Total Pageviews

Translate

Sunday, March 29, 2026

The Hard Rock Reason

Some stories really could have a mundane, ordinary beginning. Take this one for example. As I was heading to the nearby mall to buy toothpaste, I couldn't help thinking that this year had slowed down a lot for me. I mean, for the past three years since COVID-19, I traveled almost every month and visited about 20 destinations per year. Not this year, though. I still have 75 days before my next trip to the US.

Then I looked back at the past memories of places I had been. I had visited certain places for the second time recently, despite the epiphany I had in Nagasaki. Manila was a transit destination when we made our way to Japan, so I had to be there anyway. But I had returned to the unlikeliest destinations such as Vientiane and Phnom Penh. As I reached the mall, I thought of Vietnam. I never went back to the country, though. Why?

in Manila, Vientiane and Phnom Penh. 

My mind searched for an answer. It didn't take long, as the reason turned out to be quite simple: there was no Hard Rock Cafe in Vietnam, at least since the one in Ho Chi Minh City closed down in 2021. And it was the same reason that got me back to the cities I never thought I'd be visiting again. I got this self-made rule that I'd only wear the t-shirts from cities I had been. This eventually paved the way for return visits.

And it had been great thus far. The visit to Bali was especially memorable. It brought me back to the time I was there with Endrico, Jimmy, and Ardian in 2005, long before I was a Hard Rock fan. That verse from the Beatles' song called The End was no longer there, but it lived on, from here to eternity. 

Bali, 2005.

The return to Manila was also quite an experience. It felt like a lifetime ago, when I was a young man visiting Manila for the first time to meet the girl I was in love with. 15 years later, I walked the same path in Intramuros, but this time with a different group and a different perspective. Funny how the distant memories collided with present days, as if they tried really hard not to be forgotten or replaced.

The same goes for Yokohama. In 2015, a year before I bought the first Hard Rock t-shirt for myself in Paris, I was there with my dad and bought one for my friend Parno. Never saw him wearing it, though, haha. The next time I was there again, my dad had passed away, and I was there with friends, spending the long-awaited holiday that was delayed by COVID-19. It was originally meant for celebrating our lives as we began our 40s in 2020.

Yokohama, 2023.

Then there was Vientiane, a city seemingly stuck in time. 15 years since my first and only visit, the city was still quieter than my hometown Pontianak, a tiny little town in West Kalimantan. Can you believe that? But Laos always had a special place in my heart and it was good to be back again after a long while. It's not everyday one could stay right across the street from Hard Rock Cafe and spend the night with drinks and food for only SGD 50, haha. 

The last one, as mentioned earlier, was Phnom Penh. It was a far cry from how I remembered it. I literally took a stroll down memory lane, walking the same path I was there 16 years earlier. It was nice to reminisce while embracing the vibe of the new and modern Phnom Penh. It gave me a chance to think about how life had changed. For the better, I guess.

The one and only time I was in Shenzhen, 2012.

It's amusing how the existence of Hard Rock became the reason that changed the course of my travels. But at the same time, I was grateful to return to those cities again, years after the original visit. Like my friend Jimmy said it pretty often, at least twice. It did give a different perspective. A fair comparison, if you like. So next stop for the Hard Rock reason? Shenzhen!





Demi Hard Rock 

Terkadang beberapa cerita memiliki awal yang biasa saja, sederhana, misalnya yang satu ini sebagai contoh. Pagi tadi, saat saya berjalan menuju mal terdekat untuk membeli pasta gigi, terpikir oleh saya bahwa tahun ini terasa berjalan jauh lebih lambat. Maksud saya, selama tiga tahun terakhir sejak COVID-19, saya hampir bepergian setiap bulan dan mengunjungi sekitar 20 destinasi setiap tahun. Tapi tidak tahun ini. Saya masih punya 75 hari sebelum perjalanan saya berikutnya ke Amerika.

Lantas saya melihat kembali kenangan masa lalu dari tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Belakangan ini saya mengunjungi beberapa tempat untuk kedua kalinya, sesuatu yang bertentangan dengan pencerahan yang saya alami di Nagasaki. Manila adalah destinasi transit saat kami menuju Jepang, jadi saya memang harus berada di sana. Namun saya juga kembali ke destinasi yang paling tidak terduga seperti Vientiane dan Phnom Penh. Saat saya sampai di mal, saya teringat Vietnam. Saya belum pernah kembali ke negara itu. Kenapa?

Di Manila, Vientiane and Phnom Penh. 

Pikiran saya mencari jawabannya. Tidak butuh waktu lama karena alasannya ternyata cukup sederhana: tidak ada Hard Rock Cafe di Vietnam, setidaknya sejak yang di Ho Chi Minh City tutup pada tahun 2021. Dan alasan yang sama pula yang membawa saya kembali ke kota-kota yang tidak pernah saya bayangkan akan saya kunjungi lagi. Saya punya aturan buatan sendiri bahwa saya hanya akan memakai kaus dari kota-kota yang pernah saya kunjungi. Hal ini akhirnya membuka jalan untuk kunjungan ulang.

Dan sejauh ini semuanya terasa menyenangkan. Kunjungan ke Bali sangat berkesan, terutama karena membawa saya kembali ke masa ketika saya berada di sana bersama Endrico, Jimmy, dan Ardian pada tahun 2005, jauh sebelum saya menjadi penggemar Hard Rock. Lirik dari lagu the Beatles berjudul The End itu tidak lagi terlihat di dinding kafe, tetapi lirik tersebut akan terus hidup selama-lamanya.

Bali, 2005.

Kunjungan kembali ke Manila juga merupakan pengalaman tersendiri. Rasanya seperti sudah berlalu seumur hidup, ketika saya masih seorang pemuda yang mengunjungi Manila untuk pertama kalinya demi bertemu dengan gadis yang saya cintai. Lima belas tahun kemudian, saya menyusuri jalan yang sama di Intramuros, tetapi kali ini dengan kelompok yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda. Lucu bagaimana kenangan lama bertabrakan dengan masa kini, seolah-olah berusaha keras untuk tidak dilupakan dan tergantikan.

Hal yang sama juga terjadi untuk Yokohama. Pada tahun 2015, setahun sebelum saya membeli kaus Hard Rock pertama saya di Paris, saya berada di sana bersama ayah saya dan membelikan satu untuk teman saya, Parno. Namun saya tidak pernah melihat dia memakainya, haha. Saat saya kembali lagi ke sana, ayah saya sudah meninggal, dan saya berada di sana bersama teman-teman, menikmati liburan yang sudah lama tertunda karena COVID-19. Awalnya, perjalanan itu direncanakan untuk merayakan hidup saya yang memasuki usia 40 pada tahun 2020.

Yokohama, 2023.

Lalu ada Vientiane, kota yang seolah-olah terjebak dalam waktu. Lima belas tahun setelah kunjungan pertama dan satu-satunya saya, kota itu masih lebih sepi dibandingkan kampung halaman saya Pontianak, sebuah kota kecil di Kalimantan Barat. Sulit untuk dipercaya. Namun Laos selalu punya tempat istimewa di hati saya, dan rasanya menyenangkan bisa kembali lagi setelah sekian lama. Tidak setiap hari seseorang bisa menginap tepat di seberang Hard Rock Cafe dan menghabiskan malam dengan makanan dan minuman hanya dengan SGD 50, haha.

Yang terakhir, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, adalah Phnom Penh. Kota itu sangat berbeda dari yang saya ingat. Saya berkesempatan untuk napak tilas di jalur yang sama seperti 16 tahun yang lalu. Rasanya menyenangkan untuk bernostalgia sambil menikmati suasana Phnom Penh yang baru dan modern. Sambil berjalan, saya mengingat dan merenungkan bagaimana hidup telah berubah. Ke arah yang lebih baik, saya rasa.

Pertama dan sekali-kalinya saya di Shenzhen, 2012.

Menarik bagaimana keberadaan Hard Rock justru menjadi alasan yang mengubah arah perjalanan saya. Pada saat bersamaan, saya bersyukur bisa kembali ke kota-kota tersebut, bertahun-tahun setelah kunjungan pertama. Seperti yang sering dikatakan teman saya Jimmy, setidaknya dua kali supaya kita mendapatkan perspektif yang berbeda dan  perbandingan yang lebih adil. Jadi tujuan berikutnya karena alasan Hard Rock? Shenzhen!

Wednesday, March 18, 2026

When The Fools Listen

I'd been listening a lot lately, thanks to NotebookLM, which converted my blog posts into engaging podcasts. It was interesting to hear my own thoughts presented in a form of discussion. More importantly, it also served as a reminder of what I had written before. The thoughts are still relevant and held dearly by yours truly. 

One of the podcasts talked about listening, based on the source titled Listen to Dispute. It dawned on me that listening is actually a skill. It was easy to lose ourselves in some autopilot response for the sake of being polite or listening just enough to argue back. No, one actually has to humble oneself and focus in order to really listen to what others have to say. 

And it brought me back to the times when I managed to spontaneously do so. It wasn't easy, considering how cheeky I am, but the few times it happened, they got to do with topics I didn't know much about and things I needed to do. I would then act based on what I heard, no further questions asked, and get it done.

Looking back, such behavior occurred as far back as my college registration. Unlike some of my friends who knew what to do with their lives, I simply turned to HM, one of my best friends at that time, and asked what he wanted to study. He said IT, so I tagged along. I mean, he was much smarter than me, therefore it shouldn't be a wrong decision, right? Turned out good for me!

Then there was Eday with his talk about gold coins. I was neither strong nor interested in investment, so if a friend who was primarily an artist already did his homework and shared it with us, I reckon it was no brainer to just listen and follow what he said. It was many years ago, and let's just say that I benefited from paying attention.

Once, during lunch, an acquaintance talked about SRS and T-bills. We ended up talking about this when I told him that I would go and sell a physical gold coin after lunch. Come to think of it, perhaps one didn't hear such a peculiar thing every day, so much so that he ended up talking about how he did his investment. Since I was none the wiser, I listened up and got it done afterwards. Good to have a tax deduction while making a profit at the same time!

Then the latest one was about health. I had been feeling fat, and when my friend Alvin was doing his chiropractic stuff, he told me that my back was starting to feel the strain now. Just earlier that day, my colleague Boon was sharing the steps he had been practicing to reduce weight. And I had been doing the same thing since then. The results look promising so far!

My idol, Ahok, the former governor of Jakarta, once famously said that he didn't have to be smart in everything. He just needed to listen to some of the smartest people in their respective fields debating. Based on that, he could make a pretty good decision. He also put it crudely: "The smart ones teach, the fools listen."

He was right, of course. While we're giving only our best in life, it's also equally important to acknowledge our limitations and listen about things we aren't good at. The ideas don't always have to be original. It just has to work towards our advantage for the betterment of ourselves. And in my case, I apparently listened when a certain advice was doled out by the right person at the right time and place.


Boon and I, when we visited New Delhi, India.



Ketika Yang Bodoh Mendengarkan 

Akhir-akhir ini saya banyak mendengarkan ulasan NotebookLM yang mengubah tulisan blog saya menjadi podcast yang menarik. Rasanya menarik mendengar pemikiran saya sendiri disajikan dalam bentuk diskusi. Yang lebih penting lagi, ini juga menjadi pengingat akan apa yang pernah saya tulis sebelumnya. Pemikiran-pemikiran itu masih relevan dan tetap saya pegang teguh hingga sekarang.

Salah satu podcast tersebut membahas tentang mendengarkan, berdasarkan sumber berjudul Listen to Dispute. Saat itu saya tersadar bahwa mendengarkan sebenarnya adalah sebuah keterampilan. Sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam respons autopilot demi terlihat sopan, atau hanya mendengarkan secukupnya agar bisa membalas argumen. Menarik untuk ditelaah bahwa kita perlu merendahkan diri dan fokus untuk benar-benar mendengarkan apa yang orang lain katakan.

Hal itu mengingatkan saya pada momen-momen ketika saya secara spontan berhasil melakukannya. Tidak mudah, mengingat saya cukup usil, tetapi beberapa kali itu terjadi, biasanya terkait dengan topik yang tidak saya kuasai dan hal-hal yang memang perlu saya lakukan. Saya kemudian bertindak berdasarkan apa yang saya dengar, tanpa banyak bertanya, dan mewujudkan.

Jika saya lihat kembali, perilaku seperti ini bahkan sudah terjadi sejak masa pendaftaran kuliah. Tidak seperti beberapa teman saya yang sudah tahu arah hidup mereka, saya justru bertanya kepada HM, salah satu sahabat terbaik saya saat itu, tentang apa yang ingin ia pelajari. Jawabannya adalah IT, maka saya pun ikut saja. Maksud saya, dia jauh lebih pintar dari saya, jadi seharusnya itu bukan keputusan yang salah, bukan? Dan ternyata hasilnya baik untuk saya!

Lalu ada Eday dengan ceritanya tentang koin emas. Saya tidak tahu banyak atau tertarik dengan investasi, jadi ketika seorang teman sesama seniman sudah melakukan risetnya dan membagikannya kepada kami, rasanya tidak perlu berpikir panjang untuk mendengarkan dan mengikuti sarannya. Pengetahuan ini dibagikan bertahun-tahun silam, dan bisa dibilang saya sudah menuai manfaatnya sekarang.

Suatu kali, saat makan siang, seorang kenalan berbicara tentang SRS dan T-bills. Percakapan itu terjadi ketika saya mengatakan bahwa setelah makan siang saya akan menjual koin emas fisik. Kalau dipikir-pikir, mungkin itu bukan hal yang sering didengar setiap hari, sehingga ia pun mulai menceritakan bagaimana ia berinvestasi. Karena saya tidak begitu paham, saya mendengarkan dan kemudian langsung melakukannya. Lumayan, bisa mendapatkan potongan pajak sambil tetap memperoleh keuntungan!

Yang terbaru adalah soal kesehatan. Saya mulai merasa gemuk, dan ketika teman saya Alvin sedang melakukan terapi chiropractic, ia mengatakan bahwa punggung saya mulai menunjukkan tanda-tanda terbebani oleh berat badan. Di hari yang sama sebelumnya, rekan kerja saya Boon juga berbagi langkah-langkah yang ia lakukan untuk menurunkan berat badan. Sejak saat itu saya mempraktekkan hal yang sama, dan sejauh ini hasilnya cukup menjanjikan!

Idola saya, Ahok, mantan gubernur Jakarta, pernah berkata bahwa ia tidak perlu pintar dalam segala hal. Ia hanya perlu mendengarkan perdebatan orang-orang paling pintar di bidangnya. Dari situ, ia bisa mengambil keputusan yang cukup baik. Ia juga mengatakannya dengan cukup blak-blakan: “Yang pintar mengajar, yang bodoh mendengarkan.”

Tentu saja ia benar. Kita terus berusaha memberikan upaya yang terbaik dalam hidup, namun juga penting bagi kita untuk menyadari keterbatasan kita dan mau mendengarkan hal-hal yang bukan keahlian kita. Ide tidak harus selalu orisinal. Yang penting, ide tersebut bisa bekerja untuk keuntungan kita dan membuat hidup kita lebih baik. Dan dalam kasus saya, tampaknya saya memang mendengarkan ketika nasihat yang tepat diberikan oleh orang yang tepat di waktu dan tempat yang tepat.