Selama beberapa hari terakhir, hidup terasa cukup menantang. Setidaknya begitulah gambaran ringannya. Hal ini terasa sangat tidak biasa sehingga membuat saya berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, bertanya-tanya mengapa perasaan ini terasa begitu akrab. Dan ternyata ini karena saya pernah mengalami hal serupa sebelumnya! Tiba-tiba istilah "troubled genius" (jenius yang bermasalah) muncul di benak saya. Memang tidak sepenuhnya tepat, tapi istilah itu terus terngiang. Sudah nasib saya, dari waktu ke waktu, entah bagaimana saya menjadi magnet yang menarik orang-orang tipe ini mendekat.
Ini benar-benar seperti pedang bermata dua. Orang-orang ini sangat cerdas sehingga sangat menyenangkan melihat apa yang bisa mereka lakukan. Namun di saat yang sama, mereka bisa menjadi beban yang sangat menyulitkan. Anehnya, saya bisa menerima hal itu. Saya rasa seseorang tidak bisa menjadi jenius tanpa memiliki perilaku yang unik. Dan jika saya pernah menghadapinya sekali, saya yakin saya bisa melakukannya lagi.
Mari kembali sejenak ke bertahun-tahun yang lalu. Sampai sekarang, saya tidak tahu berapa usia orang ini. Dia selalu mengelak dari pertanyaan itu dengan segala macam omong kosong. Namun jika grup musik yang dia sukai bisa menjadi indikator, dia mungkin seusia saya atau lebih muda. Pertama kali kami bertemu, dia menceritakan hal-hal yang tidak bisa saya pahami. Entah itu nyata atau cuma karangan, hanya Tuhan yang tahu! Namun, fakta bahwa dia bisa mengerjakan apa yang dia katakan dengan kecepatan yang luar biasa mungkin merupakan tanda nyata pertama bahwa saya sedang berhadapan dengan seorang jenius. Tanda kedua tidak butuh waktu lama untuk muncul. Dia mencampakkan rekannya sendiri, dengan alasan bahwa kualitas kerja rekannya itu biasa-biasa saja dan memperlambat geraknya.
Bagian tersulit dari hubungan kerja ini adalah saat saya harus bersikap tegas dan berkata tidak kepadanya, dikarenakan adanya batasan dan peraturan di perusahaan. Pada akhirnya, dia bekerja di sebuah perusahaan dan dia harus mematuhi aturan, tidak peduli seberapa pintarnya dia. Saya ingat pernah mengajaknya keluar dan menjelaskan kepadanya bahwa ini bukan masalah pribadi. Ini perkara sulit, terutama karena saya bukan tipe orang yang terbiasa berbicara serius seperti ini. Tapi itu memang harus dilakukan, jadi saya melakukannya.
Itu adalah titik baliknya. Maksud saya, situasinya bisa saja memburuk, tetapi ternyata malah menjadi lebih baik sejak saat itu. Bisa jadi ini karena saya tidak memiliki persepsi yang salah tentang siapa yang jenius di sini, dan peran saya hanyalah membantu mewujudkan visi tersebut. Dan melalui itu semua, saya mendengarkan dan mengutarakan pikiran saya dengan jujur, sesuatu yang akhirnya dia hargai. Terlebih lagi, saya pun terlibat dalam menyelesaikan satu hal yang tidak bisa dia kerjakan dengan benar. Bertahun-tahun kemudian, setelah semua ini menjadi sejarah, kami masih sering bertemu untuk makan siang dan menertawakannya.
Lalu muncul orang kedua. Meledak-ledak dan kasar secara berlebihan (abrasive to a fault). Rasanya seperti cuaca yang tidak terduga, cerah sejenak dan lekas berganti menjadi badai petir. Dia bisa berbagi ide cemerlang dan menyelesaikan banyak hal dalam semalam, tetapi dia juga bisa tiba-tiba berhenti dan merajuk hanya karena dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Berurusan dengan orang seperti ini sangat melelahkan dan secara mental sangat menguras energi. Namun saya belajar bahwa itu hanyalah sebuah fasad, sebuah sifat yang terbangun setelah bertahun-tahun berperilaku seperti itu. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya benar karena telah mentoleransi hal ini, dan saya berbohong apabila saya bilang bahwa saya tidak terganggu, tetapi saya bisa menerimanya. Saya rasa hasil akhir jauh lebih penting daripada ego kami masing-masing.
Jadi pada akhirnya saya menavigasi berbagai kesulitan yang ada. Masalah dengan para jenius ini adalah, mereka adalah pionir yang sering disalahpahami dan saya bersedia untuk memfasilitasi hal itu, sesuatu yang cukup mengejutkan bagi diri saya sendiri. John Lennon pernah berkata bahwa jenius adalah sebuah bentuk kegilaan, tetapi ketika saya memikirkan orang-orang IT ini, entah bagaimana saya teringat akan penggambaran Alan Turing oleh Benedict Cumberbatch dalam film The Imitation Game. Ya, mereka merasa tidak membutuhkan siapa pun, dan tugas saya adalah memberi mereka ruang yang cukup untuk melakukan apa yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Mungkin hanya itu yang diperlukan. Atau yang mereka butuhkan.

No comments:
Post a Comment