Total Pageviews


Sunday, June 11, 2017

Being A Lee

I used to be puzzled by the widespread use of Lee as a surname on both sides of the world until I read about it recently. Apparently the Western Lee came from Old English whereas the Asian Lee was already a surname used in China long before Jesus was born. If the story is to be believed, the sage lived around the 6th century BCE. His name was Lǐ Ěr (李耳), better known as Lǎozǐ (老子), the writer of Dàodéjīng (道德经) and the founder of Taoism.

Oh, just in case you wonder why a person with surname Robinson talks about this, that's because as a Chinese, my surname is Lee. You see, in Indonesia, back in Soeharto days, Chinese names weren't allowed, therefore I ended up being registered officially as Anthony Robinson instead. Within the family circle, especially those who are older than me, they still prefer using my Chinese name during conversation.

Now, as for how a Lee person is like, I'll leave it to you to judge, though I'm pretty sure it very much depends on each individual's character. The more interesting part will be how to look at our long family history and be inspired by it. While I have no in-depth knowledge of who's who in the big family tree, I know some contemporary role models that happen to be world-famous. Care to guess who they are? 

If you ever wonder if Jet Li is one of them, I'm afraid he isn't in my list. Don't get me wrong, I mean, I like him for all the finest fighting scenes he ever did, ranging from Fist of Legend to Hero, but I don't find him inspiring enough as a person. Same goes for Li Ka-shing, easily one of the few in the Lee family that are decorated as Sir by Her Majesty. The Hong Kong business magnate is the inspiration to many, including at least one of my friends, but while I respect him for what he has achieved, business is just not my cup of tea for now. 

Apart from my Dad, there are only two other Lees that I admire, read about and learn from. The first one is, of course, Lee Kuan Yew. When you live in Singapore, it's impossible to separate the man from the nation. Sir Stamford Raffles might have founded Singapore, but the founding father of the country is undoubtedly the late Mr. Lee. It was his vision and hard work that transformed Singapore from a fishing village to a first world country, the one and only in Southeast Asia.

Hard Truths to Keep Singapore Going was the first book I read about LKY. I didn't really knew him prior to this, so the book was very much an introduction to the elderly statesman. I remember being impressed by the picture of Kembangan. It was a muddy village, nothing like the modern estate that I knew when I stayed there in 2006. It was quite an interesting read as one could sense that he still cared a great deal about the country he helped shaping. For him, he had done his part, but the future of Singapore totally depends on the younger generations. This book was his way of advising the younger generation about what he thought they should do. The message was quite direct at times, with no nonsense approach.

The second book, One Man's View of the World, was more relevant to me. I knew he was a great man and the first book I read already showed how smart he was, but this book was a classic example of how vast his experience was. He was simply brilliant in what he knew and did. I especially like the part where he explained about the strength and weakness of Indonesia. He clearly recognized the importance of Bahasa Indonesia and he pointed it out as the only thing that Soekano did right in his otherwise chaotic presidency. Thanks to this legacy, Indonesian people from the East to the West are able to communicate with each other.

When LKY passed away, the local channels on TV broadcasted everything about him. That was the first time I saw his younger self, when he was the Prime Minister of Singapore. The energy and the intensity he had when he gave a speech was just captivating. He was natural, charming and he wasn't just saying it. Here was a man who knew what he was talking about and had a solid track record in a form of a prosperous country to prove it. 

Another Lee worth mentioning here is Bruce Lee. He is always my personal favorite since my elder cousin introduced the man in yellow tracksuit to me many, many years ago. Bruce was the shooting star. In a very short period of time he had in this world, he made an everlasting impact. I won't go into details about his movies as you can always watch them and have your own opinions, but it is what he did in his life that I'd like to talk about. 

A troublemaker since he was young, Bruce could have been wasting his life and ended up as a scoundrel instead. Yet he managed to focus his attention and dedicate his life to the martial arts that he practiced. The thing with Bruce was, long before anybody believed in what he was doing (those kicking and punching didn't immediately translate into a brighter future), he knew he was going somewhere and he never shied away from sharing it. He taught kung fu to other people regardless what their skin colors were and he fiercely defended his belief when he was challenged by his own fellow Chinese. He also gave a thought on so many things in life that by the time he left this world, his legacy for us was tremendous. I know many quotes from Bruce, but this particular one is what I always remember by heart: "absorb what is useful, discard what is not."

Eventually, while I love the Beatles and other inspiring people that I encountered along the way, it does help to boost up one's morale that there are great people within the big family. It is as if it goes to show that, if they could make it, perhaps I could make it, too, one way or another. Being a Lee doesn't guarantee anything in my life, alright, but it's still a privilege to learn from the predecessors that came before me and changed the world...

Embracing the Chinese side in me.

Menjadi Seorang Lee

Saya dulunya bingung dengan luasnya pemakaian kata Lee sebagai marga di dunia Barat dan Timur. Karena ingin tahu, saya pun mencari tahu tentang asal-usulnya. Ternyata Lee di dunia orang bule itu berasal dari zaman Old English, sedangkan Lee di Asia bisa ditelusuri jejaknya di Cina jauh sebelum Yesus lahir. Jika legendanya bisa dipercaya, orang bijak yang pertama menyandang marga Lee itu hidup di abad ke-6 sebelum Masehi. Namanya adalah Lǐ Ěr (李耳), namun dia lebih dikenal sebagai Lǎozǐ (老子), penulis Dàodéjīng (道德经) dan pencetus Taoisme.

Oh, jika anda bertanya-tanya mengapa seseorang berharga Robinson membicarakan hal ini, jawabannya adalah karena sebagai orang Tionghoa, marga saya adalah Lee. Ketika Soeharto berkuasa di Indonesia, nama bernuansa Cina tidaklah dianjurkan, oleh karena itu saya didaftarkan dengan nama Anthony Robinson di akte lahir. Di kalangan keluarga, saya selalu dipanggil dengan nama Tionghoa, terutama oleh mereka yang lebih tua dari saya. 

Tentang bagaimana karakter seorang Lee, saya rasa itu bergantung sepenuhnya pada karakter orangnya. Yang menarik bagi saya adalah kesempatan untuk belajar dari para pendahulu saya yang lebih dulu sukses dalam berkiprah. Setidaknya ada beberapa tokoh bermarga Lee yang pernah saya baca ceritanya. Kira-kira siapa saja mereka? 

Jika anda berpikir bahwa Jet Li adalah salah satunya, saya harus jujur bahwa dia tidak termasuk dalam daftar. Saya suka Jet Li, terutama adegan pertarungan yang dilakoninya mulai dari Fist of Legend sampai Hero, tapi saya tidak merasa bahwa dia adalah orang yang memberikan inspirasi. Sama halnya dengan Li Ka-shing, satu dari sedikit orang bermarga Lee yang mendapatkan gelar penghargaan Sir dari Sri Ratu Inggris. Raja bisnis dari Hong Kong ini adalah inspirasi bagi banyak orang, termasuk seorang teman saya. Akan tetapi, meski saya mengagumi prestasinya, bisnis bukan bidang saya pada saat ini. 

Selain ayah saya, hanya ada dua orang Lee lainnya yang saya baca dan belajar dari kisah mereka. Yang pertama adalah Lee Kuan Yew. Jika anda tinggal di Singapura, anda akan merasa bahwa namanya identik dengan negara ini. Sir Stamford Raffles mungkin telah membangun apa yang menjadi cikal-bakal Singapura, namun Lee adalah bapak bangsanya. Adalah visi dan kerja kerasnya yang mengubah Singapura dari kampung menjadi negara modern satu-satunya di Asia Tenggara. 

Hard Truths to Keep Singapore Going adalah buku pertama yang saya baca tentang LKY. Saya tidak tahu banyak tentangnya sebelum ini, jadi buku adalah pengenalan bagi saya. Lewat buku tersebut, saya melihat foto Kembangan tempo dulu, sebuah kampung berlumpur yang sungguh jauh berbeda dengan kawasan perumahan yang saya kenal baik karena saya tinggal di sana di tahun pertama saya di Singapura. Menarik untuk dibaca bahwa di usianya yang telah menjelang senja, dia masih sangat peduli dengan negara yang dibangunnya ini. Dia beranggapan bahwa masa depan Singapura bertumpu sepenuhnya pada generasi muda dan buku ini adalah nasihatnya untuk mereka. Tulisannya cukup tajam dan dia berkata apa adanya. 

Buku kedua yang saya baca, One Man's View of the World, lebih relevan untuk saya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia adalah orang yang berpengaruh dan buku pertama yang saya baca sudah menunjukkan bahwa dia adalah seseeorang yang pintar, namun buku yang berikut ini menunjukkan betapa luasnya wawasan LKY. Sebagai seorang pemimpin, dia juga tahu apa yang harus diperbuat. Saya suka bagian dimana ia menjelaskan kekuatan dan kelemahan bangsa Indonesia. Dia jelas mengenali peranan bahasa Indonesia dan menyebutnya sebagai peninggalan Soekarno yang paling penting. Karena bahasa Indonesia, seluruh rakyat Indonesia dari Timur ke Barat bisa berkomunikasi satu sama lain. 

Ketika LKY meninggal, seluruh stasiun televisi di Singapura menyiarkan berbagai film dokumenter tentangnya. Lewat tayangan tersebut, saya melihat LKY muda untuk pertama kalinya, ketika ia menjadi Perdana Menteri Singapura. Caranya berpidato sangat menarik perhatian. Dia memang berbakat alami dan memukau dalam bertutur-kata. Dia tahu apa yang ia bicarakan dan Singapura adalah rekam jejak yang jelas untuk membuktikan apa yang telah diucapkannya.  

Pria bermarga Lee lainnya yang menjadi idola saya adalah Bruce Lee. Saya pertama kali melihatnya ketika sepupu saya memutar film Game of Death yang menampilkan sosoknya yang berkostum kuning. Meski singkat waktunya di dunia ini, Bruce turut mengubah wajah dunia. Saya tidak akan bercerita panjang-lebar tentang film-filmnya karena anda selalu bisa menonton dan memiliki pendapat sendiri, tapi yang patut dikenang tentang Lee adalah apa ia perbuat dalam hidupnya. 

Seorang pembuat onar di kala muda, Bruce bisa saja menghabiskan hidupnya sebagai berandalan, namun dia berhasil memusatkan perhatiannya pada seni bela diri. Fakta menarik dari Bruce adalah, sebelum orang lain percaya dengan apa yang ia tekuni (berlatih tinju dan menendang sana-sini tidak terlihat seperti keahlian yang menjanjikan masa depan yang cerah), dia percaya dengan pilihan hidupnya dan tidak ragu untuk berbagi. Dia mengajarkan kung fu pada orang lain, tidak peduli apa warna kulitnya. Dia berpegang teguh pada keyakinannya meskipun ditentang sesama orang Cina. Pada akhirnya, ketika dia meninggalkan dunia ini, ia bukan saja mewariskan kita sebuah seni bela diri yang diciptakannya, tetapi juga buah pikirannya. Saya tahu banyak ucapan Bruce yang berkesan, tetapi saya tidak pernah lupa pada yang satu ini: "ambillah apa yang berguna tinggalkan apa yang tidak bermanfaat." 

Walau saya menyukai the Beatles dan terinspirasi oleh banyak tokoh yang saya baca atau jumpai, keberadaan sosok yang sukses dalam keluarga besar Lee penting artinya untuk saya. Hal ini memberikan dorongan secara moral bahwa jika mereka bisa, mungkin saya juga bisa. Menjadi seorang Lee tidak menjamin apa-apa dalam hidup saya, namun bisa belajar dari para pendahulu saya yang mengubah dunia adalah suatu kehormatan... 

No comments:

Post a Comment