Total Pageviews

Translate

Saturday, December 23, 2017

The Bucket List

My wife once said that I had so many friends. I took it as a compliment, though it might or might not be a good thing. In a world where everybody had only 24 hours, I might have sacrificed one thing over another. Sometimes I did it right, but there were also times were I made foolish and selfish choices. Nonetheless, this one, a story that took two years in the making, definitely felt right.

In order to understand this, let me begin by revealing one of the greatest things in life: the bucket list. The very existence of it gets you going and gives you something to look forward to. I've been lucky enough to strike off some entries, such as marrying the woman I love, watching a Paul McCartney concert and crossing Abbey Road. They were like the wildest dreams came true! Some, however, were more down-to-earth, but they were still the pleasant memories that were worth telling. This story was one of them.

Like I said previously in the blog post called Love Thy Parents, the dawn of WhatsApp changed the way we made friends. I got reacquainted with old friends and, through a natural selection, I ended up having this group of friends with the same sense of humour. We actively shared thoughts, jokes and every lingo that only friends from the same school would understand.

From left: Susanti, Tuty, Endrico and Rudiyanto in Jakarta. And, yes, that's the same Endrico from almost every story I had. 

It was funny how we could chat as though we'd known each other forever, especially when I actually never met some of them before and hadn't seen the others for a long time. It could have stayed that way, but then opportunity knocked. What was started as a casual talk about school holiday was transformed into a trip to Karawang.

That's when I met Susanti for the first time. For your information, I'd been blessed with a good memory about anything and anybody that I encountered during high school days, but yet I didn't have any recollection about her. As far as I was concerned, the day we met in Jakarta was the first time I ever saw and spoke to her in person. My first impression of her was her voice: it was as if she was going to cry, haha. But she was a nice person and we got along immediately. She was like an old friend with a clean slate: nothing in the past for us to reminisce about, haha.

When we reached Karawang, we were welcome by Hendra. Back in the days, he was like this fellow classmate that always got on my nerves. Let's just say that he was this friend that was not exactly friendly. But easily two decades had passed since then and I was actually surprised to see how polite he was. When we were there, he was the host that constantly tried to ensure everything was okay for us. What a nice chap, really. He was surely a living proof that boys wouldn't always be boys. Sometimes we grew up, too, haha.

From left: James, Anthony, Harry, Vivi, Tuty and Lawrence in Pontianak.

Few months after that, I had a chance to go back to my hometown again. I met Harry, the man behind the cake, and passed him the MRT card that he won after participating in the silly competition that I organized. A friend of mine since primary school or earlier than that, Harry was good looking and tall, a popular student back then. While we were in the same class for a couple of times, we weren't close friends as we hung out with a different group of friends, but the arrival of WhatsApp changed all that. The day I visited him was the first time I saw him since 12 years ago.

Then Vivi came visiting us. In high school, she was a friend I always saw from afar, but never talked with, so the moment she stepped out from the car and walked towards us, I had a blast from the past. It was as if she was walking in slow in slow motion while I was having all the high school memories replaying in my mind, serenaded by Irene Cara's What a Feeling. Haha, I just overdid it, didn't I? So there we were, talking face to face for the first time ever since 1995, when I first noticed that I had a schoolfriend named Vivi. 

After meeting almost everyone of them, I realized this felt like a bucket list entry called meeting a bunch of funny old friends from WhatsApp era. That's when I jokingly told Wiwi, whom I never crossed path with during school days, that I'd travel more than 300km just to meet her. It sounded bombastic and ridiculous at the same time, but that was just what I needed. It was the kind of nonsense that got me excited, so I hopped on the train and went the distance to make it happen. As luck would have it, CP was visiting Malaysia, too. By the time we had a dinner together that night, the entry from the bucket list that had gotten me travelling from Singapore to Jakarta, Karawang and Pontianak was finally fulfilled in Kuala Lumpur

It was another milestone completed in life. What's next for me? A trip to Armenia? I don't know, but what I do know is, we shouldn't stop dreaming and filling up our bucket list. It's okay if we failed to execute some entries in the list (I failed going to Bhutan, Mongolia and Kazakhstan so far, if you know what I mean, haha), but the bottomline is, you don't stop believing and trying. If life isn't about chasing our dreams and making some of the adventures come true, then it's just a routine that's not worth living...

From left: Wiwi, Anthony and CP in KL.


Daftar Keinginan

Suatu ketika istri saya berkomentar tentang betapa banyaknya teman yang saya miliki. Saya anggap itu sebuah pujian, walaupun hal tersebut belum tentu merupakan sebuah berkah. Di dunia dimana setiap orang hanya memiliki 24 jam, ini berarti saya sibuk berbagi waktu antara keluarga dan teman. Terkadang saya melakukannya dengan baik, tapi ada juga saat dimana saya keliru. Yang berikut ini, sebuah kisah unik yang bersinambungan selama dua tahun terakhir, bukan saja terasa benar, tetapi juga istimewa.

Untuk mengerti maksud saya di atas, saya perlu sebutkan satu dari beberapa hal yang menarik dalam hidup ini: daftar keinginan. Keberadaan sesuatu yang abstrak ini memberikan dorongan bagi kita untuk berusaha mencapai apa yang kita inginkan. Saya beruntung sudah berhasil menggapai beberapa hal yang saya inginkan, misalnya saja menikahi wanita yang saya cintai, menonton konser Paul McCartney dan menyeberangi zebra-crossing di Abbey Road, London. Rasanya seperti impian-impian terbesar dalam hidup yang akhirnya menjadi kenyataan! Beberapa kisah lainnya (termasuk yang satu ini), walau tidak seheboh yang baru saja saya jabarkan, tetap merupakan pengalaman yang menarik untuk dikenang dan diceritakan.

Bersama Parno, teman jenaka yang tidak pernah absen dari dunia maya.
Foto oleh: Endrico.

Seperti yang saya bahas sebelumnya dalam artikel berjudul Cintailah Orang Tuamu, munculnya WhatsApp betul-betul mengubah cara kita dalam berteman. Bagi saya sendiri, saya berkesempatan untuk berinteraksi lagi dengan teman-teman lama. Melalui proses seleksi yang terjadi begitu saja tanpa saya sadari, saya sekarang memiliki sekelompok teman yang sama selera humornya. Kita aktif bertukar pikiran dan berbagi cerita lucu menggunakan istilah yang hanya bisa dipahami oleh teman-teman yang berasal dari sekolah yang sama. 

Satu hal yang unik dari interaksi ini adalah betapa kita bisa berbincang seakan kita sudah kenal begitu lama, walau kenyataannya saya bahkan belum bertemu atau sudah lama tidak bersua dengan mereka. Saya kira pertemanan kita akan seperti ini adanya, tetapi kemudian muncul kesempatan untuk bertemu. Apa yang bermula dari percakapan biasa tentang liburan sekolah anak-anak kemudian berkembang dan berubah menjadi perjalanan ke Karawang.

Dari kiri: Alvin, Anthony, Endrico, Eddy, Hendra dan Rudiyanto sewaktu kunjungan ke Karawang.

Pada kesempatan itulah saya bertemu Susanti untuk pertama kalinya. Sekedar informasi untuk pembaca, saya memiliki ingatan yang cukup baik tentang apa yang terjadi dan siapa yang pernah saya temui di masa SMA, namun saya sama sekali tidak ada gambaran tentang Susanti. Saat di Jakarta itulah saya pertama kalinya berjumpa dan berbicara langsung dengannya. Kesan pertama saya adalah suaranya yang lucu, seperti orang yang akan menangis, haha. Meskipun demikian, dia ramah orangnya dan kita pun langsung akrab sepanjang perjalanan kita ke Karawang. Dia seperti teman lama tanpa sedikit pun kenangan di masa lalu, haha. 

Setelah kita tiba di Karawang, kita disambut oleh Hendra. Di zaman sekolah dulu, dia ini bagaikan sebuah teror karena suka mengganggu. Namun dua dekade telah berlalu dan saya tertegun saat melihat betapa sopannya Hendra sekarang. Saat kita berada di Karawang, dia tidak ubahnya seperti tuan rumah yang selalu memastikan bahwa tamu-tamunya merasa nyaman selama kunjungan. Betul-betul salut. Dia adalah bukti nyata bahwa anak laki-laki tidak selamanya kekanak-kanakan. Ada kalanya kita tumbuh dewasa juga, haha.

Harry dan Budi Hendra, di depan rumah rumah Endrico, tahun 2005. 

Beberapa bulan setelah kunjungan ke Karawang, saya pulang ke kampung halaman. Saya bertemu dengan Harry, teman yang terkenal dengan kue lapisnya, untuk menyerahkan kartu MRT yang dimenangkannya dalam lomba menulis SMS cinta yang saya adakan. Harry adalah teman dari sejak SD atau mungkin sejak TK. Tinggi dan tampan, dia tergolong populer di sekolah. Meski kita sempat sekelas beberapa kali, kita tidak akrab karena masing-masing bergaul dengan kelompok teman yang berbeda. Era WhatsApp mengubah semua itu. Ketika saya berkunjung ke tempatnya, itu adalah pertama kalinya kita bertemu lagi sejak 12 tahun silam di rumah Endrico.

Kemudian Vivi datang berkunjung ke tempat Harry juga. Di masa sekolah, saya hanya sekedar tahu namanya dan pernah melihatnya dari jauh, tapi tidak pernah berbicara dengannya. Begitu Vivi turun dari mobil dan berjalan ke arah kita, setiap langkahnya bagaikan adegan lambat dalam film. Di saat bersamaan, semua kenangan SMA berputar kembali di benak saya sambil diiringi lagu What a Feeling yang dinyanyikan oleh Irene Cara. Haha, hiperbola yang luar biasa, ya? Dan kita pun bersantap siang sambil mengobrol untuk pertama kalinya sejak tahun 1995.

Bersama Wiwi dan CP di KLCC.

Setelah perjumpaan di Pontianak, saya menyadari bahwa saya sudah bertemu dengan hampir semua teman yang akrab di dunia maya, kecuali Wiwi, seorang teman lama yang juga tidak pernah bertegur sapa dengan saya dulu. Saya lantas bercanda dengannya dan berkata bahwa saya akan menempuh jarak lebih dari 300km untuk berjumpa dengannya. Ini mungkin terdengar seperti bualan yang konyol, tapi saya selalu tergelitik dengan hal-hal seperti ini dan seringkali tergerak untuk mewujudkannya. Saya lantas membeli tiket kereta dan, setelah tujuh jam perjalanan, kita pun berjumpa di KLCC. Kebetulan saat itu CP juga sedang berkunjung ke Malaysia. Di malam itu, ketika kita menikmati hidangan di restoran, saya terkenang lagi dengan perjalanan yang membawa saya berkelana dari Singapura ke Jakarta, Karawang dan Pontianak. Petualangan ini pun berakhir di Kuala Lumpur.  

Sebuah babak kehidupan pun terselesaikan. Apa lagi yang akan terjadi? Perjalanan ke Armenia? Saya tidak tahu, tapi yang bisa saya pastikan adalah, kita tidak boleh berhenti bermimpi dan mengisi daftar keinginan kita. Tidak masalah jika kita tidak berhasil mewujudkan beberapa di antaranya (saya sendiri masih belum berhasil menyelesaikan Bhutan, Mongolia dan Kazakhstan, jika anda tahu apa maksud saya, hehe), tapi yang penting adalah kita tidak pernah berhenti untuk percaya dan berusaha. Jika hidup tidak diisi dengan menggapai impian, maka hidup itu tidak ubahnya seperti rutinitas yang tidak menarik untuk dijalani...

Bersama Eday (paling kanan), Surianto dan Taty di Singapura. Eday juga teman baik dari sejak dulu yang kembali akrab setelah era WhatsApp.



No comments:

Post a Comment