Total Pageviews

Translate

Saturday, March 11, 2017

The King Of Monsters

The biggest problem with King Kong by Peter Jackson is the titular monster dies, but this could be forgiven as it was the remake of the original and not meant to be a Kaiju movie, anyway. The one by Edward Gareth, on the other hand, is plagued by the problem that Godzilla is so shy it appears only one hour later, after the movie has been showing half way. As for the latest Gojira, it was a rather strange, live report kind of movie that leaves you thinking whether it's really Gojira that you are watching here. Then comes Kong: Skull Island and everything is alright again. The movie gets right to the point and gives us enough screen time of Kong, the main star of the show. If Hollywood is going to do a rematch between King Kong and Godzilla, I'm now convinced that Hollywood is on the right track.

And you may wonder why I care. Yes, I do care because I am a big fan of the Kaiju, especially Godzilla, and had been watching it since my childhood days. I still remember vividly the one I watched as a kid: Godzilla vs. Hedorah. In the eyes of a four years old, it was dark and grim and awesome. I was scared that the cool monster with dorsal spines on its back would lose to the smog monster and I was extremely relieved when Godzilla eventually beat the hell out of Hedorah, which was easily one of the toughest battles for the king of monsters. 

Looking back at it again as a grown up, the particular movie is really cartoonish. I find it hard to believe that I actually bought the idea that Godzilla could fly in such an unorthodox way that was shown in the movie. It's amazing how the perspectives of a child and an adult differ, but this doesn't change the fact that I fell in love with Godzilla and was a die-hard fan since then. This also explains the piece of story about Tony. In the small town where I came from, it was difficult to obtain any Godzilla movies. It was like a miracle that my late friend actually had Godzilla vs. Mechagodzilla video cassette.

Godzilla is stomping my desk!
I watched many Godzilla movies as I grew up. The original Mothra vs. Godzilla is one of the best, despite the fact that I was staring in disbelief as I saw Godzilla defeated by Mothra. In the 90s, I also watched two Godzilla movies that were shown in the cinema: Godzilla vs. King Ghidorah and Godzilla vs. Mothra (not exactly a remake, but was still very good, if not better). Then came the VCD era, where I watched some those that were produced in the 60s, 70s, as well as all from Heisei era, except the Return of Godzilla. Frankly speaking, not all are good and some, especially those from the 60s, are unbearably bad. However, nothing prepared me from what was coming next.

The one made by Hollywood was supposed to be a big deal, but they totally screwed it up. It was like watching Godzilla in name only. Whatever monster that was on the screen, it was nothing like Godzilla I know and love, not even the distinct roar or the radioactive breath was retained in the movie. This Godzilla kept running here and there before it was killed by missiles. It was an insult, really, because no missiles killed Godzilla before, but at the same time, it was a relief that this pretender finally died. There was an encore few years later in the form of Godzilla: Final Wars, when the real Godzilla trashed the monster now known as Zilla within few seconds. That felt triumphant!

Godzilla 1998 was really, really horrible that it must due to this the movie was featured on the front cover of Time magazine on July 6, 1998. I spotted this magazine on the stack of secondhand magazines and bought it, my first Time ever, just to read about the article. Even the one that Hollywood released in 2014 doesn't feel like up to standard, so how to trust them doing the remake of King Kong vs. Godzilla (a 1962 classic that I haven't watched until now)?

With such track records, I guess you can understand why I am skeptical about the American Godzilla. This point of view was eventually redeemed by Kong: Skull Island. It's a good Kaiju movie. If they maintain such quality, we'll have the greatest show on earth in 2020...


Sang Raja Monster

Masalah terbesar dari King Kong yang disutradarai oleh Peter Jackson adalah matinya King Kong, tapi ini bisa dimaklumi karena film ini dimaksudkan sebagai pembuatan ulang dari versi aslinya, oleh karenanya tidak bisa digolongkan sebagai film Kaiju. Beda halnya dengan film Edward Gareth yang berani memakai judul Godzilla, tetapi Sang Raja Monster baru muncul satu jam kemudian, setelah filmnya separuh jalan. Untuk versi Jepang, film Gojira yang terbaru terkesan aneh karena lebih mirip siaran langsung yang kebetulan ada Gojira. Kemudian hadirlah Kong: Skull Island dan semuanya terasa pas di sini. Film ini bukan saja tidak membuang waktu, tetapi juga memberikan cukup waktu bagi King Kong dalam kapasitasnya sebagai bintang utama. Jika Hollywood akan membuat ulang pertarungan King Kong dan Godzilla dengan cara yang sama, niscaya mereka sudah berada di jalur yang benar.

Dan anda mungkin berpikir, kenapa saya peduli. Ya, tentu saja saya peduli, sebab saya adalah penggemar berat Kaiju, terutama Godzilla, dan saya sudah menyaksikannya dari sejak kecil. Saya masih ingat dengan jelas film yang saya saksikan pertama kali: Godzilla vs. Hedorah. Di mata seorang bocah berumur empat tahun, film ini gelap, seram dan luar biasa. Saya sempat khawatir bahwa monster dengan lempengan duri di punggung ini akan kalah dari monster cairan polusi dan saya baru bernapas lega ketika Godzilla menghabisi Hedorah dalam pertarungan sengit.

Kalau dilihat kembali sekarang dalam sudut pandang orang dewasa, Godzilla vs. Hedorah sebenarnya sangat tidak realistis. Aneh rasanya bahwa saya pernah percaya bahwa Godzilla bisa terbang dengan cara yang sangat tidak masuk akal di film tersebut. Terkadang perbedaan perspektif antara orang dewasa dan anak kecil sungguh bagaikan bumi dan langit. Akan tetapi ini tidak mengubah fakta bahwa saya menggemari Godzilla. Hobi yang satu ini menjelaskan sepenggal kisah tentang teman saya Tony.  Di kota kecil tempat saya berasal, tidaklah mudah bagi saya untuk mendapatkan film Godzilla. Bagaikan sebuah keajaiban, almarhum teman saya ini ternyata memiliki video kaset Godzilla vs. Mechagodzilla.

CD Godzilla, rekaman tahun 1984-1995.
Saya berkesempatan menyaksikan banyak film Godzilla dari kecil hingga dewasa. Versi pertama Mothra vs. Godzilla adalah salah satu yang terbaik, meski rasanya sulit diterima bahwa Godzilla bisa dikalahkan oleh Mothra dalam bentuk dua ulat sutera. Di tahun 90an, saya juga menonton dua film Godzilla yang ditayangkan di bioskop Pontianak: Godzilla vs. King Ghidorah dan Godzilla vs. Mothra (meski judulnya hampir sama, tapi ceritanya berbeda dan sama bagusnya, atau bahkan lebih bagus). Lantas, saat tiba era VCD, saya menonton beberapa judul yang diproduksi di tahun 60an, 70an dan semua dari era Heisei, kecuali the Return of Godzilla. Terus-terang, tidak semuanya bagus dan beberapa, terutama yang berasal dari tahun 60an, tidak tertahankan jeleknya. Kendati begitu, yang berikut ini jauh lebih mengejutkan lagi buat saya.

Film buatan Hollywood seharusnya menakjubkan, tetapi mereka benar-benar mengacaukan segalanya. Karya perdana Hollywood itu menampilkan monster aneh yang diberi label Godzilla. Apa yang ditampilkan di layar itu jelas bukan Godzilla yang saya kenal baik. Bahkan raungannya yang khas dan pancaran radioaktifnya pun tidak dipakai di film ini. Godzilla palsu ini berlari ke sana kemari di sepanjang film sampai akhirnya terbunuh oleh peluru kendali. Ini namanya penghinaan, sebab tidak pernah ada sejarahnya Godzilla mati oleh senjata seperti itu. Pada saat bersamaan, rasanya lega juga melihat Godzilla tiruan ini dibasmi. Beberapa tahun kemudian, film Jepang Godzilla: Final Wars menampilkan pertarungan singkat antara Godzilla dan monster gadungan yang kini diberi nama Zilla. Hanya dalam kisaran detik, Zilla langsung terbantai. Yang asli memang terasa beda kualitasnya!

Godzilla 1998 benar-benar parah, sampai akhirnya ditampilkan sebagai cover majalah Time tanggal 6 Juli 1998. Saya melihat majalah ini dalam tumpukan majalah bekas dan langsung membelinya, majalah Time saya yang pertama, hanya untuk membaca artikel tersebut. Bahkan yang Hollywood rilis di tahun 2014 pun sebenarnya tidak memenuhi standar, jadi bagaimana kita bisa percaya kalau mereka bisa bekerja dengan becus dalam membuat ulang King Kong vs. Godzilla, film klasik keluaran tahun 1962? Dengan rekam jejak seperti ini, anda bisa mengerti kenapa saya ragu dengan Godzilla Amerika. Kendati begitu, suksesnya Kong: Skull Island sedikit-banyak membantu. Jika mereka mempertahankan kinerja dan kualitas yang sama, kita akan menyaksikan pertarungan monster paling hebat di tahun 2020...

Coba dibaca headline-nya...
(Image credit: time.com)


No comments:

Post a Comment