This trip originated from a late-night conversation between Eday and me that happened about three weeks ago. I was reluctant to go for another trip to Yogyakarta, citing the reason that I had been there and done that in 2019. However, when Eday mentioned that it would be the first time that we traveled together with Mul, I was immediately sold.
In order to understand this, we gotta go back to many, many years ago, when it was life before college. Eday, Mul, and I were not only close friends, but we were also the founding members of the cooking club. Oh yes, that was how decent we were! While Eday and I had traveled together from the voyage to Jakarta in 1997 to the Ipoh trip in 2024, I only had one trip with Mul to Kuching in the early 2000s. The thought of the three of us having our first trip was exciting, certainly not to be missed!
![]() |
| Mul and I during my arrival. |
So off I went on Thursday afternoon. At 6:40 PM GMT+7, I was already taking my first picture with Mul in front of Stasiun Tugu in Yogyakarta. We walked a bit for a plate of fried rice that was much cheaper than my regular tea c. A hilarious comparison! From there, we went to Por Aqui, our Mexican-themed hotel, located in an area described by Mul as the Bali's Legian wannabe. It was touristy. We checked in, had scoops of ice cream at Tempo Gelato, then picked up Eday at Fortunate Coffee.
Note that we had this trend of having a captain for a trip. Since this was Eday's trip that he christened as Poor Trip, I cheekily named him Captain Miskin, AKA Captain Poor. On top of that, it was a hush-hush kind of trip. Totally out of my character, but I obeyed it since it was the captain's order. So while some in our group chat might have been suspecting, we only confirmed it by posting the photo below at 2:12 AM on the following morning.
![]() |
| After the earthquake. |
So back to our story, now that we were all together, we headed to Barley and Barrel at Artotel for the alcohol-induced conversation. Oh yes, just three old friends opening up and talking frankly about life. It had quite a few surprising moments. Just when you thought you knew friends quite well! And it was interesting to learn about the dynamics of our friendship and how each one of us meant to another.
We were quite deep into our conversation when an earthquake suddenly happened. It was my first, and I learned later that it was a medium-level earthquake. When the whole place was shaking, my immediate thought was to get under the table, but I wasn't too sure about it, so I stood up instead and looked for a waitress to ask.
The experience was so fast and surreal that it was a blur. By the time I got hold of the situation, we were outside with the waitress, who apologized for the earthquake, as if she was the one causing it. When we sat down again, Eday said to me, "And you thought Jogja as a destination would have been boring?"
![]() |
| Recreating the photo we took in 1997. |
We had our supper at Gudeg Wijilan Bu Hj. Rini after the earthquake, then headed back to the hotel to get some rest. The next day began around 10 AM at the Brewing Room for our morning coffee. Hartono came to meet us, and that's when we recreated a two-decade-old picture. Years after my 17th birthday, there we were sitting together again on a couch in our mid-40s.
After that, Vivi and Agus, Eday's college friends, came to join us. The last to arrive was Teng Lai. The college friends reminisced and had a catch-up. We were there until close to 1 PM. Vivi had a dancing studio and she had a class to teach, so we also left for lunch at Bebek Indra.
![]() |
| After the lunch. |
After an eye-opener food ordering experience (Teng Lai is vegetarian and can't even eat onions), we enjoyed our meal and hung out until almost 4 PM. We also exchanged perspectives, foreigners versus locals. The key takeaway: if your life is just daily routines, you are no longer thinking, and everything you do is autopilot. This wasn't good, so it was inspiring to meet up with friends.
We went to Gayo Kedai Kopi Roaster to top up our coffee intake for the day. Nice place, frequented by a lot of youngsters. That's where Eday revealed why he would be visiting the city of Kediri: he wanted to see the infamous ugly-looking white tiger statue up close and personal. We called Jimmy, and he was quickly persuaded to join the mission.
![]() |
| The happy Jimmy. |
From Gayo, we returned to the hotel to freshen up before heading out for dinner. Given my nostalgic craving for cart-wheeled fried rice I used to have in Jakarta, of course, the dinner was nasi goreng tek-tek. From across our hotel, we walked towards Just Playon, a drinking place with a live band performance.
The weather that night was quite humid, so Eday secured us an air-conditioned room. Soon the cavalry arrived, with Yuliana bringing us an unexpected surprise: cigarettes that healed! They were fermented with spices, supposedly good for high blood pressure, cholesterol, sugar blood levels, and, as a bonus, it made you slim! Hell, even the ashes were consumable, either directly or sprinkled on your drink. Tasting it was believing!
![]() |
| The last photo together. For now! |
But all good things must come to an end. After midnight, we said our goodbyes and went our separate ways. The boys dropped me off at the airport in the morning, and as I flew back to Singapore, they made their way to Magelang before heading to Kediri. The journey continued!
Epilogue:
Mul said he was sad when Eday said this could be the last time they did the Poor Trip. I was never keen on such a trip to begin with! But it had been a blast. It took us almost 30 years to travel together for the first time ever. Not only did it give us a chance to see how far we had come since our days in Pontianak, but most importantly, it was good to look back and cherish our friendship.
![]() |
| Three friends and fried rice. |
We might be different, so different, but in the end, I'd like to think we were just three guys who genuinely cared about each other, regardless of what we had become in this lifetime.
Yogyakarta: Gempa Dan Abu
Perjalanan ini berawal dari percakapan larut malam antara Eday dan saya sekitar tiga minggu yang lalu. Awalnya saya enggan untuk pergi lagi ke Yogyakarta, alasannya karena saya sudah pernah ke sana pada tahun 2019. Namun, ketika Eday menyebutkan bahwa ini akan menjadi pertama kalinya kami bertiga—saya, dia, dan Mul—bepergian bersama, saya langsung setuju tanpa berpikir panjang.
Untuk memahami hal ini, kita harus menengok kembali ke masa bertahun-tahun yang lalu, sebelum kuliah dimulai. Eday, Mul, dan saya bukan hanya teman dekat, tapi juga pendiri klub memasak zaman SMA. Oh ya, begitulah baiknya kami sebagai remaja dulu! Selama ini, Eday dan saya sudah beberapa kali bepergian bersama—mulai dari perjalanan ke Jakarta tahun 1997 hingga ke Ipoh pada tahun 2024—tetapi saya hanya pernah sekali bepergian dengan Mul ke Kuching di awal tahun 2000-an. Jadi, gagasan tentang kami bertiga akhirnya bisa melakukan perjalanan bersama untuk pertama kalinya sangatlah menggembirakan dan tentu saja tidak boleh dilewatkan!
Jadilah saya berangkat pada Kamis sore. Pada pukul 18.40 waktu GMT+7, saya sudah berfoto pertama bersama Mul di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami berjalan sebentar untuk mencari sepiring nasi goreng yang harganya bahkan lebih murah daripada segelas teh c favorit saya. Perbandingan yang lucu! Dari sana, kami menuju ke Por Aqui, hotel bernuansa Meksiko yang kami tempati, berlokasi di area yang oleh Mul disebut mirip Legian di Bali—namun versi wannabe. Tempatnya memang banyak turis. Kami check-in, menikmati es krim di Tempo Gelato, lalu menjemput Eday di Fortunate Coffee.
Perlu diketahui, kami memiliki tradisi untuk menunjuk seorang “kapten” di setiap perjalanan. Karena ini adalah perjalanan Eday yang dia beri nama Poor Trip, saya dengan bercanda menamainya Kapten Miskin. Selain itu, perjalanan ini dilakukan secara diam-diam—sesuatu yang sama sekali bukan karakter saya! Tapi saya patuh, karena ini adalah perintah sang kapten. Beberapa orang di grup SMA mungkin sempat curiga, namun kami baru mengonfirmasi dengan foto di bawah ini pada pukul 2:12 pagi keesokan harinya.
Kembali ke cerita, ketika kami bertiga akhirnya sudah berkumpul, kami menuju ke Barley and Barrel di Artotel untuk menikmati obrolan santai ditemani sedikit alkohol. Oh ya, hanya tiga sahabat lama yang berbincang terbuka tentang kehidupan. Banyak momen yang mengejutkan juga muncul malam itu—ketika Anda berpikir sudah mengenal teman dengan baik, ternyata masih ada hal baru untuk diketahui! Menarik sekali mempelajari dinamika persahabatan kami dan bagaimana masing-masing dari kami memandang satu sama lain.
Kami sudah cukup larut dalam percakapan ketika tiba-tiba terjadi gempa bumi. Itu adalah pengalaman pertama saya, dan kemudian saya tahu bahwa skalanya menengah. Saat gempa melanda, refleks pertama saya adalah hendak bersembunyi di bawah meja, tapi saya tidak yakin, jadi saya berdiri dan mencari pelayan untuk bertanya.
Semua berlangsung begitu cepat dan terasa tidak nyata—benar-benar kabur dalam ingatan. Ketika saya mulai memahami situasi, kami sudah berada di luar bersama pelayan yang bahkan meminta maaf atas gempa itu, seolah-olah dia yang menyebabkannya. Setelah semuanya tenang dan kami kembali duduk, Eday berkata kepada saya, “Dan kamu sempat berpikir bahwa Jogja sebagai tempat tujuan itu membosankan, ya?”
Kami melanjutkan malam dengan makan di Gudeg Wijilan Bu Hj. Rini seusai gempa, kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokan harinya bermula sekitar pukul 10 pagi di Brewing Room untuk menikmati kopi pagi. Hartono datang menemui kami, dan di situlah kami mengulang foto dua dekade yang lalu. Bertahun-tahun setelah ulang tahun saya yang ke-17, kami kembali duduk bersama di sofa—kini di usia pertengahan 40-an.
Tak lama kemudian, Vivi dan Agus—teman kuliah Eday—bergabung. Yang terakhir datang adalah Teng Lai. Mereka berbincang dan bernostalgia sampai sekitar pukul 1 siang. Karena Vivi harus mengajar di studio tari miliknya, kami pun beranjak untuk makan siang di Bebek Indra.
Di sana, saya mendapatkan pengalaman menarik dalam memesan makanan—karena Teng Lai vegetarian dan bahkan tidak bisa makan bawang! Namun kami semua menikmati hidangan dan mengobrol sampai hampir jam 4 sore. Kami saling bertukar pandangan—antara orang luar dan lokal. Kesimpulan penting: kalau hidupmu berkutat pada rutinitas yang sama setiap hari, pikiranmu berhenti bekerja, dan semua yang kamu lakukan berjalan otomatis. Ini tidaklah baik, maka penting untuk berkumpul bersama teman.
Kami lanjut ke Gayo Kedai Kopi Roaster untuk menambah dosis kafein hari itu. Tempatnya nyaman dan banyak dikunjungi anak muda. Di sanalah Eday mengungkapkan rencananya untuk berkunjung ke Kediri, karena dia ingin melihat langsung patung harimau putih yang terkenal jelek itu. Kami menelepon Jimmy, dan tidak butuh waktu lama untuk membujuknya agar ikut dalam misi tersebut.
Dari Gayo, kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap dan kemudian keluar lagi untuk makan malam. Karena saya rindu nasi goreng gerobakan yang dulu sering saya nikmati di Jakarta, tentu saja pilihan makan malam jatuh pada nasi goreng tek-tek. Dari seberang hotel, kami kemudian berjalan menuju Just Playon, tempat minum dengan pertunjukan grup musik.
Malam itu cukup lembab, jadi Eday memastikan kami mendapatkan ruangan ber-AC. Tak lama kemudian “pasukan” tambahan datang, dan Yuliana membawa kejutan tak terduga: rokok penyembuh! Konon difermentasi dengan rempah-rempah dan baik untuk tekanan darah tinggi, kolesterol, kadar gula, bahkan bisa membuat langsing! Bahkan abunya bisa dikonsumsi—baik secara langsung atau ditaburkan ke minuman. Mencobanya benar-benar pengalaman tersendiri!
Namun semua hal baik pasti berakhir juga. Setelah lewat tengah malam, kami berpamitan satu per satu. Pagi harinya, Eday dan Mul mengantar saya ke bandara, sementara mereka melanjutkan perjalanan ke Magelang, lalu menuju Kediri. Petualangan mereka masih berlanjut!
Epilog:
Mul mengaku sedih ketika Eday mengatakan bahwa ini mungkin perjalanan “Poor Trip” terakhir mereka. Padahal saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan konsep perjalanan ini! Tapi kenyataannya, perjalanan ini luar biasa. Butuh waktu hampir 30 tahun bagi kami bisa bepergian bersama untuk pertama kalinya. Perjalanan ini tidak hanya memberi kesempatan untuk melihat sejauh mana kami telah melangkah sejak masa kami di Pontianak, tapi yang lebih penting, kami pun diingatkan kembali untuk menghargai persahabatan ini.
Kami mungkin berbeda—sangat berbeda—tetapi pada akhirnya, saya yakin bahwa kami hanyalah tiga pria yang benar-benar peduli satu sama lain...






