Total Pageviews

Translate

Monday, December 18, 2017

Love Thy Parents

Since the era of WhatsApp, we had this group of 30 or 40 high school alumni (the number always fluctuated as some members came and went) that always talked about all sorts of stuff. The other day, after the usual greetings that began our morning, one of us brought up an interesting topics about parents. She recently encountered an old folk and she sympathised him for still selling soy milk at his age. She made a remark that he should have been retired and taken care of by his children.

To certain extent, that opinion rang true. In an ideal situation, this should be the scenario. Nevertheless, what if the children themselves were struggling? If they already had a hard time making ends meet, how on earth they were going to support their parents? In such cases, were they going to be deemed as irresponsible children?

I didn't just make it up. If parents ever got sick, the medical expenses could be astronomically high. I just went through that and as I saw my savings depleting rapidly, I still got to put on my brave face and say, "no worries, it's alright." But I was worried as hell at times because I was also the sole breadwinner for my wife and daughters. I wasn't being petty here, but such problem was, apparently, as real as it got.

The insurance agent, the writer and the debt collector.

How should a person strike a balance here? I gave it a thought and did the survey based on the context above. My respondents were the man without fear, a homemaker, a bakery shop owner, a cargo businesswoman, an insurance agent and a debt collector. Much to my surprise, the people of my generation thought pretty much alike. Some answers were more refined than others, but they were basically the same.

The gist of it was something like this: when our parents were sick, it was only right that we footed the bill, especially when they couldn't afford it. It was our responsibility to do so. Out of love, we did it for our parents. We set aside our money for them, we could even spend our share if what we originally allocated for them wasn't enough, but we were certainly not sacrificing the savings meant for our spouse and kids. Rest assured that no ailing parents would like to see their children living miserably in debts due to their illness. If people ever questioned why we didn't do more, well, we simply couldn't stop people from commenting what they felt like saying, and that wasn't even important! As long as we'd done things answerable to our conscience and our parents knew it, that'd be it.

The cargo businesswoman. 

We also acknowledged that most of our parents were from the era where people worked hard, but often failed to understand the concept of getting insured and so forth. Now that some of us were parents ourselves, we surely didn't wish to burden our children by repeating the same vicious cycle made by the previous generations. We learnt things that our parents didn't, so we had to make a difference by having a better financial planning for our future.

While the respondents were from various walks of life, it was interesting to note that we had the same thought. Personally, I was relieved to know that I wasn't alone, because I originally thought I was cruel for thinking this way. Also worth mentioning was the comment from one of us about the fact that God provided in God's way, a unique insight that no one else seemed to mention. That, perhaps, was the missing link that eventually completed an idea that we wrote together here...

The homemaker.


Cintailah Orang Tuamu

Sejak era WhatsApp, kita memiliki sebuah beranggota 30 sampai 40 teman SMA (jumlahnya selalu fluktuasi karena ada anggota yang masuk dan keluar) yang selalu aktif membahas apa saja. Minggu  lalu, salah satu dari kita berkomentar tentang betapa dia bersimpati saat melihat ayah seorang kenalan lama yang masih berjualan susu kacang. Dia merasa sudah sepantasnya orang tua ini pensiun untuk menikmati masa senja yang dijamin oleh anaknya.  

Opininya terasa masuk akal. Di dalam situasi yang ideal, harusnya memang seperti itu. Akan tetapi, bagaimana jika anak-anak dari orang tua itu sendiri belum mapan? Bila hidup sendiri saja susah, bagaimana caranya untuk menunjang kehidupan orang tua? Jikalau mereka tidak mampu, apakah mereka lantas dituding sebagai anak tidak berbakti? 

Saya tidak sekedar mengada-ada. Hal yang paling nyata adalah, jika orang tua kita sakit, biaya pengobatannya tidaklah murah. Saya baru saja melewatinya. Di saat saya melihat tabungan saya terkuras, saya masih harus tersenyum dan berkata, "oh, tenang. Tidak apa-apa." Di balik semua itu, saya terus-terang khawatir karena saya adalah satu-satunya yang bekerja menafkahi istri dan anak-anak saya. Saya tidak berpikiran picik atau bahkan mengeluh, tetapi saya ingin menekankan bahwa masalah ini bisa terjadi pada siapa saja.

Terbersit di benak saya, apa yang harus diperbuat di dalam situasi ini supaya kita tidak mengabaikan orang tua kita dan juga tidak menelantarkan tanggung jawab terhadap keluarga kita sendiri. Kemudian saya melakukan survei berdasarkan lingkup permasalahan di atas. Para responden saya adalah seorang pria yang terkenal berani, ibu rumah tangga, pemilik toko kue, pengusaha jasa pengiriman, agen asuransi dan manajer bagian penagihan hutang. Di luar dugaan, orang-orang dari generasi saya ini ternyata berpikiran sama. Beberapa peserta memberikan jawaban lebih mendetil dari yang lain, tapi pada intinya semua saling melengkapi.

Pemilik toko kue. 

Pemikiran kita bisa dijabarkan seperti ini: ketika orang tua kita sakit, sudah selayaknya kita menanggung biayanya, terlebih lagi jika mereka memang tidak mampu membayar sendiri. Itu adalah tanggung jawab kita sebagai seorang anak. Sebagai ungkapan cinta dan bakti kepada orang tua sudah mengasihi kita sejak kita lahir, kita melakukan apa yang kita bisa untuk orang tua kita. Kita menyisihkan uang untuk mereka dan kita bahkan mungkin mengorbankan bagian tabungan yang sebenarnya kita cadangkan untuk diri sendiri, tetapi kita tidak seharusnya menghabiskan simpanan dana untuk masa depan istri dan anak-anak kita. Alasannya sederhana: tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya hidup susah dan terbelit hutang karena penyakit yang mereka derita. Jika orang lain bertanya, kenapa kita tidak menjual rumah atau menggunakan seluruh tabungan kita, percayalah bahwa kita tidak bisa menghentikan orang lain untuk berkomentar seenaknya. Kita bahkan tidak perlu meladeni mereka. Selama kita sudah melakukan apa yang kita bisa sesuai dengan hati nurani kita, orang tua akan memakluminya. Posisikan diri anda sebagai orang tua dari anak-anak anda dan anda akan mengerti pemikiran ini.

Dari jawaban-jawaban yang ada, bisa dikatakan bahwa kita juga sepakat bahwa orang tua kita berasal dari generasi pekerja keras yang menabung sebisa mereka, namun tidak semuanya memahami cara mengasuransikan diri mereka. Sekarang, di kala beberapa di antara kita telah menjadi orang tua, tentunya kita tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Kita belajar beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh orang tua kita dulu, jadi sedapat mungkin kita harus membuat perubahan dalam segi jaminan di hari tua supaya tidak membebani anak-anak kita suatu hari nanti. 

Sekali lagi, menarik untuk dicatat bahwa orang-orang yang menanggapi survei ini berasal dari berbagai kalangan dan memiliki pekerjaan yang berbeda-beda, ternyata pemikiran kita cenderung sama. Saya merasa lega setelah mengetahui bahwa pola pikir di atas bukan saja dianut oleh saya sendiri, sebab pada awalnya saya bertanya-tanya, apakah saya ini kejam karena telah berpikir seperti ini? Hal lain yang perlu disinggung juga adalah, ternyata ada satu yang berpendapat bahwa Tuhan menyediakan segalanya sesuai dengan cara dan kehendak-Nya. Pendapat ini mungkin adalah bagian yang hilang, yang akhirnya melengkapi sebuah pemikiran yang kita tulis bersama ini...

Pria pemberani. 


No comments:

Post a Comment