Total Pageviews


Monday, May 13, 2019


The good thing with chat group is, you'll always see some innocent remarks that get you thinking. Recently, we had a friend who stood for election as a legislative candidate and after an apparent loss, he boasted that he would sell two of his store houses to fund his protest movement. Upon reading this, another friend made a comment about how rich the sore loser was while he himself never had IDR 20 million even at the age of 40.

Now, before I proceed further, let's be open-minded. It's a sensitive subject and 'm not doing any comparison here. I merely found that I could relate with the rather sad remark made by a friend of mine and it reminded me that I had a story of a similar tone, too. I remember telling my wife I was always amazed by the fact that the empty house we bought is filled up with many things today. I guess it happened gradually, just like how my life is as I grow older.

I was poor, not to mention underweight, when a teenager was supposed to be the coolest at the age 17 or 18. I was shy to ride my bike when I entered college, because everyone else was riding a motorbike or driving a car. When I had to do that, I remember clearly that I'd be the earliest one to reach the campus and when the class ended, I'd wait until other students went home, then I'd quietly push my bike out from the parking lot. It was not easy to be so poor at such a young age, because you'd be worried about what other people would say.

The only saving grace was those people I called friends. They loved me the way I was, not due to what I had because frankly speaking, I had nothing. Looking back, the genuine friendship I had made me a decent and happy human being in the material world. Yes, I was embarrassed at times of what I didn't have, but at the same time, I wasn't jealous of what my friends had, too. I had no idea how the feelings so contrast could co-exist, but somehow, someway I managed.

When I graduated from college and started working at Kalbe Farma, I had a slightly older colleague who sat literally next to me. Both of us had a dream that we'd be rich one day, but our approach towards the same goal couldn't be more different. He was the type of person with a financial plan whereas I, on the other hand, had only a vague idea and little interest on how to achieve that. At that time, I only cared about writing and having a good laugh!

As we were quite close then, he always reminded me that I should have had a fixed deposit as the interest was much higher than a savings account. That was very nice of him, but as much as I tried to listen, I simply couldn't bring myself to do what he suggested. Needless to say, I also never saw IDR 20 million during my time in Jakarta. I started with IDR 1.5 million in late 2002 and my last drawn salary was IDR 2.8 million in early 2006, but till the day I left Jakarta, the amount of money in my savings account was never higher than IDR six million.

If not for the royalties I earned from two books that I published in 2005, I wouldn't be able to save up USD 1,400 that I'd eventually use to start anew in Singapore. Moving to Singapore turned out to be a life-changing decision and my fortune got better since then. However, in all truthfulness, I don't think I was ever getting more sophisticated. Yes, the vastly improved financial situation had very much to do with the right timing I was at, the right people I met, the hard work I did, but it was also due to the fact that I took the shortcut by working in the country with a currency that is so much stronger than IDR. Those people that earned rupiah and travelled abroad with their family, let's say for a holiday in Japan, they are the real heroes out there!

But that's beside the point, though. If my personal experience so far ever taught me anything, then it had to be these three following points. The first and most obvious lesson was something that we already knew: it's good to have money. Yes, having money is good because it enables us to do many things. Let's face it, without money, you can kiss your dreams goodbye.

Secondly, while money can do wonders, it is not exactly the source of happiness. Based on what I went through, I learnt that happiness comes from within. In a simplest example, my lifestyle might have changed along the way (and for the better, I hope), but the sense of humour that defines who I am, it comes from my heart. If you slow down and give it a thought, you don't just buy all this from a shop just because you are richer these days. It's not for sale, anyway. Another thing also worth mentioning is, good friends don't just appear because of money. As illogical as it sounds, they are actually there for you when you're down and out.

Lastly, the importance of the love we invest in what we're doing. It does make a difference! If I looked at what I had done for the past twenty years, the moral of the story is, when you are passionate about something good, people tend to notice and changes do happen. Sometimes the result comes with monetary gain and other nice surprises, so be passionate and don't stop believing. At the very least, you are doing things that you like and you can sleep peacefully at night. 

Back to that remark of IDR 20 million, it was a wake up call that some people were apparently not so fortunate. In all honesty, just like how puzzled I was when I looked at our house now, I also don't really know how I got this far as I seemingly did the same thing that many of us did. However, throughout the journey, I learnt that being rich is relative. The question now is: am I now the rich man that the younger me used to dream about? No, the truth is I never have much, but thank God I always have enough...

"Money is a great servant but a bad master."
~Francis Bacon~


Satu hal yang menarik dari chat group WhatsApp adalah munculnya komentar polos yang membuat kita tergelitik untuk berpikir. Baru-baru ini, ada seorang teman yang menjadi caleg. Begitu ada indikasi gagal dalam perolehan suara yang cukup, teman yang satu ini berkata bahwa dia akan menjual dua rukonya untuk menggalang dukungan massa. Setelah membaca sesumbar ini, seorang teman lain berkomentar tentang betapa kayanya si caleg sementara dia sendiri bahkan tidak memiliki 20 juta rupiah meskipun sudah berumur 40 tahun. 

Oh ya, sebelum saya bercerita lebih lanjut, saya meminta pembaca untuk berpikiran terbuka. Uang adalah topik yang sensitif dan saya tidak bermaksud membuat perbandingan apa pun. Saya hanya merasa bahwa topik ini mengingatkan saya tentang cerita serupa yang pernah saya alami. Beberapa waktu yang lalu, saya juga berujar pada istri saya bahwa saya sangat takjub dengan keberadaan barang-barang yang memenuhi rumah yang dulunya kosong. Mungkin semua ini terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit, seperti halnya hidup saya seiring dengan bertambahnya umur. 

Saya miskin dan kurus pula di saat seorang remaja seharusnya gagah dan memikat di usia ke-17. Memasuki jenjang kuliah, saya sangat malu bersepeda, sebab semua orang memiliki motor atau mobil. Kalau saya harus mengengkol sepeda ke kampus, biasanya saya akan berangkat lebih awal dan pulang paling akhir. Saya akan menunggu sampai semua bubar, barulah saya mendorong sepeda saya keluar dari tempat parkir. Tidak mudah menjadi orang susah di usia tersebut, sebab saya khawatir tentang apa yang akan orang lain katakan tentang saya. 

Satu-satunya hal yang menjadi pelipur lara adalah mereka yang menjadi teman-teman saya. Mereka menjadi karib bukan karena apa yang saya miliki, tetapi karena mereka menerima saya apa adanya. Jika saya lihat kembali, persahabatan yang tulus inilah yang membuat saya menjadi pribadi yang gembira dan sederhana. Ya, ada kalanya saya rendah diri karena saya tidak memiliki apa-apa, namun di saat yang sama, saya tidak iri dengan apa yang mereka miliki. Saya tidak tahu bagaimana caranya dua perasaan yang begitu kontras ini bisa muncul berdampingan, tapi syukurlah saya bisa melewati masa-masa ini dengan baik. 

Ketika saya lulus kuliah dan bekerja di Kalbe Farma, di sebelah kanan saya duduk seorang kolega yang berumur dua tahun lebih tua. Kita berdua memiliki impian bahwa suatu hari kelak kita akan sukses, tapi cara kita mencapai impian itu sungguh bertolak belakang. Rekan kerja saya ini adalah orang yang memiliki rencana finansial yang matang, sedangkan saya tak jelas arahnya dan tidak pula berpikir jauh. Pada saat itu, saya hanya suka menulis dan juga hal-hal yang lucu.

Saya dan kolega yang duduk di sebelah kanan saya di Kalbe Farma. 

Berhubung kita berteman cukup dekat, dia selalu menasehati saya untuk menyimpan uang dalam bentuk deposito karena bunganya lebih tinggi dari tabungan biasa. Saya menghargai kebaikannya dan saya pun coba mendengar, tapi saya tidak pernah berhasil menjalankan sarannya. Alhasil, sepanjang karir saya di Jakarta, saya tidak pernah memiliki uang 20 juta rupiah. Saya mulai dengan gaji 1,5 juta dan ketika saya berhenti, gaji saya adalah 2,8 juta, namun dari awal hingga hari terakhir saya di Jakarta, nominal tabungan saya tidak pernah lebih tinggi dari enam juta rupiah. 

Jika bukan karena royalti dari dua buku yang saya terbitkan di tahun 2005, saya tidak akan bisa menabung sebanyak USD 1.400. Tabungan inilah yang saya pergunakan saat saya memulai lagi dari awal di Singapura. Langkah saya untuk pindah ke Singapura akhirnya terbukti tepat dan sisi finansial saya pun membaik sejak saat itu. Peningkatan yang signifikan terjadi karena saya datang pada saat yang tepat, bertemu dengan orang yang tepat dan saya juga bekerja sebaik mungkin. Di sisi lain, perlu saya akui juga bahwa saya sebenarnya mengambil jalan pintas dengan pindah ke negara yang mata uangnya jauh lebih kuat dari rupiah. Secara singkat, itulah yang saya lalui. Kalau mau bicara soal kehebatan, saya cenderung lebih mengagumi mereka yang mencari nafkah dalam rupiah dan mampu berlibur bersama keluarga ke luar negeri, misalnya ke Jepang. Di mata saya, mereka adalah pahlawan sesungguhnya! 

Itu sedikit selingan dan pendapat dari saya. Kembali ke cerita, jika pengalaman pribadi saya mengajarkan sesuatu pada saya, maka itu adalah tiga hal berikut ini. Yang pertama dan paling jelas bagi semua orang adalah: mempunyai uang itu sesuatu yang bagus. Ya, uang memungkinkan kita untuk mengerjakan banyak hal. Kalau tidak ada uang, tentunya tidak gampang untuk mewujudkan apa yang kita inginkan.

Hal kedua adalah, meski uang bisa melakukan banyak hal, uang bukanlah sumber kebahagiaan. Berdasarkan apa yang saya lalui, kebahagiaan itu datang dari dalam hati. Contoh yang sederhana adalah, meski gaya hidup saya berubah (menjadi semakin baik, saya harap) karena adanya uang, selera humor yang membuat saya gampang tertawa sudah tertanam dari sejak dulu. Hal-hal seperti ini tidak bisa kita beli toko hanya karena kita memiliki lebih banyak uang dibandingkan dulu. Hal lain yang layak untuk disebutkan adalah, teman-teman baik datang bukan karena uang. Kendati kedengarannya tidak logis, teman-teman yang tulus ini tetap hadir di saat anda susah. Mencengangkan, bukan?

Terakhir, jangan pernah anggap remeh ketulusan dalam bekerja. Hal ini sungguh bisa membuat perbedaan. Bila saya melihat kembali apa yang saya kerjakan selama 20 tahun terakhir, moral dari cerita saya adalah, ketika anda mengerjakan sesuatu dengan baik karena anda menyukai pekerjaan tersebut, orang lain mungkin akan memperhatikan secara diam-diam dan perubahan pun terjadi. Terkadang hasilnya datang dalam bentuk uang atau bahkan kejutan lainnya. Jadi janganlah perhitungan dalam bekerja dan jangan pernah berhenti percaya bahwa anda sedang membuat perubahan. Dengan demikian, setidaknya anda menikmati pekerjaan anda dan tidur pun terasa tenang karena anda sudah memberikan yang terbaik. 

Kembali ke komentar teman saya tentang nominal 20 juta di atas, itu adalah sesuatu yang mengingatkan saya kembali bahwa tidak semua orang sama peruntungannya. Seperti halnya ketika saya merasa bingung dengan rumah yang kian lama kian dipenuhi barang, dengan jujur saya katakan bahwa saya tidak tahu persis bagaimana saya mencapai hari ini, sebab saya sepertinya melakukan hal-hal yang juga bisa dilakukan oleh orang lain. Akan tetapi, dari proses yang saya lalui, saya belajar bahwa kekayaan adalah sesuatu yang relatif. Pertanyaannya adalah: apakah saya kaya dan sukses sekarang, seperti apa yang saya impikan dulu sewaktu mulai berkarir di Jakarta? Tidak, saya tidak kaya, tapi saya bersyukur pada Tuhan bahwa saya berkecukupan... 

1 comment: