Total Pageviews

Translate

Sunday, April 26, 2026

The Troubled Genius

For the past few days, life had been challenging, to say the least. It was so unusual that it actually made me pause and look back, wondering why the feeling was so awfully familiar. But wait, that's because I went through this before! Suddenly the term "troubled genius" came to mind. Not exactly appropriate, but it got stuck there. Just my luck, from time to time, I somehow became the magnet that pulled this type of people close to me.

It was a double-edged sword, really. These people were so brilliant that it was exciting to see what they could do. But at the same time, they could be the real pain in the ass. But for some strange reason, I could accept that. I guess one simply couldn't be a genius without quirky behaviors. And if I could do that once, I reckon I could do it again.

Anyway, let's go back to many years ago. Until now, I don't know how old this person is. He always dodged the question with all kinds of nonsense. But if the bands he likes were any indicators, he could be around my age or younger. The first time we met, he was telling me things I couldn't comprehend. God knows if it was real or made up! But if anything, the fact that he could singlehandedly build what he said in an unbelievable speed was perhaps the first telltale sign that I was dealing with a genius. The second sign didn't take long to surface. He ditched his own colleague, citing that his work quality was mediocre and slowing him down.

The hardest part of this working relationship was to put my foot down and tell him no, due to the restrictions and regulations we had. Eventually, he was working in a company and he had to abide by the rules, regardless of how smart he was. I remember bringing him out and explaining to him that it was nothing personal. It was difficult, especially when I was not exactly wired to be such a serious person talking seriously like this. But it just had to be done, so I did it. 

It was the turning point. I mean, it could have been worse, but it only got better from here onwards. Looking back, probably it's because I didn't have any misconceptions about who the genius was, and my role was merely to help make the vision come true. And through it all, I listened and spoke my mind honestly, something that he came to appreciate. On top of that, I was soon involved in solving the one thing he couldn't get right. Years later, after all this has become history, we still catch up for lunch and laugh about it.

Then came the second guy. Explosive and abrasive to a fault. It was like unpredictable weather: sunny, followed by an immediate thunderstorm. He could be sharing ideas and getting things done overnight, but he could also suddenly stop and sulk just because he didn't get what he wanted.

It could be tiring, no, mentally draining to deal with a person like this. But I learned that it was just a facade, a trait that had built up after years of behaving this way. I couldn't say I was right to tolerate this, and it was a lie if I said I wasn't bothered by it, but I could stomach it. I think the end result was far more important than any of our egos.

So there I was, navigating through the difficulties. The thing with the genius is, they were the misunderstood trailblazers, and I was, much to my own surprise, willing to facilitate that. John Lennon did say that genius was a form of madness, but when I thought of these IT people, I somehow remembered Benedict Cumberbatch's portrayal of Alan Turing in The Imitation Game. Yes, they didn't need anybody, and my job was to give them enough room to do what they did best. Perhaps that's all there is to it. Or needed. 




Jenius Yang Bermasalah

Selama beberapa hari terakhir, hidup terasa cukup menantang. Setidaknya begitulah gambaran ringannya. Hal ini terasa sangat tidak biasa sehingga membuat saya berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, bertanya-tanya mengapa perasaan ini terasa begitu akrab. Dan ternyata ini karena saya pernah mengalami hal serupa sebelumnya! Tiba-tiba istilah "troubled genius" (jenius yang bermasalah) muncul di benak saya. Memang tidak sepenuhnya tepat, tapi istilah itu terus terngiang. Sudah nasib saya, dari waktu ke waktu, entah bagaimana saya menjadi magnet yang menarik orang-orang tipe ini mendekat.

​Ini benar-benar seperti pedang bermata dua. Orang-orang ini sangat cerdas sehingga sangat menyenangkan melihat apa yang bisa mereka lakukan. Namun di saat yang sama, mereka bisa menjadi beban yang sangat menyulitkan. Anehnya, saya bisa menerima hal itu. Saya rasa seseorang tidak bisa menjadi jenius tanpa memiliki perilaku yang unik. Dan jika saya pernah menghadapinya sekali, saya yakin saya bisa melakukannya lagi.

Mari kembali sejenak ke bertahun-tahun yang lalu. Sampai sekarang, saya tidak tahu berapa usia orang ini. Dia selalu mengelak dari pertanyaan itu dengan segala macam omong kosong. Namun jika grup musik yang dia sukai bisa menjadi indikator, dia mungkin seusia saya atau lebih muda. Pertama kali kami bertemu, dia menceritakan hal-hal yang tidak bisa saya pahami. Entah itu nyata atau cuma karangan, hanya Tuhan yang tahu! Namun, fakta bahwa dia bisa mengerjakan apa yang dia katakan dengan kecepatan yang luar biasa mungkin merupakan tanda nyata pertama bahwa saya sedang berhadapan dengan seorang jenius. Tanda kedua tidak butuh waktu lama untuk muncul. Dia mencampakkan rekannya sendiri, dengan alasan bahwa kualitas kerja rekannya itu biasa-biasa saja dan memperlambat geraknya.

​Bagian tersulit dari hubungan kerja ini adalah saat saya harus bersikap tegas dan berkata tidak kepadanya, dikarenakan adanya batasan dan peraturan di perusahaan. Pada akhirnya, dia bekerja di sebuah perusahaan dan dia harus mematuhi aturan, tidak peduli seberapa pintarnya dia. Saya ingat pernah mengajaknya keluar dan menjelaskan kepadanya bahwa ini bukan masalah pribadi. Ini perkara sulit, terutama karena saya bukan tipe orang yang terbiasa berbicara serius seperti ini. Tapi itu memang harus dilakukan, jadi saya melakukannya.

​Itu adalah titik baliknya. Maksud saya, situasinya bisa saja memburuk, tetapi ternyata malah menjadi lebih baik sejak saat itu. Bisa jadi ini karena saya tidak memiliki persepsi yang salah tentang siapa yang jenius di sini, dan peran saya hanyalah membantu mewujudkan visi tersebut. Dan melalui itu semua, saya mendengarkan dan mengutarakan pikiran saya dengan jujur, sesuatu yang akhirnya dia hargai. Terlebih lagi, saya pun terlibat dalam menyelesaikan satu hal yang tidak bisa dia kerjakan dengan benar. Bertahun-tahun kemudian, setelah semua ini menjadi sejarah, kami masih sering bertemu untuk makan siang dan menertawakannya.

​Lalu muncul orang kedua. Meledak-ledak dan kasar secara berlebihan (abrasive to a fault). Rasanya seperti cuaca yang tidak terduga, cerah sejenak dan lekas berganti menjadi badai petir. Dia bisa berbagi ide cemerlang dan menyelesaikan banyak hal dalam semalam, tetapi dia juga bisa tiba-tiba berhenti dan merajuk hanya karena dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

​Berurusan dengan orang seperti ini sangat melelahkan dan secara mental sangat menguras energi. Namun saya belajar bahwa itu hanyalah sebuah fasad, sebuah sifat yang terbangun setelah bertahun-tahun berperilaku seperti itu. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya benar karena telah mentoleransi hal ini, dan saya berbohong apabila saya bilang bahwa saya tidak terganggu, tetapi saya bisa menerimanya. Saya rasa hasil akhir jauh lebih penting daripada ego kami masing-masing.

​Jadi pada akhirnya saya menavigasi berbagai kesulitan yang ada. Masalah dengan para jenius ini adalah, mereka adalah pionir yang sering disalahpahami dan saya bersedia untuk memfasilitasi hal itu, sesuatu yang cukup mengejutkan bagi diri saya sendiri. John Lennon pernah berkata bahwa jenius adalah sebuah bentuk kegilaan, tetapi ketika saya memikirkan orang-orang IT ini, entah bagaimana saya teringat akan penggambaran Alan Turing oleh Benedict Cumberbatch dalam film The Imitation Game. Ya, mereka merasa tidak membutuhkan siapa pun, dan tugas saya adalah memberi mereka ruang yang cukup untuk melakukan apa yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Mungkin hanya itu yang diperlukan. Atau yang mereka butuhkan.

Sunday, April 12, 2026

Bruce Lee: The Man Only I Knew

This book review was surely unexpected. It started with a regular news feed browsing on Facebook. Happened to see a post about the persecution of American women who married Chinese men in the early 20th century. I was curious about what was so attractive about Chinese men in the eyes of those American women, so I switched to Gemini and asked. 

Three questions later, still following the same theme, I found myself asking about the most famous couple I know: Bruce and Linda Lee. It was interesting to note down what the AI had to say when I asked about the fact that Bruce wasn't financially rich at the beginning of their relationship: Linda saw that he wasn't lazy; he was just being blocked by a biased system. It is much easier to stand by a man who is working 18 hours a day to succeed than one who has given up.

Eventually, the questions led to the book she wrote about Bruce. I had searched for a long time but couldn't find it since it was already out of print. But in the age of AI, I just needed to ask. It came back with results, and I clicked the first one: https://www.scribd.com/document/650091377/Bruce-Lee-The-Man-Only-I-Knew?hl=en-SG. It was a thin book, only about 203 pages including the cover. I read it on the spot. 

Just to give context here, Bruce died on July 20, 1973, and the book was published in 1975. That means Linda was likely to be in her grieving period when she wrote the book. Content-wise, I had known much of it, given that I had read quite a fair bit of books about Bruce and those by Bruce himself. But it was interesting to see it from Linda's perspective. Not only was she an American, but she was also his bridge between two worlds.

If anything, Linda humanized Bruce. He was not the unbeatable superhuman we knew from his movies, but a charming person, a loving husband, and a dotting father who had his flaws, worries, and failures. But one thing was consistent: his dedication to life's pursuits. Bruce was so confident that he might come across as arrogant, but he delivered what he dared to say. 

As a reader, you could sense that she was happiest during their time in America. Their short stint in Hong Kong, on the other hand, was like a fairy tale she didn't ask for. I liked the short description about the premiere of Big Boss, and I did further research about the subsequent movies. Bruce wasn't just the first Chinese actor to make it this big, but he also changed the fighting scenes forever singlehandedly. The reaction of the audience, especially during Fist of Fury, was priceless. They actually cheered, clapped, and gave a standing ovation.

The most profound insight was his death, though. It was quite vivid, and given how fit Bruce was, Linda's reaction mirrored what many of us felt. He couldn't possibly die at such a young age, right? But die he did. After breaking so many records in such a short time, including his own records, Bruce was gone too soon, like a shooting star.

The book is like a piece of history frozen in time, always there to tell us about the life and death of a man who is still remembered fondly more than five decades later. Yes, granted that the book felt guarded. After all, it was written by his wife. But that perhaps is what we need to know about Bruce: the human side of him, his thoughts and ideas, and the achievement that changed our lives forever.




Ulasan Buku: Bruce Lee

Ulasan buku ini sungguh tak terduga. Semuanya bermula dari kegiatan biasa menelusuri beranda berita di Facebook. Saya kebetulan melihat sebuah postingan tentang penganiayaan terhadap perempuan Amerika yang menikah dengan pria Tionghoa pada awal abad ke-20. Saya penasaran, apa sebenarnya yang membuat para wanita Amerika itu tertarik pada pria Tionghoa, jadi saya beralih ke Gemini dan bertanya.

Tiga pertanyaan kemudian, masih dengan tema yang sama, saya akhirnya mencari tahu tentang pasangan paling terkenal yang saya tahu: Bruce dan Linda Lee. Menarik sekali ketika AI memberikan jawaban tentang fakta bahwa Bruce tidak kaya secara finansial di awal hubungan mereka: Linda melihat bahwa dia bukan pemalas; dia hanya terhambat oleh sistem yang bias. Jauh lebih mudah untuk mendukung seorang pria yang bekerja 18 jam sehari demi meraih kesuksesan daripada pria yang sudah menyerah.

Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu mengarah pada buku yang ditulis Linda tentang Bruce. Saya sudah lama mencari buku ini tetapi tidak pernah menemukannya karena sudah tidak dicetak lagi. Namun, di era AI ini, saya hanya perlu bertanya. Hasilnya muncul, dan saya langsung mengklik tautan pertama: https://www.scribd.com/document/650091377/Bruce-Lee-The-Man-Only-I-Knew?hl=en-SG. Buku itu tipis, hanya sekitar 203 halaman termasuk sampulnya, jadi saya langsung baca di tempat.

Sebagai konteks, Bruce meninggal pada 20 Juli 1973, dan buku ini diterbitkan tahun 1975. Itu berarti Linda kemungkinan masih berada dalam masa berduka ketika menulisnya. Dari segi isi, sebagian besar sudah saya ketahui karena saya juga pernah membaca banyak buku tentang Bruce, termasuk tulisan Bruce sendiri. Namun, membaca dari sudut pandang Linda terasa berbeda. Selain karena ia seorang wanita Amerika, ia juga merupakan jembatan yang menghubungkan dua dunia bagi Bruce.

Kalau ada satu hal yang menonjol dari buku ini, maka itu adalah bagaimana Bruce terlihat manusiawi dalam tulisan Linda. Ia bukan sosok manusia super tak terkalahkan seperti yang kita lihat di film, melainkan pribadi yang menawan, suami yang penuh kasih, dan ayah penyayang dengan segala kelemahan, kekhawatiran, dan kegagalannya. Namun, satu hal yang konsisten pada dirinya adalah dedikasi terhadap tujuan hidupnya. Bruce sangat percaya diri hingga kadang terlihat arogan, tetapi ia mampu membuktikan kata-katanya.

Sebagai pembaca, bisa dirasakan bahwa Linda paling bahagia saat mereka tinggal di Amerika. Masa singkat mereka di Hong Kong justru seperti dongeng yang tak pernah ia minta. Saya menyukai bagian pendek tentang pemutaran perdana The Big Boss dan kemudian melakukan riset tambahan tentang film-film berikutnya. Bruce bukan hanya aktor Tionghoa pertama yang meraih kesuksesan sebesar itu, tapi juga sosok yang sendirian mengubah cara adegan pertarungan difilmkan. Reaksi penonton, terutama saat Fist of Fury, sungguh luar biasa. Mereka bersorak, bertepuk tangan, dan berdiri memberikan penghormatan.

Namun, yang paling menyentuh adalah bagian tentang kematiannya. Penggambaran Linda begitu jelas, dan mengingat betapa bugar Bruce saat itu, reaksinya mencerminkan apa yang banyak dari kita rasakan. Rasanya mustahil Bruce bisa meninggal di usia semuda itu, bukan? Namun faktanya, ia memang pergi. Setelah memecahkan begitu banyak rekor dalam waktu singkat — termasuk rekor yang ia buat sendiri — Bruce pergi terlalu cepat, bagaikan meteor yang melesat.

Buku ini terasa seperti sebuah potongan sejarah yang diabadikan di dalam pergerakan waktu, selalu siap menceritakan kisah hidup dan kematian seorang pria yang masih dikenang dengan hangat lebih dari lima dekade setelah kepergiannya. Ya, memang terasa sedikit berhati-hati dalam penyampaiannya — bagaimanapun, buku ini ditulis oleh istrinya. Tetapi mungkin justru itulah yang perlu kita ketahui tentang Bruce: sisi manusianya, pemikirannya, dan pencapaian-pencapaian yang mengubah hidup kita selamanya.

Sunday, April 5, 2026

Refining What We Love Doing

I had been listening back to my own ideas through NotebookLM lately, and the way they were paraphrased sometimes gave me a new perspective. The recent one was actually an audio overview based on a blog post called At the Zoo. Supposed to be an easy listening, but turned out to be enlightening. I suddenly realized how I had always been refining what I did. 

The story was about visits to see the animals. From childhood zoo trips with Mum, it gradually evolved into specific missions, like visiting Tama Zoo to see African elephants because I couldn't see them elsewhere. Then came this dream of seeing whales, and one day, going on a safari to the Masai Mara.

The same thought led then me to another blog post called Into the Unknown. Looking at it now with a fresh pair of eyes, I could come to such a conclusion in my writing because I kept revisiting and fine-tuning the idea. I see now why the rest were quick to dismiss the best part of traveling together: that's because they barely scratched the surface. They lacked such experience, while I had been doing it many times since 1997. I went through many iterations and saw the differences. 

I reckon the key here is the gradual process. To me, it started small but grew consistently. For many years, it was always about going to Jakarta only, by all means possible. Then the horizon broadened to other parts of Indonesia, Singapore, Southeast Asia, Asia, Europe, and Australia. Tomorrow, the world! And throughout all this, I did it all with all sorts of travel buddies.

The point is, every time I travel, I gain more perspective. One that got me thinking about what was good, what could perhaps be refined. In a bigger picture, or in life for that matter, it's really about that. Not the things you do perfectly in your daily routine, but that little something that brings you a little bit further than before.

The latest of many iterations.



Menyempurnakan Apa yang Kita Sukai

Akhir-akhir ini saya mendengarkan kembali ide-ide saya sendiri melalui NotebookLM, dan cara tulisan saya itu diparafrasekan kadang memberi saya sudut pandang baru. Yang terbaru adalah sebuah ringkasan audio berdasarkan tulisan blog berjudul At the Zoo. Awalnya saya menyangka bahwa topik ini adalah sesuatu yang ringan untuk didengarkan, tetapi ternyata cukup membuka wawasan. Saya tiba-tiba menyadari bagaimana saya selama ini selalu menyempurnakan apa yang saya lakukan.

Ceritanya tentang kunjungan untuk melihat margasatwa. Dari perjalanan ke kebun binatang bersama ibu di masa kecil, hal itu perlahan berkembang menjadi misi-misi tertentu, seperti mengunjungi Tama Zoo untuk melihat gajah Afrika karena saya tidak bisa melihatnya di tempat lain. Lalu muncul impian untuk melihat paus, dan pergi safari ke Masai Mara suatu hari nanti.

Pemikiran yang sama kemudian membawa saya ke tulisan blog lain berjudul Into the Unknown. Ketika saya melihatnya sekarang dengan sudut pandang yang baru, saya bisa sampai pada kesimpulan seperti itu dalam tulisan saya karena saya terus meninjau ulang dan menyempurnakan ide tersebut. Sekarang saya mengerti mengapa yang lain begitu cepat mengabaikan bagian terbaik dari bepergian bersama: itu karena mereka hanya menyentuh permukaannya saja. Mereka tidak memiliki pengalaman seperti itu, sementara saya telah melakukannya berkali-kali sejak 1997. Saya telah melalui banyak iterasi dan melihat perbedaannya.

Menurut saya, kuncinya adalah proses yang bertahap. Semuanya dimulai dari hal kecil tetapi berkembang secara konsisten. Selama bertahun-tahun, destinasi saya selalu hanya pergi ke Jakarta, dengan cara apa pun. Lalu cakupannya meluas ke bagian lain Indonesia, Singapura, Asia Tenggara, Asia, Eropa, hingga Australia. Besok, mungkin seluruh dunia! Dan sepanjang perjalanan itu, saya melakukannya dengan berbagai macam teman perjalanan.

Intinya, setiap kali saya bepergian, saya mendapatkan perspektif baru. Perspektif yang membuat saya berpikir tentang apa yang sudah baik dan apa yang masih bisa disempurnakan. Dalam gambaran yang lebih besar—atau dalam hidup secara umum—sebenarnya itulah intinya. Yang terpenting itu bukanlah hal-hal yang Anda lakukan dengan sempurna dalam rutinitas sehari-hari, melainkan hal kecil yang membuat anda berkembang dan membawa Anda sedikit lebih jauh dari sebelumnya.