More often than not, I follow the writing 101 pattern. But there were occasions when the idea hit me right in the face that it felt very hard to ignore it. There's this urge that it just had to be done immediately. One great example was the big squabble of 2022. Then there was this one.
It started as a casual thing we talked about. The topic this time was the lack of honest civil servants in Indonesia. It soon evolved into, "What's the point of being honest?" Then the next remark was, "Just carry on the corruption. The country won't go bankrupt anyway."
I didn't notice this at first. But when I sat down to have my breakfast, another friend responded to this, and it caught my attention. There and then, I noticed a tendency to pivot: there was always a comment to save face when cornered, even when it was actually out of context.
But the audacity of it! The impression was so strong that it opened the floodgates of typical responses. There was never any humility, let alone an honest, to-the-point answer. There was always this need to show off, even when the person wasn't in a position to do so. It was anything but being humble and honest.
Earlier today, prior to this, I had a conversation with another friend. He said if you lived in a place where the culture was sick, you'd end up behaving like one, too. You simply couldn't be good, or your best simply wasn't good enough. You wouldn't even know it, because you were in a culture that measured itself on such a low benchmark.
So what's the cure? Well, coming from me, I can only tell you one thing. My mantra, one that I hold dearly, is that traveling is a humbling experience. What you experience, the culture you see, it gets you thinking. And the fact that you are able to travel helps convince you that perhaps there is hope just yet to break the boundaries.
Pengalihan Isu
Bicara tentang blogging, biasanya saya mengikuti pola penulisan 101. Tapi ada kalanya ketika sebuah ide muncul begitu saja di depan mata hingga terasa sangat sulit untuk diabaikan. Ada dorongan kuat bahwa ide itu harus segera dituangkan. Salah satu contohnya adalah pertengkaran besar tahun 2022. Lalu ada pula yang satu ini.
Awalnya hanya obrolan santai. Topiknya kali ini tentang kurangnya pegawai negeri yang jujur di Indonesia. Tak lama kemudian, obrolan itu berkembang menjadi pertanyaan: "Apa gunanya menjadi jujur?" Lalu muncul komentar berikutnya, "Lanjutkan saja korupsi. Negara juga tidak akan bangkrut."
Awalnya komentar ini luput dari perhatian saya. Namun saat saya duduk untuk sarapan, seorang teman lain merespons pernyataan itu, dan di situlah perhatian saya tersita. Saat itu juga, saya menyadari kecenderungan untuk berkelit dan mengalihkan isu— selalu ada komentar untuk menjaga muka saat terpojok, bahkan ketika komentar itu jelas di luar konteks.
Tapi yang membuat saya tercengang adalah lantangnya ucapan yang tidak bertanggung jawab ini! Kesan yang ditinggalkan begitu kuat sehingga tanggapan serupa yang selama ini saya baca pun bermunculan kembali. Tidak ada kerendahan hati, apalagi jawaban jujur dan lugas. Selalu ada dorongan untuk pamer, bahkan ketika posisi orang itu tak layak untuk melakukannya. Yang penting lantang, asal dak perlu mengakui kekurangan yang ada.
Tadi pagi, sebelum kejadian itu, saya sempat berbincang dengan teman lain. Ia berkata bahwa jika anda hidup di tempat dengan budaya yang rusak, anda pun akan ikut rusak. Anda tidak bisa menjadi orang baik, atau yang terbaik dari upaya anda pun tidak akan pernah cukup baik. Anda bahkan tidak akan menyadarinya, karena anda berada di dalam budaya yang mengukur dirinya dengan standar yang begitu rendah.
Lalu, apa obatnya? Nah, dari pengalaman saya sendiri, saya hanya bisa bilang satu hal: mantra saya, yang saya pegang erat, adalah bahwa perjalanan adalah pengalaman yang merendahkan hati. Apa yang Anda alami, budaya yang Anda lihat, semuanya membuat Anda berpikir. Dan kenyataan bahwa Anda masih bisa bepergian, itu membantu meyakinkan Anda bahwa mungkin masih ada harapan untuk menembus batas-batas itu. Mari, mari.


No comments:
Post a Comment