set foot there and had a mind-blowing adventure. For a comic book, the details and accuracy were quite impressive.

Talk about Tintin's friends, one simply couldn't ignore the fun of having Captain Haddock around. He and his penchant for cursing made the story alive. My favourite is bashi-bazouk! I mean, how's an Ottoman soldier a curse word? Haha. Then there were Thomson and Thompson that provided, to be precise, a hilarious one liner.

Tintin did have a lot of recurring characters, be it bad guys or good guys. This, coupled with adventures such Prisoners of the Sun (another grand title that I like), the Castafiore Emerald (an unusual adventure at home) and Flight 714 to Sydney (Tintin's visit to Jakarta), is what made Tintin great. For a series that is almost 100 years old, it's amazing how Tintin stays readable and relevant. 

When the books are lined up, they spell Tintin!

Ulasan Buku: Tintin

Saya pernah bercerita sebelumnya bahwa komik senantiasa mengisi masa kecil saya. Kalau saya lihat kembali, hobi saya dalam hal membaca mungkin dimulai dengan komik. Saya beruntung karena meski kecil kotanya, Pontianak memiliki aneka komik bagi anak-anak tahun 80an. Saya membaca komik Amerika yang menampilkan para pahlawan super DC dan Marvel. Selain itu ada juga komik Disney seperti Donal Bebek dan Paman Gober. Lalu ada lagi komik Eropa seperti Smurf, komik Hong Kong seperti Tiger Wong dan komik Jepang seperti One Piece
Di masa ini saya juga sempat membaca sekilas tentang Tintin. Saya ingat bahwa saudara saya memiliki buku yang berjudul Ekspedisi ke Bulan. Akan tetapi Tintin panjang dialognya sehingga banyak yang harus dibaca, haha. Lagipula Tintin tidak selucu Asterix yang saya gemari pada saat itu. Setelah beranjak dewasa, saya baru kembali menyimak Tintin. Gadis yang saya sukai, yang kemudian menjadi istri saya, adalah penggemar Tintin. Dari sinilah saya mulai membaca Tintin lagi. 

The framed covers Yani bought in Vietnam.

Tanpa efek seorang pacar pun Tintin tetap enak dibaca. Ya, cerita Tintin memang tidak segila Asterix (jelas beda karena satu dari Belgia, satunya lagi dari Perancis, hehe), tapi seperti halnya Asterix, Tintin juga bertualang ke banyak tempat. Ketika saya membeli the Adventures of Tintin untuk Yani, saya juga membaca kisahnya dan terpesona dengan Patung Kuping Belah. Judulnya berkesan misterius! Dari buku inilah saya mulai menyukai Tintin. 

Kira-kira sebulan yang lalu, saya melihat iklan tentang koleksi Tintin di Facebook. Kumpulan ceritanya berawal dari Tintin di Amerika sampai dengan Tintin dan Picaros. Harganya cuma SGD 55 atau sekitar 600 ribu rupiah. Sekedar perbandingan, koleksi Tintin yang serupa dijual seharga SGD 210 (2,3 juta rupiah) di atau USD 108 (1,6 juta rupiah) di Jadi iklan Tintin yang dijual di Shopee ini benar-benar banting harga. Ya, koleksi yang satu ini tidak menyertakan Tintin di Soviet, Tintin di Kongo dan juga Tintin dan Alph-Art, namun tetap saja menarik dengan harga semurah itu, jadi saya langsung memesan satu set.

Buku yang saya beli untuk Yani.  Lewat buku inilah saya membaca kisah Patung Kuping Belah untuk pertama kalinya.

Saya lantas melanjutkan lagi petualangan bersama Tintin. Kisah pertama, Tintin di Amerika, terasa seperti penggalan cerita yang digabung menjadi satu dan tidak terlalu berkesinambungan. Kendati begitu, Lotus Biru yang merupakan kisah ketiga di buku pertama adalah sebuah karya yang bagus. Chang, bocah Cina yang muncul di tengah cerita, terinspirasi dari teman baik Hergé yang juga sama marganya. Setelah episode ini, Chang muncul lagi 25 tahun kemudian di dalam cerita Tintin di Tibet. Ini juga kisah yang menakjubkan. 

Oh ya, mengapa saya bisa tahu latar belakang Chang? Setiap kali saya menyelesaikan satu cerita, saya membaca tentang sejarahnya di Wikipedia. Beberapa petualangan Tintin, termasuk Lotus Biru, ditulis sebelum Perang Dunia II. Kisah Tintin menampilkan peristiwa yang terjadi pada saat itu. Ada kalanya karya awal Hergé terkesan stereotip, namun Hergé lantas melakukan riset dan tulisannya mulai sejak Lotus Biru kian menjauhi stereotip pada saat itu. 

Kumpulan kisah Tintin.

Selain itu, upaya Hergé dalam membuat cerita yang akurat dan realistis di era sebelum internet juga menarik untuk dicatat. 15 tahun sebelum Neil Armstrong menjejakkan kaki di bulan, Tintin dan teman-temannya sudah menjelajah permukaan satelit bumi kita ini. Untuk ukuran komik, detil dan keakuratannya sangat mengesankan. 

Berbicara tentang teman-teman Tintin, adalah Kapten Haddock yang membuat cerita menjadi lebih hidup. Saya suka sumpah serapahnya yang tidak karuan dan favorit saya adalah bashi-bazouk. Frase ini sebenarnya berarti prajurit bangsa Ottoman yang berasal dari Turki, haha. Kemudian ada lagi. Thomson dan Thompson, dua detektif yang tidak kompeten dan lucu komentarnya. 

Tintin memiliki banyak tokoh yang muncul berulang kali, baik karakter baik maupun jahat. Hal ini, ditambah lagi dengan petualangan yang menarik seperti Tawanan Dewa Matahari (satu lagi judul yang mistis dan mengesankan), Zamrud Castafiore (satu-satunya petualangan yang terjadi di rumah Kapten Haddock) dan Penerbangan 714 (Tintin mampir ke Jakarta), adalah alasan kenapa Tintin memang memukau. Untuk serial yang hampir berumur 100 tahun, luar biasa rasanya bahwa Tintin masih relevan dan enak dibaca. 

Kalau bukunya diurut, akan tereja nama Tintin!

Wednesday, October 14, 2020

The Mystery Of Staying Healthy

When I suggested to my daughter to turn off the aircon, she often replied me this, "you are from Pontianak, Papa. That's why you can stand the heat."

I'd smile when I heard that. I reckon there was some truth in her innocent comment. I don't recall complaining about the weather in Singapore and I certainly could sleep soundly without aircon at night. 

Furthermore, come to think of it, the concept of turning on the aircon just for us to hide beneath the comforter were a rather strange behaviour. It was like trying to stay warm in a room conditioned to be below 20 degrees. What a struggle! We might as well switch off the aircon and sleep without any blankets.

And that's exactly what I did last December, when my family went back to Bandung. Since I slept alone, I had the liberty of not switching on the aircon. I noticed that when the night was hot, there was this feeling that I had slept for long hours, though in reality it was only two or three hours. I knew this because sometimes I checked my phone when I woke up to drink water. After midnight, the temperature normally dropped and I really had a good sleep. It got even better when it was raining! Since then, I enjoy sleeping without aircon again. It felt just nice.

Right around the same time, I had a trip to Semarang with high school friends. I knew we'd hang out till late at night, so I took vitamin C as an antioxidant and a way to boost up immunity. Simply put, I didn't wish to fall sick, but long after holiday was over, the habit continued. My work could be stressful and long hours at times. Since I didn't eat fruits regularly, I thought vitamin C would help.

Now, up until here, you might be wondering why I'd been telling you two seemingly unrelated events. The truth is, I used to suffer from the complete package of illness every two or three months: sore throat, runny nose and fever. However, it'd been close to a year since I first did two things I mentioned above and I never fell sick thus far. I still sneezed a bit sometimes, but I had neither sore throat or fever. It was unprecedented! 

I don't really know which one is the main contributing factor of me being so healthy. There were times when I thought that perhaps it got to do with the mindset. I mean, yes, vitamin C might have done its job, but let's not discount the fact that I might have been subconsciously telling myself I always felt healthy after consuming vitamin C. Talk about the power of suggestion!

I did a basic check-up recently and the result was good, so there was no side effect of taking vitamin C for the past 10 months. It'd been quite unbelievable and miraculous, I'd say, because I never expected to be in such a good health for almost one year. I hadn't even touched my 14 days sick leave entitlement yet! What I did worked out well for me, so if this story makes any sense to you, feel free to give it a try!

Vitamin C and aircon.

Misteri Kesehatan

Setiap kali saya menyarankan putri saya untuk mematikan AC, dia sering menjawab saya seperti ini, "tapi Papa berasal dari Pontianak, makanya bisa tahan cuaca panas." 

Saya tersenyum saat mendengar celotehannya yang polos itu. Mungkin ada benarnya juga. Saya tidak ingat kalau saya pernah mengeluh tentang cuaca di Singapura dan saya tetap bisa tidur nyenyak tanpa AC di malam hari.

Kalau dipikirkan lebih lanjut, konsep menyalakan AC dan lantas bersembunyi di balik selimut itu sebenarnya agak janggal. Kita jadi seakan-akan mencari kehangatan di dalam ruangan yang kita atur temperaturnya sehingga berada di bawah 20 derajat. Akhirnya jadi semacam perjuangan! Daripada repot begitu, kenapa tidak kita matikan saja AC-nya dan tidur tanpa selimut? 

Dan ini yang saya lakukan di bulan Desember lalu, ketika istri dan anak-anak pulang ke Bandung. Karena tidur sendiri, saya memiliki kebebasan untuk tidak menyalakan AC. Saya amati bahwa di kala panas itu saya rasanya sudah tidur lama sekali, padahal kenyataannya cuma dua atau tiga jam. Saya bisa mengetahui hal ini karena saya memiliki kebiasaan untuk mengecek telepon genggam saat terbangun untuk minum air putih. Di tengah malam, cuaca akan berubah menjadi dingin dan jadi enak untuk tidur. Bilamana malam itu hujan, akan lebih nyenyak lagi tidurnya. Sejak itu, saya kembali menyukai tidur tanpa AC. Rasanya pas!  

Di saat yang hampir bersamaan, saya berlibur bersama teman-teman SMA ke Semarang. Saya tahu bahwa kita akan berbincang hingga larut malam, jadi saya rutin meminum vitamin C sebagai antioksidan yang berguna untuk menjaga imunitas tubuh. Kebiasaan ini lantas berlanjut. Pekerjaan saya terkadang panjang waktunya dan saya senantiasa harus berpikir cepat dan fokus untuk memecahkan masalah. Karena saya jarang makan buah, saya pun konsumsi vitamin C secara rutin. 

Sampai di sini, anda mungkin heran, kenapa saya bercerita tentang dua hal yang sepertinya tidak saling berkaitan ini. Jujur saya sampaikan bahwa sebelum ini, saya sering sakit tenggorokan, batuk, pilek dan demam setiap dua atau tiga bulan sekali. Namun sekarang, semenjak saya mulai melakukan dua hal di atas, hampir setahun lamanya saya tidak pernah sakit lagi. Terkadang saya masih bersin sedikit terutama di pagi hari, ketika bangun tidur, tapi tidak lagi sakit tenggorokan, batuk, pilek dan demam. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. 

Saya tidak tahu persis apa yang menjadi faktor utama dari kesehatan yang prima ini. Ada kalanya saya jadi merasa apakah ini hanya kekuatan pikiran semata, hehe. Ya, vitamin C memang ada khasiatnya, tapi mungkin juga kebiasaan mengkonsumsi vitamin C ini menjadi sugesti tanpa sadar bagi saya sehingga selalu merasa sehat. 

Baru-baru ini saya melakukan check-up tahunan dan hasilnya bagus. Tidak ada dampak negatif dari konsumsi vitamin C selama 10 bulan terakhir ini. Rasanya sulit dipercaya dan ajaib, sebab tidak pernah terpikirkan bahwa saya akan sesehat ini. Saya bahkan belum pernah cuti sakit sekalipun sepanjang tahun ini. Nah, jika semua ini terdengar masuk akal dan membuat anda terinspirasi, silahkan dicoba! 

Saturday, October 3, 2020

About Noodles

The food section was started with Fried Rice Mania simply because I am a big fan of fried rice. However, there was a time when that wasn't the case. I was brought up with a mindset that fried stuff was heaty, therefore it must be avoided at all costs. I never questioned the doctrine because indeed it got me sore throat and made me cough. Hence for the first 22 years of my life, my favorite food was actually noodles.

Yam mie by my friend, Sunarto. His parents started Bakmie Kepiting "Hong Tian". 

We had talked about instant noodles before, so we'd skip it this round. The noodles that I was referring to here was what we called yam mie in Pontianak. Yes, noodles could be fried or served in a bowl soup, but yam mie was the finest culinary art that was ever crafted by the street food vendors back in the 80s. It was a bowl of greatness: noodles cooked with boiling hot water, then drained and stirred with pork, lard and vinegar, ultimately served with various toppings such as prawn, fish ball, fried wonton and, of course, crab meat. I had one at Bakmie Kepiting "Hong Tian" in Jakarta last December 2019 and it did taste like an extremely happy childhood!

From top left, clockwise: yamien at Lucky Mie, cwimie at Depot Hok Lay, bakmie Siang Kie and Bakmie Aloi. 

When I grew up and traveled to other cities in Indonesia, I learnt that Chinese from as far as Medan to Malang actually had a similar cooking style. Yes, the vinegar and crab meat ingredients are distinctively Pontianak, but other than that, the look and feel are quite similar. You might call it yamien in Tasik, cwimie in Malang, bakmie in Semarang, but they were essentially the same cuisines with different toppings. Only Bakmie Aloi had a slightly different appearance thanks to the thick noodles.

Enjoying our dinner at 999 Shan Noodle Shop.

As I started traveling around the region, it turned out that other countries also prepared the noodles in a similar manner. When I had my first overseas trip, I fell in love with kolo mee, a signature dish in Kuching. For easily the past 10 years in Singapore, I had been enamoured of Say Seng noodles. It was established in 1960 and based on the tagline, they served the authentic Teochew style. Even in a place as far as Yangon there was this delicious 999 Shan noodles. I concluded that if there was a Chinese population in town, you'd have to your noodles cooked this way. 

From top to bottom: kolo mee, Say Seng noodles and bakmie ayam.

But of course noodles aren't monopolized by Chinese alone. What the non-Chinese did added more varieties to noodles culture. As Muslims can't eat pork, they sell bakmie ayam. Good stuff. But as mentioned earlier, there are other ways of serving noodles. That's how we end up having Malay's mee rebus (served with sticky gravy), lor mee (served with even stickier gravy), Hokkien mee (fried and wet), Hong Kong noodles (fried and dry), Thai mee krob (crispy noodles), Indian mee goreng (it's red color!), Japanese ramen and soba (thin Chinese noodles and thick Japanese noodles), etc. The list is endless! Even the Europeans came up with the long lost cousin called pasta and I love aglio olio (spaghetti tossed in olive oil)!

First row, from left: mee rebus, white lor mee, Hokkien mee.
Second row: Hong Kong noodles, Thai mee krob, Indian mee goreng.
Third row: ramen, soba, aglio olio. 

In a world where we are spoiled with too many options that we may or may not like, it's good to have something as consistent as noodles. Regardless where you go, noodles will be there for you. But you know what's even more amazing? You can actually find all the cuisines I mentioned in the previous paragraph here in Singapore! Best place ever for noodles lovers!

Tentang Mie

Topik makanan di Roadblog101 dibuka dengan Fried Rice Mania karena saya memang penggemar nasi goreng. Akan tetapi ada suatu ketika di dulu kala dimana saya tidak kecanduan nasi goreng. Sedari kecil, saya dididik dengan pemahaman bahwa yang goreng-goreng itu bikin panas dalam, jadi sudah sepatutnya dihindari. Saya sendiri tidak pernah mempertanyakan hal ini, sebab buktinya saya jadi sakit tenggorokan dan batuk kalau kebanyakan makan makanan yang digoreng. Oleh karena itu, selama 22 tahun pertama dalam hidup saya, apa yang saya sukai itu sebenarnya mie. 

Yam mie yang dijual teman saya, Sunarto. Yang memulai usaha Bakmie Kepiting "Hong Tian" adalah orang tuanya.

Kita sudah berbicara tentang Indomie sebelumnya, jadi tidak kita bahas lagi pada kesempatan ini. Mie yang saya maksudkan kali ini adalah apa yang kita sebut yam mie di Pontianak. Ya, mie bisa saja digoreng atau dimasak kuah, tapi yam mie ini adalah seni memasak mie terbaik yang diciptakan oleh para penjual mie di tepi jalan. Pokoknya ada kehebatan tersendiri dalam satu mangkok ini: mie dimasak dengan air panas mendidih dan kemudian ditiris, lalu dikocok dengan minyak babi dan cuka, selanjutnya aneka lauk mulai dari udang, bakso ikan, pangsit goreng dan daging kepiting pun ditaburkan di atasnya. Terakhir kali saya mencicipi yam mie adalah ketika saya berada di Jakarta, bulan Desember 2019. Rasanya benar-benar seperti masa kecil yang bahagia! 

Dari kiri atas, searah jarum jam: yamien di Lucky Mie, cwimie di Depot Hok Lay, bakmie Siang Kie dan Bakmie Aloi. 

Ketika saya beranjak dewasa dan mulai berkelana ke berbagai kota di Indonesia, saya menyadari bahwa orang Tionghoa dari Medan sampai Malang memiliki cara memasak yang sama. Ya, cuka dan daging kepiting memang khas Pontianak, tapi rupa masakannya terlihat mirip. Di Tasik, orang menyebutnya yamien, di Malang, sebutannya adalah cwimie dan waktu di Semarang, kita mencicipi bakmie. Semua ini hampir sama. Yang membedakan cuma lauknya. Kalau Bakmie Aloi, mienya agak tebal. 

Menikmati makan malam di 999 Shan Noodle, Yangon.

Sewaktu saya mulai menjajaki mancanegara, saya lantas menyadari bahwa negara lain pun memiliki persamaan dalam hal menyajikan mie. Ketika saya keluar negeri untuk pertama kalinya, saya jatuh cinta dengan kolo mee di Kuching. Selama 10 tahun terakhir di Singapura, saya senang menyantap mie bakso ikan Say Seng yang konon mulai jualan mie Tiociu otentik sejak 1960. Bahkan tempat yang jauh seperti Yangon pun memiliki mie 999 Shan yang lezat. Saya jadi menyimpulkan, di mana ada populasi orang Cina, bisa dipastikan anda akan menemukan mie yang disajikan seperti ini. 

Dari atas ke bawah: kolo mee, mie baso ikan Say Seng dan bakmie ayam.

Akan tetapi mie kuning bukan saja dimonopoli oleh orang Cina. Yang non-Cina juga turut berperan dalam menciptakan aneka masakan berbasis mie. Kaum Muslim, misalnya. Karena babi itu haram, maka mereka menjual bakmie ayam. Sedap! Selain itu, seperti yang telah disinggung sebelumnya, ada banyak cara untuk memasak mie, jadi ada mie rebus ala Melayu (yang menggunakan kuah kental), ada lor mee (yang lebih kental lagi kuahnya), ada mie Hokkien (yang digoreng basah), ada mie Hong Kong (yang digoreng kering), ada Thai mee krob (yang renyah mienya), ada mie India (yang merah warnanya), ada ramen dan soba (mie tipis Cina dan mie tebal Jepang) dan masih banyak lagi. Tak habis-habis daftarnya! Bahkan orang Eropa juga memiliki makanan serupa yang disebut pasta. Saya suka aglio olio, spageti yang dikocok dengan minyak zaitun! 

Baris pertama, dari kiri: mee rebus, lor mee putih, Hokkien mee.
Baris kedua: mie Hong Kong, Thai mee krob, mie goreng Indian.
Baris ketiga: ramen, soba, aglio olio. 

Di dunia dimana kita dimanjakan dengan begitu banyak pilihan yang kadang membuat bingung, bagus rasanya bahwa ada sesuatu yang konsisten seperti mie. Ke mana pun anda pergi, anda bisa menemukan mie. Namun apakah anda tahu apa yang lebih mencengangkan lagi? Di Singapura, kita bisa menemukan semua mie yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya! Ya, Singapura adalah tempat paling tepat untuk para pencinta mie!