Total Pageviews

Translate

Saturday, May 16, 2020

Faith, Dreams And Regrets

I was listening to Frank Sinatra's My Way the other day. It was a good song and my favorite part was when he sang, "regrets, I've had a few. But then again, too few to mention." Frank's voice was so captivating that he made you believe in the lyrics. It was so thought-provoking that it got me pondering, what kind of life I had lived.

Looking back, I realized that I had gone through a lot. No, I didn't live a life full of danger such as growing up in a war-torn country or something. Those moments in my life were just slightly unfortunate, but not as bad as they seemed. In a way, whatever that happened gave me the perspective about faith, dreams and regrets.

Faith was something that I learnt gradually. I believe things happened because they were intended by the One above. It might not be pleasant when bad things happened, but through the passing of time, sometimes you'd see why they worked out that way. Faith is like never losing hope that it'll be alright.

My life had been a long chain of events that not only brought me to Singapore, but also shaped me into the person I am. I often think that the turning point was when I finished secondary school. I missed the registration period of this newly opened elite school because I was still holidaying in Jakarta. As a result, I enrolled myself to the same school I was graduated from (it has secondary and high school). 

Then the unthinkable happened. My Dad had a financial crisis and my family had to leave the town. Was it bad? Kind of. I mean, life changed overnight. But one thing for sure, if all this didn't happen, I wouldn't have such a close friendship in high school, go to Jakarta, meet my future wife and end up staying in Singapore. I would have led a very different life instead. 

After what I went through, I have faith that only the best happens in life, even though it may not look like it when it first occurs. A lot of things didn't happen the way I wanted, but they turned out to be better than I expected. That's not to say I just give up and don't do my best. It's just when my best was not enough, I made my peace when shit happened, knowing that it was not entirely up to me and things were still going to be fine.  

Now let's move onto the next one: dreams. These were what moved me so that I made good changes in life. I dreamt of making a film, then I woke up and did a couple in 2006. I was so curious about Laos that I eventually made a trip to Vientiane in 2010. Then, in 2013, I thought it'd be possible to watch a Paul McCartney concert. I made it happen in 2015. I loved We Are the World and had been thinking about producing my own version since 2014, then I finally did one with a little help from my friends in 2016. I remember staring at Abbey Road album cover in the mid 90s and finally crossed the zebra-crossing myself in 2016.

The list goes on and that's always the case. I dream a dream and try to fulfill the dream. Sometimes I achieved them, sometimes I didn't, but that's alright. Without dreams, life would be just a series of boring, repetitive activities. Dreams made life colourful.

The question now is, with life based on faith and dreams, do I have still have regrets? Yes, I have, and that's the reason why I was fascinated by how true the particular lyrics above were. Regrets, I had a few, but then again, too few to mention. The only one I could think of now was the fact that I couldn't read/write Chinese and I also couldn't speak the language really well. To think that my Mum had a degree in Chinese literacy! How ironic! 

That aside, I had lived my life the way I wanted it and I had the most fun out of it. I'd seen enough to have faith that things happened for a reason and they were going to be alright. And dreams brought me forward when they became reality. That probably explained why I didn't have much regrets in life. While I couldn't claim that everything was perfect, I'd say I'd been a happy person thus far. If you had read until here, I sincerely hope that the positive thoughts would rub off on you, too!

Life has been good, though not without difficulties.
From left: the teenage years, 20s and 30s. 


Iman, Impian Dan Penyesalan

Baru-baru ini saya mendengarkan kembali lagu My Way yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra. Saya suka lagu ini dan bagian favorit saya adalah saat dia menyanyikan bait ini, "regrets, I've had a few. But then again, too few to mention." Dalam bahasa Indonesia, artinya, "saya memiliki penyesalan, namun terlalu sedikit untuk disebutkan." Suara Frank begitu menggugah sehingga dia membuat saya percaya dengan lirik yang dinyanyikannya. Saya jadi merenung, kehidupan seperti apa yang telah saya jalani.

Kalau saya lihat kembali, sudah begitu banyak peristiwa yang saya lewati. Oh, saya tidak hidup di negara yang dilanda peperangan atau mengalami hal yang sama parahnya. Kejadian demi kejadian di dalam hidup saya rasanya tidak seburuk itu, hanya naik-turunnya saja yang tidak begitu lazim. Kendati begitu, apa yang saya alami lantas memberikan perspektif tentang iman, impian dan penyesalan. 

Iman adalah sesuatu yang saya pelajari seiring dengan berjalannya waktu. Saya percaya bahwa sesuatu terjadi karena sudah ditentukan oleh Yang Di Atas. Saat suatu peristiwa buruk terjadi pastilah tidak menyenangkan rasanya, akan tetapi dengan berlalunya waktu, terkadang kita mengerti bahwa apa yang terjadi ini ada hikmahnya. Iman membuat kita tidak patah semangat dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

Hidup saya boleh dikatakan sebagai rangkaian kejadian yang bukan saja akhirnya membawa saya ke Singapura, tapi juga membentuk kepribadian saya hingga seperti yang anda kenal hari ini. Saya sering berpikir bahwa titik balik dari kehidupan saya adalah ketika saya lulus SMP. Saat itu saya masih berlibur di Jakarta sehingga melewatkan peluang untuk mendaftarkan diri ke SMA Taruna yang baru dibuka dan merupakan sekolah unggulan pada saat itu. Oleh karena itu, saya pun kembali melanjutkan SMA di sekolah yang sama.  

Kemudian yang tidak pernah terpikirkan pun terjadi. Ayah saya mengalami krisis finansial dan akhirnya seluruh keluarga pun pindah ke Bekasi, kecuali saya. Apakah ini buruk? Kira-kira begitulah. Maksud saya, hidup berubah drastis dalam sekejap mata. Meskipun demikian, kalau ini tidak terjadi, saya mungkin tidak memiliki persahabatan yang erat di masa SMA, mungkin tidak mencari kerja di Jakarta, mungkin tidak bertemu calon pasangan saya dan mungkin tidak pindah ke Singapura. Hidup saya mungkin saja benar-benar berbeda dengan apa yang saya jalani sekarang. 

Setelah apa yang saya lalui, saya memiliki keyakinan bahwa hanya yang terbaik yang terjadi dalam hidup ini, walaupun mungkin tidak terlihat seperti itu pas kejadian. Banyak hal yang tidak terjadi seperti apa yang saya inginkan, tapi ternyata justru akhirnya lebih baik dari apa yang saya harapkan. Ini bukan lantas berarti saya terlena dan bersantai tanpa berusaha. Justru sebaliknya, di kala upaya terbaik saya masih tidak cukup, saya sebisa mungkin menerima ketika kegagalan terjadi karena saya sadar ada hal-hal yang berada di luar kendali saya dan saya juga percaya bahwa semua akan indah pada waktu-Nya. 

Sekarang mari kita pindah ke topik berikutnya: impian. Ini adalah apa yang menggerakkan saya sehingga saya membuat banyak perubahan yang membuat saya menjadi selangkah lebih maju. Suatu ketika saya bermimpi tentang membuat film, lalu saya membuat beberapa episode di tahun 2006. Saya begitu penasaran dengan Laos sehingga saya akhirnya pergi ke Vientiane di tahun 2010. Selanjutnya, di tahun 2013, mendadak terpikir oleh saya bahwa sepertinya mungkin bagi saya untuk menonton konser Paul McCartney. Dua tahun kemudian saya berhasil mewujudkannya di Tokyo. Saya juga suka lagu We Are the World dan saya berangan-angan untuk merekam versi saya sejak tahun 2014. Dengan bantuan teman-teman, impian saya ini pun menjadi kenyataan di tahun 2016.  Satu contoh lagi, saya ingat ketika saya menatap album Abbey Road di pertengahan tahun 90an. Di tahun 2016, saya pun melintasi zebra-crossing yang paling terkenal di muka bumi ini. 

Apa yang saya kisahkan di atas hanya merupakan segelintir contoh saja dari daftar yang ada. Intinya senantiasa sama: saya bermimpi, lalu mencoba untuk mewujudkan impian tersebut. Kadang saya berhasil, namun tidak jarang pula saya gagal, tapi tidak masalah. Tanpa impian, hidup tak lebih dari rutinitas yang membosankan. Adalah impian yang membuat hidup ini menjadi lebih berwarna. 

Pertanyaannya sekarang adalah, dengan hidup berbasis iman dan impian, apakah saya masih memiliki penyesalan? Ya, jelas ada. Karena inilah saya jadi tergelitik dengan lirik lagu My Way. Saya memiliki penyesalan, tapi terlalu sedikit untuk disebutkan. Apa yang terpikirkan pada saat ini hanyalah fakta bahwa saya tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Mandarin. Bahkan berkomunikasi pun juga belepotan. Padahal Mama bukan cuma sekedar guru bahasa Mandarin, tapi juga sarjana bahasa Mandarin. Betapa ironis bahwa anaknya dulu malas belajar dan akhirnya sekarang tidak menguasai bahasa Mandarin! 

Di samping penyesalan yang saya sebutkan di atas, boleh dikatakan bahwa saya sudah hidup seperti apa yang saya mau. Saya juga banyak tertawa dan menertawakan banyak hal dalam hidup ini. Saya sudah melewati berbagai hal yang membuat saya beriman bahwa sesuatu terjadi karena ada alasannya (meskipun kadang kita tidak pernah tahu kenapa) dan semuanya akan baik-baik saja. Selain itu, impian yang menjadi kenyataan juga turut mengubah hidup saya. Dua hal ini mungkin menjelaskan kenapa saya tidak memiliki banyak penyesalan dalam hidup ini. Saya tidak bisa berkata bahwa hidup saya ini sempurna, tapi sampai sejauh ini saya bisa katakan bahwa saya memiliki kepribadian yang riang gembira. Jika anda membaca sampai pada kalimat ini, saya sungguh berharap bahwa ada nilai-nilai positif yang sekiranya bisa anda petik dari cerita saya ini! 

No comments:

Post a Comment