Total Pageviews

Translate

Wednesday, January 28, 2026

Into The Unknown

Today's inspiration is based on a comment in the group chat: "The togetherness can also be done in Jakarta." To give context, as the founder of the fictitious Robinson Travel, I'm the number one proponent of traveling together. My friends hear that a lot from me on a daily basis, hence one of the responses above.

But is there any truth in it? Or just a comment to brush me off? Let's frame the scope properly here: old friends, togetherness, and destinations. When old friends are hanging out, we have this togetherness, all right. So what's with the destination?

In Singapore.

Adventure. That's the differentiating factor. When people come visiting, the other will have to play host. Even when there isn't a host, there will be this grounded feeling, no thanks to the homeground advantage. While it may be new for others, you are in a familiar environment and you know how things work.

Case in point, all the times I hosted my friends in Singapore. I had fun showing Singapore to my friends, all right. They were good times, they were full of togetherness, but they weren't adventures. There was this lingering feeling that, as a host, I roughly knew how the trips were going to be.

In Jakarta.

It was the same case if the place was so familiar that a host wasn't needed. That last year's trip to Jakarta was almost autopilot. No intended destinations, just random places for us to hang out. There were only so many stories we could spend talking about in the few hours we were together.

But it was so different when I was just one of the guys, journeying into the unknown. The trips to China, Chiang Mai, Ipoh, Koh Samui, and many more – they were togetherness at its best. We didn't know what to expect, but we were exploring the unknown together. You were out of your element, and got to rely on each other. All the laughter and mistakes we created together would become shared memories we'd remember until the day we closed our eyes.

In Koh Samui.

So back to the statement, it was an opinion, a valid one, but certainly from someone who had never experienced togetherness outside of their comfort zone. It was one thing to just meet for a few hours, but it was an entirely different experience to travel together and get to see your friends from a different angle. It was, for the lack of a better term, enriching!

But do we really have to travel outside of Indonesia? In all honesty, in the context above, a new place will actually do, but the question is, why stop in Indonesia when you can dream big? Tomorrow, the world! I discovered that this isn't just wishful thinking, therefore I am sharing the good news tirelessly! It definitely can be done!



Menjelajah Tempat Baru

Inspirasi hari ini berawal dari sebuah komentar di grup SMA: “kebersamaan juga bisa dilakukan di Jakarta.” Untuk memberi sedikit konteks, sebagai pendiri Robinson Travel yang fiktif, saya adalah pendukung nomor satu dari ide bepergian bersama. Teman-teman saya sudah sering sekali mendengar hal itu dari saya setiap hari—karena itu, mungkin salah satu dari mereka melempar komentar seperti di atas.

Tapi benarkah demikian? Atau hanya komentar ringan untuk menutup pembicaraan saja? Mari kita rangkum dengan benar: sahabat lama, kebersamaan, dan destinasi. Ketika sahabat lama berkumpul, tentu ada rasa kebersamaan di situ. Lalu, apa pentingnya sebuah destinasi?

Di Singapore.

Jawabannya: petualangan. Itulah faktor pembeda. Ketika seseorang datang berkunjung, yang lain harus menjadi tuan rumah. Bahkan kalau tidak ada tuan rumah sekalipun, tetap ada rasa “sudah pernah”, karena berada di wilayah sendiri. Meskipun tempat itu mungkin baru bagi sebagian peserta yang hadir, tetap saja ada yang sudah kenal baik dengan lingkungan tersebut dan tahu bagaimana segala sesuatunya berjalan.

Contohnya, semua kesempatan ketika saya menjadi tuan rumah di Singapura. Saya senang sekali menunjukkan Singapura kepada teman-teman saya. Momen-momen itu sangat menyenangkan, penuh kebersamaan, tapi bukan petualangan. Selalu ada perasaan bahwa, sebagai tuan rumah, saya kurang lebih sudah tahu bagaimana perjalanan itu akan berlangsung.

Di Jakarta.

Hal yang sama terjadi ketika tempatnya sudah terlalu akrab, sampai tidak perlu ada tuan rumah. Seperti saat perjalanan tahun lalu ke Jakarta—semuanya terasa otomatis. Tidak ada rencana tujuan tertentu, hanya tempat-tempat acak untuk nongkrong bersama. Cerita yang bisa dibahas dalam beberapa jam pun terbatas.

Namun, rasanya sangat berbeda ketika saya hanyalah salah satu dari geng yang menjelajah tempat baru. Perjalanan ke Tiongkok, Chiang Mai, Ipoh, Koh Samui, dan banyak tempat lain—itulah kebersamaan yang sesungguhnya. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi kami menjelajah hal-hal yang tak dikenal bersama. Saat keluar dari zona nyaman, kami saling mengandalkan. Semua tawa dan kesalahan yang kami alami berubah menjadi kenangan indah yang akan kami ingat sampai akhir hayat.

Di Koh Samui.

Jadi kembali ke pernyataan tadi—itu memang pendapat yang sah, tapi jelas datang dari seseorang yang belum pernah merasakan kebersamaan di luar zona nyaman. Bertemu beberapa jam itu terasa ringan, tapi bepergian bersama adalah pengalaman yang benar-benar berbeda; kita bisa melihat sisi lain dari teman-teman kita. Untuk menggambarkannya dengan satu kata: memperkaya!

Tapi apakah kita harus bepergian ke luar Indonesia? Sejujurnya, dalam konteks tadi, tempat baru di dalam negeri pun bisa menciptakan hal yang sama. Namun pertanyaannya: mengapa berhenti di Indonesia kalau kita bisa bermimpi lebih besar? Besok kita jelajahi dunia! Saya menemukan bahwa ini bukan sekadar angan-angan belaka—itulah sebabnya saya terus menyebarkan kabar baik ini tanpa lelah. Ini sungguh bisa dilakukan!

















No comments:

Post a Comment