Total Pageviews

Translate

Sunday, June 6, 2021

What God Giveth...

When you work hard in life, it's easy to get carried away and think that any achievement unlocked is due to your own hard work. It's pure logic. You've made it, therefore it's yours. It's that plain and simple. Or so it seems, because there's more than meets the eye.

Do you ever wonder why other people also work as hard, or even harder than us, but yet never seem to make it? This shows that hard work alone is not enough. There has to be another part of the equation. There must be, but what? The answer, apparently, was found in the sentence that I muttered every morning for twelve years during school days: Thy will be done.

His will, not ours. And what God gives, God may take away, too. Now, before we get too far, I want to assure you that this is the same Roadblog101 that you've been reading for the past four and a half year. If what you read up until here had been rather biblical, that's because I was reminded again by the sudden turn of events. What I wanted to with you here had been something that I always believed in, but like any other human beings, I might have forgotten it and taken things for granted, too.

Oh yes, this happened. Even though I had been an easy-going person, I also had a habit of clinging too dearly to things that I had worked hard for. Money was one of them. It's good to have money because it makes a lot of things in life much easier. Money is a great servant, but as the saying goes, it's also a bad master. It's a lifelong practice to strike the balance. Parting with ten percent of your earning, especially right after bonus, is admittedly not easy. But once you get past it, you learn that life is more than just money. It's... liberating.

Anyway, the trigger of today's writing was the change that happened recently. I started a team and after all the things we went through together for the past eight years, the day finally came for me to part ways. This resulted in mixed feelings. It was like, I couldn't believe this was taken away from me. Then, as the reality sank in, I realized that what I thought was being taken away from me wasn't actually mine to begin with. I was only given a chance to take charge and it was fun while it lasted. When it ended, that simply meant I had to move on. 

So that was the key, I reckon. We shouldn't be too sad about the things we lost or things that didn't happen, be it money or whatever it was that the material world got to offer, because they were never ours anyway. We are merely the custodians. But when they are placed under our care, we better do our best. Time only moves forward, so you don't want to get into a situation where you wish you have done this or that. Life is best lived with as little regret as possible...

Once upon a time in 2017.



Apa Yang Tuhan Berikan...

Ketika kita bekerja keras di dalam hidup ini, terkadang kita bisa terlena dan berpikir bahwa setiap sukses yang dicapai adalah karena kerja keras kita. Ini wajar, sebab masuk akal. Anda bekerja keras, anda sukses, maka sukses itu milik anda. Sesederhana itu. Namun betulkah sesederhana itu?

Pernahkah anda bayangkan kenapa orang lain yang bekerja keras, bahkan lebih keras upayanya dari kita, namun tidak juga kunjung berhasil? Ini menunjukkan bahwa usaha kita sendiri tidaklah cukup. Ada faktor lainnya, tapi apa? Setelah dipikirkan, saya rasa jawabannya ada di kalimat yang saya ucapkan selama 12 tahun di sekolah: jadilah kehendak-Mu. 

Ya, kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Dan apa yang Tuhan berikan, bisa diambil kembali pula oleh-Nya. Sebelum kita bercerita lebih jauh, saya ingin meyakinkan anda bahwa Roadblog101 masih sama seperti apa yang anda baca selama empat setengah tahun terakhir. Bila kali ini kesannya lebih terasa seperti khotbah, ini karena saya diingatkan kembali lewat pengalaman yang terjadi baru-baru ini. Apa yang ingin saya bagikan berikut ini adalah sesuatu yang selalu saya yakini. Namun seperti manusia lainnya, ada kalanya saya pun lupa dan berpikir bahwa semua yang terjadi adalah jerih payah saya semata. 

Oh ya, hal ini sangatlah manusiawi. Meskipun saya tergolong pria yang santai dan tidak ambil pusing banyak hal, saya juga tidak luput dari kebiasaan menggenggam terlalu erat hal-hal yang sudah saya perjuangkan dengan susah-payah. Misalnya tentang uang. Memiliki uang itu bagus karena banyak hal di dalam hidup ini yang menjadi lebih mudah kalau ada cukup uang di saku anda. Uang itu pelayan yang bagus, tapi seperti kata pepatah, uang itu tuan yang buruk. Butuh latihan yang terus-menerus untuk bisa mengendalikan diri soal uang. Berpisah dengan sepuluh persen dari penghasilan, apalagi setelah bonus, bukanlah perkara mudah. Tapi setelah perpuluhan ini ditekuni secara rutin, saya belajar bahwa hidup ini tidak hanya sekedar tentang uang. Rasanya seperti... bebas dari belenggu. 

Hal lainnya, dan yang ini menjadi pemicu topik hari ini, adalah perubahan yang baru saja terjadi. Di tahun 2013, saya memulai tim baru di kantor dan bersama-sama kita melewati banyak hal dalam delapan tahun terakhir ini. Siapa sangka kemudian tiba waktunya bagi saya untuk keluar dari tim yang saya bentuk? Berbagai perasaan berkecamuk di hati saya. Rasanya sulit untuk percaya bahwa tim ini diambil begitu saja dari saya. Lantas, setelah kenyataan ini bisa saya terima, saya sadari bahwa apa yang saya sangka direnggut dari saya ini sebenarnya bukanlah milik saya dari sejak awal. Saya hanya diberi kepercayaan dan kesempatan untuk menjalaninya dan semuanya telah berjalan dengan seru dan baik. Ketika semua ini berakhir, artinya saya akan memulai sesuatu yang baru.

Sesederhana itu. Dan saya rasa inilah hikmahnya. Kita tidak perlu terlalu sedih, baik ketika sesuatu itu hilang ataupun ketika sesuatu tidak terjadi, sebab sedari awal semua ini bukanlah milik kita. Ya, entah itu uang atau jabatan atau apa pun itu yang bersifat duniawi, pada dasarnya kita hanyalah diberi kesempatan untuk mengelolanya. Ketika semua itu dipercayakan pada kita, maka kerjakanlah dengan sebaik mungkin. Waktu hanya berjalan maju, jadi tentunya kita tidak mau terjebak dalam situasi dimana kita mengeluh, seandainya saja waktu itu saya mengerjakan hal itu. Hidup ini idealnya dijalani dengan penyesalan sesedikit mungkin... 

No comments:

Post a Comment